KH. Ahmad Marzuqi Zahid

Penulis : admin

March 3, 2008

Kepengasuhan Pondok Pesantren Langitan setelah wafatnya KH. Abdul Hadi Zahid diamanatkan kepada KH. Ahmad Marzuqi Zahid bersama dengan KH. Abdullah Faqih.

Ahmad Marzuqi Zahid dilahirkan di Desa Kauman Kecamatan Kedungpring Kabupaten Lamongan pada Hari Kamis pon tanggal 22 Jumadal Ula 1327 H. yang bertepatan dengan tanggal 10 Juni 1909 M. Beliau adalah putra ke sembilan KH. Zahid dan Nyai ‘Alimah dari sebelas bersaudara.

Adapun kesebelas putra-putri KH. Zahid adalah : (1. KH. Abdul Hadi (2. Mutmainnah (3. Tashrifah (4. Zainab (5. KH. Muhammad Rofii (ayahanda KH. Abdullah Faqih) (6. Musfi’ah (7. ‘Aisyah (8. Musta’inah (meninggal usia muda) (9. KH. Ahmad Marzuqi (10. Hindun (11. Maryam (meninggal ketika masih kecil)

Pendidikan tentang dasar-dasar agama telah dirasakan oleh putra ke sembilan KH. Zahid ini qejak dini, karena semenjak masa balita beliau bersama saudara-saudaranya telah hidup dalam suasana relegius di bawah bimbingan ayahnya sendiri.

Ketika berusia sepuluh tahun, beliau mulai melanjutkan studi dan memperdalam pengetahuan agama di Pondok Pesantren Langitan di bawah asuhan KH. Abdul Hadi Zahid yang merupakan kakak kandungnya sendiri. Selama puluhan tahun beliau memperdalam dan meningkatkan kemampuan intelektualnya dalam semua disiplin ilmu agama dengan tekun dan sabar. Selain belajar di Pondok Pesantren Langitan beliau juga kadangkala mengikuti pengajian secara temporal (pasanan) di Pondok Pesantren Tebuireng di bawah bimbingan ulama besar, Hadratus Syeh KH. Hasyim Asy’ari yang juga termasuk salah satu alumni Pondok Pesantren Langitan semasa kepengasuhan KH. Muhammad Sholeh. Selain itu beliau juga pernah mendalami ilmu seni kaligrafi kepada KH. Basuni, Blitar Jawa Timur.

Karena kapabilitas dan kredibilitasnya yang mumpuni dalam bidang pengetahuan agama, beliau mendapat amanat dari KH. Abdul Hadi Zahid untuk menjadi pengajar di Pondok Pesantren Langitan. Selain memiliki penguasaan ilmu pengetahuan agama yang luas beliau juga mempunyai banyak pengetahuan tentang dasar managemen organisasi sehingga pada tahun 1944 M. beliau mendapat kepercayaan menjadi lurah pondok (sekarang populer dengan sebutan Ro’is Am). Tugas-tugas mulia itu dilaksanakannya dengan penuh ketekunan, kesabaran dan konsisten, sampai pada akhirnya ketika berusia 36 tahun beliau dijodohkan dengan Ning Halimah putri KH. Zaini Pambon Brondong Lamongan yang juga termasuk putra menantu KH. Muhammad Khozin.

Perhatian dan komitmen KH. Ahmad Marzuqi Zahid terhadap dunia pendidikan tidak pernah surut dan padam, kendati beliau telah disibukkan dengan urusan-urusan rumah tangga. Hal itu terbukti dengan masih tetap aktifnya beliau dalam mengajar dan bahkan pada tahun 1949 M. beliau memperoleh amanat menjadi Kepala Madrasah Al Falahiyah ketika sedang dirintasnya pengajaran klasikal (madrasiyah) semasa kepengasuhan KH. Abdul Hadi Zahid. Berkat SDM dan olah menejerial yang mumpuni, beliau berhasil membawa Madrasah Al Falahiyah menjadi sebuah lembaga pendidikan yang berkualitas dan progresif. Selain aktif dalam dunia pendidikan yang sudah menyatu dengan jiwa dan karakternya, beliau juga pernah berkiprah dan berperan dalam dunia perpolitikan dengan menjadi anggota DPR Kabupaten Tuban hasil pemilu tahun 1955 dengan membawa bendera Nahdlotul Ulama (NU).

Cita-cita dan harapan para pengasuh pendahulu Pondok Pesantren Langitan diterjemahkan dengan baik dan penuh kearifan oleh KH. Ahmad Marzuqi Zahid bersama KH. Abdullah Faqih. Kerjasama yang sinergis antar keduanya dalam memimpin roda kepengasuhan Pondok Pesantren Langitan telah banyak membuahkan hasil yang signifikan. Seperti kebijakan baru di bidang pendidikan dan ketrampilan berupa pelajaran Manhaj Tadris, pembentukan Pusat Pelatihan Bahasa Arab, kursus komputer, administrasi dan manajemen, diklat jurnalistik, pertanian dan peternakan, pendirian Taman Kanak-kanak (TK) dan Taman Peldidikan Al Quran (TPQ), dan lain- lain

Di bidang dakwah mengadakan pengajian umum mingguan dan pengiriman dai ke berbagai daerah sekitar dan luar jawa. Di bidang perekonomian mendirikan Badan Usaha Milik Pondok (BUMP) barupa Toko Induk, toko pondok, kantin sayur dan wartel An Nur. Kebijakan-kebijakan baru tersebut diilhami oleh sebuah kaidah “Al Muhafadlotu alal Qadimis Sholeh wal Akhdzu bil jadidil Ashlah (memelihara norma-norma lama yang baik, dan menggali norma-norma baru yang lebih baik).

Keberhasilan ayah dari sembilan putra ini dalam mengemban dan menjalankan semua aktifitasnya khususnya dalam mengasuh Pondok Pesantren Langitan tidak lepas dari jasa seorang wanita yang memiliki nilai istimewa di sisinya yaitu istrinya sendiri, Nyai Halimah yang dengan penuh kesabaran dan keikhlasan telah mencurahkan segala pengorbanannya dalam mendampingi dan mengabdikan dirinya membantu tugas-tugas sang suami baik dalam suka maupun duka. Beliau bersama Nyai Halimah dikaruniai sembilan putra-putri yang kelak menjadi penerus perjuangan ayah ibundanya dalam menegakkan panji-panji Islam. Kesembilan putra-putri beliau adalah:
1. Ning Khahifah (meninggal dalam usia muda)
2. Ning Muflihah (diperistri oleh KH. Dimyati Romli, PP. Darul Ulum Jombang)
3. KH. Abdullah Munif (beristrikan Ning Qurratul Ishaqiyyah, Surabaya)
4. Ibu Nyai Hj. Faizah (istri KH. Sholeh Badawi, Langitan)
5. KH. Muhammad Ali (beristrikan Ning ‘Aisyah, Surabaya)
6. Ning Mahmudah (dipersunting oleh KH. Basthomi, Nganjuk)
7. Ning Nihayatus Sa’adah (istri oleh Agus A’la Bashir, Madura)
8. Ning Shofiyah (istri Agus JJ. Abdul Razaq, Sumedang Jawa Barat)
9. Ning Masrurah (istri Ust. Miftahul Munir, Manyar Gresik)

Setelah selama kurang lebih empat puluh tujuh tahun mencurahkan segala potensi yang ia miliki dalam mendampingi dan membantu meringankan beban suami dalam menegakkan kalam ilahi, Ibu Nyai Halimah kembali ke haribaan Rabbul ‘izzati tepat pada tanggal 6 Juni 1992 M. Air mata jatuh menetes tak tertahankan sebagai saksi atas segala jasa-jasa beliau yang tidak dapat terbelikan oleh materi. Dua tahun sepeninggal Nyai Halimah, tepatnya pada tanggal 7 April 1994 M. KH. Ahmad Marzuqi Zahid menikah lagi dengan Nyai Sholihah dari Desa Manyar Kecamatan Sekaran Kabupaten Lamongan, yang mendampingi hingga akhir hayatnya. Waktu terus berjalan, sesuai dengan kehendak-Nya. Bumi Langitan terselimuti oleh kabut duka ketika ajal menyapa. Hari itu, Sabtu, 21 Rabi’ul Awwal 1421 H. atau bertepatan dengan tanggal 24 Juni 2000 M. KH. Ahmad Marzuqi Zahid berpulang ke sisi Rabbnya pada umur 91 tahun, qetelah mengasuh Pondok Pesantren Langitan selama kurang lebih 29 tahun (1971 -2000 M.)

 

Tulisan Terkait

Tips Menjaga Mata agar Tetap Sehat

Tips Menjaga Mata agar Tetap Sehat

Salah satu organ tubuh manusia yang paling penting adalah mata. Tanpa mata, banyak hal akan sulit dilakukan. Faktor penglihatan sangat penting dalam kehidupan, terutama dalam bidang pendidikan, sehingga kesehatan mata santri/pelajar adalah salah satu masalah kesehatan...

Hikmah Dilahirkannya Nabi Muhammad ﷺ

Hikmah Dilahirkannya Nabi Muhammad ﷺ

Khutbah 1 الْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلَى أُمُوْرِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ...

Masjid Agung Koln Jerman; Simbol Toleransi Kota

Masjid Agung Koln Jerman; Simbol Toleransi Kota

Islam, agama yang bermula dari semenanjung Arab kini telah merambah di berbagai belahan dunia, termasuk negara Jerman. Tepatnya pada abad ke-20, imigrasi besar-besaran orang  Turki ke Jerman terjadi. Terbaru, jumlah umat muslim di Jerman per 2024 diperkirakan mencapai...

Menasihati dengan Toxic, Bolehkah?

Menasihati dengan Toxic, Bolehkah?

Terkadang ada sebagian orang memberi nasihat dengan caranya yang kasar, entah itu  memaki atau mencela yang kerap kali membuat orang yang dinasihati merasa tersinggung. Hal ini biasanya dipengaruhi oleh situasi dan kondisi penasihat, seperti kurangnya respons positif,...

Uzlah atau Bersosial? Membaca Dalil dan Konteksnya

Uzlah atau Bersosial? Membaca Dalil dan Konteksnya

Pertanyaan tentang apakah lebih baik menyendiri (uzlah) atau bersosial sering kali menjadi perdebatan hangat dalam diskusi agama dan moral. Di satu sisi, uzlah dianggap sebagai cara menjaga diri dari pengaruh buruk dunia luar. Di sisi lain, bersosial menawarkan...

Masjid An-Nahdla Bojonegoro; Perpaduan Andalusia dan Jawa

Masjid An-Nahdla Bojonegoro; Perpaduan Andalusia dan Jawa

Bojonegoro, sebuah kabupaten di Jawa Timur, menyimpan kisah panjang yang kaya akan warna sejarah dan budaya. Wilayah ini telah melalui berbagai masa kejayaan kerajaan besar di Nusantara, mulai dari pengaruh Hindu yang datang dari India, hingga perubahan ke budaya...

Cinta, Pengorbanan, dan Keteguhan Iman Abu Bakar

Cinta, Pengorbanan, dan Keteguhan Iman Abu Bakar

Di antara sekian banyak manusia yang pernah berjalan di muka bumi, ada orang-orang yang namanya dikenang bukan karena kekuasaan, kekayaan, atau kemenangan yang mereka raih. Mereka dikenang karena ketulusan cinta yang mereka persembahkan kepada kebenaran. Salah satu di...

Para Pecinta Buku dan Buku yang Dicintai

Para Pecinta Buku dan Buku yang Dicintai

Dalam perjalanan membangun peradaban yang luhur dan mulia, baik sosok yang tergila-gila pada buku maupun buku yang menjadi objek kegilaan memegang peran penting. Oleh karena itu, sepatutnya manusia yang berbudaya memberikan penghargaan setinggi-tingginya kepada para...

0 Comments

Kategori

Arsip

Posting Populer