Oleh: H. Fadlil Said An Nadwi LC.
Israel artinya hamba Allah,sebuah nama Nabi Ya’kub bin Ishaq AS. Bani Israel berarti anak keturunan Ya’kub AS. Al Quran al Karim telah mem-bicarakan Bani Israel secara panjang lebar dan amat detail. Yang demikian ini menunjukkan bahwa Al Quran menaruh per-hatian besar mengungkap hakekat Yahudi atau Judaisme dan segala sifat buruk yang tersembunyi dalam jiwa mereka, yang suka berkhianat dan melakukan keru-sakan, agar orang-orang Islam waspada terhadap mereka.

Israel disebutkan dalam Al Quran sebanyak 43 kali. 6 kali dalam Surah Al Baqarah, ayat 40, 47, 83, 122, 211 dan 246. 2 kali dalam Surah Ali Imran, ayat 49, dan 93. 5 kali dalam Surah Al Maidah, ayat 12, 32, 70, 82, 78 dan 110. 4 kali dalam Surah Al A’raf, ayat 105, 134, 137 dan 138. 2 kali dalam Surah Yunus, ayat 90 dan 93. 4 kali dalam Surah Al Isra 2, 4, 101 dan 104. Sekali dalam Surah Maryam, ayat 58. 3 kali dalam Surah Thaha, ayat 47, 80 dan 94. 4 kali dalam Surah Asy Syu’ara, ayat 17, 22, 59 dan 197. Sekali dalam Surah As Sajdah, ayat 23. Sekali dalam Surah Ghafir, ayat 53. Sekali dalam Surah Az Zuhruf, ayat 59. Sekali dalam Surah Ad Dukhon, ayat 30. Sekali dalam Surah Al Jatsiyah, ayat 16. Sekali dalam Surah Al Ahqaf, ayat 10. dan 2 kali dalam Surah Al Shof, ayat 6 dan 14.

Orang-orang Yahudi secara sepihak membentuk sebuah negara di kawasan Timur Tengah yang masyarakat internasional menama-kan negara itu Israel, rakyatnya disebut Jewish dan gerakannya disebut Zionis. Orang Indonesia umumnya hanya mengenal Yahudi, baik dalam menyebut negara atau rakyatnya dan sedikit sekali yang mengerti tentang Zionis.

Kaum Yahudi-Israel memiliki sejarah yang panjang sejak ribuan tahun sebelum Masehi. Mereka terkenal kaum yang banyak pertanyaan, banyak tuntutan dan menentang para utusan Allah Subhanahu wata’ala, bahkan menganiaya dan membunuhnya. Mereka adalah kaum terkutuk,seperti disebutkan dalam Al Quran surah Al Maidah, ayat 78.

“Telah dilaknati orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Daud dan Isa putera Maryam. Yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas.” (QS. Al Maidah;78)

Allah Subhanahu wata’ala juga berfirman: “Lalu ditimpakanlah kepada mereka nista dan kehinaan, serta mereka mendapat kemurkaan dari Allah. Hal itu (terjadi) karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi yang memang tidak dibenarkan. Demikian itu (terjadi) karena mereka selalu berbuat durhaka dan melampaui batas”. (QS. Al Baqarah;61) Karena perbuatan dan sifatnya, mereka tiada pernah merasakan ketenangan dan harus mengha-dapi berbagai perlawanan sejak dahulu sampai sekarang dan sampai Hari Akhir nanti. Mereka pernah diperbudak oleh Fir’aun, lalu diselamatkan oleh Allah Subha-nahu wata’ala melalui Nabi Musa Alaihis Salam dan menetap di tanah Kan’an (Palestina sekarang). Setelah Nabi Musa Alaihis Salam meninggal, mereka berbuat berbagai kemungkaran, kerusakan dan pembunuhan, maka mereka mengalami bencana penindasan Bangsa Babilonia yang berhasil merampas daerah mereka pada tahun 586 SM. dalam sebuah serangan yang dipimpin Nebu-kadnezar (Bukhtunsur). Dalam serbuan ini kurang lebih 70 ribu orang Bani Israel terbunuh dan sisanya dibawa ke Babilonia untuk diperbudak. Sesudah itu penguasa Macedonia, Syekh Iskandar Agung menguasahi Palestina, tepatnya tahun 320 SM.

Namun pada tahun 164 SM. Judas Makale dapat mencuri kekuasaan di Palestina, tetapi tidak lama kemudian Panglima tentara Roma bernama Pompeius merebut Palestina. Ketika Bangsa Romawi berkuasa inilah Isa Al Masih AS. lahir kemudian menjalankan misi risalahnya dengan mendapat sokongan penguasa Romawi. Kaum Yahudi memusuhi Nabi Isa dan berusaha membunuhnya dan membuat kegaduhan di kota serta melakukan pemberontakan. Akhirnya pada tahun 70 M. pasukan Romawi yang dipimpin Titus yang kemudian menjadi kaisar ini berhasil menumpas orang-orang Yahudi dan ribuan orang-orang dari mereka ter-bunuh.

Ketika Anderianus menduduki tahta kerajaan Romawi tahun 117-138 M. sisa-sisa orang-orang Yahudi melakukan gerakan revolusi di kota Baitul Maqdis tapi berhasil ditumpas. Mereka banyak yang dibunuh dan sisanya diusir, tidak diperkenankan kembali ke Palestina. Tempat-tempat mereka dihancurkan tanpa bekas. Mereka yang berhasil menyelamatkan diri dari kejaran Anderianus mengem-bara ke berbagai penjuru dunia, ada yang pergi ke Rusia, Hung-garia, Inggris, Italia, Perancis, Jerman, Amerika, India dan lain-lain. Umumnya mereka tidak disukai warga setempat, karena mereka suka memeras, kikir dan suka merusak ketenangan warga setempat. Namun meski demikian, jumlah mereka makin bertambah dan mereka tetap memper-tahankan identitas Yahudinya serta meyakini Palestina sebagai tanah airnya. Mereka selalu berusaha keras mencari upaya agar dapat kembali ke Palestina.

Pada tahun 1897, Theodore Herzl, penulis buku Jewish State menyelenggarakan sebuah kon-ferensi yang membahas penting-nya orang-orang Yahudi mengu-asahi dunia dengan langkah pertama mendirikan negara di Palestina. Pada tahun 1902, Theodore Herzl dan Dr. Chaim Weizman melobi Sultan Turki Utsmani Abdul Hamid II agar memberi izin orang-orang Yahudi kembali ke Palestina, namun usaha itu ditolak mentah-mentah oleh Sultan, sebab beliau tidak ingin mencelakakan bangsa Arab di Palestina.

Tokoh-tokoh Yahudi sebelum perang dunia I (1914-1918) senan-tiasa melakukan lobi kepada para pemimpin negara-negara kuat, seperti Uni Sovyet, Inggris, Perancis dan Italia, yang dalam sejarah disebut tentara sekutu Inggris yang melawan Jerman, Turki dan sekutunya. Pada 2 Nopember 1917, menteri luar negeri Inggris, J. Arthur Balfour, menulis surat atas nama Ratu Inggris kepada tokoh Yahudi di London bernama Rothschild yang isinya mendukung cita-cita untuk mendirikan suatu negara di Palestina untuk orang-orang Yahudi. Bangsa Rusia, Perancis dan Italia menyetujui pernyataan perjanjian tersebut. Orang-orang Yahudi pun sepakat membantu tentara sekutu menggempur Jerman dan Turki serta mengu-sirnya dari Palestina. Sebelum negara-negara Arab dilobi, kerajaan Inggris terlebih dahulu melobi Lord Kiehener, dan khususnya kepada Syarif Husain di Hejaz agar bersikap netral. Arthur Mac. memohon atas nama kerajaan Inggris, dalam korespon-densinya dengan Syarif Husain ia memberi janji kemerdekaan untuk orang-orang Arab yang meme-rangi Turki. Pada tahun 1916 datanglah Lawrence ke Arab untuk berjuang bersama Amin Faishol melawan Turki.

Sebelum berlangsungnya perjanjian Arthur Mac. dengan Syarif Husain, sebenarnya negara-negara sekutu telah berencana membagi-bagi negara Islam. Czar Nicolas dari Rusia berkata kepada duta Perancis, Maurice Paleologue tentang keinginannya mengusahi Kostantinopel. Sir George Bucha-nan, duta Inggris di Rusia berjanji akan memberikan Kostantinopel dan Persia kepada Rusia usai perang. Italia dijanjikan Inggris dan Perancis beberapa wilayah kecil di Asia dan Afrika. Pada tahun 1916 Sir Mark Sykes dari Inggris dan M. George Picot dari Perancis melakukan kesepakatan untuk membagi wilayah kekua-saan Turki pasca perang. Inggris mendapatkan Mesopotania Sel-atan, Baghdad yang meliputi pelabuhan Haifa dan Yafa. Sedangkan Perancis mendapatkan Adama, daerah Anatalia Selatan sampai Eufrat dan seluruh pantai Syiria dan Lebanon. Rusia mendapatkan bagian Asia kecil sebelah timur. Adapun Palestina dijadikan daerah peng-awasan internasional yang harus diurus untuk diberikan kepada orang-orang Yahudi nantinya yang turut membantu tentara sekutu.
Tentara sekutu mengerahkan serangan besar kepada tentara Turki. Tercatat 200 ribu tentara Inggris, Australia dan New Zaeland, dan 7 ribu tentara Perancis. Selain itu juga terdapat empat batalyon Legeon Yahudi di bawah pimpinan seorang ber-kebangsaan Inggris, Petterson dan tentara muslim di bawah pim-pinan Lawrence dan Amir Faisal. Sebagai-mana bunyi dalam per-janjian dengan Syarif Husain, Mac. memohon seluruh pasukan sekutu tersebut di bawah komando Jenderal Allenbey.

Setelah Turki nyata-nyata kalah dan daerah kekuasaannya dikap-ling tentara sekutu, termasuk Palestina (1918), terjadilah perpin-dahan besar-besaran orang-orang Yahudi dari berbagai negara ke Palestina. Arus imigrasi ini tidak dapat dicegah Inggris, karena Inggris terikat dengan Balvour Declaration yang memberi pelu-ang berdirinya Jewish State.

Tentu saja masyarakat Arab Palestina memprotes keras isi Balvour Declaration dan arus kedatangan orang-orang Yahudi di Palestina. Pertentangan antara kedua belah pihak tidak bisa diselesaikan. Orang-orang Yahudi semakin beringas dan terus me-nindas rakyat Palestina. Sementara Inggris seolah menutup mata atas semua peristiwa kekejaman ini. Sesuai dengan rencana semula, Inggris akhirnya menyerahkan persoalan ini kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dengan alasan status Yerussalem sebagai kota suci Islam, Kristen dan Yahudi.

Pada tahun 1947 sidang umum PBB mengusulkan agar Yerus-salem dan daerah sekitarnya di bawah suatu pemerintahan internasional di bawah PBB. Namun usulan itu ditolak oleh kedua belah pihak, baik pihak Palestina dan pihak Yahudi. Palestina menolak karena daerah itu adalah miliknya, sedangkan Yahudi menolak karena mereka merasa rencananya menjadi ter-hambat. Kemudian secara sepihak pada tanggal 14 Mei 1948 Yahudi zionis memproklamirkan berdiri-nya negara Israel. Tindakan sepihak Yahudi ini mendapat kecaman dunia internasional terutama negara-negara Arab, namun negara Israel tetap saja berdiri karena mendapatkan dukungan dari Amerika dan Inggris.

Bercokolnya
Zionis Yahudi di Palestina membuat kawasan negara-negara Arab Timur Tengah tidak pernah damai dan tidak pernah sepi dari pertikaian dan peperangan. Bangsa terkutuk ini tidak pernah berhenti menghasud dan membunuh sejak dahulu kala hingga Hari Kiamat. Ummat Islam harus gigih berjuang melawan Israel dengan merapatkan persa-tuan menghadapi gerakan-gerakannya. Yakinilah bahwa kemenangan bakal diraih ummat Islam. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman: “Dan Kami selalu berkewajiban menolong orang-orang yang beriman.” (QS. Ar Rum; 47)

*Penulis adalah ustadz dan alumni PP. Langitan dan alumni Univ. Annadwi Pakistan