<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Masalah Fiqih Archives - Pondok Pesantren Langitan</title>
	<atom:link href="https://langitan.net/category/masalah-fiqih/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://langitan.net/category/masalah-fiqih/</link>
	<description>Widang, Tuban, Jawa Timur</description>
	<lastBuildDate>Mon, 01 Jul 2024 08:23:09 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.0</generator>

<image>
	<url>https://langitan.net/wp-content/uploads/2020/03/cropped-logo-langitan-net-32x32.png</url>
	<title>Masalah Fiqih Archives - Pondok Pesantren Langitan</title>
	<link>https://langitan.net/category/masalah-fiqih/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Fenomena Cek Khodam, Bagaimana Hukumnya dalam Islam?</title>
		<link>https://langitan.net/fenomena-cek-khodam-bagaimana-hukumnya-dalam-islam/</link>
					<comments>https://langitan.net/fenomena-cek-khodam-bagaimana-hukumnya-dalam-islam/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 01 Jul 2024 08:17:02 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Masalah Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[cek khodam]]></category>
		<category><![CDATA[hukum]]></category>
		<category><![CDATA[hukum cek khodam]]></category>
		<category><![CDATA[Masalah Fikih]]></category>
		<category><![CDATA[syariah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langitan.net/?p=224590</guid>

					<description><![CDATA[<p>Belakangan ini ada fenomena viral berupa cek khodam di medsos. Fenomena ini biasanya disiarkan live dengan tema “Cek Khodam” yang berisi penyebutan khodam oleh peramal kepada netizen yang menuliskan namanya dalam live tersebut. Nama-nama yang disetorkan akan dibacakan oleh peramal apakah ia mempunyai khodam atau tidak. Bahkan tak jarang netizen yang sudah disebutkan khodamnya memberikan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://langitan.net/fenomena-cek-khodam-bagaimana-hukumnya-dalam-islam/">Fenomena Cek Khodam, Bagaimana Hukumnya dalam Islam?</a> appeared first on <a href="https://langitan.net">Pondok Pesantren Langitan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_224591" style="width: 636px" class="wp-caption aligncenter"><img fetchpriority="high" fetchpriority="high" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-224591" class="wp-image-224591 size-full" src="https://langitan.net/wp-content/uploads/2024/07/man-black-hood-with-cristal-ball-summon-evil_494741-45993.jpg" alt="" width="626" height="418" srcset="https://langitan.net/wp-content/uploads/2024/07/man-black-hood-with-cristal-ball-summon-evil_494741-45993.jpg 626w, https://langitan.net/wp-content/uploads/2024/07/man-black-hood-with-cristal-ball-summon-evil_494741-45993-300x200.jpg 300w" sizes="(max-width: 626px) 100vw, 626px" /><p id="caption-attachment-224591" class="wp-caption-text">Ilustrasi cek khodam (source: freepik.com)</p></div>
<p><span style="font-weight: 400;">Belakangan ini ada fenomena viral berupa cek khodam di medsos. Fenomena ini biasanya disiarkan </span><i><span style="font-weight: 400;">live </span></i><span style="font-weight: 400;">dengan tema “Cek Khodam”</span> <span style="font-weight: 400;">yang berisi penyebutan khodam oleh peramal kepada netizen yang menuliskan namanya dalam live tersebut. Nama-nama yang disetorkan akan dibacakan oleh peramal apakah ia mempunyai khodam atau tidak. Bahkan tak jarang netizen yang sudah disebutkan khodamnya memberikan uang kepada si peramal. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Khodam yang dimaksud adalah sosok penjaga atau pengawal berupa jin yang </span><span style="font-weight: 400;">mendampingi tuannya, selalu mengikuti dan menuruti perintahnya. </span><span style="font-weight: 400;">Bagaimana hukum Islam memandang fenomena ini?</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Di dalam kajian fikih, peramal disebut dengan </span><em><span style="font-weight: 400;">Kahin </span></em><span style="font-weight: 400;">dan </span><em><span style="font-weight: 400;">‘Arraf</span></em><i><span style="font-weight: 400;">. Kahin </span></i><span style="font-weight: 400;">adalah seseorang yang menetapkan perkara gaib dengan </span><i><span style="font-weight: 400;">nujum </span></i><span style="font-weight: 400;">atau perkiraan. Adapun menurut Imam Abu Sulaiman al-Khattabi, </span><i><span style="font-weight: 400;">Kahin</span></i><span style="font-weight: 400;"> adalah seseorang yang mengambil kabar dari beberapa perkara yang ada di masa yang akan datang, dan dia mengaku bisa mengetahui perkara-perkara rahasia.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sedangkan </span><i><span style="font-weight: 400;">‘</span></i><em><span style="font-weight: 400;">Arraf </span></em><span style="font-weight: 400;">adalah seseorang yang mengaku bisa mengetahui tempat barang yang dicuri, tempat barang hilang dan semacamnya. (Imam Nawawi, <i>Tahdzib al-asma wa al-lughat, </i>[Maktabah Syamilah], juz 4, halaman 121-123).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Para ahli ilmu sepakat bahwa memberikan upah kepada peramal dan perbuatan jahat dihukumi haram. Imam Abu Muhammad al-Baghawi dalam kitabnya </span><em><span style="font-weight: 400;">Syarah as-Sunnah </span></em><span style="font-weight: 400;">berpendapat:</span></p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-weight: 400;">اتفق أهل العلم على تحريم مهر البغي وحلوان الكاهن </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Para ahli ilmu bersepakat atas diharamkannya memberi mahar kepada perbuatan jahat dan memberi upah kepada peramal.” (Imam Nawawi, <i>Tahdzib al-asma wa al-lughat, </i>[Maktabah Syamilah], juz 4, halaman 121-123).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Bahkan lebih luas, disebutkan dalam </span><em><span style="font-weight: 400;">Mughnil Muhtaj </span></em><span style="font-weight: 400;">bahwa ilmu ramalan, perbintangan dan sejenisnya haram dipelajari, diajarkan dan dipraktekan. Termasuk dari itu, berarti cek khodam adalah perbuatan yang dilarang oleh agama dan tidak boleh ada timbal balik harta di dalamnya.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Syaikh Khatib as-Syarbini mengatakan:</span></p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-weight: 400;">وأما الكهانة والتنجيم والضرب بالرمل والحصى والشعير والشعبذة فحرام تعليما وتعلما وفعلا وكذا إعطاء العوض او أخذه عنها</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Ramalan, perbintangan, ritual, sulap hukumnya haram, baik mengajarkan, belajar dan mempraktikkan. Begitu juga haram memberikan imbalan atau mengambil imbalan dari hal tersebut.” (Syaikh Khatib as-Syarbini, </span><em><span style="font-weight: 400;">Mughnil Muhtaj</span></em><i><span style="font-weight: 400;">, </span></i><span style="font-weight: 400;">[Beirut, </span><em><span style="font-weight: 400;">Dar al-Kutub al-Islamiyah</span></em><i><span style="font-weight: 400;">: </span></i><span style="font-weight: 400;">2000], juz 5, halaman 395),</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Lalu bagaimana hukum bertanya dalam </span><span style="font-weight: 400;"><em>live</em> </span><span style="font-weight: 400;">cek khodam dan mempercayainya?</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Praktik cek khodam telah kita sepakati di awal atas keharamannya, karena praktik tersebut sama dengan perbuatan meramal. Oleh karena itu, mendatangi peramal dan membenarkan apa yang dikatakannya maka ia juga dihukumi haram. Bahkan dikatakan kufur orang yang melakukannya.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Rasulullah saw bersabda:</span></p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-weight: 400;">من أتى كاهنا فصدقه بما يقول فقد برئ مما أنزل الله على محمد</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Barang siapa yang mendatangi peramal dan membenarkan apa yang dikatakannya, maka ia telah bebas (kufur) dari perkara yang diturunkan Allah Swt kepada Nabi Muhammad saw.” Dalam riwayat lain disebutkan:</span></p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-weight: 400;">من أتى كاهنا أو عرافا فصدقه بما يقول فقد كفر بما أنزل على محمد</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Barang siapa yang mendatangi </span><em><span style="font-weight: 400;">Kahin </span></em><span style="font-weight: 400;">atau </span><i><span style="font-weight: 400;">‘</span></i><em><span style="font-weight: 400;">Arraf </span></em><span style="font-weight: 400;">dan membenarkannya apa yang dikatakannya, maka ia telah kufur dari perkara yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw.” (HR. Ahmad)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Namun hal ini diberi beberapa ketentuan oleh Imam Munawi dalam </span><em><span style="font-weight: 400;">Faidh al-Qadir</span></em><i><span style="font-weight: 400;">. </span></i><span style="font-weight: 400;">Beliau mengatakan apabila seseorang meyakini atau percaya bahwa peramal mampu mengetahui hal-hal gaib tanpa perantara apa pun, maka dihukumi haram, dan orang tersebut dianggap kafir. Namun bila meyakini tentang hal gaib itu karena perantara seperti jin bukan kemampuan sendiri, maka dihukumi haram, tapi tidak sampai kafir. (Abdurrauf al-Munawi, </span><em><span style="font-weight: 400;">Faidh al-Qadir</span></em><i><span style="font-weight: 400;">, </span></i><span style="font-weight: 400;">[Beirut</span><i><span style="font-weight: 400;">, </span></i><em><span style="font-weight: 400;">Dar al-Ma&#8217;rifah</span></em><i><span style="font-weight: 400;">: </span></i><span style="font-weight: 400;">1972]</span><i><span style="font-weight: 400;">, </span></i><span style="font-weight: 400;">juz 6,halaman 23.</span></p>
<p>Penulis: Mahir Riyadl</p>
<p>Editor: M. Abdullah Al-Faiq</p>
<p>The post <a href="https://langitan.net/fenomena-cek-khodam-bagaimana-hukumnya-dalam-islam/">Fenomena Cek Khodam, Bagaimana Hukumnya dalam Islam?</a> appeared first on <a href="https://langitan.net">Pondok Pesantren Langitan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://langitan.net/fenomena-cek-khodam-bagaimana-hukumnya-dalam-islam/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Panduan Bagi Orang yang Terlambat Shalat Jumat</title>
		<link>https://langitan.net/panduan-bagi-orang-yang-terlambat-shalat-jumat/</link>
					<comments>https://langitan.net/panduan-bagi-orang-yang-terlambat-shalat-jumat/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 24 May 2024 01:05:13 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Masalah Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[makmum masbuq]]></category>
		<category><![CDATA[makmum muwafiq]]></category>
		<category><![CDATA[panduan]]></category>
		<category><![CDATA[shalat jumat]]></category>
		<category><![CDATA[terlambat]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langitan.net/?p=224532</guid>

					<description><![CDATA[<p>Idealnya, berangkat shalat Jumat itu sepagi mungkin, namun karena beberapa kendala, terkadang kita terlambat dalam mengikuti  pelaksanaan shalat, adakalanya saat terlambat menemui satu rakaat dari imam, adakalanya hanya menemui tahiyat akhir saja, bagaimana panduan shalat Jumat bagi orang yang datang terlambat? Sebelum itu, mari kita ketahui bahwa seorang yang terlambat mengikuti imam dalam shalat itu [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://langitan.net/panduan-bagi-orang-yang-terlambat-shalat-jumat/">Panduan Bagi Orang yang Terlambat Shalat Jumat</a> appeared first on <a href="https://langitan.net">Pondok Pesantren Langitan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_224533" style="width: 1034px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-224533" class="wp-image-224533 size-large" src="https://langitan.net/wp-content/uploads/2024/05/sangga-rima-roman-selia-FLtz7WMP6XE-unsplash-1-1024x570.jpg" alt="" width="1024" height="570" srcset="https://langitan.net/wp-content/uploads/2024/05/sangga-rima-roman-selia-FLtz7WMP6XE-unsplash-1-1024x570.jpg 1024w, https://langitan.net/wp-content/uploads/2024/05/sangga-rima-roman-selia-FLtz7WMP6XE-unsplash-1-300x167.jpg 300w, https://langitan.net/wp-content/uploads/2024/05/sangga-rima-roman-selia-FLtz7WMP6XE-unsplash-1-768x428.jpg 768w, https://langitan.net/wp-content/uploads/2024/05/sangga-rima-roman-selia-FLtz7WMP6XE-unsplash-1-1536x855.jpg 1536w, https://langitan.net/wp-content/uploads/2024/05/sangga-rima-roman-selia-FLtz7WMP6XE-unsplash-1-2048x1140.jpg 2048w, https://langitan.net/wp-content/uploads/2024/05/sangga-rima-roman-selia-FLtz7WMP6XE-unsplash-1-1080x601.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><p id="caption-attachment-224533" class="wp-caption-text">Foto: Unsplash.com</p></div>
<p><span style="font-weight: 400;">Idealnya, berangkat shalat Jumat itu sepagi mungkin, namun karena beberapa kendala, terkadang kita terlambat dalam mengikuti  pelaksanaan shalat, adakalanya saat terlambat menemui satu rakaat dari imam, adakalanya hanya menemui tahiyat akhir saja, bagaimana panduan shalat Jumat bagi orang yang datang terlambat?</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sebelum itu, mari kita ketahui bahwa seorang yang terlambat mengikuti imam dalam shalat itu disebut makmum </span><em><span style="font-weight: 400;">masbuq, </span></em><span style="font-weight: 400;">kebalikannya, disebut makmum </span><em><span style="font-weight: 400;">muwafiq.</span></em></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Lebih jelasnya mari kita ikuti keterangan dari Syaikh Sa’id bin Muhammad Ba’isun tentang definisi makmum </span><i><span style="font-weight: 400;">muwafiq </span></i><span style="font-weight: 400;">dan </span><i><span style="font-weight: 400;">masbuq. </span></i><span style="font-weight: 400;">Dalam kitab </span><em><span style="font-weight: 400;">Busyra al-Karim </span></em><span style="font-weight: 400;">disebutkan:</span><span style="font-weight: 400;"><br />
</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400;">هَذَا كُلُّهُ فِي الْمُوَافِقِ وَهُوَ مَنْ أَدْرَكَ مَعَ الْإِمَامِ قَدْرَ الْفَاتِحَةِ بِالنِّسْبَةِ اِلَى الْقِرَاءَةِ الْمُعْتَدِلَةِ لَا لِقِرَاءَةِ الْإِمَامِ وَلَا لِقِرَاءَةِ نَفْسِهِ عَلىَ الْأَوْجَهِ. اِلَى اَنْ قَالَ وَأَمَّا الْمَسْبُوْقُ وَهُوَ مَنْ لَمْ يُدْرِكْ مَا مَرَّ فِي الْمُوَافِقِ فِيْ ظَنِّهِ مِنَ الرَّكْعَةِ الْأُوْلَى أَوْ غَيْرِهَا   </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Artinya: “Yang demikian tersebut berlaku untuk makmum</span><i><span style="font-weight: 400;"> muwafiq,</span></i><span style="font-weight: 400;"> yaitu makmum yang menemui durasi waktu membaca al-Fatihah bersama Imam sesuai dengan standar bacaan sedang, bukan bacaannya Imam dan makmum sendiri menurut pendapat al-aujah (yang kuat). Adapun </span><i><span style="font-weight: 400;">masbuq </span></i><span style="font-weight: 400;">yaitu orang yang tidak menemui kriteria yang disebutkan dalam makmum</span><i><span style="font-weight: 400;"> muwafiq</span></i><span style="font-weight: 400;"> sesuai dugaannya, baik di rakaat pertama atau lainnya.” (Al-Syaikh Sa’id bin Muhammad Ba’isyun,</span><em><span style="font-weight: 400;"> Busyra al-Karim bi Syarhi Masail al-Ta’lim</span></em><span style="font-weight: 400;">)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Berkaitan dengan makmum </span><span style="font-weight: 400;"><em>masbuq</em> </span><span style="font-weight: 400;">shalat Jumat, setidaknya ada dua perincian yang perlu dipahami sebagaimana berikut.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Pertama, </span><em><span style="font-weight: 400;">masbuq </span></em><span style="font-weight: 400;">yang menemui ruku’ rakaat kedua dari imam.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;"><em>Masbuq</em> </span><span style="font-weight: 400;">yang pertama ini adalah yang menemui satu rakaat bersama imam, setelah imam salam, ia hanya perlu menambah satu rakaat saja dan shalat Jumatnya sudah sah.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Syaikh Zainuddin Al-Malibari mengatakan,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400;">ولو أدرك المسبوق ركوع الثانية واستمر معه إلى أن سلم أتى بركعة بعد سلامه جهرا وتمت جمعته </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Jika makmum </span><em><span style="font-weight: 400;">masbuq </span></em><span style="font-weight: 400;">menemui rukuk pada rakaat kedua dari imam, dan makmum mengikutinya sampai imam salam, maka bagi makmum untuk menambah satu rakaat lagi setelah salamnya imam dengan bacaan yang keras, dan sempuranalah shalat Jumatnya makmum tadi” (Syaikh Zainuddin Al-Malibari, </span><em><span style="font-weight: 400;">Fathul Muin</span></em><span style="font-weight: 400;">)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kedua, </span><span style="font-weight: 400;"><em>masbuq</em> </span><span style="font-weight: 400;">yang tidak menemui ruku rakaat kedua dari imam.</span></p>
<p><em><span style="font-weight: 400;">Masbuq </span></em><span style="font-weight: 400;">jenis kedua ini adalah </span><i><span style="font-weight: 400;">masbuq </span></i><span style="font-weight: 400;">yang sama sekali tidak menemui rakaatnya imam. Adapun ketentuannya, si makmum wajib mengikuti shalat Jumat dengan niat shalat Jumat. Setelah salamnya imam, ia wajib menyempurnakannya seperti shalat Dzuhur, maksudnya wajib menambahkan 4 rakaat sebagaimana shalat Dzuhur tanpa perlu niat shalat Dzuhur.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Syaikh Zainuddin Al-Malibari menjelaskan, </span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400;">وتجب على من جاء بعد ركوع الثانية نية الجمعة على الأصح وإن كانت </span><span style="font-weight: 400;">الظهر هي اللازمة له </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Dan wajib bagi seorang yang shalat Jumatnya setelah ruku rakaat kedua imam, berniat shalat Jumat menurut pendapat yang ashah, walaupun shalat yang dilakukan shalat Dzuhur, shalat itu menetapi baginya” (Syaikh Zainuddin Al-Malibari, </span><em><span style="font-weight: 400;">Fathul Mu’in</span></em><span style="font-weight: 400;">)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Adapun bila </span><em><span style="font-weight: 400;">masbuq </span></em><span style="font-weight: 400;">jenis kedua ini setelah menyempurnakan shalatnya menemukan jamaah shalat Jumat yang lain, maka ia wajib mengikutinya, sedangkan shalat Dzuhur yang ia lakukan, dengan sendirinya berstatus shalat sunnah.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Syaikh Mahfudz, pakar fikih dan hadits dari Pacitan dalam kitabnya </span><i><span style="font-weight: 400;">Hasyiyah Al-Turmusi</span></i><span style="font-weight: 400;"> menjelaskan, </span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400;">وَلَوْ أَدْرَكَ هَذَا الْمَسْبُوْقُ بَعْدَ صَلَاتِهِ الظُّهْرَ جَمَاعَةً يُصَلُّوْنَ الْجُمُعَةَ وَجَبَ عَلَيْهِ أَنْ يُصَلِّيَهَا مَعَهُمْ كَمَا قَالَهُ فِي النِّهَايَةِ وَيَتَبَيَّنُ انْقِلَابُ الظُّهْرِ نَفْلًا لِأَنَّهُ مِنْ أَهْلِ الْوُجُوْبِ وَبَانَ عَدَمُ الْفَوَاتِ وَمَعْلُوْمٌ أَنَّ الْكَلَامَ عِنْدَ جَوَازِ التَّعَدُّدِ.  </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;"> “Apabila setelah shalat dzuhur </span><em><span style="font-weight: 400;">masbuq </span></em><span style="font-weight: 400;">jenis ini menemui kelompok yang melaksanakan Jumat, maka ia wajib mengikuti Jumat bersama mereka seperti yang dikatakan Imam al-Ramli dalam kitab </span><i><span style="font-weight: 400;">a</span></i><em><span style="font-weight: 400;">l-Nihayah</span></em><span style="font-weight: 400;"><em>.</em> Dan telah nyata Dzuhur yang dilakukannya berubah menjadi sunah, sebab ia tergolong orang yang berkewajiban Jumat, sementara nyatanya Jumat tidak terlewatkan untuknya. Dan merupakan hal yang maklum, dalam hal ini konteksnya adalah saat diperbolehkan berbilangnya pelaksanaan Jumat dalam satu desa”. </span><em><span style="font-weight: 400;">Wallahu A’lamu</span></em></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Penulis: Mahir Riyadl</span></p>
<p>The post <a href="https://langitan.net/panduan-bagi-orang-yang-terlambat-shalat-jumat/">Panduan Bagi Orang yang Terlambat Shalat Jumat</a> appeared first on <a href="https://langitan.net">Pondok Pesantren Langitan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://langitan.net/panduan-bagi-orang-yang-terlambat-shalat-jumat/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Hukum Jual Beli Chip Domino dalam Islam                                                       </title>
		<link>https://langitan.net/hukum-jual-beli-chip-domino/</link>
					<comments>https://langitan.net/hukum-jual-beli-chip-domino/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 13 Dec 2023 13:28:17 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Masalah Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[higgs domino]]></category>
		<category><![CDATA[hukum fikih]]></category>
		<category><![CDATA[jual beli chip]]></category>
		<category><![CDATA[Masalah Fikih]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langitan.net/?p=224468</guid>

					<description><![CDATA[<p>&#160; Permainan berbasis internet atau game online, akhir-akhir ini semakin banyak disukai di kalangan masyarakat luas, salah satunya seperti game Higgs Domino. Game tersebut tidak hanya sekedar permainan mengisi waktu senggang, tetapi juga telah menjadi ajang tempat mencari uang. Mekanisme penghasilan uang di dalam game Higgs Domino adalah dengan  mendapatkan chip. Chip sendiri merupakan mata [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://langitan.net/hukum-jual-beli-chip-domino/">Hukum Jual Beli Chip Domino dalam Islam                                                       </a> appeared first on <a href="https://langitan.net">Pondok Pesantren Langitan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>&nbsp;</p>
<p><img decoding="async" class="size-full wp-image-224469 aligncenter" src="https://langitan.net/wp-content/uploads/2023/12/WEBSITE.jpg" alt="" width="750" height="416" srcset="https://langitan.net/wp-content/uploads/2023/12/WEBSITE.jpg 750w, https://langitan.net/wp-content/uploads/2023/12/WEBSITE-300x166.jpg 300w" sizes="(max-width: 750px) 100vw, 750px" /></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Permainan berbasis internet atau game online, akhir-akhir ini semakin banyak disukai di kalangan masyarakat luas, salah satunya seperti game Higgs Domino. Game tersebut tidak hanya sekedar permainan mengisi waktu senggang, tetapi juga telah menjadi ajang tempat mencari uang.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Mekanisme penghasilan uang di dalam game Higgs Domino adalah dengan  mendapatkan chip. Chip sendiri merupakan mata uang yang digunakan pemain untuk dipertaruhkan dalam game tersebut dengan tujuan menghasilkan chip yang lebih besar. Chip yang sudah terkumpul banyak bisa ditukarkan dengan mata uang resmi di setiap negara.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Pendapatan chip sendiri, bisa didapat melalui login setiap hari di game tersebut dan dengan melakukan pembelian dengan mata uang resmi di agen yang menjualnya.</span></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><span style="font-weight: 400;"><strong>Pertanyaan</strong>:</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Bagaimana hukum memainkan game Higgs Domino dan menjual-belikan chip?</span></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Jawaban:</strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Haram, karena mengandung unsur spekulasi di dalamnya, dan penjualannya juga haram karena chip tidak tergolong barang yang bermanfaat secara syariat serta di dalam chip juga ada unsur tolong-menolong untuk melakukan maksiat.</span></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><span style="font-weight: 400;">Referensi: Tukhfah al-mukhtaj fi syarakh al-manhaj {43} : 470  Al-fiqih Al-manhaji Ala madhab imam safi’i {8} : 166 Al-fiqih Al-manhaji Ala madhab imam safi’i {8} : 167Isad al-rifiq {2} : 127 Al asbah wa alnadho’ir {1} : 327 </span></p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-weight: 400;">تحفة المحتاج في شرح المنهاج &#8211; (ج 43 / ص 470)</span></p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-weight: 400;">( وَيَحْرُمُ اللَّعِبُ بِالنَّرْدِ عَلَى الصَّحِيحِ ) لِخَبَرِ مُسْلِمٍ { مَنْ لَعِبَ بِالنَّرْدَشِيرِ فَكَأَنَّمَا غَمَسَ يَدَهُ فِي لَحْمِ خِنْزِيرٍ وَدَمِهِ } وَفِي رِوَايَةٍ لِأَبِي دَاوُد { فَقَدْ عَصَى اللَّهَ وَرَسُولَهُ } وَهُوَ صَغِيرَةٌ وَفَارَقَ الشِّطْرَنْجَ بِأَنَّ مُعْتَمَدَهُ الْحِسَابُ الدَّقِيقُ وَالْفِكْرُ الصَّحِيحُ فَفِيهِ تَصْحِيحُ الْفِكْرِ ، وَنَوْعٌ مِنْ التَّدْبِيرِ وَمُعْتَمَدُ النَّرْدِ الْحَزْرُ وَالتَّخْمِينُ الْمُؤَدِّي إلَى غَايَةٍ مِنْ السَّفَاهَةِ وَالْحُمْقِ .</span></p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-weight: 400;">قَالَ الرَّافِعِيُّ : وَتَبِعُوهُ مَا حَاصِلُهُ وَيُقَاسُ بِهِمَا كُلُّ مَا فِي مَعْنَاهُمَا مِنْ أَنْوَاعِ اللَّهْوِ فَكُلُّ مَا مُعْتَمَدُهُ الْحِسَابُ وَالْفِكْرُ كَالْمِنْقَلَةِ حُفَرٌ أَوْ خُطُوطٌ يُنْقَلُ مِنْهَا وَإِلَيْهَا حَصًى بِالْحِسَابِ لَا يَحْرُمُ وَمَحَلُّهُ فِي الْمِنْقَلَةِ إنْ لَمْ يَكُنْ حِسَابُهُمَا تَبَعًا لِمَا يُخْرِجُهُ الطَّابُ الْآتِي وَإِلَّا حَرُمَتْ ، وَكُلُّ مَا مُعْتَمَدُهُ التَّخْمِينُ يَحْرُمُ</span></p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-weight: 400;">الفقه المنهجي على مذهب الإمام الشافعي (8/ 166)</span></p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-weight: 400;">أولاً: الألعاب الهادئة الشائعة بين الناس، كالشطرنج، والنرد، وما يسمى بالشدة، أي الورق، ونحوها وهذه الألعاب تقوم أحكامها على أساس القاعدة التالية:</span></p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-weight: 400;">? كل ما كان من هذه الألعاب قائماً على التفكير والتدبير والنظر في العواقب، فهو جائز، ثم هو يدور بين الإباحة والكراهة حسب مدى انصراف اللاعب إليها، وانشغاله بها. من هذه الألعاب الشطرنج، فهو قائم على تشغيل الذهن، وتحريك العقل والفكر. ولا ريب أنه لا يخلو عن فائدة للذهن والعقل، فإن عكف عليه زيادة عما تقتضيه هذه الفائدة، فهو مكروه، فإن زاد عكوفه حتى فوت بسببه بعض الواجبات عاد محرماً.</span></p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-weight: 400;">? وكل ما كان قائماً على المصادفة، وإغماض الفكر والعقل، كالنرد، والورق، ونحوهما فهو محرم، وذلك لأن مثل هذه الألعاب يعود النفس على الركون إلي معني المصادفة في تقلبات الأحوال والأمور، ويجعل العقل يتخيل المصادفة هي العامل الأول في الكون وحركته، فهو من اللهو الذي يترك أثراً ضاراً في النفس.</span></p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-weight: 400;">الفقه المنهجي على مذهب الإمام الشافعي (8/ 167)</span></p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-weight: 400;">لا يجوز شيء من اللهو على مال مشروط:</span></p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-weight: 400;">ثم أعلم أن شيئاً من أصناف اللهو واللعب التي ذكرناها، لا يجوز على المال، سواء كان من طرف واحد أو طرفين، أو من أجنبي عنهما. وكل مال يدخل في شيء من اللهو الذي ذكرنا، فهو من الميسر الذي يحرم تعاطيه، إلا أن في شرط المال في المصارعة المباحة، وجهاً عند الشافعية، فهي ـ على هذا الوجه ـ تتبع السباق والرمي اللذين مضي حكمهما.</span></p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-weight: 400;">دليل هذا الوجه: ما رواه أو داود في مراسليه: &#8221; أن النبي &#8211; صلى الله عليه وسلم &#8211; صارع ركانة، إذ كان مشركاً، على شياه &#8220;. والصحيح في المذهب أنه لا يجوز شرط المال في شيء غير السباق والرمي، من أصناف اللعب واللهو المباحة، وإن كان مصارعة.</span></p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-weight: 400;">إسعاد الرفيق ج : 2 ص : 127</span></p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-weight: 400;">( و ) منها ( الإعانة على المعاصي ) أي على معصية من معاصي الله بقول أوفعل أوغيره ثم إن كانت المعصية كبيرة كانت الإعانة عليها كذلك كما في الزواجر قال فيها وذكري لهذين أي الرضا بها والإعانة عليها بأي نوع كان ظاهر معلوم مما سيأتي في الأمر بالمعروف والنهي عن المنكر . إهـ</span></p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-weight: 400;">الأشباه والنظائر &#8211; (ج 1 / ص 327)</span></p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-weight: 400;">خاتمة  في ضبط المال والمتمول  أما المال فقال الشافعي رضي الله عنه لا يقع اسم مال إلا على ماله قيمة يباع بها وتلزم متلفه وإن قلت ومالا يطرحه الناس مثل الفلس وما أشبه ذلك انتهى وأما المتمول فذكر الإمام له في باب اللقطة ضابطين أحدهما أن كل ما يقدر له أثر في النفع فهو متمول وكل مالا يظهر له أثر في الانتفاع فهو لقلته خارج عما يتمول الثاني أن المتمول هو الذي يعرض له قيمة عند غلاء الأسعار والخارج عن المتمول هو الذي لا يعرض فيه ذلك</span></p>
<p style="text-align: left;">Penulis: Hilmi</p>
<p>Editor: Abdullah Al-Faiq</p>
<p>The post <a href="https://langitan.net/hukum-jual-beli-chip-domino/">Hukum Jual Beli Chip Domino dalam Islam                                                       </a> appeared first on <a href="https://langitan.net">Pondok Pesantren Langitan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://langitan.net/hukum-jual-beli-chip-domino/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Anjuran Melaksanakan Puasa Arafah bagi Umat Islam</title>
		<link>https://langitan.net/anjuran-melaksanakan-puasa-arafah-bagi-umat-islam/</link>
					<comments>https://langitan.net/anjuran-melaksanakan-puasa-arafah-bagi-umat-islam/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 22 Jun 2023 15:17:49 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Masalah Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[9 Dzulhijjah]]></category>
		<category><![CDATA[hukum]]></category>
		<category><![CDATA[niat]]></category>
		<category><![CDATA[Puasa Arafah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langitan.net/?p=223944</guid>

					<description><![CDATA[<p>Memasuki bulan Dzulhijjah, umat Islam dianjurkan berpuasa sunah, puasa sunah tersebut biasa dikenal dengan puasa Arafah. Puasa Arafah adalah puasa yang dikerjakan setiap tanggal 9 di bulan Dzulhijjah, puasa ini dalam pandangan ilmu fikih merupakan puasa yang tergolong sunah muakkad (sangat dianjurkan). Dalam Fath al-Mu&#8217;in disebutkan. يسن متاكدا صوم يوم عررفة وهو تاسع ذي الحجة [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://langitan.net/anjuran-melaksanakan-puasa-arafah-bagi-umat-islam/">Anjuran Melaksanakan Puasa Arafah bagi Umat Islam</a> appeared first on <a href="https://langitan.net">Pondok Pesantren Langitan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><img loading="lazy" loading="lazy" decoding="async" class="alignnone size-large wp-image-223947" src="https://langitan.net/wp-content/uploads/2023/06/ekrem-osmanoglu-niyRP-FxL7s-unsplash-1-1024x683.jpg" alt="" width="1024" height="683" srcset="https://langitan.net/wp-content/uploads/2023/06/ekrem-osmanoglu-niyRP-FxL7s-unsplash-1-1024x683.jpg 1024w, https://langitan.net/wp-content/uploads/2023/06/ekrem-osmanoglu-niyRP-FxL7s-unsplash-1-300x200.jpg 300w, https://langitan.net/wp-content/uploads/2023/06/ekrem-osmanoglu-niyRP-FxL7s-unsplash-1-768x512.jpg 768w, https://langitan.net/wp-content/uploads/2023/06/ekrem-osmanoglu-niyRP-FxL7s-unsplash-1-1536x1024.jpg 1536w, https://langitan.net/wp-content/uploads/2023/06/ekrem-osmanoglu-niyRP-FxL7s-unsplash-1-2048x1365.jpg 2048w, https://langitan.net/wp-content/uploads/2023/06/ekrem-osmanoglu-niyRP-FxL7s-unsplash-1-1080x720.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></p>
<p><span style="vertical-align: inherit;"><span style="vertical-align: inherit;">Memasuki bulan Dzulhijjah, umat Islam dianjurkan berpuasa sunah, puasa sunah tersebut biasa dikenal dengan puasa Arafah.</span></span></p>
<p><span style="vertical-align: inherit;"><span style="vertical-align: inherit;">Puasa Arafah adalah puasa yang dikerjakan setiap tanggal 9 di bulan Dzulhijjah, puasa ini dalam pandangan ilmu fikih merupakan puasa yang tergolong sunah </span></span><em><span style="vertical-align: inherit;"><span style="vertical-align: inherit;">muakkad</span></span></em><span style="vertical-align: inherit;"><span style="vertical-align: inherit;"> (sangat dianjurkan).</span></span></p>
<p><span style="vertical-align: inherit;"><span style="vertical-align: inherit;">Dalam </span></span><em><span style="vertical-align: inherit;"><span style="vertical-align: inherit;">Fath al-Mu&#8217;in</span></span></em><span style="vertical-align: inherit;"><span style="vertical-align: inherit;"> disebutkan.</span></span></p>
<p style="text-align: right;"><span style="vertical-align: inherit;"><span style="vertical-align: inherit;">يسن متاكدا صوم يوم عررفة وهو تاسع ذي الحجة</span></span></p>
<p><em><span style="vertical-align: inherit;"><span style="vertical-align: inherit;">“Disunnahkan secara muakkad puasa di hari Arafah, puasa Arafah adalah puasa di hari ke sembilan bulan Dzulhijjah.”</span></span></em></p>
<p><span style="vertical-align: inherit;"><span style="vertical-align: inherit;">Anjuran puasa ini sendiri, hanya dianjurkan bagi umat Islam yang sedang tidak melaksanakan haji, apabila ada seorang yang sedang haji dan melakukan puasa Arafah maka lebih utama untuk membatalkannya.</span></span></p>
<p><span style="vertical-align: inherit;"><span style="vertical-align: inherit;">Dalam </span></span><em><span style="vertical-align: inherit;"><span style="vertical-align: inherit;">Umdath as-Salik,</span></span></em><span style="vertical-align: inherit;"><span style="vertical-align: inherit;"> Imam Syihabuddin Abi Abbas menjelaskan,</span></span></p>
<p style="text-align: right;"><span style="vertical-align: inherit;"><span style="vertical-align: inherit;">وصوم يوم عرفة الا للحاج بعرفة ففطره افضل</span></span></p>
<p><em><span style="vertical-align: inherit;"><span style="vertical-align: inherit;">“Dan (disunnahkan) berpuasa di hari Arafah kecuali bagi seorang yang sedang berhaji yang wukuf di Arafah, maka pembatalannya lebih diutamakan.”  </span></span></em></p>
<p><strong><span style="vertical-align: inherit;"><span style="vertical-align: inherit;">Keutamaan Puasa Arafah</span></span></strong></p>
<p><span style="vertical-align: inherit;"><span style="vertical-align: inherit;">Termasuk dari keutamaan puasa Arafah adalah bisa melebur dosa-dosa yang sudah lalu dan yang akan datang. </span><span style="vertical-align: inherit;">Dalam hadis yang terdapat pada </span></span><em><span style="vertical-align: inherit;"><span style="vertical-align: inherit;">Shohih Muslim,</span></span></em><span style="vertical-align: inherit;"><span style="vertical-align: inherit;"> Rasulullah SAW pernah bersabda,</span></span></p>
<p style="text-align: right;"><span style="vertical-align: inherit;"><span style="vertical-align: inherit;">صيام يوم عرفة احتسب على الله ان يكفر السنة التى قبله والتى بعده</span></span></p>
<p><em><span style="vertical-align: inherit;"><span style="vertical-align: inherit;">“Berpuasa di hari Arafah, saya (Nabi Muhammad) menganggap bahwa Allah Swt akan melebur dosa-dosa yang telah lewat dan dosa-dosa yang akan datang.” </span></span></em><span style="vertical-align: inherit;"><span style="vertical-align: inherit;">(HR.Muslim).</span></span></p>
<p><span style="vertical-align: inherit;"><span style="vertical-align: inherit;">Dosa-dosa yang dimaksud di sini adalah dosa-dosa kecil yang tidak ada sangkut pautnya dengan hak </span></span><em><span style="vertical-align: inherit;"><span style="vertical-align: inherit;">adami</span></span></em><span style="vertical-align: inherit;"><span style="vertical-align: inherit;"> (sesama manusia). </span><span style="vertical-align: inherit;">Hal ini sebegaimana penjelasan Imam Zainuddin Al-Malibari dalam kitabnya </span></span><em><span style="vertical-align: inherit;"><span style="vertical-align: inherit;">(Fathul Mu&#8217;in).</span></span></em></p>
<p><strong><span style="vertical-align: inherit;"><span style="vertical-align: inherit;">Pelaksanaan Puasa Arafah</span></span></strong></p>
<p><span style="vertical-align: inherit;"><span style="vertical-align: inherit;">Adapun pelaksaan puasa Arafah adalah sebagaimana puasa-puasa yang lain, perbedaannya puasa ini dilakukan pada tanggal sembilan bulan Dzulhijjah.</span></span></p>
<p><span style="vertical-align: inherit;"><span style="vertical-align: inherit;">Sementara itu, lafal niat puasa Arafah adalah sebagai berikut:</span></span></p>
<p style="text-align: right;"><span style="vertical-align: inherit;"><span style="vertical-align: inherit;">نويت صوم غد عن اداء سنة ىوم عرفة</span></span></p>
<p><em><span style="vertical-align: inherit;"><span style="vertical-align: inherit;">(Nawaitu shauma ghadin &#8216;an ada&#8217;i sunnati Arafah lillahi ta&#8217;ala).</span></span></em></p>
<p><span style="vertical-align: inherit;"><span style="vertical-align: inherit;">Artinya: </span></span><em><span style="vertical-align: inherit;"><span style="vertical-align: inherit;">“Saya merekomendasikan puasa sunnah Arafah besok hari karena Allah Swt.”</span></span></em></p>
<p>Penulis: Mahirur Riyadl</p>
<p>Editor: Faiq</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>The post <a href="https://langitan.net/anjuran-melaksanakan-puasa-arafah-bagi-umat-islam/">Anjuran Melaksanakan Puasa Arafah bagi Umat Islam</a> appeared first on <a href="https://langitan.net">Pondok Pesantren Langitan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://langitan.net/anjuran-melaksanakan-puasa-arafah-bagi-umat-islam/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Badal Haji, Bagaimana Hukum dan Syarat-Syaratnya?</title>
		<link>https://langitan.net/badal-haji-bagaimana-hukum-dan-syarat-syaratnya/</link>
					<comments>https://langitan.net/badal-haji-bagaimana-hukum-dan-syarat-syaratnya/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 15 Jun 2023 07:36:10 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Masalah Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[Badal Haji]]></category>
		<category><![CDATA[hukum]]></category>
		<category><![CDATA[Masalah Fikih]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langitan.net/?p=223917</guid>

					<description><![CDATA[<p>Terhitung sampai tanggal 13 Juni 2023, para jamaah haji asal Indonesia yang meninggal di tanah suci sudah sebanyak 58 orang. Menyikapi hal ini, pemerintah membentuk tim badal haji untuk para jamaah yang meninggal tersebut. Lalu bagaimana hukum dan syarat-syaratnya? Simak penjelasannya di bawah ini. Pengertian Badal Haji Dilansir dari kemenag.go.id, Hasil Mudzakarah Perhajian Nasional Tentang [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://langitan.net/badal-haji-bagaimana-hukum-dan-syarat-syaratnya/">Badal Haji, Bagaimana Hukum dan Syarat-Syaratnya?</a> appeared first on <a href="https://langitan.net">Pondok Pesantren Langitan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_223918" style="width: 1034px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-223918" class="wp-image-223918 size-large" src="https://langitan.net/wp-content/uploads/2023/06/haidan-sOctm8gwAqQ-unsplash-1-1024x683.jpg" alt="" width="1024" height="683" srcset="https://langitan.net/wp-content/uploads/2023/06/haidan-sOctm8gwAqQ-unsplash-1-1024x683.jpg 1024w, https://langitan.net/wp-content/uploads/2023/06/haidan-sOctm8gwAqQ-unsplash-1-300x200.jpg 300w, https://langitan.net/wp-content/uploads/2023/06/haidan-sOctm8gwAqQ-unsplash-1-768x512.jpg 768w, https://langitan.net/wp-content/uploads/2023/06/haidan-sOctm8gwAqQ-unsplash-1-1536x1024.jpg 1536w, https://langitan.net/wp-content/uploads/2023/06/haidan-sOctm8gwAqQ-unsplash-1-2048x1365.jpg 2048w, https://langitan.net/wp-content/uploads/2023/06/haidan-sOctm8gwAqQ-unsplash-1-1080x720.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><p id="caption-attachment-223918" class="wp-caption-text">Image Source: Unsplash</p></div>
<p>Terhitung sampai tanggal 13 Juni 2023, para jamaah haji asal Indonesia yang meninggal di tanah suci sudah sebanyak 58 orang. Menyikapi hal ini, pemerintah membentuk tim badal haji untuk para jamaah yang meninggal tersebut. Lalu bagaimana hukum dan syarat-syaratnya? Simak penjelasannya di bawah ini.</p>
<h4><strong>Pengertian </strong>Badal<strong> Haji</strong></h4>
<p>Dilansir dari kemenag.go.id, Hasil Mudzakarah Perhajian Nasional Tentang Badal Haji [2016]. Badal haji adalah pelaksanaan ibadah haji yang dilakukan oleh seseorang atas nama orang lain yang sudah meninggal (sejak di embarkasi dan pelaksanaan wukuf). Juga bagi jamaah haji yang uzur jasmani dan rohani (tidak dapat diharapkan kesembuhannya menurut medis, sakit tergantung dengan alat, dan gangguan jiwa), sehingga tidak dapat melaksanakan wukuf di Arafah.</p>
<h4>Hukum Badal Haji</h4>
<p>Sayyid Abu Bakar Utsman bin Muhammad Syatha’ ad-Dimyathi as-Syafi’i dalam kitabnya, <em>I’anah at-Thalibin</em> menyatakan bahwa Pelaksanaan badal haji itu diperbolehkan. Mengenai landasan hukum yang digunakan beliau dalam hal ini sebagaimana salah satu hadits Rasul Saw yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas ra.</p>
<p>Bahwa ada seorang perempuan dari bani Juhainah yang datang kepada nabi Saw kemudian bertanya,</p>
<p style="text-align: right;">ان أمي نذرت أن تحج فماتت قبل أن تحج أفأحج عنھا</p>
<p><em>“Sesungguhnya ibuku telah bernazar untuk melaksanakan haji, kemudian ia wafat sebelum melaksanakannya, apakah aku bisa menghajikannya?”</em> Lalu Nabi Muhammad saw menjawab,</p>
<p style="text-align: right;">نعم حجى عنھا أرأیت لو كان على أمك دین أكنت قاضیته قالت نعم قال اقضوا حق ﷲ فاالله أحق بالوفاء</p>
<p><em>“Ya, hajikanlah untuknya, kalau ibumu punya hutang kamu juga wajib membayarnya bukan?.</em> Perempuan tersebut berkata <em>&#8220;iya&#8221;. </em>Lalu nabi pun menjawab,</p>
<p>&#8220;<em>Bayarlah hutang Allah karena hak Allah lebih berhak untuk dipenuhi”</em> (HR. Bukhari)</p>
<p><em>(I’anah al-Thalibin,</em> [Indonesia, Darul Ihya’ Kutub Arabiyah: Tanpa Tahun], Juz II, halaman 287)</p>
<h4>Kriteria Orang yang Bisa Dibadal Hajikan</h4>
<p>Dalam kitab Fathul Mu’in karangan imam Zainuddin Al-Malibari disebutkan sedikitnya ada dua orang yang hajinya bisa digantikan.</p>
<p><em>Pertama, </em> عن میت عليه نسكYaitu seorang yang telah meninggal serta memiliki kewajiban haji. <em>Kedua, </em> عن آفاقي معضوب عاجز عن النسك بنفسه Seorang yang berada di luar kota Makkah yang mengalami sakit parah sehingga tidak mampu melaksanakan haji. Dengan catatan sakit yang diderita orang tersebut sudah tidak bisa diharapkan lagi kesembuhannya.</p>
<p>Selain itu, terdapat kriteria yang lain, yaitu bila orang pergi haji tersebut mengalami gangguan jiwa. Hal ini sebagaimana dikatakan Akhmad Fauzin, Juru Bicara Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) yang dikutip dari Nu Online.</p>
<h4>Syarat Menjadi Badal Haji</h4>
<p>Seseorang yang menjadi badal haji disyaratkan sudah pernah melakukan haji terlebih dahulu, apabila ia belum berhaji bagi dirinya, maka tidak cukup atau tidak boleh untuk menggantikan haji orang lain. Sebagaimana Hadits dari Ibnu Abbas ra. menyatakan:</p>
<p style="text-align: right;">عَنْ اِبْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا، أَنَّ اَلنَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم سَمِعَ رَجُلًا يَقُولُ: لَبَّيْكَ عَنْ شُبْرُمَةَ. قَالَ: مَنْ شُبْرُمَةُ؟ قَالَ: أَخٌ  أَوْ قَرِيبٌ لِيْ. قَالَ: حَجَجْتَ عَنْ نَفْسِكَ؟ قَالَ: لَا. قَالَ: حُجَّ عَنْ نَفْسِكَ، ثُمَّ حُجَّ عَنْ شُبْرُمَةَ. رواه أبو داود وابن حبان و حاكم</p>
<p>Artinya, “Diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra, sungguh Nabi saw mendengar seorang lelaki membaca talbiyah: ‘Laibaika dari Syubrumah.’ Beliau pun meresponnya dengan bertanya: ‘Siapa Syubrumah?’ Laki-laki itu menjawab: ‘Saudara atau kerabatku.’ Nabi tanya lagi: ‘Apakah kamu sudah haji untuk dirimu sendiri?’ Orang itu menjawab: ‘Belum.’ Nabi pun bersabda: ‘Hajilah untuk dirimu sendiri, kemudian baru haji untuk Syubrumah.” (HR Abu Dawud, Ibnu hibban, dan Hakim).</p>
<p>Penulis: Mahirur Riyadl</p>
<p>Editor: Yazid Fathoni</p>
<p>The post <a href="https://langitan.net/badal-haji-bagaimana-hukum-dan-syarat-syaratnya/">Badal Haji, Bagaimana Hukum dan Syarat-Syaratnya?</a> appeared first on <a href="https://langitan.net">Pondok Pesantren Langitan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://langitan.net/badal-haji-bagaimana-hukum-dan-syarat-syaratnya/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Bank dan Asuransi yang Dikomersialkan</title>
		<link>https://langitan.net/bank-dan-arusansi-yang-dikomersialkan/</link>
					<comments>https://langitan.net/bank-dan-arusansi-yang-dikomersialkan/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 27 Sep 2017 06:11:05 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Masalah Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[bank dan asuransi]]></category>
		<category><![CDATA[halalkah?]]></category>
		<category><![CDATA[hukum]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langitan.net/?p=6266</guid>

					<description><![CDATA[<p>Kebutuhan masyarakat akan bank dan asuransi sudah tidak bisa terhindarkan. Kebahagiaan dan kenyamanan di masa tua kiranya menjadi alasan utama mereka menyimpan harta yang dimilikinya. Akan tetapi kedua transaksi ini masih tampak samar di kalangan masyarakat awam. Dari beberapa ulama masih berbeda pendapat dalam menghukumi bank dan asuransi. Sebagian ada yang mengatakan boleh,ada yang mengatakan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://langitan.net/bank-dan-arusansi-yang-dikomersialkan/">Bank dan Asuransi yang Dikomersialkan</a> appeared first on <a href="https://langitan.net">Pondok Pesantren Langitan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><img loading="lazy" loading="lazy" decoding="async" class="aligncenter wp-image-6267 size-full" src="https://langitan.net/wp-content/uploads/2017/09/insurance-and-banking-618x270.jpg" alt="" width="618" height="270" /></p>
<p>Kebutuhan masyarakat akan bank dan asuransi sudah tidak bisa terhindarkan. Kebahagiaan dan kenyamanan di masa tua kiranya menjadi alasan utama mereka menyimpan harta yang dimilikinya. Akan tetapi kedua transaksi ini masih tampak samar di kalangan masyarakat awam.</p>
<p>Dari beberapa ulama masih berbeda pendapat dalam menghukumi bank dan asuransi. Sebagian ada yang mengatakan boleh,ada yang mengatakan subhat,dan ada yang mengatakan haram karena mengandung ghoror(penipuan) dan riba.</p>
<p style="text-align: right;"><strong>انما البيع مثل الربا واحل الله البيع وحرم الربا</strong></p>
<p>artinya: Sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba,dan Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.(Al-Baqarah:275)</p>
<p>Riba bukan hanya tambahan dalam sebuah akad. Riba memiliki beberapa jenis yang perlu diketahui.</p>
<ol>
<li>Riba fadl,yaitu tukar-menukar dua barang yang sejenis dengan ukuran yang tidak sama sebab syarat atau permintaan dari salah satu orang yang melakukan</li>
<li>Riba nasi’ah,yaitu tukar-menukar barang dengan mensyaratkan pembayarannya</li>
<li>Riba qordl,yaitu meminjamkan barang dengan syarat ada keuntungan dari orang yang meminjam.</li>
<li>Riba yad,yaitu penjual dan pembeli sudah berpisah sebelum melakukan serah terima,Seperti menganggap sah tukar-menukar jagung dengan beras padahal belum diserahkan.</li>
</ol>
<p>Ada  beberapa syarat agar penjual dan pembeli terlepas dari unsur riba:</p>
<ol>
<li>Apabila barangnya sejenis,maka harus memenuhi tiga syarat:</li>
<li>Sama jumlah dan</li>
<li>Dilangsungkan secara</li>
<li>Melakukan ijab qabul/serah terima sebelum meninggalkan majlis akad</li>
<li>Apabila barangnya tidak sejenis,maka harus memenuhi dua syarat:</li>
<li>Dilangsungkan secara</li>
<li>Melakukan ijab qabul/serah terima sebelum meninggalkan majlis akad.(fathul wahab[1]:276,fathul mu’in[3]:26)</li>
</ol>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Bank yang Dikomersialkan</strong></p>
<p>Di indonesia kita mengenal adanya bank konvesional dan bank syariah. Setelah terjadi permasalahan secara hukum dalam pengoperasionalan bank konvesional,maka munculah inisiatif membuat bank syariah.</p>
<p>Berdirinya bank syariah mengusung asas terhindarnya orang yang bertansaksi dari praktek riba saat seseorang meminjam uang Atau mengivestasikan harta pada hal-hal yang dilarang agama. Sebuah bank harus bersih dari unsur riba,perjudian,dan penipuan. Begitu juga,harta disimpan oleh nasabah tidak boleh dialokasikan pada urusan haram. Akad yang digunakanpun harus jelas sesuai dengan syara’,bila menggunakan akad mudlarabah,maka keuntungan dari uang yang dikelolah dibagi menjadi dua sebagaimana kesepakatan sebelumnya,sedangkan kerugian ditanggung pihak bank. Apabila musyarakah,maka keuntungan dan kerugian dibagi dua,atau menggunakan akad lainnya,maka harus sesuai dengan ketentuan fiqihnya.</p>
<p>Riba hutang pada bank hukumnya haram baik dalam keadaan dlarurot maupun tidak. Sebagai jalan keluarnya,pihak yang menghutang bisa menjadikan tambahan atau bunga untuk bank sebagai nadzar yang tidak disyaratkan adanya <em>qabul</em>. Bank termasuk kategori orang yang kebanyakannya hartanya dihasilkan dari perkara yang haram. Maka melakukan transaksi dengan bank,bisa jadi hukumnya Haram jika yakin bahwa barang yang  diterima dari bank adalah hasil riba,dan Makruh jika ragu-ragu akan kehalalannya. Sedangkan menurut Imam Ghozali hukumnya mutlaq haram. <em>(Faidul Qhadir[5]:342, bughyah mustarsyidin:149</em><em>, Ianah</em><em> At-Tholibin</em><em>[3]:65. Ghoyatul Talkhis al murad:129</em><em>)</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Asuransi yang Dikomersialkan</strong></p>
<p>Sebagaimana yang kami tuturkan di atas,bahwa sejak tahun 2004 M. asuransi mulai menjadi ketergantungan rakyat Indonesia. Secara presentasi peserta asuransi berkembang dengan pesat. kita bisa bayangkan betapa besar dana yang dihimpun oleh pihak asuransi di negara kita ini. Sehingga pasti akan  menimbulkan Efek samping,adanya beberapa permasalahan program yang harus diperbaiki.</p>
<p>Pedoman dari asuransi adalah usaha saling tolong-menolong diantara sejumlah orang atau pihak melalui investasi dan tabarru’. Sebagaimana bank,asuransi tidak boleh mengandung unsur qimar(perjudian), ghoror (penipuan),dan riba. Semisal adanya peraturan saat peserta tidak bisa membayar,maka uang tabungannya akan hangus. Padahal seharusnya dana yang dititipkan pada pihak asuransi sepenuhnya milik peserta. Badan asuransi hanyalah sebagai pemegang amanah. Harta tidak bisa beralih tangan saat peserta tidak bisa membayar. Bahkan bila peserta ingin berhenti,maka peserta boleh mengambil lagi uang tersebut.</p>
<p>Dalam istilah fiqih,asuransi menggunakan akad mudlarabah(bagi hasil) atau <em>Syirkah</em> <em>At Ta’awuny</em>. Harus ada penjelasan pasti kepada peserta,sebagian uangnya untuk jaminan,dan sebagian kecil untuk tabarru’. Konsep <em>At Ta’min At Ta’awuni</em> harus sesuai dengan syarat-syaratnya.</p>
<ol>
<li>Tidak ada paksaan dalam kepesertaan.</li>
<li>Tujuan dari peserta adalah membantu. Dari dana yang ditabung peserta sebagian ada yang diniatkan tabarru’, dana ini akan disisipkan untuk membantu orang yang membutuhkan,dan dipotong dari tabungan peserta.</li>
<li>Pengelolah harus bersifat adil. Dari pengelolahan dana yang dilakukan badan asuransi pembagian keuntungan harus dibagi dua antara peserta dan perusahaan sesuai dengan akad bagi hasil syari’at,bukan hanya milik perusahaan. Begitu juga bila ada kerugian maka dibagi berdua.</li>
<li>Iuran yang melebihi menjadi infaq sesuai dengan ketentuan pemerintah<em>.(Al-Umm[3]:64. Al Fiqh al Islami wa Adillatuhu[5]:108.102.)</em></li>
</ol>
<p>Sumber: <a href="http://menaralangitan.com">Majalah Langitan</a></p>
<p>The post <a href="https://langitan.net/bank-dan-arusansi-yang-dikomersialkan/">Bank dan Asuransi yang Dikomersialkan</a> appeared first on <a href="https://langitan.net">Pondok Pesantren Langitan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://langitan.net/bank-dan-arusansi-yang-dikomersialkan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Fiqih Edukasi</title>
		<link>https://langitan.net/fiqih-edukasi/</link>
					<comments>https://langitan.net/fiqih-edukasi/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 20 Sep 2017 06:56:50 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Masalah Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[langitan]]></category>
		<category><![CDATA[manipulasi ijazah]]></category>
		<category><![CDATA[pondok pesantren]]></category>
		<category><![CDATA[pondok pesantren salaf]]></category>
		<category><![CDATA[siswa siswi campur satu kelas]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langitan.net/?p=6199</guid>

					<description><![CDATA[<p>&#160; Manusia hidup dituntut untuk mencari ilmu,baik ilmu agama atau ilmu umum. Karena dengan ilmu peradaban manusia dapat berkembang. Juga dengan ilmu, kesuksesan dan cita-cita dapat dikejar dan diharapkankeberhasilannya. Bahkan karena pentingnya ilmu, imam Syafi’i pernah berpesan,“Barang siapa yang menghendaki sukses di dunia, maka tuntutlah ilmu, barangsiapa yang menghendaki sukses diakhirat, maka tuntutlah ilmu, barangsiapa [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://langitan.net/fiqih-edukasi/">Fiqih Edukasi</a> appeared first on <a href="https://langitan.net">Pondok Pesantren Langitan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><img loading="lazy" loading="lazy" decoding="async" class="size-medium wp-image-6204 aligncenter" src="https://langitan.net/wp-content/uploads/2017/09/12631295_730948533708862_2381885899641838129_n-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Manusia hidup dituntut untuk mencari ilmu,baik ilmu agama atau ilmu umum. Karena dengan ilmu peradaban manusia dapat berkembang. Juga dengan ilmu, kesuksesan dan cita-cita dapat dikejar dan diharapkankeberhasilannya. Bahkan karena pentingnya ilmu, imam Syafi’i pernah berpesan,“Barang siapa yang menghendaki sukses di dunia, maka tuntutlah ilmu, barangsiapa yang menghendaki sukses diakhirat, maka tuntutlah ilmu, barangsiapa yang menghendaki sukses dunia dan akhirat, maka tuntutlah ilmu.”</p>
<p>Demikianlah pentingnya ilmu, ia dapat membedakan status sosial manusia. Orang yang pandai akan selalu berguna dan dihormati. Sedangkan orang yang bodoh sulit untuk bisa mendapat tempat terhormat dihadapan masyarakat.</p>
<p>Namun yang menjadi permasalahan, seiring perkembangan zaman, banyak terjadi pernik-pernik unik dalam dunia pendidikan, yang mungkin bisa memberikan tambahan menjadi lebih baik,namun juga bisa menjadi hal yang buruk. Berangkat dari sinilah, penulis mencoba menjelaskan dari dasar keberadaan dunia pendidikan yang benar menurut kaca mata syariat.</p>
<p>&nbsp;</p>
<ol>
<li><strong>Menuntut Ilmu Umum (formal)</strong></li>
</ol>
<p>Dewasa ini, ternyata masyarakat lebih memilih lembaga formal daripada lembaga non formal. Bahkan tidak sedikit lembaga yang membuat sistem ganda, yakni disamping terdapat ilmu agama ada pelajaran umumnya.Tak sedikit lembaga yang lebih memilih memperbanyak pelajaran umum daripada pelajaran agama. Dampaknya, siswa kurang mumpuni dalam ilmu agama. Dan yang menjadi permasalahan,apakah kewajiban mencari ilmu sudah dianggap cukup dengan ikut sekolah formal yang mata pelajarannya kebanyakan pelajaran umum?, sebatas mana kewajiban mencari ilmu sebagaimana dipesankan Rasulullah saw, <em>“Mencari ilmu itu kewajiban kaum muslimin dan muslimat.”</em></p>
<p>Pada dasarnya, dalam literatur fiqih tidak ada istilah ilmu umum, namun dengan menggunakan istilah ilmu <em>syar’i</em> dan ilmu <em>ghoiru syar’i</em>. Sedangkan hukum mempelajarinya ada yang wajib, sunah, haram, makruh dan mubah. Adapun ilmu yang wajib kita pelajari itu adakalanya <em>fardhu ain</em> (wajib secara individu) dan <em>fardhu kifayah</em>(wajib secara kolektif)dan bisa gugur apabila ada satu orang  yang mewakili). Ilmu yang <em>fardhu ain</em>adalah ilmu yang tidak ada toleransi bagi orang mukalaf untuk tidak mengetahui, yaitu ilmu yang berkaitan dengan syarat sahnya sebuah ibadah, keikhlasan dalam beramal atau interaksi antar sesama. Seperti ilmu tentang tata cara wudu, shalat, zakat, puasa, haji, dll. Begitu juga wajib mengetahui ilmu perdagangan bagi seorang pedagang agar mengetahui dan tidak terjerumus dalam riba, penipuan, dll. Sedangkn ilmu yang hukumnya <em>fardhu kifayah</em> yaitu ilmu yang menjadi keharusan demi keberlangsungan dan kenyamanan urusan <em>duniawi</em> seperti ilmu pertukangan, kedokteran, bahasa, dll. Dan ini cukup ada seorang atau beberapa orang saja yang mewakilinya.</p>
<p>Adapun ilmu yang haram dipelajari ialah ilmu sihir, sulap, dan ilmu perdukunan yang tidak sesuai dengan syariat. Ilmuyang makruh dipelajari seperti mempelajari syair-syair cinta untuk memuji para wanita. Sedangkan syair yang tidak ada unsur memuji wanita itu boleh dipelajari.</p>
<p>Sedangkan kewajiban menuntut ilmu sebagaimana dalam Hadis ialah ilmu <em>hal</em>, yaitu ilmu yang berkaitan dengan syarat sahnya sebuah ibadah. Sehingga menuntut ilmu di lembaga formal belum bisa dianggap cukup bila belum bisa mengetahui tata cara beribadah dengan baik dan benar. Karena kebanyakan masyarakat lebih mementingkan dan memprioritaskan pendidikan umum daripada pendidikn agama, tak jarang sudah SMA belum bisa shalat dengan benar.</p>
<p>Dari itu, bagi semua orang tua harus memperhatikan anaknya agar lebih bersemangat belajar agama untuk membenahi ibadahnya dan tidak memberikan kebebasan dalam bermain<em>(sab’atul kutub almufidah hal.14-15, bariqoh mahmudah juz 1 hal. 250, mausuah fiqhiyah juz 13 hal. 6)</em></p>
<p><img loading="lazy" loading="lazy" decoding="async" class="size-medium wp-image-6201 aligncenter" src="https://langitan.net/wp-content/uploads/2017/09/12654645_730947203708995_284752275408637275_n-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></p>
<ol start="2">
<li><strong>Sekolah Mencari Ijazah</strong></li>
</ol>
<p>Mengetahui kepandaian atau ketinggian ilmu sesorang, ijazah menjadi bukti yang cukup kuat dan dibuat pegangan masa ini. Melangkah kemana saja akan ditanya ijazah apa, melanjutkan sekolah harus ada ijazah, melamar kerja harus dengan ijazah, bahkan untuk menikahpun harus membawa ijazah.</p>
<p>Tidak heran bila banyak masyarakat berlomba-lomba mendapatkannya, ada yang ikut bersekolah formal sebagaimana umumnya, ada juga memilih persamaan, yaitu bersekolah pada waktu ujian saja, bahkan ada pula memilih membeli dan merekayasa. Selanjutnya, urusan manipulasi data ditanggung pihak sekolah.</p>
<p>Dari keanekaragaman masyarakat yang menginginkan ijazah, dapat dismpulkan terjadi pergeseran dalam banyak hal, terutama menjadikan sekolah sebagai jalan untuk mendapatkan ijazah, bukan menuntut ilmu karena Allah, terjadi banyaknya bocoran soalsetiap ujian kelulusan, karena kalau tidak lulus maka tidak mendapatkan ijazah, banyak terjadi praktek pemalsuan ijazah, kurangnya kesempatan orang baik dan berilmu namun tidak punya ijazah untuk menjadi pejabat negara. Sehingga banyak pejabat diisi orang-orang yang berdasi tanpa tanggungjawab dan korupsi diangap hal yang biasa. Lalu, bagaimanahukum sekolah hanya untuk mencari ijazah?.</p>
<p>Pada dasarnya hukum sekolah untuk mencari ijazah itu diperbolehkan dengan syarat menempuh jalan yang dilegalkan pemerintah, seperti sekolah pada umumnya atau mengikuti wajar dikdas/paket. Sedangkan merekayasa atau memanipulasi data dengan cara mengikuti persamaan  tanpa mengikuti peraturanyang telah ditetapkan pemerintah, itu tidak boleh kecuali dalam keadaan darurat, seperti membutuhkan ijazah untuk berdakwah yang tidak terlaksana tanpa dengan adanya ijazah.</p>
<p>Adapun mencari ijazah dengan jalan membeli juga tidak diperbolehkan karena ada unsur penipuan dan pelanggaran atas peraturan yang telah ditetapkan oleh pemerintah, namun apabila mendapatkan ijazah tersebut untuk menegakkan kebenaran dan bukan untuk memenuhi ambisi pribadi maka diperbolehkan apabila darurat dan mnjadi solusi terakhir, seperti untuk mencalonkan diri menjadi pejabat, yang apabila ia tidak maju akan diisi oleh orang-orang fasik yang tidak berilmu agama. Maka ia boleh membeli ijazah jika ia benar-benar orang paling layak dan memenuhi syarat dalam hukum islam. <em>(sullam taufiq hal. 65, tuhfatul muhtaj juz 4 hal. 424, sab’atul kutub almufidah hal 10, adabul ulama wal mutaallimin juz 1 hal 91)</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>3. Siswa-siswi Campur dalam Satu Kelas</strong></p>
<p>Memang tidak dapat dipungkiri, mayoritas sekolah di Indonesia mencampur siswa-siswinya dalam satu kelas tanpa pemisah, alasan pihak lembaga beraneka ragam, ada yang mengatakan kendala gedung yang terbatas, guru yang terbatas, atau menganggap hal itu kebiasaan sebagaimana yang terjadi ditempat lainnya. Lalu bagaimana hukumnya mencampur siswa-siswi dengan alasan sebagaimana diatas?.</p>
<p>Pada dasarnya perkumpulan antara laki-laki dan perempuan tidak diperbolehkan. Karena hal yang demikian akan menimbulkan beberapa kemungkaran. Diantaranya adalah memperlihatkan aurat atau melihatnya, rawan terjadi percampuran fisik, saling bersentuhan dan rawan mengakibatkan terjadi permulaan perzinaan. Sebagaimana menyentuh, mencubit, mencium, dll.</p>
<p>Adapun solusi yang bisa meminimalisir terjadinya hal yang diharamkan ialah dengan memisah satir (penutup), atau membuatkan gedung yang berlainan tempat jika sudah ada ruang atau dana untuk membuatnya.<em>(is’adur rofid juz 2 hal 67, fatawi alfiqhiyah juz 1 hal 203, tausyeh hal 197)</em></p>
<p><img loading="lazy" loading="lazy" decoding="async" class="size-medium wp-image-6202 aligncenter" src="https://langitan.net/wp-content/uploads/2017/09/ijazah-palsu-ilustrasi-_130904084919-879-300x201.jpg" alt="" width="300" height="201" /></p>
<ol start="4">
<li><strong>Sertifikasi dengan Data Fiktif</strong></li>
</ol>
<p>Sejak tahun 2007, pemerintah Indonesia memberi tunjangan kesejahteraan kepada guru yang telah lulus sertifikasi sebesar gaji pokok bagi guru PNS dan sebesar gaji guru golongan III/A bagi guru non PNS. Memang dalam hal kesejahteraan dan profesionalisme, kinerja guru lebih optimal. Namun disisi lain, marak terjadi pemalsuan data agar seorang guru bisa lulus sertifikasi. Karena syarat untuk mengikuti sertifikasi guru harus mengajar paling sedikit 24 jam dalam satu minggu dan beberapa syarat lainnya. Lalu bagaimana mengikuti sertifikasi dengan data fiktif sebagaimana diatas?.</p>
<p>Manipulasi data dalam segala hal itu tidak diperbolehkan. Baik dalam hal sertifikasi guru maupun lainnya. Dan realita yang ada belum masuk kategori darurat yang memperbolehkan berbohong, karena masih bisa menempuh jalur lain yang diperbolehkan atau legal menurut pemerintah. Hal ini agar keseriusan guru dalam mengajar bisa lebih kompetitif agar dapat naik derajatnya dan juga agar tidak banyak penipuan-penipuandalamranahpendidikanlain yangmakinberagamdanmarak. <em>(ihya’ulumuddin juz 2 hal 139, sulam taufiq hal 65, nihayatul muhtaj juz 6 hal 172)</em></p>
<p>Sumber: <a href="http://menaralangitan.com">Majalah Langitan</a></p>
<p>The post <a href="https://langitan.net/fiqih-edukasi/">Fiqih Edukasi</a> appeared first on <a href="https://langitan.net">Pondok Pesantren Langitan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://langitan.net/fiqih-edukasi/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>1</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Menikmati WI-FI (Wireless Fidely) Liar</title>
		<link>https://langitan.net/menikmati-wi-fi-wireless-fidely-liar/</link>
					<comments>https://langitan.net/menikmati-wi-fi-wireless-fidely-liar/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 02 May 2016 10:12:37 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Masalah Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[berita]]></category>
		<category><![CDATA[fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[fiqih cyber]]></category>
		<category><![CDATA[hukum]]></category>
		<category><![CDATA[internet]]></category>
		<category><![CDATA[JAwa Timur]]></category>
		<category><![CDATA[kh. abdullah faqih]]></category>
		<category><![CDATA[KH. abdurrohman Faqih]]></category>
		<category><![CDATA[kh. ubaidillah faqih]]></category>
		<category><![CDATA[KH.ABdullah habib]]></category>
		<category><![CDATA[langitan]]></category>
		<category><![CDATA[liar]]></category>
		<category><![CDATA[liputan]]></category>
		<category><![CDATA[mencuri]]></category>
		<category><![CDATA[Pesantren]]></category>
		<category><![CDATA[pondok]]></category>
		<category><![CDATA[pondok pesantren]]></category>
		<category><![CDATA[Pondok Pesantren Langitan.]]></category>
		<category><![CDATA[tuban]]></category>
		<category><![CDATA[widang]]></category>
		<category><![CDATA[wifi]]></category>
		<category><![CDATA[yai faqih]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langitan.net/?p=5755</guid>

					<description><![CDATA[<p>Dizaman teknologi yang serba canggih ini, tidak hanya hotel, perusahaan dan perkantoran saja yang memasang koneksi wifi. Warung kopi, depot bakso dan yang lainnya juga tidak ingin ketinggalan memasang alat canggih satu ini, untuk menarik simpati dari pelanggan sebanyak mungkin. Bahkan sering dijumpai di kota-kota besar memasang koneksi wifi di rumahnya masing-masing, tanpa dipassword pula. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://langitan.net/menikmati-wi-fi-wireless-fidely-liar/">Menikmati WI-FI (Wireless Fidely) Liar</a> appeared first on <a href="https://langitan.net">Pondok Pesantren Langitan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="line-height: 1.5;"><a href="https://langitan.net/wp-content/uploads/2016/05/WiFi-595x295.jpg"><img loading="lazy" loading="lazy" decoding="async" class="size-medium wp-image-5757 aligncenter" src="https://langitan.net/wp-content/uploads/2016/05/WiFi-595x295-300x149.jpg" alt="WiFi-595x295" width="300" height="149" /></a></span></p>
<p><span style="line-height: 1.5;">Dizaman teknologi yang serba canggih ini, tidak hanya hotel, perusahaan dan perkantoran saja yang memasang koneksi wifi. Warung kopi, depot bakso dan yang lainnya juga tidak ingin ketinggalan memasang alat canggih satu ini, untuk menarik simpati dari pelanggan sebanyak mungkin. Bahkan sering dijumpai di kota-kota besar memasang koneksi wifi di rumahnya masing-masing, tanpa dipassword pula. Sehingga banyak penikmat wifi liar yang menikmati hotspot disekitar area wifi tanpa sepengetahuan pemiliknya. Para penikmat wifi liar tersebut merasa berdosa internetan dengan sinyal wifi milik orang lain. Mereka bergumam, “lha wong salah sendiri tidak dipassword” .padahal jika satu koneksi wifi di gunakan orang banyak, maka akan memperlambat kekuatan sinyal.</span></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Pertanyaan</p>
<p>Dalam perspektif fiqih, bagaimanakah hokum menikmati sinyal wifi yang tidak di password tanpa sepengatahuan pemiliknya?</p>
<p>Jawab: tidak di perbolehkan (termasuk ghasab), sebab wifi adalah manfaat yang dapat  di miliki, sehingga penggunaan menadi hak mutlak bagi pemiliknya. Oleh karenanya, orang lain tidak diperbolehkan menikmatinya tanpa izin atau kerelaan dari pemiliknya.</p>
<p><u>Catatan</u> : diantara bukti bahwa wifi dapat dimiliki sabagai berikut :</p>
<ul>
<li>Dapat dipassword</li>
<li>Password dapat diberikan kepada orang lain</li>
<li>Hak penggunaan dapat dibatasi dengan masa atau kuota.</li>
</ul>
<p>Referensi : Chasiyah I’anah at-Tholibin {3} : 162, Chasiyah al-Jamal ‘Ala asy-Syarh al-Minhaj {14} : 55, Chasiya al-Bajuri ‘Ala Syarh Ibnu al-Qosim {2} : 11-12.</p>
<p>The post <a href="https://langitan.net/menikmati-wi-fi-wireless-fidely-liar/">Menikmati WI-FI (Wireless Fidely) Liar</a> appeared first on <a href="https://langitan.net">Pondok Pesantren Langitan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://langitan.net/menikmati-wi-fi-wireless-fidely-liar/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Melihat Imam Melalui Led Monitor</title>
		<link>https://langitan.net/melihat-imam-melalui-led-monitor/</link>
					<comments>https://langitan.net/melihat-imam-melalui-led-monitor/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 16 Apr 2016 00:27:57 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Masalah Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[bahtsul masa'il]]></category>
		<category><![CDATA[fiqh modern]]></category>
		<category><![CDATA[fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[fiqih cyber]]></category>
		<category><![CDATA[fiqih gaul]]></category>
		<category><![CDATA[jama'ah]]></category>
		<category><![CDATA[langitan]]></category>
		<category><![CDATA[led monitor]]></category>
		<category><![CDATA[lihat imam]]></category>
		<category><![CDATA[masalah]]></category>
		<category><![CDATA[monitor]]></category>
		<category><![CDATA[nonton]]></category>
		<category><![CDATA[Pesantren]]></category>
		<category><![CDATA[pondok]]></category>
		<category><![CDATA[Pondok Pesantren Langitan.]]></category>
		<category><![CDATA[sholat jamaah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langitan.net/?p=5710</guid>

					<description><![CDATA[<p>Mengikuti perkembangan zaman di kota-kota besar. Semisal Jakarta, Surabaya, Medan dan lain-lain. Banyak masjid dibangun bertingkat dan ruang lantai dua, tiga dan seterusnya biasanya dipasang Monitor Led besar guna untuk mengetahui gerak-gerik imam, lebih-lebih ketika sholat jum’at dan hari raya. Pertanyaan : Cukupkah para jama’ah yang berada dilantai dua dan seterusnya melihat imam asli dengan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://langitan.net/melihat-imam-melalui-led-monitor/">Melihat Imam Melalui Led Monitor</a> appeared first on <a href="https://langitan.net">Pondok Pesantren Langitan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://langitan.net/wp-content/uploads/2016/04/sholat-jamaah.jpg"><img loading="lazy" loading="lazy" decoding="async" class="size-medium wp-image-5711 aligncenter" src="https://langitan.net/wp-content/uploads/2016/04/sholat-jamaah-300x194.jpg" alt="sholat jamaah" width="300" height="194" /></a></p>
<p>Mengikuti perkembangan zaman di kota-kota besar. Semisal Jakarta, Surabaya, Medan dan lain-lain. Banyak masjid dibangun bertingkat dan ruang lantai dua, tiga dan seterusnya biasanya dipasang Monitor Led besar guna untuk mengetahui gerak-gerik imam, lebih-lebih ketika sholat jum’at dan hari raya.</p>
<p><a href="https://langitan.net/wp-content/uploads/2016/04/led.jpg"><img loading="lazy" loading="lazy" decoding="async" class="size-medium wp-image-5712 aligncenter" src="https://langitan.net/wp-content/uploads/2016/04/led-300x186.jpg" alt="led" width="300" height="186" /></a></p>
<p><strong>Pertanyaan</strong> : Cukupkah para jama’ah yang berada dilantai dua dan seterusnya melihat imam asli dengan melalui media Led Monitor atau sesamanya? (imam dan ma’mum dlam satu masjid)</p>
<p><strong>Jawab</strong> : Bisa mencukupi asalkan akurasi antara gambar dan suara imam dari monitor serta imam asli dapat dipercaya dan ada tangga penghubung antara keduanya di dalam atau di teras masjid.</p>
<p>Referensi : <em>Nihayah az-Zain Syarh Qurroh al-‘Ain (1) : 189.</em></p>
<p>The post <a href="https://langitan.net/melihat-imam-melalui-led-monitor/">Melihat Imam Melalui Led Monitor</a> appeared first on <a href="https://langitan.net">Pondok Pesantren Langitan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://langitan.net/melihat-imam-melalui-led-monitor/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>2</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Jual Beli Cek</title>
		<link>https://langitan.net/jual-beli-cek/</link>
					<comments>https://langitan.net/jual-beli-cek/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 15 Apr 2016 02:19:12 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Masalah Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[agama]]></category>
		<category><![CDATA[agama islam]]></category>
		<category><![CDATA[bahtsul masa'il]]></category>
		<category><![CDATA[fiqif]]></category>
		<category><![CDATA[fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[fiqih cyber]]></category>
		<category><![CDATA[fiqih gaul]]></category>
		<category><![CDATA[islami]]></category>
		<category><![CDATA[langitan]]></category>
		<category><![CDATA[Pesantren]]></category>
		<category><![CDATA[pondok]]></category>
		<category><![CDATA[pondok pesantren]]></category>
		<category><![CDATA[Pondok Pesantren Langitan.]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langitan.net/?p=5707</guid>

					<description><![CDATA[<p>&#160; Budi adalah seorang pegawai di Perusahaan Ban, dalam memberikan bayaran perusaan selalu dengan cek mundur, ada yang 15 hari ada juga yang 7 hari. Hingga suatu ketika kerena si Budi sangat membutuhkan uang, maka ia menjual ceknya. Pertanyaan : Apakah jual beli cek diperbolehkan? Jawab : Diperbolehkan, baik cek mundur atau cash, selama tidak [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://langitan.net/jual-beli-cek/">Jual Beli Cek</a> appeared first on <a href="https://langitan.net">Pondok Pesantren Langitan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>&nbsp;</p>
<p><a href="https://langitan.net/wp-content/uploads/2016/04/cek.jpg"><img loading="lazy" loading="lazy" decoding="async" class="size-medium wp-image-5708 aligncenter" src="https://langitan.net/wp-content/uploads/2016/04/cek-300x175.jpg" alt="cek" width="300" height="175" /></a>Budi adalah seorang pegawai di Perusahaan Ban, dalam memberikan bayaran perusaan selalu dengan cek mundur, ada yang 15 hari ada juga yang 7 hari. Hingga suatu ketika kerena si Budi sangat membutuhkan uang, maka ia menjual ceknya.</p>
<p>Pertanyaan : Apakah jual beli cek diperbolehkan?</p>
<p>Jawab : Diperbolehkan, baik cek mundur atau cash, selama tidak ada unsur riba.</p>
<p>Referensi : <em>Syarh an-Nawawi ‘Ala Shohih Muslim (5) : 333</em></p>
<p>The post <a href="https://langitan.net/jual-beli-cek/">Jual Beli Cek</a> appeared first on <a href="https://langitan.net">Pondok Pesantren Langitan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://langitan.net/jual-beli-cek/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>2</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
