oleh : Nur Faizin M.
Pernah dimuat di Koran Republika. Di alamat http://www.republika.co.id/kolom_detail.asp?id=306334&kat_id=14

Pertengahan Sya’ban sudah kita lewati, sebentar lagi Ramadhan akan segera menjumpai. Ramadhan adalah bulan yang paling utama di antara bulan-bulan Islam lainnya. Secara alami, apabila kita mendapat kabar bahwa seseorang yang sangat mulia dan terhormat akan datang, pasti kita akan mempersiapkan segala sesuatu untuk menyambut kedatangannya. Maka, saat Ramadhan yang sangat mulia dan suci menjelang, sudah seharusnya kita mempersiapkan segala-galanya demi menyambut kedatangannya.

Sahabat Anas bin Malik berkata bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda dan berdoa, ”Ya Allah, berkahilah kami dalam bulan Rajab dan Sya’ban serta sampaikanlah kami kepada bulan Ramadhan.” Apabila Rasulullah SAW yang seluruh hidupnya adalah untuk menggapai keridhaan Allah SWT masih menantikannya, maka bagi kita yang belum bisa istiqamah di atas jalan-Nya, tentu sudah seharusnya menanti-nantikan datangnya bulan Ramadhan yang suci itu. Penantian tak hanya dengan diam, ia harus dibuktikan dengan mempersiapkan jiwa serta raga untuk menyambutnya.

Dalam menyambut Ramadhan, jiwa seorang Muslim harus selalu dalam keikhlasan: Merasa bahwa puasa yang akan dilaksanakannya merupakan pelatihan dan pelajaran, bukan cobaan atau ujian. Bila puasa dianggap sebagai pelatihan dan pelajaran, tentu hati akan senang dan ikhlas dalam melaksanakannya.

Persiapan jiwa dan raga menyambut puasa sangat penting. Sebagian ulama dari salah satu madzhab fikih berpendapat bahwa puasa setelah nisfu Sya’ban hukumnya makruh. Alasan yang rasional adalah karena puasa di hari-hari tersebut dapat mengurangi kesiapan raga dalam menyambut bulan Ramadhan yang seharusnya disambut dengan penuh persiapan untuk melalukan segala bentuk ibadah dan ketaatan kepada Allah SWT.

Namun yang terpenting adalah menguasai dan mempraktikkan ”ilmu” puasa pada waktunya nanti. Puasa tak hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga mempunyai syarat rukun dan etika-etika yang harus dipatuhi selama berpuasa. Seseorang yang belum memiliki ilmu berpuasa, selain menunjukkan ketidaksiapan, juga dihawatirkan tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali lapar dan dahaga.

Mempelajari ilmu puasa menjadi sangat penting di saat-saat menjelang bulan Ramadhan datang. Mempelajari ilmu setiap ibadah adalah kewajiban setiap orang yang akan melaksanakan ibadah tertentu agar benar dan sesuai tuntunan syariat. Sebagaimana calon jamaah haji yang harus berkali-kali latihan manasik sebelum mereka berangkat ke Tanah Suci, maka begitulah semestinya kita menyiapkan diri menyambut Ramadhan