<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>jerat iblis Archives - Pondok Pesantren Langitan</title>
	<atom:link href="https://langitan.net/tag/jerat-iblis/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://langitan.net/tag/jerat-iblis/</link>
	<description>Widang, Tuban, Jawa Timur</description>
	<lastBuildDate>Tue, 28 Nov 2017 19:27:49 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.0</generator>

<image>
	<url>https://langitan.net/wp-content/uploads/2020/03/cropped-logo-langitan-net-32x32.png</url>
	<title>jerat iblis Archives - Pondok Pesantren Langitan</title>
	<link>https://langitan.net/tag/jerat-iblis/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Dunia dan Nafsu</title>
		<link>https://langitan.net/dunia-dan-nafsu/</link>
					<comments>https://langitan.net/dunia-dan-nafsu/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 19 Jul 2009 10:52:25 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kiriman pengunjung]]></category>
		<category><![CDATA[ihya']]></category>
		<category><![CDATA[jerat iblis]]></category>
		<category><![CDATA[nafsu]]></category>
		<category><![CDATA[Ngaji Ihya]]></category>
		<category><![CDATA[tasawuf]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langitan.net/?p=719</guid>

					<description><![CDATA[<p>Pembaca yang budiman, Dunia merupakan sebuah kehidupan yang mencintai nafsu, dimana kehidupan itu diukur dengan standard kecintaannya pada materi. Mungkin pembaca ada yang tidak setuju dengan pendapat ini. Namun, bagaimana jika dunia didefinisikan al-Qur`an? Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://langitan.net/dunia-dan-nafsu/">Dunia dan Nafsu</a> appeared first on <a href="https://langitan.net">Pondok Pesantren Langitan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Pembaca yang budiman, Dunia merupakan sebuah kehidupan yang mencintai nafsu, dimana kehidupan itu diukur dengan standard kecintaannya pada materi. Mungkin pembaca ada yang tidak setuju dengan pendapat ini. Namun, bagaimana jika dunia didefinisikan al-Qur`an?<br />
<span id="more-719"></span><br />
Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian hancur.Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya.Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu. (QS. 57:20)</p>
<p>Dalam tulisan ini penulis tidak bermaksud untuk mengatakan atau mengajak zuhud dengan artian menjauhi dunia dengan sebenar-benarnya. Namun, yang penulis maksud adalah bagaimana seseorang mampu mengendalikan dunia, bukan sebaliknya.</p>
<p>Pengertian kehidupan dunia yang umumnya berlaku bagi sebagian masyarakat adalah kehidupan waktu seseorang hidup, kehidupan akhirat adalah kehidupan manusia sesudah mati. Meskipun ada yang meyakini bahwa ia hidup hanya sementara namun hanya sebatas keyakinan. Waktu hidup mereka bisa mengatur sendiri apa-apa yang dikehendaki, kalau ada kesulitan barulah mereka meminta kepada Allah. Kehidupan seperti ini tak ubahnya kehidupan hewani, sebab manusia adalah makhluk sosial ciptaan Allah, maka selayaknya kemana kita berada, mestinya kita tidak bisa melepaskan diri dari aktifitas sosial.</p>
<p>Suatu realita dikalangan mahasiswa, ketika bertemu ada ciri has yang selalu saya dengar selain salam adalah Ã¢â‚¬Å“Sukses yaÃ¢â‚¬Â. Kata ini merupakan hal yang sungguh mulia. Namun, taukah kita, mungkinkah dibalik kata Ã¢â‚¬Å“suksesÃ¢â‚¬Â itu bermakna kehidupan meterialistis sebagai tolok ukur sukses atau tidaknya kehidupan sebagaimana yang digambarkan ayat di atas? Yang berangkat kerja dengan pakaian berdasi? Atau yang lainnya? Namun, penulis tetap berharap bahwa yang mereka maksud adalah sukses lahir batin &amp; dunia akhirat.</p>
<p>Sebab, bagi Allah ukuran nilai sukses seseorang adalah ketika seorang hamba taat kepada Allah, hanya menjadikan Allah sebagai Ilah, sebagai Robb dan sebagai Malik.</p>
<p>Imam ghazali dalam Minhajul `Abidin mengatakan:</p>
<p>Dunia adalah musuh Allah, sedangkan Dia adalah kekasihmu. Dunia adalah perusak akal, sedangkan akal adalah hargadirimu.</p>
<p>Pembaca yang dicintai Allah, pernyataan yang pasti pembaca katakan adalah: saya tidak akan mungkin menukar harga diri dengan dunia? Itu adalah pernyataan yang kemungkinan besar pembaca katakan. Namun, ada baiknya kita melihat, bagaimana perbuatan sehari-hari kita menjawab. Apakah cinta dunia dengan sebenar-benarnya, atau tidak? Serta melalikan-Nya atau tidak</p>
<p>Jika dunia ini tetap ada untukmu, maka kamu tidak selamanya hidup di dunia. Lantas, manfaat apa yang engkau dapatkan jika mencari dan menghabiskan umur yang sangat berharga untuknya?</p>
<p>Oleh sebab itu, jalan terbaik adalah belajar. Belajar karena Allah. Karenanya pada dasarnya, dengan bertambahnya ilmu akan dapat meningkatkan pengetahuan seorang Mukmin terhadap berbagai dimensi kehidupan, baik urusan agama maupun yang lainnya; akan dapat meningkatkan kemampuan dan kompetensinya dalam menjalankan tugas pekerjaan yang dibebankan kepadanya; akan mendapatkan derajat yang tinggi; akan lebih bisa mendekatkan diri dan mengenal Allah, Tuhan yang telah menciptakannya serta akan selamat di dunia dan di akhirat.</p>
<p>Barangsiapa yang ingin mendapatkan dunia maka harus dengan ilmu; barangsiapa yang ingin mendapatkan akhirat maka harus dengan ilmu, dan barangsiapa yang ingin mendapatkan keduanya maka harus dengan ilmuÃ¢â‚¬Â.</p>
<p>Dunia, masihkah kita memimpikannya, memuja dan merindunya? Padahal Allah mengatakan:</p>
<p>Katakanlah:Ã¢â‚¬ÂApakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannyaÃ¢â‚¬Â Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedang mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya. (QS. 18:103-104)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan. (QS. 11:15-16)</p>
<p>Seorang penyair mengatakan</p>
<p>Anggap saja dunia ini digiring kepadamu dengan mudah, tapi, bukankah pada akhirnya ia akan sirna?. Apa yang anda harapkan dari kehidupan yag tiada badi? Dan tak lama lagi akan digantikan oleh malam. Duniamu tak lain bagaikan bayang-bayang. Menaungimu dan dengan segera pergi berlalu (meninggalkanmu)Ã¢â‚¬Â</p>
<p>Sedikit uraian di atas, maka seolah-olah kita akan mendapatkan sebuah gambaran pertanyaan dari dunia kepada kita, Ã¢â‚¬ÂMaukah engkau tetap mencintaiku?Ã¢â‚¬Â dan jawablah dengan hati nuranimu serta perbuatanmu. Karena, tidak seharusnya orang yang memiliki akal, seperti para pembaca yang budiman ini tentunya, masih saja terlena dengan dunia.</p>
<p>Bagaikan mimpi penghias tidur atau bayang-bayang yang sirna, sesungguhnya orang yang cerdas tidak akan terbujuk oleh hal-hal seperti itu.</p>
<p>The post <a href="https://langitan.net/dunia-dan-nafsu/">Dunia dan Nafsu</a> appeared first on <a href="https://langitan.net">Pondok Pesantren Langitan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://langitan.net/dunia-dan-nafsu/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>7</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Khalid bin Walid</title>
		<link>https://langitan.net/khalid-bin-walid/</link>
					<comments>https://langitan.net/khalid-bin-walid/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 06 Jul 2009 08:21:05 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kiriman pengunjung]]></category>
		<category><![CDATA[anti sekuler]]></category>
		<category><![CDATA[Iblis yang pintar]]></category>
		<category><![CDATA[jerat iblis]]></category>
		<category><![CDATA[jihad]]></category>
		<category><![CDATA[Kegelisahan Kiai]]></category>
		<category><![CDATA[keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Khalid bin Walid]]></category>
		<category><![CDATA[makkah]]></category>
		<category><![CDATA[PKNU]]></category>
		<category><![CDATA[puisi]]></category>
		<category><![CDATA[rasullullah]]></category>
		<category><![CDATA[sajak]]></category>
		<category><![CDATA[yahudi]]></category>
		<category><![CDATA[yahudi terkutuk]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langitan.net/?p=679</guid>

					<description><![CDATA[<p>INILAH KISAH LELAKI BERNAMA KHALID BIN WALID di muktha, menyeberang sudah di jembatan para suhada tiga pencinta* yang dipenuhi rindu firdaus lalu disambutnya panji janji-janji terdekap di dada yang telah ia penuhi dengan cinta pada seorang yatim teragung di madinah di madinah, safar tahun kedelapan hijriyah dialah laki-laki yang kemarin berkata: Ã¢â‚¬Å“telah datang padamu, wahai [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://langitan.net/khalid-bin-walid/">Khalid bin Walid</a> appeared first on <a href="https://langitan.net">Pondok Pesantren Langitan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>INILAH KISAH LELAKI BERNAMA KHALID BIN WALID</p>
<p>di muktha,</p>
<p>menyeberang sudah di jembatan para suhada</p>
<p>tiga pencinta* yang dipenuhi rindu firdaus</p>
<p>lalu disambutnya panji janji-janji terdekap di dada</p>
<p>yang telah ia penuhi dengan cinta</p>
<p>pada seorang yatim teragung<span id="more-679"></span></p>
<p>di madinah</p>
<p>di madinah, safar tahun kedelapan hijriyah</p>
<p>dialah laki-laki yang kemarin berkata:</p>
<p>Ã¢â‚¬Å“telah datang padamu, wahai muhammad</p>
<p>yang menista hidup,</p>
<p>yang hari lalunya menyembah batu di kaÃ¢â‚¬â„¢bah</p>
<p>aku, khalid bin walid</p>
<p>telah datang ikrarkan keesaan</p>
<p>telah datang akui engkau</p>
<p>telah datang serahkan usia padamu</p>
<p>dan sekarang,</p>
<p>doakanlah akuÃ¢â‚¬Â</p>
<p>maka di mekah,</p>
<p>wahai, namanya jadi semangat yang gemetar</p>
<p>pembela qurais itu telah meretakkan semua berhala</p>
<p>sedang tak ada lagi wanita</p>
<p>yang bisa lahirkan laki-laki seperti dia</p>
<p>&#8211; ah, ia kini adalah maula kudus</p>
<p>di hadapan pemilik semua kesombongan</p>
<p>lalu di muktha,</p>
<p>menjadi laju badai gurun kudanya</p>
<p>menguak perisai romawi membelantara</p>
<p>jadi tak lebih sebagai pelepah-pelepah kurma yang lapuk</p>
<p>sedang di yarmuk</p>
<p>bahkan telah jadi sia-sia semua baju besi watsani</p>
<p>karena balanya telah menjadi ababil</p>
<p>yang membuka jalan untuk jumpai kebahagian maut</p>
<p>sedang pedangnya pun terlalu tajam</p>
<p>pedangnya terlalu tajam</p>
<p>pedangnya terlalu tajam, sahabat</p>
<p>bukan, walau bukan batu pengasahnya</p>
<p>cuman lengan bajanya begitu kuat berayun membilah-bilah</p>
<p>syahid!</p>
<p>syahid!</p>
<p>syahid</p>
<p>tak ada mati untuk mayat-mayatmu</p>
<p>tak ada bumi rela membangkaikanmu</p>
<p>syahid!</p>
<p>dia berperang!</p>
<p>darah para pengawal kaisar di parthenon</p>
<p>tersiram pada jasadnya terlalu perkasa</p>
<p>dan angkuh menggenggam bendera</p>
<p>sedangkan takbirnya mendaras memanggil keabadian</p>
<p>sebuah kerajaan teraman untuk jalani hidup</p>
<p>dan menunggu hari berusai</p>
<p>syahid!</p>
<p>syahid!</p>
<p>syahid!</p>
<p>pencinta yang mencintai</p>
<p>pencinta yang bercinta</p>
<p>&#8211; aku melihatnya</p>
<p>aku melihatnya</p>
<p>aku melihatnya</p>
<p>dia muncul dari gumpalan pasir beterbangan</p>
<p>yang beritanya cukup buat usaikan sirus sebagai kisah</p>
<p>aku melihatnya!</p>
<p>mengubah gurun jadi oasis untuk berladang zaitun</p>
<p>tempat orang-orang bersuci untuk berangkat ke surga</p>
<p>aku melihatnya</p>
<p>aku melihatnya!</p>
<p>kepahiang, 22 agustus 2007</p>
<p><em>* zaid bin haritsah, jaÃ¢â‚¬â„¢far bin abi thalib dan abdullah bin rawahah</em></p>
<p>* puisi emong soewandi<em><br />
</em></p>
<p>The post <a href="https://langitan.net/khalid-bin-walid/">Khalid bin Walid</a> appeared first on <a href="https://langitan.net">Pondok Pesantren Langitan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://langitan.net/khalid-bin-walid/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Waspadai media hiburan</title>
		<link>https://langitan.net/waspadai-media-hiburan/</link>
					<comments>https://langitan.net/waspadai-media-hiburan/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 01 Apr 2009 01:28:04 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kiriman pengunjung]]></category>
		<category><![CDATA[jerat iblis]]></category>
		<category><![CDATA[keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[keluarga sakinah]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan ala Rasulullah]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan anak]]></category>
		<category><![CDATA[tv]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langitan.net/?p=636</guid>

					<description><![CDATA[<p>Menyikapi anak-anak yang sibuk menonton televisi, di antara kita sama dan serempak. Kebiasaan menonton televisi (anak-anak dan remaja) adalah sangat berbahaya menurut Islam, pakar psikologi, sosiologi dan kedokteran. PemanfaÃ¢â‚¬â„¢atan layar kaca (TV, Vidio, TV Game dll) berdasarkan penelitian, ilmiah terbukti menimbulkan dampak negatif. Di antaranya padangan mata tak normal karena pengaruh sinar ultra violet dari [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://langitan.net/waspadai-media-hiburan/">Waspadai media hiburan</a> appeared first on <a href="https://langitan.net">Pondok Pesantren Langitan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Menyikapi anak-anak yang sibuk menonton televisi, di antara kita sama dan serempak. Kebiasaan menonton televisi (anak-anak dan remaja) adalah sangat berbahaya menurut Islam, pakar psikologi, sosiologi dan kedokteran.</p>
<p>PemanfaÃ¢â‚¬â„¢atan layar kaca (TV, Vidio, TV Game dll) berdasarkan penelitian, ilmiah terbukti menimbulkan dampak negatif. Di antaranya padangan mata tak normal karena pengaruh sinar ultra violet dari kaca, tubuh menjadi malas, syaraf terganggu, kisah khayal dan pertunjukkan berefek negatif, dan lebih besar dari semua itu adalah pertunjuk-kannya melanggar syariÃ¢â‚¬â„¢at dan merusak moral.<span id="more-636"></span></p>
<p>Sebelum kita paparkan berbagai sisi negatif yang ditimbulkan kebiasaan tersebut, perlu ditegaskan kembali di sini bahwa semua itu bukanlah berasal dari televisi sebagai bendanya, akan tetapi yang timbul dari tayangan yang ditampilkannya. Bergantung kepada tayangannya, dan bergantung dengan mayoritas yang terlihat didalamnya itulah standar hukum ditetapkan. Karena yang haram itu sudah jelas dan yang halal itu sudah jelas, sebagaimana yang dijelaskan oleh Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam.</p>
<p>Secara jujur kita katakan, bahwa memang ada bebarapa hal positif yang bisa disebutkan sehubungan dengan televisi. Namun dari hari kehari semakin banyak indikasi ilmiah yang menegaskan adanya dampak negatif dari acara televisi melalui berbagai tayangannya, terutama bagi anak-anak kecil.</p>
<p>Sampai suatu saat muncul program gambar bergerak yang dikenal dengan film kartun, yang memang diciptakan dan dikemas mengikuti berbagai budaya masyarakat yang tidak islami. Oleh sebab itu, film-film tersebut mengandung berbagai hal-hal haram yang merusak akidah dan fitrah anak-anak, menumbuhkan sikap bandel serta membangkitkan kandungan jiwa yang berkaitan dengan hal-hal yang tabu bagi anak-anak seusia mereka. Kenyataan lain menyebutkan bahwa berbagai riset ilmiah membuk-tikan adanya hubungan yang erat antara waktu yang dihabiskan seorang anak di hadapan monitor televisi beserta bentuk acara yang dinikmatinya dengan keterlambatannya masuk sekolah. Ditambah dengan dampak lain berupa timbulnya sifat nakal dan kecenderungan berbuat jahat, akibat film sadis yang ditontonnya.</p>
<p>Sehubungan dengan kenyataan itu, Nicolas Van Rogh, ketua Badan Nasio-nal Pendidikan Anak dan Pakar Televisi di Amerika serikat menyatakan: Ã¢â‚¬Å“Kadang-kadang televisi bisa menjadi musuh bagi anak-anak, meski kadang bisa menjadi hadiah yang menyenang-kan. Karena menonton berbagai program acara yang tidak karuan, dapat menghabiskan porsi terbanyak waktu anak-anak, menghilangkan banyak waktu bermanfaat yang dapat digunakan untuk belajar, bermain dan tidur.Ã¢â‚¬Â</p>
<p>Dampak negatif dari menggeluti layar televisi itu ternyata tidak dapat hilang begitu saja ketika seorang anak sudah beranjak dari masa kanak-kanaknya. Bahkan akan terus mengi-kutinya pada masa-masa selanjutnya. Seorang pakar psikologi, Leonard Iran dari lembaga riset di bawah Perguruan Tinggi Michigin Amerika Serikat telah melakukan penyelidikan terhadap beberapa orang anak di New York sejak tahun 1960 M. hingga 1996, yakni selama 36 tahun dari umur mereka. Ia melakukan penyelidikan terhadap tingkah laku mereka. Ia mendapatkan kenyataan bahwa prilaku mereka yang senang menyaksikan film-film sadis di antara mereka memiliki kecendrungan nakal lebih besar pada masa puber dan masa remaja, lebih banyak memukul isteri dan lebih banyak menenggak minuman keras, serta lebih mudah melakukan tindak-tindak kriminal.</p>
<p>Memang negara-negara Islam, cukup jauh dari kondisi reaktif yang mencemaskan sebagaimana di negara-negara barat. Terutama kota Mekah dan Al-Madinah yang memiliki keistimewaan sebagai negeri sumber Islam dan tambatan hati kaum muslimin. Hanya saja, dengan adanya berba-gai saluran televisi yang tidak mengenal batas, berbagai problematika dan kesulitan membawa ancaman yang lebih serius. Karena seorang anak, berada dalam masa mencari hiburan dan<br />
pengisi kekosongan melalui kebiasaannya menikmati saluran-saluran televisi yang terhidang di hadapannya. Pandangan matanya, tidak bisa tidak, akan tertumpu pada hal-hal yang akan menentukan masa depannya. Itulah yang menjadi kesimpulan dari penyelidikan ilmiah yang dilaku-kan oleh Yayasan Anak-anak sekarang ini di Amerika: Ã¢â‚¬Å“Anak-anak adalah Media HiburanÃ¢â‚¬Â. Dengan demikian dapat disimpulkan, bahka ketika anak-anak itu berpindah-pindah dari satu saluran ke saluran TV lainnya yang berisi program-program, ia mulai menjadi korban dari doktrin berbahaya, yang melaui doktrin tersebut mereka mengenal cara menipu, menghilangkan penghormatan terhadap orang tua, dan melihat aurat yang diharamkan.</p>
<p>James Steir, ketua Yayasan tersebut di atas memberikan tambahan sebagai berikut: Ã¢â‚¬Å“Kenyataan itu menjadi tolok ukur untuk persoalan yang lebih makro. Anak-anak kecil menikmati media-media komunikasi itu dengan cara yang belum pernah mereka kenal sebelum-nya. Mereka akan menghadapi berbagai akibat mengerikan lainnya, melalui kebiasaan` mereka menonton adegan-adegan sadistik dan seksual. Sehingga mereka membutuhkan pendidikan lebih mendalam dan penanaman akhlak yang lebih matang lagi.Ã¢â‚¬Â Lebih dari itu, berbagai tayangan televisi tersebut banyak menarik minat manusia pada umumnya melalui berbagai penampilan yang lepas dari kontrol etika dan moral, seolah-olah menjadi umpan untuk menarik hati mereka. Dengan sendirinya, semua itu akan membawa pengaruh pada pribadi<br />
dan masyarakat.</p>
<p>Di antara kewajiban yang harus kita pikul menghadapi berbagai kenyataan itu adalah: menuntut kepada pihak lembaga yang berwenang dan produser berbagai acara tersebut untuk memperbanyak produksi acara-acara yang edukatif dan ilmiah, serta ber-bagai program yang menekankan sisi moral pada diri generasi muda, dengan menjauhi berbagai pelanggaran-pelanggaran syariat.</p>
<p>Satu hal yang cukup vital dalam hal ini adalah menjauhkan anak-anak dari berbagai program yang ngawur dan tidak memperhatikan sisi akhlak dan budi pekerti luhur. Sebaliknya, menyiapkan untuk mereka berbagai program pengganti yang bermanfaat, baik itu melalui layar televisi atau melalui berbagai program pengajaran dan pendidikan melalui komputer dan sejenisnya.</p>
<p>Di antara arahan-arahan menarik dari beberapa lembaga masyarakat di Amerika adalah yang diungkapkan orang seorang warga wanita Amerika melalui riset dan pengalaman yang ditulis dalam bukunya yang berjudul: Ã¢â‚¬Å“Apa yang Anda Lakukan Setelah Mematikan Televisi?Ã¢â‚¬Â Ia menjelaskan bagaimana ia mendidik anak-anaknya dengan tidak menghadirkan media televisi di rumahnya selama sepuluh tahun. Dengan bahasanya ia mengungkapkan, Ã¢â‚¬Å“Anak-anak saya dapat menik-mati berbagai aktivitas dan kegiatan mereka. Mereka juga memiliki ber-bagai pemikiran yang selalu ingin mereka terapkan. Mereka tidak mau melakukan hal-hal yang berbahaya buat diri mereka sendiri. Kehidupan kami banyak mengalami perubahan. Kami bisa duduk-duduk dalam satu kamar, merasa nyaman dan tentram. Saya berharap masyarakat juga dapat melakukan hal yang mulanya sulit. Betapa besar kebahagiaan yang mere-ka rasakan, kalau mereka bertanggung-jawab terhadap hidup mereka, dengan memberi hak pensiun kepada media televisi mereka.Ã¢â‚¬Â</p>
<p>Bagaimanapun juga, tak seorang pun yang mengingkari adanya berbagai dampak negatif dan bahaya, pasti dari aneka macam tayangan siaran televisi pada umumnya. Meskipun berbagai pakar pendidikan dan pengajaran di beberapa negara barat sekarang banyak yang meneriakkan pentingnya memberikan penekanan pada disiplin moral dalam berbagai program siaran. Hal ini semakin menegaskan keharusan kaum muslimin untuk berpegang pada media komunikasi yang terpelihara, televisi atau media komunikasi lainnya. Di mana mereka memper-hatikan sisi ajaran syariat dengan sempurna. Inilah satu jalan hidup yang harus menjadi rujukan bagi umat manapun di dunia, kalau mereka menginginkan keselamatan bagi masyarakat.</p>
<p>Hal ini juga semakin menguatkan arahan untuk menciptakan program komunikasi yang bermutu yang dapat memberikan contoh terbaik bagi masyarakat Islam, untuk menjadi keluarga ideal bagi generasi selanjutnya. Karena bisa saja datang satu masa, dimana seorang anak kecil, remaja, atau pemuda berkhayal untuk menjadi seorang tokoh atau olah-ragawan, sementara ia sendiri menganggur tanpa kerja dan tanpa keahlian untuk dapat merealisasikan baktinya kepada negara. Ada baiknya juga ditampilkan para ulama, para pakar kedokteran, para guru, para insinyur dan berbagai pakar keilmuan lainnya yang menentukan keberhasilan kemajuan dalam negeri, untuk menjadi contoh bagi generasi selanjutnya. Hal itu juga dapat menjadi daya tarik bagi generasi yang sedang tumbuh berkembang untuk mengikuti jejak mereka dan menjadi orang-orang yang berkarya besar di tengah masyarakat. Maka akan datang pula satu hari, di mana seorang anak pada hari pertama pergi ke sekolah, tanpa sungkan ia menyatakan, bahwa cita-citanya adalah: mendapatkan semua ilmu yang bermanfaat bagi masyarakat dan umatku. Wahai para pemimpin! Itulah metode pendidikan yang benar. Setiap umat memiliki rahasia pendidikan yang besar yang menentukan langkah mereka. Semoga kita diberi taufik, untuk dapat mengambil kebaikan dari ajaran Nabi kita, Muhammad Shallallaahu alaihi wa Salam</p>
<p>The post <a href="https://langitan.net/waspadai-media-hiburan/">Waspadai media hiburan</a> appeared first on <a href="https://langitan.net">Pondok Pesantren Langitan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://langitan.net/waspadai-media-hiburan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>3</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Pengaruh iblis dan Yahudi (Puisi I)</title>
		<link>https://langitan.net/pengaruh-iblis-dan-yahudi/</link>
					<comments>https://langitan.net/pengaruh-iblis-dan-yahudi/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 16 Mar 2009 17:00:53 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kiriman pengunjung]]></category>
		<category><![CDATA[anti sekuler]]></category>
		<category><![CDATA[Iblis yang pintar]]></category>
		<category><![CDATA[jerat iblis]]></category>
		<category><![CDATA[Kegelisahan Kiai]]></category>
		<category><![CDATA[keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[PKNU]]></category>
		<category><![CDATA[puisi]]></category>
		<category><![CDATA[sajak]]></category>
		<category><![CDATA[Tulisan lepas]]></category>
		<category><![CDATA[yahudi]]></category>
		<category><![CDATA[yahudi terkutuk]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langitan.net/?p=543</guid>

					<description><![CDATA[<p>PANGELING ELING Boleh jadi nafsumu mengingkari kebenaran Tapi hatimu takkan pernah membenarkannya Boleh jadi Bibirmu tersenyum dalam kemaksiatan Tapi Hatimu menangis dalam kegelisahan! Boleh jadi Lisanmu berucap dengan penuh kedustaan Tapi Hatimu resah karena ketidak jujuran! Boleh jadi jasadmu Gagah dalam keharaman Tapi Hatimu lemah dan penuh kecemasan! Janganlah kau ingkari kehendak Hatimu Sementara kau [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://langitan.net/pengaruh-iblis-dan-yahudi/">Pengaruh iblis dan Yahudi (Puisi I)</a> appeared first on <a href="https://langitan.net">Pondok Pesantren Langitan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>PANGELING ELING</p>
<p>Boleh jadi nafsumu mengingkari kebenaran<br />
Tapi hatimu takkan pernah membenarkannya</p>
<p>Boleh jadi Bibirmu tersenyum dalam kemaksiatan<br />
Tapi Hatimu menangis dalam kegelisahan!</p>
<p>Boleh jadi Lisanmu berucap dengan penuh kedustaan<br />
Tapi Hatimu resah karena ketidak jujuran!</p>
<p>Boleh jadi jasadmu Gagah dalam keharaman<br />
<span id="more-543"></span>Tapi Hatimu lemah dan penuh kecemasan!</p>
<p>Janganlah kau ingkari kehendak Hatimu<br />
Sementara kau ikuti bisikan nafsu<br />
Niscaya kecelakaan akan menimpa dirimu!</p>
<p>AKI II</p>
<p>SIFAT DAN WATAK ASLI PENDUDUK INDONESIA</p>
<p>1. Ramah<br />
2. Sopan Santun<br />
3. Gotong Royong<br />
4. Pemalu<br />
5. Mistik<br />
6. Saling menghormati<br />
7. Fanatik<br />
8. Penurut<br />
9. Bersyukur<br />
10.Sabar</p>
<p>SIFAT DAN WATAK YANG DITANAMKAN OLEH IBLIS DAN YAHUDI</p>
<p>1.   Saling mencurigai<br />
2.   Hilangnya kesopanan<br />
3.   Apatis terhadap kepentingan orang lain<br />
4.   Hilangnya rasa malu<br />
5.   Tidak mempercayai yang ghaib<br />
6.   Hilangnya rasa hormat<br />
7.   Liberal &amp; melanggar Norma &#8211; Norma Agama<br />
8.   Pembangkang<br />
9.   Hilangnya rasa Bersyukur<br />
10. Tergesa &#8211; gesa dan ketidak sabaran</p>
<p>SEBAB DAN AKIBAT YANG TERJADI KARENA PENGARUH IBLIS DAN YAHUDI</p>
<p>1.  Saling mencurigai akan berdampak khianat, prasangka, praduga, perpecahan, dan perang saudara diantara sesama<br />
Insan.<br />
2.  Hilangnya kesopanan : Berakibat saling menyalahkan &amp;egoisme yang tinggi<br />
3.  Apatis : Berdampak terputusnya Rahmat &amp; Kasih Sayang<br />
4.  Hilangnya rasa Malu : Berakibat melakukan suatu tindakan yang merugikan kepada sesama Insan<br />
5.  Tidak mempercayai yang ghaib : Berdampak terjadinya pengingkaran dan hilangnya keimanan<br />
6.  Hilangnya rasa hormat : Berdampak terjadinya penganiyayaan serta pemusnahan harkat &amp; martabat selaku Insan<br />
7.  Liberal : Berakibat hilangnya Ajaran &#8211; Ajaran Ketuhanan<br />
8.  Pembangkang : Berdampak menyalahi dan menuduh Tuhan<br />
9.  Hilangnya rasa bersyukur : Akan berakibat gersang dan gelisahnya jiwa serta kurang harmonis dalam berinteraksi<br />
Dengan sesama makhluk ciptaan Tuhan.<br />
10.Tergesa &#8211; gesa : Berakibat penyesalan dan fitnah kepada Tuhan.</p>
<p>PERLU SAMA &#8211; SAMA KITA KETAHUI, KITA FAHAMI SERTA KITA TINDAK LANJUTI, BAHWA MENGEMBALIKAN SIFAT DAN WATAK ASLI PENDUDUK INDONESIA ADALAH SEBAGAI DASAR BANGKITNYA KEJAYAAN INDONESIA MENUJU MERCU SUAR DUNIA</p>
<p>ITULAH TUGAS AWAL KITA SEMUA</p>
<p>1. Rawe &#8211; Rawe Rantas, Malang &#8211; Malang putung<br />
2. Berat sama dipikul, Ringan sama dijinjing<br />
3. Habis gelap terbitlah terang<br />
4. Mempunyai rasa tanggung jawab yang pasti, Rahmatan Lil Alamin</p>
<p>Demi perjuangan untuk kejayaan Indonesia mohon informasi ini diperbanyak dan disebarluaskan</p>
<p>AKI II</p>
<p>TRAGEDI</p>
<p> Seluruh makhluk adalah hamba Allah, Seluruh alam Adalah ayat Allah, engkau perhatikan ketika seluruh ayat Allah menampakkan kekuasaanNya pada segenap hamba Allah. Ketika Air laut telah bergejolak mengalir kemanapun sesukanya , Ketika Angin telah gelisah berputar putar ketika Bumi mulai berderak ingin mengguncang, Ketika Bara api melumat memerahkan wilayah, ketika kekuasaan Nya memulai prahara.Cabutlah angkara murka dari dalam dirimu, Sebelum engkau binasa Diterjang Ayat Allah .</p>
<p>&#8220;SESAJI&#8221; BAGI PERTIWI<br />
Bumi Pertiwi menjerit, Menangis<br />
Bagai tangisan seorang Bayi yang manis<br />
Tiada air Susu yang diminumnya<br />
Haus yang tiada Terkira<br />
Membuat ia menjerit Membahana<br />
Secawan minuman di meja Persembahan<br />
Bagi Pertiwi yang saat ini kering dan Tandus<br />
Amatlah menarik secawan minuman bagi Pertiwi<br />
Bagai Mahkota Sang Perawan<br />
Minuman segar Pengobat Dahaga<br />
Alangkah Indah dengan warnanya yang Merah<br />
Tetapi..Terdengar Jerit Tangis para manusia<br />
Di Dalam Cawan berisi Minuman<br />
Oh..Pertiwi Kenapa Engkau kini<br />
Yang selama ini diam, Menerima akan perilaku manusia<br />
Kini!.Kau tuntut Sesaji kepada manusia<br />
Permintaanmu oh.Teramat berat dan memilukan<br />
Oh..Kau inginkan Secawan minuman<br />
Minuman Darah, Darah dan Darah</p>
<p> LAHIRNYA ANAK MANUSIA </p>
<p>Diantara derasnya kucuran hujan basahi Mayapada<br />
Tangisan anak manusia terdengar membahana<br />
Diawal pagi dengan sambutan suka cita<br />
Awal cerita lahirnya anak manusia</p>
<p>Cakrawala melihat, Dunia bersuka<br />
Lintas cahaya khatulistiwa terlihat cerah<br />
Ucapkan salam tertuju kepada anak manusia<br />
Halilintar saling bersahut &#8211; sahutan</p>
<p>The post <a href="https://langitan.net/pengaruh-iblis-dan-yahudi/">Pengaruh iblis dan Yahudi (Puisi I)</a> appeared first on <a href="https://langitan.net">Pondok Pesantren Langitan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://langitan.net/pengaruh-iblis-dan-yahudi/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>1</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Iblis yang pintar, manusia tolol</title>
		<link>https://langitan.net/iblis-yang-pintar-manusia-tolol/</link>
					<comments>https://langitan.net/iblis-yang-pintar-manusia-tolol/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 12 Nov 2008 22:16:11 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Ngaji Ihya]]></category>
		<category><![CDATA[cara menghadapi iblis]]></category>
		<category><![CDATA[Iblis yang pintar]]></category>
		<category><![CDATA[jerat iblis]]></category>
		<category><![CDATA[manusia yang tolol]]></category>
		<category><![CDATA[tipu daya ilis]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langitan.net/?p=256</guid>

					<description><![CDATA[<p>Tidak sedikit orang yang berusaha mencari justifikasi (pembenar), agar pilihannya menjadi orang kaya tidak direcoki oleh kepentingan agama. Bagi mereka kaya itu lebih baik dari pada miskin, asalkan mau bersyukur. Tidak jarang pula mereka menjadikan keberadaan para sahabat Nabi yang kaya raya sebagai tameng diri mereka. “Kalau sahabat Abdurrohman bin Auf saja kaya raya dan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://langitan.net/iblis-yang-pintar-manusia-tolol/">Iblis yang pintar, manusia tolol</a> appeared first on <a href="https://langitan.net">Pondok Pesantren Langitan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Tidak sedikit orang yang berusaha mencari justifikasi (pembenar), agar pilihannya menjadi orang kaya tidak direcoki oleh kepentingan agama. Bagi mereka kaya itu lebih baik dari pada miskin, asalkan mau bersyukur. Tidak jarang pula mereka menjadikan keberadaan para sahabat Nabi yang kaya raya sebagai tameng diri mereka. “Kalau sahabat Abdurrohman bin Auf saja kaya raya dan tidak dilarang oleh Nabi kenapa aku tidak boleh? Begitu kira-kira yang ada dibenak mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Namun sangat disayangkan kalau apa yang mereka katakan tidaklah sejalan dengan apa yang terjadi di lapangan. Mereka hanya pandai berkhotbah dan berteori tentang masalah dunia. Tetapi sama sekali hal itu tidak terjadi dalam kehidupan mereka. Itulah yang kemudian disebut dengan ulamassu„¢ (ulama jelek). Dari luar, mereka kelihatan sangat bagus dan baik, namun di dalam hati mereka yang tersisa hanyalah kotoran-kotoran yang menjijikkan. Mereka tak lebih dari sebuah alat penyaring yang selalu mengeluarkan kebaikan bagi orang lain namun juga menyisakan kehinaan bagi dirinya sendiri.<span id="more-256"></span><br />
Harus disadari bahwa budak-budak duniawi selamanya tidak akan pernah mencapai puncak surgawi. Mereka tidak akan pernah merasakan kenikmatan ukhrowi yang haqiqi kalau mereka tidak bisa melepaskan diri dari rasa syahwat dan cinta duniawi yang menunggangi mereka. Sebenarnya hati kecil mereka sadar akan hal ini dan selalu menangis minta keadilan. Tetapi mereka lebih dikendalikan oleh nafsu dan birahi dari pada suara hati kecil mereka. Sehingga permintaan si hati kecil hanya dituruti oleh lisan saja. Seolah-olah mereka mengajak umat manusia untuk meninggalkan dunia sedikit demi sedikit. Padahal dia tidak pernah sadar bahwa sebuah rumah yang gelap gulita tidak akan pernah menjadi terang benerang hanya dengan sebuah lampu yang diletakkan di luar.</p>
<p style="text-align: justify;">Mengaku atau pun tidak, kebahagiaan mereka para pengumpul harta benda hanyalah bersifat semu dan fatamorgana belaka. Sehingga tak jarang di balik rasa bahagia yang mereka bangun kerap kali timbul perasaan susah dan khawatir bahkan sering menimbulkan berbagai tindak kedurhakaan kepada Allah. Mereka selalu berharap bisa mencapai tingkat kebahagiaan yang haqiqi dengan dunia yang mereka miliki. Namun sayang mereka telah salah jalan. Menyesal-lah mereka di dunia dan akhirat. Demikian itulah penyesalan yang nyata.</p>
<p style="text-align: justify;">Kalaupun kemudian mereka beragumentasi dengan kekayaan yang dimiliki para ulama dan sahabat Nabi Muhammad itu semua tidak lebih dari sekadar alasan agar mereka bisa merasa tenang, dan juga tak lain merupakan tipu daya syetan untuk menyesatkan manusia. Secara realisitis harus dipahami bahwa kekayaan yang dimiliki oleh Sahabat Abdurrohman bin Auf atau sahabat yang lain bukanlah digunakan untuk takatsur (jor-joran), kemulyaan dan menghiasi diri sendiri saja. Dan kalau mereka beranggapan bahwa apa yang ada pada diri sahabat seperti itu sama dengan mereka, maka celakalah mereka yang telah merendahkan derajat seorang sahabat Nabi. Dan jika apa yang mereka kumpulkan hanyalah harta yang halal saja bukan berarti itu bisa dijadikan sebagai jaminan untuk mendapatkan legalitas agama dalam menumpuk kekayaannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kenapa mereka tidak mau pernah berpikir secara jernih bahwa segala alasan mereka untuk mendapatkan kekayaan yang sebanyak-banyaknya dengan dalih sahabat Abdurrohman adalah kesalahan yang sangat fatal. Mereka tidak mau meneliti secara detail pada diri beliau. Bahwa meskipun beliau memiliki harta yang melimpah, semua itu malah bukan menjadi harapannya. Sehingga sering kali beliau berharap agar kelak di hari kiamat hanya diberi harta yang sekadar untuk kecukupan makan saja. Bahkan para sahabat beliau sempat menghawatirkan keberadaan beliau setelah meninggal dunia, padahal beliau termasuk salah satu sahabat yang mendapat jaminan masuk sorga.</p>
<p style="text-align: justify;">Bila para sahabat saja khawatir akan diri Abdurrohmah bin Auf padahal harta yang beliau peroleh semua dengan cara yang halal dan selalu dialokasikan pada kebaikan, lantas bagaimana dengan orang-orang yang di bawah level beliau?<br />
Sungguh ironis kalau ini masih dijadikan sebagai alasan oleh mereka. Padahal harta yang mereka peroleh sangat rentan bercampur dengan barang subhat, haram atau sangat mungkin tercampur dengan hak milik orang lain. Dan sudah sangat jelas inilah strategi hebat yang selalu dijalani si Jahannam, Iblis.</p>
<p style="text-align: justify;">Memang, tidak bisa dipungkiri kalau banyak kalangan kyai yang memiliki harta melimpah. Tetapi dengan semua itu mereka sangat merasa tahu diri karena tujuan mereka hanya satu yakni jalan Allah. Maka mereka hanya akan bekerja dan makan dari yang halal saja, tidak foya-foya, tidak bakhil dan selalu mengedepankan kepentingan Allah atas kesenangan pribadinya. Lantas demikiankah orang-orang yang mengaku meniru sahabat Abdurrohman bin Auf itu? Entahlah. Tetapi yang nyata dan jelas adalah tidak.</p>
<p style="text-align: justify;">Para sahabat Nabi bukalanlah tipe manusia yang mata duitan dan kedunyan. Mereka adalah kelompok orang yang lebih suka kemiskinan dari pada bergelimang harta benda. Dalam keadaan susah atau pun bahagia mereka selalu merasa ridla dan bangga akan taqdir dari Allah. Sehingga tak jarang para sahabat ketika mendapatkan secuil harta saja, rasa susahnya bukan main. Bagi mereka harta dunia sekecil apa pun bisa menjadi ancaman serius yang bisa menghancurkan kehidupan akherat mereka. Namun bila kekurangan datang menghampiri mereka, dengan rasa bangga mereka akan menyambut dengan mengucapkan “marhaban bisyi„¢aris sholihin (selamat datang tanda-tanda kebesaran kaum sholihin).</p>
<p style="text-align: justify;">Sewaktu mereka ditanya, “Mengapa semua itu mereka lakukan? mereka menjawab, “Ketika matahari menyinari diriku dan di sekitarku dan keluargaku tidak ada apa-apa maka aku merasa bahagia karena aku telah dapat mengikuti jejak Rasulullah. Namun jika di sekeliling kami ada harta dunia kami merasa susah karena kami ternyata tidak mampu mengikuti jejak langkah Rasulullah.<br />
Dan kalau kemudian mereka merasa bisa meniru sahabat Abdurrahman bin Auf, hanya mencari dan makan yang halal saja kemudian ditasarrufkan terhadap hal-hal yang diridlai oleh Allah, maka sekali lagi percayalah, bahwa hal itu juga merupakan agenda jebakan Syetan.</p>
<p style="text-align: justify;">Mereka harus menyadari kalau mencari sesuatu yang benar-benar halal seperti yang pernah diperoleh para sahabat pada masa sekarang ini tak lebih seperti halnya mencari butiran pasir hitam di tengah kegelapan malam. Tentunya perlu diperhatikan bagaimana kehati-hatian para sahabat dalam mencari harta benda. Seumpama ada 70 pintu menuju perkara halal dan bersanding dengan 1 pintu menuju hal haram, mereka tidak akan pernah mau melewati ke-71 pintu tersebut. Padahal pada masa sekarang ini untuk mencari harta yang benar-benar halal sangatlah sulit sekali atau bahkan bisa dibilang mustahil. Lantas bagaimana dengan mereka para hamba dunia itu?</p>
<p style="text-align: justify;">Seumpama mereka bisa melakukan hal itu pun bukan berarti mereka telah menyelesaikan segala permasalahan. Mau tidak mau setelah harta telah mereka peroleh, mareka harus memikirkan bagaimana mentasarrufkannya. Dan ini pun akan sangat menguras energi dan pikiran. Sehingga Khiyarut Tabi„¢in (Para Tabi„¢in terbaik) ketika ditanya, “Baik mana antara orang yang mencari harta kemudian ditasarrufkan di jalan Allah dengan orang yang sama sekali tidak mencari harta? mereka menjawab, “Orang yang kedua itu masih lebih baik dari pada orang yang pertama. Dan kalau dibandingkan, jarak perbedaan diantara keduannya adalah bagikan arah barat dan timur.</p>
<p style="text-align: justify;">Kalaupun dengan memperbanyak harta benda itu akan bisa mendatangkan kebahagiaan, maka bagaimana mungkin Rasulullah tidak melakukan hal itu. Padahal beliau adalah lentera petunjuk bagi seluruh umat manusia. Bahkan seandainya mau, beliau bisa menjadi orang yang terkaya sejagat raya. Sampai malaikat Jibril juga pernah menawari beliau bongkahan emas sebesar gunung Uhud. Namun beliau tidak pernah mau dan lebih menyukai hidup dengan serba sederhana. Dan tentunya cukuplah bagi mereka kisah sahabat Tsa„¢labah.</p>
<p style="text-align: justify;">Maka tidak ada alasan sama sekali bagi seseorang untuk menumpuk harta kekayaannya. Apapun argumentasi yang mereka pakai semua itu adalah rekayasa dan tipu daya yang telah dirancang dengan rapi oleh Iblis dan Syetan. Dan itu mereka gunakan hanyalah untuk membentengi diri mereka dari intervensi agama. Dan mereka sadar betul kalau sebenarnya itu mereka lakukan hanya karena takut jatuh miskin, untuk berfoya-foya, jor-joran dan sebagainya. Mengaku atau tidak? Mereka harus mengakuinya!</p>
<p>The post <a href="https://langitan.net/iblis-yang-pintar-manusia-tolol/">Iblis yang pintar, manusia tolol</a> appeared first on <a href="https://langitan.net">Pondok Pesantren Langitan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://langitan.net/iblis-yang-pintar-manusia-tolol/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>5</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Memahami Alam dan Mengenal Tuhan</title>
		<link>https://langitan.net/memahami-alam-mengenal-tuhan-dan-meneguhkan-iman/</link>
					<comments>https://langitan.net/memahami-alam-mengenal-tuhan-dan-meneguhkan-iman/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 03 May 2008 23:52:01 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Tulisan lepas]]></category>
		<category><![CDATA[filosofi]]></category>
		<category><![CDATA[jerat iblis]]></category>
		<category><![CDATA[pahami alam]]></category>
		<category><![CDATA[teguhkan iman]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langitan.net/?p=141</guid>

					<description><![CDATA[<p>1. Aspirasi duniwiyah, membelokkan kemurnian akherat Ada hikayat tentang ketekunan ibadah seorang pemuda pada masa Bani Israel. Suatu saat ketekunan ini terusik oleh realitas prilaku suatu masyarakat yang menyembah-nyembah pohon besar. Ia tidak mungkin membiarkan hal ini, sebab menegakkan dakwah dan amar maÃ¢â‚¬â„¢ruf nahi mungkar termasuk kewajiban agama dan bagian dari ibadah. Usut punya usut [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://langitan.net/memahami-alam-mengenal-tuhan-dan-meneguhkan-iman/">Memahami Alam dan Mengenal Tuhan</a> appeared first on <a href="https://langitan.net">Pondok Pesantren Langitan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>1. Aspirasi duniwiyah, membelokkan kemurnian akherat</strong><br />
Ada hikayat tentang ketekunan ibadah seorang pemuda pada masa Bani Israel. Suatu saat ketekunan ini terusik oleh realitas prilaku suatu masyarakat yang menyembah-nyembah pohon besar. Ia tidak mungkin membiarkan hal ini, sebab menegakkan dakwah dan amar maÃ¢â‚¬â„¢ruf nahi mungkar termasuk kewajiban agama dan bagian dari ibadah. Usut punya usut dalam pikirannya, sang pemuda menemukan pangkal penyebabnya; yakni pohon besar itu. Semangat dan ghirah keagamaannya benar-benar telah menyatu dengan tekad untuk menebang pohon tersebut.<span id="more-141"></span></p>
<p>Suatu hari berangkatlah pemuda itu dengan menentang kapak besar di tangan, tujuan cuma satu, tumbangkan pohon karena jadi sumber kesesatan. Di tengah jalan, ia dihadang oleh Iblis yang menjelma manusia. Sekedar basa-basi sebentar, lantas Iblis laknat menanyakan tujuan pemuda tersebut. Dengan kekuatan aspirasi keikhlasan, pemuda itu menjawab, menumbangkan pohon. Tetapi sang Iblis tetap menghalang-halangi. Maka terjadilah duel, antara pemuda yang sholeh itu dan manusia jelmaan Iblis. Tidak disangka sang Iblis untuk kesekian kali terpukul mundur, sampai terjungkal-jungkal karena bantingan pemuda ikhlas tadi.</p>
<p>Duel memang benar-benar tidak seimbang. Sang Iblis merasakan ada kekuatan ekstra luar biasa yang menyelimuti diri pemuda. Sebelum terlalu dipecundangi oleh pemuda ini, Iblis sadar, bahwa untuk mengalahkan pemuda ini, maka sumber kekuatan yang luar biasa itu harus diputus.<br />
Ã¢â‚¬ÂOkey, okey, saya menyerah. Aku kapok.Ã¢â‚¬Â Iblis mulai memasang taktik. Pemuda sholeh dan lugu ini menghentikan serangannya. Iblis dengan lagak benar-benar telah damai mendekati pemuda.<br />
Ã¢â‚¬Å“Persoalan masyarakat terlalu rumit. Walaupun pohon itu anda tumbangkan, toh masih ada banyak pohon. Saya melihat anda tidak pernah memikirkan diri sendiri. Tampaknya anda ini orang yang miskin butuh uang.Ã¢â‚¬Â Ã¢â‚¬Å“Memang aku miskin, memangnya kenapa?Ã¢â‚¬Â Pemuda ini mulai terpancing oleh logika yang dipasang oleh IblisÃ¢â‚¬Â. Ã¢â‚¬Å“Saya kasihan dengan keadaanmu ini. Masalah menebang pohon masih banyak waktu, silahkan ditebang. Tetapi kalau hari ini anda membatalkan penebangan dan kembali ke rumah, saya berjanji, setiap habis tidur, di bawah bantal anda akan ada uang yang cukup untuk belanja hidup anda setiap hari,Ã¢â‚¬Â mendengar penuturan Iblis yang menyamar manusia ini, sang pemuda menjadi tertarik. Ia mulai berpikir bahwa penundaan penebangan cukup masuk akal; toh masih ada waktu. Itu pertama. Yang kedua, apa salahnya membuktikan ucapan orang ini. Yang pertama berdasarkan pertimbangan rasional, dan yang kedua dilandasi oleh tamanni (membayangkan sesuatu yang belum tentu hasilnya). Ã¢â‚¬Å“Baiklah, tawaranmu aku terima.Ã¢â‚¬Â Jawab sang pemuda. Sang Iblis menarik nafas lega dengan sedikit menarik urat keningnya sambil berkata dalam hati: Ã¢â‚¬Å“Kena, kau pemuda!Ã¢â‚¬Â Barang kali begitu reaksi Iblis.</p>
<p>Racun Iblis dipastikan telah memenuhi pikiran dan hati. Yang dinanti-nanti cuma satu; kapan datang malam dan bangun tidur. Benar, saat pemuda itu bangun tidur, langsung ia membalik bantal, uang. Sang pemuda tersenyum. Besuknya, begitu juga, uang. Dan sampai pada hari ketiga, begitu juga, Iblis telah masang uang. Tetapi saat memasuki hari berikutnya. Sang pemuda, kecewa berat. Karena di bawah bantal tidak ada uang. Ia merasa dikhianati. Maka kemarahan hatinya meluap. Tekad telah bulat untuk menumbangkan pohon besar tersebut; sebuah azam yang tertunda. Di tengah jalan, sang Iblis muncul; lebih santai, rilek dan penuh kepercayaan diri.<br />
Ã¢â‚¬Å“Mau ke mana, wahai pemuda!Ã¢â‚¬Â<br />
Ã¢â‚¬Å“Kau mengingkari janji. Perjanjian telah putus. Aku akan merobohkan pohon tersebut,Ã¢â‚¬Â sentak pemuda. Ketika hendak melangkah, sang Iblis menghalangi.<br />
Ã¢â‚¬Å“Kalau kau bisa melangkahi tubuhku, silahkan,Ã¢â‚¬Â Iblis menantang duel. Tak pelak, perkelahian terjadi. Tetapi kondisi sangat bertolak belakang dengan pertarungan awal. Pada pertempuran kali ini, malah sang pemuda yang menjadi bulan-bulanan Iblis, beberapa kali pemuda itu dibanting oleh Iblis. Seluruh kekuatan telah dikerahkan, tetapi sia-sia. Iblis tampak lebih unggul. Akhirnya ia menyerah kalah.<br />
Ã¢â‚¬Å“Hari ini engkau begitu kuat, jauh di atas saya. Aku mengaku kalah. Tetapi bagaimana bisa terjadi, padahal tempo hari kau benar-benar tidak berdaya,Ã¢â‚¬Â pemuda ini mengeluhkan keadaannya.<br />
Ã¢â‚¬Å“Wahai pemuda, ketahuilah. Aku ini Iblis., pada pertarungan awal engkau digerakkan oleh semangat keikhlasan karena Allah. Aku tidak akan mampu menjungkalkan hamba yang dipenuhi oleh kemurnian ibadah semata-mata karena Allah. Tetapi semangat merobohkan pohon kali ini, engkau digerakkan oleh semangat kekecewaan karena tidak mendapatkan uang di bantal. Ibadahmu telah kau kotori dengan aspirasi duniawiyah. Dan itulah yang membuat agamamu melenceng dan bagai debu-debu yang berterbangan.Ã¢â‚¬Â Begitulah Iblis, begitu pula kemampuannya memanej dunia untuk menyesatkan hamba-hamba Allah.<br />
Alam materi diberikan Tuhan tidak dalam keadaan gratis, tanpa mengurangi jatah akhirat. Tidak pernah. Dunia dan akherat adalah satu kesatuan. Apa yang ditarik ke arah bumi, maka jatah yang di atas akan berubah dan berkurang. Rasulullah SAW dan para sahabat benar-benar memahami hukum Allah ini. Kalau seandainya dunia ini tidak mengurangi jatah akhirat; semakin banyak yang ditarik di bumi semakin banyak pula kekurangan di akherat, maka tawaran Malaikat Jibril untuk merubah gunung Uhud menjadi emas akan diterima oleh Rosulullah SAW.<br />
Untuk membuktikkan bahwa tidak mungkin menghabungkan dua aspirasi yang berbeda; atas (akherat) dan bawah (dunia) dalam saat bersamaan. Kalau itu pun terjadi, merusaklah  bagian akherat, maka inilah bukti fisika menyakinkan anda:</p>
<p>Ã¢â‚¬Å“Ambillah sebuah wadah air (bejana) lantas isilah dengan air sampai penuh. Setelah itu timbanglah bobotnya. Yang kedua kali, sekarang masukkan sebongkah kayu di dalam bejana tersebut, pasti sebagian ia akan tumpah dan digantikan oleh kayu tersebut. Kemudian timbanglah lagi bejana yang telah dimasuki oleh kayu tersebut. Catat, apakah ada perubahan bobot air tersebut. Berat air tidak akan berubah: Air yang meluap keluar (hilang) sama dengan berat seluruh bongkah kayu. Dalam ilmu matematika, fisika, prinsip ini dikenalkan oleh Archimedes (250 SM). Ã¢â‚¬Å“Berat benda yang terapung (katakan ini harta yang kita miliki) sama dengan berat zat cair (jatah akhirat) yang didesaknya.Ã¢â‚¬Â Hukum ini sama dengan pondasi keagaamaan yang diberitahukan kepada orang-orang Islam bahwa dunia dan seisinya adalah bagian akherat yang disegerakan.</p>
<p><strong>2. Membersihkan Niat</strong><br />
Hati dan pikiran dirancang oleh Tuhan; satu waktu satu sasaran; satu waktu satu masalah. Persenyawaan dua sasaran vokus dalam satu waktu secara bersamaan, akan menghasilkan kerusakan bagi yang lain. Bagi Tuhan antara yang samar dan yang tampak, itu sama; antara yang diucapkan dengan yang diniatkan akan diketahui kecocokan atau perbedaan. Melakukan suatu bentuk ibadah dengan menyertakan pula gerakan atau motivasi dunia, maka yang terjadi adalah kasus sebagaimana di bawah ini.</p>
<p>Duduklah di atas kursi sambil menghadap meja. Ambil secarik kertas lantas menulislah. Upayakan anda menulis dengan tulisan yang bagus. Dan secara bersamaan gerakkan salah satu kaki dengan memutar-mutar telapak kaki membentuk lingkaran. Yang bagian tangan hendak menulis yang baik, sedang yang di bawah ingin membentuk gerakan lingkaran melalui kaki. Kita dapat bertaruh bahwa anda tidak dapat menulis dengan baik dengan cara seperti itu. Yang pasti tulisan anda akan kacau, karena pikiran anda akan mengikuti gerakan kaki tersebut. Gerakan kaki itu menyusup dalam tulisan. Setiap kegiatan menuntut begitu banyak konsentrasi (pemusatan pikiran). Memurnikan niat, berarti menyelamatkan suatu bentuk ibadah dari intervensi potensi-potensi yang di bawa oleh selain ibadah. Saat anda menetapkan target-target tertentu dari suatu amal, maka pada hakekatnya target-target itu hidup, karena ia adalah makhluk, apapun bentuknya itu. Lantas makhluk-makhluk ini mencampuri essensi amaliyah yang sedang anda kerjakan. Dalam suatu diskursus ilmu fiqh ada disebutkan, bahwa niat sholat harus dipertahankan sampai rampungnya sholat. Jika di tengah-tengah sholat, niatnya berubah, membatalkan sholat misalnya, maka saat itu batal subtansi sholat orang tadi.</p>
<p><strong>3. Perjalanan Mencari Cahaya</strong><br />
Gemerlapnya kota dengan cahaya lampu adalah sumber pertama kenapa banyak yang tertarik dengan kota. Dengan cahaya segala kenikmatan dapat diperoleh dan dirasakan. Semakin kreatif dan inovatif cahaya dimainkan, maka semakin merangsang banyak orang. Begitu berlaku bagi manusia, begitu pula bagi tumbuh-tumbuhan. Demi mencari cahaya, tumbuh-tumbuhan tak sadar, ternyata batangnya menjadi menyimpang dan bengkok-bengkok. Pemburu kenikmatan cahaya dari kalangan manusia, dipastikan kerohaniannya juga melenceng. Tidak boleh tidak. Ini hukum alam, sunnahtullah bagi alam semesta. Anda buktikan sendiri dengan percobaan yang digagas oleh ahli fisika Jerman Dr. Thomas Von Randow.<br />
Ambil sebiji kacang tanah, kacang panjang, atau biji kentang yang sudah mulai bertunas, masukkan ke dalam pot yang sudah diberi tanah dan basah. Buatlah sebuah bentuk dua sekat di dalam kardus. Intinya sekat pertama memberi ruang sedikit dibawah, sendang sekat yang kedua lubangnya diatas, jadi membentuk jalur zig-zag. Di pojok kardus diberi luangan tanpa masuknya cahaya. Letakkan pot yang berisi tunas tersebut di pojok kardus. Lalu biarkan beberapa hari. Dan amati saat tunas itu telah memanjang. Ia akan keluar dari lubang tersebut, sedang bentuk tunas akan anda lihat melengkung. Hal itu terjadi karena mengikuti arah cahaya dimata cahaya itu masuk.</p>
<p>Sulit untuk memperkirakan dalam kegelapan ada kesemarakan daya hidup nabati. Tetapi dalam kegelapan cahaya, tak jarang manusia menemukan asal kemanusiaannya, sumber kekuatannya. Dalam kegelapan<br />
 indera optic (mata) jangkauannya mati. Otomatis energi pikiran untuk sementara berkembang di dalamnya, namun lama-kelamaan, ia akan redup karena tidak mendapat konsumsi dari luar. Maka muncullah ketenangan, kejernihan pikiran. Ingat! Dunia kauniyah, tidak membiarkan alam itu kosong. Kalau dominasi cahaya lahir telah sirna, maka cahaya bathin yang selama ini kalah oleh kilauan cahaya luar menjadi terang. Rosulullah SAW, Dzat tubuh beliau telah mengeluarkan nur (cahaya) yang murni. Beliau tidak membutuhkan penerang di gelapan dengan cahaya yang menjadi lalu lintas ruh-ruh bangsa jin dan syetan. Cahaya suci muncul dari jasad beliau yang agung. Seorang yang terkenal dengan bergelut di dunia mistik gelap. Ki Gendheng Pamungkas, pernah mengeluarkan statemen di salah satu tabloid Pengobatan Alternatif, bahwa orang yang terbiasa dengan kehidupan gelap, jauh lebih tahan hidup dibanding yang hanya tergantung oleh sorot lampu belaka. Ã¢â‚¬Å“Satu sisi pernyataan ini memang menunjukkan realitas yang sesungguhnya. Sementara, apa ada makna Ã¢â‚¬ËœkegelapanÃ¢â‚¬â„¢ yang dimaksud itu dengan makna tersesat, maka itu urusan Ki Gendheng sendiri.</p>
<p>Al-QurÃ¢â‚¬â„¢an dengan jelasnya, memerintahkan kaum muslimin, kaum mukminin untuk Ã¢â‚¬Å“ghodul bhasorÃ¢â‚¬Â (memejamkan mata). Selain yang kita pahami dari perintah ini, maka ada pengertian lain yang terkait dengan tata kerja alam dalam Ã¢â‚¬Å“Mendewasakan Kerohanian InsaniyahÃ¢â‚¬Â kita.<br />
(A. Junaidi)</p>
<p>The post <a href="https://langitan.net/memahami-alam-mengenal-tuhan-dan-meneguhkan-iman/">Memahami Alam dan Mengenal Tuhan</a> appeared first on <a href="https://langitan.net">Pondok Pesantren Langitan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://langitan.net/memahami-alam-mengenal-tuhan-dan-meneguhkan-iman/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Meneropong akar-akar fundamintalisme</title>
		<link>https://langitan.net/meneropong-akar-akar-fundamintalisme/</link>
					<comments>https://langitan.net/meneropong-akar-akar-fundamintalisme/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 29 Oct 2007 21:28:47 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Tulisan lepas]]></category>
		<category><![CDATA[anti liberal]]></category>
		<category><![CDATA[anti sekuler]]></category>
		<category><![CDATA[ekstri kiri]]></category>
		<category><![CDATA[ekstrim kanan]]></category>
		<category><![CDATA[fundamentalisme]]></category>
		<category><![CDATA[jerat iblis]]></category>
		<category><![CDATA[jihad]]></category>
		<category><![CDATA[nu]]></category>
		<category><![CDATA[PBNU]]></category>
		<category><![CDATA[PKNU]]></category>
		<category><![CDATA[terapi ambisi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langitan.net/index.php/2007/10/29/meneropong-akar-akar-fundamintalisme/</guid>

					<description><![CDATA[<p>AIy Asyhar NF Salah satu fenomena yang paling mengejutkan diakhir abad 20 adalah munculnya apa yang disebut dengan &#8220;Fundamentalisme&#8221; dalam tradisi keagamaan di dunia. Ekspresi fundamentalisme ini terkadang sangat mengerikan. Para fundamentalis menembaki jama&#8217;ah yang sedang shalat di masjid, membunuh para dokter dan perawat dikiinik aborsi, membunuh presiden, dan bahkan mampu menggulingkan pemerintahan yang kuat. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://langitan.net/meneropong-akar-akar-fundamintalisme/">Meneropong akar-akar fundamintalisme</a> appeared first on <a href="https://langitan.net">Pondok Pesantren Langitan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em>AIy Asyhar NF</em><br />
Salah satu fenomena yang paling mengejutkan diakhir abad 20 adalah munculnya apa yang disebut dengan &#8220;Fundamentalisme&#8221; dalam tradisi keagamaan di dunia. Ekspresi fundamentalisme ini terkadang sangat mengerikan. Para fundamentalis menembaki jama&#8217;ah yang sedang shalat di masjid, membunuh para dokter dan perawat dikiinik aborsi, membunuh presiden, dan bahkan mampu menggulingkan pemerintahan yang kuat.<br />
Statement di atas adalah ungkapan jujur dari seorang Karen Amstrong yang mengaku sebagai &#8220;Freelance monotheis&#8221; untuk menggambarkan kecenderungan keberagamaan yang disebut sebagai &#8221; Fundamentalisme&#8221;. Statement di atas menemukan pembenarannya ketika Amerika Serikat porak-poranda pada tragedi 11 September, yang kemudian menjadikan Islam sebagai terdakwa. Lepas dari ?tu, fenomena demikian <span id="more-63"></span>membuktikan bahwa agama mempunyai multi potensi yang bisa membentuk pribadi beragam, mulai dari ekstrim kiri sampai ekstrim kanan. Cara pandang dan penghayatan seseorang atas agama dan kepercayaannya serta perkembangan sosial-religius disekitarnya akan merefleksi para perilaku. Karenanya, penghayatan dan ekspresi keberagamaan seseorang tidak pernah tunggal, melainkan warna-warni. Dalam kontek ini fundamentalisme merupakan salah satu bentuk ekspresi keberagamaan tersebut.</p>
<p><strong>Terminologi Fundamentalisme</strong><br />
Dalam The shorter Oxford English Dictionary dijelaskan bahwa fundamentalisme dimaknai sebagai kepatuhan yang keras kepada ajaran ortodoks, dalam Kristen dimaknai kepatuhan kepada injil secara l?teral, yang menjadi dasar (fundamen) kepercayaan Nasrani, dan menentang terhadap leberalisme dan modernisme.<br />
Sebagai istilah yang diproduksi dalam tradisi barat, maka istilah ini tidak cukup populer dalam tradisi Islam. Dalam Islam, fundamentalisme biasanya   diterjemahkan   dengan    al-UshuIiyyah   al-Islamiyyah   (fundamentalisme Islam ), al salaf?yah (warisan leluhur), al-Sahwah al Islamiyah (kebangkitan Islam ), al-Ihya al Islami (bangunnya kembali Islam), al Badil al Islami (alternat?f Islam). Dengan demikian secara umum fundamentalisme bisa dimaknai sebagai paham untuk kembali kepada sesuatu yang dipandang sebagai pokok, dasar, dan asas. Ketiga hal inilah yang dianggap sebagai sesuatu yang murni dan benar sehingga perlu dipertahankan mati-matian dari segala sesuatu yang bisa mengurangi predikat murni dan benar tersebut. Paham yang murni dan pokok tersebut hanya bisa dicari dari teks-teks literal suci. Upaya mempertahankan kemurnian tersebut kemudian dipaham? sebagai mempertahankan agama ?tu sendiri. Dengan keyakinan semacam itu pula, pera pendukung kelompok ini meyak?ni bahwa perjuangan mereka tidakiah sia-sia dan meruapakan bagian dari jihad, dalam Islam, atau holy war, dalam Kristen. Kalaupun mereka kalah dalam perjuangan di dunia, maka di akhirat mereka akan mendapatkan jaminan kemuliaan di sisi Tuhan.</p>
<p>Kata fundamentalisme bila d?kaitkan dengan Islam, hingga kini masih problematic. Banyak kalangan Islam yang menolak istilah tersebut, bukan saja karena fundamentalisme berasal dari tradisi kristiani tetapi lebih dari itu, fundamentalisme yang dialamatkan kepada sebagian umat Islam dianggap sebagai konspirasi &#8220;barat&#8221; untuk menyeret Islam dalam lumpur sejarah.<br />
Fundamentalisme kini bukan lagi sekedar kategori sosiologis pemeluk agama, tetapi di dalamnya terdapat muatan ideology yang menyiratkan kebencian, cemoohan, dan ejekan kepada sebagian umat Islam. Fundamentalisme sengaja d?ciptakan untuk menghadang kemajuan Islam yang dianggap akan menjadi ancaman bagi barat pasca keruntuhan komunisme. Sayyed Hussein Nasr termasuk tokoh intelektual muslim yang keberatan dengan istilah &#8220;Fundamentalisme Islam&#8221; Dia menjelaskan bahwa istilah fundamentalisme yang dipergunakan oleh para jurnalis dan ahli Islam sangat disayangkan dan menyesatkan, sebab istilah tersebut muncul dari konteks  umat  Nasrani, yang  konotasinya   benar-benar  berbeda. Fundamentalisme dalam lingkungan Nasrani khususnya di Amerika Serikat, menunjuk kepada bentuk-bentuk konservativ Protetanisme, yang biasanya anti kaum modernis dengan interpretasi yang terbatas terhadap Injil dan sangat menekankan  etika  tradisional   Kristen.   Pemakaian  dan  klasif?kasi fundamentalisme untuk menunjuk kepada gerakan kaum muslim dianggap Huseein sangat menyesatkan.</p>
<p>Sebagai tema sosiologis &#8220;Fundamentalisme&#8221; pada dasarnya merupakan istilah netral yang pada saat tertentu bisa dimaknai positIf ataupun negatif. Fundamentalisme dimaknai positif dalam arti bahwa istilah tersebut menunjukkan kelompok yang teguh memegang keyakinannya tentang kebenaran. Sedangkan makna negat?f terletak pada kesulitan kelompok tersebut untuk melakukan akselarasi gagasan, negosiasi dan resistensi dengan kelompok lain yang dianggap sebagai lawan. Karena itu orang luar memandang bahwa kelompok &#8220;Fundamentalis&#8221; sebagai kelompok yang kaku dan tak kenal kompromi, meskipun asumsi seperti ini tidak selamanya benar.</p>
<p><strong>Konteks Sosioiogi Teologis Fundamentalisme Agama</strong><br />
Dalam menguraikan aspek teologis fundamentalisme dalam Islam, maka kita harus me-review kembali kehadiran  Fundamentalisme dalam Kristen. Hai ini penting dilakukan untuk melihat segi-segi sosiologis-teologis munculnya gerakan Fundamentafisme dalam agama-agama. Dengan penelusuran ini, diharapkan akan muncul pemahaman yang lebih arif dalam melihat kecenderungan dan pergulatan keberagamaan, sehingga tidak terjadi klaim dan penolakan secara membabi buta terhadap terma Fundamentalisme, hanya karena terma ini berasal dari tradisi kristiani.</p>
<p>Kehadiran sistem demokrasi barat, lambat tapi pasti, mulai menggeser kekuasaan dominan yang sekian lama menguasai otoritas kehidupan masyarakat. Gereja yang selama berabad-abad menjadi sentra otoritas kebenaran hampir dalam segala aspek masyarakat Kristen, pada abad 19 mulai banyak digugat dan dipertanyakan. Terutama setelah terjadinya banyak penemuan-penemuan dalam ilmu pengetahuan yang secara mendasar bertentangan dengan kekuasaan dogmatic gereja. Sebagai contoh, pener?man teori evolusi yang begitu cepat, baik di dalam maupun di luar kalangan biologi, dirasakan mengancam keyakinan kitab suci yang menjadi dasar teologi Kristen. Teori evolusi yang ditawarkan kelompok baru untuk memahami tuhandan agama dalam batas tertentu mampu membekukan nilai-nilai kristiani. Kecenderungan baru ini juga berhasil mengesampingkan sitem study Bible berdasarkan f?lsafat Aristoteles.<br />
Gerakan ini semakin berkembang setelah perang dunia I. Bible Confrence o f Conservative Protestante (Konprensi Bible Protestan Konservativ ) mengadakan sidang beberapa kali untuk menentukan sikap atas kritikan kelompok baru atas Bible. Dalam sidang di Niagara 1895 d?keluarkan sikap mengenai fundamentalisme yang dikenal dengan &#8220;The Five Poni of Fundamentalisme&#8221; Yaitu, 1. Kitab suci tidak pernah salah kata demi kata. 2. Ketuhanan Yesus 3. Kelahiran Yesus dari ibu perawan 4. Ketentuan baru dalam penebusan dosa. 5. Kebangkitan dan kelahiran Yesus secara f?sik. Istilah fundamentalisme lebih populer lagi setelah dikeluarkan 12 risalah berjudui &#8220;The Fundamentalis&#8221; pada 1909 yang disebarluaskan ke seluruh dunia. Pada 1919 didirikan World Cristian Fundamentais Association untuk mengokohkan keberadaan kaum fundamentalis.</p>
<p>Abad itu merupakan saat-saat perjuangan sengit antara ilmu dan teologi, bahkan antara ilmu dan Kristen. Karena gereja, Bible dan teologi dianggap tidak mampu mengakomodir perkembangan ilmu pengetahuan, maka muncul kelompok baru yang mempertanyakan dengan kritis tentang Bible baik dari segi sejarahnya maupun interpretasinya. Tajamnya perseteruan ini memunculkan kepercayaan di kalangan fundamentalis bahwa pertarungan tersebut bukan pertarungan politik biasa, tetapi sebagai pertarungan kosmis antar kebaikan dan kejahatan. Mereka cemas dengan ancaman pemusnahan basis agama mereka, sehingga mereka membentengi doktrin dan praktik masa lampu ( Islam Salaf?yyun ) untuk memberi legitimasi historis atas keyakinannya. Atas dasar itu , kaidah-kaidah kebudayaan sepert? resistensi dan negosiasi tetap saja terjadi dalam proses dialektika dua kelompok besar yang saling merebut pengaruh untuk membenarkan keyakinanya tersebut.</p>
<p>Dalam proses dialektikanya, ada beberapa ciri yang terdapat dalam gerakan fundamentalisme Kristen yang dalam batas tertentu relevan untuk melihat fundamentalisme Islam. Ciri-ciri tersebut antara lain : 1. memberi penekanan pada interpretasi literal terhadap teks-teks agama. Mereka menolak pemahaman hermeneutic atas teks suci agama karena pemahaman sepert? ini dianggap akan menghilangkan kesucian agama. 2. Setiap gerakan fundamentalisme hampir selalu dapat dihubungkan dengan fanatisme, ekskiusif?sme, intoleran, radikalisme dan militanisme. Oposisionalisme kaum fundamentalis dalam berbagai agama mengambil bentuk perlawanan terhadap ancaman yang dianggap membahayakan eksistensi agama. 3. Fundamentalisme selalu memberikan penekanan kepada pembersihan dari unsur-unsur &#8220;isme&#8221; modern, misalnya, modernisme, liberalisme dan humanisme. 4. Adanya monopoli kebenaran atas tafsir agama. Kaum fundamentalis menganggap bahwa dirinya adalah penafsir agama yang paling sah dan benar, sehingga memandang sesat kepada kelompok lain. 5. menolak terhadap pluralisme dan relativisme.</p>
<p>Akar utama munculnya fundamentalisme dalam tradisi Kristen berawal dari cara pandang terhadap teks suci dan beberapa aspek agama. Dari sudut teologi ini ada beberapa problem yang mengemuka dalam tradisi Kristen. 1. fundamentalisme melihat teks Bible mempunyai pengert?an mutlak, jelas dan tidak berubah. Bible tidak perlu tafsir karena sudah jelas maksud dan tujuannya. Meskipun  mengatakan bahwa Bible tak perlu tafsir, mereka membuat tafsir yang dianggap sebagai Bible itu sendir?. 2. Bible dianggap sebagai satu-satunya kebenaran. Teks<br />
 Bible bisa mengatasi dan melampaui segala realitas. Karenanya, realitas harus ditundukkan oleh Bible. 3. Kaum fundamentalis menyangkal adanya unsur manusiawi dalam Bible. Mereka berkeyakinan bahwa Bible tak ubahnya pribadi Yesus sendir? yang terdiri atas unsur manusia dan tuhan. 4. Intrepretasi kaum fundamentalis ser?ng berhubungan dengan ramalan. Kejadian didunia lebih dilihat sebagai ancaman dan keputusan Tuhan. Sehingga tidak ada lagi ruang bagi manusia untuk menyalurkan aspirasinya secara bebas. (Jumal Ulumul Qur-an Fundamentalisme isiam: Istilah yang dapat menyesatkan. Hai 26-27) Dari ilustrasi tersebut dapat kita lihat adanya semacam interplay antara gerakan yang melakukan kritisisme atas Bible dan gerakan oposisi atas dominasi gereja dengan fundamentalisme . Bible sebagi teks suci, sakral dan tidak boleh dikritik dipandang berbeda oleh kelompok baru bahwa Bible belum selesai, harus dikritik dan terbuka.</p>
<p>Fundamentalisme dalam pengertian yang sangat elementer berkaitan dengan teks suci agama ini, sebenarnya bisa juga dialamatkan pada paham yang terdapat dalam Islam. Dalam pandangan mainstrem umat Islam, AI-Qur-an merupakan teks yang tertutup, sakral, tak boleh dikritik. Karena huruf-hurufriya diyakini sebagai wahyu yang sudah selesai. Dalam konteks inilah, Bernard Lewis menyebutkan, sejauh berkaitan dengan teks suci, pada dasarnya kaum muslim bersifat fundamentalistik. Tidak sebagaimana fundamentalis Kristen, kaum fundamentalis Islam tidak hanya menyandarkan kepada teks AI-Qur-an , tetapi juga kepada hadits-hadits nabi dan kumpulan ajaran teologis serta hukum yang diwariskan kepadanya. Tujuannya adalah menghapus segala aturan, norma sosial dan ketentuan yang dianggap tidak asli dari Islam dan yang telah terpengaruh arus modernisasi serta menggantinya dengan syariat Islam yang kaffah.</p>
<p><strong>Karakteristik Fundamentalisme Islam</strong><br />
Bila muncul pertanyaan, &#8220;Apakah fundamentalisme Islam itu baik atau buruk?&#8221; Riffat Hassan mempunyai jawaban yang menarik. Jawaban dan pertanyaan  di atas haruslah obyektif. Art?nya  pertanyaan tentang fundamentalisme Islam semestinya adalah Islam fundamental. Bila yang fundamental dianggap baik, maka fundamentalisme adalah baik. Bila yang fundamental di anggap jelek maka fundamentalisme juga jelek.</p>
<p>Terlepas  dari  keragaman  dan  asal-usul  munculnya istilah fundamentalisme, yang jelas fundamentalisme dalam Islam mempunyai kecenderungan yang sama dengan dunia Kristen, terutama cara pandang terhadap teks suci dan sikap terhadap kemajuan barai Namun, fundamentalisme dalam isiam tidak semata-mata karena respon atas barat, tetapi juga muncul karena pergulatan internai dalam memaknai agama dan teks sudnya. Memang, pergulatan teks suci dalam Islam dan Kristen berbeda. Tingkat kewahyuan juga berbeda. Al-Qur-an diyakini sebagai f?rman Allah, sedangkan dalam Kristen kewahyuan itu ada dalam diri Yesus, dan Injil merupakan kesaksian dan ucapan Yesus. Al-Quran itu setingkat dengan Yesus, sedangkan Injil setingkat dengan hadits Nabi SAW dalam Islam. Disamping tingkat kewahyuan, sejarah kodif?kasi dan proses penafsirannya juga berbeda, meskipun pada tingkat tertentu masalah yang dihadapi sama.</p>
<p>Azyumardi Azra membuat dua tipe fundamentalisme dalam Islam, yaitu fÃƒÂ¹ndamentalis pra modern dan fundamentalisme kontemporer, meski terkadang kedua tipe tersebut terkesan tumpah-tindih sehingga tak bisa dipegang secara kaku. Fundamentalisme pra modern dapat dilacak ke belakang pada masa awal sejarah Islam. Gerakan kaum Khawarij, yang muncul pada masa akhir pemerintahan Ali bin Abi Thalib, dengan prinsip yang ekstrim dan radikal, dapat dilihat sebagai fundamentalisme klasik yang mempengaruhi fundamentalisme sepanjang sejarah. Dengan jargon la hukma illa lillah, tiada hukum selain dari Allah, mereka menolak Ali dan Muawiyah, bahkan mengkaf?rkan keduanya. Pandangan yang ekstrim dan radikal tersebut dibarengi dengan sikap politik yang radikal pula. Mereka berpandangan bahwa siapapun yang bertentangan pendapat dengan mereka adalah musyrik dan boleh dibunuh. Tipe gerakan Khawarij ini pada akhirnya menjadi langgam gerakan fÃƒÂ¹ndamentalisme, yakni perpaduan antara doktrin teologis dan gerakan politik.</p>
<p>Sedangkan gerakan fundamentalisme kontemporer lebih banyak sebagai respon terhadap Barai, mesk?pun tema-tema yang berkaitan dengan inward oriented tetap menjadi focus dan pilihan idiologis mereka. Paling tidak ada dua masalah besar yang menjadi perhatian kelompok ini. Pertama, mereka menolak sekularisme Barat yang memisahkan agama dari politik, gereja dari negara. Kesuksesan Barat melakukan sekularisasi yang terus merembes kedalam Islam dianggap sebagai suatu ancaman yang berbahaya, karena dapat mengancam Islam sebagai agama yang tidak hanya mengurusi masalah ukhrawi, tapi juga duniawi. Kedua, banyak masyarakat Islam yang menginginkan agar masyarakat mereka diper?ntah dengan menggunakan Al-Qur-an dan syari&#8217;at Islam sebagai hukum negara. Kemunduran Islam diberbagai belahan dunia, menurut kelompok ini, karena mereka tidak lagi menggunakan syari&#8217;at Islam sebagai acuannya.</p>
<p>Kedua hai tersebut dianggap sebagai ancaman bagi umat Islam. Proses modemisasi yang dilakukan Barat telah mampu mentransformasikan masyarakatnya yang antara lain ditandai dengan kemajuan sains dan teknologi. Kemajuan ini menjadikan umat Islam canggung dalam merespon dan melihat doktrin agamanya. Di satu sisi mereka meyakini kesempumaan agamanya, tetapi di saat yang sama mereka menyaksikan kemajuan, yang ironisnya, hai itu terjadi ketika agama semakin dijauhkan dari ranah publik lewat sekularisasi. Hai tersebut menimbulkan sikap resistensi sebagaian umat isiam dengan mengedepankan sikap apologetik dengan berbagai cara. Diantaranya dengan membeberkan kelebihan-kelebihan Isiam baik dari segi doktrinalnya maupun histor?snya, sembari mengagung-agungkan kejayaan masa lampau.<br />
Cara berf?kir semacam ini mewamai hampir semua gerakan fundarnentalis, seperti gerakan IkhwanuI Muslimin dengan Hasan al-Banna dan Sayyid Qutb ( 1906 -1965 ) sebagai ideolognya, gerakan jihad dengan doktr?n al-tafkir wal-Hijrah, gerakan Jama&#8217;at al-islamnya al-Maududi dan sebagainya. Gerakan-gerakan ini disamping menjadikan jihad sebagai maskot utama gerakannya, mereka juga mengangkat tema-terna yang sering di dengungkan oleh kaurn fundamentalis Kristen pada umumnya. Wallahu Ta&#8217;ala alam bisshawab.</p>
<p><em>Staf Pengajar PP. AI-Fattah Siman Lamongan &amp; Sekfen FKIBM</em></p>
<p>The post <a href="https://langitan.net/meneropong-akar-akar-fundamintalisme/">Meneropong akar-akar fundamintalisme</a> appeared first on <a href="https://langitan.net">Pondok Pesantren Langitan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://langitan.net/meneropong-akar-akar-fundamintalisme/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>1</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Terapi Ambisi</title>
		<link>https://langitan.net/terapi-ambisi/</link>
					<comments>https://langitan.net/terapi-ambisi/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 29 Mar 2007 01:24:45 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Ngaji Ihya]]></category>
		<category><![CDATA[ambisi]]></category>
		<category><![CDATA[hasrat]]></category>
		<category><![CDATA[Jadwal Pengajian Ramadlan]]></category>
		<category><![CDATA[jerat iblis]]></category>
		<category><![CDATA[management hati]]></category>
		<category><![CDATA[pamer]]></category>
		<category><![CDATA[riya']]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langitan.net/index.php/2007/03/28/terapi-ambisi/</guid>

					<description><![CDATA[<p>Perasaan selalu ingin memiliki sesuatu yang lebih, tamak serta ambisi dalam hal-hal yang berbau duniawi memang sudah menjadi sifat dan tabiat manusia. Sehingga akan memerlukan penanganan yang ekstra untuk bisa mengendalikan dua watak tersebut. Siapapun orangnya pasti memiliki keduanya. Namun kadar dan efek yang ditimbulkan pasti akan sangat bervariasi tergantung kemampuan orang tersebut dalam mengendalikan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://langitan.net/terapi-ambisi/">Terapi Ambisi</a> appeared first on <a href="https://langitan.net">Pondok Pesantren Langitan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;" align="justify">Perasaan selalu ingin memiliki sesuatu yang lebih, tamak serta ambisi dalam hal-hal yang berbau duniawi memang sudah menjadi sifat dan tabiat manusia. Sehingga akan memerlukan penanganan yang ekstra untuk bisa mengendalikan dua watak tersebut. Siapapun orangnya pasti memiliki keduanya. Namun kadar dan efek yang ditimbulkan pasti akan sangat bervariasi tergantung kemampuan orang tersebut dalam mengendalikan dan meredam keganasan dua virus yang bisa mematikan jiwa tersebut. Akibat dari yang ditimbulkan oleh keduannya sangatlah fatal dan dahsyat. Kemampuannya yang bisa menjadi mesin penghancur tatanan kehidupan manusia di dunia dan akherat sangat menakutkan sekali. Dari sinilah Imam Ghozali kemudian memberikan resep terapi kepada kita agar bisa memproteksi atau minimal mengontrol keduanya agar tidak bisa berkembang biak di dalam kehidupan ini.<span id="more-87"></span></p>
<p style="text-align: left;" align="justify">Untuk melawan kedua virus ini sebenarnya manusia cukup mempunyai satu penangkal yang pasti sangat manjur dan mujarab yaitu qona&#8217;ah (neriman) serta percaya diri sepenuhnya kepada Alloh bahwa semua rizki mahluq hidup dimuka bumi ini sudah diatur oleh-Nya. Namun untuk mendapatkan obat itu manusia diharuskan melakukan beberapa hal. Setidaknya ada tiga jalur yang harus ditempuh agar bisa menghindari atau mengkarantina penyakit hati ini.</p>
<p style="text-align: left;" align="justify">Yaitu : kesabaran (as-shobru), pengatahuan (al-ilmu) dan pengamalan (al-amal). Dalam merealisasikan ketiga hal diatas ada lima jalan yang harus dilalui manusia. Pertama : selalu bersikap ekonomis dan bijak dalam segala penggunaan harta yang dimiliki. Setiap orang yang ingin memiliki keagungan qona&#8217;ah maka hal pertama yang harus dilakukan adalah sebisa mungkin menekan pembelanjaan duniawinya dan menggunakan hartanya hanya untuk keperluan yang pasti dan sangat dibutuhkannya. Artinya ketika dia hanya hidup sendirian (tidak punya tanggungan keluarga) dan sudah merasa cukup dengan satu potong baju saja, maka dia tidak perlu mempunyai dua potong baju atau lebih. Dan bila sudah berkeluarga maka keluarganya juga hanya diberi sebatas apa yang dibutuhkan saja. Tidak lebih. Karena manusia yang terlalu royal dan boros dalam pembelanjaan harta dia akan sangat sulit memiliki perasaan qona&#8217;ah. Dan untuk menghindari itu manusia harus selalu melakukan perhitungan dan perencanaan yang matang setiap kali akan melakukan penggunaan harta. Sebagaimana yang telah dianjurkan oleh Rosululloh agar umatnya selalu melakukan pengaturan dalam pengeluaran sampai-sampai beliau mengibaratkan bahwa At Tadbiru nifsul ma&#8217;isyah (perencanaan belanja adalah separuh dari kehidupan).</p>
<p style="text-align: left;" align="justify">Kedua : ketika di suatu saat manusia dalam kondisi yang berkecukupan dan memiliki kelonggaran ma&#8217;isyah dia tidak perlu merasa bingung untuk memikirkan kebutuhannya di hari selanjutnya serta tidak perlu banyak berhayal untuk kehidupannya di hari yang akan datang. Dia harus tetap dan selalu memiliki keyakinan dan kepercayaan bahwa untuk hari esok Alloh telah mempersiapkan rizkinya. Sehingga harta yang dia miliki akan selalu dibelanjakan dijalan Alloh tanpa merasa takut miskin di hari berikutnya. Dalam lubuk hatinya terancap keyakinan bahwa Alloh yang menjadikan mahluq di muka bumi ini, maka Dialah yang bertanggung jawab akan kelangsungan hidupnya (rizqinya). Orang yang memiliki kegemaran memupuk kekayaannya pada hakekatnya mereka itu tidak percaya akan janji Alloh atas rizkinya setiap saat. Dan dalam hatinya sudah diracuni syetan dengan perasaan takut miskin dikemudian hari. Sehingga dia akan terjangkiti sifat ambisi menumpuk hartanya dengan dalih untuk persiapan hari esok tanpa mau menggunakannya dijalan Alloh.</p>
<p style="text-align: left;" align="justify">Ketiga : manusia harus mengetahui kalau qona&#8217;ah akan selalu memberikan kemulyaan baginya sedangkan tamak dan ambisi akan selalu menyeret dirinya masuk kedalam lembah kehinaan dan derita kepayahan. Bila manusia telah menyadari akan hal tersebut dia akan selalu termotivasi untuk selalu bersifat qona&#8217;ah. Manusia yang telah banyak diliputi perasaan tamak dan ambisi mereka akan tidak bisa melepaskan diri dari pergaulan dengan masyarakat sekitarnya. Hal inilah yang kemudian menjadikan posisi manusia tersebut akan sulit atau bahkan tidak mungkin mejalankan misi Alloh yaitu mengajak umat manusia ke jalan kebajikan. Karena orang sudah memiliki ikatan kebutuhan kepada orang lain cenderung memiliki sifat mudahanah (tidak memiliki kecemburuan agama dan rela melihat orang lain melakukan kedurhakaan). Sebaliknya orang yang mempunyai sifat qona&#8217;ah akan merasa selalu merdeka dan jauh dari intervensi orang lain atas kehidupannya.</p>
<p style="text-align: left;" align="justify">Keempat : banyak melakukan kajian dan telaah atas kejadian-kejadian orang-orang terdahulu kemudian membanding satu dengan yang lainnya. Yakni kembali membuka perjalanan sejarah bagaimana kehidupan orang-orang Yahudi dan Nashroni yang memiliki hobi berfoya-foya dan menghamburkan harta bendanya dan berakhir dengan adzab dari Alloh dan juga mengangan-angan bagaimana kehidupan para Nabi, Waliyulloh, Khulafa&#8217;ur Rosyidin serta para sahabat Nabi yang serba terbatas dan banyak merasakan kesusahan guna menjauhkan diri dari kotoran dunia namun akhirnya semua berbuah kebahagiaan yang tidak terbatas. Dari kedua sisi kehidupan tersebut kemudian manusia harus memilih antara yang berujung kesengsaraan atau kebahagian.</p>
<p style="text-align: left;" align="justify">Dengan mempelajari kembali kisah-kisah mereka maka manusia tidak akan lagi merasakan qona&#8217;ah sebagai pekerjaan yang hanya menawarkan kesengasaraan saja. Dan dalam hatinya akan tertanam kesimpulan bahwa berlebih-lebihan dalam urusan perut itu tidak jauh beda dengan seekor keledai, terlalu larut dalam urusan wanita berarti tidak lebih baik dari pada seekor babi (celeng), dan jor-joran dalam berpakaian dan perhiasan sama halnya ia telah banyak meniru kelakuan orang Yahudi dan Nashroni sedangkan menerima dan ikhlas dengan apa adanya maka selayaknya ia disejajarkan dengan kedudukan para Nabi dan Wali.</p>
<p style="text-align: left;" align="justify">Kelima : betul-betul memahami bahwa dalam memupuk harta benda akan bisa berakibat memiliki rasa kekhawatiran yang sangat berlebihan padahal sebenarnya tidak perlu dialaminya. Karena sudah bukan hal yang rahasia kalau seseorang yang banyak memiliki harta maka ia akan banyak mempunyai perasaan khawatir akan kehilangan, dirampok, terkena musibah seperti banjir, kebakaran dan sebagainya. Bahkan yang sangat mengerikan adalah hartanya tersebut bisa menjadi tirai penghalang untuk mereguk kenikmatan di sorga. Dan kalaupun ia bisa menggunakan hartanya dijalan Alloh maka<br />
untuk masuk sorga kelak dia harus berada di antrean paling akhir. Tak tanggung-tanggung di padang mahsyar nanti dia harus menanti indahnya sorga sampai 500 tahun dari para orang-orang yang tak punya harta benda.</p>
<p style="text-align: left;" align="justify">Agama Islam telah menggariskan konsep agar kita tidak terlalu terbuai memperbanyak harta sebagaimana yang pernah dipesankan oleh Rosululloh kepada shohabat Abu Dzarrin bahwa dalam urusan dunia jangan sekali-kali dia melihat orang yang berada di atasnya.</p>
<p style="text-align: left;" align="justify">Karena sudah menjadi kebiasaan manusia kalau dia melihat orang lain memiliki banyak kelebihan materi dia selalu ingin lebih dari dia. Maka langkah aman untuk menghilangkan hal itu adalah untuk urusan akherat (ibadah) kita harus melihat orang yang ada diatas kita. Sebaliknya untuk masalah dunia kita harus melihat orang lain dibawah kita.</p>
<p style="text-align: left;" align="justify">Yang tak kalah pentingnya adalah kita harus selalu mengingat-ingat apa yang sering diwasiatkan para ulama&#8217; dahulu. Di saat dunia (harta benda) mengucilkan kita maka kita harus selalu melindungi diri dengan sifat qona&#8217;ah (neriman) dan menekan sekutanya perasaan keinginan yang menggebu-gebu untuk mendapatkan harta (ambisi). Namun ketika dunia memihak kepada kita maka kita harus selalu mengedepankan kebutuhan orang lain, selalu bersikap dermawan dan berbuat kebajikan serta menjauhi perasaan bakhil dan tertutup untuk orang lain yang membutuhkan. Karena apa yang digariskan oleh Alloh atas kita terkadang tidak sejalan dengan apa yang kita inginkan. Tidak sedikit orang yang sangat berambisi memperoleh kekayaan materi tetapi ternyata Alloh malah tidak mempercayai dirinya untuk dititipi harta benda. Sehingga ketika orang tersebut tidak memiliki perisai pelindung (qona&#8217;ah) maka tidaklah hal yang mustahil dia akan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang dicita-citakannya. Kita tentunya tidak ingin seperti Abu Tsa&#8217;lab yang terlalu Ã¢â‚¬Ëœmemaksa&#8217; Rosululloh supaya dido&#8217;akan menjadi orang yang kaya agar dirinya bisa lebih memperbenyak ibadah dengan harta yang akan didapatkannya. Tetapi kenyataannya ia ternyata tidak mampu menguasai diri sehingga hartanya tidak bisa menjadikan dia sebagai rang yang mulya di sisi Alloh.</p>
<p style="text-align: left;" align="justify">Ketika kita ditakdirkan oleh Alloh menjadi orang yang kaya maka kita harus selalu memelihara sifat dermawan. Karena inilah satu-satunya sifat jaminan yang bisa menjadikan Alloh akan selalu mempercayai kita untuk memiliki harta benda. Kita tentu tidak sedikit mendengar cerita bagaimana Alloh membuktikan ancaman tersebut terhadap orang berharta yang berlaku kikir. Tidak hanya hartanya saja yang ditarik dari dirinya. Dia juga diseret menuju adzab yang maha pedih dan dahsyat.</p>
<p style="text-align: left;" align="justify">Disamping sebagai garansi atas kelanggengan nikmat harta yang telah dianugerahkan sifat dermawan juga bisa menjadi pelindung keberlanjutan agama Islam di muka bumi ini. Seperti halnya yang pernah didawuhkan oleh malaikat Jibril menyampaikan pesan Alloh Swt. kepada Nabi Besar Muhammad Saw. bahwa Islam ini adalah agama yang aku ridloi. Dan tidak akan pernah ada yang bisa menjaga dan memperbaikinya kecuali hanya sifat dermawan dan berperiku baik (akhlaqul asanah). Maka mulyakanlah Islam<br />
ini dengan keduanya sekuat tenaga kamu. Dapat kita bayangkan betapa agung dan pentingnya kedua sifat ini sampa-sampai dijadikan oleh Alloh sebagai penjamin keberlangsungan agama Islam dan kita diperintahkan mengerahkan segenap tenaga dan kemampuan untuk menjaga dan selalu memilikinya.</p>
<p style="text-align: left;" align="justify">Sebenarnya kedermawanan tidak hanya sebatas untuk itu saja (pelindung agama). Jikalau kita ingin negara kita selalu baik dan aman sejahtera maka kedua sifat ini harus terus diupayakan supaya dimiliki semua lapisan masyarakat terlebih mereka yang berharta. Karena keduanya juga merupakan salah satu dari lima pilar vital lain yang menjadi syarat menciptakan negara yang baldatun thoyyibatun warobbun ghofur.</p>
<p style="text-align: left;" align="justify">Antara lainnya adalah ilmul ulama&#8217; (keilmuan kaum alim), Ã¢â‚¬Ëœadlul umaro&#8217; (keadilan aparatur pemerintah), sakho&#8217;ul aghniya&#8217; (kedermawanan konglemerat), du&#8217;aul fuqoro&#8217; (do&#8217;a rakyat melarat). Di saat kaum alim tidak mau aktif dengan ilmunya maka masyarakat akan semena-mena. Aparat pemerintah akan bertindak seenaknya dan ogah-ogahan untuk menegakkan kebenaran dan keadilan.</p>
<p style="text-align: left;" align="justify">Para konglomerat akan memanfaatkan kelebihan hartanya untuk membeli semua apa yang dapat dibeli termasuk kebenaran dan keadilan tanpa mau perduli akan hak-hak si miskin. Rakyat melarat yang tidak tahan akan kehidupannya dan merasa tidak diperhatikan oleh pemerintah dan orang-orang kaya pun akan mengahalalkan segala cara demi menyambung hidupnya. Maka ketika berbagai keadaan ini terakumulasi dari mana bisa mendirikan negara impian yang tentrem, ayem, gemah ripa loh jinawi?. Dan kalau negara sudah tidak beraturan apa mungkin bisa agama dijalankan dalam kehidupan sehari-hari?.</p>
<p style="text-align: left;" align="justify">Kalau kebetulan kita mempunyai harta pada hakekatnya itu bukan dan belum menjadi milik kita seutuhnya selama belum dinafaqohkan (dibelanjakan) kepada kebaikan. Karena harta yang ada pada kita berapapun banyaknya pasti akan pergi dari kita. Dan bagi kita yang telah dipercaya Alloh dengan amanat harta kita harus memilih apakah harta yang akan mengendalikan kita, atau kita yang akan memegang kendali harta benda. Harta akan mengendalikan kita kalau kita tidak bisa berlaku proporsional terhadapnya. Dan di akherat kelak harta akan menjadi beban yang teramat berat bagi kita. Dan sebaliknya kita akan bisa menjadikan harta kita sebagai tameng dari siksa Alloh di neraka kalau semasa didunia kita bisa menjinakkan dan mengendalikannya untuk kita arahkan menuju jalan yang diridloi Alloh subhanahu wata&#8217;ala. (454)</p>
<p>The post <a href="https://langitan.net/terapi-ambisi/">Terapi Ambisi</a> appeared first on <a href="https://langitan.net">Pondok Pesantren Langitan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://langitan.net/terapi-ambisi/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>3</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Menghadapi realitas tanda-tanda kiamat</title>
		<link>https://langitan.net/menghadapi-realitas-tanda-tanda-kiamat/</link>
					<comments>https://langitan.net/menghadapi-realitas-tanda-tanda-kiamat/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 22 Sep 2005 23:52:50 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Jejak Utama]]></category>
		<category><![CDATA[jerat iblis]]></category>
		<category><![CDATA[kiamat]]></category>
		<category><![CDATA[korupsi]]></category>
		<category><![CDATA[madzhab]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan anak]]></category>
		<category><![CDATA[pornoaski]]></category>
		<category><![CDATA[pornografi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langitan.net/index.php/2008/08/27/menghadapi-realitas-tanda-tanda-kiamat/</guid>

					<description><![CDATA[<p>oleh : K.H. Muhammad Ihya? Ulumuddin Kalaulah sebagian orang mendekat kepada agama, itu karena pelarian dan kejenuhan dari arus materialisme. Zaman makin akhir. Hari kiamat kian dekat. Isyarat-isyarat mengenai akhir zaman yang disampaikan Rasulullah saw. kian hari kian terbukti dan nyata. Tanda-tanda dekatnya hari kiamat berupa fenomena keburukan-keburukan dan keterbalikan- keterbalikan kian tampak jelas di [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://langitan.net/menghadapi-realitas-tanda-tanda-kiamat/">Menghadapi realitas tanda-tanda kiamat</a> appeared first on <a href="https://langitan.net">Pondok Pesantren Langitan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p align="justify"><em>oleh : K.H. Muhammad Ihya? Ulumuddin</em><br />
Kalaulah sebagian orang mendekat kepada agama, itu karena pelarian dan kejenuhan dari arus materialisme. Zaman makin akhir. Hari kiamat kian dekat. Isyarat-isyarat mengenai akhir zaman yang disampaikan Rasulullah saw. kian hari kian terbukti dan nyata. Tanda-tanda dekatnya hari kiamat berupa fenomena keburukan-keburukan dan keterbalikan- keterbalikan kian tampak jelas di sekitar kita bahkan menimpa kita. Apa yang harus kita lakukan? Sikap apa yang harus kita kembangkan? Mengenai tanda-tanda hari Kiamat, Rasulullah saw. bersabda: Sesungguhnya di antara tandatanda qiamat adalah bila ilmu diangkat, kebodohan eksis (tetap berlangsung), khomer diminum, dan zina mewabah.(H.R. Bukhari). Hadits ini menjelaskan<span id="more-29"></span> bahwa di antara tanda-tanda dekatnya hari Kiamat adalah diangkatnya ilmu. Tidak sekedar ilmu karena di akhir zaman, ilmu justeru berkembang pesat. Tapi ilmu yang diangkat dan dilenyapkan adalah ilmu-ilmu agama dan ilmu-ilmu yang mengantarkan seseorang pada ketundukan dan kepatuhan kepada Allah swt. Indikasi diangkatnya ilmu yang mulia ini adalah diwafatkannya ulama-ulama yang bertakwa, ikhlas, dan mendalam ilmunya karena merekalah sumber ilmu yang benar. Pada saat yang sama, kebodohan merajalela. Tidak sekadar bodoh, tapi bodoh terhadap ilmu-ilmu agama dan ilmu tentang penghambaan kepada Allah swt. Dan oleh karena ilmu diangkat dan kebodohan merajalela, masyarakat menjadi mengabaikan hukum-hukum Allah swt. Khamer dengan segala jenisnya seperti narkoba serta perzinaan yang menjadi indikasi kerusakan masyarakat akhirnya mewabah dimanamana dan bisa jadi terang-terangan.</p>
<p align="justify">Tentang tanda-tanda dekatnya hari kiamat yang lain, sahabat Abdullah bin Mas?ud ra. menceritakan dalam sebuah hadits mauquf: ?Bagaimana dengan kalian bila kalian diselimuti fitnah. Anak kecil tumbuh menjadi dewasa di dalam fitnah itu. Orang tua pun menjadi pikun di dalamnya. Dan fitnah itu dijadikan tuntunan. Jika suatu hari fitnah itu dirubah (oleh seseorang), dikatakan: ?Ini orang keluar dari kebiasaan (baca: nyeleneh). Kapan hal itu terjadi? Yaitu ketika orang-orang yang dapat dipercaya di antara kalian menjadi sedikit. Pejabat-pejabat menjadi banyak. Orang-orang yang mendalam ilmunya menjadi sedikit. Suatu ilmu diperdalam tidak untuk (kepentingan) agama. Dan ketika dunia dicari dengan menggunakan amal akhirat. (H.R. Abdurrazzaq). Hadits ini menerangkan datangnya fitnah (gangguan atau kerusakan beragama) mengiringi dekatnya hari kiamat. Anak-anak tumbuh dan dididik dengan fitnah itu semenjak kecil hingga dewasa. Mereka tidak mengenal jatidiri kebenaran. Mereka terdidik di atas penyimpangan fithrah kebenaran. Orang-orang tua pun menjadi pikun alias tidak ingat lagi mana kebenaran dan mana kebatilan akibat terjangan fitnah itu. Keadaan baur dan kacau. Fitnah yang buruk itu malah dijadikan tuntunan. Tontonan menjadi tuntunan dan tuntunan menjadi tontonan. Anak lebih kenal televisi daripada sejarah atau madzhab Imam as-Syafi?i. Kalaulah sebagian orang mendekat kepada agama, itu karena pelarian dan kejenuhan dari arus materialisme. Bila ada sebagian orang tergerak untuk merubah fenomena buruk ini, aneh, orang-orang yang baik-baik ini justru dikatakan sebagai orang yang nyeleneh alias tidak biasa (asing). Keadaan buruk ini terjadi ketika orangorang yang dapat dipercaya (amanat) semakin sedikit. Susah mencari orang jujur. Yang dominan justru orang-orang yang luntur prinsipnya. Khianat. Idealisme makin mahal. Suka berubahubah sikap. Cenderung melanggar janji. Bertipe laksana amir (pejabat dan penguasa). Korup dan sewenangwenang. Stok orang-orang yang faqih (yang mendalam ilmunya di bidang agama) menipis. Sebaliknya yang banyak adalah orang-orang yang kosong ilmu tapi berbunyi nyaring. Iya, banyak yang mencari dan menekuni ilmu, tapi bukan ilmu agama, melainkan ilmu-ilmu lain (yang tidak dihubungkan dengan agama) dalam rangka mengejar aspek keduniaan. Orang susah memasukkan anaknya ke pesantren dan lembaga-lembaga pendidikan Islam. Sementara sekolah-sekolah dan tempattempat kursus yang menjanjikan materi pendaftarnya membeludak. Orang berbangga dengan ilmu non-agama, sedang dengan ilmu agama rendah diri.</p>
<p align="justify">Kalaupun ada sebagian yang bergumul dengan ilmu-ilmu agama dan aktivitasaktivitas akhirat, visi dan misi di dalamnya rusak. Mereka memanfaatkan ilmu-ilmu agama dan aktivitas-aktivitas akhirat itu untuk mencari dunia. Lihai bicara agama, tutur katanya halus, memikat, enak didengar, namun apa yang ada di lidahnya berbeda dengan yang tersimpan di dadanya. Susah mencari orang yang lugu, polos, dan apa adanya. Rasulullah saw. bersabda: ?Sesungguhnya hal yang paling aku khawatirkan terhadap kalian sepeninggalku kelak adalah orangorang munafiq yang alim lidahnya. (H.R. Ahmad) Dan banyak lagi fenomena-fenomena buruk lainnya sebagai pertanda dekatnya hari kiamat yang saat ini justru menjadi realitas kehidupan kita sehari-hari.</p>
<p align="justify">Realitas-realitas buruk tersebut tidak semestinya menjadikan kita pesimis. Kita menjadi menyerah (istislam) dengan keadaan. Kita menjadi surut dalam beramal, dalam mencari ilmu, dan dalam melakukan dakwah amar makruf nahi munkar. Kita berpangku tangan melihat berlangsungnya realitas-realitas buruk tersebut. Ini tidak boleh terjadi, karena beramal, mencari ilmu, dan berdakwah adalah kewajiban yang orang muslim laki-laki dan perempuan diperintah melaksanakannya, kapan dan di mana saja, sesuai dengan batas maksimal kemampuan masing-masing. Kita, umat Islam, adalah orang-orang yang mukallaf (diberi beban hukum) oleh Allah swt.</p>
<p align="justify">Kita diperintahkan untuk menyelamatkan diri kita dan keluarga kita dari api nereka. Kita memilik hak wiqoyah (hak berlangmenjaga) terhadap diri dan keluarga kita. Bagaimana supaya kita dan mereka tidak masuk ke dalam neraka. Firman Allah swt.: Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka. (Q.S. at- Tahrim: 6) Dan kelak kita semua akan dimintai laporan pertanggungjawabannya. Bagaimana suami mengarahkan isteri. Bagaimana isteri mengatur rumah suami. Bagaimana suami-isteri mengelola rumah tangga dan mendidik anak-anaknya. Semuanya akan dimintai pertanggungjawaban. Sabda Rasulullah saw.: ?Orang laki-laki menjadi penggembala atas keluarganya dan dia akan dimintai pertanggungjawaban. Orang perempuan menjadi penggembala atas rumah suaminya dan dia juga akan dimintai pertanggungjawaban.(H.R. Bukhari) Dalam riwayat yang lain disebutkan: ?Orang perempuan menjadi penggembala atas rumah suaminya sekaligus atas anak suaminya. (H.R. Mundziri).</p>
<p align="justify">Pendek kata, tidak ada sikap menyerah terhadap keadaan. Amal-amal yang bagus dan benar seperti ibadah, mencari ilmu, dan berdakwah, sekuat kemampuan kita, tidak boleh surut dan luntur dalam keadaan apapun. Betapa pun dunia rusak serusak-rusaknya, umpamanya, kebenaran dan kebaikan harus kita tegakkan. Dan tanggung jawab ini kelak akan dimintai laporannya. Ada dosa dan pahala di dalamnya. Jalan yang lempang di zaman akhir yang dipenuhi berbagai fitnah dan keburukan-keburukan ini adalah kita mencari murobbi. Sekali lagi murobbi, yaitu guru yang memiliki kapasitaskapasitas: 1) ilmu, 2) makrifat (kesadaran diri), 3) ketawadhu?an, 4) amaliah (mempraktikkan ilmunya), dan 5) takwa. Murobbilah kekayaan berharga (al-kanzu) dalam kehidupan sekarang ini. Manakala kita menemukan murobbi seperti itu gigitlah dia dengan gigi geraham. Rengkuhlah dia. Jangan dilepaskan. Pepatah mengatakan: Ã¢â‚¬Å“Laulal murabbi maa araftu rabbiÃ¢â‚¬Å“. Seandainya tanpa murabbi/pembimbing, niscaya aku tidak tahu Tuhanku. Wallahu a?lam bisshowab.</p>
<p>The post <a href="https://langitan.net/menghadapi-realitas-tanda-tanda-kiamat/">Menghadapi realitas tanda-tanda kiamat</a> appeared first on <a href="https://langitan.net">Pondok Pesantren Langitan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://langitan.net/menghadapi-realitas-tanda-tanda-kiamat/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>1</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Mengapa kita hasut ?</title>
		<link>https://langitan.net/mengapa-kita-hasut/</link>
					<comments>https://langitan.net/mengapa-kita-hasut/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 22 Sep 2005 23:50:42 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Ngaji Ihya]]></category>
		<category><![CDATA[hasut]]></category>
		<category><![CDATA[jerat iblis]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan ala Rasulullah]]></category>
		<category><![CDATA[syahwat]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langitan.net/index.php/2008/08/27/mengapa-kita-hasut/</guid>

					<description><![CDATA[<p>Ketahuilah ! Sesungguhnya hasd adalah buah atau hasil yang timbul dari unek-unek jelek terhadap orang lain, dendam atau kemarahan yang tertahan, la merupakan cabang dari kemarahan, sedangkan marah adalah pangkal dari hasd yang kemudian akan menimbulkan pelbagai kejelekan yang bermacam-macam. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dari Abu Ghurairah Ra. dan Ibn Majah [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://langitan.net/mengapa-kita-hasut/">Mengapa kita hasut ?</a> appeared first on <a href="https://langitan.net">Pondok Pesantren Langitan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p align="justify">Ketahuilah ! Sesungguhnya hasd adalah buah atau hasil yang timbul dari unek-unek jelek terhadap orang lain, dendam atau kemarahan yang tertahan, la merupakan cabang dari kemarahan, sedangkan marah adalah pangkal dari hasd yang kemudian akan menimbulkan pelbagai kejelekan yang bermacam-macam. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dari Abu Ghurairah Ra. dan Ibn Majah dari Anas, Rasulullah Saw. bersabda: &#8220;Hasd (dengki) itu dapat menggerogoti amal baik, sebagaimana api memakan kayu bakar &#8220;</p>
<p align="justify">Sesungguhnya dengki itu tidak ada kecuali terhadap kenikmatan yang telah diberikan Allah kepada orang lain, sehingga apabila ada orang lain yang mendapat kenikmatan dari Allah Swt., maka orang yang hasd akan berada dalam dua keadaan.<span id="more-28"></span></p>
<p align="justify">Pertama ia akan benci terhadap kenikmatan yang telah diperoleh orang lain tersebut sambil berharap agar kenikmatan itu segara hilang. Hal yang demikian inilah (benci terhadap nikmat dan suka terhadap hilangnya nikmat) yang disebut hasd atau dengki.</p>
<p align="justify">Kedua, ia (orang yang hasd) tidak benci terhadap ada atau hilangnya kenikmatan yang diperoleh orang lain, tapi ia berharap agar iajuga mendapat kenikmatan serupa sebagaimana yang diperoleh oleh orang lain. Hal yang kedua ini disebut Ghibthah, dan terkadang Ghibthah dalam suatu saat disebut berlomba-lomba atau bersaing, maka berlomba-lomba itujuga kadang disebut dengki, sedangkan dengki adalah juga disebut persaingan. Dua istilah yang salah satu maknanya bisa ditaruh pada pada makna istilah yang lain.</p>
<p align="justify">Dari dua keadaan tadi, maka yang pertama (berharap hilangnya kenikmatan yang diperoleh orang lain) hukumnya adalah haram dalam segala keadaan kecuali hasd (dengki) terhadap kenikmatan yang diperoleh oleh orang dzolim atau orang kafir, yang mana kenikmatan tersebut digunakan oleh orang-orang kurang ajar tersebut untuk mengobarkan fitnah dan perpecahan, merusak kerukunan dan menyakiti makhluk lain. Kebencianmu terhadap nikmat yang telah diperoleh orang-orang macam ini dan senang terhadap hilangnya kenikmatan mereka, sungguh tidak berbahaya. Karena Sesungguhnya engkau tidak benci dan irihati dari segi nikmat yang mereka peroleh, akan tetapi benci terhadap kelakuan mereka yang menggunakan kenikmatan tersebut hanya sebagai alat berbuat kerusakan di muka bumi. Dan ketika engkau merasa aman akan kerusakan yang mereka perbuat, niscaya engkau tidak merasa susah dengan nikmat yang diperolehnya.</p>
<p align="justify">Dasar-dasar hukum keharaman hasd dalam bentuk yang pertama ini adalah dari pelbagai hadits yang kami nukilkan dan juga karena Sesungguhnya dengki pada hakekatnya adalah marah terhadap qodio&#8217; (ketentuan) Allah Swt., yang telah menetapkan dan menentukan tentang kelebihan dan keutamaan sebagian hamba-hambanya terhadap hamba yang lainnya. Dari itulah, maka tidak ada kemaafan dan kelonggaran terhadap orang-orang yang hasd. Adakah kemaksiatan yang melebihi (dosanya) daripada kebencianmu terhadap kegembiraan seorang muslim, sedangkan hal itu (kegembiraan) tidak membahayakanmu? Dalam Al Qur&#8217;an Allah Swt. mengisyaratkan : &#8220;Jika kamu mendapat kenikmatan, niscaya mereka (orang-orang yang hasd) bersedih hati danjika kamu mendapat bencana, niscaya mereka (orang-orang yang hasd) bergembira karenanya.</p>
<p align="justify">Kegembiran yang dimaksud di dalam ayat di atas adalah Syamatah (bersuka cita di atas penderitaan orang lain), sedangkan dengki itu tidak bisa dipisahkan artinya dengan Hasd. Sedangkan keadaan yang kedua (tidak benci terhadap ada atau hilangnya kenikmatan yang diperoleh orang lain, tapi ia berharap agar iajuga mendapat kenikmatan serupa sebagaimana yang diperoleh oleh orang lain) atau yang biasajuga disebut dengan istilah Ghibthah atau Munafasah (berlomba-lomba) hukumnya adalah tidak haram, bahkan bisa saja menjadi wajib, sunnah atau mubah. Sekali lagi, kadang-kadang Ghibthah atau Munafasah itu disebut Hasd, atau sebaliknya, Hasd disebut Ghibthah dan Munafasah tergantung kemana arti dari masing-masing istilah itu diarahkan setelah kita mengetahui devinisinya masing-masing.</p>
<p align="justify">Munafasah yang diartikan dalam arti yang sesungguhnya; berlomba-lomba, bukan Hasd hukumnya boleh kita lakukan. Sebagaimana Firman Allah Swt. :&#8221;Dan untuk yang demikian itu, orang hendaknya berlomba-lomba&#8221; QS. Al Muthoffifiin : 26 Dalam Ayat lain Allah juga berfirman :&#8221;Berlomba-lombalah kamu kepada mendapatkan ampunan dari Tuhanmu &#8221; QS. Al Hadid : 31</p>
<p align="justify">Sesungguhnya yang disebut berlomba-lomba itu adalah rasa takut akan kehilangan sesuatu, seperti dua orang hamba sahaya yang saling berlomba untuk memberikan pelayanan yang paling sempuma kepada tuannya, karena masing-masing merasa takut kehilangan &#8220;tempat&#8221; di hadapannya, dan -tentu- yang lebih baik pelayanannya akan mendapatkan &#8220;tempat&#8221; yang lebih pula (di mata tuannya) melebihi dari yang lainnya. Bagaimana hal tersebut disebut Hasd? sementara Rasulullah Saw. Telah bersabda : &#8220;Tidak disebut Hasd, kecuali dalam dua hal, yaitu : Orang yang dikaruniai harta oleh Allah Swt. lalu la menguasakan harta itu untuk dihabiskan dalam kebenaran, dan seorang laki-laki yang diberi ilmu oleh Allah Swt. kemudian ia mengamalkan dan mengajarkannya kepada manusia &#8220;. Kemudian Rasulullah Saw. menafsiri hadits di atas dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abi Kabsyah al Anmari. Rasulullah bersabda: &#8220;Perumpamaan dari ummat ini adalah seperti empat macam golongan, yaitu : Seorang laki-laki yang dianugrahi Harta dan Ilmu, lalu dia mengamalkan ilmunya pada harta yang dimilikinya, dan seorang yang diberi ilmu tapi tidak diberi harta, Lalu orang ini berkata &#8220;Hai Tuhanku ! kalau saja aku mempunyai harta sebagaimana yang dipunyai sifulan, niscaya soya akan beramal dengan hartaku sebagaimana si Fulan beramal (dengan hartanya). Maka kedua laki-laki ini sama-sama mendapat pahala yang sama.&#8221;Keinginan yang muncul dari laki-laki kedua ini adalah agar ia mempunya harta sebagaimana laki-laki yang pertama supaya ia bisa beramal sepertinya tanpa ada perasaan senang akan hilanya harta laki-laki pertama.</p>
<p align="justify">Kemudian Rasulullah meneruskan sabdanya : &#8220;Dan seorang laki-laki yang diberi harta tapi tidak diberi Ilmu, sehingga ia membelanjakan hartanya pada perbnatan-perbnatan maksiat kepa Allah Swt. dan seorang laki-laki yang diberi ilmu dan harta, lalu ia berkata &#8220;Kalau saja soya mempunya harta sebagaimana yang dipunyai si Fulan, niscaya soya akan menggunakan harta tersebut untuk berbvat maksiat&#8221;, maka keduanya sama-sama dalam mendapatkan dosa.&#8221;</p>
<p align="justify">Maka Rasulullah mencela laki-laki tersebut dari segi keinginannya dalam perbuatan maksiat, tidak dari segi keinginannya mendapatkan kenikmatan harta sebagaimana si Fulan itu. Oleh sebab itu, mengapa kita hams hasud? Mengapa kita sesama saudara seiman seagama seringkali saling dengki, in hati atau bersaing dengan persaingan yang tidak sehat, persaingan yang bukan didasari keinginan bisa beramal baik sebagaimana orang yang disaingi, tapi kebanyakan dari kita saling bersaing dengan didasari nafsu belaka, bahkan cenderung niat yang mendasari persaingan itu adalah saling menjatuhkan antara satu dan lainnya sekaligus mengharap kejatuhannya. Sedangkan Allah Swt. dengan jelas telah melarang hal itu. Allah Swt. berfirman : &#8220;Janganlah engkau saling menghasud, saling memutuskan hubungan, saling bend, dan saling berpaling, jadilah engkau semw hamba Allah yang bersaudara &#8221; Dengan jelas Allah melarang hambanya melakukan penghasudan, pemutusan hubungan kekeluargaan, kebencian saling berpaling antara satu dan lainnya.</p>
<p align="justify">Suatu Saat Anas Ra. dan para sahabat sedang duduk bersama Rasulullah, kemudian Rasulullah bersabda &#8220;Telah datang kepadamupada saat ini, seorang laki-laki ahli sorga &#8221; Anas bercerita bahwa pada saat itu sedang datang seorang dari sahabat anshar yang sedang membersihkan jenggotnya dari bekas air wudlu sambil menggantungkan sandal pada tangan kanannya, kemudian orang itu mengucapkan salam. Dan pada esok harinya, Rasulullah kembali bersabda seperti itu lagi, ketika sahabat anshar tersebut datang. Begitujuga pada hari ketiga, ketika sahabat itu datang Rasulullah pun kembali bersabda &#8220;Telah datang seorang laki-laki ahli sorga&#8221; Ketika Rasulullah berdiri, Abdullah bin Amr bin al &#8216;Ash membuntuti sahabat anshar tersebut seraya berkata &#8220;Saya telah mencaci maki ayahku dan saya bersumpah tidak akan masuk ke rumahnya selama tiga hari, kalau saja engkau merasa kasihan terhadapku sehingga aku bisa bermalam dirumahmu selama tiga hari, maka itu akan saya lakukan&#8221; Orang anshar tersebut menjawab &#8220;Baik, silahkan&#8221;, Maka Abdullah bin Amr bin al &#8216;Ash bermalam di rumah orang tersebut selama tiga hari, selama itu Abdullah bin Amr bin al &#8216;Ash tidak pemah mendapati orang tersebut melakukan Sholat malam kecuali ia hanya mengetahui bahwa orang tersebut selalu menyebut Allah ketika ia sedang berbalak-balik (berganti pososi) di atas tempat tidumya, dan dia pun tidak melaksanakan sholat sunnah Fajr. Abdullah bin Amr bin al Ash menambahkan &#8220;Saya tidak menemuakan ia beramal, hanya saja saya tidak pemah mendengar perkataannya kecuali perkataan yang baik&#8221; Setelah selesai bermalam tiga hari di rumah sahabat anshar itu, hampir saja saya meremehkan amalnya. Kemudian saya berkata kepadanya &#8220;Hai hamba Allah!, sebenamya antara aku dan orang tuaku tidak terjadi apa-apa, tidak ada kemarahan dan putus hubungan, tapi saya hanya mendengar Rasulullah telah bersabda begini dan begini terhadapmu. Oleh sebab itu, saya ingin meneliti amal baikmu, tapi temyata saya tidak menemukan engkau melakukan amal yang banyak. Lalu apakah gerangan yang membuatmu menjadi demikian (disebut ahli sorga oleh Rasulullah)? Maka sahabat anshar tersebut menjawab &#8220;Saya tidak banyak melakukan<br />
 amalan selain apa yang pemah engkau saksikan itu&#8221; Ketika saya berpaling darinya, maka ia memanggilku dan berkata &#8220;Tidaklah amal yang aku lakukan selain apa telah kamu saksikan, hanya saja aku tidak pemah mempunyai tipu muslihat dan kedengkian terhadap seorang pun dari kaum muslimin atas kebaikan yang telah diberikan oleh Allah kepada mereka&#8221; Abdullah bin Amr berkata kepadanya &#8220;Itulah yang menyebabkanmu menjadi begini (disebut ahli sorga) Dan itulah yang saya tidak bisa melakukannya&#8221;</p>
<p align="justify">Dengan hadits yang panjang tadi maka bisa dipahami, betapa meninggalkan kedengkian adalah merupakan amal yang bisa menyamai amal baik ataujustru bisa mengalahkan amal-amal yang lain bahkan sebagaimana sahabat anshar tadi disebut ahli sorga oleh Rasulullah karena ia mampu mengendalikan hatinya dari sifat hasd atau dengki. Terus, mengapa kita selalu enjoy saja mengusili kanikmatan-kenikmatan yang diperoleh oleh sesama saudara muslim kita, seolah-olah itu adalah hal yang lumrah dan sah-sah saja? Tidakkah apa yang ada di dalam Al Qur&#8217;an dan Hadits itu harus kitajadikan acuan sepanjang kita masing merasa sebagai seorang Muslim dan Mukmin? Ataukah kita betul-betui ingin lari dari kedua petunjuk tadi ? Tentujawabannya ada di benak kita masing masing. Semakin sering kita tidak menghiraukan ajaran-ajaran atau larangan dari kedua petunjuk tadi, maka semakinjauh kita lari dari-Nya. Na &#8216;udzu billahi min dzalik. Wallahu A&#8217;lam</p>
<p>The post <a href="https://langitan.net/mengapa-kita-hasut/">Mengapa kita hasut ?</a> appeared first on <a href="https://langitan.net">Pondok Pesantren Langitan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://langitan.net/mengapa-kita-hasut/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>1</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
