Qutaibah bin Muslim, Panglima Pembuka Gerbang Islam di Asia Tengah

Penulis : Tim Admin

August 17, 2026

(Image Source: Muslimah Daily)

Sejarah Islam mencatat banyak nama besar yang berjasa dalam perluasan dakwah dan peradaban. Di antara nama-nama itu, Qutaibah bin Muslim menempati posisi istimewa. Ia bukan hanya seorang panglima perang, tetapi juga tokoh penting dalam terbukanya pintu Islam di Asia Tengah, wilayah yang kelak melahirkan para ulama besar dunia Islam.

Tumbuh dalam Masa Jihad

Beliau adalah Qutaibah bin Muslim bin ‘Amr bin Husain bin ‘Amir, bergelar Abu Hafshah al-Bahili. Qutaibah lahir di wilayah Irak pada tahun 49 H dari kabilah Bahilah. Kabilah ini memang tidak terlalu dikenal pada masa Jahiliah, namun pada masa Islam melahirkan tokoh-tokoh besar, di antaranya Salman bin Rabi‘ah dan Qutaibah bin Muslim sendiri.

Qutaibah kecil telah turun ke medan jihad sejak usia sangat muda, sekitar 17 tahun, sebuah usia yang ia ditempa oleh kondisi zaman dan lingkungan yang sarat dengan perjuangan. Hingga ia dikenal sebagai panglima perang Islam yang tangguh. Melalui kepemimpinannya, banyak wilayah di Asia Tengah yang kemudian mengenal Islam. Penaklukan-penaklukan itu berlangsung hingga kawasan Transoxiana, mendekati perbatasan negeri Cina. Di wilayah-wilayah tersebut, dakwah Islam berkembang dan diterima oleh masyarakat setempat.

Ayahanda Qutaibah, Muslim bin ‘Amr, merupakan sahabat dekat Mush‘ab bin az-Zubair. Ia pernah menjabat sebagai gubernur Irak atas perintah Amirul Mukminin ‘Abdullah bin az-Zubair, serta turut berperang melawan ‘Abdul Malik bin Marwan pada tahun 72 H/692 M. Lingkungan keluarga inilah yang turut membentuk karakter Qutaibah sejak dini.

Pada masa pertumbuhannya, Qutaibah mempelajari fikih dan Al-Qur’an, sekaligus ditempa dengan latihan-latihan militer. Ia tumbuh bersama kuda, pedang, dan panah. Kondisi Irak yang saat itu terus diguncang pemberontakan menjadikan para amir sibuk mempersiapkan jihad dan pertahanan wilayah. Dalam suasana itulah Qutaibah muda bergabung dalam barisan jihad.

Peran Militer dan Dakwah

Keberanian dan keterampilan Qutaibah menarik perhatian al-Muhallab bin Abi Shafrah, salah satu panglima besar Islam. Al-Muhallab melihat potensi besar dalam diri Qutaibah dan menyampaikannya kepada al-Hajjaj bin Yusuf ats-Tsaqafi.

Al-Hajjaj kemudian menguji Qutaibah dalam beberapa tugas penting untuk memastikan kapasitas kepemimpinannya. Hasilnya, Qutaibah menunjukkan kecakapan yang luar biasa. Rekomendasi al-Muhallab terbukti benar. Khalifah Abdul Malik bin Marwan pun mengangkat Qutaibah sebagai gubernur di wilayah Ray dan kemudian Khurasan.

Pada masa itu, kaum Muslimin mulai mengarahkan perhatian ke wilayah Timur, daerah yang dihuni oleh dua kelompok besar, yaitu Persia dan Turki. Penaklukan Persia telah disempurnakan pada masa Khulafaur Rasyidin, sedangkan wilayah-wilayah Turki memiliki cakupan yang luas dan penduduk yang beragam. Oleh karena itu, Irak dijadikan sebagai markas militer Islam untuk ekspansi wilayah Timur.

Qutaibah memimpin berbagai ekspedisi militer dengan strategi yang matang. Penaklukan kota-kota seperti Bukhara, Samarkand, dan wilayah di sekitar Sungai Jihun (Amu Darya) menjadi titik penting dalam sejarah Islam. Dari wilayah-wilayah inilah kelak lahir pusat-pusat ilmu dan peradaban Islam.

Di Balik Penaklukan Qutaibah bin Muslim

Qutaibah bin Muslim merupakan salah satu tokoh besar dalam sejarah perluasan Islam di wilayah Timur. Di tengah citra Bani Umayyah yang kerap dipandang negatif oleh sebagian kalangan—karena sistem monarki yang mereka terapkan—hadir sosok Qutaibah sebagai figur gemilang yang jasanya tidak bisa diabaikan.

Sebagian penulisan sejarah Bani Umayyah kerap disajikan secara sepihak, seolah-olah masa daulah ini adalah periode kegelapan umat Islam. Narasi memunculkan opini bahwa Dinasti Umayyah jauh dari ajaran Islam. Bahkan, orang-orang yang membenci Islam menjadikan ini sebagai senjata untuk mempertanyakan relevansi penerapan syariat di era modern. Ironisnya, narasi tersebut justru ikut diulang oleh kelompok-kelompok Islam yang vokal menyerukan pendirian kekhalifahan, tanpa sikap kritis terhadap sumber sejarah yang jelas.

Padahal, penaklukan yang dipimpin Qutaibah bin Muslim justru menunjukkan besarnya kontribusi Bani Umayyah bagi peradaban Islam. Penaklukan Bukhara melahirkan ulama besar setempat, Imam al-Bukhari. Wilayah di sekitar Sungai Jihun, termasuk Naisabur, menjadi tanah lahir Imam Muslim bin al-Hajjaj an-Naisaburi, pengarang Shahih Muslim. Demikian pula penaklukan Andalusia yang kelak menjadi ladang subur bagi berkembangnya ilmu pengetahuan dan lahirnya para ulama serta ilmuwan Islam.

Karena itu, kesalahan sebagian tokoh atau kelompok tidak semestinya membuat kita bersikap tidak adil dengan melupakan lautan jasa dan kebaikan yang telah mereka torehkan dalam sejarah Islam.

Gugurnya Sang Panglima

Setelah lebih dari tiga belas tahun memimpin ekspedisi dan pemerintahan di wilayah Timur, Qutaibah menghadapi ujian terakhir dalam hidupnya. Pada tahun 96 H, terjadi perselisihan internal di tubuh pasukan kaum Muslimin. Dalam konflik tersebut, Qutaibah bin Muslim terbunuh bersama Waki‘ bin Hasan at-Tamimi di wilayah Ferghana, kawasan Asia Tengah yang kini mencakup wilayah Uzbekistan, Kirgistan, dan Tajikistan.

Penulis: Moh. Haikal

Tulisan Terkait

Menasihati dengan Toxic, Bolehkah?

Menasihati dengan Toxic, Bolehkah?

Terkadang ada sebagian orang memberi nasihat dengan caranya yang kasar, entah itu  memaki atau mencela yang kerap kali membuat orang yang dinasihati merasa tersinggung. Hal ini biasanya dipengaruhi oleh situasi dan kondisi penasihat, seperti kurangnya respons positif,...

Cinta, Pengorbanan, dan Keteguhan Iman Abu Bakar

Cinta, Pengorbanan, dan Keteguhan Iman Abu Bakar

Di antara sekian banyak manusia yang pernah berjalan di muka bumi, ada orang-orang yang namanya dikenang bukan karena kekuasaan, kekayaan, atau kemenangan yang mereka raih. Mereka dikenang karena ketulusan cinta yang mereka persembahkan kepada kebenaran. Salah satu di...

Para Pecinta Buku dan Buku yang Dicintai

Para Pecinta Buku dan Buku yang Dicintai

Dalam perjalanan membangun peradaban yang luhur dan mulia, baik sosok yang tergila-gila pada buku maupun buku yang menjadi objek kegilaan memegang peran penting. Oleh karena itu, sepatutnya manusia yang berbudaya memberikan penghargaan setinggi-tingginya kepada para...

Kilau Emas Kian Memukau

Kilau Emas Kian Memukau

Belakangan ini, ramai perbincangan tentang fenomena “demam emas” (gold rush). Masyarakat Indonesia maupun mancanegara berbondong-bondong membeli emas saat harganya sedang melonjak. Mereka berusaha mengalihkan dana simpanan atau tabungannya ke logam mulia. Apa yang...

Dakwah yang Menyejukkan Hati

Dakwah yang Menyejukkan Hati

Di tengah derasnya arus informasi dan beragamnya cara manusia menyampaikan pendapat, dakwah tetap memiliki tujuan yang sama sejak zaman para nabi: mengajak manusia menuju kebaikan dan mendekatkan mereka kepada Allah Swt. Namun, keberhasilan dakwah tidak hanya...

Ini Doa yang Dianjurkan saat Rabu Wekasan

Ini Doa yang Dianjurkan saat Rabu Wekasan

Rabu Wekasan merupakan hari Rabu terakhir di bulan Safar. Istilah ini berasal dari bahasa Jawa, "Rebo Wekasan" atau "Rebo Pungkasan". Melansir dari Wikipedia, pada hari tersebut, masyarakat Jawa meyakini akan diturunkannya 320.000 sumber penyakit dan mara bahaya serta...

0 Comments

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kategori

Arsip

Posting Populer