Taushiyah Kebangsaan KH. Abdullah Habib Faqih

Penulis : admin

August 20, 2022

KH. Abdullah Habib Faqih, menyampaikan Taushiyah di acara Gebyar Shalawat Kemerdekaan Langitan

Sudah 77 tahun Indonesia merdeka dari penjajahan Belanda. Selama 350 tahun Indonesia dijajah oleh Belanda dan tiga tahun setengah dijajah oleh Jepang. Menurut data penjajahan dunia, Indonesia dalam bentuk negara sudah merdeka. Seluruh dunia sudah mengakui kemerdekaan Negara Republik Indonesia, tetapi apakah kita sudah benar-benar merdeka? Ataukah belum merdeka? Atau masih dijajah oleh penjajah lainnya? 

Hadirin, Indonesia adalah negerinya orang-orang yang mendapatkan kemerdekaannya dengan perjuangan bambu runcing dan pekikan takbir. Sementara negeri-negeri lain mendapatkan kemerdekaannya dari para penjajah. Indonesia mendapatkan kemerdekaannya dengan bambu runcing, darah para syuhada’, pahlawan, rakyat, ulama, para kiai, para santri dan pekikkan kalimat Allahu Akbar… 

Sekarang, haruskah kalimat takbir digunakan untuk memporak porandakan negara? Haruskah takbir digunakan untuk memecah belah bangsa, untuk menghasut persatuan dan kesatuan, untuk merongrong keutuhan NKRI dan kemajemukan Bhinneka Tunggal Ika

Hadirin, merdeka menurut agama adalah merdeka dari selain Allah SWT. Kita setiap hari dididik untuk selalu melafalkan, mengumandangkan, meresapi dan selalu mewiridkan kalimat Thoyibah Laa Ilaaha Illallah, tiada tuhan selain Allah. Tidak ada yang mampu memerintah kecuali Allah, tidak ada yang bisa mendominasi kecuali Allah. 

Merdeka adalah orang yang tidak didominasi oleh selain Allah SWT. Tidak ada tuhan selain Allah. Inilah kemerdekaan sesungguhnya menurut agama. Kalau ada hal yang lain selain Allah yang mendominasi kita, apapun itu yang membuat kita selalu ingat, yang membuat kita selalu ingin dekat, yang membuat kita ingin selalu mencintainya, yang kita merasa mulia dengannya, yang membuat kita merasa hina tanpanya, yang kita siap berkorban demi namanya. 

Siapa maksudnya’nya itu? Kalau nya’-nya adalah Allah, maka kita menjadi orang yang merdeka. Tapi kalau ’nya’-nya itu selain Allah, berarti kita masih menjadi orang yang dijajah oleh selain Allah. Oleh karena  itulah yang harus bisa yang memerintah kita hanyalah Allah.

Kita harus mengisi kemerdekaan yang dipersembahkan oleh para ulama, oleh para pejuang, pahlawan kita, para kiai, ulama, santri dengan hal-hal yang membuat ridho Allah SWT. Harus kita isi dengan ‘akhlakul karimah’. 

Jati diri sebuah bangsa terletak pada akhlak anak bangsanya. Jika akhlak itu hilang dari anak bangsanya, maka berarti sudah lenyaplah jati diri bangsa tersebut. Oleh karena itu, jagalah akhlak bangsa! karakter bangsa! karakter bangsa ini adalah ajaran islam ahlussunnah wal jamaah yang diwariskan oleh para ulama, para kiai, para sholihin yang telah memperjuangkan Republik Indonesia ini. Mari kita setia pada negeri kita ini! Mari kita setia berkorban untuk negeri ini dengan mengisi negeri ini  dengan hal-hal yang membuat bangga para pejuang, pahlawan-pahlawan, kita setia kepada negeri ini, mari bersama-sama kita melagukan lagu padamu negeri.

Memperingati hari kemerdekaan Indonesia adalah sangat penting. Dengan kemerdekaan, kita bisa merasakan belajar dengan tenang, bisa mondok dengan tenang, bisa beraktivitas dengan tenang. Andai saja tidak ada kemerdekaan, maka kita akan mengalami kesengsaraan. Coba lihat negara-negara lain yang masih belum merdeka! Mereka merasa tidak tenang sepanjang malam, sepanjang siang. Kita alhamdulillah, dianugerahi oleh Allah SWT kemerdekaan. Maka kemerdekaan adalah hal yang penting dan memperingatinya pun adalah hal yang penting. 

Jangan alergi dengan Agustusan! jangan alergi dengan hari ulang tahun kemerdekaan. Karena dengan memperingati hari kemerdekaan berarti kita menghormati para syuhada, para pejuang, para pahlawan.

Kalau kita tidak mempunyai kepedulian dengan hari kemerdekaan, berarti sama halnya dengan kita tidak menghargai dan meremehkan para pejuang. Padahal, mereka telah mempersembahkan sesuatu yang sangat berharga bagi kita semua. Mereka telah mengorbankan jiwa raganya. Kita wajib cinta tanah air. Tanamkan patriotisme kalian dalam sanubari kalian untuk mencintai negeri ini! Negeri kalian ini adalah negeri yang tidak sama dengan negeri-negeri yang lain. Mereka mengatakan: “Indonesia adalah secuil surga”. Lihat! di negara-negara Islam mereka tidak sebebas di negara Indonesia. 

Di negara Saudi, meskipun kalian seorang yang pintar, orang yang hafal al-Qur’an tapi tidak mudah untuk mengadakan pengajian, mengadakan pertemuan-pertemuan pengajian, pendidikan, sekolahan atau pondok pesantren. Sementara di Indonesia sangat mudah sekali. Ilmu pas-pasan bisa mendirikan pondok pesantren, bahkan orang-orang yang baru hijrah, orang-orang yang baru memeluk Islam kemudian hijrah, orang-orang yang tidak kenal Islam sebelumnya, para artis-artis yang baru berapa tahun masuk Islam hijrah, mereka menggunakan jenggot dan celana cingkrang, mengkafir-kafirkan kita bebas saja.

Inilah negara Indonesia, negara yang damai, negara bebas yang mudah orang untuk membangun tempat peribadatan, membangun madrasah pendidikan. Negara yang mendapatkan kebebasan dalam segala hal yang terpantau dan terukur. Sebab, orang-orang luar negeri  ingin datang ke Indonesia, ingin datang ke Bali, Borobudur, Lombok, ingin melihat bentangan sawah lapang. Mereka rela mengeluarkan ratusan juta bahkan milyaran uang hanya ingin melihat ladang yang membentang. Sementara kita, kita sangat mudah sekali dan tidak membutuhkan uang banyak, cukup keluar membuka pintu dan membuka jendela disana sudah sawah membentang di sekitar kita. 

Inilah Indonesia, oleh karena itu kita harus mencintai republik ini. Hubbul wathon minal iman. dan kita harus berterima kasih pada syuhada, para pahlawan kita semua, para ulama, kiai. Oleh karena itu, marilah sejenak kita mengenang perjuangan para pahlawan kita, para syuhada kita, para ulama, kiai, para santri yang gugur untuk memperjuangkan kemerdekaan ini dengan membaca kalimat thayyibah dan membaca bacaan-bacaan dan kita hadiahkan pahalanya kepada mereka semua. 

Hadirin, mari kita ikuti, kita kibarkan bendera sang merah putih, dalam rangka mensyukuri nikmat Allah, nikmat kemerdekaan ini, dan kita hargai perjuangan para pejuang kita. Mari kita ikuti bersama pengibaran sang saka merah putih dengan penuh khidmat dan penuh penghayatan.

Karena kebanyakan para pejuang adalah para ulama dan para kiai, oleh karena itu banyak lagu-lagu kebangsaan dan kemerdekaan yang diilhami oleh lagu-lagu para kiai dan ulama. Salah satunya adalah lagu Garuda Pancasila. Kalau diperhatikan, disitu entah itu kebetulan, entah itu dikonsultasikan dengan para ulama ahli ‘arudl (ilmu syair Arab), disitu menggunakan pola syair bahar romal tam mudroj bil qoshr ghoru musta’mal.

Garuda Pancasila (failatun failun # failatun failun)

Lagu tersebut banyak terilhami dengan bahar (wazan tertentu yang dijadikan pola dalam menggubah syair Arab), begitu juga dengan Sorak-sorak Bergembira tadi. Itu menandakan, bahwa memang kemerdekaan republik ini banyak diwarnai oleh para pejuang-pejuang kita, para ulama dan kiai. 

Oleh karena itulah, kalian sebagai santri penerus para ulama dan kiai harus mampu mempertahankan republik ini, harus menjaga keutuhan NKRI dan mencintai negeri ini. Karena itu adalah perintah dari Allah. Pengabdian kita kepada negeri ini karena memang perintah dari agama. Dan pengabdian kita pada negeri ini tentu di bawah pengabdian kita kepada Allah SWT. Jadi, kecintaan kita kepada negeri ini adalah perintah dari Rasulullah SAW, hubbul wathon minal iman. Mari kita bersama-sama sekali lagi mengenang kembali perjuangan para pejuang kita. Kita harus selalu mengisi kemerdekaan ini dengan hal-hal yang membanggakan mereka semua.

Saya tekankan kembali, bahwa inti daripada memperingati hari kemerdekaan adalah kalian harus kembali pada ajaran ulama, para kiai, memperdalam ilmu, mewarisi ilmu para ulama, para kiai. Karena peristiwa kemerdekaan ini menyiratkan dan mengisyaratkan satu pesan yang tak terbaca dan tak tertulis. 

Kalau kita cermati dengan seksama, peristiwa kemerdekaan terjadi pada bulan Ramadhan, diproklamirkan kemerdekaan Indonesia dipilih pada hari Jumat tanggal 17, salah satu alasannya, kata bapak Soekarno, karena angka 17 adalah angka keramat, angka yang menyimpan makna dimana angka 17 adalah angka yang menyimpan rakaat shalat. Seakan-akan Allah SWT menyatakan kepada rakyat Indonesia, Wahai rakyat Indonesia, aku berikan kepadamu kemerdekaan pada tanggal 17, maka jagalah sholat yang sehari semalam jumlahnya 17 rakaat”. 

Allah memberikan kemerdekaan pada bulan Ramadhan, seakan-akan Allah berpesan, Allah mengatakan kepada kita,Wahai rakyat Indonesia, aku berikan kenikmatan besar kemerdekaan kepada kalian pada bulan Ramadhan, maka janganlah engkau lupa dan engkau sia-siakan, engkau abaikan bulan suci Ramadhan”.

Peristiwa kemerdekaan terjadi pada hari Jumat, seakan-akan memberikan pesan, Wahai rakyat Indonesia, kuberikan kemerdekaan pada hari Jumat, maka ingat-ingatlah dan jangan kau abaikan sholat Jumat,” hargai sholat Jum’at dan muliakan sholat jumat, begitulah kiranya. Dan semua itu adalah ajaran agama, dan mayoritas para pejuang-pejuang kita adalah orang sholeh, orang-orang yang berilmu, maka selayaknyalah para santri yang mewarisi ilmu mereka untuk mampu mengisi kemerdekaan ini dengan ilmu-ilmu yang telah mereka wariskan. 

Oleh karena itu para santri, terus bersemangat untuk menuntut ilmu agama, terus bersemangat untuk mencari ilmu agama, karena inilah ilmu-ilmu yang mereka wariskan kepada bangsa ini. jangan sampai terlena dan terprovokasi dengan slogan-slogan yang lain. Kita tetap teguh mempertahankan kemerdekaan, mengisi kemerdekaan ini dengan terus menuntut ilmu dengan bersungguh-sungguh dan menyebarluaskan ilmu ini kepada masyarakat, rakyat Indonesia dalam rangka mempertahankan dan mensyukuri kemerdekaan ini.

Dengan memperingati hari proklamasi atau hari kemerdekaan ini, mari kita isi kemerdekaan ini dengan betul-betul, bersungguh-sungguh mencari ilmu-ilmu yang telah mereka wariskan ini, sekaligus menyampaikan dan menyebarkan, serta membumikan di negara tercinta bumi pertiwi Indonesia ini.

Tulisan Terkait

Haul Ust. H. Saiful Barri ke-3

Haul Ust. H. Saiful Barri ke-3

Jumat, (30/9) pukul 19.00 WIB. DI selenggarakan Haul Ust. H. Saiful Barri ke-3. Beliau sendiri merupakan Menantu Almaghfurlah KH. Abdullah Faqih yang telah wafat pada tahun 2020 silam. Acara yang berlokasi di ndalem beliau itu dihadiri majlis Masyayikh, majlis A’wan,...

Jumat Bersih Pondok Pesantren Langitan

Jumat Bersih Pondok Pesantren Langitan

Salah satu hal yang menunjukkan bahwa Pon. Pes. Langitan sangat peduli akan kebersihan lingkungan adalah diadakannya roan umum setiap seminggu sekali. Kegiatan tersebut rutin diadakan setiap hari Jumat pagi. Setelah jamaah subuh, biasanya para santri langsung...

Roan Sebagai Pembekalan Santri

Roan Sebagai Pembekalan Santri

Menurut beberapa pendapat, roan diserap dari kata tabarukan, yang berarti ngalap berkah. Disingkat menjadi rukan, kemudian menjadi roan. Santri mana yang tidak tahu perihal roan? Kegiatan bersih-bersih di kawasan pesantren ini telah menjadi tradisi pakem bagi kalangan...

Tim Selokan, Wujud Langitan mendukung Gerakan Lingkungan Asri

Tim Selokan, Wujud Langitan mendukung Gerakan Lingkungan Asri

Pesantren merupakan jenjang pendidikan yang menggembleng santri dalam banyak sisi, ilmu agama, tata krama, interaksi sosial, dan yang tak kalah penting adalah kebersihan. Islam sangat menjunjung tinggi kebersihan dalam segala aspek kehidupan manusia. Begitu pula di...

Taman yang Asri Wujud Penghijauan Alami

Taman yang Asri Wujud Penghijauan Alami

  Bagi santri pondok pesantren Langitan, memiliki lingkungan yang asri merupakan upaya kepedulian yang nyata bagi kehidupan. Pasalnya setiap sesuatu yang terlihat asri, memungkinkan siapa saja yang melihat akan senang dan betah pada keasrian yang terjadi. Jika...

0 Comments

Submit a Comment

Your email address will not be published.

Komentar

Archives

Categories