Masjid An-Nahdla Bojonegoro; Perpaduan Andalusia dan Jawa

Penulis : Tim Admin

August 18, 2026

Masjid An-Nahda (Image Source: travel.kompas.com)

Bojonegoro, sebuah kabupaten di Jawa Timur, menyimpan kisah panjang yang kaya akan warna sejarah dan budaya. Wilayah ini telah melalui berbagai masa kejayaan kerajaan besar di Nusantara, mulai dari pengaruh Hindu yang datang dari India, hingga perubahan ke budaya Islam yang mengubah wajah peradaban lokal.

Tidak seperti wilayah Jawa Timur lainnya, wisata di Bojonegoro memang kurang populer ketimbang dengan tempat-tempat wisata lainnya seperti di Malang, Banyuwangi, atau Surabaya. Namun sebenarnya Bojonegoro juga punya tempat wisata yang unik dan menarik dikunjungi.

Terletak di Desa Sumberjo, Kecamatan Margomulyo, Kabupaten Bojonegoro, terdapat destinasi wisata religi yang menarik perhatian para pelancong, yakni Masjid An-Nahdla yang berdiri megah.

Sejak diresmikan pada 27 Desember 2024, Masjid An-Nahdla telah menjadi salah satu masjid yang berdiri megah di atas lahan seluas 2,9 hektar. Masjid ini memikat hati warga dengan arsitektur yang menggabungkan sentuhan Timur Tengah dan Jawa, menjadikannya tempat yang wajib dikunjungi oleh para pecinta wisata budaya dan religi.

Arsitek dari Arab

Pemerintah Kabupaten Bojonegoro menghabiskan dana sebesar Rp 113,45 miliar dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) untuk pembangunan Masjid An-Nahdla ini.

Megaproyek dimulai tahun 2021 dan selesai tahun 2023. “Total pembangunan masjid senilai 113,45 M. Dikerjakan tiga tahun mulai 2021 hingga 2023. Kalau di 2024 hanya ada tambahan kecil nilainya itu pun di Perubahan (P) APBD jelang akhir tahun,” tutur Kabid Tata Bangunan Dinas Perumahan Kawasan Permukiman dan Cipta Karya Bojonegoro Beny Kurniawan.

Kondisi asal bentuk tanah di sekitar area yang tidak merata atau berbukit mengharuskan  penggunaan alat berat yang mampu meratakan  lahan sebelum  akhirnya menjadikan  pondasi yang stabil dan area yang datar. Selain itu area di sekitar masjid juga telah melalui proses pengolahan lanskap yang signifikan dengan membangun dinding penahan tanah bertingkat di bagian belakang.

Diharapkan menjadi destinasi wisata religi yang ikonik, proyek ini mendatangkan arsitek dari Arab Saudi yang kebetulan tinggal di Jakarta. Tetapi, meskipun mendatangkan arsitektur dari Arab Saudi, unsur arsitektur masjid tetap menggabungkan perpaduan antara ornamen Timur Tengah dan nuansa lokal Jawa.

“Karena masjid ini dibuat di Bojonegoro maka timbul warna masjid perpaduan klasik Timur Tengah dengan klasik Jawa yaitu Aljaferia Andalusia & Gebyok Jawa. Menjadi warna dan corak tersendiri. Ditambah lagi bentuk yang unik, masjid ini bulat dan ini jarang orang berani mendesain perpaduan antara bulat dan zig-zag di lokasi yang berbukit dan ekstrem,” tutur Beny Kurniawan.

Filosofi

Tak heran jika masjid ini akan menjadi destinasi wisata religi yang ramai dikunjungi oleh para peziarah, entah itu dari dalam maupun luar kota. Dari setiap sudut pandang, masjid ini dihiasi dengan ornamen-ornamen yang khas dengan keindahan yang kaya akan makna dan filosofi. Warna masjid didominasi oleh warna cokelat muda keemasan atau krem.

Setidaknya terdapat beberapa konsep filosofis numerik yang berbeda di balik megahnya bangunan Masjid An-Nahdla, yaitu memiliki filosofi “orang-orang terpilih” dengan batasan jumlah jamaah maksimal 99 orang, 99 keran wudhu, dan parkir untuk 99 mobil, yang semuanya bermakna Asmaul Husna. Masjid ini dibangun dengan 3 level (Iman, Islam, Ihsan) dan memiliki 5 trap menuju masjid utama yang menggambarkan 17 rakaat dalam sehari. Terdapat 9 pancuran air yang menggambarkan Wali Songo dan 9 tiang utama masjid yang menggambarkan Soko Tahu Atau motor Islam utama masuknya ke Jawa yang dibawa 9 wali.

Pintu masuk masjid berjumlah 4, yang menunjukkan 4 mazhab Ahlussunnah wal Jamaah.  kubah utama yang berjumlah 5 menggambarkan rukun Islam dan 25 kubah selasar yang menggambarkan 25 Nabi dan Rasul yang diimani Ahlussunnah wal Jamaah.

Jika dilihat dari atas, masjid ini memiliki eksterior yang unik, terinspirasi dari bintang dan bulan sabit yang sudah melekat dalam nafas yang kental dalam keislaman, bangunan utama masjid dan koridor luarnya—walaupun tidak sepenuhnya—membentuk seperti bulan dan sabit. Selain itu, perpaduan garis lengkung karakter bulan berpadu dengan garis zig-zag dari karakter bintang sehingga menimbulkan suatu gerak dinamis dan terkesan berani.

Bagian yang sangat menonjol adalah koridor atau selasar melingkar yang mengelilingi bangunan utama, terutama di bagian depan. Kita akan disambut dengan indahnya deretan pilar-pilar berlengkung dan ornamen yang mengingatkan pada arsitektur Timur Tengah, namun dengan sentuhan lokal yang khas. Atap koridor dihiasi kubah-kubah kecil berwarna keemasan, memantulkan cahaya dan menambah kesan mewah, yang berfungsi sebagai penghubung utama, sekaligus menyediakan area transisi yang luas dan teduh untuk kenyamanan jamaah.

Penulis: Moh. Haikal

Tulisan Terkait

0 Comments

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kategori

Arsip

Posting Populer