Ust. H. Saiful Barri

Ust. H. Saiful Barri

Hampir kebanyakan orang pasti sudah pernah mendengarkan lantunan sholawat al-Muqtashidah. Namun tidak banyak yang mengenal siapakah sosok besar di balik terkenalnya sholawat Langitan? Beliau adalah Ust. H. Saiful Barri, salah satu menantu KH. Abdullah Faqih.

Beliau lahir di Kota Pekalongan, 04 September 1980 M.  Beliau memiliki badan yang tegap, gagah, parasnya penuh kewibawaan dan kharisma. Ditambah suaranya yang sangat merdu, dan cengkok suara yang khas nan indah.

Lahir di Pekalongan, membuat beliau tumbuh sebagai sosok yang religius. Kedua orang tua beliau juga merupakan seorang yang terpandang di kampungnya. Di kampung halamannya sendiri, Ust. Saiful Barri sudah dekat dan akrab sekali  dengan dunia sholawat. Tercatat beliau pernah masuk grup sholawat asuhan Ust. Umar Bunyamin, salah seorang tokoh yang mengenalkan maulid Simtud Durar di Pekalongan. Ust. Umar Bunyamin pulalah yang kemudian mengutus Ust. H. Saiful Barri untuk meneruskan pendidikan mondok di Langitan.

Berbekal keyakinan dan memegang teguh perintah sang guru, beliau pun berangkat  mondok di Langitan. Bahkan diceritakan ketika awal mondok beliau tidak membawa bekal sama sekali. Sekalipun kedua orang tuanya adalah salah seorang tokoh masyarakat. Selama mondok di Langitan beliau berdomisili di Ribath al-Maliki.

Selama menjadi santri, beliau terkenal sebagai sosok yang disiplin dalam mengaji dan sekolah. Beliau juga memiliki kelebihan lain yang sangat menonjol. Yakni suara emas yang dimilikinya. Dengan bekal suara indah tersebut, beliau menjadi salah satu personil An-Nabawiyah. Dalam setiap acara maulid di pondok beliau lah yang dipilih menjadi munsyidnya. Lewat suara itu pula beliau bisa menjadi salah satu orang dekat Syaikhina lantaran di setiap acara apapun. Baik itu shalawat, akad nikah atau acara apapun beliaulah yang menjadi ditugasi membaca sholawatnya.

Sosok Pecinta Sholawat

Kecintaan beliau yang sangat dalam terhadap shalawat membuat beliau selalu menghidupkan sholawat dimanapun beliau berada. Sebelum menikah hampir setiap satu bulan sekali beliau mengikuti majelis ahalawat di Pasuruan. Beliau jugalah yang berinisiatif mendirikan sebuah grup Shalawat bernama an-Nabawiyah yang sudah berhasil merilis satu album shalawat. —Pada waktu itu belum ada al-Muqtashidah, al-Muqtashidah sendiri adalah bentukan dari Mbah Yai Faqih yang berinisiatif untuk menyatukan grup sholawat di Langitan yang kala itu masih terbagi menjadi dua yakni an-Nabawiyah dan ar-Roudhoh.

Setelah dibentuknya al-Muqtashidah oleh Syaikhina KH. Abdullah Faqih, yang diamanati untuk mengembangkan adalah Ust. H. Saiful Barri. Lewat tangan dingin beliau, al-Muqtashidah sedikit demi sedikit berkembang menjadi grup sholawat yang sangat populer di kalangan masyarakat Indonesia.

Banyak sekali album yang berhasil dikeluarkan oleh al-Muqtashidah dibawah komando Ust. H. Saiful Barri. Mulai dari Royatul Hubbi, Burdah Selimut Serinduan hingga yang terakhir album Fi Hubbi. Semua album tersebut pun brerhasil mencuri perhatian atensi hampir mayoritas pecinta shalawat. Shalawat Langitan pun menjadi salah satu kiblat sholawat di Nusantara.

Bukti popularitas dan kesuksesan dakwah al-Muqtashidah juga sudah banyak kita saksikan sendiri. Contoh kecil adalah banyak diantara santri Langitan yang kenal dan ingin mondok di pondok Pesantren Langitan karena al-Muqtashidah. Itulah diantara sedikit dakwah beliau lewat sholawat, banyak hati yang berhasil digerakkan. Bukan hanya untuk sholawat, namun  juga mampu menggerakkan masyarakat untuk berangkat mondok menuju Pesantren Langitan.

Sosok yang Lemah Lembut

Menurut kesaksian para murid beliau di al-Muqtashidah. Ust. H. Saiful Bari merupakan sosok yang begitu lemah lembut. Tak pernah sekalipun beliau marah dan ghodzob. Beliau juga sangat telaten dalam membimbing dan mengarahkan personil al-Muqtashidah. Di setiap latihan mingguan beliau masih menyempatkan untuk mengawasi dan memberi motivasi. Maka tak heran, dari bimbingan beliau lahir vokalis-vokalis yang mumpuni di bidangnya. Sebut saja Muhaimin Ust. Mahrus Ali, vokalis Grup Sholawat Syauqul Habib Surabaya, Ust. Ma’shum Demak, Abdul Qodir Kuningan, Ust. Amrun, Ust. As’ad dan Ust. Mas’ud  yang masing-masing dari mereka rata-rata sudah menjadi duta sholawat di kediaman masing-masing.

Selain aktif mengisi majelis sholawat di langitan, beliau juga gencar menggalakkan maulid di daerah sekitar Langitan. Prinsip beliau dalam mendakwahkan shalawat adalah mengajak orang untuk bersholawat bukan mengharap orang untuk mendengarkan bersholawat. Sehingga beliau pun rela mengunjungi satu tempat ke tempat lain untuk mendakwahkan Shalawat. Mulai dari sekitar Widang, Babat hingga di Bojonegoro. Majelis Maulid tersebut terus rutin beliau adakan hingga kesehatan beliau tidak memungkinkan.

Shalawat Harus Khusyu’

Beliau sering berpesan kepada para santri bahwa dalam membaca shalawat harus dalam keadaan yang khusyu’ dan sanggup menata hati.

“Nek moco shalawat kudu nganggo ati” (Kalau membaca shalawat harus -dihayati- dengan hati) Begitu kira-kira salah satu pesan beliau.

Menurut kesaksian Ust. Majid salah satu tim al-Muqtashidah, dalam suatu majelis maulid di Widang,  Haji Latif pernah bercerita mengenai pengalaman sholawat bersama Ust. Saiful Barri.

Pada waktu itu, sekitar tahun 2004 Ust. H. Saiful Barri sedang membaca mahalul qiyam pada acara yang banyak dihadiri oleh kiai sepuh di Surabaya. Saking ta’dzim dan khusyuk suasana saat itu, banyak kiai sepuh yang menangis ketika mahallul qiyam dilantunkan.

Setelah mahallul qiyam, Haji Lathif dipanggil oleh salah seorang kiai sepuh.

“Iku mau sopo seng moco mahallul qiyam?” 

“Ust, Saiful Barri, menantu KH. Abdullah Faqih” Jawabnya

“Lanopo jenengan wau og mular yi?” (Kenapa, jenengan menangis tadi kiai?) Tanya Haji Lathif

Kiai tersebut menjawab, “Iyo, soale Saiful nee moco gak nuk lambe tok, tapi karo ati. Kanjeng Nabi mau rawuh”. (Iya, karena Ust. Saiful Barri kalau membaca tidak hanya dengan suara saja, tapi dengan (hadirnya) hati. Kanjeng Nabi pun rawuh)

Shalawat Sebelum Wafat

Tepat pada hari Minggu, 13 Oktober 2017, Pondok Pesantren Langitan kembali berduka atas wafatnya salah satu mutiaranya yang berharga. Ust. H. Saiful Barri,  salah satu menantu almaghfurlah KH. Abdullah Faqih. Beliau wafat di RS. Darmo Surabaya dan dimakamkan di pemakaman umum desa Mandungan Widang Tuban.

Dalam sambutan sebelum sholat jenazah dilakukan, KH. Abdullah Habib Faqih mengisahkan bahwa, saat di Rumah Sakit, Ust. H. Saiful Barri tidak bisa berkata dengan jelas. Kalimat terakhir yang beliau ucapkan adalah Sholawat.

Hingga KH. Abdullah Habib berinisiatif meminta untuk dibacakan Sholawat bil Qiyam sebelum mendirikan sholat jenazah. Lantunan shalawat pun dikumandangkan. Ribuan santri dan pentakziah, sontak tak kuasa menahan tangis haru, mengiringi kepergian sosok pejuang shalawat yang selalu dirindukan.