Jl. Raya widang Tuban PO BOX 02 Babat 62271 Telp/Fax.0322-451156 SMS center : 085235688999. langitan [at]langitan[ dot] net

Teroris buah kemiskinan dan ketidak-adilan

Sebagai santri senior,n maklum kalau Kang Abid masyghul dengan gonjang-ganjing di bumi Indonesia. Bagaimana tidak, akhir-akhir ini sedang ramainya orang bicara teroris, pendek memang ungkapannya, teroris, tapi seambrek masalah yang terkait. Mulai dari keberadaan pesantren, Islam, peranan ulama. Bahkan ada yang mengait-ngaitkan dengan ketidak-adilan, kemiskinan, diskriminasi negara adikuasa, perang idiologi, kepanjangan perang salib yang sebenarnya belum tuntas dan stempel AS pencuri teriak maling.

Subhaanallah Duh. Gusti, apa yang akan terjadi. Kang Abid ndak tahu dari mana mengurai benang ruet ini. Belum juga ketemu pangkal ujung masalah, eh.. Wapres Yusuf Kalla membuat pernyataan yang membuat telinga merah kalangan pesantren. Wakil Presiden kita yang juga Ketua Umum Partai warisan Eyang Soeharto Golkar, itu mengatakan; Dari sekitar 17 ribu pesantren, ada dua atau tiga yang diduga melakukan cuci otak kepada para santrinya tentang makna jihad, sehingga gerak pesantren perlu dibatasi dan diawasi. Kang Abid sebenarnya ngelus dodo, “Kok tega-teganya bilang begitu. Toh beliau juga ngaku dari kalangan pesantren. Pesantren itu bukan persemaian teroris, pesantren itu tempat tafaquh fiddin.”

Pernyataan Kalla itu tak urung memancing banyak reaksi, malah-malah bisa dibilang emosi. Misalnya Mbah Idris Marzuki, Pengasuh Pondok Lirboyo Kediri dawuh; “Jika seseorang mempunyai keyakinan, namun tidak didasarkan pada hukum syariat yang benar, seperti teroris yang punya keyakinan bunuh diri itu bagian dari jihad, maka sama halnya mereka adalah sebagai bagian dari Kafir Zindiq”. Tidak hanya Mbah Idris yang nderek urun rembuk, beberapa hari yang lalu pengurus MUI menemui Kalla. Mereka minta Wapres untuk klarifikasi pernyataannya. “Wah, ini pangung debat kayaknya makin ramai.”

Sambil bantalan tangan, Kang Abid merebahkan badan, matanya menerawang jauh kedepan, pikirannya suntuk. “Duh Indonesia, kok malang bener nasibmu, kini engkau ndak punya bapak yang ngerti siapa dirimu. Dulu Soekarno memang agak kurang sedap namanya diakhir jabatan. Orang banyak mengaitkan dengan G-30-S PKI. Tapi Bung Karno ndak pernah ngundang orang asing menyelesaikan urusan dalam negeri. Ngak kayak sekarang ngundang orang asing menyelesaikan konflik Aceh. Soeharto disebut-sebut Bapak korupsi dan nepotisme. Tapi ndak pernah menaikkan harga BBM dua kali setahun. Duh.. Indonesia.. Bapak-bapakmu kini politisi belah bambu, sebagian diangkat sebagian diinjak. Tunjangan DPR 10 juta perbulan, petani mati kelaparan di lumbung padi. Anggaran kesekretariatan Presiden satu tahun cukup untuk hidup satu generasi. Gusti, seandainya saya bisa milih di mana mau lahir, mungkin saya ndak mau dilahirkan di Indonesia. Terorisnya sudah membuat kacau, pemimpinannya juga membuat kacau seperti teroris. Jadi kita ini hidup di Desa teroris yang dipimpin teroris. Wah, gawat.” Kang Abid ngelantur sampai tidak terasa kalau ada Kang Jalil sudah duduk disebelahnya.
“Ente mikir apa? Teroris! Yang salah ya, bapak-bapak kita.”
“Jangan ngawur ente, apa alasannya,” tanya Kang Abid dengan semangat sambil ambil posisi duduk serius.
“Teroris itu tidak semata-mata karena pemahaman idiologi yang salah. Bisa jadi biang keladinya adalah pemiskinan struktural dan ketidakadilan terhadap rakyat, pemberangusan pemikiran dan efek domino kebijaksanan luar negeri, yang diterapkan oleh negara super kaya terhadap bangsa lain termasuk Indonesia. Bahkan semua negara berkembang sangat rentan tumbuh dan berkembang terorisme,” kata Kang Jalil memulai obrolan.
“Mana contoh kongkritnya,” pinta Kang Abid.
“Prancis.”
“Apa yang sebenarnya terjadi di Prancis?”
“Ente kan tahu. Prancis yang nahnu kenal dengan wangi parfumnya, mempunyai cita rasa seni selangit yang tertuang dalam kemegahan bangunan, lukisan dan desain rancangan baju yang mereka ciptakan. Ternyata Prancis tidak bisa menahan amarah sebagian rakyatnya yang hidup di bawah kemiskinan. Ah.. masak ente lupa. Kerusuhan yang terjadi di Prancis adalah kerusuhan yang terbesar setelah terjadinya kerusuhan pada tahun 1968. Pahadal pemicunya sederhana, hanya bermula dari dua pemuda yang dikejar oleh polisi kemudian kedua pemuda tersebut bersembunyi dan tersengat aliran listrik lalu mati,” kata Kang Jalil menjelaskan.

“Pemicu kerusuhan di Prancis tersebut,” lanjut Kang Jalil sambil ngambil posisi duduk agak kebelakang biar bisa bersandar tembok, maklum Kang Jalil pungungnya
pernah cedera lantaran jatuh terpeleset lari ngejar shalat jamaah. “Ceritanya hampir sama dengan yang terjadi di Indonesia. Dimulai dari kejadian Ambon, Poso, dan GAM yang pemicu awalnya sepele, namun persoalan intinya adalah gejala sosial yang tidak jauh dari kemiskinan dan ketidakadilan.”
“Wah, ente sekarang kok ekstrim begini ngamati fenomena, jangan-jangan ente sudah kerasukan virus terorisme,” canda Kang Abid.
“Coba ente amati, ternyata ada fenomena menarik soal teroris ini. Dulu terorisme itu katagori gerakan bawah tanah, sekarang tidak. Buku karangan Imam Samudra dengan mudah didapat di toko-toko, bahkan di masjid-masjid. Ini artinya adalah terorisme selain sebagai sebuah faham dan keyakinan, ternyata terorisme terbuka untuk mengundang orang lain mengikuti. Iya toh, Ditemukannya Video Cakram Padat yang berisi latihan membuat bom, latihan perang-perangan, telah membuat kekhawatiran polisi. Mungkin barang tersebut telah menyebar seantero Nusantara. Jika ini yang terjadi, betapa banyak pasukan yang siap melakukan bunuh diri demi jihad. Ente kan baca Tempo interaktif kemarin, bahwa sumber intelijen menyebut sekurangnya ada sekitar 14 personel pengebom bunuh diri yang sewaktu-waktu siap beraksi. Para bomber bunuh diri yang sering disandikan sebagai pengantin itu pernah dibaiat di daerah Jepara dan Kudus. Sebelumnya mereka digembleng di sebuah pesantren di Jawa Tengah dan Jawa Barat. Pasangan pengantin itu disaring melalui seleksi yang super ketat. Pernah direkrut bomer bunuh diri 19 orang, mereka lalu dikirim ke Banten untuk menjalani pendadaran. Eh, ternyata hanya empat orang yang lolos.” Kang Jalil semangat nyerocos menyampaikan apa yang dia tahu.
“Terus?” Kata Kang Abid penasaran.
Nah, kalau ditarik benang merah, teroris itu sungguh komplek latar belakangnya, mungkin karena pemahaman idiologi yang salah, kebuntuan sahwat politik,
ketidak-adilan, pemiskinan struktural, pemberontakan pada hegomoni negara adikuasa dan atau sekedar sensasi.”
Terus penyelesaiannya gimana?”
Sekarang harus duduk satu meja, jangan hanya para kyai yang punya pesantren saja yang dibuat binggung dan ditanyai yang macem-macem, Para politisi, ekonom, birokrat dan semua yang pegang kebijakan ikut bertanggung jawab atas semua ini. Mereka harus menyatukan tekad ndandani Indonesia, bukan ndandani nasib, golongan dan keturunan. Jika begini insya Allah teroris dan terorisme selesai dengan sendirinya.”
Sambil manggut-manggut, Kang Abid membenarkan apa yang disampaikan Kang Jalil, sekaligus kali ini Kang Abid mengagumi Kang Jalil yang banyak lebih tahu.
(aba_abid)


Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

Pin It on Pinterest