<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Ngaji Sore Archives - Pondok Pesantren Langitan</title>
	<atom:link href="https://langitan.net/category/ngaji-sore/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://langitan.net/category/ngaji-sore/</link>
	<description>Widang, Tuban, Jawa Timur</description>
	<lastBuildDate>Mon, 11 Dec 2023 08:55:37 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.1</generator>

<image>
	<url>https://langitan.net/wp-content/uploads/2020/03/cropped-logo-langitan-net-32x32.png</url>
	<title>Ngaji Sore Archives - Pondok Pesantren Langitan</title>
	<link>https://langitan.net/category/ngaji-sore/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Ngaji Al-Hikam Lil Imam Al-Haddad Hikmah Ke-89 : Hukuman Bagi Orang yang Menolak Kebenaran</title>
		<link>https://langitan.net/ngaji-al-hikam-lil-imam-al-haddad-hikmah-ke-89-hukuman-bagi-orang-yang-menolak-kebenaran/</link>
					<comments>https://langitan.net/ngaji-al-hikam-lil-imam-al-haddad-hikmah-ke-89-hukuman-bagi-orang-yang-menolak-kebenaran/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 11 Dec 2023 08:55:37 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Ngaji Sore]]></category>
		<category><![CDATA[Hikmah Ke-89]]></category>
		<category><![CDATA[hukuman]]></category>
		<category><![CDATA[KH. Abdullah Habib Faqih]]></category>
		<category><![CDATA[langitan]]></category>
		<category><![CDATA[Ngaji Hikam]]></category>
		<category><![CDATA[ngaji sore]]></category>
		<category><![CDATA[Orang yang Menolak Kebenaran]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langitan.net/?p=224465</guid>

					<description><![CDATA[<p>Pengajian kitab Hikam kali ini membahas hukuman atau cobaan yang diberikan oleh Allah Swt bagi seseorang yang takabur atas kebenaran dan orang yang membawanya. Pembahasan ini dicantumkan Imam Al-Haddad dalam hikmah yang ke-89 yang berbunyi:  وقال : من تكبر على الحق وأهله ، ابتلاه الله  بالذل بالذل للباطل وأهله ، فيجتمع عليه عند ذلك مصيبتان [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://langitan.net/ngaji-al-hikam-lil-imam-al-haddad-hikmah-ke-89-hukuman-bagi-orang-yang-menolak-kebenaran/">Ngaji Al-Hikam Lil Imam Al-Haddad Hikmah Ke-89 : Hukuman Bagi Orang yang Menolak Kebenaran</a> appeared first on <a href="https://langitan.net">Pondok Pesantren Langitan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><img fetchpriority="high" fetchpriority="high" decoding="async" class="alignnone size-large wp-image-223862" src="https://langitan.net/wp-content/uploads/2023/05/sekRAXVjFHohd-1024x576.jpg" alt="" width="1024" height="576" srcset="https://langitan.net/wp-content/uploads/2023/05/sekRAXVjFHohd-1024x576.jpg 1024w, https://langitan.net/wp-content/uploads/2023/05/sekRAXVjFHohd-300x169.jpg 300w, https://langitan.net/wp-content/uploads/2023/05/sekRAXVjFHohd-768x432.jpg 768w, https://langitan.net/wp-content/uploads/2023/05/sekRAXVjFHohd-1080x608.jpg 1080w, https://langitan.net/wp-content/uploads/2023/05/sekRAXVjFHohd.jpg 1280w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Pengajian kitab Hikam kali ini membahas hukuman atau cobaan yang diberikan oleh Allah Swt bagi seseorang yang takabur atas kebenaran dan orang yang membawanya. Pembahasan ini dicantumkan Imam Al-Haddad dalam hikmah yang ke-89 yang berbunyi: </span></p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-weight: 400;">وقال : من تكبر على الحق وأهله ، ابتلاه الله  بالذل بالذل للباطل وأهله ، فيجتمع عليه عند ذلك مصيبتان و عقوبتان وتفوته منقبتان و مثوبتان</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">&#8220;Al-Habib Abdullah bin Alawi bin Muhammad Al-Haddad berkata: Barang siapa yang takabur atas perkara haq (kebenaran) dan ahlinya (yang membawa kebenaran), maka Allah Swt akan menghukumnya dengan kehinaan menyukai perkara yang batil dan ahlinya (orang yang membawa kebatilan). Maka baginya terkumpul dua musibah dan siksa karena hal tersebut, serta hilang juga darinya dua derajat dan dua pahala.&#8221; </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Hikmah di atas, sesuai keterangan KH. Abdullah Habib Faqih saat pengajian kitab Hikam pada Sabtu, (18/11/2023) mengandung arti bahwa seseorang yang takabur atas perkara haq dan ahlinya maka ia akan diberi cobaan oleh Allah berupa kehinaan menyukai perkara yang batil dan ahlinya. Orang-orang tersebut disimpulkan oleh beliau mendapat dua musibah dan siksa, serta dihilangkan darinya 2 derajat dan pahala.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Adapun maksud “Takabur atas perkara haq” menurut KH. Abdullah Habib faqih adalah penolakan atau pengingkaran terhadap kebenaran dan penolakan kepada seorang yang mengajak kepada hal tersebut. Dalam keterangannya, beliau mengatakan:</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Maksud Takabur di sini itu tidak mau menerima, ingkar dan menolak perkara yang haq dan orang yang membawa perkara haq tersebut,”.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sementara maksud “Diberikannya cobaan atau hukuman berupa kehinaan dalam perkara yang batil dan ahlinya” berarti bahwa orang yang berani melakukan hal tersebut akan diberi cobaan oleh Allah dengan kehinaan, jatuh dalam keadaan yang sangat hina, serta tidak mempunyai kehormatan dalam perkara yang batil. Maksudnya ia menyukai dan membela perkara yang batil dan membela ahlinya, yaitu orang-orang yang batil. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Ia akan menerima kehinaan, jadi rendah dan tidak punya kehormatan kepada perkara yang batil, ia tunduk dan takluk di bawah tekanan perkara yang batil, atau dia hina sebab menyukai perkara yang batil dan membela orang-orang yang batil,” terang KH. Abdullah Habib Faqih.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Lha seperti itu hukumannya kalau ada orang yang menolak, ingkar, dan tidak menerima perkara yang haq,” lanjut beliau.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Maksud dari “perkara yang haq” di sini itu Allah Swt, barang siapa yang menolak, ingkar, dan membangkang perkara yang haq (Allah Swt), maksudnya ia tidak menurut kepada Allah, larangan-Nya diterjang, atau dia mengambil tuhan selain Allah, orang seperti ini besok akan dihukum Allah tunduk dalam perkara kebatilan dan cengkeraman setan.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Adapun makna “Terkumpul baginya 2 musibah” adalah dia akan menerima dua musibah karena menolak perkara yang haq. Dua musibah yang dimaksud adalah sifat takaburnya tersebut dan diberinya kehinaan yang amat hina dengan menyukai perkara yang batil dan orang-orangnya.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Apa dua musibah tersebut? Yaitu dia takabur, berani dan menentang kepada Allah, ini sudah menjadi musibah dan merupakan suatu bencana besar, karena tidak ada lagi musibah yang besar selain berani menolak perintah Allah Swt,” terang KH. Abdullah Habib Faqih;.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sementara musibah yang kedua, lanjut beliau, adalah dia menjadi hina, serta jatuh dalam cengkeraman kebatilan, dia dikendalikan oleh setan, dikendalikan oleh hawa nafsunya sendiri, dikendalikan oleh perkara-perkara yang batil dan ia juga membela perkara-perkara yang salah, keliru, kezaliman, kemaksiatan, kedurhakaan, serta segala macam kemaksiatan ia bela.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Kedua musibah ini bakal menimpa orang ketika menolak, ingkar, membangkang, dan sombong terhadap Allah atau perkara yang haq,” jelas beliau. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Terakhir, maksud dari “Ia juga akan kehilangan dua derajat dan dua pahala” adalah orang tersebut akan kehilangan dua derajat yang tinggi dan dua pahala yang disediakan oleh Allah Swt. Dalam keterangan KH. Abdullah Habib Faqih, yang dimaksud dari dua derajat  tersebut adalah dia kehilangan derajat di sisi Allah Swt dan di sisi makhluk Allah. Sementara yang dimaksud kehilangan dua pahala yang disediakan Allah adalah pahala tawadhu kepada Allah Swt. dan pahala mengikuti perintah Allah Swt. Wallahu a’lamu.</span></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><span style="font-weight: 400;">Penulis: Mahirur Riyadl</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Editor: Abdullah Al-Faiq</span></p>
<h1 class="style-scope ytd-watch-metadata">Video Terkait: Hikmah ke 89 &amp; 90 &#8211; Pengajian Kitab Al Hikam Lil Imam Al Haddad | KH. Abdullah Habib Faqih</h1>
<p><iframe title="Hikmah ke 89 &amp; 90 - Pengajian Kitab Al Hikam Lil Imam Al Haddad | KH. Abdullah Habib Faqih" width="1080" height="608" src="https://www.youtube.com/embed/v-qnbD7XL1Y?start=398&#038;feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" allowfullscreen></iframe></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>The post <a href="https://langitan.net/ngaji-al-hikam-lil-imam-al-haddad-hikmah-ke-89-hukuman-bagi-orang-yang-menolak-kebenaran/">Ngaji Al-Hikam Lil Imam Al-Haddad Hikmah Ke-89 : Hukuman Bagi Orang yang Menolak Kebenaran</a> appeared first on <a href="https://langitan.net">Pondok Pesantren Langitan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://langitan.net/ngaji-al-hikam-lil-imam-al-haddad-hikmah-ke-89-hukuman-bagi-orang-yang-menolak-kebenaran/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Ngaji Irsyadul Ibad: Fadhilah Jihad menurut Surat As-Shaffat Ayat 10-14</title>
		<link>https://langitan.net/ngaji-irsyadul-ibad-fadhilah-jihad-menurut-surat-as-shaffat-ayat-10-14/</link>
					<comments>https://langitan.net/ngaji-irsyadul-ibad-fadhilah-jihad-menurut-surat-as-shaffat-ayat-10-14/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 07 Dec 2023 05:04:32 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Ngaji Sore]]></category>
		<category><![CDATA[Fadhilah Jihad]]></category>
		<category><![CDATA[jihad]]></category>
		<category><![CDATA[kh. ubaidillah faqih]]></category>
		<category><![CDATA[Ngaji Irsyadul Ibad]]></category>
		<category><![CDATA[ngaji sore]]></category>
		<category><![CDATA[Surat As-Shaffat Ayat 10-14]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langitan.net/?p=224453</guid>

					<description><![CDATA[<p>&#160; Pengajian kitab Irsyadul Ibad kali ini sampai pada bab jihad atau dalam kitabnya disebut dengan Bab al-Jihad. Syaikh Zainuddin Al-Malibari mengawali pembahasan bab ini dengan mengutip beberapa ayat yang menerangkan balasan Allah bagi orang yang berjihad. Ayat tersebut terdapat dalam surat As-Saffat ayat 10 sampai 14 yang berbunyi: يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا هَلْ اَدُلُّكُمْ عَلٰى [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://langitan.net/ngaji-irsyadul-ibad-fadhilah-jihad-menurut-surat-as-shaffat-ayat-10-14/">Ngaji Irsyadul Ibad: Fadhilah Jihad menurut Surat As-Shaffat Ayat 10-14</a> appeared first on <a href="https://langitan.net">Pondok Pesantren Langitan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><img decoding="async" class="alignnone size-large wp-image-223890" src="https://langitan.net/wp-content/uploads/2023/06/WhatsApp-Image-2023-06-03-at-18.54.33-1024x576.jpeg" alt="" width="1024" height="576" srcset="https://langitan.net/wp-content/uploads/2023/06/WhatsApp-Image-2023-06-03-at-18.54.33-1024x576.jpeg 1024w, https://langitan.net/wp-content/uploads/2023/06/WhatsApp-Image-2023-06-03-at-18.54.33-300x169.jpeg 300w, https://langitan.net/wp-content/uploads/2023/06/WhatsApp-Image-2023-06-03-at-18.54.33-768x432.jpeg 768w, https://langitan.net/wp-content/uploads/2023/06/WhatsApp-Image-2023-06-03-at-18.54.33-1536x864.jpeg 1536w, https://langitan.net/wp-content/uploads/2023/06/WhatsApp-Image-2023-06-03-at-18.54.33-1080x608.jpeg 1080w, https://langitan.net/wp-content/uploads/2023/06/WhatsApp-Image-2023-06-03-at-18.54.33.jpeg 1600w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><span style="font-weight: 400;">Pengajian kitab </span><em><span style="font-weight: 400;">Irsyadul Ibad </span></em><span style="font-weight: 400;">kali ini sampai pada bab jihad atau dalam kitabnya disebut dengan<em> B</em></span><i><span style="font-weight: 400;">ab al-Jihad</span></i><span style="font-weight: 400;">. Syaikh Zainuddin Al-Malibari mengawali pembahasan bab ini dengan mengutip beberapa ayat yang menerangkan balasan Allah bagi orang yang berjihad. Ayat tersebut terdapat dalam surat As-Saffat ayat 10 sampai 14 yang berbunyi:</span></p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-weight: 400;">يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا هَلْ اَدُلُّكُمْ عَلٰى تِجَارَةٍ تُنْجِيْكُمْ مِّنْ عَذَابٍ اَلِيْمٍ ۝١٠ تُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ وَتُجَاهِدُوْنَ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ بِاَمْوَالِكُمْ وَاَنْفُسِكُمْۗ ذٰلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ اِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُوْنَۙ ۝١١ يَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَيُدْخِلْكُمْ جَنّٰتٍ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَنْهٰرُ وَمَسٰكِنَ طَيِّبَةً فِيْ جَنّٰتِ عَدْنٍۗ ذٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيْمُۙ ۝١٢ وَاُخْرٰى تُحِبُّوْنَهَاۗ نَصْرٌ مِّنَ اللّٰهِ وَفَتْحٌ قَرِيْبٌۗ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِيْنَ ۝١٣</span></p>
<p><em><span style="font-weight: 400;">“Wahai orang-orang yang beriman, maukah kamu Aku tunjukkan suatu perdagangan yang (dapat) menyelamatkan kamu dari azab yang pedih? (Caranya) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. (Jika kamu beriman dan berjihad,) niscaya Allah mengampuni dosa-dosamu dan memasukkanmu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai dan ke tempat-tempat tinggal yang baik di dalam surga ‘Adn. Itulah kemenangan yang agung. (Ada balasan) lain yang kamu sukai, (yaitu) pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat (waktunya). Sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang mukmin.”</span></em></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Keempat ayat tersebut, sebagaimana keterangan dari KH. Ubaidillah Faqih saat pengajian </span><i><span style="font-weight: 400;">Irsyadul Ibad </span></i><span style="font-weight: 400;">di Musala Agung pada Senin, (30/11/23) menerangkan balasan-balasan Allah bagi umat mukmin yang mau berjihad di jalan Allah.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sebelum Allah Swt menunjukkan balasan-balasan tersebut, Ia mengawali dengan suatu tawaran kepada orang-orang yang beriman yang menjadikan mereka diselamatkan dari azab yang pedih. Dalam ayat yang pertama Allah befirman:</span></p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-weight: 400;">يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا هَلْ اَدُلُّكُمْ عَلٰى تِجَارَةٍ تُنْجِيْكُمْ مِّنْ عَذَابٍ اَلِيْمٍ</span></p>
<p style="text-align: left;"><em><span style="font-weight: 400;">“Wahai orang-orang yang beriman, maukah kamu Aku tunjukkan suatu perdagangan yang (dapat) menyelamatkan kamu dari azab yang pedih?</span></em></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Tawaran tersebut berupa </span><span style="font-weight: 400;"> تِجَارَةٍ </span><span style="font-weight: 400;">yang ditafsiri dengan perdagangan atau perniagaan. Disebutnya tawaran tersebut dengan </span><i><span style="font-weight: 400;">tijarah </span></i><span style="font-weight: 400;">(perniagaan) karena sebagaimana perniagaan akan mendapatkan keuntungan. Keuntungan tersebut adalah diselamatkan dari </span><span style="font-weight: 400;">عَذَابٍ اَلِيْمٍ </span><span style="font-weight: 400;">(Azab yang pedih). Lalu perniagaan seperti apa yang dimaksud?</span></p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-weight: 400;">تُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ وَتُجَاهِدُوْنَ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ بِاَمْوَالِكُمْ وَاَنْفُسِكُمْۗ ذٰلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ اِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُوْنَۙ </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">(Caranya) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.</span></i><span style="font-weight: 400;">”</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Perniagaan yang dapat menyelamatkan seseorang dari azab yang pedih adalah beriman kepada Allah dengan iman yang mantap dan kokoh serta berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwa. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Berjihad </span><em><span style="font-weight: 400;">fi sabilillah</span></em><span style="font-weight: 400;"> di sini bermakna berusaha dengan sekuat tenaga mengharumkan Islam dan kaum muslim, serta membela hak, martabat, dan kehormatan kaum muslim dari serangan musuh-musuh Islam dengan harta dan jiwa sampai mati syahid. Adapun balasannya adalah:</span></p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-weight: 400;">يَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَيُدْخِلْكُمْ جَنّٰتٍ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَنْهٰرُ وَمَسٰكِنَ طَيِّبَةً فِيْ جَنّٰتِ عَدْنٍۗ ذٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيْمُۙ</span></p>
<p><em><span style="font-weight: 400;">“Niscaya Allah mengampuni dosa-dosamu dan memasukkanmu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai dan ke tempat-tempat tinggal yang baik di dalam surga ‘Adn. Itulah kemenangan yang agung.”</span></em></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Yaitu akan diampuni dosa-dosanya, baik dosa yang disengaja maupun yang tidak disengaja, serta akan dimasukkan ke dalam surga yang penuh kenikmatan, yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, sehingga kehidupan terasa indah dan menyenangkan. Serta Allah Swt juga akan memberikan </span><span style="font-weight: 400;">وَمَسٰكِنَ طَيِّبَةً</span><span style="font-weight: 400;"> (Tempat-tempat tinggal yang baik) di dalam surga ‘Adn.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Selain itu juga terdapat balasan yang lain, pada ayat yang keempat dijelaskan:</span></p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-weight: 400;">اُخْرٰى تُحِبُّوْنَهَاۗ نَصْرٌ مِّنَ اللّٰهِ وَفَتْحٌ قَرِيْبٌۗ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِيْنَ</span></p>
<p><em><span style="font-weight: 400;">“(Ada balasan) lain yang kamu sukai, (yaitu) pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat (waktunya). Sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang mukmin.”</span></em></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Balasan yang lain tersebut adalah pertolongan dari Allah Swt dalam menghadapi musuh-musuh Islam, dan </span><span style="font-weight: 400;">فَتْحٌ قَرِيْبٌۗ </span><span style="font-weight: 400;">(kemenangan yang dekat waktunya). </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Terakhir, sebagaimana ungkapan ayat yang di akhir, yaitu </span><span style="font-weight: 400;">وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِيْنَ (</span><span style="font-weight: 400;">Sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang mukmin</span><span style="font-weight: 400;">) </span><span style="font-weight: 400;">yang berarti kita diperintah oleh Allah untuk menyebarkan kabar gembira ini. </span><em><span style="font-weight: 400;">Wallahu a’lamu.</span></em></p>
<p>Penulis: Mahirur Riyadl</p>
<p>Editor: Abdullah Al-Faiq</p>
<p>The post <a href="https://langitan.net/ngaji-irsyadul-ibad-fadhilah-jihad-menurut-surat-as-shaffat-ayat-10-14/">Ngaji Irsyadul Ibad: Fadhilah Jihad menurut Surat As-Shaffat Ayat 10-14</a> appeared first on <a href="https://langitan.net">Pondok Pesantren Langitan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://langitan.net/ngaji-irsyadul-ibad-fadhilah-jihad-menurut-surat-as-shaffat-ayat-10-14/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Ngaji Irsyadul Ibad: Hukum Membunuh Orang secara Sengaja</title>
		<link>https://langitan.net/ngaji-irsyadul-ibad-hukum-membunuh-orang-secara-sengaja/</link>
					<comments>https://langitan.net/ngaji-irsyadul-ibad-hukum-membunuh-orang-secara-sengaja/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 27 Nov 2023 05:58:08 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Ngaji Sore]]></category>
		<category><![CDATA[hukum]]></category>
		<category><![CDATA[kh. ubaidillah faqih]]></category>
		<category><![CDATA[langitan]]></category>
		<category><![CDATA[membunuh]]></category>
		<category><![CDATA[Ngaji Irsyadul Ibad]]></category>
		<category><![CDATA[ngaji sore]]></category>
		<category><![CDATA[orang]]></category>
		<category><![CDATA[sengaja]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langitan.net/?p=224449</guid>

					<description><![CDATA[<p>Berita tindak kriminalitas seperti pembunuhan akhir-akhir ini sering kali mengisi media Online maupun cetak kita. Tindakan kejahatan tersebut, ironisnya banyak dipicu oleh masalah yang terhitung sepele. Maraknya aksi tidak tercela ini, yang bahkan hanya dipicu masalah sepele menunjukkan pudarnya rasa kemanusiaan dan lemahnya iman seseorang, sehingga tega menghilangkan nyawa orang lain, atau bahkan orang yang [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://langitan.net/ngaji-irsyadul-ibad-hukum-membunuh-orang-secara-sengaja/">Ngaji Irsyadul Ibad: Hukum Membunuh Orang secara Sengaja</a> appeared first on <a href="https://langitan.net">Pondok Pesantren Langitan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><img decoding="async" class="alignnone size-large wp-image-223890" src="https://langitan.net/wp-content/uploads/2023/06/WhatsApp-Image-2023-06-03-at-18.54.33-1024x576.jpeg" alt="" width="1024" height="576" srcset="https://langitan.net/wp-content/uploads/2023/06/WhatsApp-Image-2023-06-03-at-18.54.33-1024x576.jpeg 1024w, https://langitan.net/wp-content/uploads/2023/06/WhatsApp-Image-2023-06-03-at-18.54.33-300x169.jpeg 300w, https://langitan.net/wp-content/uploads/2023/06/WhatsApp-Image-2023-06-03-at-18.54.33-768x432.jpeg 768w, https://langitan.net/wp-content/uploads/2023/06/WhatsApp-Image-2023-06-03-at-18.54.33-1536x864.jpeg 1536w, https://langitan.net/wp-content/uploads/2023/06/WhatsApp-Image-2023-06-03-at-18.54.33-1080x608.jpeg 1080w, https://langitan.net/wp-content/uploads/2023/06/WhatsApp-Image-2023-06-03-at-18.54.33.jpeg 1600w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></p>
<p>Berita tindak kriminalitas seperti pembunuhan akhir-akhir ini sering kali mengisi media Online maupun cetak kita. Tindakan kejahatan tersebut, ironisnya banyak dipicu oleh masalah yang terhitung sepele.</p>
<p>Maraknya aksi tidak tercela ini, yang bahkan hanya dipicu masalah sepele menunjukkan pudarnya rasa kemanusiaan dan lemahnya iman seseorang, sehingga tega menghilangkan nyawa orang lain, atau bahkan orang yang mempunyai hubungan dekat dengannya.</p>
<p style="text-align: left;">Oleh karena itu, sangat tepat sekali pengajian kitab Irsyadul Ibad kali ini membahas hukum membunuh orang lain, supaya kita bisa bertafakur dan menjauhi hal-hal yang tidak tercela tersebut.</p>
<p>Adapun dalam kitab Irsyadul Ibad, pembahasan tentang hukum membunuh ditaruh oleh Syaikh Zainuddin di pembahasan setelah bab qathi’ur rahim (memutus tali silaturahim), beliau menamai bab ini dengan nama Bab Al-Qatlu (membunuh).</p>
<p>Sebagaimana bab-bab yang sebelumnya, syaikh Zainuddin selalu mengawali pembahasannya dengan firman Allah Swt, di bab ini beliau mengutip surat An-Nisa ayat 93 yang berbunyi:</p>
<p style="text-align: right;">
وَمَن يَقْتُلْ مُؤْمِنًا مُّتَعَمِّدًا فَجَزَآؤُهُۥ جَهَنَّمُ خَٰلِدًا فِيهَا وَغَضِبَ ٱللَّهُ عَلَيْهِ وَلَعَنَهُۥ وَأَعَدَّ لَهُۥ عَذَابًا عَظِيمًا</p>
<p style="text-align: left;">“Dan barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja maka balasannya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutuknya serta menyediakan azab yang besar baginya.” (QS. An-Nisa: 93)</p>
<p>Ayat ini menunjukkan bagaimana ketegasan Allah dalam memberi hukuman kepada orang yang berani membunuh orang lain yang beriman secara sengaja tanpa adanya hal yang memperbolehkan. Dalam ayat ini setidaknya ada empat hukuman dari Allah, dan hukuman tersebut tidak main-main, yaitu akan dimasukkan Neraka Jahannam serta kekal di dalamnya, akan dibenci dan dilaknat oleh Allah, serta akan disiapkan baginya siksaan yang pedih.</p>
<p>KH. Ubaidillah Faqih, dalam menerangkan ayat ini saat pengajian kitab Irsyadul Ibad pada Selasa, (19/9/23) menambahkan, bahwa hukuman-hukuman di atas tidak hanya diberikan bagi mereka yang membunuh orang yang beriman saja, tapi juga bagi orang yang membunuh non-muslim yang berstatus dzimmi, bukan harbi.</p>
<p>“Bahasannya dalam ayat di atas kan menggunakan mukminan, lantas apakah membunuh orang yang tidak mukmin tidak berdosa? Tentu tidak (begitu), karena tidak hanya membunuh orang mukmin saja, tetapi juga siksaan bagi mereka yang membunuh orang-orang yang walaupun tidak iman tapi min ahli adz-dzimmah, bukan kafir harbi,” terang beliau.</p>
<p>Selain mengutip dari Al-Qur’an, Syaikh Zainuddin juga mengutip hadits-hadits Nabi Muhammad dalam pembahasan ini. Termasuk dari hadits-hadits yang disebutkan beliau bisa disimak di bawah ini.</p>
<p style="text-align: right;">
اخرج الشيخان عن أبي هريرة اجتنبوا السبع الموبقات أي المهلكات قيل يا رسول الله ما هن قال له الاشراك بالله وقتل النفس التي حرم الله إلا بالحق الحدي</p>
<p style="text-align: left;">“Imam Bukhari dan Imam Muslim mengeluarkan hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra. Bahwa Nabi Muhammad bersabda: Hindarilah tujuh perkara yang membinasakan, dikatakan wahai Rasulullah Saw, apa saja itu? Rasulullah bersabda: Menyekutukan Allah dan membunuh orang lain yang diharamkan oleh Allah tanpa adanya hak &#8230; (Al-Hadits).”</p>
<p style="text-align: right;">والنسائي والحاكم وصححه عن معاوية قال: قال رسول الله ﷺ كل ذنب عسى الله أن يغفره إلا الرجل يموت كافرا أو الرجل يقتل مؤمنا متعمدا</p>
<p style="text-align: left;">“Imam Nasa’i dan Imam Hakim mengeluarkan hadits yang dishahihkannya, diriwayatkan dari Muawiyah ra, berkata: Rasulullah Saw bersabda: Segala dosa bisa diampuni oleh Allah kecuali dosa seorang lelaki yang mati dalam keadaan kafir dan dosa seorang lelaki yang membunuh orang mukmin dengan sengaja.”</p>
<p style="text-align: right;">وأبو داود وابن حبان عن أبي الدرداء كل ذنب عسى الله أن يغفره الا الرجل يموت مشركا أو يقتل مؤمنا متعمدا</p>
<p style="text-align: left;">“Imam Abu Dawud dan Imam Ibnu Hibban, diriwayatkan dari Abu Darda ra, segala dosa bisa diampuni Allah kecuali dosa lelaki yang dalam keadaan musyrik atau membunuh orang mukmin secara sengaja.”</p>
<p>Sebenarnya masih banyak hadits yang disebutkan oleh Syaikh Zainuddin dalam kitab ini, supaya tulisan ini tidak terlalu panjang, penulis hanya cantumkan sebagian saja, untuk hadits-hadits yang lain bisa dibaca sendiri di kitab tersebut.</p>
<p>Selanjutnya, di akhir pembahasan bab ini, Syaikh Zainuddin turut menerangkan hukum membunuh orang lain, di sana beliau mengatakan kalau para ulama telah bersepakat bahwa hukum membunuh orang lain secara sengaja termasuk dari اكبر الكبائر (besar-besarnya dosa yang paling besar). Beliau juga mengutip pendapat dari Ibnu Abbas dan sahabat yang lain atas tidak diterimanya taubat seorang yang membunuh saudara mukminnya secara sengaja.</p>
<p style="text-align: right;">وقال ابن عباس وأبو هريرة وابن عمر وحسن بن علي وزيد بن ثابت رضى الله عنهم لا تقبل توبة قاتل المؤمن عمدا</p>
<p style="text-align: left;">“Ibnu Abbas ra, Abu Hurairah ra, Ibnu Umar ra, Hasan bin Ali, dan Zaid bin Tsabit ra berpendapat bahwa tidak diterimanya taubat seorang yang membunuh orang yang beriman secara sengaja.”</p>
<p>Selain itu, beliau juga mengutip pendapat dari ulama ahlussunnah yang mana mengatakan bahwa tetap diterima taubatnya orang tersebut.</p>
<p style="text-align: right;">لكن ذهب أهل السنة إلى قبول توبته وكلام الروضة وأصله يدل على بقاء العقوبة الأخروية وإن وجد قود وكفارة</p>
<p>“Tetapi ulama ahlussunnah berpendapat bahwa taubatnya diterima, sementara dalam kitab Raudhah dan asalnya mengatakan bahwa tetap adanya siksaan di akhirat baginya, walaupun di dunia ada kafarat.” Wallahu a’lam.</p>
<p>Penulis: Mahirur Riyadl</p>
<p>Editor: Abdulloh Al-Faiq</p>
<p>The post <a href="https://langitan.net/ngaji-irsyadul-ibad-hukum-membunuh-orang-secara-sengaja/">Ngaji Irsyadul Ibad: Hukum Membunuh Orang secara Sengaja</a> appeared first on <a href="https://langitan.net">Pondok Pesantren Langitan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://langitan.net/ngaji-irsyadul-ibad-hukum-membunuh-orang-secara-sengaja/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Ngaji Al-Hikam lil Imam Abdullah Al-Haddad: Hikmah ke-85, Ketakukan Orang Mukmin</title>
		<link>https://langitan.net/ngaji-al-hikam-lil-imam-abdullah-al-haddad-hikmah-ke-85-ketakukan-orang-mukmin/</link>
					<comments>https://langitan.net/ngaji-al-hikam-lil-imam-abdullah-al-haddad-hikmah-ke-85-ketakukan-orang-mukmin/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 13 Nov 2023 05:57:54 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Ngaji Sore]]></category>
		<category><![CDATA[KH. Abdullah Habib Faqih]]></category>
		<category><![CDATA[Ngaji Hikam]]></category>
		<category><![CDATA[orang mukmin]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langitan.net/?p=224425</guid>

					<description><![CDATA[<p>Akhirat itu ibaratnya pelabuhan, sedangkan dunia itu ibarat lautan, hutan belantara, dan tanah yang angker, seperti gambaran orang mukmin yang takut melihat dunia. Allah memberikan rasa takut agar manusia itu ingat bahwasannya mereka membutuhkan Allah Swt. Segala permasalahan seharusnya semua dipasrahkan total kepada Allah. Dan semua manusia haruslah takut kepada Allah. Manusia juga diberi rasa [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://langitan.net/ngaji-al-hikam-lil-imam-abdullah-al-haddad-hikmah-ke-85-ketakukan-orang-mukmin/">Ngaji Al-Hikam lil Imam Abdullah Al-Haddad: Hikmah ke-85, Ketakukan Orang Mukmin</a> appeared first on <a href="https://langitan.net">Pondok Pesantren Langitan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><img fetchpriority="high" fetchpriority="high" decoding="async" class="alignnone size-large wp-image-223862" src="https://langitan.net/wp-content/uploads/2023/05/sekRAXVjFHohd-1024x576.jpg" alt="" width="1024" height="576" srcset="https://langitan.net/wp-content/uploads/2023/05/sekRAXVjFHohd-1024x576.jpg 1024w, https://langitan.net/wp-content/uploads/2023/05/sekRAXVjFHohd-300x169.jpg 300w, https://langitan.net/wp-content/uploads/2023/05/sekRAXVjFHohd-768x432.jpg 768w, https://langitan.net/wp-content/uploads/2023/05/sekRAXVjFHohd-1080x608.jpg 1080w, https://langitan.net/wp-content/uploads/2023/05/sekRAXVjFHohd.jpg 1280w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></p>
<p>Akhirat itu ibaratnya pelabuhan, sedangkan dunia itu ibarat lautan, hutan belantara, dan tanah yang angker, seperti gambaran orang mukmin yang takut melihat dunia. Allah memberikan rasa takut agar manusia itu ingat bahwasannya mereka membutuhkan Allah Swt.</p>
<p>Segala permasalahan seharusnya semua dipasrahkan total kepada Allah. Dan semua manusia haruslah takut kepada Allah. Manusia juga diberi rasa harapan, yang dengan harapan itu manusia merasa bahagia walaupun harapannya belum terpenuhi.</p>
<p>Akhirnya Allah memberikan keringanan seperti halnya orang yang mau melakukan sholat Dhuha dua rakaat akan dicatat menjadi orang yang bersyukur, yang sholat Dhuha empat rakaat akan dicatat menjadi orang yang suka memuji, atau orang yang melakukan shadaqah akan diganti dengan segudang tanah di surga. Perihal tersebut merupakan suatu harapan-harapan.</p>
<p>Seseorang mukmin akan merasa takut apabila keburukan akan menimpa dan kebaikan akan hilang. Seketika orang tersebut akan merasa takut dan cemas. Semakin tinggi iman seorang mukmin, akan semakin besar pula rasa takutnya. Namun takutnya seorang mukmin berbeda dengan orang-orang secara umum yang takut kehilangan terhadap apa yang telah ia punya.</p>
<p>Selagi masih di dunia, orang mukmin tidaklah merasa aman, di pikirannya akan tetap merasa was-was terhadap dunia. Karena banyak penyakit seperti riya’ yang dapat mengurangi amalnya, ia akan merasa tenang apabila telah sampai di akhirat. (Soe)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><iframe title="Hikmah ke 85 (Part 2) &amp; 86 - Pengajian Kitab Al Hikam Lil Imam Al Haddad | KH. Abdullah Habib Faqih" width="1080" height="608" src="https://www.youtube.com/embed/nSkXZvC3Yo4?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" allowfullscreen></iframe></p>
<p>The post <a href="https://langitan.net/ngaji-al-hikam-lil-imam-abdullah-al-haddad-hikmah-ke-85-ketakukan-orang-mukmin/">Ngaji Al-Hikam lil Imam Abdullah Al-Haddad: Hikmah ke-85, Ketakukan Orang Mukmin</a> appeared first on <a href="https://langitan.net">Pondok Pesantren Langitan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://langitan.net/ngaji-al-hikam-lil-imam-abdullah-al-haddad-hikmah-ke-85-ketakukan-orang-mukmin/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Ngaji Irsyadul Ibad: Memperbaiki Hubungan dengan Tetangga</title>
		<link>https://langitan.net/ngaji-irsyadul-ibad-memperbaiki-hubungan-dengan-tetangga/</link>
					<comments>https://langitan.net/ngaji-irsyadul-ibad-memperbaiki-hubungan-dengan-tetangga/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 11 Nov 2023 22:26:45 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Ngaji Sore]]></category>
		<category><![CDATA[berbuat baik]]></category>
		<category><![CDATA[hubungan baik]]></category>
		<category><![CDATA[kh. ubaidillah faqih]]></category>
		<category><![CDATA[Ngaji Irsyadul Ibad]]></category>
		<category><![CDATA[Tetangga]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langitan.net/?p=224422</guid>

					<description><![CDATA[<p>Dalam hidup bermasyarakat, kita tidak akan lepas dari interaksi sosial bersama tetangga, karena tetangga adalah orang yang bersebelahan dengan kita, sehingga Islam memerintahkan untuk menjalin hubungan yang baik dengan tetangga. Adanya tetangga juga termasuk anugerah yang besar bagi umat manusia, karena dengan bertetangga manusia bisa saling tolong-menolong, saling membantu dan memenuhi kebutuhan satu sama lain. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://langitan.net/ngaji-irsyadul-ibad-memperbaiki-hubungan-dengan-tetangga/">Ngaji Irsyadul Ibad: Memperbaiki Hubungan dengan Tetangga</a> appeared first on <a href="https://langitan.net">Pondok Pesantren Langitan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><img decoding="async" class="alignnone wp-image-223890 size-large" src="https://langitan.net/wp-content/uploads/2023/06/WhatsApp-Image-2023-06-03-at-18.54.33-1024x576.jpeg" alt="" width="1024" height="576" srcset="https://langitan.net/wp-content/uploads/2023/06/WhatsApp-Image-2023-06-03-at-18.54.33-1024x576.jpeg 1024w, https://langitan.net/wp-content/uploads/2023/06/WhatsApp-Image-2023-06-03-at-18.54.33-300x169.jpeg 300w, https://langitan.net/wp-content/uploads/2023/06/WhatsApp-Image-2023-06-03-at-18.54.33-768x432.jpeg 768w, https://langitan.net/wp-content/uploads/2023/06/WhatsApp-Image-2023-06-03-at-18.54.33-1536x864.jpeg 1536w, https://langitan.net/wp-content/uploads/2023/06/WhatsApp-Image-2023-06-03-at-18.54.33-1080x608.jpeg 1080w, https://langitan.net/wp-content/uploads/2023/06/WhatsApp-Image-2023-06-03-at-18.54.33.jpeg 1600w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></p>
<p>Dalam hidup bermasyarakat, kita tidak akan lepas dari interaksi sosial bersama tetangga, karena tetangga adalah orang yang bersebelahan dengan kita, sehingga Islam memerintahkan untuk menjalin hubungan yang baik dengan tetangga.</p>
<p>Adanya tetangga juga termasuk anugerah yang besar bagi umat manusia, karena dengan bertetangga manusia bisa saling tolong-menolong, saling membantu dan memenuhi kebutuhan satu sama lain.</p>
<p>Hal ini senada dengan keterangan KH. Ubaidillah Faqih saat mengkaji kitab Irsyadul Ibad di Musala Agung pada Senin (28/8/23), beliau mengatakan kalau dalam hidup bermasyarakat ada yang namanya &#8220;tetangga&#8221; untuk saling mengenal, kerja sama, saling membantu, saling memenuhi kebutuhan.</p>
<p>Syaikh Zainuddin Al-Malibari, dalam kitabnya Irsyadul Ibad membuat pembahasan tersendiri mengenai berhubungan baik dengan tetangga. Beliau menaruh pembahasan tersebut dalam bab Qaati’ur Rahm (Memutus silaturahim) yang diberi nama dengan Fashl fi Huququl Jiron (Fasal yang menerangkan tentang hak-haknya tetangga).</p>
<p>Dalam bab tersebut, Syaikh Zainuddin membuka pembahasan dengan mengutip ayat ke-36 dari surat An-Nisa yang berbunyi:</p>
<p style="text-align: right;"> وَٱعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا۟ بِهِۦ شَيْـًٔا ۖ وَبِٱلْوَٰلِدَيْنِ إِحْسَٰنًا وَبِذِى ٱلْقُرْبَىٰ وَٱلْيَتَٰمَىٰ وَٱلْمَسَٰكِينِ وَٱلْجَارِ ذِى ٱلْقُرْبَىٰ وَٱلْجَارِ ٱلْجُنُبِ وَٱلصَّاحِبِ بِٱلْجَنۢبِ</p>
<p>“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat.” (QS. An-Nisa: 36).</p>
<p>Dalam ayat ini, Allah Swt menekankan kepada umat manusia untuk tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, dan menekankan untuk selalu berbuat baik kepada sesama manusia, baik yang memiliki hubungan darah, kekerabatan dan yang terjauh sekalipun.</p>
<p>Selain ayat Al-Quran, Syaikh Zainuddin juga mengutip beberapa hadis Nabi Muhammad saw yang membahas interaksi bersama tetangga. Hadis-hadis yang dikutip beliau ada yang berupa perintah, larangan, dan peringatan dalam berinteraksi bersama tetangga. Di antaranya bisa disimak di bawah ini.</p>
<ol>
<li>Mempunyai Hubungan yang Baik dengan Tetangga Termasuk Ekspresi Keimanan.</li>
</ol>
<p style="text-align: right;">والبخاري من كان يؤمن بالله واليوم الآخر فلا يؤذ جاره</p>
<p>Diriwatkan oleh Imam Bukhari, Nabi Muhammad saw bersabda,  “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka janganlah ia menyakiti tetangganya.”</p>
<p style="text-align: right;">ومسلم من كان يؤمن بالله واليوم الآخر فليحسن الى جاره</p>
<p>Diriwatkan oleh Imam Muslim, Nabi Muhammad bersabda, “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaknya ia berbuat baik kepada tetangganya.”</p>
<p>2. Tidak Akan Masuk Surga Orang yang Menyakiti Tetangganya.</p>
<p style="text-align: right;">ومسلم لا يدخل الجنة من لا يأمن جاره بوائقه</p>
<p>Diriwayatkan oleh Imam Muslim, Nabi Muhammad saw bersabda, “Seorang muslim tidak akan masuk surga bila tetangganya tidak selamat dari sifat jeleknya.”</p>
<p>Penulis: Mahirur Riyadl</p>
<p>Editor: Abdullah Al-Faiq</p>
<p>The post <a href="https://langitan.net/ngaji-irsyadul-ibad-memperbaiki-hubungan-dengan-tetangga/">Ngaji Irsyadul Ibad: Memperbaiki Hubungan dengan Tetangga</a> appeared first on <a href="https://langitan.net">Pondok Pesantren Langitan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://langitan.net/ngaji-irsyadul-ibad-memperbaiki-hubungan-dengan-tetangga/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Ngaji Al-Hikam lil Imam Abdullah Al-Haddad. Hikmah ke-74, Kekuatan Dzikir </title>
		<link>https://langitan.net/ngaji-al-hikam-lil-imam-abdullah-al-haddad-hikmah-ke-74-kekuatan-dzikir/</link>
					<comments>https://langitan.net/ngaji-al-hikam-lil-imam-abdullah-al-haddad-hikmah-ke-74-kekuatan-dzikir/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 13 Aug 2023 06:05:16 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Ngaji Sore]]></category>
		<category><![CDATA[dzikir]]></category>
		<category><![CDATA[Hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[kekuatan]]></category>
		<category><![CDATA[KH. Abdullah Habib Faqih]]></category>
		<category><![CDATA[Ngaji Hikam]]></category>
		<category><![CDATA[ngaji sore]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langitan.net/?p=224136</guid>

					<description><![CDATA[<p>Dikatakan oleh Al-Habib Abdullah Al-Haddad bahwa dzikir kepada Allah itu menjadi penarik hati. Dengan kekhususan hati, semua yang tidak dapat dilihat dengan mata, yaitu alam bawah sadar bisa dirasakan dengan hati. Kekuatan dzikir itu sangat besar sekali. Allah Swt bersabda di dalam Al-Qur’an, “Orang yang mau berdzikir kepada Allah itu hatinya akan merasakan tentram.” Jasad [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://langitan.net/ngaji-al-hikam-lil-imam-abdullah-al-haddad-hikmah-ke-74-kekuatan-dzikir/">Ngaji Al-Hikam lil Imam Abdullah Al-Haddad. Hikmah ke-74, Kekuatan Dzikir </a> appeared first on <a href="https://langitan.net">Pondok Pesantren Langitan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><img loading="lazy" loading="lazy" decoding="async" class="alignnone size-large wp-image-223862 aligncenter" src="https://langitan.net/wp-content/uploads/2023/05/sekRAXVjFHohd-1024x576.jpg" alt="" width="1024" height="576" srcset="https://langitan.net/wp-content/uploads/2023/05/sekRAXVjFHohd-1024x576.jpg 1024w, https://langitan.net/wp-content/uploads/2023/05/sekRAXVjFHohd-300x169.jpg 300w, https://langitan.net/wp-content/uploads/2023/05/sekRAXVjFHohd-768x432.jpg 768w, https://langitan.net/wp-content/uploads/2023/05/sekRAXVjFHohd-1080x608.jpg 1080w, https://langitan.net/wp-content/uploads/2023/05/sekRAXVjFHohd.jpg 1280w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></p>
<p>Dikatakan oleh Al-Habib Abdullah Al-Haddad bahwa dzikir kepada Allah itu menjadi penarik hati. Dengan kekhususan hati, semua yang tidak dapat dilihat dengan mata, yaitu alam bawah sadar bisa dirasakan dengan hati. Kekuatan dzikir itu sangat besar sekali.</p>
<p>Allah Swt bersabda di dalam Al-Qur’an, “Orang yang mau berdzikir kepada Allah itu hatinya akan merasakan tentram.” Jasad apabila tidak diberi makan itu bisa mati. Begitupun dengan hati yang sama seperti jasad, membutuhkan asupan. Apabila tidak diberi makan bisa sakit, bila terus sakit dan tidak diobati bisa mati.</p>
<p>Apabila hati telah mati, akan susah bila menerima suatu nasihat, tidak mempunyai rasa kasihan terhadap manusia dan hewan. Sampai ada yang tega melawan orang tuanya sendiri. Semua itu terjadi akibat tidak pernah melafalkan dzikir.</p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<div class="et_pb_with_border et_pb_module et_pb_text et_pb_text_0_tb_body  et_pb_text_align_left et_pb_bg_layout_light">
<div class="et_pb_text_inner"><a href="https://langitan.net/ngaji-kitab-al-hikam-lil-imam-al-haddad-hikmah-ke-73-orang-baik-dengan-sikap-baiknya/"><span style="color: #008000;">Ngaji Kitab Al-Hikam lil Imam Al-Haddad. Hikmah Ke-73, Orang Baik dengan Sikap Baiknya</span></a></div>
</div>
<div class="et_pb_module et_pb_text et_pb_text_1_tb_body  et_pb_text_align_left et_pb_bg_layout_light"></div>
<p>Jika merasa susah dalam menghafalkan, kurangilah bercanda dan perbanyaklah dzikir kepada Allah. Dzikir yang paling baik itu dengan lisan dan dengan hati. Jika tidak dapat melakukan keduanya maka lebih utamakan dengan hati.</p>
<p>Dawuh Imam Ghazali, dzikir itu ada 4 tingkatan, pertama yaitu dzikir dengan lisan saja. Ini paling sedikit manfaatnya.</p>
<p>Kedua, dzikir dengan lisan dan juga hati, namun memaksakan.</p>
<p>Ketiga, dzikir dengan hati, namun secara penggunaan lisan akan mengikuti dengan sendirinya.</p>
<p>Yang keempat, dzikir dengan hati yang sudah dikuasai dengan lafal Allah. Orang yang dapat melakukan nomer empat ini adalah para wali Allah. Dengan mengabadikan dzikir dari Allah, maka akan mendapatkan cinta-Nya Allah Swt.</p>
<p>Penulis: Arsyad Nuruddin</p>
<p>Editor: Abdulloh Al-Faiq</p>
<p><iframe title="Hikmah ke 74  &amp; 75 - Pengajian Kitab Al Hikam Lil Imam Al Haddad | KH. Abdullah Habib Faqih" width="1080" height="608" src="https://www.youtube.com/embed/s1wmh1-SJOM?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" allowfullscreen></iframe></p>
<p>The post <a href="https://langitan.net/ngaji-al-hikam-lil-imam-abdullah-al-haddad-hikmah-ke-74-kekuatan-dzikir/">Ngaji Al-Hikam lil Imam Abdullah Al-Haddad. Hikmah ke-74, Kekuatan Dzikir </a> appeared first on <a href="https://langitan.net">Pondok Pesantren Langitan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://langitan.net/ngaji-al-hikam-lil-imam-abdullah-al-haddad-hikmah-ke-74-kekuatan-dzikir/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Ngaji Kitab Irsyadul Ibad: Hukum dan Pengertian Memutus Silaturahmi</title>
		<link>https://langitan.net/ngaji-kitab-irsyadul-ibad-hukum-dan-pengertian-memutus-silaturahmi/</link>
					<comments>https://langitan.net/ngaji-kitab-irsyadul-ibad-hukum-dan-pengertian-memutus-silaturahmi/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 12 Aug 2023 11:41:03 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Ngaji Sore]]></category>
		<category><![CDATA[hukum]]></category>
		<category><![CDATA[KH. Ubadillah Faqih]]></category>
		<category><![CDATA[Memutus]]></category>
		<category><![CDATA[Ngaji Irsyadul Ibad]]></category>
		<category><![CDATA[ngaji sore]]></category>
		<category><![CDATA[pengertian]]></category>
		<category><![CDATA[Silaturahmi]]></category>
		<category><![CDATA[tali silaturahmi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langitan.net/?p=224133</guid>

					<description><![CDATA[<p>Setelah membahas ancaman-ancaman bagi orang yang memutus tali silaturahmi, Syaikh Zainuddin Al-Malibari lalu membahas bagaimana hukum dan pengertian perilaku قاطع الرحم (memutus silaturahmi).Disebutkan dalam kitabnya, Irsyadul Ibad bahwa hukum قاطع الرحم (memutus silaturahmi) itu diharamkan. Hal ini mengikuti kesepakatan para ulama. قد نقل القرطبى فى تفسيره اتفاق الائمة على حرمة قطع الرحم  و وجوب صلاتها [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://langitan.net/ngaji-kitab-irsyadul-ibad-hukum-dan-pengertian-memutus-silaturahmi/">Ngaji Kitab Irsyadul Ibad: Hukum dan Pengertian Memutus Silaturahmi</a> appeared first on <a href="https://langitan.net">Pondok Pesantren Langitan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><img loading="lazy" loading="lazy" decoding="async" class="size-large wp-image-223890 aligncenter" src="https://langitan.net/wp-content/uploads/2023/06/WhatsApp-Image-2023-06-03-at-18.54.33-1024x576.jpeg" alt="" width="1024" height="576" srcset="https://langitan.net/wp-content/uploads/2023/06/WhatsApp-Image-2023-06-03-at-18.54.33-1024x576.jpeg 1024w, https://langitan.net/wp-content/uploads/2023/06/WhatsApp-Image-2023-06-03-at-18.54.33-300x169.jpeg 300w, https://langitan.net/wp-content/uploads/2023/06/WhatsApp-Image-2023-06-03-at-18.54.33-768x432.jpeg 768w, https://langitan.net/wp-content/uploads/2023/06/WhatsApp-Image-2023-06-03-at-18.54.33-1536x864.jpeg 1536w, https://langitan.net/wp-content/uploads/2023/06/WhatsApp-Image-2023-06-03-at-18.54.33-1080x608.jpeg 1080w, https://langitan.net/wp-content/uploads/2023/06/WhatsApp-Image-2023-06-03-at-18.54.33.jpeg 1600w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Setelah membahas ancaman-ancaman bagi orang yang memutus tali silaturahmi, Syaikh Zainuddin Al-Malibari lalu membahas bagaimana hukum dan pengertian perilaku قاطع الرحم (memutus silaturahmi).</span><span style="font-weight: 400;">Disebutkan dalam kitabnya, </span><i><span style="font-weight: 400;">Irsyadul Ibad </span></i><span style="font-weight: 400;">bahwa hukum قاطع الرحم (memutus silaturahmi) itu diharamkan. Hal ini mengikuti kesepakatan para ulama.</span></p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-weight: 400;">قد نقل القرطبى فى تفسيره اتفاق الائمة على حرمة قطع الرحم  و وجوب صلاتها</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Imam Qurthubi dalam kitab tafsirnya menukil kesepakatan ulama atas diharamkannya perilaku قاطع الرحم (memutus silaturahmi) dan hukumnya wajib untuk menyambungnya”.</span></p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<div class="et_pb_with_border et_pb_module et_pb_text et_pb_text_0_tb_body  et_pb_text_align_left et_pb_bg_layout_light">
<div class="et_pb_text_inner"><span style="color: #008000;"><a style="color: #008000;" href="https://langitan.net/ngaji-kitab-irsyadul-ibad-ancaman-bagi-seorang-yang-memutus-tali-silaturahmi/">Ngaji Kitab Irsyadul Ibad: Ancaman bagi Seorang yang Memutus Tali Silaturahmi</a></span></div>
</div>
<div class="et_pb_module et_pb_text et_pb_text_1_tb_body  et_pb_text_align_left et_pb_bg_layout_light"></div>
<p><strong>Pengertian Memutus Silaturahmi</strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Selain hukum, Syaikh Zainuddin juga menjelaskan pengertian قاطع الرحم (memutus silaturahmi). </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Menurut beliau قاطع الرحم adalah memutus kebiasaan seperti saling mengunjungi dan memberi di antara keluarga maupun kerabat, hal ini dilakukan tanpa adanya udzur syar’i.</span></p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-weight: 400;">والمراد بقطع الرحم قطع ما ألف القريب منه من سابق الوصلة والإحسان لغير عذر شرعي</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Yang dimaksud memutus silaturahmi adalah memutus sesuatu yang telah biasa di antara keluarga seperti saling menyambung dan berbuat baik tanpa adanya udzur syar’i”</span></p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<div class="et_pb_with_border et_pb_module et_pb_text et_pb_text_0_tb_body  et_pb_text_align_left et_pb_bg_layout_light">
<div class="et_pb_text_inner"><span style="color: #008000;"><a style="color: #008000;" href="https://langitan.net/ngaji-kitab-irsyadul-ibad-kisah-seorang-yang-disiksa-akibat-memutus-tali-silaturahmi/">Ngaji Kitab Irsyadul Ibad: Kisah Seorang yang Disiksa Akibat Memutus Tali Silaturahmi</a></span></div>
<div></div>
</div>
<p><span style="font-weight: 400;">Sementara itu, bila di antara keluarga tidak ada saling mengunjungi dan berbuat baik sejak lama, dan tanpa adanya tindakan buruk sebelumnya maka tidak dikatakan قاطع الرحم. </span></p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-weight: 400;">فلو كان لم يصل منه الى قريبه احسان ولا إساءة قط لم يفسق بذلك</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Jika di antara keluarga tidak ada saling mengunjungi dan berbuat baik tanpa adanya perbuatan buruk di antara mereka maka tidak dihukumi fasik perbuatan tersebut”</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kesimpulannya, قاطع الرحم itu memutus kebiasaan baik seperti saling memberi dan mengunjungi di antara keluarga maupun kerabat.</span></p>
<p>Penulis: Mahirur Riyadl</p>
<p>Editor: Abdulloh Al-Faiq</p>
<p><iframe title="Pengajian Kitab Irsyadul &#039;Ibad - KH. Ubaidillah Faqih | Pondok Pesantren Langitan" width="1080" height="608" src="https://www.youtube.com/embed/tXAcpv0jQXg?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" allowfullscreen></iframe></p>
<p>The post <a href="https://langitan.net/ngaji-kitab-irsyadul-ibad-hukum-dan-pengertian-memutus-silaturahmi/">Ngaji Kitab Irsyadul Ibad: Hukum dan Pengertian Memutus Silaturahmi</a> appeared first on <a href="https://langitan.net">Pondok Pesantren Langitan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://langitan.net/ngaji-kitab-irsyadul-ibad-hukum-dan-pengertian-memutus-silaturahmi/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Ngaji Kitab Irsyadul Ibad: Kisah Seorang yang Disiksa Akibat Memutus Tali Silaturahmi</title>
		<link>https://langitan.net/ngaji-kitab-irsyadul-ibad-kisah-seorang-yang-disiksa-akibat-memutus-tali-silaturahmi/</link>
					<comments>https://langitan.net/ngaji-kitab-irsyadul-ibad-kisah-seorang-yang-disiksa-akibat-memutus-tali-silaturahmi/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 06 Aug 2023 11:56:06 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Ngaji Sore]]></category>
		<category><![CDATA[kh. ubaidillah faqih]]></category>
		<category><![CDATA[kisah]]></category>
		<category><![CDATA[Kitab Irsyadul Ibad]]></category>
		<category><![CDATA[Ngaji Irsyadul Ibad]]></category>
		<category><![CDATA[ngaji kitab]]></category>
		<category><![CDATA[ngaji sore]]></category>
		<category><![CDATA[tali silaturahmi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langitan.net/?p=224119</guid>

					<description><![CDATA[<p>Pengajian kitab Irsyadul Ibad pada Senin, (31/7/23) membahas salah satu kisah yang terdapat dalam bab قاطع رحم (memutus tali silaturahmi). Kisah tersebut diceritakan oleh Imam Ibnu Hajar Al-Haitami, pakar fikih yang hidup di Makkah sekitaran abad 10 M. Kisah tersebut menceritakan seseorang yang diberi azab oleh Allah akibat memutus tali silaturahmi dengan salah satu saudaranya, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://langitan.net/ngaji-kitab-irsyadul-ibad-kisah-seorang-yang-disiksa-akibat-memutus-tali-silaturahmi/">Ngaji Kitab Irsyadul Ibad: Kisah Seorang yang Disiksa Akibat Memutus Tali Silaturahmi</a> appeared first on <a href="https://langitan.net">Pondok Pesantren Langitan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><img decoding="async" class="alignnone size-large wp-image-223890" src="https://langitan.net/wp-content/uploads/2023/06/WhatsApp-Image-2023-06-03-at-18.54.33-1024x576.jpeg" alt="" width="1024" height="576" srcset="https://langitan.net/wp-content/uploads/2023/06/WhatsApp-Image-2023-06-03-at-18.54.33-1024x576.jpeg 1024w, https://langitan.net/wp-content/uploads/2023/06/WhatsApp-Image-2023-06-03-at-18.54.33-300x169.jpeg 300w, https://langitan.net/wp-content/uploads/2023/06/WhatsApp-Image-2023-06-03-at-18.54.33-768x432.jpeg 768w, https://langitan.net/wp-content/uploads/2023/06/WhatsApp-Image-2023-06-03-at-18.54.33-1536x864.jpeg 1536w, https://langitan.net/wp-content/uploads/2023/06/WhatsApp-Image-2023-06-03-at-18.54.33-1080x608.jpeg 1080w, https://langitan.net/wp-content/uploads/2023/06/WhatsApp-Image-2023-06-03-at-18.54.33.jpeg 1600w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></p>
<p>Pengajian kitab Irsyadul Ibad pada Senin, (31/7/23) membahas salah satu kisah yang terdapat dalam bab قاطع رحم (memutus tali silaturahmi).</p>
<p>Kisah tersebut diceritakan oleh Imam Ibnu Hajar Al-Haitami, pakar fikih yang hidup di Makkah sekitaran abad 10 M. Kisah tersebut menceritakan seseorang yang diberi azab oleh Allah akibat memutus tali silaturahmi dengan salah satu saudaranya, berikut kisah tersebut:</p>
<p>Ada orang kaya yang pergi haji, (sebut saja namanya Zaid) sebelum berangkat, Zaid menitipkan hartanya yang berjumlah 1000 dinar kepada seseorang yang dianggap amanah dan bersifat baik, sebut saja namanya Amar.</p>
<p>Setelah Zaid melaksanakan ibadah haji, ia pun pergi ke Amar untuk mengambil uang yang dititipkan kepadanya. Tetapi naas, Amar telah meninggal dunia. Akhirnya Zahid pun menanyai keluarganya perihal harta tersebut, tetapi mereka juga tidak mengetahui apapun tentang itu.</p>
<p>Tidak kehabisan akal, Zaid pun pergi ke kota Makkah dengan niat mencari solusi atas masalahnya kepada salah satu ulama di sana, lalu ulama tersebut mengatakan,</p>
<p>“Pada pertengahan malam, pergilah ke sumur Zamzam, lalu panggillah nama Amar dalam sumur tersebut, bila ia termasuk Ahlu khair (orang yang baik), maka ia akan menjawab pangilanmu secara langsung.”</p>
<p>Lalu Zahid mengikuti solusi yang diberikan ulama tadi, ia pergi ke sumur Zamzam di pertengahan malam dan memanggil nama Amar di sana. Namun tidak ada suara apapun yang keluar dari sumur tersebut.</p>
<p>Akhirnya ia pun kembali kepada ulama tadi dan menceritakan hal yang dialaminya semalam, kemudian ulama tersebut berkata,</p>
<p>“Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un, aku takut bila temanmu itu termasuk ahli neraka. Pergilah ke tanah Yaman, carilah sumur yang bernama Barhut, sumur itu merupakan pintu neraka. Lakukanlah apa yang kuperintahkan saat di sumur Zamzam, yaitu panggillah nama Amar di sana.”</p>
<p>Kemudian, Zaid pun mengikuti perintah ulama tersebut, ia pergi ke Yaman dan mencari sumur yang bernama Barhut. Lalu pada pertengahan malam ia pergi ke sana dan memanggil nama temannya. Ajaibnya, setelah Zaid memanggil nama Amar di sana, tiba-tiba ada suara yang menjawab panggilan tersebut, yaitu suara Amar.</p>
<p>Mendengar suara Amar di sana, Zaid pun menanyakan keberadaan harta 1000 dinar yang dititipkan kepadanya, lalu Amar menjawab,</p>
<p>“Aku telah menguburnya dalam suatu tempat yang dekat dari rumahku. Hal ini kulakukan karena aku tidak percaya kepada keluargaku, apakah mereka bisa menjaganya atau tidak, maka pergilah pada mereka untuk bertanya perihal tempat tersebut dan galilah, maka kau akan menemukannya.”</p>
<p>Sebelum Zaid pergi mengambil hartanya, ia penasaran atas nasib temannya tadi, mengapa Amar masuk neraka padahal semasa hidupnya Amar merupakan orang yang baik. Lalu Zaid bertanya kepada Amar,</p>
<p>“Apa yang menyebabkan kau ditempatkan di sini, padahal aku mengira bahwa kau adalah orang yang baik?”</p>
<p>“Aku mempunyai saudara perempuan yang fakir, aku mendiamkannya dan tidak menyukainya, maka Allah memberi siksa atas perbuatanku tadi dan menempatkan aku di sini,” jawab Amar.</p>
<p>Kisah pun selesai sekaligus memberitahukan bahwa disiksanya Amar karena ia mendiamkan dan tidak menyukai saudarinya yang fakir tadi. Atau bisa disebut ia memutus tali silaturahmi pada saudarinya.</p>
<p>Imam Zainuddin Al-Malibari memberi komentar atas kisah ini, beliau mengatakan bahwa kisah ini membuktikan benarnya salah satu hadis nabi yang berbunyi,</p>
<p style="text-align: right;">لايدخل الجنة قاطع اي قاطع رحمه واقاربه</p>
<p>“Tidak akan masuk surga seorang yang memutus tali silaturahmi, yakni memutus tali silaturahmi atas keluarga dan kerabat-kerabatnya.”</p>
<p>Penulis: Mahirur Riyadl</p>
<p>Editor: Abdulloh Al-Faiq</p>
<p>The post <a href="https://langitan.net/ngaji-kitab-irsyadul-ibad-kisah-seorang-yang-disiksa-akibat-memutus-tali-silaturahmi/">Ngaji Kitab Irsyadul Ibad: Kisah Seorang yang Disiksa Akibat Memutus Tali Silaturahmi</a> appeared first on <a href="https://langitan.net">Pondok Pesantren Langitan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://langitan.net/ngaji-kitab-irsyadul-ibad-kisah-seorang-yang-disiksa-akibat-memutus-tali-silaturahmi/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Ngaji Kitab Al-Hikam lil Imam Al-Haddad. Hikmah Ke-73, Orang Baik dengan Sikap Baiknya</title>
		<link>https://langitan.net/ngaji-kitab-al-hikam-lil-imam-al-haddad-hikmah-ke-73-orang-baik-dengan-sikap-baiknya/</link>
					<comments>https://langitan.net/ngaji-kitab-al-hikam-lil-imam-al-haddad-hikmah-ke-73-orang-baik-dengan-sikap-baiknya/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 31 Jul 2023 06:55:40 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Ngaji Sore]]></category>
		<category><![CDATA[Hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[KH. Abdullah Habib Faqih]]></category>
		<category><![CDATA[Ngaji Hikam]]></category>
		<category><![CDATA[ngaji sore]]></category>
		<category><![CDATA[orang baik]]></category>
		<category><![CDATA[sikap baik]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langitan.net/?p=224105</guid>

					<description><![CDATA[<p>Seseorang itu pada dasarnya pasti bakal menghina apabila sedang dalam keadaan marah. Walaupun sebelumnya tidak ada yang perlu untuk dihina. Ia akan mencari celah seakan-akan ada dan pantas untuk ia hina. Ada sebuah ahli syi’ir menembangkan dua bait syi’irnya yang mempunyai makna bahwasanya, apabila teman mempunyai sifat yang jelek, seperti judes, jutek, dan sebagainya maka [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://langitan.net/ngaji-kitab-al-hikam-lil-imam-al-haddad-hikmah-ke-73-orang-baik-dengan-sikap-baiknya/">Ngaji Kitab Al-Hikam lil Imam Al-Haddad. Hikmah Ke-73, Orang Baik dengan Sikap Baiknya</a> appeared first on <a href="https://langitan.net">Pondok Pesantren Langitan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><img fetchpriority="high" fetchpriority="high" decoding="async" class="alignnone size-large wp-image-223862" src="https://langitan.net/wp-content/uploads/2023/05/sekRAXVjFHohd-1024x576.jpg" alt="" width="1024" height="576" srcset="https://langitan.net/wp-content/uploads/2023/05/sekRAXVjFHohd-1024x576.jpg 1024w, https://langitan.net/wp-content/uploads/2023/05/sekRAXVjFHohd-300x169.jpg 300w, https://langitan.net/wp-content/uploads/2023/05/sekRAXVjFHohd-768x432.jpg 768w, https://langitan.net/wp-content/uploads/2023/05/sekRAXVjFHohd-1080x608.jpg 1080w, https://langitan.net/wp-content/uploads/2023/05/sekRAXVjFHohd.jpg 1280w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></p>
<p>Seseorang itu pada dasarnya pasti bakal menghina apabila sedang dalam keadaan marah. Walaupun sebelumnya tidak ada yang perlu untuk dihina. Ia akan mencari celah seakan-akan ada dan pantas untuk ia hina.</p>
<p>Ada sebuah ahli syi’ir menembangkan dua bait syi’irnya yang mempunyai makna bahwasanya, apabila teman mempunyai sifat yang jelek, seperti judes, jutek, dan sebagainya maka jangan menirukan dan membalas kepada teman kita yang lain dengan sifat yang ada pada teman kita itu.</p>
<p>Apabila diberi sikap seperti itu, maka kita harus menyikapi dengan tanggapan yang baik, yang enak. Dengan cara menjadikan diri kita lebih baik dari sebelumnya. Jika kita bersikap tidak enak pada teman kita, maka resiko yang dialami juga akan bertambah, bisa jadi teman marah pada kita akibat sikap tidak enak yang kita berikan padanya.</p>
<p>Bersikap enak kepada teman kita juga akan memberikan suatu rasa harmoni yang lebih terjaga. Dengan itu hubungan pertemanan akan tampak solid. Dengan cara bersikap enak, maka teman kita akan nyaman dan bersikap enak juga kepada kita.</p>
<p>Namun kita juga harus berhati-hati apabila mendengar pujian teman kita setelah melakukan sikap enak kepadanya. Seperti contohnya, “Tidak ada orang tampan di dunia melebihi ketampananmu,” dan sebagainya. Pujian tersebut mengandung ancaman bahwasanya jika kita melakukan sikap tidak enak sekali saja kepadanya maka dia akan merubah sikap menjadi seseorang yang lebih tidak suka kepada kita dibandingkan teman yang lain.</p>
<p>Orang baik adalah orang yang mampu memperbaiki sikap tidak baik yang dilakukan kepadanya. Banyak orang yang mengatakan, bersikap baik kepada orang baik sangatlah mudah, namun bersikap baik dengan orang yang bersikap tidak baik sangatlah sulit.</p>
<p>Orang baik dapat menyambung suatu tali hubungan yang telah terputus akibat sikap yang dimilikinya. Seperti contoh memberikan sesuatu kepada orang yang walaupun orang tersebut tidak pernah memberikan apapun kepadanya.</p>
<p>Orang baik yang asli benar-benar mempunyai sikap yang baik, tidak akan memilih-milih untuk melakukan perbuatan baik. Tidak peduli walau toh orang yang ia hadapi berbuat tidak baik kepadanya. Tidak terombang-ambing sikap seseorang.</p>
<p>Penulis: Arsyad Nuruddin</p>
<p>Editor: Abdulloh Al-Faiq</p>
<p>Video: <span style="color: #000000;"><a style="color: #000000;" href="https://www.youtube.com/live/sPHOrIR35K0?feature=share">Hikmah ke 73 &#8211; Pengajian Kitab Al Hikam Lil Imam Al Haddad | KH. Abdullah Habib Faqih</a></span></p>
<p>The post <a href="https://langitan.net/ngaji-kitab-al-hikam-lil-imam-al-haddad-hikmah-ke-73-orang-baik-dengan-sikap-baiknya/">Ngaji Kitab Al-Hikam lil Imam Al-Haddad. Hikmah Ke-73, Orang Baik dengan Sikap Baiknya</a> appeared first on <a href="https://langitan.net">Pondok Pesantren Langitan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://langitan.net/ngaji-kitab-al-hikam-lil-imam-al-haddad-hikmah-ke-73-orang-baik-dengan-sikap-baiknya/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Ngaji Kitab Irsyadul Ibad: Ancaman bagi Seorang yang Memutus Tali Silaturahmi</title>
		<link>https://langitan.net/ngaji-kitab-irsyadul-ibad-ancaman-bagi-seorang-yang-memutus-tali-silaturahmi/</link>
					<comments>https://langitan.net/ngaji-kitab-irsyadul-ibad-ancaman-bagi-seorang-yang-memutus-tali-silaturahmi/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 30 Jul 2023 07:21:10 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Ngaji Sore]]></category>
		<category><![CDATA[ancaman]]></category>
		<category><![CDATA[kh. ubaidillah faqih]]></category>
		<category><![CDATA[Memutus]]></category>
		<category><![CDATA[Ngaji Irsyadul Ibad]]></category>
		<category><![CDATA[ngaji kitab]]></category>
		<category><![CDATA[ngaji sore]]></category>
		<category><![CDATA[Silaturahmi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langitan.net/?p=224099</guid>

					<description><![CDATA[<p>Memelihara tali silaturahmi merupakan suatu keharusan, bahkan menjadi suatu kewajiban yang harus dilakukan setiap muslim. KH. Ubaidillah Faqih, Majelis Masyayikh PP. Langitan saat mengajarkan kitab Irsyadul Ibad di Mushalla Agung pada Rabu, (26/7/2023) menerangkan akan diwajibkannya hal tersebut. Oleh sebab itu, barang siapa yang memutus tali silaturahmi maka akan berdosa. Lebih lanjut, Imam Zainuddin Al-Malibari [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://langitan.net/ngaji-kitab-irsyadul-ibad-ancaman-bagi-seorang-yang-memutus-tali-silaturahmi/">Ngaji Kitab Irsyadul Ibad: Ancaman bagi Seorang yang Memutus Tali Silaturahmi</a> appeared first on <a href="https://langitan.net">Pondok Pesantren Langitan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><img decoding="async" class="alignnone size-large wp-image-223890" src="https://langitan.net/wp-content/uploads/2023/06/WhatsApp-Image-2023-06-03-at-18.54.33-1024x576.jpeg" alt="" width="1024" height="576" srcset="https://langitan.net/wp-content/uploads/2023/06/WhatsApp-Image-2023-06-03-at-18.54.33-1024x576.jpeg 1024w, https://langitan.net/wp-content/uploads/2023/06/WhatsApp-Image-2023-06-03-at-18.54.33-300x169.jpeg 300w, https://langitan.net/wp-content/uploads/2023/06/WhatsApp-Image-2023-06-03-at-18.54.33-768x432.jpeg 768w, https://langitan.net/wp-content/uploads/2023/06/WhatsApp-Image-2023-06-03-at-18.54.33-1536x864.jpeg 1536w, https://langitan.net/wp-content/uploads/2023/06/WhatsApp-Image-2023-06-03-at-18.54.33-1080x608.jpeg 1080w, https://langitan.net/wp-content/uploads/2023/06/WhatsApp-Image-2023-06-03-at-18.54.33.jpeg 1600w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></p>
<p>Memelihara tali silaturahmi merupakan suatu keharusan, bahkan menjadi suatu kewajiban yang harus dilakukan setiap muslim.</p>
<p>KH. Ubaidillah Faqih, Majelis Masyayikh PP. Langitan saat mengajarkan kitab <em>Irsyadul Ibad</em> di Mushalla Agung pada Rabu, (26/7/2023) menerangkan akan diwajibkannya hal tersebut. Oleh sebab itu, barang siapa yang memutus tali silaturahmi maka akan berdosa.</p>
<p>Lebih lanjut, Imam Zainuddin Al-Malibari dalam <em>Irsyadul Ibad</em>, tepatnya pada bab &#8220;قاطع الرحم&#8221; menyebutkan ancaman-ancaman bagi orang yang memutus tali silaturahmi. Pertama, beliau mengutip penggalan ayat ke-1 dari surat An-Nisa:</p>
<p style="text-align: right;">وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ٱلَّذِى تَسَآءَلُونَ بِهِۦ وَٱلْأَرْحَامَ ۚ</p>
<p><em>“Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim.”</em></p>
<p>Ayat di atas, sesuai keterangan KH. Ubaidillah Faqih, mempunyai makna suatu perintah takwa kepada Allah sebagai dzat yang namanya digunakan manusia untuk meminta. Seperti ketika seseorang bersumpah, maka ia akan menggunakan nama Allah untuk bersumpah supaya ia bisa mendapatkan apa yang ia inginkan dari orang lain.</p>
<p>Selain itu, ayat di atas juga memuat perintah untuk memelihara tali silaturahmi kepada sanak saudara. Sanak saudara yang dimaksud adalah keluarga seperti ayah-ibu, sesama saudara kandung maupun jauh (sepupu), paman-bibi, kakek dan nenek.</p>
<p>Kemudian, Imam Zainuddin juga mengutip ayat ke-25 dari surat Ar-Ra’d:</p>
<p style="text-align: right;">وَالَّذِيْنَ يَنْقُضُوْنَ عَهْدَ اللّٰهِ مِنْ ۢ بَعْدِ مِيْثَاقِهٖ وَيَقْطَعُوْنَ مَآ اَمَرَ اللّٰهُ بِهٖٓ اَنْ يُّوْصَلَ وَيُفْسِدُوْنَ فِى الْاَرْضِۙ اُولٰۤىِٕكَ لَهُمُ اللَّعْنَةُ وَلَهُمْ سُوْۤءُ الدَّارِ</p>
<p><em>“Orang-orang yang melanggar perjanjian (dengan) Allah setelah diteguhkan, memutuskan apa yang diperintahkan Allah untuk disambungkan (seperti silaturahmi), dan berbuat kerusakan di bumi; mereka itulah orang-orang yang mendapat laknat dan bagi mereka tempat kediaman yang buruk (Jahanam).”</em></p>
<p>Ayat ini menjelaskan tentang orang-orang yang melanggar perjanjian dengan Allah Swt, yaitu mereka yang telah berjanji mengakui ke-Maha Esa-an Allah dan beriman kepadanya, tetapi malah melanggar apa yang diperintahkan, seperti memutus tali silaturahmi dan berbuat kerusakan di bumi. Orang-orang ini akan dilaknat dan mendapat سُوْۤءُ الدَّار <em>(tempat akhir yang buruk)</em>, yakni neraka! <em>Wal ‘iyadzu billah.</em></p>
<p>Selain ayat Al-Qur’an, Imam Zainuddin juga menyebutkan beberapa hadis yang memberikan ancaman bagi orang yang memutus tali silaturahmi. Di antaranya adalah:</p>
<ol>
<li><strong>Orang yang Memutus Tali Silaturahmi Tidak akan Masuk Surga</strong></li>
</ol>
<p style="text-align: right;">وهما لا يدخل الجنة قاطع اي قاطع الرحم</p>
<p>Diriwayatkan dari Imam Bukhari dan Muslim, <em>“Tidak akan masuk surga seseorang yang memutus tali silaturahmi.”</em></p>
<ol start="2">
<li><strong>Memutus Tali Silaturahmi Termasuk Dosa yang Disegerakan Siksanya</strong></li>
</ol>
<p style="text-align: right;">والترمذي وابن ماجه عن ابى بكر رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ما من ذنب اجدر اي احق من ان يعجل الله لصاحبه العقوبة فى الدنيا مع ما يدخر له فى الاخرة من البغي وقطيعة الرحم</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Imam Tirmidzi dan Imam Ibnu Majah mengeluarkan hadis yang diriwayatkan oleh sahabat Abu Bakar Ash-Shiddiq ra. Beliau berkata, <em>“Bahwa Rasulullah saw bersabda, tidak ada dosa yang lebih nyata disegerakan siksanya bagi orang yang memiliki dosa tersebut di dunia dan akhirat, kecuali dari dosa orang yang zalim dan memutus tali silaturahmi.”</em></p>
<ol start="3">
<li><strong>Tidak Diterimanya Amal Baik Seseorang yang Memutus Tali Silaturahmi</strong></li>
</ol>
<p style="text-align: right;">واحمد ان اعمال بنى ادم تعرض كل خميس وليلة جمعة فلا يقبل عمل قاطع الرحم</p>
<p>Imam Ahmad mengeluarkan hadis, <em>“Sesungguhnya amal-amal bani Adam (manusia) itu disodorkan setiap hari Kamis dan di malam hari Jumat, tidak diterima amal seseorang yang memutus tali silaturahmi.” Waallahu a’lamu bi ash-showab.</em></p>
<p>Penulis: Mahirur Riyadl</p>
<p>Editor: Abdulloh Al-Faiq</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><iframe title="Pengajian Kitab Irsyadul &#039;Ibad - KH. Ubaidillah Faqih | Pondok Pesantren Langitan" width="1080" height="608" src="https://www.youtube.com/embed/cGmQw1jBWCI?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" allowfullscreen></iframe></p>
<p>The post <a href="https://langitan.net/ngaji-kitab-irsyadul-ibad-ancaman-bagi-seorang-yang-memutus-tali-silaturahmi/">Ngaji Kitab Irsyadul Ibad: Ancaman bagi Seorang yang Memutus Tali Silaturahmi</a> appeared first on <a href="https://langitan.net">Pondok Pesantren Langitan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://langitan.net/ngaji-kitab-irsyadul-ibad-ancaman-bagi-seorang-yang-memutus-tali-silaturahmi/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
