“Demi Allah yang tiada yang berhak disembah selain Dia! Kalau seandainya bukan Abu Bakar yang dijadikan Khalifah, niscaya Allah tidak lagi disembah.” (Abu Hurairah ra.)

Wafatnya Rasulullah saw telah menjadi musibah besar bagi para shahabat ra. Demikian beratnya musibah itu, hingga Hudzaifah ra. menceritakan bahwa tangan belum juga dibersihkan setelah mengebumikan Rasulullah saw., para shahabat merasakan perubahan pada hati mereka. Shahabat Utsman ra terdiam beberapa lama tanpa bicara. Shahabat Umar ra. tidak mampu menahan diri beliau hingga akan memenggal siapa saja yang mengatakan Rasulullah saw. meninggal.. Begitu mendengar berita wafatnya Rasulullah saw. Abdullah bin Zaid ra berdo’a,” Ya Allah, bila Rasulullah saw telah wafat, apa guna mataku ini. Cabut sajalah penglihatanku.”

Musibah demi Musibah
Wafatnya Rasulullah saw belum cukup sebagai satu-satunya musibah. Murtadnya orang-orang Yaman, Bahrain, Hadramaut, Bani Sulaim, ‘Amir dan Hawazin. Hampir semua kabilah di Arab murtad kecuali Quraisy dan Tsaqif. Orang-orang munafiq mulai berani menampakkan permusuhan terhadap mereka. Orang-orang Yahudi dan Nasrani pun mengancam. Munculnya golongan yang menolak untuk membayar zakat. Banyaknya nabi-nabi palsu yang bermunculan. Belum lagi ancaman dari kerajaan Persi dan Romawi.

Shahabat Ibnu Mas’ud ra. mengatakan, “sepeninggalnya Rasulullah saw., kami berada dalam posisi yang hampir saja kami binasa.” Ummat seolah ayam kehilangan induknya. Kambing yang dikerumuni srigala.

Sang Penyelamat
Dalam keadaan yang demikian kalut Abu Bakar ra. diangkat sebagai Khalifah Rasulullah saw. Sebagai orang paling dekat dengan Rasulullah saw., beliau telah mampu memberikan contoh pada ummat bagaimana menyelesaikan masalah yang bertumpuk-tumpuk ini.

Dalam keadaan sakit, Rasulullah saw. menyiapkan satu pasukan dan melantik Usamah bin Zaid ra. sebagai panglima. Beberapa kali beliau saw. sampaikan kepada para shahabat yang datang, “berangkatkan pasukan Usamah!” Sebagian shahabat mengusulkan agar pasukan Usamah ditunda keberangkatannya menunggu pulihnya kesehatan beliau saw. Tapi beliau tetap perintahkan, “berangkatkan pasukan Usamah!” Akhirnya, pasukan diberangkatkan dan beliau wafat saat pasukan baru sampai di Juruf (+ 5 km dari Madinah ke arah Syam). Maka seluruh pasukan kembali ke Madinah.
Seusai pengebumian Rasulullah saw. dan Abu Bakar ra diangkat sebagai Khalifah, beliau perintahkan Usamah beserta pasukannya untuk segera berangkat sebagaimana perintah Rasulullah saw. Maka semua anggota pasukan kembali menempati posisi semula.

Beberapa shahabat besar dari Muhajirin dan Anshar merasa keberatan atas hal itu. Shahabat Umar, Utsman, Abu Ubaidah, Sa’d bin Abi Waqqash dan Said bin Zaid ra. datang menghadap Khalifah. Mereka mengusulkan ,”wahai Khalifah Rasulullah, orang-orang Arab telah membangkang padamu dari segala penjuru. Dan dengan memisah-misahkan pasukan muslimin, engkau tidak akan mendapatkan banyak manfaat. Sebaiknya, engkau siapkan mereka untuk menghadapi orang-orang murtad. Selain itu, kami menghkhawatirkan penduduk Madinah kalau diserang sewaktu-waktu. Sedangkan di dalamnya terdapat wanita-wanita dan anak-anak. Tundalah sementara pengiriman ke Romawi hingga Islam kembali stabil dan orang-orang murtad kembali ke pangkuan Islam atau pedang membinasakan mereka. Kemudian, barulah kau kirim pasukan Usamah. Untuk saat ini, kita belum merasakan Romawi sebagai ancaman yang segera datang.”

Setelah mendengarkan semua yang mereka sampaikan, beliau bertanya,”adakah yang masih ingin disampaikan?” “Tidak,”jawab mereka. Beliau pun berkata, “demi Dzat yang diriku dalam kekuasaan-Nya, seandainya aku yakin bahwa (dengan diberangkatkannya pasukan sehingga Madinah kosong) srigala akan memangsaku di Madinah, aku akan tetap berangkatkan pasukan sebelum melakukan yang lain. Seandainya anjing-anjing akan menyeret istri-istri Rasulullah saw (Karena tidak ada yang menjaga mereka) aku tidak akan menarik pasukan yang telah disiapkan Rasulullah saw dan tidak akan melepaskan panji yang telah dipancangkan Rasulullah saw. Bagaimana tidak! Sedangkan Rasulullah saw. di masa masih turunnya wahyu (di masa hidup beliau saw) bersabda,”berangkatkan pasukan Usamah!” Mereka pun paham bahwa Abu Bakar ra. akan tetap memberangkatkan pasukan Usamah.
Atas keputusan beliau inilah Abu Hurairah ra mengatakan, “Demi Allah yang tiada yang berhak disembah selain Dia! Kalau seandainya bukan Abu Bakar yang dijadikan Khalifah, niscaya Allah tidak lagi disembah.” Beliau ulangi kata-kata itu hingga tiga kali. Seseorang memperingtakan, “diam wahai Abu Hurairah!” Sebagai jawaban, Abu Hurairah ra. menceritakan kejadian tersebut.
Beliau tidak mengizinkan satu anggota pasukan pun untuk tidak berangkat. Bahkan, bila ada yang tidak segera berangkat akan disusulkan dengan berjalan kaki. Maka, tidak seorang pasukan pun tertinggal. Sebelum diberangkatkan, ada sebagian pasukan yang meminta Umar ra. untuk mengusulkan supaya panglima diganti dengan yang lebih berumur. (Waktu itu umur Usamah kurang lebih baru 20 tahun.) Mendengar usulan itu, Khalifah lompat dari duduknya dan menarik janggut Umar ra. “Celaka kau Ibnu Khaththab! Ia diangkat oleh Rasulullah dan kau minta aku untuk melepasnya.” Umar ra. kembali. “Sudah, berangkatlah kalian. Gara-gara kalian aku telah dimarahi Khalifah Rasulullah!” Dan Khalifah Abu Bakr ra menyusul untuk memberangkatkan pasukan yang berjumlah tiga ribu orang, menyampaikan nasehat dan petunjuk pada mereka. Sebelum kembali ke Madinah, beliau minta Usamah supaya mengizinkan Umar ra untuk tinggal di Madinah membantu beliau. Usamah pun menyetujui.

Pasukan Gerak Cepat
Usamah berpendapat bahwa mereka sudah terlambat beberapa hari dari waktu yang dicanangkan Rasulullah saw. Sebagai tebusannya, pasukan dibawa gerak cepat. Tidak satu kabilah pun yang berniat untuk murtad yang mereka lewati, melainkan berkata,” kalau mereka tidak memiliki kekuatan cadangan yang memadai, tentu tidak akan mengirimkan pasukan sebesar ini. Kita lihat, bagaimana nanti kalau bertempur dengan pasukan Romawi.” Mereka pun bertempur dan diberi kemenangan gemilang. Dan kabilah-kabilah itu pun membatalkan niat mereka untuk murtad.

Sedangkan orang-orang Romwi sendiri, mereka mengirimkan tiga orang mata-mata untuk mengintai gerak pasukan Usamah. Ketiganya berpencar dan bertemu dengan pasukan di tiga tempat berbeda dalam waktu yang berdekatan. Laporan mata-mata dikaji oleh ahli strategi Romawi. Kesimpulannya, tidak mungkin satu pasukan jalan kaki ditemui di tiga tempat dengan perbedaan waktu sedekat itu. Pasti ada tiga pasukan.

Ulama menilai, itulah perasaan takut yang Allah timpakan di hati musuh sebagai perlindungan pada Rastulullah saw. Sepeninggal beliau, perlindungan tersebut ditarik oleh Allah swt. dan diberikan kembali setelah keberangkatan pasukan Usamah ra.

Aku Lebih Suka Jatuh dari Langit
Kemudian Khalifah Abu Bakr ra mengumpulkan sisa-sisa shahabat yang masih ada di Madinah. Mereka bermusyawarah mengenai orang-orang Arab yang enggan membayar zakat. Pertama kali, Umar ra. menyampaikan pikiran beliau.”Wahai Khalifah, terimalah shalat mereka dan biarkan dulu urusan zakat mereka. Mereka adalah orang-orang baru dalam Islam. Baru saja melalui kehidupan jahiliyah. Seandainya iman telah menancap di hati mereka, tentulah mereka akan mengakuinya. Hingga Allah kembalikan mereka pada kebaikan atau Allah kuatkan Islam hingga kita mampu memerangi mereka. Sisa-sisa orang Muhajirin dan Anshar ini tidak punya kekuatan yang cukup untuk menghadapi orang Ajam dan Arab bersama-sama.” Utsman ra. dan Ali ra pun sependapat dengan usul Umar ra. Para shahabat Muhajirin dan Anshar pun sepakat dengan usul tersebut. Maka Abu Bakr ra. berbicara panjang lebar tentang pertolongan Allah swt pada Rasulullah saw dan janji-Nya untuk selalu menolong orang-orang mukmin. Lalu beliau katakan, “Demi Dzat yang jiwaku dalam kekuasaannya, aku lebih suka jatuh dari langit daripada tidak memerangi apa yang dulu diperangi Rasulullah saw. Seandainya mereka tidak menyerahkan seutas tali yang biasa mereka serahkan pada Rasulullah saw. dan mereka membawa pasukan jin dan manusia, kampung dan kota tentu aku akan tetap memerangi mereka sampai kembali ruhku pada Allah swt. Sesungguhnya Allah swt tidak memisahkan shalat dan zakat kemudian mengumpulkannya.” Dalam peristiwa ini pulalah Abu Bakr ra. mengatakan pada Umar ra,” pertolonganmu yang kuharapkan dan kamu datang untuk membiarkanku. Apakah kuat di zaman jahiliyyah dan lemah di zaman Islam! Apakah aku akan mengambil hati mereka dengan syair yang kubuat-buat atau dengan sihir yang diada-adakan? Tidak akan! Dan tidak akan! Nabi saw telah wafat dan wahyu telah berhenti. Demi Allah aku akan berjihad melawan mereka selama masih ada pedang di tanganku walaupun mereka hanya enggan membayar seutas tali.” Umar ra. bertakbir. Dan beliau katakan,” maka aku mendapatinya lebih lebih kokoh dan lebih teguh dariku dalam masalah itu.” Maka berangkatlah Abu Bakr ra. beserta sisa Muhajirin dan Anshar untuk menjalankan keputusannya. Dalam waktu yang amat singkat, masalah itu pun teratasi.

Ulama mengambil benang merah dari peristiwa ini. Ada dua kepentingan yang saling tarik menarik di sini. Kepentingan perlindungan ummat dan perlindungan agama. Para shahabat berpandangan untuk lebih mengutamakan perlindungan ummat kemudian agama. Sedangkan Abu Bakr ra lebih mementingkan keutuhan agama walaupun mengorbankan ummat. Dan hasil dari keputusan Abu Bakr ra adalah tersekamatkannya agama dan ummat sekaligus. Satu kesimpulan yang kita sering salah persepsi di dalamnya.

Shahabat Umar ra. mengatakan,”Demi Allah, seharinya Abu Bakr ra lebih baik dari pada seumut hidup
Umar dan keluarganya. Yakni hari tatkala Rasulullah saw wafat dan orang-orang Arab murtad dan sebagian dari mereka mengatakan, “kita shalat dan tidak membayar zakat.” Kemudian Umar ra menceritakan kisah keputusan Abu Bakr ra tentang pembangkang zakat. (HARUN ‎AL-ROSYID)