1.Yai Munif copy

Seseorang yang tidak mau menghadap kepada Allah Swt. dengan cara halus, maka Allah akan memaksanya dengan rantai ujian dan musibah. Jika Allah telah menentukan bahwa seseorang hamba akan mendekati dan sampai kepadanya, hamba tadi akan dibawa menghadap Allah melalui dua cara. Yakni dengan lemah lembut dan paksaan.

Dua Cara Allah

Cara pertama adalah dengan membujuknya secara lemah-lembut. Ia akan diberi rizki dan kemudahan oleh Allah Swt. hingga ia sampai kepada-Nya. Adapula yang secara enggan mendekat kepada Allah Swt. karena hatinya terikat oleh berbagai hal seperti harta, kekuasaan, perniagaan, dan sebagainya. Selagi semua hal itu mengikat, ia tidak akan mau mendekatkan dirinya kepada Allah.

Allah mengasihinya hingga kemudian memutus semua hubungan tersebut dengan cara mendatangkan ujian dan bencana. Ujian akan memisahkan hamba tadi dengan perkara yang memisahkan dirinya dengan Allah. Ujian itu akan membuatnya putus asa hingga akhirnya ia tidak mempunyai keinginan terhadap perkara tadi. Setelah keinginan itu hilang, barulah ia akan merasa tenang dan kakinya akan ringan untuk melangkah menuju Allah. Hatinya akan bisa bermunajat kepada Allah karena tidak ada lgi gangguan duniawi yang akan mengganggunya. Allah Swt. berfirman:

 

وَلِلَّهِۤ يَسۡجُدُۤ مَن فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ طَوۡعٗا وَكَرۡهٗا

 

Artinya: “Dan kepada Allah jugalah sekalian makhluk yang ada di langit dan di bumi tunduk, baik dengan sukarela atau dengan terpaksa” (QS. Arra’du 15).

 

Allah Memimpin Hati Orang Mukmin

Kehalusan kepemimpinan Allah Swt. akan membuat hambanya mengatahui kekuasaan-Nya dan membuat hati yang keras menjadi lembut dan yang malas beribadah menjadi rajin beribadah. Allah berfirman:

 

مَآ أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذۡنِ ٱللَّهِۗ وَمَن يُؤۡمِنۢ بِٱللَّهِ يَهۡدِ قَلۡبَهُۥۚ وَٱللَّهُ بِكُلِّ شَيۡءٍ عَلِيمٞ

 

Artinya: “Tidak ada bencana yang menimpa (seseorang) kecuali karena izin Allah. Dan siapa yang beriman kepada Allah, Allah akan memimpin hatinya. Dan allah maha mengetahui tiap-tiap segala sesuatu” (QS. At-Taghobun 11).

 

Orang yang beriman akan senantiasa di karena ujian itu membawa berbagai ganjaran, nikmat, dan karunia dari Allah Swt. Dengan hal itu Allah menyucikan hamba dan meninggikan derajat di sisi-Nya. Allah melakukan hal itu melalui perkara-perkara yang dekat dengan hambanya, seperti keluarga dan harta. Allah berfirman:

 

إِنَّمَآ أَمۡوَٰلُكُمۡ وَأَوۡلَٰدُكُمۡ فِتۡنَةٞۚ وَٱللَّهُ عِندَهُۥٓ أَجۡرٌ عَظِيمٞ

 

Artinya: “Sesungguhnya harta benda dan anak-anakmu hanyalah sebagai fitnah (ujian). Dan di sisi Allah (terdapat) pahala yang besar” (QS. At-Taghabun 15).