hataman tafsir jalalain (Rabu,04 Desember 2013). Setelah jama’ah Isya’ dibacakan khataman kitab Tafsir Jalalain di mushola agung Pondok Pesantren Langitan. Kitab tersebut dibacakankan oleh beliau KH. Abdullah Habib Faqih yang dulunya di buka oleh beliau almarhum KH. Abdullah Faqih Rohimahullah dengan selisih waktu sekitar 4 tahun 37 hari. Pengajian ini diikuti oleh seluruh santri Aliyah dan santri musyawirin.

Khataman kali ini di pungkasi dengan empat surat, yaitu :

Surat al-Ikhlas, menerangkan tentang keesaan Allah. Surat ini diturunkan ketika Nabi bertanya kepada Allah perihal ketuhanan. Hal ini disebabkan orang kafir yang bertanya kepada Nabi tentang bagaimanakah Tuhan. Maka turunlah surat al-Ikhlas, yang berisi tentang keesaan Allah Swt. sebagai Dzat tempat meminta, tidak melahirkan ataupun dilahirkan sebab tidak adanya yang sama denganNya, dan takkan ada yang menyamainya.

Surat an-Nash, menerangkan tentang asbabunnuzul-nya yaitu ketika Nabi Muhammad Saw. disihir oleh salah seorang yahudi yang bernama Lubaid. Kemudian Allah Swt. memberitahu beliau dengan mengutus 2 malaikat ketika beliau sakit. Malaikat tersebut saling berbincang tentang keadaan Nabi. maka Nabi mendengarkan perkataan mereka bahwa beliau disihir oleh seorang yahudi dengan perkara yang diikat di busur panah. Ada yang mengatakan bahwa di sana terdapat 10 ikat yang ada bekas sisir Nabi dan reruntuhan rambut beliau dan ada yang mengatakan di dalamnya terdapat gambar Nabi yang ditusuk dengan jarum atau sebagainya. Malaikat tersebut juga memberitahukan tempat diletakkanya sihir tersebut. Akhirnya Nabi memerintahkan sahabat ‘Ali, Zubair dan Ammar untuk menguras sumur tersebut. Ditemukanlah sihir tersebut setelah mengangkat batu yang menindihnya. Kemudian Nabi diperintah untuk membaca Ta’awwudz (mu’awidatain) sebaigai lantaran meminta perlindungan. Hal ini juga sebagai contoh agar ditiru oleh umat beliau. Ketika Nabi membaca surat tersebut, maka lepaslah satu ikatan. Kemudian Nabi membacanya lagi hingga lepaslah semuanya. Kemudian Nabi bangun dengan semangat sebagaimana orang yang lepas dari ikatan.

Surat al-Falaq, menerangkan tentang meminta perlindungan kepada Allah Swt. kepada segala hal. Baik jin, manusia, sihir ataupun benda mati. Meminta perlindungan ketika datangnya malam. Sayyidah ‘Aisyah pun pernah diajak nabi untuk keluar dan diperintah untuk meminta perlindungan ketika bulan sudah tenggelam, gerhana atau tenggelam di hari kiamat.

Anjuran Nabi ketika akan tidur untuk membaca surat an-Nash dan al-Falak 3 kali kemudian membaca ayat kursi ditambah dengan surat al-Fatihah, untuk meminta kepada Allah dari segala gangguan.

Terakhir adalah surat al-Fatihah. Menerangkan tentang meminta rahmat, merajainya Allah Swt. akan hari kiamat, hanya kepada Allah tempat meminta dan pertolongan untuk ibadah ataupun lainnya. juga meminta petunjuk akan jalan yang lurus (melanggengkan petunjuk sampai mati atau meminta petunjuk akan yang belum diperoleh) sebagaimana yang telah diperoleh oleh orang beruntung.

Kitab yang dibaca oleh beliau tersebut adalah kitab dari KH. Muhammad Khozin ( pengasuh pondok pesantren langitan ke 3). Sanad tafsirnya adalah dari KH. Abdullah Faqih, yang mana  sanadnya beliau dapat dari beberapa jalur. Sebagian dari jalur sanad beliau adalah : KH. Abdul Hadi, KH. Ma’shum, Syekh Yasin al-Fadani dan Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki.

hataman tafsir jalalain

Pengajian kitab Tafsir Jalalain akan dibuka kembali setelah Haul KH. Abdul Hadi Zahid ke 43 (Rabu, 18 Desember 2013).

Sekilas tentang kitab tafsir jalalain

Kitab tafsir Jalalain merupakan kitab yang dikarang oleh dua mushonif (pengarang). Dinamakan dengan tafsir Jalalain karena kitab tafsir ini dikarang oleh dua jalaluddin, yaitu Syekh Jalaluddin al-Mahalli dan Syekh Jalaluddin as-Suyuti. Syekh Jalaluddin al-Mahalli dilahirkan tahun 796 H. Di Mahalla al-Kubra, dan wafat tahun 835 H. Beliau menafsiri al-Quran mulai surat al-Kahfi sampai an –Nisa’, setelah itu menafsiri surat al-Fatihah. beliau wafat sebelum melanjutkannya dan diteruskan oleh murid beliau Syekh Jalaluddin as-Suyuti mulai surat al-Baqoroh sampai surat al-Isro’. Syekh Jalaluddin as-Suyuti sendiri lahir pada tahun 849 H. dan wafat pada tahun 911 H.