muhammad-kaligrafi

Nabi Muhammad SAW, adalah Sang Matahari Dunia, yang senantiasa mencerahkan Alam Semesta dengan sinar keimanan dan ketaqwaan yang digenggamnya. Ibarat Bulan Purnama, beliau tak ubahnya cahaya di atas cahaya, yang tak pernah lekang dan lapuh oleh masa, selalu membimbing dan menunjukkan umatnya untuk memperoleh jalan terang nan benderang, yaitu jalan yang diridloi oleh Dzat Penguasa Mayapada, Allah SWT.

Sebagai umatnya, Kita harus senantiasa mengagungkan dan memuliakannya, serta selalu mengharap tumpahan rahmat dan barakahnya. Agar kelak di akhirat kita mendapatkan Syafa’atul ‘Udhma dari Sang Baginda, SAW.  Adapun manivestasi rasa pengagungan kita kepada beliau Rosulillah SAW, adalah selalu meneladani perangai mulianya dan tekun menjalankan syari’atnya. Di samping itu, kita juga harus selalu menengadahkan doa shalawat kepadanya. Karena dengan media itulah, besar harapan kita untuk merasakan teduh syafaatnya kelak di penghujung masa.

Begitu pentingnya melantunkan shalawat keharibaan Baginda Nabi SAW, hingga Allah SWT memerintahkan kita untuk senantiasa bersholawat dan berucap salam kepada Nabi SAW, sebagaimana firmanNya dalam surat al Ahzab, ayat 56:

يا أيها الذين آمنوا صلوا عليه وسلموا تسليما (الاحزاب :56

Artinya: Wahai Orang – Orang yang beriman Bersholawatlah Kamu untuk Nabi dan Ucapkanlah Salam dengan penuh kehormatan kepadaNya. (QS: Al Ahzab; 56)

 

Dalam hadits Nabi juga menyebutkan keistimewaan membaca shalawat, yang artinya kurang lebih demikian, “Barang siapa yang membaca shalawat kepada ku sekali, maka Allah akan (membalas) membacakan shalawat kepadanya sepuluh kali. (HR. Muslim)

Dan juga hadits yang diriwayatkan oleh At Turmudzi, yang artinya “Orang Bakhil ialah orang yang apabila namaku (Muhammad) disebut, maka ia enggan membaca shalawat kepada ku”.

            Ketika nama Muhammad disebut, kemudian kita ragu tentang siapakah hakikat Muhammad itu, apakah nama Nabi atau nama orang lain yang bernama Muhammad, maka tak ada salahnya kita membaca shalawat kepada Nabi Muhammad, Rasulillah SAW. Karena pada hakikatnya, pahala shalawat akan tetap mengalir dan tercurah kepada kita. Allahu A’lam.

Sumber: Majalah Langitan