
(Image Source: chatgpt.com)
Terkadang ada sebagian orang memberi nasihat dengan caranya yang kasar, entah itu memaki atau mencela yang kerap kali membuat orang yang dinasihati merasa tersinggung. Hal ini biasanya dipengaruhi oleh situasi dan kondisi penasihat, seperti kurangnya respons positif, sikap defensif atau menolak nasihat, perbedaan pendapat, keinginan untuk mengontrol, keterbatasan emosi penasihat, kesulitan dalam menghadapi realitas dan komunikasi yang buruk.
Contohnya, saat orang yang dinasihati bersikap defensif atau menolak nasihat: Ketika orang yang dinasihati menanggapi nasihat dengan sikap defensif, menolak, atau bahkan membantah, penasihat mungkin merasa tersinggung atau marah karena mereka merasa tidak dihargai atau dianggap tidak berkompeten. Apakah contoh seperti itu diperbolehkan dalam Islam?
Dalam al-Qur’an, Allah memerintahkan umat Islam untuk saling menasihati dengan cara yang baik dan bijaksana, serta dengan kata-kata yang penuh kasih sayang.
Dalam surat al-Asr ayat 3 Allah berfirman
إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ
“Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan saling menasihati dengan kebenaran dan saling menasihati dengan kesabaran.”
Ayat ini menunjukkan pentingnya menasihati dengan kebenaran dan kesabaran, bukan dengan cara yang menyakiti atau merendahkan.
Di lain surat, Allah Swt berfirman
ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَن ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik …” ( Surat an-Nahl ayat 125).
Dalam ayat ini, Allah menekankan pentingnya berdakwah dan menasihati dengan hikmah (kebijaksanaan) dan cara yang baik, bahkan saat kita menghadapi perbedaan pandangan.
Hadis-hadis Nabi Muhammad saw juga menjelaskan bagaimana cara memberikan nasihat yang benar dalam Islam. Nasihat harus diberikan dengan penuh kelembutan dan tidak dengan cara yang kasar atau merendahkan.
Disebutkan dalam hadis riwayat Muslim:
“الدِّينُ النَّصِيحَةُ.” قُلْنَا لِمَنْ؟ قَالَ “لِلَّهِ وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُولِهِ وَلِئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ وَعَامَّةِهِمْ.”
Nabi Muhammad saw bersabda, “Agama itu adalah nasihat.” Kami bertanya, “Untuk siapa, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Untuk Allah, untuk kitab-Nya, untuk rasul-Nya, untuk pemimpin kaum muslimin, dan untuk umat Islam.”
Hadis ini menunjukkan bahwa nasihat adalah bagian penting dalam agama, namun cara menyampaikannya harus penuh dengan niat yang baik dan kasih sayang.
Dalam hadis riwayat al-Bukhari juga disebutkan
“لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ”
“Tidak ada seorang pun yang beriman hingga ia mencintai saudaranya seperti ia mencintai dirinya sendiri.”
Dalam konteks ini, nasihat yang baik harus disampaikan dengan cara yang mencintai dan peduli terhadap orang yang dinasihati, bukan dengan cara yang merendahkan atau menyakitkan.
Selain itu, menasihati dengan cara toxic yang biasanya penuh dengan kritik yang merendahkan, menghina, atau menyakitkan jelas bertentangan dengan prinsip-prinsip Islam. Islam mengajarkan untuk menjaga kehormatan orang lain, menghindari perkataan yang menyakitkan, dan memberi nasihat dengan cara yang mendatangkan manfaat.
Allah Swt berfirman dalam surat al-Hujurat ayat 11
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّنْ قَوْمٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِّنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِّنْ نِسَاءٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّ
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok). Dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olok) perempuan lain, boleh jadi perempuan-perempuan (yang diolok-olok) lebih baik dari perempuan-perempuan (yang mengolok-olok).”
Ayat ini mengingatkan untuk tidak merendahkan atau menghina orang lain, yang menjadi salah satu ciri dari cara menasihati yang toxic.
Islam mengajarkan bahwa setiap individu berhak mendapatkan perlakuan yang baik. Memberikan nasihat dengan cara yang keras atau menyakitkan, terutama di hadapan orang lain, dapat merusak hubungan sosial dan berdampak buruk bagi perasaan orang yang dinasihati.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: “مَنۡ كَانَ يُؤْمِنُ بِٱللَّهِ وَٱلۡيَوْمِ ٱلۡأٓخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًۭا أَوۡ لِيَصْمُتْ.”
Nabi Muhammad saw bersabda, “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (HR. Bukhari Muslim).
Hadis ini mengajarkan kita untuk berbicara dengan kata-kata yang baik dan penuh adab, dan jika tidak bisa berkata baik, lebih baik diam.
Penulis: Akhmad Nur Ilmi









0 Comments