<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Jejak Utama Archives - Pondok Pesantren Langitan</title>
	<atom:link href="https://langitan.net/category/jejak-utama/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://langitan.net/category/jejak-utama/</link>
	<description>Widang, Tuban, Jawa Timur</description>
	<lastBuildDate>Tue, 13 Aug 2024 03:10:28 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.1</generator>

<image>
	<url>https://langitan.net/wp-content/uploads/2020/03/cropped-logo-langitan-net-32x32.png</url>
	<title>Jejak Utama Archives - Pondok Pesantren Langitan</title>
	<link>https://langitan.net/category/jejak-utama/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Gus Qoyyum Akan Isi Ceramah di Haul Akbar Langitan ke-54: Simak Biografinya</title>
		<link>https://langitan.net/gus-qoyyum-akan-isi-ceramah-di-haul-akbar-langitan-ke-54-simak-biografinya/</link>
					<comments>https://langitan.net/gus-qoyyum-akan-isi-ceramah-di-haul-akbar-langitan-ke-54-simak-biografinya/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 13 Aug 2024 02:54:21 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Jejak Utama]]></category>
		<category><![CDATA[biografi gus qoyyum]]></category>
		<category><![CDATA[Gus Qoyyum]]></category>
		<category><![CDATA[haul 54]]></category>
		<category><![CDATA[Haul Akbar Langitan ke-54]]></category>
		<category><![CDATA[haul langitan]]></category>
		<category><![CDATA[KH. Abdul Qoyyum Mansur]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langitan.net/?p=224864</guid>

					<description><![CDATA[<p>Langitan, Widang, Tuban, 10 Shafar 1446 H / 15 Agustus 2024 – Pondok Pesantren Langitan mengajak para santri, alumni, muhibbin dan seluruh elemen masyarakat untuk menghadiri acara haul yang akan diadakan pada hari Kamis, 15 Agustus 2024. Acara ini nantinya akan diisi dengan ceramah dari KH. Abdul Qoyyum Mansur, atau yang lebih dikenal dengan Gus [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://langitan.net/gus-qoyyum-akan-isi-ceramah-di-haul-akbar-langitan-ke-54-simak-biografinya/">Gus Qoyyum Akan Isi Ceramah di Haul Akbar Langitan ke-54: Simak Biografinya</a> appeared first on <a href="https://langitan.net">Pondok Pesantren Langitan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_224865" style="width: 1034px" class="wp-caption alignnone"><img fetchpriority="high" fetchpriority="high" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-224865" class="wp-image-224865 size-large" src="https://langitan.net/wp-content/uploads/2024/08/WhatsApp-Image-2024-08-13-at-06.19.35-1024x576.jpeg" alt="" width="1024" height="576" srcset="https://langitan.net/wp-content/uploads/2024/08/WhatsApp-Image-2024-08-13-at-06.19.35-1024x576.jpeg 1024w, https://langitan.net/wp-content/uploads/2024/08/WhatsApp-Image-2024-08-13-at-06.19.35-300x169.jpeg 300w, https://langitan.net/wp-content/uploads/2024/08/WhatsApp-Image-2024-08-13-at-06.19.35-768x432.jpeg 768w, https://langitan.net/wp-content/uploads/2024/08/WhatsApp-Image-2024-08-13-at-06.19.35-1080x607.jpeg 1080w, https://langitan.net/wp-content/uploads/2024/08/WhatsApp-Image-2024-08-13-at-06.19.35.jpeg 1366w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><p id="caption-attachment-224865" class="wp-caption-text"><strong>Foto</strong>:  KH. Abdul Qoyyum Mansur, atau Gus Qoyyum saat mengisi ceramah di Pondok Pesantren Sunan Giri Salatiga. (Sumber foto: Hasil Screenshoot di Kanal Youtube Sunan Giri Salatiga)</p></div>
<p><strong>Langitan, Widang, Tuban, 10 Shafar 1446 H / 15 Agustus 2024</strong> – Pondok Pesantren Langitan mengajak para santri, alumni, muhibbin dan seluruh elemen masyarakat untuk menghadiri acara haul yang akan diadakan pada hari Kamis, 15 Agustus 2024. Acara ini nantinya akan diisi dengan ceramah dari KH. Abdul Qoyyum Mansur, atau yang lebih dikenal dengan Gus Qoyyum, seorang ulama kharismatik dan pengasuh Pesantren An-Nur Lasem, Kabupaten Rembang.</p>
<h3>Biografi Singkat KH. Abdul Qoyyum Mansur (Gus Qoyyum)</h3>
<p>KH. Abdul Qoyyum Mansur, lebih akrab disapa Gus Qoyyum, adalah sosok ulama yang sangat dikenal karena kepiawaiannya dalam bidang agama dan dedikasinya yang mendalam terhadap pesantren dan dakwah. Beliau lahir sebagai putra dari KH. Mansur Kholil, pengasuh Pesantren An-Nur di Lasem. Setelah wafatnya sang ayah pada tahun 2002, Gus Qoyyum meneruskan tongkat estafet kepemimpinan pesantren tersebut dengan penuh tanggung jawab.</p>
<p><strong>Latar Belakang Keluarga</strong></p>
<p>Keluarga Gus Qoyyum memiliki sejarah panjang dalam dunia keagamaan. Ayahnya, KH. Mansur Kholil, adalah pengasuh Pesantren An-Nur Lasem, sedangkan kakek dari pihak ayah, KH. Kholil (Masyhuri), dikenal sebagai teman akrab KH. Hasyim Asyari dan berperan aktif dalam pendirian Nahdlatul Ulama (NU) di Surabaya. Ibu Gus Qoyyum adalah kakak kandung almarhum KH. Sahal Mahfudz, seorang tokoh penting dalam NU dan Ketua Umum MUI Pusat. Sementara itu, kakek dari pihak ibu, KH. Mafudz, adalah ulama terkemuka di wilayah Pati, dan Mbah Mutamakkin, dari pihak ibu, merupakan ulama serta tokoh penting dalam khazanah keislaman dan ketasawufan.</p>
<p><strong>Pendidikan dan Karier</strong></p>
<p>Meskipun Gus Qoyyum tidak menyelesaikan pendidikan formal di Sekolah Dasar dan tidak pernah mondok di pesantren lain, beliau memperoleh pendidikan agama secara langsung dari sang ayah. Dengan bimbingan ayahnya, beliau menguasai kitab-kitab induk dan tafsir dengan mendalam, menunjukkan kemampuannya dalam bidang tersebut.</p>
<p><strong>Prestasi dan Kegiatan</strong></p>
<p>Gus Qoyyum dikenal sebagai hafidz Qur’an sejak usia muda, sebuah pencapaian yang menonjol dalam karier keagamaannya. Beliau juga aktif mengajar kitab-kitab induk di berbagai bidang seperti tafsir, hadis, tasawuf, fikih, dan gramatika Arab kepada santri senior di Lasem. Sejak menjadi pengasuh Pesantren An-Nur Lasem pada tahun 2002, beliau telah berperan penting dalam menjaga dan mengembangkan pesantren tersebut.</p>
<p>Kegiatan dakwah Gus Qoyyum tidak hanya terbatas di pesantren, melainkan juga mencakup berbagai kota di Jawa Timur dan Jawa Tengah. Beliau sering diundang untuk memberikan nasihat pernikahan, mengisi pengajian umum, dan tabligh akbar. Gaya berceramahnya yang khas serta materi ceramah yang berbobot membuat beliau sangat disukai dan dihormati oleh masyarakat.</p>
<p><strong>Kehidupan Pribadi dan Keistimewaan</strong></p>
<p>Gus Qoyyum dikenal dengan kecerdasannya yang sering dianggap sebagai ilmu laduni. Beliau menekankan bahwa kemampuan ini diperoleh melalui proses belajar yang tekun dan disiplin tinggi, dengan model sorogan kepada ayahnya. Keistimewaan dan dedikasinya dalam bidang keagamaan menjadikannya sebagai salah satu ulama yang berpengaruh dan dihormati di kalangan masyarakat.</p>
<p><strong>Penutup</strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sebagai informasi, acara haul ini akan menjadi momentum penting dalam memperingati haul al-Maghfurlah Syaikhina KH. Abdul Hadi Zahid ke-54, Syaikhina KH. Ahmad Marzuqi Zahid ke-25, Syaikhina KH. Abdullah Faqih ke-13, Syaikhina KH. Abdullah Munif Marzuqi ke-1, bersama seluruh keluarga Masyayikh PP. Langitan. Kehadiran Gus Qoyyum diharapkan dapat memberikan inspirasi dan pencerahan kepada seluruh hadirin.</span></p>
<p><strong>Sumber:</strong></p>
<ul>
<li style="font-weight: 400;" aria-level="1"><span style="font-weight: 400;">soearamoeria.com</span></li>
<li style="font-weight: 400;" aria-level="1"><span style="font-weight: 400;">khazanahpopuler.com</span></li>
</ul>
<p><strong>Penulis: </strong>Mahirur Riyadl</p>
<p><strong>Editor: </strong>M. Abdullah Al Faiq</p>
<p>The post <a href="https://langitan.net/gus-qoyyum-akan-isi-ceramah-di-haul-akbar-langitan-ke-54-simak-biografinya/">Gus Qoyyum Akan Isi Ceramah di Haul Akbar Langitan ke-54: Simak Biografinya</a> appeared first on <a href="https://langitan.net">Pondok Pesantren Langitan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://langitan.net/gus-qoyyum-akan-isi-ceramah-di-haul-akbar-langitan-ke-54-simak-biografinya/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Habib Umar Al-Muthohar Akan Kembali Mengisi Ceramah di Haul Langitan ke-54: Simak Biografinya</title>
		<link>https://langitan.net/habib-umar-al-muthohar-akan-kembali-mengisi-ceramah-di-haul-langitan-ke-54-simak-biografinya/</link>
					<comments>https://langitan.net/habib-umar-al-muthohar-akan-kembali-mengisi-ceramah-di-haul-langitan-ke-54-simak-biografinya/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 13 Aug 2024 01:49:19 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Jejak Utama]]></category>
		<category><![CDATA[biografi habib umar al muthohar]]></category>
		<category><![CDATA[haul 54]]></category>
		<category><![CDATA[Haul Akbar Langitan ke-54]]></category>
		<category><![CDATA[haul langitan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langitan.net/?p=224859</guid>

					<description><![CDATA[<p>Haul Akbar Pondok Pesantren Langitan akan digelar pada hari Kamis 10 Shafar 1446 H atau bertepatan tanggal 15 Agustus 2024. Salah satu penceramah terkemuka yang akan mengisi ceramah pada haul ini adalah Habib Umar Al-Muthohar, seorang ulama dan tokoh agama terkemuka dari Semarang. Habib Umar Al-Muthohar dikenal luas karena kontribusinya dalam dakwah dan bimbingan keagamaan, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://langitan.net/habib-umar-al-muthohar-akan-kembali-mengisi-ceramah-di-haul-langitan-ke-54-simak-biografinya/">Habib Umar Al-Muthohar Akan Kembali Mengisi Ceramah di Haul Langitan ke-54: Simak Biografinya</a> appeared first on <a href="https://langitan.net">Pondok Pesantren Langitan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_224860" style="width: 1034px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-224860" class="wp-image-224860 size-large" src="https://langitan.net/wp-content/uploads/2024/08/WhatsApp-Image-2024-08-13-at-08.26.53-1024x682.jpeg" alt="Biografi Habib Umar Al Muthohar" width="1024" height="682" srcset="https://langitan.net/wp-content/uploads/2024/08/WhatsApp-Image-2024-08-13-at-08.26.53-1024x682.jpeg 1024w, https://langitan.net/wp-content/uploads/2024/08/WhatsApp-Image-2024-08-13-at-08.26.53-300x200.jpeg 300w, https://langitan.net/wp-content/uploads/2024/08/WhatsApp-Image-2024-08-13-at-08.26.53-768x512.jpeg 768w, https://langitan.net/wp-content/uploads/2024/08/WhatsApp-Image-2024-08-13-at-08.26.53-1536x1023.jpeg 1536w, https://langitan.net/wp-content/uploads/2024/08/WhatsApp-Image-2024-08-13-at-08.26.53-1080x720.jpeg 1080w, https://langitan.net/wp-content/uploads/2024/08/WhatsApp-Image-2024-08-13-at-08.26.53.jpeg 1600w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><p id="caption-attachment-224860" class="wp-caption-text"><strong>Foto</strong>: Habib Umar Al Muthohar saat mengisi ceramah di Haul Akbar Langitan ke-53 pada Kamis, (31/8/2023)</p></div>
<p><strong>Haul Akbar </strong><span style="font-weight: 400;"><strong>Pondok Pesantren Langitan</strong> akan digelar pada hari Kamis 10 Shafar 1446 H atau bertepatan tanggal 15 Agustus 2024. </span><span style="font-weight: 400;">Salah satu penceramah terkemuka yang akan mengisi ceramah pada haul ini adalah Habib Umar Al-Muthohar, seorang ulama dan tokoh agama terkemuka dari Semarang. Habib Umar Al-Muthohar dikenal luas karena kontribusinya dalam dakwah dan bimbingan keagamaan, serta pengabdiannya dalam berbagai kegiatan sosial dan keagamaan di Indonesia.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Habib Umar Al Muthohhar juga merupakan penceramah yang istikamah, beliau selalu hadir untuk memberikan ceramah pada setiap acara haul di Pondok Pesantren Langitan. </span></p>
<h3><strong>Biografi Singkat Habib Umar Al-Muthohar</strong></h3>
<p><span style="font-weight: 400;">Habib Umar Al-Muthohar lahir di Semarang pada hari Jumat Wage, 30 September 1960. Sejak kecil, beliau telah mendapatkan pendidikan agama dari ayahnya, Habib Ahmad bin Idrus. Pendidikan agama beliau terus berkembang dengan mengaji kepada berbagai ulama, termasuk Ustadz Abu Bakar bin Abdurrahman Alaydrus, Kiai Abdul Hamid Darat, Habib Muhammad As-Segaf, dan Habib Luthfi bin Yahya.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Beliau memulai pendidikan formal di SD Yayasan Badan Wakaf Semarang dan melanjutkan ke Pondok Pesantren Darun Nasyiin di Lawang, Malang, yang diasuh oleh Habib Muhammad bin Husein Ba’Abud. Setelah itu, beliau melanjutkan pendidikan di Sekolah Persiapan Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Semarang, yang kemudian berganti nama menjadi Madrasah Aliyah Negeri (MAN) pada tahun 1977. Selanjutnya, beliau menempuh pendidikan di Fakultas Hukum Universitas Diponegoro, Semarang.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Selain pendidikan formal, Habib Umar aktif dalam berbagai organisasi keagamaan seperti IPNU, GP Ansor, dan PMII, di mana beliau memegang berbagai posisi penting. Beliau juga pernah menjabat sebagai Ketua Dewan Kode Etik Penasehat Hukum Indonesia Jawa Tengah dan Mustasyar NU Jawa Tengah. Saat ini, beliau menjabat sebagai Plt. Mundzir JATMAN (Jam&#8217;iyyah Thoriqoh al-Mu&#8217;tabaroh An-Nahdliyyah) Indonesia.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Habib Umar dikenal karena aktivitas dakwahnya yang intens di seluruh Indonesia, termasuk di kota-kota besar dan wilayah-wilayah yang lebih terpencil. Di Semarang, beliau mengasuh majlis taklim Al Madinah dan mengisi pengajian rutin di berbagai tempat. Karya dan prestasi beliau dalam bimbingan keagamaan, baik di tingkat lokal maupun nasional, menjadikannya sebagai salah satu tokoh yang sangat dihormati di komunitas Muslim Indonesia.</span></p>
<div id="attachment_224868" style="width: 1034px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-224868" class="wp-image-224868 size-large" src="https://langitan.net/wp-content/uploads/2024/08/WhatsApp-Image-2024-08-13-at-09.43.19-1024x576.jpeg" alt="" width="1024" height="576" srcset="https://langitan.net/wp-content/uploads/2024/08/WhatsApp-Image-2024-08-13-at-09.43.19-1024x576.jpeg 1024w, https://langitan.net/wp-content/uploads/2024/08/WhatsApp-Image-2024-08-13-at-09.43.19-300x169.jpeg 300w, https://langitan.net/wp-content/uploads/2024/08/WhatsApp-Image-2024-08-13-at-09.43.19-768x432.jpeg 768w, https://langitan.net/wp-content/uploads/2024/08/WhatsApp-Image-2024-08-13-at-09.43.19-1080x608.jpeg 1080w, https://langitan.net/wp-content/uploads/2024/08/WhatsApp-Image-2024-08-13-at-09.43.19.jpeg 1280w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><p id="caption-attachment-224868" class="wp-caption-text"><strong>Foto:</strong> Panitia Haul Akbar Langitan-54 berfoto bersama Habib Umar Al Muthohar di kediaman beliau.</p></div>
<h3><strong>Penutup</strong></h3>
<p><span style="font-weight: 400;">Acara haul akbar ini diharapkan tidak hanya menjadi momen untuk memperingati dan menghormati para Masyayikh, tetapi juga sebagai kesempatan untuk memperkuat tali silaturahmi dan meningkatkan semangat dalam melanjutkan perjuangan dakwah para ulama terdahulu. Kehadiran Habib Umar Al-Muthohar sebagai penceramah di acara ini diharapkan dapat memberikan inspirasi dan keberkahan bagi seluruh jamaah yang hadir.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;"><strong>Sumber</strong>:</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Mustaghfiri Asror, Islahul. </span><em><span style="font-weight: 400;">Implementasi Penggerakan Dakwah (Tawjih) Habib Umar Al-Muthohar di Kota Semarang</span></em><span style="font-weight: 400;"><em>.</em> Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang, 2021.</span><em><a href="https://eprints.walisongo.ac.id/id/eprint/18593/1/SKRIPSI%20_Mustaghfiri_1601036081_MD.pdf"> <span style="font-weight: 400;">https://eprints.walisongo.ac.id/id/eprint/18593/1/SKRIPSI%20_Mustaghfiri_1601036081_MD.pdf</span></a></em></p>
<p><strong>Penulis: </strong>Mahir Riyadl</p>
<p>The post <a href="https://langitan.net/habib-umar-al-muthohar-akan-kembali-mengisi-ceramah-di-haul-langitan-ke-54-simak-biografinya/">Habib Umar Al-Muthohar Akan Kembali Mengisi Ceramah di Haul Langitan ke-54: Simak Biografinya</a> appeared first on <a href="https://langitan.net">Pondok Pesantren Langitan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://langitan.net/habib-umar-al-muthohar-akan-kembali-mengisi-ceramah-di-haul-langitan-ke-54-simak-biografinya/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Syaikhina KH. Abdullah Munif Marzuqi MZ: Jalan Sunyi Sang Sufi</title>
		<link>https://langitan.net/syaikhina-kh-abdullah-munif-marzuqi-mz-jalan-sunyi-sang-sufi/</link>
					<comments>https://langitan.net/syaikhina-kh-abdullah-munif-marzuqi-mz-jalan-sunyi-sang-sufi/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 08 Jul 2024 09:10:40 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Jejak Utama]]></category>
		<category><![CDATA[jalan sunyi sang sufi]]></category>
		<category><![CDATA[KH. Abdullah Munif Marzuqi]]></category>
		<category><![CDATA[lahir]]></category>
		<category><![CDATA[menikah]]></category>
		<category><![CDATA[Wafat]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langitan.net/?p=224617</guid>

					<description><![CDATA[<p>Dari generasi ke generasi, Pondok Pesantren Langitan telah menelurkan puluhan bahkan ratusan ribu santri. Hal tersebut tak mungkin ada tanpa bimbingan seorang pengasuh. Dari yang pertama sekaligus pendiri, KH. Muhammad Nur, kemudian KH.Ahmad Sholeh, KH. Muhammad Khozin, KH. Abdul Hadi, KH. Ahmad Marzuqi, KH. Abdullah Faqih, dan kini diserahkan kepada kepengasuhan kolektif menjadi Majelis Masyayikh. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://langitan.net/syaikhina-kh-abdullah-munif-marzuqi-mz-jalan-sunyi-sang-sufi/">Syaikhina KH. Abdullah Munif Marzuqi MZ: Jalan Sunyi Sang Sufi</a> appeared first on <a href="https://langitan.net">Pondok Pesantren Langitan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_224618" style="width: 683px" class="wp-caption aligncenter"><img loading="lazy" loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-224618" class="wp-image-224618 size-large" src="https://langitan.net/wp-content/uploads/2024/07/WhatsApp-Image-2024-07-08-at-14.23.11-673x1024.jpeg" alt="" width="673" height="1024" srcset="https://langitan.net/wp-content/uploads/2024/07/WhatsApp-Image-2024-07-08-at-14.23.11-673x1024.jpeg 673w, https://langitan.net/wp-content/uploads/2024/07/WhatsApp-Image-2024-07-08-at-14.23.11-197x300.jpeg 197w, https://langitan.net/wp-content/uploads/2024/07/WhatsApp-Image-2024-07-08-at-14.23.11-768x1169.jpeg 768w, https://langitan.net/wp-content/uploads/2024/07/WhatsApp-Image-2024-07-08-at-14.23.11-1009x1536.jpeg 1009w, https://langitan.net/wp-content/uploads/2024/07/WhatsApp-Image-2024-07-08-at-14.23.11.jpeg 1051w" sizes="(max-width: 673px) 100vw, 673px" /><p id="caption-attachment-224618" class="wp-caption-text"><strong>Jalan Sunyi Sang Sufi: </strong>Biografi Al Maghfurlah Syaikhina KH. Abdullah Munif Marzuqi MZ.</p></div>
<p><span style="font-weight: 400;">Dari generasi ke generasi, Pondok Pesantren Langitan telah menelurkan puluhan bahkan ratusan ribu santri. Hal tersebut tak mungkin ada tanpa bimbingan seorang pengasuh. Dari yang pertama sekaligus pendiri, KH. Muhammad Nur, kemudian KH.Ahmad Sholeh, KH. Muhammad Khozin, KH. Abdul Hadi, KH. Ahmad Marzuqi, KH. Abdullah Faqih, dan kini diserahkan kepada kepengasuhan kolektif menjadi Majelis Masyayikh.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Majelis Masyayikh tersebut berisikan 7 masyayikh Pondok Pesantren Langitan, yaitu: KH. </span>Abdullah Munif Marzuqi, KH. Ubaidillah Faqih, KH. Muhammad Ali Marzuqi, KH. <span style="font-weight: 400;">Muhammad Faqih, KH. Abdullah Habib Faqih, KH. Abdurrahman Faqih, dan KH. Ma’shum </span><span style="font-weight: 400;">Faqih. Namun, saat awal bulan Muharram 1445 H kemarin, takdir melakukan tugasnya, </span><span style="font-weight: 400;">KH. Abdullah Munif Marzuqi yang merupakan masyayikh tertua dari masyayikh yang lain itu </span><span style="font-weight: 400;">dipanggil oleh Sang Kuasa. Ribuan manusia mengalirkan air mata atas kepergiannya.</span></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Kelahiran </strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sabtu, 23 Januari 1954 M/ 18 Jumadil Ula 1373 H lahir sosok bayi dari pasangan bahagia KH. Ahmad Marzuqi Zahid dan Nyai Halimah Zaini. Ia diberi nama dengan Abdullah Munif, dan diikuti dengan sandaran nama ayahnya, menjadi Abdullah Munif Marzuqi. Beliau merupakan putra ketiga dari sembilan bersaudara, yakni: Ning Khalifah (meninggal saat kecil), Nyai Muflihah, KH. Abdullah Munif, Nyai Faizah, KH. Muhammad Ali, Nyai Mahmudah, Nyai Nihayatus Sa’adah, Nyai Shofiyah, dan Nyai Masrurah. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Masa kecil beliau tumbuh di lingkungan religius Pondok Pesantren Langitan. Beliau belajar kepada KH. Abdul Hadi Zahid (selaku paman yang mengasuh pondok kala itu), KH. Ahmad Marzuqi Zahid (ayah beliau), dan juga kepada KH. Abdullah Faqih (sepupu).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sebagai putra seorang kiai, Kiai Ahmad Marzuqi mewariskan gen cinta ilmu pada Kiai Munif, hingga kemudian mengantarkannya meneruskan studinya di beberapa pesantren. Kiai Munif mengawali perjalanan itu ke arah barat menuju Pondok Pesantren Al-Hidayah Lasem yang saat itu diasuh KH. Ma’shum. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Di sini, Kiai Munif sering kali mengalami telat kiriman. Terkadang kirimannya terlebih dahulu dititipkan kepada sopir bus yang menuju ke sana. “Pernah abah cerita itu dititipkan ke sopir bis. Jadi saking tawakkalnya Mbah Mad, sangu itu dititipkan,” kenang Gus Zahid. Meskipun akhirnya sampai, hal tersebut menjadi salah satu faktor telatnya kiriman beliau. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Beliau kemudian bertolak menuju Pondok Pesantren Al-Falah Ploso-Kediri di bawah asuhan KH. Djazuli. Di sana beliau menimba ilmu kurang lebih selama 3 tahun terhitung sejak 1975 hingga 1978 M. Di tiga pesantren inilah−Langitan, Lasem dan Ploso−beliau mendalami ilmu gramatika bahasa Arab seperti Alfiyah, dan beberapa fan ilmu lainnya.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Menurut penuturan Kiai Idris Hamid Pasuruan, KH. Abdullah Munif juga sering kali mondok pasaran (saat Ramadhan) kepada abahnya, yaitu Mbah Hamid Pasuruan. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kurang puas untuk melepas dahaga keilmuan, di tahun 1981 M Kiai Munif kemudian berangkat ke Mekkah untuk berguru kepada Abuya Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki Al-Hasani di Rushaifah. Beliau belajar sekaligus membantu bersih-bersih ndalem dan seringkali memijat sang guru. Selama hampir 4 tahun, Kiai Munif menimba ilmu dari sosok ulama terkemuka itu.</span></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Menikah </strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sepulang dari Mekkah, KH. Munif Marzuqi kembali ke pesantren Langitan. Kemudian saat usia 31 tahun, KH. Abdullah Munif menikah dengan Ibu Nyai Lilik Qurratul Ishaqiyah (putri KH. Minanurrahman Al-Ishaqi Jatipurwo Surabaya). Setelah beliau melamar Ibu Nyai Qur 2 tahun sebelumnya. Saat itu Kiai Minan tidak menolak lamaran Kiai Munif, namun hanya menyarankan mencari lagi jodoh yang lebih siap.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Di dalam pencariannya, Kiai Munif mendapatkan isyarah dengan bermimpi mendapatkan ikan Mas yang sangat bagus saat memancing, namun sayang ikan tersebut terlepas. Dalam hati Kiai Munif, “Ah, mungkin nanti datang sendiri.” Dan ternyata betul, ikan Mas itu tiba-tiba meloncat masuk ke perahu beliau. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ini merupakan bentuk isyarah beliau dalam mendapatkan Ibu Nyai Qur, karena selang beberapa waktu, Kiai Munif dipanggil dan ditanya oleh Kiai Minan, “Piye, wes entuk jodoh dorong?” “Dereng,” jawab Kiai Munif. Dari situ kemudian akhirnya Kiai Munif dijodohkan kembali dengan putri Kiai Minan.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Saat istikharah terkait perjodohan Kiai Munif, Kiai Minan bermimpi melihatnya membawa kitab dan mengelilingi langgar (mushala) yang di dalamnya banyak orang mengaji. Entah kenapa, akhirnya istikharah itu mengantarkan Kiai Minan pada persetujuan.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Terdapat satu kisah populer yang sebenarnya belum diketahui pasti apa maksudnya, di mana saat wafatnya KH. Abdul Hadi Zahid, KH. Utsman Al-Ishaqi (kakek Ibu Nyai Qur) datang berziarah ke Pondok Pesantren Langitan. Saat bersalaman, Kiai Munif yang saat itu berusia 17 tahun kemudian diberi karet gelang oleh Kiai Utsman, meski tidak diketahui tujuannya, karet gelang itu tetap disimpan oleh Kiai Munif hingga menikah. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kepada sang istri dan menantunya (Ning Indah Ashilah), Kiai Munif sering menceritakan perihal cerita itu. Karet gelang pemberian Kiai Utsman ini disimpan dalam sampul buku hingga lengket dan baru ditunjukkan oleh beliau setelah menikah. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">KH. Abdullah Munif Marzuqi kemudian dikaruniai 7 keturunan, yaitu: Ning Laily Dzatinnuha, Ning Arinil Haqqa, Agus Muhammad Zahid Hasbullah, Ning Robi’ah, Agus Muhammad Shofwatul Haq, Ning Salwa Khodijah dan terakhir Agus Ahmad Abdul Basith.</span></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Peran </strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam urusan Madrasah di Langitan, Kiai Munif mewarisi peranan abah dan pamannya dalam menggagas Madrasah Al Falahiyah. Pertama-tama beliau mendapat amanah menjaga keuangan madrasah, dengan menjadi bendahara. Kemudian naik menjadi kepala sekolah. Hingga wafatnya, Kiai Munif tercatat menjabat sebagai Mudir atau Direktur Madrasah Al-Falahiyah. Di mana, setiap perubahan dan kebijakan yang ada dalam madrasah, terlebih dahulu dimusyawarahkan dan dipertimbangkan bersama beliau.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam urusan infrastruktur pondok, KH. Munif pun mempunyai perhatian lebih. Mulai dari bangunan asrama, gorong-gorong, sampai kepada sirkulasi air dan listrik. Semuanya tak luput untuk diperhatikan. Dalam setiap pembangunan atau renovasi, Kiai Munif diminta menjadi penasihat atau rujukannya, seperti Darul Furqon, Ribath Al-Bukhori, Madrasah Al-Falahiyah, Kantor Aam, dsb.</span></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Wafat </strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Bumi Langitan berselimut duka kala sang tercinta dijemput ajalnya. Kamis, 20 Juli 2023 M/ 2 Muharram 1445 H pukul 15.55 WIB, pondok terbesar di Tuban itu kehilangan sosok pengasuhnya, KH. Abdullah Munif Marzuqi. Beliau wafat di usia 69 tahun menurut penanggalan Masehi dan usia 71 tahun menurut penanggalan Hijriah, setelah dirawat di Rumah Sakit Holistic Purwakarta.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Jenazah beliau dishalati di Mushala Agung PP. Langitan hingga 10 gelombang. Puluhan ribu pelayat, habaib, ulama, dan tokoh nasional lainnya ikut melayat dan turut berduka cita atas kepergian beliau. Puluhan ribu manusia tumpah ruah mengiringi jenazah KH. Abdullah Munif Marzuqi menuju peristirahatan terakhirnya, hingga jalan nasional Lamongan -Tuban berdampak ditutup.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kurang lebih selama satu tahun setengah beliau sering pulang-pergi ke rumah sakit. Meski sebetulnya setengah tahun itu beliau sudah sakit tapi tetap ditahan. Kiai Munif memang tipe orang yang tidak suka dan tidak betah di rumah sakit. Sekalipun dokter menawarkan rawat inap, beliau meminta untuk rawat jalan di rumah. Namun akhirnya di akhir masa hidup beliau, tiba-tiba beliau sendiri yang menginginkan untuk dirawat di Purwakarta sebagaimana saran KH. Ahmad Tajul Mafakhir (Pengasuh PP. Roudlotul Muttaqin), mengingat KH. Masbuchin Faqih (Pengasuh PP. Mambaus Sholihin) yang juga pernah dirawat di sana.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Saat Gus Mad (putra beliau) pulang dari Purwakarta, Kiai Munif mengijazahkan wirid yang beliau dapatkan dari Abuya. Kamis pagi saat Kiai Munif masuk ICU, para santri diminta untuk ikut membacakan wirid tersebut. Sebelumnya, Kiai Munif pernah berkata pada keluarganya, “Aku kalau sudah Kamis (atau) Jumat, itu sudah siap.”</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Tanggal 17 Mei, Kiai Munif meminta Gus Zahid dan Gus Mad untuk menuliskan wasiat-wasiatnya, seperti warisan dan lainnya. Kiai Munif juga telah mengumpulkan keluarganya, berwasiat untuk selalu bertakwa, Wattaqullaha haitsuma kunta, selalu guyub rukun, dan senantiasa berhusnuzan.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Penulis: M. Abdullah Al Faiq</span></p>
<p>Sumber: Majalah Langitan Edisi 107</p>
<p>The post <a href="https://langitan.net/syaikhina-kh-abdullah-munif-marzuqi-mz-jalan-sunyi-sang-sufi/">Syaikhina KH. Abdullah Munif Marzuqi MZ: Jalan Sunyi Sang Sufi</a> appeared first on <a href="https://langitan.net">Pondok Pesantren Langitan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://langitan.net/syaikhina-kh-abdullah-munif-marzuqi-mz-jalan-sunyi-sang-sufi/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Al-Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafidz akan Kunjungi Indonesia, Simak Biografi Beliau di Sini!</title>
		<link>https://langitan.net/al-habib-umar-bin-muhammad-bin-salim-bin-hafidz-akan-kunjungi-indonesia-simak-biografi-beliau-di-sini/</link>
					<comments>https://langitan.net/al-habib-umar-bin-muhammad-bin-salim-bin-hafidz-akan-kunjungi-indonesia-simak-biografi-beliau-di-sini/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 02 Aug 2023 06:43:34 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Jejak Utama]]></category>
		<category><![CDATA[Al-Habib Umar bin Hafidz ke indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[biografi]]></category>
		<category><![CDATA[biografi habib umar]]></category>
		<category><![CDATA[habib umar]]></category>
		<category><![CDATA[perjalanan dakwah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langitan.net/?p=224110</guid>

					<description><![CDATA[<p>Al-Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafidz Tarim, Hadramaut, Yaman akan berkunjung ke Indonesia di bulan Agustus tahun ini. Kabar kedatangan beliau banyak diberitakan melalui beberapa akun media sosial. Di antaranya adalah akun Instagram resmi Pondok Pesantren Langitan, @menaralangitan. Disebutkan agenda beliau di Indonesia akan berjalan selama 5 hari yang terhitung sejak tanggal 19 [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://langitan.net/al-habib-umar-bin-muhammad-bin-salim-bin-hafidz-akan-kunjungi-indonesia-simak-biografi-beliau-di-sini/">Al-Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafidz akan Kunjungi Indonesia, Simak Biografi Beliau di Sini!</a> appeared first on <a href="https://langitan.net">Pondok Pesantren Langitan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_224114" style="width: 1290px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-224114" class="wp-image-224114 size-full" src="https://langitan.net/wp-content/uploads/2023/08/WhatsApp-Image-2023-08-02-at-13.34.23.jpeg" alt="" width="1280" height="720" srcset="https://langitan.net/wp-content/uploads/2023/08/WhatsApp-Image-2023-08-02-at-13.34.23.jpeg 1280w, https://langitan.net/wp-content/uploads/2023/08/WhatsApp-Image-2023-08-02-at-13.34.23-300x169.jpeg 300w, https://langitan.net/wp-content/uploads/2023/08/WhatsApp-Image-2023-08-02-at-13.34.23-1024x576.jpeg 1024w, https://langitan.net/wp-content/uploads/2023/08/WhatsApp-Image-2023-08-02-at-13.34.23-768x432.jpeg 768w, https://langitan.net/wp-content/uploads/2023/08/WhatsApp-Image-2023-08-02-at-13.34.23-1080x608.jpeg 1080w" sizes="(max-width: 1280px) 100vw, 1280px" /><p id="caption-attachment-224114" class="wp-caption-text">Foto: Al-Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafidz Tarim, Hadramaut, Yaman.</p></div>
<p><span style="font-size: 16px;">Al-Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafidz Tarim, Hadramaut, Yaman akan berkunjung ke Indonesia di bulan Agustus tahun ini.</span></p>
<p>Kabar kedatangan beliau banyak diberitakan melalui beberapa akun media sosial. Di antaranya adalah akun Instagram resmi Pondok Pesantren Langitan, @menaralangitan.</p>
<p>Disebutkan agenda beliau di Indonesia akan berjalan selama 5 hari yang terhitung sejak tanggal 19 Agustus 2023 sampai pada tanggal 23 Agustus 2023.</p>
<p>Oleh sebab itu, supaya bisa mengenal lebih dalam tentang beliau, kami menyusun biografi singkat Al-Habib Umar bin Hafidz yang bisa dibaca di bawah ini!</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Masa Kecil</strong></p>
<p>Al-Habib Umar bin Hafidz lahir di Tarim, Hadramaut, Yaman pada 27 Mei 1963 dengan nama asli Umar bin Muhammad bin Hafidz. Beliau adalah keturunan ke-39 dari Rasulullah saw.</p>
<p>Ayah beliau bernama Habib Muhammad bin Salim bin Hafidz, seorang Mufti Mazhab Syafi’i di kota Tarim pada saat itu.</p>
<p>Sementara kedua kakek Habib Umar, Al-Habib Salim bin Hafidz dan Al Habib Hafidz bin Abdullah adalah intelektual Islam yang dihormati pada masanya.</p>
<p>Masa kecil Habib Umar mendapatkan pendidikan secara langsung oleh ayah beliau, Habib Muhammad bin Salim. Terdapat cerita unik saat Habib Umar kecil dididik ayahnya.</p>
<p>Pada saat Habib Umar baru berusia 7 tahun, beliau diharuskan oleh sang ayah untuk secara istikamah melakukan shalat sunah Tahajud. Kegiatan ini dilaksanakan beliau sampai merasa terkantuk-kantuk.</p>
<p>Suatu ketika ada seorang tamu menanyakan perihal hal tersebut, menurutnya pendidikan semacam itu belum pantas diterapkan kepada Habib Umar yang masih kecil.</p>
<p>“Anakmu terlalu kecil, kasihan! Umurnya belum pantas melaksanakan ibadah semacam ini,” ujar tamu tersebut.</p>
<p>Lalu dengan menatap Habib Umar, ayah beliau berkata kepada tamunya, “Anda akan menjadi saksi, tunggulah dan lihat, akan jadi apa anak ini di kemudian hari?”</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Pendidikan</strong></p>
<p>Sebagaimana disebutkan di atas, bahwa masa pendidikan Habib Umar sudah dimulai sejak umur belia, yang mana beliau mendapat pendidikan secara langsung dari ayah Habib Umar sendiri.</p>
<p>Banyak ilmu yang sudah didapat selama belajar bersama ayah beliau, di antaranya adalah ilmu fikih, hadis dan bahasa Arab. Selain itu, juga ilmu-ilmu spiritual keagamaan seperti tasawuf dan dzikir.</p>
<p>Tetapi pendidikan bersama sang ayah harus berhenti pada usia beliau yang baru menginjak 9 tahun. Karena ada suatu kejadian yang menyedihkan menimpa Habib Umar kecil. Saat itu, tepat pada tahun 1972, ayah beliau diculik oleh orang-orang komunis yang berkuasa di Yaman Selatan.</p>
<p>Pada waktu itu, orang-orang komunis tersebut gencar-gencarnya menekan dakwah para ulama, mengintimidasi dan menculik mereka, termasuk di antaranya adalah ayah beliau. Hingga saat ini, keberadaan ayah beliau masih belum diketahui, Habib Umar kecil hanya bisa menangis saat ditinggal sang ayah.</p>
<p>Setelah kepergian sang ayah, Habib Umar tetap melanjutkan perjalanan pendidikannya, tetapi hal ini dilakukan secara sembunyi-sembunyi, karena rezim komunis masih memegang kekuasaan secara penuh. Di bawah ini bisa disimak guru-guru yang pernah mendidik beliau di masa itu.</p>
<ul>
<li>Al-Habib Muhammad bin Alwi bin Syihab,</li>
<li>Al-Munshib Al-Habib Ahmad bin Ali bin Syekh Abu Bakar,</li>
<li>Al-Habib Ibrahim bin Agil bin Yahya (di Kota Taiz – Yaman),</li>
<li>Al-Habib Imam Abdul Qadir bin Ahmad Assegaf,</li>
<li>Habib Abdullah bin Syeikh Alaydrus,</li>
<li>Habib Abdullah bin Hasan Bilfaqih,</li>
<li>Habib Umar bin Alwi Al-Kaff,</li>
<li>Habib Ahmad bin Hasan Al-Haddad,</li>
<li>Habib Ali Al-Masyhur bin Muhammad bin Salim bin Hafidz,</li>
<li>Habib Salim bin Abdullah Asy-Syatiri,</li>
<li>Syeikh Al-Mufti Fadhl bin Abdurrahman Ba Fadhl,</li>
<li>Syeikh Taufiq Aman.</li>
</ul>
<p>Selain di tanah Yaman, Habib Umar juga mencari ilmu kepada ulama-ulama di Haramain sekaligus menunaikan ibadah Haji. Di antara para ulama yang pernah disinggahi Habib Umar untuk belajar di sana adalah</p>
<ul>
<li>Habib Abdulqadir bin Ahmad Assegaf,</li>
<li>Habib Ahmad Masyhur bin Thaha Al-Haddad,</li>
<li>Habib Abu Bakar Al-Atthas bin Abdullah Al-Habsyi,</li>
<li>Al-Musnid Syeikh Muhammad Yasin Al-Fadani,</li>
<li>Muhadditsul Haramain Sayyid Muhammad bin Alwi Al-Maliki.</li>
</ul>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Mengajar dan Berdakwah</strong></p>
<p>Saat berusia 15 tahun, Habib Umar sudah dipercaya menjadi pengajar di samping terus belajar dari para gurunya. Lalu pada usia ke-17 tahun, tepat pada tahun 1981 beliau pindah ke kota Al Bayda, Yaman Utara.</p>
<p>Hal ini karena persekusi rezim komunis di Yaman Selatan semakin membabi buta, mereka menyiksa dan membunuh para ulama. Menutup madrasah dan melarang segala hal yang berhubungan dengan Islam. Kepindahan Habib Umar di kota ini terjadi selama sebelas tahun. Beliau belajar, mengajar, dan menikah di kota ini.</p>
<p>Di kota ini pula, Habib Umar membuat forum kajian yang menarik perhatian para pemuda dari kota Al Bayda, Al Hudaydah (Yaman bagian barat) dan Ta’izz (Yaman bagian barat).</p>
<p>Pada pertengahan tahun 1990, Habib Umar pindah dari Al Bayda ke Oman untuk mengajar dan berdakwah di sana. Lalu pada tahun 1992 beliau pindah ke kota Al-Shihr, Ibu Kota Provinsi Hadramaut. Di kota ini Habib Umar juga mengajar dan berdakwah.</p>
<p>Selanjutnya pada tahun 1994, beliau kembali ke kota Tarim dan merintis pendirian Pondok Pesantren Darul Musthafa yang resmi dibuka pada tahun 1997. Bertambah banyaknya santri, terutama santri yang perempuan, akhirnya pada tahun 2001 didirikan Darul Zahra yang secara khusus mendidik para santri perempuan.</p>
<p>Seiring berkembangnya Pondok Pesantren Darul Musthafa, Habib Umar juga semakin aktif melakukan dakwahnya secara global. Hal ini menjadikan lingkup dakwah Habib Umar tidak terbatas di wilayah Arab dan Timur Tengah saja, tetapi menjadi lintas benua seperti Australia, Asia Tenggara, hingga Eropa.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Berkunjung ke Indonesia</strong></p>
<p>Kunjungan dan dakwah Habib Umar di Indonesia sendiri sudah dimulai sejak tahun 1994 dan rutin sampai saat ini. Awal kedatangan Habib Umar ke Indonesia adalah pada tahun 1994 saat diutus oleh Al-Habib Abdul Qadir bin Ahmad Assegaf yang berada di Jeddah untuk mengingatkan dan menggugah ghirah (semangat atau rasa kepedulian) para Alawiyyin Indonesia.</p>
<p>Dilansir dari laman resmi Nu Online bahwa perintah itu disebabkan sebelumnya ada keluhan dari Habib Anis bin Alwi al-Habsyi seorang ulama dan tokoh asal Kota Solo, Jawa Tengah tentang keadaan para Alawiyyin di Indonesia yang mulai jauh dan lupa akan nilai-nilai ajaran para leluhurnya.</p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<div class="et_pb_with_border et_pb_module et_pb_text et_pb_text_0_tb_body  et_pb_text_align_left et_pb_bg_layout_light">
<div class="et_pb_text_inner"><a href="https://langitan.net/habib-umar-akan-ke-indonesia-bulan-agustus-ini-catat-jadwalnya/"><span style="color: #008000;">Habib Umar akan ke Indonesia Bulan Agustus Ini, Catat Jadwalnya!</span></a></div>
</div>
<div class="et_pb_module et_pb_text et_pb_text_1_tb_body  et_pb_text_align_left et_pb_bg_layout_light"></div>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Berdirinya Majelis Al-Muwasholah</strong></p>
<p>Kegiatan silaturahmi dan dakwah Habib Umar di Indonesia yang semakin rutin, serta selama berkunjung beliau sering bertemu dan berkumpul dengan para ulama untuk membahas permasalahan umat, akhirnya pada tahun 2006 beliau memberi isyarah bahwa pada kunjungan yang akan datang, tepatnya di bulan Muharram 1428 H, akan digagas sebuah majelis sebagai forum yang dapat menjadi sarana bertemu dan bertukar pikiran para ulama.</p>
<p>Majelis tersebut bernama Majelis Muwasholah Baina Ulama atau biasa dikenal dengan Forum Silaturrahmi antar Ulama yang diresmikan pada Kamis 8 Februari 2007 M /20 Muharram 1428 H di Wisma DPR RI Cisarua, Bogor, Jawa Barat.</p>
<p>Tujuan utama dari majelis tersebut adalah menyatukan para ulama dalam menyampaikan amar makruf nahi munkar agar mereka punya kesatuan kata dan visi. Dan tidak menjadikan dakwah Islamiyyah sebagai alat politik, tujuan duniawi, atau hal serupa itu. Murni hanya untuk melanjutkan risalah para Nabi <em>shallallahu ‘alaihim ajma’iin.</em></p>
<p>Pembentukan majelis ini bukanlah gagasan Al-Habib Umar bin Hafidz seorang. Melainkan berasal dari keinginan dan saran para ulama. Beliau hanya memfasilitasi dan memediasi saja.</p>
<p>Beliau menyatakan para ulama yang mempunyai latar belakang yang berbeda -aliran, mazhab atau organisasi- tidaklah menjadi penghalang untuk bergabung dalam majelis tersebut.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Berkunjung ke PP. Langitan</strong></p>
<div id="attachment_224112" style="width: 650px" class="wp-caption aligncenter"><img loading="lazy" loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-224112" class="wp-image-224112 size-full" src="https://langitan.net/wp-content/uploads/2023/08/WhatsApp-Image-2023-08-02-at-13.35.17.jpeg" alt="" width="640" height="480" srcset="https://langitan.net/wp-content/uploads/2023/08/WhatsApp-Image-2023-08-02-at-13.35.17.jpeg 640w, https://langitan.net/wp-content/uploads/2023/08/WhatsApp-Image-2023-08-02-at-13.35.17-300x225.jpeg 300w" sizes="(max-width: 640px) 100vw, 640px" /><p id="caption-attachment-224112" class="wp-caption-text">Foto: Al Habib Umar bin Hafidz saat berkunjung ke PP. Langitan pada Kamis, (31/1/2008). Tampak dalam foto tersebut Al Habib Umar bin Hafidz (kiri), Almaghfurlah KH. Abdullah Faqih (tengah) dan KH. Abdullah Habib Faqih (kanan).</p></div>
<p>Tercatat Habib Umar bin Hafidz pernah berkunjung ke Pondok Pesantren Langitan sebanyak 2 kali, pertama pada  hari Kamis, tanggal 31 Januari pada tahun 2008. Dan kedua pada hari Sabtu 22 November 2014.</p>
<p>Dalam kunjungannya yang kedua di Pondok Pesantren Langitan, Habib Umar bin Hafidz menghadiri acara Multaqo Ulama yang diadakan oleh Majelis Muwasholah Baina Ulama al-Muslimin yang dihadiri oleh ulama-ulama dari berbagai negara.</p>
<p>Penulis: Mahirur Riyadl</p>
<p>Editor: Abdulloh Al-Faiq</p>
<p>The post <a href="https://langitan.net/al-habib-umar-bin-muhammad-bin-salim-bin-hafidz-akan-kunjungi-indonesia-simak-biografi-beliau-di-sini/">Al-Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafidz akan Kunjungi Indonesia, Simak Biografi Beliau di Sini!</a> appeared first on <a href="https://langitan.net">Pondok Pesantren Langitan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://langitan.net/al-habib-umar-bin-muhammad-bin-salim-bin-hafidz-akan-kunjungi-indonesia-simak-biografi-beliau-di-sini/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Mengenang Sang Raja Sanubari Habib Mundzir Al-Musawwa dan Kunjungannya di Pon. Pes. Langitan</title>
		<link>https://langitan.net/mengenang-sang-raja-sanubari-habib-mundzir-al-musawwa-dan-kunjungannya-di-pon-pes-langitan/</link>
					<comments>https://langitan.net/mengenang-sang-raja-sanubari-habib-mundzir-al-musawwa-dan-kunjungannya-di-pon-pes-langitan/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 23 Feb 2023 13:33:45 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Jejak Utama]]></category>
		<category><![CDATA[Habib Mundzir Al-Musawwa]]></category>
		<category><![CDATA[majelis rasulullah]]></category>
		<category><![CDATA[Manaqib]]></category>
		<category><![CDATA[maulid]]></category>
		<category><![CDATA[Sulthonul Qulub]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langitan.net/?p=223597</guid>

					<description><![CDATA[<p>Hari ini tepat tanggal 23 Februari di tahun 1973 lahir seorang ulama besar yang kelak dakwahnya dikenal santun dan menyejukkan. Bahkan sang guru mulia, Habib Umar bin Hafidz, Hadramaut sampai menjulukinya ‘Sulthonul Qulub’ (Sang Raja Sanubari), lantaran lembutnya karakter ulama tersebut dalam berdakwah, sehingga hati siapapun akan luluh saat mendengarkan ceramahnya. Ulama besar yang dimaksud [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://langitan.net/mengenang-sang-raja-sanubari-habib-mundzir-al-musawwa-dan-kunjungannya-di-pon-pes-langitan/">Mengenang Sang Raja Sanubari Habib Mundzir Al-Musawwa dan Kunjungannya di Pon. Pes. Langitan</a> appeared first on <a href="https://langitan.net">Pondok Pesantren Langitan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><img loading="lazy" loading="lazy" decoding="async" class="alignnone wp-image-223598 size-large" src="https://langitan.net/wp-content/uploads/2023/02/WhatsApp-Image-2023-02-23-at-17.56.00-1024x819.jpg" alt="" width="1024" height="819" srcset="https://langitan.net/wp-content/uploads/2023/02/WhatsApp-Image-2023-02-23-at-17.56.00-1024x819.jpg 1024w, https://langitan.net/wp-content/uploads/2023/02/WhatsApp-Image-2023-02-23-at-17.56.00-300x240.jpg 300w, https://langitan.net/wp-content/uploads/2023/02/WhatsApp-Image-2023-02-23-at-17.56.00-768x614.jpg 768w, https://langitan.net/wp-content/uploads/2023/02/WhatsApp-Image-2023-02-23-at-17.56.00-1080x864.jpg 1080w, https://langitan.net/wp-content/uploads/2023/02/WhatsApp-Image-2023-02-23-at-17.56.00.jpg 1350w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Hari ini tepat tanggal 23 Februari di tahun 1973 lahir seorang ulama besar yang kelak dakwahnya dikenal santun dan menyejukkan. Bahkan sang guru mulia, Habib Umar bin Hafidz, Hadramaut sampai menjulukinya </span><em><span style="font-weight: 400;">‘Sulthonul Qulub</span></em><span style="font-weight: 400;"><em>’</em> (Sang Raja Sanubari), lantaran lembutnya karakter ulama tersebut dalam berdakwah, sehingga hati siapapun akan luluh saat mendengarkan ceramahnya.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ulama besar yang dimaksud adalah al-Habib Mundzir bin Fuad Al Musawwa. beliau dilahirkan di Cipanas, Cianjur, Jawa Barat pada 23 Februari 1973. (Sumber lain mengatakan 1972). </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sebagaimana ditunjukkan oleh namanya, beliau adalah seorang Habib, atau keturunan Rasulullah Saw. Nasab beliau hingga Rasulullah Saw. hanya terpisah 37 keturunan. Habib Mundzir ini merupakan anak keempat dari lima bersaudara. Dari pasangan Habib Fuad bin Abdurrahman Al-Musawwa dan Rahmah binti Hasyim Al-Musawwa. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam pendidikan, Habib Mundzir pernah menamatkan Sekolah  Menengah Atas (SMA). Setelah itu, beliau melanjutkan ke Ma’had Assafaqah Bukit Duri, Tebet, Jakarta yang diasuh oleh Al-Habib Abdurrahman Assegaf untuk memperdalam ilmu Syariat. Selanjutnya, beliau mengambil kursus bahasa Arab di  LPBA Assalafy Jakarta Timur.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Pada tahun 1992, beliau melanjutkan perjalanan ilmiahnya di  Ma’had Al-Khairat, Bekasi Timur yang diasuh oleh Al-Habib Muhammad Nagib bin Syekh Abu Bakr bin Salim. Dua tahun setelahnya, tepatnya pada tahun 1994 datanglah sang guru mulia Habib Umar bin Hafidz dalam rangka kunjungan ilmiah dan menjaring santri-santri untuk dikirim ke Ma’had Darul Musthafa Tarim. Salah satu santri yang dikirim untuk melanjutkan pendidikan di bawah asuhan sang guru mulia adalah Habib Mundzir Al-Musawwa.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Terdapat cerita menarik saat pengiriman Habib Mundzir ke Ma’had Darul Musthafa Tarim. Cerita ini diceritakan beliau sendiri di salah satu kesempatan. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Saat sang guru mulia selesai ceramahnya, tiba-tiba beliau memandang tajam ke arah Habib Mundzir muda.<em> &#8220;</em></span><em><span style="font-weight: 400;">Selepas beliau menyampaikan ceramah, beliau melirik saya dengan tajam, saya hanya menangis memandangi wajah sejuk itu</span></em><span style="font-weight: 400;"><em>”.</em> Ungkap Habib Mundzir. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kemudian pada saat Habib Umar memasuki mobil, beliau memanggil Habib Nagib bin Syeikh Abu Bakar (Guru Habib Mundzir) untuk meminta Habib Mundzir muda dikirim ke Tarim, Hadramaut, Yaman untuk menjadi muridnya. <em>“Lalu saat ia sudah naik ke mobil bersama almarhum Alhabib Umar maula khela, maka Guru Mulia memanggil Habib Nagib Bin Syeikh Abubakar, Guru mulia berkata bahwa &#8220;Beliau ingin saya dikirim ke Tarim Hadramaut, Yaman untuk belajar dan menjadi muridnya&#8221;</em> Lanjut Habib Mudzir. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Spontan, Habib Mundzir pun dipanggil Habib Nagib untuk bertemu secara langsung dengan Habib Umar di mobil. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Setelah Habib Mundzir datang dan bertemu beliau, Habib Mundzir ditanya siapa namanya menggunakan bahasa Arab. Habib Mundzir yang saat itu belum sempurna bahasa Arabnya dipandu Habib Nagib dalam menjawab pertanyaan sang guru mulia. <em>“Siapa namamu?, dalam bahasa arab tentunya, saya tak bisa menjawab karena tak paham, maka guru saya Habib Nagib menjawab : kau ditanya siapa namamu..!, maka saya jawab nama saya, lalu guru mulia tersenyum.&#8221;.</em> Terang Habib Mundzir.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Selepas kejadian tersebut, keesokan harinya Habib Mundzir muda kembali lagi bertemu dengan sang guru mulia Habib Umar di kediaman Almarhum Al-Habib Bagir Al-Attas. Di saat itu banyak para habaib dan ulama menawarkan anaknya dan muridnya untuk bisa menjadi murid Al-Habib Umar bin Hafidz. Di tengah ramainya para habaib dan ulama menawarkan anak dan muridnya, sang guru mulia melihat Habib Mundzir muda di kejauhan, lantas beliau berkata kepada almarhum Alhabib Umar maula khela,<em> “itu.. anak itu.. jangan lupa dicatat.., ia yang pakai peci hijau itu..!,&#8221;</em></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Selang dua bulan dari kejadian tersebut, Almarhum Al-Habib Umar Maula Khela datang ke pesantren dan mengajak Habib Mundzir muda ke Yaman saat itu juga. Akhirnya siap tidak siap, beliau pun akhirnya belajar ke Ma’had Darul Musthafa Tarim, Hadramaut di Bawah asuhan sang guru mulia Habib Umar bin hafidz.</span></p>
<p><strong>Jejak Dakwah Habib Mundzir</strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Usai menyelesaikan pendidikannya di Hadramaut, Habib Mundzir akhirnya kembali ke Indonesia pada tahun 1998. Kembalinya beliau ke Indonesia, bertepatan dengan runtuhnya rezim otoriter orde baru. Sebuah peristiwa yang melahirkan peristiwa-peristiwa dramatis seperti, krisis ekonomi, PHK, dan banyaknya pengangguran. Hal ini tentu saja melahirkan gelombang protes dari masyarakat secara luas, baik akademisi, rakyat biasa, hingga lembaga instansi pemerintah. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Oleh karena itu, Habib Mundzir diberi pesan oleh sang guru mulia agar tidak ikut mencampuri urusan politik yang sedang bergejolak tersebut. Maka dalam menjawab pesan gurunya, beliau mendirikan majelis yang saat ini dikenal dengan nama Majelis Rasulullah (MR).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sebelum berdiri majelis yang sekarang jaringannya telah melintas antar negara itu, Habib Mundzir mengawali dakwahnya sebagaimana para ulama besar di zaman dahulu, yaitu dimulai dari surau ke surau, antar mushala, hingga dari masjid ke masjid. Dalam setiap dakwahnya, selain mengajarkan tentang ilmu-ilmu agama, beliau juga membuka pembacaan maulid </span><em><span style="font-weight: 400;">dhiya’ul lami’</span><span style="font-weight: 400;">. </span></em></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Hal inilah yang menyebabkan para jamaah semakin bertambah banyak dalam waktu yang relatif singkat. Hingga pada akhirnya, beliau membuka dan menetapkan majelis beliau sendiri di Masjid Al-Munawwar.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Seiring berlalunya waktu dan semakin banyaknya jamaah yang hadir dalam majelis beliau, muncul sebuah ide untuk menamai majelis yang dibuka Habib Mundzir. Akhirnya beliau menetapkan nama majelis dengan nama Majelis Rasulullah, setelah sebelumnya beliau menolak usulan nama majelis dengan sebutan Majelis Habib Mundzir. Hingga saat ini Majelis Rasulullah telah berkembang pesat, tidak hanya lingkup nasional, tetapi juga Internasional. </span></p>
<p><strong>Teladan Habib Mundzir dalam Berdakwah</strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Salah satu alasan mengapa Habib Mundzir mempunyai banyak jamaah dalam waktu yang relatif singkat adalah tidak lain karena karakter beliau dalam berdakwah. Ketika berdakwah beliau mengutamakan cara yang lembut dan sejuk. Hal ini diakui oleh KH. Rakhmad Zailani Kiki, Ketua Pengurus Wilayah Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) NU DKI Jakarta. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;"><em>“Dakwahnya itu, tidak lain, tidak jauh dari urusan bagaimana memuliakan, bagaimana mengejawantahkan nilai-nilai kasih sayang agama Islam, dan teladan, cinta kasih, dan rahmatal lil alamin ”.</em> Jelas KH. Rakhmad seperti dikutip dari Liputan 6.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Selain itu, dalam berdakwah, Habib Mundzir juga tidak hanya sebatas retorika saja, tapi beliau juga mengimplementasikan ajaran dakwahnya di kehidupan pribadi beliau. Hal ini tidak jauh berbeda dengan karakter dakwah Rasulullah Saw. yang mana dalam berdakwah, beliau juga mengamalkan ajaran-ajaran yang disebarkannya di kehidupan sehari-hari. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ada suatu kisah yang dapat dijadikan teladan saat beliau sedang berdakwah. Suatu ketika sebelum habib Mundzir membuka majelis taklimnya di suatu Masjid, beliau selalu meminta izin terlebih dahulu kepada tetua di daerah masjid yang akan dibukakan majelis. Pada saat meminta izin, beliau tidak langsung memerintah secara arogan, tetapi beliau mengecup tangan tetua tersebut dengan penuh hormat, baru setelah itu, diungkapkanlah maksud kedatangan beliau. Perbuatan Habib Mundzir ini, menjadikan tetua yang dimintai izin roboh dan menangis. Tetua tersebut mengatakan, jangankan sampai dicium tangannya. Sebagai seorang preman yang ditakuti, yang kerap datang kerumahnya adalah para preman. Tapi saat itu ketika Habib Munzir memohon izin untuk mengadakan majelis taklim di situ, alih-alih dilakukan dengan cara kasar preman itu pun kemudian dirangkul olehnya hingga ia kemudian rajin mengikuti pengajian sang habib.</span></p>
<p><strong>Kisah Ketawadhuan Habib Mundzir</strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kisah ini diceritakan oleh Syaikh Kholil, santri Ma’had Darul Musthafa Tarim, Hadramaut. Pada bulan Desember 2012, beliau diajak Habib Umar bin Hafidz ke Indonesia. Dan itulah kali pertama bertemu dengan Habib Mundzir.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Saat Habib Umar telah kembali ke Yaman, beliau punya waktu tiga hari untuk tinggal di Jakarta. Tetapi oleh Habib Mundzir, beliau disarankan agar tinggal lebih lama lagi di sana, yaitu selama 6 bulan. Oleh karena itu, Habib Mundzir pun meminta izin sang guru mulia agar mengizinkan Syaikh Khalil di Jakarta lebih lama lagi.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam meminta izin, Habib Mundzir menghubungi Habib Umar lewat telepon. Saat sudah terdengar suara Habib Umar di seberang. Spontan, beliau langsung langsung menggeser kursinya, jatuh berlutut dengan kedua tangannya terangkat ke atas dan berkata<em> “Ya Maulana, bagaimana saya dapat melayani tuan…”</em></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Melihat Habib Mundzir seperti itu, Syaikh Khalil pun terkesima atas tingginya rasa takzim Habib Mundzir kepada gurunya.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;"><em>“Saya begitu terkesima melihat adegan itu. Betapa takzimnya Habib Munzir terhadap gurunya. Beliau menyebut Habib Umar sebagai ‘Maulana’ yaitu tuan atau yang mulia”.</em> Terang Syaikh Khalil.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;"><em>“Dia menelpon untuk meminta izin namun yang pertama dia ucapkan adalah bagaimana ia dapat melayani Habib Umar. Saya tidak akan pernah lupa momen itu selama hidup saya. Saya tidak pernah melihat cinta dan bakti seorang murid yang begitu dalam. Itulah Habib Munzir. Seorang yang memiliki cinta dan pengabdian yang murni.”</em> Lanjut beliau.</span></p>
<div id="attachment_223601" style="width: 556px" class="wp-caption aligncenter"><img loading="lazy" loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-223601" class="wp-image-223601" src="https://langitan.net/wp-content/uploads/2023/02/IMG_99771-300x197-2.jpg" alt="" width="546" height="359" /><p id="caption-attachment-223601" class="wp-caption-text">Foto: Habib Mundzir bin Fuad Al-Musawa sedang memberikan tausiah kepada para santri di Musholla Agung PP. Langitan (11/1/2012).</p></div>
<p><strong>Habib Mundzir di Langitan</strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Di tengah kesibukan dakwah beliau, Habib Mundzir pernah menyempatkan waktunya mengunjungi Pondok Pesantren Langitan. Peristiwa ini terjadi pada 11 Januari 2012. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kedatangan beliau, disambut langsung Al-Maghfurlah KH. Abdulloh Faqih yang saat itu masih sugeng dan keluarga. selain itu, beliau juga memberikan tausiah kepada para santri di Musholla Agung PP. Langitan.</span></p>
<p><strong>Wafat</strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Habib Mundzir wafat pada tanggal 15 September 2013 pukul 15.30 WIB. setelah sebelumnya dinyatakan mengalami serangan jantung. Semoga kita bisa meneladani perjalanan hidup beliau. Al-Fatihah. </span></p>
<p>(Mahirur Riyadl)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>The post <a href="https://langitan.net/mengenang-sang-raja-sanubari-habib-mundzir-al-musawwa-dan-kunjungannya-di-pon-pes-langitan/">Mengenang Sang Raja Sanubari Habib Mundzir Al-Musawwa dan Kunjungannya di Pon. Pes. Langitan</a> appeared first on <a href="https://langitan.net">Pondok Pesantren Langitan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://langitan.net/mengenang-sang-raja-sanubari-habib-mundzir-al-musawwa-dan-kunjungannya-di-pon-pes-langitan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kiai Quhwanul Adib Munawwar Kholil; Sufi Humoris Yang Dirindukan</title>
		<link>https://langitan.net/kiai-quhwanul-adib-munawwar-kholil-sufi-humoris-yang-dirindukan/</link>
					<comments>https://langitan.net/kiai-quhwanul-adib-munawwar-kholil-sufi-humoris-yang-dirindukan/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 12 Nov 2022 01:11:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Jejak Utama]]></category>
		<category><![CDATA[Biografi KH. Quhwanul Adib]]></category>
		<category><![CDATA[Haul KH. Adib]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langitan.net/?p=223301</guid>

					<description><![CDATA[<p>Nama lengkap beliau adalah KH. Quhwanul Adib Munawwar Kholil, salah satu Masyayikh dan A’wan Pondok Pesantren Langitan, yang dikenal faqih, sufi, dan humoris. Tiga hal itu melekat dalam kepribadian beliau dan menjadi semacam penanda dalam ingatan siapapun, baik murid maupun teman sejawat, yang membuat beliau senantiasa dirindukan dan abadi dalam kenangan. Membalah Kitab-kitab Besar Kiai [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://langitan.net/kiai-quhwanul-adib-munawwar-kholil-sufi-humoris-yang-dirindukan/">Kiai Quhwanul Adib Munawwar Kholil; Sufi Humoris Yang Dirindukan</a> appeared first on <a href="https://langitan.net">Pondok Pesantren Langitan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_223305" style="width: 2570px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-223305" class="wp-image-223305 size-full" src="https://langitan.net/wp-content/uploads/2022/11/MG_0549-1-scaled.jpg" alt="" width="2560" height="1707" srcset="https://langitan.net/wp-content/uploads/2022/11/MG_0549-1-scaled.jpg 2560w, https://langitan.net/wp-content/uploads/2022/11/MG_0549-1-300x200.jpg 300w, https://langitan.net/wp-content/uploads/2022/11/MG_0549-1-1024x683.jpg 1024w, https://langitan.net/wp-content/uploads/2022/11/MG_0549-1-768x512.jpg 768w, https://langitan.net/wp-content/uploads/2022/11/MG_0549-1-1536x1024.jpg 1536w, https://langitan.net/wp-content/uploads/2022/11/MG_0549-1-2048x1365.jpg 2048w, https://langitan.net/wp-content/uploads/2022/11/MG_0549-1-1080x720.jpg 1080w" sizes="(max-width: 2560px) 100vw, 2560px" /><p id="caption-attachment-223305" class="wp-caption-text">Almaghfurlah (kiri) bersama KH. Abdullah Habib Faqih (Tengah) dan KH. Abdullah Munif Marzuki (Kanan).</p></div>
<p>Nama lengkap beliau adalah KH. Quhwanul Adib Munawwar Kholil, salah satu Masyayikh dan A’wan Pondok Pesantren Langitan, yang dikenal faqih, sufi, dan humoris. Tiga hal itu melekat dalam kepribadian beliau dan menjadi semacam penanda dalam ingatan siapapun, baik murid maupun teman sejawat, yang membuat beliau senantiasa dirindukan dan abadi dalam kenangan.</p>
<p><strong>Membalah Kitab-kitab Besar</strong><br />
Kiai Adib lahir di Grobogan, 25 Juli 1964, putra dari pasangan KH. Munawwar Kholil dan Nyai Hj. Maslamah. Ayah beliau adalah pendiri Pondok Pesantren Al-Maram, Manduran, Grobogan, Jawa Tengah. Desa Manduran ditengarai sebagai salah satu basis penting penyebaran Agama Islam di Jawa Tengah, melalui keberadaan makam Syaikh Kafiluddin, yang setiap tahun dirayakan haulnya secara besar-besaran oleh masyarakat sekitar.</p>
<p>Kiai Adib, selain ditempa agama oleh kedua orang tuanya juga nyantri di Pondok Pesantren Al-Fadhlu wal Fadhilah, Kaliwungu, Jawa Tengah dan merupakan salah satu santri kinasih Mbah Dimyati Rois, Ulama Sepuh Jawa Tengah. Gus Adib muda diambil menantu oleh KH. Abdullah Faqih Langitan untuk dijodohkan dengan Ning Hanifah, dan diboyong untuk menjadi pengajar di Pondok Pesantren Langitan sampai akhir hayatnya.</p>
<p>Sejak bermukim di Pondok Pesantren Langitan, beliau sudah dikenal alim dan bahkan langsung dipercaya oleh pengasuh untuk membacakan kitab-kitab besar (syarah-hasyiyah), kitab-kitab tebal yang membutuhkan pemahaman dan penguasaan mendalam terhadap ilmu alat, juga referensi dari kitab-kitab lain. Kemampuan itu pula yang memungkinkan beliau dengan enteng saja menguraikan simpul-simpul mati dari persoalan fiqh yang rumit, dan menyampaikannya dalam bahasa yang mudah dicerna oleh para pendengarnya.</p>
<p>Sebelum menikah beliau sempat melakukan berbagai perjalanan ilmiah yang salah satunya tabarukan dari satu pesantren ke pesantren lain untuk mengaji dan mendapatkan sanad dari kiai-kiai terkemuka tanah Jawa. Dari perjalanan itu beliau menghatamkan tidak kurang dari 180 kitab. Bahkan, beliau diketahui pernah menghatamkan 70 kitab matan selama Ramadhan di Pondok Pesantren Sarang. Dari ratusan kitab itu, menghatamkan kitab babon Madzhab Syafi’i, al-Muhadzdzab sebanyak tiga kali.</p>
<p>Di Pondok Pesantren Langitan, beliau menjadi salah satu kiai rujukan dalam persoalan fiqh kontekstual, nama beliau tercantum sebagai pengasuh rubrik konsultasi agama pada Majalah Langitan, salah satu rubrik yang banyak mendapatkan atensi dari pembaca, terbukti dengan melimpahnya jumlah pertanyaan yang masuk ke meja redaksi setiap edisinya. Dalam rubrik tersebut, jawaban-jawaban yang beliau sampaikan terasa logis dan dapat diterima oleh hampir semua kalangan dan tetap berpakem pada literatur klasik yang menjadi rujukan ulama Ahlussunah wal Jamaah.</p>
<p><strong>Figur Ulama Akhirat</strong><br />
Dalam perjalanannya, Kiai Adib juga dipercaya untuk membacakan Kitab Ihya’ Ulumuddin kepada para santri dan alumni Pondok Pesantren Langitan dalam pengajian mingguan, menggantikan KH. Abdullah Faqih. Itu merupakan pilihan yang sangat tepat, karena kita tahu bahwa Kitab Ihya’ Ulumuddin adalah salah satu karya monumental Imam Al-Ghazali yang banyak membahas tentang seluk beluk penyucian jiwa dan pendidikan hati untuk menjadi ulama paripurna (kamil). Sedangkan, sudah jamak diketahui bahwa Kiai Adib adalah sosok kiai yang sederhana, baik dalam sikap maupun penampilan. Setinggi apapun keilmuan yang beliau miliki beliau tetap rendah hati. Sekali waktu, dalam pengajian Kitab Ihya’ Ulumuddin, beliau pernah menyampaikan bahwa beliau hanya diutus oleh KH. Abdullah Faqih untuk membacakan kitab, ada atau tidak ada yang datang untuk menyimak pengajian bukan menjadi masalah bagi beliau.</p>
<p>Dalam hal penampilan, kediaman dan kendaraan beliau pun relative sederhana, meskipun sebenarnya secara finansial beliau sangat bisa untuk lebih dari itu. Ringkas kata, beliau adalah pantulan ulama akhirat sebagaimana tercantum dalam kitab yang beliau baca setiap minggu.</p>
<p>Kiai Adib juga dikenal sebagai sosok yang hangat dan mudah akrab dengan siapapun. Pengetahuan beliau yang luas dan melingkupi segala macam topik serta pembahasan memungkinkan setiap perbincangan dengan beliau menjadi panjang dan tidak membosankan, lebih-lebih dengan pembawaannya yang humoris, beliau dapat merangkai setiap pembahasan menjadi humor lucu yang mengundang senyum.</p>
<p style="text-align: left;"><strong>Sufi Humoris yang Dirindukan</strong><br />
Salah satu ciri khas Kiai Adib dalam setiap pengajiannya adalah sisipan cerita lucu yang dapat mencairkan suasana. Seakan-akan beliau memiliki perbendaharan cerita lucu yang tidak ada habisnya untuk disampaikan. Cerita-cerita itu umumnya berasal dari literatur kitab klasik yang sepanjang hayat telah beliau akrabi.</p>
<p style="text-align: left;">
Cerita-cerita lucu tersebut tentunya bukan hanya dimaksudkan sebagai pencair suasana belaka. Sudah jamak diketahui bahwa kebanyakan para sufi menggunakan cerita dan bahkan tingkah pola yang lucu sebagai salah satu metode pembelajaran yang efektif. Karena bagaimanapun humor akan jauh lebih mudah dicerna oleh pikiran daripada rumusan hukum yang baku. Kita tahu, cerita lucu dapat menembus lapisan kesadaran seseorang dan mengikis resistensi.</p>
<p style="text-align: left;">
Selain itu, kita juga tahu, bahwa humor adalah salah satu tanda kejeniusan seseorang. Dalam khazanah sufistik dunia kita mengenal para pemikir besar yang menyampaikan buah pikirannya dengan cara yang jenaka, sebut saja misalnya Abu Nawas dan Nasruddin Hoja yang menjadi legenda. Di Indonesia sendiri kita mengenal KH. Abdurahman Wahid sebagai sosok kiai yang humoris dan jenaka. Atau Gus Bahak yang akhir-akhir ini viral. Mereka adalah raksasa-raksasa pemikiran yang namanya abadi sampai kapanpun.</p>
<p style="text-align: left;">
Kiai Adib demikian juga, beliau memiliki sense of humor yang tinggi, di samping kedalaman ilmu dan keluasan cakrawala pemikiran, sehingga tidak berlebihan untuk menyebut beliau sebagai salah satu sufi besar yang dimiliki oleh Pondok Pesantren Langitan. Beliau telah berpulang pada Hari Kamis 03 Desember 2020, meninggalkan ribuan kenangan yang abadi di benak kita semua.</p>
<p style="text-align: right;">(Muhammad Hasyim)</p>
<p>The post <a href="https://langitan.net/kiai-quhwanul-adib-munawwar-kholil-sufi-humoris-yang-dirindukan/">Kiai Quhwanul Adib Munawwar Kholil; Sufi Humoris Yang Dirindukan</a> appeared first on <a href="https://langitan.net">Pondok Pesantren Langitan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://langitan.net/kiai-quhwanul-adib-munawwar-kholil-sufi-humoris-yang-dirindukan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>KH. Quhwanul Adib Munawwar Kholil; Ulama Karismatik Pecinta Kitab klasik</title>
		<link>https://langitan.net/kh-quhwanul-adib-munawwar-kholil-ulama-karismatik-pecinta-kitab-klasik/</link>
					<comments>https://langitan.net/kh-quhwanul-adib-munawwar-kholil-ulama-karismatik-pecinta-kitab-klasik/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 11 Nov 2022 00:43:20 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Jejak Utama]]></category>
		<category><![CDATA[Biografi KH. Adib Munawwar]]></category>
		<category><![CDATA[Haul Yai Adib]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langitan.net/?p=223294</guid>

					<description><![CDATA[<p>&#160; Nama lengkap beliau adalah KH. Quhwanul Adib Munawwar Kholil, salah satu Masyayikh dan A&#8217;wan Pon. Pes. Langitan, yang dikenal Faqih, sufi, dan penekun kitab-kitab klasik. Dibawah ini akan disajikan biografi singkat beliau. &#160; Masa Kecil Beliau lahir di Grobogan, 25 Juli 1964 dari pasangan bahagia KH. Munawwar Kholil dan Nyai Hj Maslamah. Kiai Adib [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://langitan.net/kh-quhwanul-adib-munawwar-kholil-ulama-karismatik-pecinta-kitab-klasik/">KH. Quhwanul Adib Munawwar Kholil; Ulama Karismatik Pecinta Kitab klasik</a> appeared first on <a href="https://langitan.net">Pondok Pesantren Langitan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>&nbsp;</p>
<p><span style="font-weight: 400;"><img loading="lazy" loading="lazy" decoding="async" class="alignnone wp-image-223295 size-full" src="https://langitan.net/wp-content/uploads/2022/11/IMG-20200531-WA0067-01-01-1-1.jpeg" alt="" width="853" height="1280" srcset="https://langitan.net/wp-content/uploads/2022/11/IMG-20200531-WA0067-01-01-1-1.jpeg 853w, https://langitan.net/wp-content/uploads/2022/11/IMG-20200531-WA0067-01-01-1-1-200x300.jpeg 200w, https://langitan.net/wp-content/uploads/2022/11/IMG-20200531-WA0067-01-01-1-1-682x1024.jpeg 682w, https://langitan.net/wp-content/uploads/2022/11/IMG-20200531-WA0067-01-01-1-1-768x1152.jpeg 768w" sizes="(max-width: 853px) 100vw, 853px" /> </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Nama lengkap beliau adalah KH. Quhwanul Adib Munawwar Kholil, salah satu Masyayikh dan A&#8217;wan Pon. Pes. Langitan, yang dikenal Faqih, sufi, dan penekun kitab-kitab klasik. Dibawah ini akan disajikan biografi singkat beliau.</span></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Masa Kecil</strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Beliau lahir di Grobogan, 25 Juli 1964 dari pasangan bahagia KH. Munawwar Kholil dan Nyai Hj Maslamah. Kiai Adib dibesarkan di lingkungan religius Ayah beliau merupakan pendiri Pondok Pesantren. Al-Maram, Manduran, Grobogan, Jawa Tengah. Oleh karena itu, masa muda beliau dihabiskan untuk mengaji kepada sang ayah KH. Munawwar Kholil.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sejak kecil, Quhwanul Adib muda dikenal sebagai anak yang patuh terhadap kedua orang tua. Apapun yang dikatakan orang tuanya, ia pasti mematuhinya, terutama kepada ibu. Suatu saat, Quhwanul Adib muda ingin sekali berangkat mondok. Kehausannya akan ilmu membawanya ingin segera menimba ilmu di pesantren-pesantren lain. Namun, sang ayah, KH. Munawwar Kholil tidak mengizinkannya, sang ayah lebih memilih untuk mematangkan intelektualitas Quhwanul Adib muda terlebih dahulu sebelum ia berangkat mondok, dan Quhwanul Adib muda pun menurutinya. Hal itu terbukti, tahun demi tahun, kemampuan intelektualitas Quhwanul Adib muda bertambah, bahkan ia kerap kali menggantikan sang ayah untuk memimpin pengajian di depan masyarakat umum. Hingga pada umur 21 tahun, sang ayah mengizinkan Quhwanul Adib muda untuk memulai pengembaraan ilmunya ke pesantren-pesantren di pulau Jawa.</span></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Ber-tabarruk dari Satu Pesantren ke Pesantren Lain</strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Quhwanul Adib muda memulai pengembaraan ilmunya di Pondok Pesantren asuhan Kiai Abul Fadhol Senori Tuban, salah satu ulama Nusantara yang mendunia melalui karyanya. Beliau mengaji kepada Mbah Fadhol tidak lama, hanya sampai khatam kitab </span><em><span style="font-weight: 400;">Fath al-Qorb,</span></em><span style="font-weight: 400;"> setelah itu beliau melanjutkan pengembaraan ilmunya ke Pondok Pesantren Al-Fadhlu, Kaliwungu, Kendal asuhan KH Dimyathi Rois.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ada kisah unik sebelum KH. Quhwanul Adib memutuskan untuk mengaji kepada KH. Dimyathi Rois, sebagaimana diceritakan oleh Gus Abdur Rouf, putra beliau. Suatu saat, Quhwanul Adib muda sowan kepada KH. Dimyathi Rois. Namun, belum sempat berkata apa-apa KH. Dimyathi Rois sudah dapat membaca hati Kial Quhwanul Adib Mendapati hal itu, Quhwanul Adib muda pun mantap untuk melanjutkan pengembaraan ilmunya di PP. Al-Fadhlu, Kaliwungu.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Setelah bertahun-tahun beliau mondok di PP. Al-Fadhlu wal Fadhilah, Kaliwungu. Kiai Adib pun melanjutkan pengembaraan ilmunya dengan ber-</span><i><span style="font-weight: 400;">tabarruk</span></i><span style="font-weight: 400;"> dari satu pesantren ke pesantren lain di pulau Jawa. Di Jawa Timur, beliau bertabarruk di banyak pesantren mulai dari Paculgowang. Ngrangkok, Kwagean, Ringinagung, Blitar, Banyuwangi, Jombang. Tremas dan lain sebagainya. Menurut Gus Abdul Rouf saat bertabarruk di pesantren-pesantren di Jawa Timur, beliau mengkhatamkan sedikitnya 180 kitab diantaranya </span><em><span style="font-weight: 400;">Fath al-Qarib, Fath al-Muin, Fath al-Wahab, Muhaddzab, Mahalli, lqna, Sirajuth Thalibin, Minhaj al-Abidin, Riyadh ash Shalihin, Lubb al-Mashun, Jamul Jawami,</span></em><span style="font-weight: 400;"> dan lain sebagainya.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Di luar Jawa Timur bellau ber-</span><i><span style="font-weight: 400;">tabarruk</span></i><span style="font-weight: 400;"> di Sarang, Rembang, Lasem hingga Banten. Saat mondok kilatan Ramadhan di Sarang. beliau bahkan dapat mengkhatamkan 80 kitab matan.</span></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Dekat dengan KH. Dimyathi Rois</strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Semasa mondok di Kaliwungu, beliau adalah salah satu santri kinasih KH. Dimyathi Rois, kedekatan itu bahkan berlanjut hingga beliau pulang. Setiap Kiai Adib sowan ke Kaliwungu, pasti bertemu dengan KH. Dimyathi Rois.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Saat ber-</span><i><span style="font-weight: 400;">tabarruk</span></i><span style="font-weight: 400;"> di pesantren pesantren di Jawa Timur, beliau mengkhatamkan sedikitnya 180 kitab. Saat mondok kilatan Ramadhan di Sarang, beliau bahkan dapat mengkhatamkan 80 kitab matan.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Pada suatu saat, beliau sowan ke Kaliwungu pada jam 12 malam. Beliau diterima oleh putranya Mbah Dim. Mengetahui Mbah Dim sudah istirahat, beliau pun mengurungkan niatannya untuk sowan dan pamit pulang. Akan tetapi putranya Mbah Dim menolak dan berkata, </span><span style="font-weight: 400;">&#8220;Cak, Sampeyan ojo muleh sek. Nek Sampeyan muleh aku sing diseneni Abah soale nek Sampeyan mrene kudu petuk Abah. Abah nggelek’i Sampeyan. (Cak, kamu jangan pulang dulu. Kalau kamu pulang aku yang dimarahi Abah, soalnya kalau kamu kesini harus bertemu Abah. Abah pasti mencarimu)&#8221;.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Akhirnya, beliau pun tidak jadi pulang dan mengobrol dengan putranya Mbah Dim tadi sampai subuh, hingga akhirnya beliau bisa sowan kepada Mbah Dim.</span></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Mencintai Kitab</strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kial Adib adalah sosok yang sangat mencintai kitab. Kecintaan beliau terhadap kitab sudah terpupuk sejak muda. Saat menimba ilmu di berbagai pesantren, beliau seringkali menjadi bahan ejekan teman-temannya karena tidak pernah mengganti baju. Beliau hanya punya dua baju, saat yang satu dipakai, yang satunya lagi dicuci untuk dipakai di kemudian hari, begitu seterusnya. Bekal yang diberikan ayahnya beliau habiskan untuk membeli kitab. Beliau mempunyai prinsip: lebih baik mendahulukan membeli kitab, daripada membeli baju bagus atau kebutuhan lain. Saat diejek teman-temannya, beliau selalu menanamkan dalam hati: </span><em><span style="font-weight: 400;">&#8220;Gak popo aku diejek, ancen iki prinsipku, luweh ndisekno duwe kitab daripada liyane, insyaAllah barokah. (Tidak apa- apa aku diejek, ini memang prinsipku, lebih mendahulukan kitab daripada kebutuhan lain, insyaAllah barakah.)&#8221;</span></em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Menjadi Menantu KH. Abdullah Faqih</strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kealiman, ketawadhuan, dan kesederhanaan beliau membuatnya diangkat menjadi menantu oleh KH. Abdullah Faqih. Beliau lalu dinikahkan dengan Ny. Hj. Hanifah kemudian diboyong untuk menjadi pengajar di Pondok Pesantren Langitan hingga akhir hayatnya. Dalam pernikahannya dengan Ny. Hj. beliau dikaruniai lima orang putra-putri yakni Agus Muhammad Muslih, Ning Abidah, Agus Abdur Rouf, Ning Arofah, dan Agus Salim.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Diceritakan, saat beliau diboyong ke Langitan, KH. Munawwar Kholil, ayahanda beliau sempat bersedih selama empat tahun. Sebab anak yang disiapkan untuk menjadi penerusnya diminta oleh KH. Abdullah Faqih untuk tinggal di Langitan. Apalagi disana KH. Munawwar Kholil sudah menata rapi semua kegiatan pengajian untuk sang putra. Namun karena KH. Abdullah Faqih yang meminta, akhirnya KH. Munawwar Kholil pun rela melepaskan Kiai Adib.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sejak bermukim di Pondok Pesantren Langitan, beliau sudah dikenal alim bahkan sering diamanahi untuk membalah kitab-kitab besar. Beliau juga menjadi rujukan dalam berbagai persoalan fikih kontekstual, nama beliau tercantum dalam rubrik Masa&#8217;il di Majalah Langitan. Beliau juga sosok yang istiqomah dan disiplin dalam mengaji. Bahkan meski yang mengaji hanya satu atau dua orang tidak menjadi masalah.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sepeninggal KH. Abdullah Faqih, Kial Adib juga diamanahi untuk menggantikan beliau dalam pengajian Ihya Ulumuddin kepada santri dan alumni Pondok Pesantren Langitan dalam pengajian mingguan.</span></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Wafatnya Sang Cahaya</strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kamis malam, 03 Desember 2020 lalu, KH. Quhwanul Adib wafat. Beliau dimakamkan di komplek pemakaman masyayikh Pondok Pesantren Langitan.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Langitan kehilangan salah satu cahayanya. Kabar duka beliau dengan cepat menyebar di seluruh Nusantara, meninggalkan ribuan kenangan yang abadi di benak siapapun yang pernah mengenalnya.</span></p>
<p style="text-align: right;">Luthfi Ansori</p>
<p>The post <a href="https://langitan.net/kh-quhwanul-adib-munawwar-kholil-ulama-karismatik-pecinta-kitab-klasik/">KH. Quhwanul Adib Munawwar Kholil; Ulama Karismatik Pecinta Kitab klasik</a> appeared first on <a href="https://langitan.net">Pondok Pesantren Langitan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://langitan.net/kh-quhwanul-adib-munawwar-kholil-ulama-karismatik-pecinta-kitab-klasik/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Biografi Singkat KH. Abdullah Faqih</title>
		<link>https://langitan.net/biografi-singkat-kh-abdullah-faqih/</link>
					<comments>https://langitan.net/biografi-singkat-kh-abdullah-faqih/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 02 Nov 2022 14:11:14 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Jejak Utama]]></category>
		<category><![CDATA[Biografi Almagfurlah KH. Abdulla Faqih]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langitan.net/?p=223264</guid>

					<description><![CDATA[<p>KH. Abdullah Faqih adalah ulama yang kharismatik sekaligus pengasuh generasi keenam Pon. Pes. Langitan. Beliau merupakan kiai yang sederhana dengan sifat tawadu yang luar biasa.  Selain itu beliau juga mempunyai kiprah yang berpengaruh bagi NU, hal ini terbukti karena seringnya beliau dijadikan rujukan oleh kaum nahdliyin. Bahkan KH. Abdullah Faqih atau yang biasa disebut Mbah [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://langitan.net/biografi-singkat-kh-abdullah-faqih/">Biografi Singkat KH. Abdullah Faqih</a> appeared first on <a href="https://langitan.net">Pondok Pesantren Langitan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">
<div id="attachment_223266" style="width: 2058px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-223266" class="wp-image-223266 size-full" src="https://langitan.net/wp-content/uploads/2022/11/bersama-yai-maimun-sarang.jpg" alt="" width="2048" height="1536" srcset="https://langitan.net/wp-content/uploads/2022/11/bersama-yai-maimun-sarang.jpg 2048w, https://langitan.net/wp-content/uploads/2022/11/bersama-yai-maimun-sarang-300x225.jpg 300w, https://langitan.net/wp-content/uploads/2022/11/bersama-yai-maimun-sarang-1024x768.jpg 1024w, https://langitan.net/wp-content/uploads/2022/11/bersama-yai-maimun-sarang-768x576.jpg 768w, https://langitan.net/wp-content/uploads/2022/11/bersama-yai-maimun-sarang-1536x1152.jpg 1536w, https://langitan.net/wp-content/uploads/2022/11/bersama-yai-maimun-sarang-1080x810.jpg 1080w" sizes="(max-width: 2048px) 100vw, 2048px" /><p id="caption-attachment-223266" class="wp-caption-text">KH. Abdullah Faqih Bersama KH. Maimun Zubair</p></div>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-weight: 400;">KH. Abdullah Faqih adalah ulama yang kharismatik sekaligus pengasuh generasi keenam Pon. Pes. Langitan. Beliau merupakan kiai yang sederhana dengan sifat tawadu yang luar biasa. </span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-weight: 400;">Selain itu beliau juga mempunyai kiprah yang berpengaruh bagi NU, hal ini terbukti karena seringnya beliau dijadikan rujukan oleh kaum nahdliyin. Bahkan KH. Abdullah Faqih atau yang biasa disebut Mbah Yai Faqih itu menjadi sumber rujukan Bapak Presiden keempat, yaitu KH. Abdurrahman Wahid mengenai permasalahan negara. Oleh karena itu, di bawah ini akan diungkapkan secara singkat biografi beliau.</span></p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong>Masa Kecil</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-weight: 400;">KH. Abdullah Faqih dilahirkan di Mandungan, Widang, Tuban, Jawa Timur. Beliau merupakan anak pertama dari tiga bersaudara, dari pasangan Kiai Rofi&#8217;i dan Nyai Khodijah.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-weight: 400;">Mengenai tanggal kelahiran beliau, masih terdapat perbedaan pendapat. Namun pendapat  yang dipilih sebagaimana tertulis dalam KTP beliau. Yaitu tepat tanggal 2 Mei 1932 M. Atau 1 Muharram 1351 H. Pada hari Sabtu.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-weight: 400;">Pada saat umur 7 tahun, beliau ditinggal sang ayahanda. Semenjak Ayahanda wafat, ibu beliau dinikahi KH. Abdul Hadi Zahid (pengasuh Ponpes. Langitan, generasi k-4). Dan semenjak itulah, kehidupan beliau diarahkan oleh KH. Abdul Hadi, dari mondok hingga berkeluarga.</span></p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong>Rihlah Ilmiah</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-weight: 400;">Setelah belajar pada KH. Abdul Hadi zahid. KH. Abdullah Faqih muda meneruskan rihlah ilmiahnya ke beberapa pesantren. Salah satunya adalah pondok pesantren asuhan KH. Ma&#8217;shum yang berada di Lasem. Pondok pesantren asuhan KH. Abu Fadhol Senori dan Pondok pesantren KH. Dalhar Watucongol, serta beberapa pesantren lain.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-weight: 400;">Perjalanan rihlah ilmiah beliau itu ditempuh dengan waktu yang relatif singkat, yaitu hanya empat tahun, sebagaimana pengakuan beliau sendiri pada suatu kesempatan.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><em><span style="font-weight: 400;">“</span><span style="font-weight: 400;">Di Lasem –mondok dua setengah tahun. Di Senori enam bulan. Setelah itu satu bulan pindah ke pesantren lain. Total semuanya tidak lebih dari empat tahun</span></em><i><span style="font-weight: 400;">&#8221; </span></i><span style="font-weight: 400;">Kata beliau.</span></p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong>Berkeluarga dan Mengasuh Pesantren</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-weight: 400;">Selama mondok di Lasem, KH. Ma’shum memiliki perhatian lebih kepada KH. Abdullah Faqih Muda. Puncaknya, beliau dinikahkan dengan Nyai Hunainah binti Kiai Bisri, putri persusuan (</span><i><span style="font-weight: 400;">radha) </span></i><span style="font-weight: 400;">sekaligus keponakan KH. Maksum. Hasil dari pernikahan ini, beliau dikarunia 12 orang anak.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-weight: 400;">Setelah kembali ke Langitan dengan memboyong keluarga, beliau langsung ikut mengabdi ke pesantren. Pada saat KH. Abdul Hadi Zahid wafat karena usia lanjut, beliau ditetapkan sebagai pengasuh pesantren didampingi KH. Ahmad Marzuqi yang juga merupakan pamannya.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-weight: 400;">Pada saat mengasuh pesantren, beliau dikenal sebagai kiai yang disiplin. Rajin terus ke kamar-kamar untuk mengajak belajar, musyawarah, dan shalat malam. Begitu pula dalam ketertiban suasana, beliau cinta kebersihan sehingga kondisi pondok yang tidak bersih akan mendapat perhatian serius dari Beliau.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-weight: 400;">Selain itu, Pada masa mengasuh pesantren, banyak ide dan gagasan beliau yang disalurkan dan masih ada hingga saat ini. Sebagaimana yang terjadi dalam model kepengurusan pondok, dimana beliau merumuskan empat pilar kepengurusan pesantren, yaitu: Majelis Idarah, Majelis An Nuwwab, Majelis Tahkim, dan Majelis Amn.</span></p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong>Wafat</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-weight: 400;">Tepat pada hari Rabu, 29 Februari 2012 M. Usai shalat maghrib sekitar pukul 18.30 WIB, beliau dipanggil ke hadiratnya.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-weight: 400;">Bumi pun berduka karena ditinggal ulama yang penuh kharisma. Kabar meninggalnya beliau langsung tersebar melalui pesan antar mulut, sms, dan dunia maya. Beliau dimakamkan pada pukul 12.30 Wib. Hari Kamis, 1 Maret 2012 M. Diantara pusara para pendahulu pengasuh pesantren Langitan. </span></p>
<p style="text-align: justify;">
<p>The post <a href="https://langitan.net/biografi-singkat-kh-abdullah-faqih/">Biografi Singkat KH. Abdullah Faqih</a> appeared first on <a href="https://langitan.net">Pondok Pesantren Langitan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://langitan.net/biografi-singkat-kh-abdullah-faqih/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Taushiyah Kebangsaan KH. Abdullah Habib Faqih</title>
		<link>https://langitan.net/taushiyah-kebangsaan-kh-abdullah-habib-faqih/</link>
					<comments>https://langitan.net/taushiyah-kebangsaan-kh-abdullah-habib-faqih/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 20 Aug 2022 04:45:22 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Jejak Utama]]></category>
		<category><![CDATA[Langituna]]></category>
		<category><![CDATA[kemerdekaan]]></category>
		<category><![CDATA[Taushiyah]]></category>
		<category><![CDATA[taushiyah kh. abdullah habib faqih]]></category>
		<category><![CDATA[upacara kemerdekaan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langitan.net/?p=222825</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sudah 77 tahun Indonesia merdeka dari penjajahan Belanda. Selama 350 tahun Indonesia dijajah oleh Belanda dan tiga tahun setengah dijajah oleh Jepang. Menurut data penjajahan dunia, Indonesia dalam bentuk negara sudah merdeka. Seluruh dunia sudah mengakui kemerdekaan Negara Republik Indonesia, tetapi apakah kita sudah benar-benar merdeka? Ataukah belum merdeka? Atau masih dijajah oleh penjajah lainnya?  [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://langitan.net/taushiyah-kebangsaan-kh-abdullah-habib-faqih/">Taushiyah Kebangsaan KH. Abdullah Habib Faqih</a> appeared first on <a href="https://langitan.net">Pondok Pesantren Langitan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_222826" style="width: 2570px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-222826" class="wp-image-222826 size-full" src="https://langitan.net/wp-content/uploads/2022/08/IMG_7114-min-scaled.jpg" alt="" width="2560" height="1707" srcset="https://langitan.net/wp-content/uploads/2022/08/IMG_7114-min-scaled.jpg 2560w, https://langitan.net/wp-content/uploads/2022/08/IMG_7114-min-300x200.jpg 300w, https://langitan.net/wp-content/uploads/2022/08/IMG_7114-min-1024x683.jpg 1024w, https://langitan.net/wp-content/uploads/2022/08/IMG_7114-min-768x512.jpg 768w, https://langitan.net/wp-content/uploads/2022/08/IMG_7114-min-1536x1024.jpg 1536w, https://langitan.net/wp-content/uploads/2022/08/IMG_7114-min-2048x1365.jpg 2048w, https://langitan.net/wp-content/uploads/2022/08/IMG_7114-min-1080x720.jpg 1080w" sizes="(max-width: 2560px) 100vw, 2560px" /><p id="caption-attachment-222826" class="wp-caption-text">KH. Abdullah Habib Faqih, menyampaikan Taushiyah di acara Gebyar Shalawat Kemerdekaan Langitan</p></div>
<p><span style="font-weight: 400;">Sudah 77 tahun Indonesia merdeka dari penjajahan Belanda. Selama 350 tahun Indonesia dijajah oleh Belanda dan tiga tahun setengah dijajah oleh Jepang. Menurut data penjajahan dunia, Indonesia dalam bentuk negara sudah merdeka. Seluruh dunia sudah mengakui kemerdekaan Negara Republik Indonesia, tetapi apakah kita sudah benar-benar merdeka? Ataukah belum merdeka? Atau masih dijajah oleh penjajah lainnya? </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Hadirin, Indonesia adalah negerinya orang-orang yang mendapatkan kemerdekaannya dengan perjuangan bambu runcing dan pekikan takbir. Sementara negeri-negeri lain mendapatkan kemerdekaannya dari para penjajah. Indonesia mendapatkan kemerdekaannya dengan bambu runcing, darah para syuhada’, pahlawan, rakyat, ulama, para kiai, para santri dan pekikkan kalimat Allahu Akbar… </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sekarang, haruskah kalimat takbir digunakan untuk memporak porandakan negara? Haruskah takbir digunakan untuk memecah belah bangsa, untuk menghasut persatuan dan kesatuan, untuk merongrong keutuhan NKRI dan kemajemukan </span><i><span style="font-weight: 400;">Bhinneka Tunggal Ika</span></i><span style="font-weight: 400;">? </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Hadirin, merdeka menurut agama adalah merdeka dari selain Allah SWT. Kita setiap hari dididik untuk selalu melafalkan, mengumandangkan, meresapi dan selalu mewiridkan kalimat </span><i><span style="font-weight: 400;">T</span></i><em><span style="font-weight: 400;">hoyibah Laa Ilaaha Illallah</span></em><span style="font-weight: 400;"><em>,</em> tiada tuhan selain Allah. Tidak ada yang mampu memerintah kecuali Allah, tidak ada yang bisa mendominasi kecuali Allah. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Merdeka adalah orang yang tidak didominasi oleh selain Allah SWT. Tidak ada tuhan selain Allah. Inilah kemerdekaan sesungguhnya menurut agama. Kalau ada hal yang lain selain Allah yang mendominasi kita, apapun itu yang membuat kita selalu ingat, yang membuat kita selalu ingin dekat, yang membuat kita ingin selalu mencintainya, yang kita merasa mulia dengannya, yang membuat kita merasa hina tanpanya, yang kita siap berkorban demi namanya. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Siapa maksud<em> ‘</em></span><em><span style="font-weight: 400;">nya’</span></em><span style="font-weight: 400;"><em>&#8211;</em>nya itu? Kalau </span><i><span style="font-weight: 400;">’</span></i><em><span style="font-weight: 400;">nya’-</span></em><span style="font-weight: 400;">nya adalah Allah, maka kita menjadi orang yang merdeka. Tapi kalau </span><em><span style="font-weight: 400;">’nya’-</span></em><span style="font-weight: 400;">nya itu selain Allah, berarti kita masih menjadi orang yang dijajah oleh selain Allah. Oleh karena  itulah yang harus bisa yang memerintah kita hanyalah Allah.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kita harus mengisi kemerdekaan yang dipersembahkan oleh para ulama, oleh para pejuang, pahlawan kita, para kiai, ulama, santri dengan hal-hal yang membuat ridho Allah SWT. Harus kita isi dengan </span><i><span style="font-weight: 400;">‘akhlakul karimah</span></i><span style="font-weight: 400;">’. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Jati diri sebuah bangsa terletak pada akhlak anak bangsanya. Jika akhlak itu hilang dari anak bangsanya, maka berarti sudah lenyaplah jati diri bangsa tersebut. Oleh karena itu, jagalah akhlak bangsa! karakter bangsa! karakter bangsa ini adalah ajaran islam </span><em><span style="font-weight: 400;">ahlussunnah wal jamaah</span></em><span style="font-weight: 400;"> yang diwariskan oleh para ulama, para kiai, para sholihin yang telah memperjuangkan Republik Indonesia ini. Mari kita setia pada negeri kita ini! Mari kita setia berkorban untuk negeri ini dengan mengisi negeri ini  dengan hal-hal yang membuat bangga para pejuang, pahlawan-pahlawan, kita setia kepada negeri ini, mari bersama-sama kita melagukan lagu </span><i><span style="font-weight: 400;">padamu negeri.</span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Memperingati hari kemerdekaan Indonesia adalah sangat penting. Dengan kemerdekaan, kita bisa merasakan belajar dengan tenang, bisa mondok dengan tenang, bisa beraktivitas dengan tenang. Andai saja tidak ada kemerdekaan, maka kita akan mengalami kesengsaraan. Coba lihat negara-negara lain yang masih belum merdeka! Mereka merasa tidak tenang sepanjang malam, sepanjang siang. Kita alhamdulillah, dianugerahi oleh Allah SWT kemerdekaan. Maka kemerdekaan adalah hal yang penting dan memperingatinya pun adalah hal yang penting. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Jangan alergi dengan Agustusan! jangan alergi dengan hari ulang tahun kemerdekaan. Karena dengan memperingati hari kemerdekaan berarti kita menghormati para syuhada, para pejuang, para pahlawan.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kalau kita tidak mempunyai kepedulian dengan hari kemerdekaan, berarti sama halnya dengan kita tidak menghargai dan meremehkan para pejuang. Padahal, mereka telah mempersembahkan sesuatu yang sangat berharga bagi kita semua. Mereka telah mengorbankan jiwa raganya. Kita wajib cinta tanah air. Tanamkan patriotisme kalian dalam sanubari kalian untuk mencintai negeri ini! Negeri kalian ini adalah negeri yang tidak sama dengan negeri-negeri yang lain. Mereka mengatakan: </span><em><span style="font-weight: 400;">“Indonesia adalah secuil surga”.</span></em><span style="font-weight: 400;"> Lihat! di negara-negara Islam mereka tidak sebebas di negara Indonesia. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Di negara Saudi, meskipun kalian seorang yang pintar, orang yang hafal al-Qur’an tapi tidak mudah untuk mengadakan pengajian, mengadakan pertemuan-pertemuan pengajian, pendidikan, sekolahan atau pondok pesantren. Sementara di Indonesia sangat mudah sekali. Ilmu pas-pasan bisa mendirikan pondok pesantren, bahkan orang-orang yang baru hijrah, orang-orang yang baru memeluk Islam kemudian hijrah, orang-orang yang tidak kenal Islam sebelumnya, para artis-artis yang baru berapa tahun masuk Islam hijrah, mereka menggunakan jenggot dan celana cingkrang, mengkafir-kafirkan kita bebas saja.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Inilah negara Indonesia, negara yang damai, negara bebas yang mudah orang untuk membangun tempat peribadatan, membangun madrasah pendidikan. Negara yang mendapatkan kebebasan dalam segala hal yang terpantau dan terukur. Sebab, orang-orang luar negeri  ingin datang ke Indonesia, ingin datang ke Bali, Borobudur, Lombok, ingin melihat bentangan sawah lapang. Mereka rela mengeluarkan ratusan juta bahkan milyaran uang hanya ingin melihat ladang yang membentang. Sementara kita, kita sangat mudah sekali dan tidak membutuhkan uang banyak, cukup keluar membuka pintu dan membuka jendela disana sudah sawah membentang di sekitar kita. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Inilah Indonesia, oleh karena itu kita harus mencintai republik ini. </span><em><span style="font-weight: 400;">Hubbul wathon minal iman</span></em><i><span style="font-weight: 400;">. </span></i><span style="font-weight: 400;">dan kita harus berterima kasih pada syuhada, para pahlawan kita semua, para ulama, kiai. Oleh karena itu, marilah sejenak kita mengenang perjuangan para pahlawan kita, para syuhada kita, para ulama, kiai, para santri yang gugur untuk memperjuangkan kemerdekaan ini dengan membaca kalimat thayyibah dan membaca bacaan-bacaan dan kita hadiahkan pahalanya kepada mereka semua. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Hadirin, mari kita ikuti, kita kibarkan bendera sang merah putih, dalam rangka mensyukuri nikmat Allah, nikmat kemerdekaan ini, dan kita hargai perjuangan para pejuang kita. Mari kita ikuti bersama pengibaran sang saka merah putih dengan penuh khidmat dan penuh penghayatan.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Karena kebanyakan para pejuang adalah para ulama dan para kiai, oleh karena itu banyak lagu-lagu kebangsaan dan kemerdekaan yang diilhami oleh lagu-lagu para kiai dan ulama. Salah satunya adalah lagu Garuda Pancasila. Kalau diperhatikan, disitu entah itu kebetulan, entah itu dikonsultasikan dengan para ulama ahli </span><i><span style="font-weight: 400;">‘arudl </span></i><em><span style="font-weight: 400;">(ilmu syair Arab)</span></em><span style="font-weight: 400;">, disitu menggunakan pola syair </span><em><span style="font-weight: 400;">bahar romal tam mudroj bil qoshr ghoru musta’mal</span><span style="font-weight: 400;">.</span></em></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Garuda Pancasila</span><em><span style="font-weight: 400;"> (failatun failun # failatun failun)</span></em></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Lagu tersebut banyak terilhami dengan </span><i><span style="font-weight: 400;">bahar (</span></i><em><span style="font-weight: 400;">wazan tertentu yang dijadikan pola dalam menggubah syair Arab</span></em><i><span style="font-weight: 400;">)</span></i><span style="font-weight: 400;">, begitu juga dengan Sorak-sorak Bergembira tadi. Itu menandakan, bahwa memang kemerdekaan republik ini banyak diwarnai oleh para pejuang-pejuang kita, para ulama dan kiai. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Oleh karena itulah, kalian sebagai santri penerus para ulama dan kiai harus mampu mempertahankan republik ini, harus menjaga keutuhan NKRI dan mencintai negeri ini. Karena itu adalah perintah dari Allah. Pengabdian kita kepada negeri ini karena memang perintah dari agama. Dan pengabdian kita pada negeri ini tentu di bawah pengabdian kita kepada Allah SWT. Jadi, kecintaan kita kepada negeri ini adalah perintah dari Rasulullah SAW, </span><em><span style="font-weight: 400;">hubbul wathon minal iman</span></em><span style="font-weight: 400;">. Mari kita bersama-sama sekali lagi mengenang kembali perjuangan para pejuang kita. Kita harus selalu mengisi kemerdekaan ini dengan hal-hal yang membanggakan mereka semua.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Saya tekankan kembali, bahwa inti daripada memperingati hari kemerdekaan adalah kalian harus kembali pada ajaran ulama, para kiai, memperdalam ilmu, mewarisi ilmu para ulama, para kiai. Karena peristiwa kemerdekaan ini menyiratkan dan mengisyaratkan satu pesan yang tak terbaca dan tak tertulis. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kalau kita cermati dengan seksama, peristiwa kemerdekaan terjadi pada bulan Ramadhan, diproklamirkan kemerdekaan Indonesia dipilih pada hari Jumat tanggal 17, salah satu alasannya, kata bapak Soekarno, karena angka 17 adalah angka keramat, angka yang menyimpan makna dimana angka 17 adalah angka yang menyimpan rakaat shalat. Seakan-akan Allah SWT menyatakan kepada rakyat Indonesia, <em>“</em></span><em><span style="font-weight: 400;">Wahai rakyat Indonesia, aku berikan kepadamu kemerdekaan pada tanggal 17, maka jagalah sholat yang sehari semalam jumlahnya 17 rakaat</span><span style="font-weight: 400;">”. </span></em></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Allah memberikan kemerdekaan pada bulan Ramadhan, seakan-akan Allah berpesan, Allah mengatakan kepada kita,<em> “</em></span><em><span style="font-weight: 400;">Wahai rakyat Indonesia, aku berikan kenikmatan besar kemerdekaan kepada kalian pada bulan Ramadhan, maka janganlah engkau lupa dan engkau sia-siakan, engkau abaikan bulan suci Ramadhan</span><span style="font-weight: 400;">”.</span></em></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Peristiwa kemerdekaan terjadi pada hari Jumat, seakan-akan memberikan pesan, <em>“</em></span><em><span style="font-weight: 400;">Wahai rakyat Indonesia, kuberikan kemerdekaan pada hari Jumat, maka ingat-ingatlah dan jangan kau abaikan sholat Jumat</span></em><span style="font-weight: 400;"><em>,”</em> hargai sholat Jum’at dan muliakan sholat jumat, begitulah kiranya. Dan semua itu adalah ajaran agama, dan mayoritas para pejuang-pejuang kita adalah orang sholeh, orang-orang yang berilmu, maka selayaknyalah para santri yang mewarisi ilmu mereka untuk mampu mengisi kemerdekaan ini dengan ilmu-ilmu yang telah mereka wariskan. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Oleh karena itu para santri, terus bersemangat untuk menuntut ilmu agama, terus bersemangat untuk mencari ilmu agama, karena inilah ilmu-ilmu yang mereka wariskan kepada bangsa ini. jangan sampai terlena dan terprovokasi dengan slogan-slogan yang lain. Kita tetap teguh mempertahankan kemerdekaan, mengisi kemerdekaan ini dengan terus menuntut ilmu dengan bersungguh-sungguh dan menyebarluaskan ilmu ini kepada masyarakat, rakyat Indonesia dalam rangka mempertahankan dan mensyukuri kemerdekaan ini.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dengan memperingati hari proklamasi atau hari kemerdekaan ini, mari kita isi kemerdekaan ini dengan betul-betul, bersungguh-sungguh mencari ilmu-ilmu yang telah mereka wariskan ini, sekaligus menyampaikan dan menyebarkan, serta membumikan di negara tercinta bumi pertiwi Indonesia ini.</span></p>
<p>The post <a href="https://langitan.net/taushiyah-kebangsaan-kh-abdullah-habib-faqih/">Taushiyah Kebangsaan KH. Abdullah Habib Faqih</a> appeared first on <a href="https://langitan.net">Pondok Pesantren Langitan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://langitan.net/taushiyah-kebangsaan-kh-abdullah-habib-faqih/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Tujuh Protokol ‘Peredam’ Kiamat Menurut Habib Abu Bakar Al-Adni</title>
		<link>https://langitan.net/tujuh-protokol-peredam-kiamat-menurut-habib-abu-bakar-al-adni/</link>
					<comments>https://langitan.net/tujuh-protokol-peredam-kiamat-menurut-habib-abu-bakar-al-adni/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 31 Jul 2022 08:01:49 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Jejak Utama]]></category>
		<category><![CDATA[Habib Abu Bakar Al-Adni]]></category>
		<category><![CDATA[langitan]]></category>
		<category><![CDATA[menaralangitan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langitan.net/?p=222813</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: Muhammad Hasyim *) Jutaan pasang mata melelehkan air mata atas kepergian cendekiawan muslim yang telah merumuskan Fiqih Akhir Zaman. Ratusan ribu manusia menghantar kepergian Sang Mufakir Abad ke-21. Karena sesaknya lautan manusia jenazah tidak perlu dibawa tapi merantai dari tangan-tangan yang berharap berkah menuju peristirahatan terakhir. Beliau adalah Habib Abu Bakar Al-Adni bin Ali [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://langitan.net/tujuh-protokol-peredam-kiamat-menurut-habib-abu-bakar-al-adni/">Tujuh Protokol ‘Peredam’ Kiamat Menurut Habib Abu Bakar Al-Adni</a> appeared first on <a href="https://langitan.net">Pondok Pesantren Langitan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><img loading="lazy" loading="lazy" decoding="async" class="alignleft wp-image-222814 size-large" src="https://langitan.net/wp-content/uploads/2022/07/WhatsApp-Image-2022-07-31-at-14.50.21-1024x566.jpeg" alt="Habib Abu Bakar Al-Adni" width="1024" height="566" srcset="https://langitan.net/wp-content/uploads/2022/07/WhatsApp-Image-2022-07-31-at-14.50.21-1024x566.jpeg 1024w, https://langitan.net/wp-content/uploads/2022/07/WhatsApp-Image-2022-07-31-at-14.50.21-300x166.jpeg 300w, https://langitan.net/wp-content/uploads/2022/07/WhatsApp-Image-2022-07-31-at-14.50.21-768x425.jpeg 768w, https://langitan.net/wp-content/uploads/2022/07/WhatsApp-Image-2022-07-31-at-14.50.21.jpeg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></p>
<p>Oleh: Muhammad Hasyim *)</p>
<p>Jutaan pasang mata melelehkan air mata atas kepergian cendekiawan muslim yang telah merumuskan Fiqih Akhir Zaman. Ratusan ribu manusia menghantar kepergian Sang Mufakir Abad ke-21. Karena sesaknya lautan manusia jenazah tidak perlu dibawa tapi merantai dari tangan-tangan yang berharap berkah menuju peristirahatan terakhir.</p>
<p>Beliau adalah Habib Abu Bakar Al-Adni bin Ali al-Masyhur, menutup usia pada 27 Juli 2022 dalam usianya yang ke-75 tahun. Beliau termasuk sedikit dari kalangan ulama yang diberi anugrah <em>futuh </em>ilmu masa depan (<em>future science</em>). Di satu sisi, beliau hidup dalam bi’ah (lingkungan) salaf yang sangat ketat dalam memegang syariat agama Islam. Dengan dua komparasi tradisi, salaf dan future science maka beliau berhasil merumuskan Fiqih Transformatif yang mengkaji tentang perubahan-perubahan kondisi masyarakat dari terciptanya manusia sampai akhir masa (kiamat). Teori-teori ini beliau kumpulkan dalam sebuah term “Fiqih Transformati” atau yang lebih dikenal dengan istilah “<em>Fiqih Tahawulat</em>”.</p>
<p>Sebelumnya, barangkali sebagian besar dari kita hanya memahami tiga konsep dalam beragama, yaitu: islam, iman dan ihsan. Namun al-Habib Abu Bakar al-Adni menambahkan satu konsep lagi: mengetahui tanda-tanda kiamat. Rukun keempat itulah yang menjadi dasar bagi beliau untuk merumuskan kaidah-kaidah dalam Fiqih Tahawulat.</p>
<p>Beliau menjelaskan bahwa tiga rukun yang pertama bersifat baku <em>(sawabit)</em>, tidak akan berubah sepanjang zaman; sedangkan yang terakhir bersifat <em>mutaghaiyirat</em>, transformatif, dinamis mengikuti masa dan segala perubahan yang terjadi di dalamnya. Fiqih Tahawulat, secara khusus, merujuk pada ketetapan Al-Qurán dan Sunnah tentang kejadian-kejadian di masa lalu dan masa depan yang akan terjadi sebagai penanda semakin dekatnya akhir masa <em>(yaumul qiyamah)</em>.</p>
<p>Dalam keyakinan beliau, umat manusia akan senantiasa menghadapi fitnah, dalam bentuk dan ragam yang terus berubah, sampai datang hari kiamat. Karena itu, sangat penting bagi umat Islam untuk memahami pola, indikasi dan pengetahuan untuk menghindarinya. “Tidak sedikit dari kalangan ulama yang terjebak menjadi kaki tangan iblis dan dajjal tanpa mereka sadari hanya karena mengabaikan hal itu,” kata Beliau.</p>
<h4><strong>Ulama Dua Dimensi</strong></h4>
<p>Beliau lahir di Kota Ahwar, Provinsi Ahdan, bagian dari Yaman Selatan pada tahun 1366 H/1947 M. Ilmu syariat dan akhlak mulia adalah dua hal, yang beliau kenang, menjadi prioritas utama kedua orang tua dalam mendidik beliau. Dalam usia yang masih sangat muda beliau sudah menghafal 30 Juz Al-Qurán dengan sanad dari guru-guru utama di wilayah Hadramaut dan Aden.</p>
<p>Sebelum pindah ke Arab Saudi, Beliau sempat menyelesaikan kuliah di Universitas Aden dan berazam untuk melanjutkan ke Universitas Al-Azhar, Mesir. Namun keinginan itu tidak pernah terlaksana, sebab orang tua beliau menghendaki beliau belajar kepada Habib Abdul Qadir bin Ahmad As-Segaf, ulama kaliber dunia yang masyhur ke-quthb-annya.</p>
<p>Meskipun begitu tidak setitik pun terbersit dalam benak beliau rasa kecewa atau sikap pembangkangan. Justru, di bawah bimbingan Habib Abdul Qadir, beliau mendapatkan curahan ilmu lahir dan batin, dan merasakan adanya <em>irtibath</em> atau pertalian ilmu yang begitu kuatnya, sehingga membuka mata hati beliau untuk menerima limpahan ilmu-ilmu ilahiyah.</p>
<p>Dari sinilah terbuka hijab-hijab pengetahuan sehingga memiliki sebuah pandangan yang mendalam dari suatu masalah. Fiqih Tahawwulat adalah salah satu sudut pemikiran beliau yang unik dan mendalam. Keberanian untuk memunculkan term-term baru dengan dasar-dasar yang kuat menjadi bukti keluasaan ilmunya.</p>
<p>Anugrah tersebut kemudian menjadikan beliau kokoh dalam posisinya sebagai ulama dua dimensi: salaf dan ashriyah sekaligus. Pada satu sisi beliau begitu kuat berpijak pada tradisi keilmuan leluhur –sebagaimana rumusan beliau tentang Madrasah Abawiyah- dan di sisi lain juga mampu melahirkan gagasan-gagasan futuristik yang melampaui zamannya.</p>
<h4><strong>Menghindar dari Fitnah</strong></h4>
<p>Saat menginjak usia remaja, pergolakan politik di Yaman sampai pada titik puncaknya, di mana pemerintahan jatuh kepada kelompok anti Tuhan yang terang-terangan membenci para ulama. Oleh karena itu, fitnah-fitnah keji begitu nyata beliau alami, menjadi sajian dari kepahitan hidup beliau sehari-hari. Dalam kitab <em>al-khuruj min dairatul hamra, </em>Beliau melukiskan, dengan bait-bait syair, bagaimana tekanan dan intimidasi itu sepanjang waktu harus mereka terima, hingga beliau memutuskan untuk keluar dari Yaman, hijrah menuju Tanah Hijaz.</p>
<p>Apa yang beliau alami di Yaman saat itu tak ubahnya seperti yang dialami oleh al-Imam al-Muhajir Ahmad bin Isa di Basrah. Imam Muhajir tidak menuruti dorongan emosionalnya dalam mengambil sikap. Beliau berpegang pada Sunah dan memutuskan untuk hijrah ke Hadramaut. Begitu pula yang dilakukan oleh Faqih al-Muqaddam yang pada masanya banyak terjadi perselisihan dengan menggunakan senjata. Kemudian beliau mengambil jalan sunyi melalui jalur sufi-asketisme.</p>
<p>Dengan berpegang pada kaidah fiqih tahawulat, beliau yakin, umat Islam tidak akan mengalami kesulitan dalam bertindak dan menyikapi berbagai persoalan yang timbul saat ini. Itulah yang kemudian beliau sebut dengan istilah <em>Sunnah al-Mawaqif</em>, yaitu tata cara bersikap dan bertindak berdasarkan ketetapan Baginda Nabi Saw, dengan mengedepankan kemaslahatan bukan dorongan nafsu atau trend.</p>
<p>Dengan gagasan fiqih tahawulat Beliau ingin mengubah presepsi sementara umat Islam yang beranggapan bahwa kajian terhadap tanda-tanda kiamat akan menimbulkan kepanikan dan sikap pesimistis berlebihan dalam memandang masa depan. Sebaliknya, hal itu justru akan menjadi pelindung dan senantiasa menjaga umat Islam dari akibat-akibat negative tersebut.</p>
<h4><strong>Tujuh Protokol Menyambut Hari Kiamat</strong></h4>
<p>Di antara pesan Habib Abu Bakar dalam Fiqih Tahawulat –seperti yang tertulis di kitab <em>al-Nughdah al-Sughra; li ma’rifah al rukn al rabi’ min arkan ad-din wa alamah al kubra wa al wustha, al-sughra</em> –bahwa untuk menghadapi hari akhir dibutuhkan tujuh sikap, agar kita tidak terjebak pada keremangan-keremangan zaman. Pesan ini berdasarkan analisa atas apa yang disampaikan oleh Baginda Nabi Muhammad Saw: &#8220;Segeralah beramal sebelum kedatangan tujuh hal, tidaklah kalian menunggu selain kefakiran yang membuat lupa, kekayaan yang melampaui batas, penyakit yang merusak, masa tua yang menguruskan, kematian yang menyergap tiba-tiba (secara bersama-sama), Dajjal, seburuk-buruk hal gaib yang dinanti-nanti, kiamat dan kiamat itu sangat membawa petaka dan sangat pahit.&#8221;</p>
<p>Berdasarkan Hadist tersebut, Beliau merumuskan tujuh gerakan inisiatif dan antisipatif, yang dalam tulisan ini, kami sebut sebagai protokol kiamat. Berisi tentang hal-hal yang harus dikerjakan baik secara individu maupun kolektif untuk menghadapi fitnah akhir zaman.</p>
<p>Pertama, berusaha menangani kefakiran. Kondisi serba kekurangan, bagi kebanyakan orang, akan membuat lupa dan menjauh dari ajaran agama. Kefakiran, kita tahu, bukan hanya disebabkan karena kemalasan bekerja, tapi lebih banyak akibat kebijakan ekonomi parasit yang hanya berpihak pada sebagian kecil orang, dan merugikan  yang lain.</p>
<p>Menurut beliau hal itu bisa ditangani dengan cara membagikan zakat, wakaf, sedekah untuk menjamin kehidupan orang yang benar-benar berhak menerimanya; membangun solidaritas antara sesama; membentuk sinergi yang positif antara pemerintah dan rakyat; mewujudkan kemandirian ekonomi tiap individu  dengan cara memperhatikan perkebunan dan memelihara hewan ternak, sebagaimana dijelaskan oleh Baginda Nabi Saw dalam hadits Muslim: “Barang siapa memiliki kambing, hendaklah menyusul (red: memelihara) kambingnya; barang siapa memiliki tanah, hendaklah menyusul (red: menggarap) tanahnya.” Persoalan (kefakiran yang membuat lupa) ini telah menjadi jelas di zaman sekarang, sehingga sudah bukan rahasia lagi bahwa para sekutu iblis berusaha menyeru manusia untuk mengabdi kepadanya dengan cara menciptakan krisis ekonomi secara global.</p>
<p>Kedua, berusaha menangani kekayaan yang melampaui batas. Kita tahu, pada zaman ini, pola kehidupan matrealistis dan hedonis telah merambah hampir ke seluruh lapisan masyarakat. Menurut beliau cara yang tepat untuk menangani hal tersebut ialah dengan cara merombak sistem ekonomi riba. Selain itu, masyarakat harus bisa mendorong pemerintah untuk mengeluarkan regulasi yang sehat, guna melindungi masyarakat dari tindak kesewenang-wenangan perusahaan besar, juga mengalihkan dana investasi untuk pengembangan sektor pertanian, peternakan dan produksi-produksi lain yang dikelola oleh masyarakat di pedesaan.</p>
<p>Ketiga, antisipasi adanya penyakit yang merusak tubuh dan jiwa masyarakat. Menurut beliau, ada dua jenis penyakit yang dewasa ini telah berjangkit pada masyarakat, yaitu penyakit maknawi seperti praktik korupsi, kolusi dan nepotisme dan penyakit <em>hissi</em>, yang menyerang anggota lahir. Untuk membereskan yang pertama harus dilakukan revolusi mental yang menyeluruh –dari hulu ke hilir –untuk membangun birokrasi yang sehat dan sepenuhnya berorientasi pada pengabdian kepada masyarakat. Sedangkan untuk menangani yang kedua bisa dilakukan secara individu maupun kolektif. Secara individu setiap orang harus memperhatikan pola makan dan menjaga kebersihan diri sesuai dengan ketentuan syariat tentang bersuci dan menerapkan kebiasaan fitrah. Sedangkan secara kolektif dapat dilakukan dengan mendorong pemerintah untuk membangun sistem jaminan kesehatan masyarakat.</p>
<p>Keempat, antisipasi datangnya masa tua yang melemahkan. Kesibukan kerja terkadang bisa membuat sebagian orang tidak punya waktu untuk mengurus orang tua mereka yang sudah tidak berdaya. Persoalan tersebut dapat memicu penelantaran dan sikap durhaka yang nyata dicela oleh agama. Persoalan itu, antara lain, dapat ditangani dengan mengampanyekan, secara massif, gerakan berbakti kepada orang tua. Juga dengan mendorong pemerintah mengucurkan anggaran yang proporsional bagi jaminan sosial, melakukan donasi untuk menyejahterakan yayasan dan panti asuhan bagi orang jompo dan juga anak yatim.</p>
<p>Kelima, antisipasi terhadap datangnya kematian yang menyergap tiba-tiba, yaitu kematian secara bersama-sama dengan menggunakan alat pembunuh yang modern seperti ledakan, bom sabuk dan lain sebagainya. menangani hal tersebut dengan cara menyebarkan pemahaman perdamaian, mendorong pemerintah untuk menghentikan peperangan, meredam konflik berdarah antar golongan, menegakkan keadilan dan supremasi hukum, juga menihilkan sarana yang berpotensi digunakan untuk penghasutan, provokasi dan adu domba.</p>
<p>Keenam, berupaya menghadapi kemunculan Dajjal yang membawa kerusakan pada alam semesta. Fitnah agung yang kemungkinan timbul dari munculnya Dajjal dapat ditanggulangi dengan cara menyebarkan pemahaman terhadap fiqih tahawwulat dan ilmu tanda-tanda kiamat.</p>
<p>Ketujuh, menyiapkan bekal demi datangnya kiamat. Kiamat di sini memasukkan yang <em>sughra </em>(kematian individu) dan kiamat pada alam semesta. Cara mengantisipasinya ialah dengan mempersiapkan diri sebaik mungkin, dengan melakukan sebanyak mungkin amal shaleh, mengerjakan perintah dan menjauhi apa yang dilarang, serta bersegera kembali (tobat) kepada Allah Swt.</p>
<p>Kiamat pasti akan terjadi tapi dengan menyiapkan tujuh langkah tersebut, paling tidak dapat menjadi langkah antisipatif dan menyelamatkan kehidupan kita dari fitnah-fitnah akhir zaman.</p>
<p style="text-align: right;"><em>*) Direktur Media Dakwah Langitan</em></p>
<p>The post <a href="https://langitan.net/tujuh-protokol-peredam-kiamat-menurut-habib-abu-bakar-al-adni/">Tujuh Protokol ‘Peredam’ Kiamat Menurut Habib Abu Bakar Al-Adni</a> appeared first on <a href="https://langitan.net">Pondok Pesantren Langitan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://langitan.net/tujuh-protokol-peredam-kiamat-menurut-habib-abu-bakar-al-adni/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
