Jl. Raya widang Tuban PO BOX 02 Babat 62271 Telp/Fax.0322-451156 SMS center : 085235688999. langitan [at]langitan[ dot] net
TANDA CINTA UNTUK ORANG TERCINTA

TANDA CINTA UNTUK ORANG TERCINTA

Oleh : KH. Abdullah Habib Faqih Pernahkah kamu membayangkan hidup tanpa didampingi bapak dan ibu? Saat itu tidak ada tempat mengadu, mengeluh, merengek, memohon belas kasih, tidak ada yang dimintai tolong dan juga dimintai uang. Itulah duka laranya. Tapi sekarang, kanapa saat kamu masih didampingi oleh orang tua, justru kadang-kadang ada saja masalah yang kamu keluhkan. Yang pendapatnya orang tua tidak oke, atau sarannya tidak nyambung, yang orang tua tidak pengertian, yang suka mengatur, dan lain sebagainya. Intinya menandakan kalau hubunganmu sama mereka itu kurang baik. Sebagai seorang santri, kamu harus selalu menjaga komunikasimu dengan orang tua, agar senantiasa harmonis dan selalu kondusif. Bagaimana tidak? Lah Allah SWT telah menitipkan bahan cikal bakal kejadianmu pertama kali pada tulang rusuk bapakmu, lalu menitipkan janinmu pada rahim ibumu. Yang kemudian, kamu dipeliharanya selama sembilan bulan untuk selanjutnya dilahirkan ke dunia. Dan waktu terus berjalan, sementara kamu masih terus dalam asuhan orang tuamu hingga pada saat ini. Itulah kasih sayang orang tuamu yang abadi sepanjang masa. Pernahkah ada orang tua yang begitu membenci anaknya? Kalaupun ada, pastilah dia sedang dirasuki setan. Kasih sayang orang tuamu hanya tercurahkan padamu. Mereka senantiasa memberikan yang terbaik untukmu, semua dilakukan tanpa pamrih, basa-basi dan mengharap imbalan sedikitpun. Hubungan kamu dengan orang tuamu bukan cuma sebatas hubungan darah dan keturunan, tapi juga hubungan hati, emosi dan segenap perasaan. Oleh karena itu, Allah senantiasa mengingatkanmu untuk selalu menjaga hak orang tuamu. Allah juga memerintahkanmu untuk selalu cinta dan menghormati mereka, dengan cara berbuat baik dan sopan santun, berbakti dan berkorban demi mereka, serta menjunjung tinggi nama baiknya. Bahkan di dalam Alquran perintah patuh kepada orang tua diletakkan sesudah...

Bertabur Berkah Di Malam 100 Hari Mbah Kyai

Langitan(10/06/12), berbagai elemen masyarakat berduyun-duyun datang menuju pondok pesantren Langitan guna memperingati 100 hari wafatnya Syaikhina KH. Abdulloh Faqih. Dalam acara yang mengusung tema “Berkah Ilahi di Majlis 100 Hari” itu pun dihadiri para ulama’ tanah air, pejabat pemerintah dan juga para santri, alumni serta masyarakat umum yang mereka semua sangat mencintai Syaikhina. Peringatan 100 hari itu hari sebelumnya telah dibuka dengan Khotmil qur’an baik bil ghoib atau binnadzor yang diletakkan di beberapa titik di lokasi pesantren serta ndalem para putra syaikhina. Acara tersebut dibuka dengan khotmil Qur’an yang dipimpin langsung oleh KH. Munawir Munajat dari Salatiga, kemudian dilanjut tahlil dipimpin Habib Hasan bin Muhammad bin Idrus Assegaf  dari Pasuruan, dirangkai Mauidzoh dari KH. Soleh Qosim, Sidoarjo, KH. Solahuddin Wahid, Jombang, Habib Zidan bin Nauval bin Salim bin Zidan dari Jakarta. setelah itu dilanjutkan sambutan dari wakil gubernur Jawa Timur, Drs. Syaifullah Yusuf atau yang lebih akrab disapa Gus Ipul, dan ditutup do’a yang dipimpim KH. Soleh Qosim. Acara tersebut berlanjut dengan penuh khidmat, harapan besar dengan peringatan 100 hari Syaikhina, selain agar menambah kecintaan kita terhadap beliau, juga akan mengalir berkah yang dapat diraih oleh umat....

Pernik-Pernik Cinta-Mu

Aku tidak tahu kenapa orang tuaku setuju saja ketika aku dijodohkan dengan Firman, siapa yang tidak tahu dia? Berandalan yang sering mabuk-mabukan dan bermain wanita. Tapi kenapa kedua orang tuaku seakan sama sekali tidak tahu menahu dengan latar belakang seorang yang sangat aku benci yang kini menjadi tunanganku itu? Aku tidak bisa berbuat apa-apa, adat Jawa yang tidak memperbolehkan perawan untuk menolak lamaran yang pertama dan kehendak orang tua yang tidak bisa ditolerir lagi, membuat aku tidak bisa menolak lamaran orang yang sama sekali tidak aku senangi. Bahkan, aku sangat muak padanya. “Ya Allah! mampukah aku berjalan dengan orang yang telah meminangku dan mengajakku beribadah kepadaMu dengan tanpa cinta?” Tiap malam aku hanya bisa merintih perih atas semua yang terjadi padaku. Biar bagaimanapun rapuh dan buntunya pikiranku saat itu, tidak lantas membuatku putus asa dengan rahmatNya. Hanya Allah-lah tempat aku mengadu dari segala himpitan masalah yang kini aku hadapi. “Ya Allah! takdirkanlah pendampingku nanti dari orang-orang yang melakukan semua perintah-perintahMu, dan menjauhi semua laranganMu. Amin…” Tidak putus-putus aku bermunajat kepadaNya. Tiap malam, hanya Dia tempatku berserah diri, mengaduh, dan mengeluh dengan ketidakmampuanku dalam melangkah. “Kenapa kamu tidak menolak saja lamaran itu?” “Aku tidak bisa membantah keputusan keluargaku, Lia.” “Tapi, sekarang bukan zamannya lagi.” “Biarlah, doakan saja aku tersenyum melewati semua ini,” aku memotong kata-kata teman kecilku itu. Memang sekarang sudah tidak zamannya lagi pemaksaan dalam perjodohan. Tapi aku hanya orang desa yang tidak bisa berbuat apa-apa. Pada saat itu, berbakti dan patuh pada orang tua adalah hal yang paling utama dalam hidupku. @@@@@ Kehidupanku sudah tidak bergairah, sepanjang malamku hanya diisi dengan tangisan. Pertunangan ini sangatlah tidak gampang aku...

Pin It on Pinterest