
Ilustrasi Umat Nabi Muhammad (Image Source: unsplash.com)
Disadari atau tidak, umat Islam adalah umat yang penuh dengan kasih sayang Allah Swt. Betapa tidak? Umat ini menjadi umat Nabi terbaik yang penuh kasih sayang Tuhannya. Kemudian kasih sayang tersebut menyebar kepada umatnya, bahkan semua makhluk yang hidup sezaman atau sesudah wafatnya Muhammad saw. Sebagaimana dikatakan oleh Syekh Ali bin Sulthan Muhammad al-Qori, “Rahmatnya (umat Muhammad) lebih dari umat lainnya, karena nabi mereka menjadi rahmat baik untuk seluruh alam, bahkan disebut nabiyurrahmah, dan mereka (umatnya) adalah sebaik-baik umat.”
Banyak hadis menerangkan bagaimana bentuk kasih sayang Allah kepada umat Nabi Muhammad saw direalisasikan, baik rahmat tersebut dirasakan ketika di dunia dengan syariat-syariat yang indah dan mudah, atau di akhirat dengan pahala dan peleburan dosa. Di antaranya disebutkan oleh Imam Tabrani dalam al-Mu’jam al-Ausath, dari Anas bin Malik berkata, “Aku mendengar Rasulullah saw berkata:
أُمَّتِي أُمَّةٌ مَرْحُومَةٌ، مُتَابٌ عَلَيْهَا، تَدْخُلُ قُبُورَهَا بِذُنُوبِهَا وَتَخْرُجُ مِنْ قُبُورِهَا لَا ذُنُوبَ عَلَيْهَا، تُمَحَّصُّ عَنْهَا ذُنُوبُهَا بِاسْتِغْفَارِ الْمُؤْمِنِينَ لَهَا
Artinya: Umatku adalah umat marhumah (umat yang dikasihi), yakni diterima taubatnya, mereka masuk kuburnya dengan membawa dosa dan keluar dari kubur tanpa dosa. Dosa-dosa mereka dibersihkan sebab istighfar orang-orang mukmin kepada mereka.
Dalam riwayat lain disebutkan:
Dari Abu Musa ra berkata, Rasulullah saw bersabda:
أُمَّتي هذهِ أُمَّةٌ مَرْحُومَةٌ، ليسَ عَلَيها عَذَابٌ في الآخِرَةِ، عذابُها في الدُّنيا: الفِتَنُ والزَّلازِلُ والقَتْلُ
“Umatku ini adalah umat marhumah (umat yang dikasihi), tidak ada siksa mereka di akhirat, siksa mereka di dunia yakni dengan fitnah-fitnah, gempa-gempa dan dibunuh tanpa hak.”
Musibah-musibah yang dialami umat Nabi Muhammad menjadi pelebur siksa dari dosa yang mereka lakukan kelak di akhirat. Musibah ini pun masih terbilang ringan dibanding umat terdahulu. Sebagaimana didawuhkan Abuya Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki:
اِخْتَصَّ هَذِهِ الْاُمَّة بِاَنْ لَايُهْلَكَهَا بِجُوْعٍ وَلَا بِغَرَقٍ وَلَا يُعَذَّبُ بِعَذَابٍ عُذِّبَ بِهِ مَنْ قَبْلَهُمْ
“Umat ini dikhususkan dengan tidak dirusak dengan kelaparan dan ditenggelamkan, dan tidak disiksa dengan siksaan yang pernah dirasakan oleh umat sebelumnya.”
Sebab besarnya kasih sayang inilah, Nabi Khadir pernah bertemu dengan Rasulullah bersama sahabat Anas, dan Nabi Khidir terang-terangan ingin menjadi umat beliau. Imam Ats-Tsa’labi dalam al-Kasyfu wa al-Bayan mengutip hadis dari Anas ra. Ia berkata: “Suatu saat, aku keluar bersama Rasulullah saw.” Anas berkata: “Saat aku berjalan, tiba-tiba bertemu laki-laki sedang shalat di dekat pohon. Laki-laki tersebut berkata: ‘Ya Allah, jadikanlah aku termasuk umat Muhammad yang dikasihi, yang diampuni, yang diijabah, dan diterima taubatnya.’ Lalu aku datang kepada Rasulullah saw dan memberitahukan hal tersebut. Rasulullah berkata: ‘Datanglah ke sana, dan katakan kepadanya bahwa Rasulullah mengucapkan salam dan bertanya siapa kamu?’ Lalu Anas mendatangi orang tersebut dan memberitahukan apa yang diucapkan Rasulullah saw. Orang tersebut berkata: ‘Sampaikan salam dariku untuk Rasulullah dan katakan kepada beliau, aku adalah saudaramu yakni Khadir, dan katakan aku memohon dijadikan termasuk umatmu yang dikasihi, yang diampuni, yang diijabah, dan diterima taubatnya.’”
Imam al-Baihaqi meriwayatkan dari Wahab bin Munabbih berkata: “Allah Swt berkata, ‘Umatnya (Muhammad) adalah umat marhumah. Aku memberikan mereka amalan-amalan sunah sebagaimana aku memberikannya kepada para nabi, dan Aku mewajibkan atas mereka hal-hal fardhu yang aku wajibkan kepada para nabi, sehingga mereka (umat Muhammad) kelak pada hari kiamat akan datang kepada-Ku dan cahaya mereka seperti cahaya para nabi.’”
Penulis: Muslimin S.


0 Comments