Jl. Raya widang Tuban PO BOX 02 Babat 62271 Telp/Fax.0322-451156 SMS center : 085235688999. langitan [at]langitan[ dot] net

Kalah Menang Soal Biasa

Kiai NU yang mendukung Jusuf Kalla dan Wiranto tidak mempermasalahkan kekalahan capres nomor urut 3 itu. Mereka tetap yakin pilihan mereka sudah benar. “Tugas kiai itu hanya mengajak masyarakat untuk memilih capres yang benar, kalau kemudian kalah, ya menang atau kalah dalam urusan dunia itu biasa,” kata juru bicara kiai NU se-Jatim, KH Anwar Iskandar, di Surabaya, Kamis (9/7). Menurut pengasuh Pesantren Assaidiyah Jamsaren Kediri itu, para kiai hingga kini merasa bahwa pilihan yang didukung itu “sudah benar, meski pun kalah, karena tanggung jawab kiai hanya mengajak untuk kebaikan bersama. “Kiai itu bukan memilih atas dasar menang atau kalah, karena itu kekalahan calon yang dipilih para kiai itu tidak akan menyurutkan semangat para kiai, bahkan masyarakat akan tahu sendiri kebenaran ajakan kiai itu di masa datang,” ujarnya seperti dilaporkan inilah.com. Menurut kiai yang akrab disapa Gus War, NU tidak akan mengalami dampak buruk dari kekalahan Jusuf Kalla. Sejak Orde Baru, kiai sudah dimarjinalkan oleh pemerintah selama bertahun-tahun, tapi tidak ada dampak apa-apa. “Karena kiai memang tidak tergantung kepentingan politik, melainkan tergantung kepada umatnya,”...

Wajib ikut pemilu

[singlepic id=82 w=128 h=100 float=left]Adanya indikasi banyaknya golput pada Pemilu 2009 membuat KH Abdullah Faqih prihatin. Karena itu Mustasyar DPP PKNU ini menyerukan umat wajib mengikuti pemilu. Seruan Mbah Faqih itu disampaikan saat memberikan taushiyah dalam acara Maulid Ar-Rasul SAW dan Istighotsah untuk Keselamatan Bangsa di Ponpes Al-Firdausi, Desa Datinawong, Kecamatan Babat, Kab. Lamongan, Selasa (24/3) kemarin. Di hadapan ratusan jamaah, KH Abdullah Faqih mengingatkan agar para jamaah dan masyarakat pada umumnya tidak golput. Sebab, menurut pengasuh Ponpes Langitan Tuban ini, pemilu merupakan kegiatan negara lima tahunan yang wajib diikuti. Karena ini untuk memilih pemimpin baik di legislatif maupun eksekutif, katanya. Lebih jauh Mbah Faqih mengingatkan, para kiai telah mendirikan PKNU yakni parpol yang memperjuangkan kepentingan Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja). Karena itu, Kiai Faqih meminta para santri satu barisan dengan para kiai. Dalam kesempatan itu, Kiai Faqih juga berpesan agar para santri selektif dalam mengikuti suatu perkumpulan. Setidaknya harus mengetahui kejelasan perkumpulan yang akan diikuti sebab dalam suatu perkumpulan yang belum tentu salah bisa dianggap salah. Sebaliknya yang belum tentu benar, bisa saja dianggap benar. Ibarat seseorang digigit semut, karena kesakitan maka orang tersebut mencari abu layan untuk menaburkan segerumbul semut tersebut. Akibatnya, semut yang tidak ikut menggigit turut mati karena kena abu tersebut. Karena itu, kalau kumpul-kumpul cari yang baik saja jangan sampai terkena abu layan, katanya, berpesan. Jangan Lupa Guru Sementara itu, menyikapi Pemilu yang digelar 9 April mendatang, Ketua DPC Keluarga Santri dan Alumni (Kesan) Ponpes Langitan, KH Abdullah Mujib, mengatakan, dalam mendukung calon harus jelas dulu siapa calonnya. Lebih penting lagi, dalam mendukung calon jangan sampai berpisah dengan guru. Pengasuh Ponpes Darul Fiqih, Desa Ngepung,...

Menolak Istilah Kiai Khas dan Kiai Kampung

Tulisan KH. Abdulloh Faqih ini dimuat di jawapos.com dengan url : http://jawapos.com/index.php?act=detail_c&id=278709 pada hari Senin, 02 April 2007, kutipan lengkapnya sebagaimana berikut : Dulu, kiai-kiai yang sejalan dengan pemikiran dan langkah politik Gus Dur sering disebut-sebut dan dipopulerkan sebagai kiai khas. Meski tidak diketahui persis siapa yang memulai dan memunculkan istilah itu, sebenarnya risi juga mendengar dan menyandang sebutan itu. Sebab, para kiai yang disebut khas tersebut tidak merasa ada yang perlu dilebih-lebihkan menyangkut status atau strata sosial. Meski, keberadaannya mampu dimanfaatkan sebagai justifikasi dan legitimasi kelompok dan kepentingan tertentu. Belakangan setelah para kiai itu mengambil sikap dan langkah kritis, dimunculkan istilah kiai kampung. Adalah KH Abdurrahman Wahid yang memulai dan memunculkan istilah tersebut. Dalam tulisannya, Hakikat Kiai Kampung (www.gusdur.net), Gus Dur membagi kiai dalam dua kelompok, kiai sepuh dan kiai kampung. Menurut Gus Dur, kiai sepuh adalah mereka yang menjadi pengasuh pesantren-pesantren besar. Kiai kampung adalah tokoh-tokoh agama di desa-desa yang biasanya menjadi guru ngaji, memiliki surau/langgar/musala, pengurus takmir masjid, atau memiliki pesantren yang kecil. Sesungguhnya harus dikatakan di sini bahwa penamaan dan pemilahan kiai khas dan kiai kampung sebagaimana dimaksud adalah sangat tidak mendasar dan terkesan mengada-ada. Boleh jadi, itu hanya dimanfaatkan untuk mencapai tujuan tertentu karena pada hakikatnya, tidak ada istilah kiai khas dan kiai kampung. Jika ada kiai khas, berarti ada kiai awam. Padahal, penyebutan kata khas dan awam itu sebenarnya untuk membedakan antara orang yang pandai (alim) dan orang yang bodoh (awam) dalam hal keagamaan. Kata kiai itu sebenarnya sinonim dari kata sheikh dalam bahasa Arab. Secara terminologi (istilahi), arti kata sheikh itu sebagaimana disebutkan dalam kitab al Bajuri adalah man balagha rutbatal fadli,...

Istighotsah dan deklarasi PKNU

[singlepic id=33 w=128 h=100 float=left]Setelah mengalami proses yang panjang, akhirnya terlaksanalah Deklarasi Partai Kebangkitan Nasional Ulama (PKNU) yang dilaksanakan pada hari Sabtu (31/3) di Lapangan Al Ghuroba’ Pondok Pesantren Langitan. Acara ini dihadiri ratusan kiai dan 30 ribu simpatisan. Karena membludaknya peserta, sempat terjadi kemacetan lalu lintas dan merayap berantai radius 15 KM. dari titik pusat acara. Karena bertepatan dengan tanggal 12 Robiul Awal deklarasi pun diawali dengan peringatan mauludin nabi Muhammad SAW. dan Istighotsah demi keselamatan bangsa Indonesia. Ini dilakukan, agar Indonesia bisa keluar dari musibah yang tak kunjung reda. Hadir dalam acara itu seluruh tim 17, kecuali KH. Idris Marzuqi (Lirboyo, Kediri, Jatim) karena sakit dan KH. Abdullah Schal (Bangkalan, Madura) karena ada udzur. Tim 17 adalah para kiai yang merumuskan berdirinya PKNU dan siap mengawal partai ini agar tidak menyimpang dari rel syar’i, mereka adalah : KH. Abdullah Faqih (Langitan, Widang, Tuban, Jawa Timur) KH. Ma’ruf Amin (Tanara, Banten) KH. Abdurrochman Chudlori (Tegalrejo, Magelang, Jawa Tengah) KH. Ahmad Sufyan Miftahul Arifin (Panji, Situbondo, Jawa Timur) KH. M. Idris Marzuki (Lirboyo, Kediri, Jawa Timur) KH. Ahmad Warson Munawwir (Krapyak, DI Jogjakarta) KH. Muhaiminan Gunardo (Parakan, Temanggung, Jawa Tengah) KH. Abdullah Schal (Bangkalan, Jawa Timur) KH. Sholeh Qosim (Sepanjang, Sidoarjo, Jawa Timur) KH. Nurul Huda Djazuli (Ploso, Kediri, Jawa Timur) KH. Chasbullah Badawi (Cilacap, Jawa Tengah) KH. Abdul Adzim Abdullah Suhaimi, MA (Mampang Prapatan, DKI Jakarta) KH. Mas Muhammad Subadar (Pasuruan, Jawa Timur) KH. A. Humaidi Dakhlan, Lc (Banjarmasin, Kalimantan Selatan) KH. M. Thahir Syarkawi (Pinrang, Sulawesi Selatan) Habib Hamid bin Hud Al-Atthos (Cililitan, DKI Jakarta) KH. Aniq Muhammadun (Pati, Jawa Tengah) Selain tim 17, juga hadir Kiai-Kiai...

Pin It on Pinterest