Dunia dan Nafsu

Penulis : admin

July 19, 2009

Pembaca yang budiman, Dunia merupakan sebuah kehidupan yang mencintai nafsu, dimana kehidupan itu diukur dengan standard kecintaannya pada materi. Mungkin pembaca ada yang tidak setuju dengan pendapat ini. Namun, bagaimana jika dunia didefinisikan al-Qur`an?

Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian hancur.Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya.Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu. (QS. 57:20)

Dalam tulisan ini penulis tidak bermaksud untuk mengatakan atau mengajak zuhud dengan artian menjauhi dunia dengan sebenar-benarnya. Namun, yang penulis maksud adalah bagaimana seseorang mampu mengendalikan dunia, bukan sebaliknya.

Pengertian kehidupan dunia yang umumnya berlaku bagi sebagian masyarakat adalah kehidupan waktu seseorang hidup, kehidupan akhirat adalah kehidupan manusia sesudah mati. Meskipun ada yang meyakini bahwa ia hidup hanya sementara namun hanya sebatas keyakinan. Waktu hidup mereka bisa mengatur sendiri apa-apa yang dikehendaki, kalau ada kesulitan barulah mereka meminta kepada Allah. Kehidupan seperti ini tak ubahnya kehidupan hewani, sebab manusia adalah makhluk sosial ciptaan Allah, maka selayaknya kemana kita berada, mestinya kita tidak bisa melepaskan diri dari aktifitas sosial.

Suatu realita dikalangan mahasiswa, ketika bertemu ada ciri has yang selalu saya dengar selain salam adalah “Sukses ya”. Kata ini merupakan hal yang sungguh mulia. Namun, taukah kita, mungkinkah dibalik kata “sukses” itu bermakna kehidupan meterialistis sebagai tolok ukur sukses atau tidaknya kehidupan sebagaimana yang digambarkan ayat di atas? Yang berangkat kerja dengan pakaian berdasi? Atau yang lainnya? Namun, penulis tetap berharap bahwa yang mereka maksud adalah sukses lahir batin & dunia akhirat.

Sebab, bagi Allah ukuran nilai sukses seseorang adalah ketika seorang hamba taat kepada Allah, hanya menjadikan Allah sebagai Ilah, sebagai Robb dan sebagai Malik.

Imam ghazali dalam Minhajul `Abidin mengatakan:

Dunia adalah musuh Allah, sedangkan Dia adalah kekasihmu. Dunia adalah perusak akal, sedangkan akal adalah hargadirimu.

Pembaca yang dicintai Allah, pernyataan yang pasti pembaca katakan adalah: saya tidak akan mungkin menukar harga diri dengan dunia? Itu adalah pernyataan yang kemungkinan besar pembaca katakan. Namun, ada baiknya kita melihat, bagaimana perbuatan sehari-hari kita menjawab. Apakah cinta dunia dengan sebenar-benarnya, atau tidak? Serta melalikan-Nya atau tidak

Jika dunia ini tetap ada untukmu, maka kamu tidak selamanya hidup di dunia. Lantas, manfaat apa yang engkau dapatkan jika mencari dan menghabiskan umur yang sangat berharga untuknya?

Oleh sebab itu, jalan terbaik adalah belajar. Belajar karena Allah. Karenanya pada dasarnya, dengan bertambahnya ilmu akan dapat meningkatkan pengetahuan seorang Mukmin terhadap berbagai dimensi kehidupan, baik urusan agama maupun yang lainnya; akan dapat meningkatkan kemampuan dan kompetensinya dalam menjalankan tugas pekerjaan yang dibebankan kepadanya; akan mendapatkan derajat yang tinggi; akan lebih bisa mendekatkan diri dan mengenal Allah, Tuhan yang telah menciptakannya serta akan selamat di dunia dan di akhirat.

Barangsiapa yang ingin mendapatkan dunia maka harus dengan ilmu; barangsiapa yang ingin mendapatkan akhirat maka harus dengan ilmu, dan barangsiapa yang ingin mendapatkan keduanya maka harus dengan ilmu”.

Dunia, masihkah kita memimpikannya, memuja dan merindunya? Padahal Allah mengatakan:

Katakanlah:”Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya” Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedang mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya. (QS. 18:103-104)

 

Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan. (QS. 11:15-16)

Seorang penyair mengatakan

Anggap saja dunia ini digiring kepadamu dengan mudah, tapi, bukankah pada akhirnya ia akan sirna?. Apa yang anda harapkan dari kehidupan yag tiada badi? Dan tak lama lagi akan digantikan oleh malam. Duniamu tak lain bagaikan bayang-bayang. Menaungimu dan dengan segera pergi berlalu (meninggalkanmu)”

Sedikit uraian di atas, maka seolah-olah kita akan mendapatkan sebuah gambaran pertanyaan dari dunia kepada kita, ”Maukah engkau tetap mencintaiku?” dan jawablah dengan hati nuranimu serta perbuatanmu. Karena, tidak seharusnya orang yang memiliki akal, seperti para pembaca yang budiman ini tentunya, masih saja terlena dengan dunia.

Bagaikan mimpi penghias tidur atau bayang-bayang yang sirna, sesungguhnya orang yang cerdas tidak akan terbujuk oleh hal-hal seperti itu.

Tulisan Terkait

Dunia yang Menipu

Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada nabi dan rasul yang paling mulia Muhammad saw Wa badu : Allah berfirman: “Telah dekat kepada manusia hari perhitungan segala amal mereka, sedang mereka ada dalam kelalaian...

“Kenangan” sistem Khilafah

Rajab memberikan kesempatan untuk merenungkan kewajiban kita mengenai permasalahan Khilafah. Berbagai peristiwa seperti penindasan terhadap muslim Uighur, kecaman Perancis terhadap busana muslim, serbuan Amerika terhadap Afghanistan dan Pakistan, dan pengepungan...

Nepotisme dalam Moralitas Politik

Berawal dari kepentingan manusia yang semakin bertambah. Urusan-urusan penting atau yang dianggap penting menjadi bagian dari catatan harian. Semisal dalam urusan mencari sebuah pekerjaan, tentu teman atau kerabat ikut terlibat. Sehingga, dapat kita tarik sebuah...

Khalid bin Walid

INILAH KISAH LELAKI BERNAMA KHALID BIN WALID di muktha, menyeberang sudah di jembatan para suhada tiga pencinta* yang dipenuhi rindu firdaus lalu disambutnya panji janji-janji terdekap di dada yang telah ia penuhi dengan cinta pada seorang yatim teragung di madinah di...

Kebudayaan Islam dalam AL-Quran

Dua kebudayaan: Islam dan Barat MUHAMMAD telah meninggalkan warisan rohani yang agung, yang telah menaungi dunia dan memberi arah kepada kebudayaan dunia selama dalam beberapa abad yang lalu. Ia akan terus demikian sampai Tuhan menyempurnakan cahayaNya ke seluruh...

7 Comments

  1. alhakim

    mau tanya sedikit…takdir ditentukan oleh tuhan,jodoh ditentukan oleh tuhan,hidup mati ditentukan oleh tuhan,gampangnya tuhan adalah dalang di sebalik ini semua…pertanyaanya kenapa kalau kita berbuat salah kita mendapat dosa sedangkan tuhan ada disebalik ini semua(dalang)

    Reply
  2. Amin

    sungguh sulit menjinakkan nafsu

    Reply
  3. maimun amir

    ada dua hal yang tidak bisa bersatu di hati manusia..cinta dunia dan takut dengan akhirat…sehingga salah satu dari k2nya harus mengusir satu yang lain…

    dalam bahsa lain diungkpkan dengan indah, kalo g salah dari Imam Syafi’i, kalo salah mhon koreksi..

    dunia itu bagai bayang-bayangmu..semakin kau mengejarnya maka semakin ia jauh dan lari darimu..tapi semakin kau menjauh darinya, maka ia akan mendekatimu..

    Ya Allah letakkan dunia di tangan kami, bukan di hati kami…Amin Amin Ya Robbal ‘Alamin

    Reply
    • alhakim

      adunya daruman la darolah wa maluman lamalalah..dunia itu rumahnya orang yang tidak punya rumah,atau negaranya orang yang tidak punya negara…maksudnya cari sendiri,,,,

      Reply
  4. Ribut

    Satu Tanggapan untuk “Dunia dan Nafsu”

    Reply
  5. peduli pesantren

    memang mudah melawan orang, tapi bagaimana melawan nafsu???sunggu2 sulit

    Reply
    • alhakim

      saat usai perang badar sahabat bertanya kepada nabi: wahai nabi…adakah ini perang yang terbesar yang pernah kita hadapi: lantas nabi menjawab ketahuilah wahai sahabatku bahwa kita akan menghadapi perang yang paling besar yaitu perang melawan hawa nafsu. hakikatnya musuh amanusia ada dua yaitu: nafsu dan jin sebagaiman dalam firmannya:minal jinnati wan na

      Reply

Submit a Comment

Your email address will not be published.

Komentar

Archives

Categories