Lama sudah ndak ketemu Kang Abid, lebih dari dua kali terbitan Kakilangit. Kang Jalil begitu tahu Kang Abid langsung jalan setengah lari menghampirinya yang sedang asyik membaca Koran.
“Asslamu’alaikum,” suara Kang Jalil membuyarkan konsentrasi Kang Abid yang sedang isro’ intelektual lewat membaca dan renungan.
“Wassalamu’alaikum,” jawab Kang Abid sambil menoleh dari arah suara berasal.
“Waduh Kang, ke mana saja dua kali terbit kok ngak muncul. Kehabisan bahan obrolan, atau lagi sedang ndak intim dengan dunia intelektual.”
“Sebenarnya ana tetap masih seperti yang dulu, cuman sedikit ada pergeseran paradigma, bahwa menjalani hidup tidak cukup dengan modal kecerdasan intelektual, masih butuh kecerdasan emosianal dan kecerdasan spiritual. Fenomenanya banyak orang terjebak dalam ritme kecerdasan intelektual. Dunia bisnis apa lagi, jelas hanya menggunakan kalkulasi otak dan matematik, gaya dan mode yang semestinya lebih bertumpu pada rasa dan emosional, cenderung bergeser pada sensasi dan prestise, meninggalkan rasa dan jiwa. Fenomena Kaum Hawa mengadakan gerakan kesetaraan gender, mestinya menyadari bahwa mereka melakukan itu berawal dari nurani dan jiwa yang bronto menemukan jati diri. Tapi kenyataannya mereka kehilangan feminimisme-nya, radikal dan melawan kodrat. Reproduksi menurut mereka dianggap hak, bukan tugas dan kewajiban. Kalau Kaum Adam bisa matsna mengapa Kaum Hawa ndak boleh? Pembagian harta waris mengapa dibedakan antara Kaum Hawa dan Adam? Kaum Adam ketika aqad nikah memberikan mahr sebagi ilustrasi berkuasanya pada Kaum Hawa, hal ini menurut mereka bisa dan boleh bahkan harus pada saat-saat tertentu dibalik, menjadi kaum hawa yang memberikan mahr kepada kaum Adam ketika aqad nikah.”
Tanpa sadar mereka berdua sudah sampai di depan pos Keamanan Timur, depan Toko Induk, bersamaan datangnya rombongan satu mobil penuh sesak, rupanya keluarga santri. Begitu turun sungguh pemandangan yang kontras tervisualisasi, ada tamu putri pakai jilbab memang, tapi celana dan kaos yang dipakainya pres body sehingga,….
“Kang.,, ente lihat sendiri si tamu itu maunya mencari titik temu antara busana muslim dan mode. Busana muslim diterjemahkan menutup bagian tubuh. Mode dibaca trend dan gaya semata. Maka terjadilah Islamisasi mode dan gaya menurut mereka.” Kata Kang Abid membuka letupan pembicaraan sambil meneruskan perjalanan menuju maqbaroh sebagaimana tradisi santri tiap Jum’at sore.
“Kalau ana sebenarnya bangga dengan semaraknya trend, mode, teknologi dan keilmuan lainnya yang menjadikan adanya titik temu dengan Islam, bukankah ini fenomena dari fakta sejarah bahwa Islam nenelisik setiap sudut kehidupan yang modern sekalipun. Ternyata apa yang terjadi dalam alam modern itu sudah ada pada Islam. Ini merupakan Islamisasi modernitas,” kata Kang Jalil.
“Wah, opini semacam ini bisa jadi kontra produktif, jika ada penemuan baru dalam dunia teknologi, kemudian dikait-kaitkan dengan ayat al Qur’an, terjadilah Islamisasi teknologi. Jika ada mode, gaya dan budaya kemudan dikait-kaitkan dengan ayat-ayat dan hukum Islam, maka tejadilah Islamisasi kultural. Sungguh menurut ana ini kenikmatan sesaat, di kemudian hari akan menjadi bomerang. Sebab semua orang tahu bahwa yang namanya teknologi, mode, gaya dan budaya itu berkembang mengikuti denyut nadi kehidupan manusia. Teknologi yang sekarang dianggap modern suatu saat nanti akan dianggap kuno, begitu juga dengan mode, gaya dan budaya. Apakah tidak menjadi ironis jika itu juga terjadi pada agama Islam.” Jelas Kang Abid, yang penjelasannya kadang terputus-putus lantaran harus menjawab salam dan tegur sapa sesama santri yang lalu lalang di sampingnya.
“Maka menurut ana kalkulasi hidup sekali lagi tetap dikembalikan pada nurani dan rasa, bukan diukur dengan hal-hal yang normatif dan matematik. Titik temu mode dan Islam misalnya, tidak boleh dibaca hitam putih, tapi dikembalikan pada elan syariahnya. Jika tidak, maka akan banyak bermunculan paradoksal-paradoksal dalam berpakaian. Hal ini juga tergeneralisasi dalam kerja, emansipasi, kepemimpinan dan semua lini kehidupan. Kita disentakkan dengan berita adanya wanita menjadi imam dan khotib sholat Jum’at di New York. Orang bisa melihat ini emansipasi, atau fiqh paradigma baru, bahkan ada yang mengomentari itu penghinaan pada Islam. Semua komentar, jika ditelusuri banyak yang menggunakan ukuran hukum normatif, apa lagi Indonesia.”
“Loh, emangnya ada apa Islam di Indonesia,” sergah Kang Jalil lantaran penasaran ungkapan Kang Abid yang terakhir.“Islam di Indonesia itu terlalu fiqh, pendekatan masalah cenderung halal haram, begitu ada wanita jadi imam dan khotib sholat Jum’at, yang dikejar-kejar orang untuk dimintai komentar adalah seperti Kang Masdar Farid Mas’udi, bukan Gus Mus, sebab yang pertama lebih sebagai cerminan fiqh dan hukum normatif, sedangkan yang kedua lebih sebagai cerminan budaya dan pendekatan rasa. Nah, menyikapi fenomena wanita yang akhir-akhir ini menyeruak ke permukaan, ana melihat ada dua hal yarg subtatisial. Pertama, apa yang dilakukan kaum wanita lebih sebagai kebingungan budaya dalam negara berkembang termasuk Indonesia. Ada proses iqro’ kultural dari tatanan tradisional, marginal dan agraris menuju tatanan modern, maju dan industri. Pada titik inilah, ada pintu krusial dalam pembentukan personifikasi jati diri. Semua orang faham bahwa Indonesia adalah negara religius, sementara budaya yang mengalir tidak sepi dari muatan sekularism dan bahkan ateism. Ketika proses isro’ kultural itu dibiarkan begitu saja, maka tidak menutup kemungkinan terjadi akulturasi budaya. Sehingga terjadi percampuran antara norma Islam dan budaya yang cenderung tanpa norma, bahkan norma budaya yang bertentangan dengan Islam. Titik kulminasinya adalah kebingungan penemuan jati diri kaum wanita.” Jelas Kang Abid pada Kang Jalil, kalau dilihat dari ekpresinya yang manggut-manggut, terkesan Kang Jalil faham, tapi apa yang sebenarnya terjadi wallahu a’lam.
“Terus yang kedua apa Kang?”
“Yang kedua terjadi kegagapan keberagamaan. Hal ini terjadi karena proses pemahaman keagamaan cenderung normatif. Simpul-simpul proses yang dimaksud tercermin di pesantren-pesantren. Kita mengalami proses pembelajaran agama di pesantren bernuansa dhauk atau rasa, sementara proses budaya yang awalnya menggunakan rasa setelah menggelinding difahami dengan rasio. Di sini terjadi benturan. Padahal budaya akan terus, bergulir mengikuti kehidupan manusia, sementara agama cenderung difahami dogmatis. Sebagai solusi pemahaman keagamaan berbasis pada intelektualisme yang mengarah pada dhauk atau rasa. Jika hal ini ndak secara dini dipertajam akan selalu menimbulkan kegagapan keberagamaan.”
“Sebentar Kang, kali ini apa yaag kita bicarakan susah di tangkap pangkal dan ujungnya, sebenarnya apa yang terjadi.” Tanya Kang Jalil.
“Untuk sekadar memahami 1+1, tidak perlu kalkulator apa lagi computer. Perasaan kita sudah dengan mudah menemukan jawabanya. Untuk memahami tabarruj-nya Kaum Hawa, jangan paksakan menggunakan hukum normatif, gunakan rasa untuk menjawabnya.”
“Assalamu’alaikum ya ahladdiyar,” salam Kang Abid ketika mau masuk maqbaroh membuyarkan onsentrasi Kang Jalil. Mereka berdua meninggalkan ranah intelektual menuju ranah emosional dan spiritual. Mereka menyadari bahwa keberagamaan lebih kaffah dengan hati dan rasa dari pada intelektualitas.