Jl. Raya widang Tuban PO BOX 02 Babat 62271 Telp/Fax.0322-451156 SMS center : 085235688999. langitan [at]langitan[ dot] net

Langitan tanpa rokok

Republika
28 Februari 2003

dilarang-merokokTANPA gembar-gembor dan publikasi, Pondok Pesantren Langitan Tuban Jawa Timur bebas dari rokok. Dan, itu ternyata sudah berlangsung sejak enam tahun yang lalu. Larangan mengkonsumsi rokoh tersebut berlaku utuk umum. Para santri, ustadz serta pengasuh seluruhnya tidak diperbolehkan merokok di lingkungan pesantren. Pesantren benar-benar bebas dari bau asap rokok. Kondisi ini membuat kagum mantan Menteri Agama Tarmizi Taher yang akhir pekan lalu berkunjung ke pesantren yang telah berusia lebih dari 150 tahun ini.

”Saya baru saja mendengar keterangan dari pimpinan pondok pesantren Langitan KH Abdullah Faqih bahwa pesantren ini bebas rokok. Ini benar-benar sebuah berita besar dan insya Allah akan saya sampaikan kepada teman-teman saya di Jakarta termasuk kepada pejabat WHO. Mudah-mudahan mereka akan berkunjung ke pesantren ini,” tandas Tarmizi
bangga.

Yang menarik, pengaruh larangan merokok tidak hanya terjadi di sekitar pesantren yang kini dihuni tak kurang dari 5500 santri dari berbagai daerah di tanah air, tapi juga lingkungan sekitar pondok pun ikut-ikutan untuk tidak mengkonsumsi rokok. Salah satu bukti ketika Republika yang ikut rombongan dengan Tarmizi Taher makan siang di warung nasi Mira, yang jaraknya sekitar 1 km dari pesantren. Di atas meja kasir warung itu besar-besar tertulis pengumuman ‘Tidak Menjual Rokok!’

Menurut Miftahul Munir, salah seorang ustadz di pesantren Langitan, yang mendasari adanya kebijakan melarang mengkonsumsi rokok tersebut, karena dilihat para santri sudah ‘tabdzir’ dan berlebihan dengan mengkonsumsi rokok, padahal mereka tidak memiliki kerja dan pendapatan kecuali uang dari para orang tua. Uang yang seharusnya digunakan untuk biaya nyanti, sering digunakan untuk membeli rokok. Akhirnya dikeluarkanlah kebijakan
tersebut.

Ia mengungkapkan, kebijakan larangan merokok tersebut secara tadriji (bertahap, red). ”Mula-mula larangan merokok itu hanya berlaku untuk para santri di bawah usia 18 tahun. Setelah berhasil, kemudian larangan meningkat kepada usia santri di bawah 20 tahun dan setelah berhasil akhirnya kebijakan berlaku untuk semua santri, ustadz dan para pembina.
Karena itu, sangat sulit mendapatkan rokok di koperasi pesantren,” tutur Munir lebih lanjut.

Dalam pandangan Tarmizi Taher yang dikenal sebagai seorang dokter yang juga dai ini, kebijakan pondok pesantren melarang para santrinya tidak merokok, merupakan kebijakan yang sangat tepat. ”Mengapa? Karena tidak sedikit, mereka yang sekarang ini menjadi pecandu narkoba, obat-obatan dan barang haram lainnya, mula-mula dari merokok. ”Saya acungi jempol pengasuh pondok ini untuk menerapkan kebijakan yang sangat sehat bagi
para santri. Sebab, kalau sudah terkena bahaya narkoba apalagi HIV/AIDS maka biaya yang dibutuhkan terlalu besar.”

Pondok Pesantren Langitan termasuk salah satu lembagan pendidikan Islam tertua di Indonesia. Pondok ini berdiri jauh sebelum Indonesia merdeka, tepatnya pada tahun 1852 di dusan Mandungan, desa Wedangan kecamatan Widang Kabupaten Tuban Jawa Timur. Pesantren yang letaknya persis di samping sungai Bengawan Solo dan berdiri di atas lahan seluas 7 ha ini, saat ini dipimpin oleh seorang ulama kharismatik Nahdlatul Ulama yakni
KH Abdullah Faqih. Tidak hanya dalam bidang pendidikan, bahkan dalam bidang politik pun, ulama yang satu ini sering menjadi rujukan dari para kyai dan ulama lainnya, terutama di kalangan Nahdliyyin.

Di pondok pesantren ini pula, pendiri NU KH Hasyim Asy’ari dan pendiri Muhammadiyah KH Ahmad Dahlan pernah nyantri. Pesantren Langitan awalnya hanyalah sebuah sebuah surau kecil tempat pendiri Pondok Pesantren Langitan KH Muhammad Nur mengajarkan ilmunya dan menggembleng keluarga dan tetangga dekat untuk meneruskan perjuangan dalam mengusir kompeni penjajah dari tanah Jawa. KH Muhammad Nur mengasuh pondok ini selama 18 tahun (1852-1870).

Setelah beliau wafat, perjuangan pendidikan dilanjutkan oleh putranya KH Ahmad Sholeh selama 32 tahun (1870-1902). Kemudian dilanjutkan oleh putra menantu yakni KH Muhammad Khozin selama 19 tahun hingga tahun 1921. Setelah beliau wafat, mata rantai kepengasuhan dilanjutkan oleh menantunya KH Abdul Hadi Zahid selama kurang lebih 50 tahun yakni hingga tahun 1971 dan seterusnya kepengasuhan dipercayakan kepada adik
kandungnya yakni KH Ahmad Marzuki yang mengasuh pondok ini selama 29 tahun (1971-2000) dan keponakannya, KH Abdullah Faqih, yang hingga kini masih tetap memimpin.

Sementara itu, KH Abdullah Faqih yang diminta tanggapannya atas peran para ulama lintas agama yang tengah melakukan kunjungan ke Eropa dan beberapa negara untuk mengupayakan terciptanya kedamaian, dengan tegas tokoh ulama kharismatik NU memuji peran para tokoh lintas agama itu. ”Baik sekali (para tokoh lintas ulama, red) untuk kemaslahatan dunia, supaya tidak ada peperangan, tidak ada pertempuran,” tandasnya.

Sebagaimana dilansir berbagai media massa di Indonesia Jumat lalu para tokoh lintas agama ini sudah bertemu dengan tokoh Katholik dunia Paus Paulus II. Mereka juga sudah melakukan pertemuan dengan parlemen Eropa. Para tokoh lintas agama itu antara lain, ketua PBNU KH Hasyim Muzadi, ketua PP Muhammadiyah Prof Dr Syafii Ma’arif, cendekiawan muslim Prof Dr Nurcholish Madjid dan tokoh agama dari Katholik, Kristen Hindu, dan Budha.

Lebih lanjut, menurut kyai yang pada 1 Muharram nanti genap berusia 73 tahun ini, apa yang dilakukan oleh para tokoh agama itu, sesuai dengan perintah agama. ”Kita memang diperintahkan oleh agama untuk supaya tidak terjadi kekacauan atau peperangan.”

Menjawab pertanyaan adanya ukhuwah yang sangat nyata antara NU dan Muhammadiyah seperti tergambar dengan hadirnya kedua pimpinan ormas terbesar di Indonesia di pentas internasional, menurut Kyai Langitan ini, ”NU dan Muhammadiyah itu cuma ra’yun (pendapat, red) saja yang berbeda. Tujuannya kan sama,” tegasnya.

Ia menyebutkan, perbedaan yang ushul (pokok, red) antara kedua ormas itu tidak ada. Bahkan dalam pemahaman nahdliyyin, Lana ra’yukum wa ma naraa. Artinya, untuk kamu terserah, tapi kepercayaan kami ya ini. Tapi soal yang pokok, kita tidak bisa kompromi. Misalnya, ada kaum yang sampai menghujat Sayyidina Abu Bakar Ash-Shiddiq, Siti Aisyah. Itu sudah lain.”

”Jadi peran NU dan Muhammadiyah termasuk bagi bangsa ini sangat besar?” Desak wartawan. Kyai Faqih pun mengatakan, ”Ya, jelas sekali itu. Kalau dua-duanya ini bisa rukun lahir batin, insya Allah nanti…” paparnya.

Ketika ditanya pandangannya terhadap kondisi bangsa yang terjadi yang ada sekarang ini, dengan tegas ia mengatakan, ”Negara menjadi seperti ini karena bangsa Indonesia membangun negeri ini telah melanggar,” ujarnya seraya mengutip sabda Rasulullah SAW: ”Barangsiapa yang berusaha sesuatu, membangun negara dengan menggunakan maksiat, ini akan lebih jauh dari apa yang diharapkan dengan lebih dekat dengan apa yang ditakuti dan dikhawatirkan.”

Ia menyebutkan, ketika kita membangun negeri ini maka kita harapkan terciptanya keadilan dan kemakmuran. Tapi karena membangunnya dengan menggunakan maksiat, salah satunya riba (bunga bank, red) hutang-hutang ke luar negeri yang sekian banyak, bunganya dan kalau sudah dapat ternyata tidak digunakan seluruhnya kepentingan bangsa, itu kan namanya maksiat. Maka akhirnya yang menanggung rakyat. Sedang yang kita takuti itu adalah kemiskinan dan kebodohan.”

Maka, kembali ke jalan iman dan takwa adalah menjadi keharusan jika kita ingin meraih kemenangan. Sesuai firman Allah, kata Kyai Faqih, jika seluruh bangsa ini beriman dan bertakwa akan tercipta rasa keamanan dan ketentraman.

Menjelang berlangsungnya pemilu, kyai sepuh ini menghimbau seluruh komponen bangsa untuk berkerja sesuai dengan tugasnya. Bagaimana sebagai seorang kyai, imamnya umat harus selalu memberi nasehat serta memberi contoh yang baik. Demikian juga kepada pemerintah harus bekerja dengan semestinya juga kepada militer bekerja sesuai dengan tugasnya,Harapan itu juga dibawa mantan Menteri Agama Tarmizi Taher tatkala bertemu KH Faqih. Dia sedang menggalang persatuan bangsa dengan mempertemukan ukhuwah NU dan Muhammadiyah. Kedua osmas hanya berbeda dalam cabangnya. ”Dasarnya, Alquran dan Al-Sunnah, tidak berbeda.”

”Waktu pertama kali ke sini beberapa waktu lalu, kyai kharismatik ini pernah mengatakan, NU dan Muhammadiyah itu mudah disatukan.” Sekarang, tambah Tarmizi, ”sudah tiba masanya persatuan itu. Ketika krisis yang sangat berat dihadapi masyarakat. Jadi kegelapan di atas kegelapan.”

Karena itu, Tarmizi melihat apa yang telah dilakukan para kyai besar seperti kyai Faqih ini memberikan kesejukan bagi masyarakat. ”Karena itu dalam berbagai kesempatan saya mengajak para ulama NU dan Muhammadiyah untuk tampil ke depan membimbing umat. Saya melihat pengaruh kyai Abdullah Faqih ini besar sekali baik bagi umat Islam dan
juga bagi umat yang lain.”

Ia lalu mengisahkan, orang-orang Cina itu senang sekali mendengar NU-Muhammadiyah bersatu. ”Mereka merasa terlindungi dalam alam yang semakin keras dan tak keruan ini. Mereka merasa terlindungi dengan bersatunya dua ormas besar ini,” jelas Tarmizi. damanhuri zuhri

(Sumber Republika Online)

Artikel lainnya :

1. Racun rokok

2. “Biaya Sosial ” Akibat Merokok

3. Tembakau : Dampaknya Yang Merusak Kesehatan

4. Pondok Pesantren Langitan Bebas Rokok

5. Berhentilah Merokok!

Pin It on Pinterest