Para Pecinta Buku dan Buku yang Dicintai

Penulis : Tim Admin

August 18, 2026

Ilustrasi Pecinta Buku (Image Source: unsplash.com)

Dalam perjalanan membangun peradaban yang luhur dan mulia, baik sosok yang tergila-gila pada buku maupun buku yang menjadi objek kegilaan memegang peran penting. Oleh karena itu, sepatutnya manusia yang berbudaya memberikan penghargaan setinggi-tingginya kepada para pecinta buku serta memelihara ketertarikan terhadap buku.

Mereka yang Gila Buku

Tak selamanya istilah “gila” berkonotasi negatif. Dalam batas tertentu, “kegilaan” ternyata bisa menjadi nilai yang justru dibutuhkan oleh umat manusia. Berikut ini adalah beberapa contoh kegilaan terhadap buku yang layak diteladani.

Abu al-Muzhaffar Nashr ibn Mahmud ibn al-Mu’arrif, murid Ibn al-‘Aynzarbi dalam bidang kimia, adalah salah satu tokoh yang dikenal sangat mencintai buku. Ia adalah seorang dokter, filsuf, kaligrafer, dan penyair yang menjadi penulis produktif. Kegemarannya mengoleksi buku menjadikannya pemilik perpustakaan pribadi berisi ribuan buku, yang konon seluruhnya telah ia baca dan beri catatan pribadi.

Sejak kecil, Prabhakaran dikenal sebagai siswa yang pendiam dan tertutup. Pendiri Macan Tamil tersebut bahkan kerap mengalami perlakuan diskriminatif yang menorehkan luka mendalam. Kondisi inilah yang rupanya turut menyulut semangat perlawanan dalam dirinya. Kemarahannya semakin membara ketika ia menyaksikan ketidakadilan yang diterima masyarakat Tamil.

Tak tahan dengan keadaan, ia memutuskan untuk meninggalkan bangku sekolah dan justru menemukan pelariannya dalam dunia buku. Kegemarannya membaca ternyata membawanya pada kisah-kisah tokoh besar seperti Aleksander Agung dan Napoleon, yang memberikannya banyak pelajaran hidup. (Rakaryan Sukarjaputra, 2010: 61).

Di Indonesia, Gus Dur juga dikenal sebagai kutu buku sejati. Sejak kecil ia terbiasa membaca koleksi milik ayahnya serta rajin mengunjungi perpustakaan umum di Jakarta. Pada usia 10 tahun, ia sudah akrab dengan berbagai genre bacaan, mulai dari filsafat, sejarah, sastra, hingga cerita silat. Ia membaca karya-karya tokoh besar seperti Karl Marx, Plato, Lenin, Will Durant, Hemingway, Dostoevsky, dan banyak lainnya.

Selama menempuh pendidikan di Universitas Al-Azhar, Mesir, Gus Dur merasa haus ilmu dan sering menghabiskan waktu di perpustakaan besar, termasuk American University Library. Hal serupa ia lakukan saat melanjutkan studi di Irak. Kegilaan dan ketertarikannya pada buku membuatnya melahap hampir semua karya orientalis Barat di sana. (Hamid, 2010: 27-28).

Contoh lain adalah Mark Zuckerberg, pendiri Facebook, yang dikenal introvert dan lebih suka berinteraksi dengan buku daripada orang lain. Dari ketertarikannya yang mendalam terhadap dunia bacaan inilah, tercetus ide menciptakan platform yang kini dikenal luas di seluruh dunia. Mark adalah sosok kutu buku yang kemudian menjadi miliarder di jantung teknologi global, Silicon Valley.

Karya yang Digilai

Di kancah global, ada banyak buku yang begitu digilai hingga melahirkan penggemar fanatik. Salah satunya adalah Rich Dad, Poor Dad karya Robert Kiyosaki. Buku ini awalnya dicetak secara sendiri dan disimpan di garasi karena tidak laku. Seorang teman menawarkan agar memajangnya di tempat pencucian mobil. Sang teman berpikir, bahwa para pelanggan mungkin akan melihat buku itu dan membelinya.

Keberuntungan rupanya berpihak pada Kiyosaki saat seorang petinggi perusahaan pemasaran menemukan buku tersebut dan merekomendasikannya secara luas. Popularitasnya menjulang tinggi, hingga suatu hari ia tampil di acara Oprah Winfrey. Tak heran apabila Rich Dad, Poor Dad telah diterjemahkan ke 46 bahasa di 97 negara.

Think and Grow Rich karya Napoleon Hill, yang pertama kali terbit tahun 1937, juga termasuk karya yang mendapat tempat di hati para pembacanya. Karya itu menjadi cukup legendaris dan terjual lebih dari 15 juta kopi di seluruh dunia. Apa yang ditulis oleh Hill menjadi rujukan penting dalam literatur motivasi selama puluhan tahun. Edisi revisinya bahkan dilengkapi kisah sukses tokoh modern seperti Bill Gates dan Sir John Templeton.

Serial Harry Potter karya J.K. Rowling adalah fenomena tersendiri. Dari buku pertama hingga ketujuh, semuanya mencetak rekor penjualan global. Bahkan, pemesanan sudah membeludak sebelum buku dirilis. Apa yang telah dilakukan oleh Rowling telah menyelamatkan industri perbukuan, menyokong Scholastic yang hampir bangkrut, dan menjadikan Amazon.com booming. Rowling pun menjadi perempuan terkaya di Inggris, melampaui Ratu Elizabeth II.

Di tanah air, Laskar Pelangi karya Andrea Hirata juga mendapatkan sambutan luar biasa. Karya peraih beasiswa di Universite de Paris, Sorbonne, Perancis dan Sheffield Hallam University, United Kingdom ini telah diterjemahkan ke dalam 26 bahasa dan menjadi bacaan populer di Korea Selatan, bahkan direkomendasikan oleh akademisi sebagai materi ajar sastra.

Penulis: Multazam

Tulisan Terkait

Kilau Emas Kian Memukau

Kilau Emas Kian Memukau

Belakangan ini, ramai perbincangan tentang fenomena “demam emas” (gold rush). Masyarakat Indonesia maupun mancanegara berbondong-bondong membeli emas saat harganya sedang melonjak. Mereka berusaha mengalihkan dana simpanan atau tabungannya ke logam mulia. Apa yang...

Dakwah yang Menyejukkan Hati

Dakwah yang Menyejukkan Hati

Di tengah derasnya arus informasi dan beragamnya cara manusia menyampaikan pendapat, dakwah tetap memiliki tujuan yang sama sejak zaman para nabi: mengajak manusia menuju kebaikan dan mendekatkan mereka kepada Allah Swt. Namun, keberhasilan dakwah tidak hanya...

Ini Doa yang Dianjurkan saat Rabu Wekasan

Ini Doa yang Dianjurkan saat Rabu Wekasan

Rabu Wekasan merupakan hari Rabu terakhir di bulan Safar. Istilah ini berasal dari bahasa Jawa, "Rebo Wekasan" atau "Rebo Pungkasan". Melansir dari Wikipedia, pada hari tersebut, masyarakat Jawa meyakini akan diturunkannya 320.000 sumber penyakit dan mara bahaya serta...

Kenapa Ilmu Tauhid Wajib Dipelajari?

Kenapa Ilmu Tauhid Wajib Dipelajari?

Di zaman sekarang, kajian dan diskusi terkait ilmu tauhid atau ilmu kalam tidak sebanyak ilmu-ilmu yang lain. Di pengajian umum, misalnya, seringkali yang dibahas hanya berputar di antara fikih dan tasawuf, sangat jarang sekali ilmu tauhid menjadi pembahasan utama. ...

0 Comments

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kategori

Arsip

Posting Populer