Ust. H. Saiful Barri; Sosok yang Membawa Shalawat Langitan kian Melangit

Penulis : admin

July 21, 2022

Ust. H. Saiful Barri

Ust. H. Saiful Barri

Hampir kebanyakan orang pasti sudah pernah mendengarkan lantunan sholawat al-Muqtashidah. Namun tidak banyak yang mengenal siapakah sosok besar di balik terkenalnya sholawat Langitan? Beliau adalah Ust. H. Saiful Barri, salah satu menantu KH. Abdullah Faqih.

Beliau lahir di Kota Pekalongan, 04 September 1980 M.  Beliau memiliki badan yang tegap, gagah, parasnya penuh kewibawaan dan kharisma. Ditambah suaranya yang sangat merdu, dan cengkok suara yang khas nan indah.

Lahir di Pekalongan, membuat beliau tumbuh sebagai sosok yang religius. Kedua orang tua beliau juga merupakan seorang yang terpandang di kampungnya. Di kampung halamannya sendiri, Ust. Saiful Barri sudah dekat dan akrab sekali  dengan dunia sholawat. Tercatat beliau pernah masuk grup sholawat asuhan Ust. Umar Bunyamin, salah seorang tokoh yang mengenalkan maulid Simtud Durar di Pekalongan. Ust. Umar Bunyamin pulalah yang kemudian mengutus Ust. H. Saiful Barri untuk meneruskan pendidikan mondok di Langitan.

Berbekal keyakinan dan memegang teguh perintah sang guru, beliau pun berangkat  mondok di Langitan. Bahkan diceritakan ketika awal mondok beliau tidak membawa bekal sama sekali. Sekalipun kedua orang tuanya adalah salah seorang tokoh masyarakat. Selama mondok di Langitan beliau berdomisili di Ribath al-Maliki.

Selama menjadi santri, beliau terkenal sebagai sosok yang disiplin dalam mengaji dan sekolah. Beliau juga memiliki kelebihan lain yang sangat menonjol. Yakni suara emas yang dimilikinya. Dengan bekal suara indah tersebut, beliau menjadi salah satu personil An-Nabawiyah. Dalam setiap acara maulid di pondok beliau lah yang dipilih menjadi munsyidnya. Lewat suara itu pula beliau bisa menjadi salah satu orang dekat Syaikhina lantaran di setiap acara apapun. Baik itu shalawat, akad nikah atau acara apapun beliaulah yang menjadi ditugasi membaca sholawatnya.

Sosok Pecinta Sholawat

Kecintaan beliau yang sangat dalam terhadap shalawat membuat beliau selalu menghidupkan sholawat dimanapun beliau berada. Sebelum menikah hampir setiap satu bulan sekali beliau mengikuti majelis ahalawat di Pasuruan. Beliau jugalah yang berinisiatif mendirikan sebuah grup Shalawat bernama an-Nabawiyah yang sudah berhasil merilis satu album shalawat. —Pada waktu itu belum ada al-Muqtashidah, al-Muqtashidah sendiri adalah bentukan dari Mbah Yai Faqih yang berinisiatif untuk menyatukan grup sholawat di Langitan yang kala itu masih terbagi menjadi dua yakni an-Nabawiyah dan ar-Roudhoh.

Setelah dibentuknya al-Muqtashidah oleh Syaikhina KH. Abdullah Faqih, yang diamanati untuk mengembangkan adalah Ust. H. Saiful Barri. Lewat tangan dingin beliau, al-Muqtashidah sedikit demi sedikit berkembang menjadi grup sholawat yang sangat populer di kalangan masyarakat Indonesia.

Banyak sekali album yang berhasil dikeluarkan oleh al-Muqtashidah dibawah komando Ust. H. Saiful Barri. Mulai dari Royatul Hubbi, Burdah Selimut Serinduan hingga yang terakhir album Fi Hubbi. Semua album tersebut pun brerhasil mencuri perhatian atensi hampir mayoritas pecinta shalawat. Shalawat Langitan pun menjadi salah satu kiblat sholawat di Nusantara.

Bukti popularitas dan kesuksesan dakwah al-Muqtashidah juga sudah banyak kita saksikan sendiri. Contoh kecil adalah banyak diantara santri Langitan yang kenal dan ingin mondok di pondok Pesantren Langitan karena al-Muqtashidah. Itulah diantara sedikit dakwah beliau lewat sholawat, banyak hati yang berhasil digerakkan. Bukan hanya untuk sholawat, namun  juga mampu menggerakkan masyarakat untuk berangkat mondok menuju Pesantren Langitan.

Sosok yang Lemah Lembut

Menurut kesaksian para murid beliau di al-Muqtashidah. Ust. H. Saiful Bari merupakan sosok yang begitu lemah lembut. Tak pernah sekalipun beliau marah dan ghodzob. Beliau juga sangat telaten dalam membimbing dan mengarahkan personil al-Muqtashidah. Di setiap latihan mingguan beliau masih menyempatkan untuk mengawasi dan memberi motivasi. Maka tak heran, dari bimbingan beliau lahir vokalis-vokalis yang mumpuni di bidangnya. Sebut saja Muhaimin Ust. Mahrus Ali, vokalis Grup Sholawat Syauqul Habib Surabaya, Ust. Ma’shum Demak, Abdul Qodir Kuningan, Ust. Amrun, Ust. As’ad dan Ust. Mas’ud  yang masing-masing dari mereka rata-rata sudah menjadi duta sholawat di kediaman masing-masing.

Selain aktif mengisi majelis sholawat di langitan, beliau juga gencar menggalakkan maulid di daerah sekitar Langitan. Prinsip beliau dalam mendakwahkan shalawat adalah mengajak orang untuk bersholawat bukan mengharap orang untuk mendengarkan bersholawat. Sehingga beliau pun rela mengunjungi satu tempat ke tempat lain untuk mendakwahkan Shalawat. Mulai dari sekitar Widang, Babat hingga di Bojonegoro. Majelis Maulid tersebut terus rutin beliau adakan hingga kesehatan beliau tidak memungkinkan.

Shalawat Harus Khusyu’

Beliau sering berpesan kepada para santri bahwa dalam membaca shalawat harus dalam keadaan yang khusyu’ dan sanggup menata hati.

“Nek moco shalawat kudu nganggo ati” (Kalau membaca shalawat harus -dihayati- dengan hati) Begitu kira-kira salah satu pesan beliau.

Menurut kesaksian Ust. Majid salah satu tim al-Muqtashidah, dalam suatu majelis maulid di Widang,  Haji Latif pernah bercerita mengenai pengalaman sholawat bersama Ust. Saiful Barri.

Pada waktu itu, sekitar tahun 2004 Ust. H. Saiful Barri sedang membaca mahalul qiyam pada acara yang banyak dihadiri oleh kiai sepuh di Surabaya. Saking ta’dzim dan khusyuk suasana saat itu, banyak kiai sepuh yang menangis ketika mahallul qiyam dilantunkan.

Setelah mahallul qiyam, Haji Lathif dipanggil oleh salah seorang kiai sepuh.

“Iku mau sopo seng moco mahallul qiyam?” 

“Ust, Saiful Barri, menantu KH. Abdullah Faqih” Jawabnya

“Lanopo jenengan wau og mular yi?” (Kenapa, jenengan menangis tadi kiai?) Tanya Haji Lathif

Kiai tersebut menjawab, “Iyo, soale Saiful nee moco gak nuk lambe tok, tapi karo ati. Kanjeng Nabi mau rawuh”. (Iya, karena Ust. Saiful Barri kalau membaca tidak hanya dengan suara saja, tapi dengan (hadirnya) hati. Kanjeng Nabi pun rawuh)

Shalawat Sebelum Wafat

Tepat pada hari Minggu, 13 Oktober 2019 M, Pondok Pesantren Langitan kembali berduka atas wafatnya salah satu mutiaranya yang berharga. Ust. H. Saiful Barri,  salah satu menantu almaghfurlah KH. Abdullah Faqih. Beliau wafat di RS. Darmo Surabaya dan dimakamkan di pemakaman umum desa Mandungan Widang Tuban.

Dalam sambutan sebelum sholat jenazah dilakukan, KH. Abdullah Habib Faqih mengisahkan bahwa, saat di Rumah Sakit, Ust. H. Saiful Barri tidak bisa berkata dengan jelas. Kalimat terakhir yang beliau ucapkan adalah Sholawat.

Hingga KH. Abdullah Habib berinisiatif meminta untuk dibacakan Sholawat bil Qiyam sebelum mendirikan sholat jenazah. Lantunan shalawat pun dikumandangkan. Ribuan santri dan pentakziah, sontak tak kuasa menahan tangis haru, mengiringi kepergian sosok pejuang shalawat yang selalu dirindukan.

Tulisan Terkait

Tips Menjaga Mata agar Tetap Sehat

Tips Menjaga Mata agar Tetap Sehat

Salah satu organ tubuh manusia yang paling penting adalah mata. Tanpa mata, banyak hal akan sulit dilakukan. Faktor penglihatan sangat penting dalam kehidupan, terutama dalam bidang pendidikan, sehingga kesehatan mata santri/pelajar adalah salah satu masalah kesehatan...

Hikmah Dilahirkannya Nabi Muhammad ﷺ

Hikmah Dilahirkannya Nabi Muhammad ﷺ

Khutbah 1 الْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلَى أُمُوْرِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ...

Masjid Agung Koln Jerman; Simbol Toleransi Kota

Masjid Agung Koln Jerman; Simbol Toleransi Kota

Islam, agama yang bermula dari semenanjung Arab kini telah merambah di berbagai belahan dunia, termasuk negara Jerman. Tepatnya pada abad ke-20, imigrasi besar-besaran orang  Turki ke Jerman terjadi. Terbaru, jumlah umat muslim di Jerman per 2024 diperkirakan mencapai...

Menasihati dengan Toxic, Bolehkah?

Menasihati dengan Toxic, Bolehkah?

Terkadang ada sebagian orang memberi nasihat dengan caranya yang kasar, entah itu  memaki atau mencela yang kerap kali membuat orang yang dinasihati merasa tersinggung. Hal ini biasanya dipengaruhi oleh situasi dan kondisi penasihat, seperti kurangnya respons positif,...

Uzlah atau Bersosial? Membaca Dalil dan Konteksnya

Uzlah atau Bersosial? Membaca Dalil dan Konteksnya

Pertanyaan tentang apakah lebih baik menyendiri (uzlah) atau bersosial sering kali menjadi perdebatan hangat dalam diskusi agama dan moral. Di satu sisi, uzlah dianggap sebagai cara menjaga diri dari pengaruh buruk dunia luar. Di sisi lain, bersosial menawarkan...

Masjid An-Nahdla Bojonegoro; Perpaduan Andalusia dan Jawa

Masjid An-Nahdla Bojonegoro; Perpaduan Andalusia dan Jawa

Bojonegoro, sebuah kabupaten di Jawa Timur, menyimpan kisah panjang yang kaya akan warna sejarah dan budaya. Wilayah ini telah melalui berbagai masa kejayaan kerajaan besar di Nusantara, mulai dari pengaruh Hindu yang datang dari India, hingga perubahan ke budaya...

Cinta, Pengorbanan, dan Keteguhan Iman Abu Bakar

Cinta, Pengorbanan, dan Keteguhan Iman Abu Bakar

Di antara sekian banyak manusia yang pernah berjalan di muka bumi, ada orang-orang yang namanya dikenang bukan karena kekuasaan, kekayaan, atau kemenangan yang mereka raih. Mereka dikenang karena ketulusan cinta yang mereka persembahkan kepada kebenaran. Salah satu di...

Para Pecinta Buku dan Buku yang Dicintai

Para Pecinta Buku dan Buku yang Dicintai

Dalam perjalanan membangun peradaban yang luhur dan mulia, baik sosok yang tergila-gila pada buku maupun buku yang menjadi objek kegilaan memegang peran penting. Oleh karena itu, sepatutnya manusia yang berbudaya memberikan penghargaan setinggi-tingginya kepada para...

0 Comments

Kategori

Arsip

Posting Populer