KH Abdullah Munif Marzuqi

Syukur merupakan rasa terimakasih kepada Allah atas segala nikmat. Atas makanan yang dilimpahkan Allah, nafas yang terus dihembuskan, kesehatan yang selalu diberikan, kemerdekaan atas penjajahan. Terlebih nikmat iman dan islam kita.

Allah memerintahkan kepada kita untuk selalu mensyukuri atas nikmat-Nya:

فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ

Maka ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat pula kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku. (QS Al-Baqarah [2]: 152).

Tanda kita mensyukuri nikmat adalah menggunakan segala nikmat Allah pada jalan yang diperintah-Nya. Seperti contohnya: jika kita dianugerahi kekuatan badan, maka kekuatan itu kita gunakan untuk beribadah, berkerja, menuntut ilmu, menolong orang, dan lain sebagainya. Dan termasuk bukti mengingkari nikmat adalah dengan menyia-nyiakannya.

Bulan agustus adalah bulan istimewa bagi bangsa Indonesia. Karena pada bulan ini, bangsa kita telah dinyatakan merdeka dari penjajahan yang sangat lama, yaitu tiga setengah abad lebih. Merdeka berarti kita bebas dalam mengatur diri, mengelola hasil alam, dan merencakan kehidupan.

Pada pendiri bangsa ini telah menyadari bahwa kemerdekaan bukanlah hadiah dari penjajah atau murni hasil perjuangan rakyat pribumi tapi adalah karunia Allah. Oleh karena itu, dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 45 dijelaskan, “Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya.”

Dari kutipan di atas, maka bisa dipahami betapa para pendahulu bangsa ini telah mengajari kita untuk mengembalikan anugerah kemerdekaan kepada Allah. Para pendahulu sadar bahwa sekuat apapun keinginan dan usaha untuk menolak penjajah tapi kalau tidak mendapat pertolongan dari Allah, maka akan sia-sia. Tetapi atas anugerah Allah, meski hanya dengan bambu runcing, bangsa Indonesia bisa mengalahkan para penjajah yang memakai senjata-senjata canggih.

Sebagai bangsa yang besar, tentu sudah sepatutnya kita mengenang jasa para pendahulu sambil menjaga tradisi mereka, yaitu bersyukur atas kemerdekaan. Allah telah mengajari kita bersyukur atas kemerdekaan dalam surat Al-Maidah ayat 20:

وَإِذْ قَالَ مُوسَى لِقَوْمِهِ يَا قَوْمِ اذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ جَعَلَ فِيكُمْ أَنْبِيَاءَ وَجَعَلَكُمْ مُلُوكًا

Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya, “Hai kaumku, ingatlah nikmat Allah atas kamu ketika Dia mengangkat nabi-nabi di antaramu, dan dijadikannya kamu orang-orang yang merdeka (bebas dari penindasan Fir’aun).

Bulan Agustus juga merupakan salah satu bulan yang berarti bagi Pesantren Langitan. Karena pada bulan ini, Pondok Pesantren Langitan telah melahirkan satu media komunikasi dan dakwah. Media yang berbentuk majalah ini (sekarang namanya Majalah Langitan) terbit sebagai  bentuk respon perkembangan masyarakat yang menuntut dakwah dengan media.

Dengan demikian bulan Agustus merupakan bulan yang istimewa bagi bangsa Indonesia dan terlebih Keluarga Besar Pondok Pesantren Langitan. Mari kita mensyukurinya dengan bersyukur kepada Allah. Syukur dalam lisan dengan mengucap “Al-Hamdulillah”. Syukur dalam hati dengan merasa senang atas karunia-Nya. Dan Syukur dalam perbuatan dengan mendayagunakannnya.