Masjid Agung Koln Jerman; Simbol Toleransi Kota

Penulis : Tim Admin

August 19, 2026

Masjid Agung Koln Jerman (Image Source: tripadvisor.co.id)

Islam, agama yang bermula dari semenanjung Arab kini telah merambah di berbagai belahan dunia, termasuk negara Jerman. Tepatnya pada abad ke-20, imigrasi besar-besaran orang  Turki ke Jerman terjadi. Terbaru, jumlah umat muslim di Jerman per 2024 diperkirakan mencapai 5,5 juta jiwa, yang setara dengan 6,6% dari total populasi negara tersebut. Meskipun terbilang minoritas, agama Islam di negara ini merupakan agama terbesar kedua setelah Kristen.

Salah satu hal yang menjadi bukti penyebaran agama Islam di negara ini adalah terdapatnya bangunan masjid indah nan megah yang berdiri di sana. Masjid Agung Koln, yang juga dikenal sebagai Cologne Central Mosque, adalah salah satu masjid terbesar dan termegah di Eropa, berdiri tegak di kota Koln, Jerman.

Kilas Sejarah

Tidak semulus yang dibayangkan, semenjak ide rencana pembangunan muncul pada tahun 2007, banyak penolakan dari warga sekitar. Salah satunya penolakan dari politikus-politikus Jerman, dengan berbagai macam alasan, karena secara historis, Koln adalah kota kristiani. Namun setelah melalui kuesioner yang disebar salah satu koran lokal di Koln, dari 500 warga Koln, sekitar 60% setuju dengan pembangunan Masjid Raya Koln. Pada akhirnya tahun 2008, perizinan untuk membangun Masjid Raya Koln disetujui oleh dewan kota Koln.

Persatuan Islam Turki, Diyanet İşleri Türk-İslam Birliği (DİTİB) sebuah organisasi nirlaba dari komite pengawas Pemerintah Turki untuk urusan agama, menghargai keharmonisan masyarakat Cologne. Mereka memilih seorang arsitek non-Muslim, Arsitek Gottfried Bohm dan putranya, Paul Bohm, yang selama ini biasa membangun gereja-gereja di Jerman.

Pembangunan Masjid Agung Koln menelan biaya sekitar 15-20 juta Euro yang didanai  DITIB, pinjaman bank, dan sumbangan dari 884 asosiasi muslim. Termasuk Gereja Katolik St. Theodore di Koln juga ikut menggalang dana untuk pembangunan masjid tersebut. Partisipasi ini merupakan sebuah peristiwa yang menunjukkan betapa pentingnya toleransi antar umat beragama.

Masjid Agung Koln pertama kali digunakan sebagai masjid pada tahun 2017 dan baru diresmikan pada akhir bulan September 2018 oleh Presiden Turki Recep Tayyip Erdoğan.

Arsitektur Masjid

Masjid Agung Koln, yang berdiri megah di Distrik Ehrenfeld, Koln, merupakan sebuah landmark yang menandai kehadiran umat muslim di jantung kota Jerman. Lokasinya yang sangat strategis, dekat dengan Stasiun Utama Koln dan dikelilingi oleh berbagai fasilitas publik, menjadikan masjid ini sebagai titik temu yang mudah dijangkau oleh seluruh lapisan masyarakat. Dengan demikian, masjid ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai pusat komunitas yang merefleksikan semangat toleransi dan keberagaman budaya di kota Koln.

Dengan luas bangunan mencapai 4.500 meter persegi, masjid ini dapat menampung sekitar 2000 jamaah sekaligus, serta memiliki desain yang futuristik serta mengusung konsep hemat energi. Karena ukuran yang semegah itu Masjid Koln memegang gelar sebagai masjid terbesar di Jerman. Masjid ini juga memiliki kubah transparan setinggi 35 meter dari beton serta kaca yang tampak terbuka seperti kuncup bunga.

Selain bagian luarnya, bagian dalam masjid pun tak kalah cantiknya. Ketika cahaya luar masuk ke ruangan maka tampaklah ukiran kaligrafi emas di dinding. Para jamaah pun biasanya  mengagumi pemandangan ini. Masjid ini juga membuka diri untuk dikunjungi warga yang berbeda agama. Tujuannya agar Masjid Koln dapat mempererat komunikasi antaragama di Jerman.

Juru bicara DITIB, Alboga, mengatakan dinding serta kubah kaca digunakan untuk memberikan unsur keterbukaan kepada jamaah. Unsur tersebut semakin ditonjolkan lewat tangga-tangga masuk yang sudah terlihat dari pinggir jalan. Sang arsitek menambahkan keterbukaan menjadi filosofi pembangunan masjid dengan maksud masyarakat umum dipersilakan mengenal Islam lebih dekat melalui masjid tersebut.

Sementara itu, bagian bawah tanah Masjid Agung Koln menjadi ruangan belajar. Pintu masuk serta bazar terletak di lantai dasar. Area salat berada di lantai atas bersama dengan ruang perpustakaan. Di tengah-tengah masjid terdapat sebuah sumur yang menghubungkan dua lantai tersebut.

Walaupun dibangun oleh arsitek Jerman, masjid ini tetap menampilkan ciri khas arsitektur Turki yang dipadukan dengan kaligrafi emas yang indah sehingga mampu menciptakan suasana unik yang menggabungkan tradisi dan modernitas.

Masjid Agung Koln biasanya ramai dikunjungi warga Jerman pada 3 Oktober setiap tahun. Hal itu guna merayakan Hari Pintu Terbuka Masjid di Jerman sejak 1997. Hari tersebut ditetapkan sebab Dewan Pusat Muslim di Jerman ingin seluruh warga tanpa batasan agama bisa berkunjung ke masjid-masjid. Kini masjid ini tak hanya menjadi tempat ibadah, namun juga menjadi daya tarik bagi turis mancanegara.

Penulis: Moh. Haikal

Tulisan Terkait

0 Comments

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kategori

Arsip

Posting Populer