<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Ngaji Masyayikh Archives - Pondok Pesantren Langitan</title>
	<atom:link href="https://langitan.net/category/ngaji-masyayikh/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://langitan.net/category/ngaji-masyayikh/</link>
	<description>Widang, Tuban, Jawa Timur</description>
	<lastBuildDate>Sat, 16 Dec 2023 16:03:26 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.1.3</generator>

<image>
	<url>https://langitan.net/wp-content/uploads/2020/03/cropped-logo-langitan-net-32x32.png</url>
	<title>Ngaji Masyayikh Archives - Pondok Pesantren Langitan</title>
	<link>https://langitan.net/category/ngaji-masyayikh/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Ngaji Al-Hikam lil Imam Al-Haddad Hikmah ke-90: Perbedaan Orang Muslim Sejati dan Orang Munafik</title>
		<link>https://langitan.net/ngaji-al-hikam-lil-imam-al-haddad-hikmah-ke-90-perbedaan-orang-muslim-sejati-dan-orang-munafik/</link>
					<comments>https://langitan.net/ngaji-al-hikam-lil-imam-al-haddad-hikmah-ke-90-perbedaan-orang-muslim-sejati-dan-orang-munafik/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 16 Dec 2023 16:02:06 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Ngaji Masyayikh]]></category>
		<category><![CDATA[Hikmah ke-90]]></category>
		<category><![CDATA[KH. Abdullah Habib Faqih]]></category>
		<category><![CDATA[Ngaji Hikam]]></category>
		<category><![CDATA[Orang Munafik]]></category>
		<category><![CDATA[Orang Muslim Sejati]]></category>
		<category><![CDATA[Perbedaan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langitan.net/?p=224477</guid>

					<description><![CDATA[<p>Pengajian kitab Hikam kali ini membahas sifat orang muslim sejati dan sifat orang yang munafik. Dalam Hikmah yang ke-90, Al-Habib Abdullah bin Alawi bin Muhammad Al-Haddad berkata: المؤمن يتجوز في العادات ولا يتجوز في العبادات والمنافق يتجوز في العبادات ولا يتجوز في العادات “Orang mukmin akan menggampangkan kebiasaannya dan tidak menggampangkan dalam ibadah. Sedangkan orang [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://langitan.net/ngaji-al-hikam-lil-imam-al-haddad-hikmah-ke-90-perbedaan-orang-muslim-sejati-dan-orang-munafik/">Ngaji Al-Hikam lil Imam Al-Haddad Hikmah ke-90: Perbedaan Orang Muslim Sejati dan Orang Munafik</a> appeared first on <a href="https://langitan.net">Pondok Pesantren Langitan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><img fetchpriority="high" fetchpriority="high" decoding="async" class="alignnone size-large wp-image-223862" src="https://langitan.net/wp-content/uploads/2023/05/sekRAXVjFHohd-1024x576.jpg" alt="" width="1024" height="576" srcset="https://langitan.net/wp-content/uploads/2023/05/sekRAXVjFHohd-1024x576.jpg 1024w, https://langitan.net/wp-content/uploads/2023/05/sekRAXVjFHohd-300x169.jpg 300w, https://langitan.net/wp-content/uploads/2023/05/sekRAXVjFHohd-768x432.jpg 768w, https://langitan.net/wp-content/uploads/2023/05/sekRAXVjFHohd-1080x608.jpg 1080w, https://langitan.net/wp-content/uploads/2023/05/sekRAXVjFHohd.jpg 1280w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></p>
<p>Pengajian kitab <em>Hikam </em>kali ini membahas sifat orang muslim sejati dan sifat orang yang munafik. Dalam Hikmah yang ke-90, Al-Habib Abdullah bin Alawi bin Muhammad Al-Haddad berkata:</p>
<p style="text-align: right;">المؤمن يتجوز في العادات ولا يتجوز في العبادات والمنافق يتجوز في العبادات ولا يتجوز في العادات</p>
<p>“Orang mukmin akan menggampangkan kebiasaannya dan tidak menggampangkan dalam ibadah. Sedangkan orang munafik menggampangkan urusan ibadahnya dan serius dalam adat kebiasaan.&#8221;</p>
<p>KH. Abdullah Habib Faqih saat pengajian kitab <em>Al-Hikam</em> pada Sabtu, (18/11/2023) menerangkan bahwa hikmah di atas menunjukkan sifat seorang muslim sejati, di mana mereka adalah orang-orang yang membuat mudah masalah di luar ibadah, dan serius dalam urusan ibadah. Berbeda dengan orang munafik yang bersifat sebaliknya, yaitu menggampangkan urusan ibadah dan serius dalam urusan selainnya.</p>
<p>“Hikmah ini menerangkan tentang karakternya orang mukmin. Orang mukmin itu, di dalam masalah kebiasaan (luar ibadah) itu <em>gampangan </em>(dibuat mudah), tetapi dalam masalah ibadah itu diseriusi, tidak dibuat mudah,” tutur KH. Abdullah Habib Faqih.</p>
<p>Sebaliknya, orang munafik, lanjut beliau, di dalam urusan ibadah <em>gegampang </em>(menggampangkan) atau seenaknya sendiri, tetapi di dalam masalah kebiasaan (luar ibadah) atau masalah adat, itu diseriusi dan bersungguh-sungguh. Ini bedanya orang mukmin dan orang munafik.</p>
<p>Maksud dari  في العادات (kebiasaan) di sini adalah kebiasaan di dalam kehidupan, seperti makan, minum, beraktivitas, dan kebiasaan-kebiasaan sehari-hari.</p>
<p>Sedangkan maksud dari ولا يتجوز في العبادات (tidak memudahkan masalah ibadah) adalah orang mukmin itu ketika mau beribadah, ia akan melakukan ibadah tersebut dengan sungguh-sungguh, ia tidak mau melakukannya dengan apa adanya, dan tidak mau yang biasa-biasa dalam hal tersebut, harus serius.</p>
<p>“Orang mukmin dalam masalah kebiasaan itu sederhana, tetapi ketika dalam urusan ibadah, ia tidak mau sederhana, tidak mau apa adanya, tidak mau yang biasa-biasa, dia musti melakukan dengan yang terbaik,” terang beliau.</p>
<p>Seperti ketika mau melaksanakan shalat wajib, lanjut beliau, ia tidak hanya melakukan shalat secara biasa-biasa saja, tetapi ia akan melakukan ibadah tersebut dengan terbaik, bahkan sebelumnya ia akan mengawalinya dengan shalat sunnah dulu, dan shalatnya tersebut tidak langsung melakukan takbir, tapi ia bersiwak dahulu. Juga dalam berniat, ia akan menatanya dengan benar, ia juga mengusahakan saat menjadi makmum, tidak sampai terlambat dari takbiratulihramnya imam. Serta dalam shalat ia selalu berusaha khusyuk. Dan inilah karakter sesungguhnya dari seorang mukmin.</p>
<p>Hikmah di atas, juga bisa dijadikan acuan dalam bermuhasabah (introspeksi pribadi) apakah kita sudah menjadi orang mukmin sejati atau sebaliknya, orang munafik. Lebih jelasnya, ketika dalam urusan akhirat, kita memberikan yang terbaik, maka kita adalah orang mukmin sejati, tetapi jika kita tidak memberikan yang terbaik, artinya seenaknya saja, maka kita adalah orang yang munafik. <em>Wallahu a’lamu.</em></p>
<p>Penulis: Akhmad Nur Ilmi<br />
Editor: Abdullah AlFaiq</p>
<h1 class="style-scope ytd-watch-metadata">VIDEO TERKAIT: HIKMAH KE 89 &amp; 90 – PENGAJIAN KITAB AL HIKAM LIL IMAM AL HADDAD | KH. ABDULLAH HABIB FAQIH</h1>
<p><iframe title="Hikmah ke 89 &amp; 90 - Pengajian Kitab Al Hikam Lil Imam Al Haddad | KH. Abdullah Habib Faqih" width="1080" height="608" src="https://www.youtube.com/embed/v-qnbD7XL1Y?start=1939&#038;feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" allowfullscreen></iframe></p>
<p>The post <a href="https://langitan.net/ngaji-al-hikam-lil-imam-al-haddad-hikmah-ke-90-perbedaan-orang-muslim-sejati-dan-orang-munafik/">Ngaji Al-Hikam lil Imam Al-Haddad Hikmah ke-90: Perbedaan Orang Muslim Sejati dan Orang Munafik</a> appeared first on <a href="https://langitan.net">Pondok Pesantren Langitan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://langitan.net/ngaji-al-hikam-lil-imam-al-haddad-hikmah-ke-90-perbedaan-orang-muslim-sejati-dan-orang-munafik/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Ngaji Jami’u As-Saghir: Keutamaan Shaf Pertama Menurut Hadits</title>
		<link>https://langitan.net/ngaji-jamiu-as-saghir-keutamaan-shaf-pertama-menurut-hadits/</link>
					<comments>https://langitan.net/ngaji-jamiu-as-saghir-keutamaan-shaf-pertama-menurut-hadits/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 16 Dec 2023 14:12:08 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Ngaji Masyayikh]]></category>
		<category><![CDATA[hadits]]></category>
		<category><![CDATA[hadits rasulullah]]></category>
		<category><![CDATA[Keutamaan Shaf Pertama]]></category>
		<category><![CDATA[KH. Abdullah Habib Faqih]]></category>
		<category><![CDATA[kitab jami'us shagir]]></category>
		<category><![CDATA[Ngaji Jami’u As-Saghir]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langitan.net/?p=224474</guid>

					<description><![CDATA[<p>Melakukan shalat wajib secara berjamaah merupakan salah satu sunnah yang sangat dianjurkan di dalam Islam, Rasulullah saw dalam hadits yang dikeluarkan Imam Bukhari bersabda, صَلاَةُ الْجَمَاعَةِ أَفْضَلُ مِنْ صَلاَةِ الْفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِينَ دَرَجَةً Artinya: &#8220;Shalat jamaah lebih baik 27 derajat dibanding shalat sendirian.&#8221; (HR Bukhari) Hadits di atas menunjukkan keutamaan melakukan shalat wajib secara berjamaah, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://langitan.net/ngaji-jamiu-as-saghir-keutamaan-shaf-pertama-menurut-hadits/">Ngaji Jami’u As-Saghir: Keutamaan Shaf Pertama Menurut Hadits</a> appeared first on <a href="https://langitan.net">Pondok Pesantren Langitan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><img decoding="async" class="alignnone size-large wp-image-224475" src="https://langitan.net/wp-content/uploads/2023/12/WhatsApp-Image-2023-12-16-at-20.55.09-1024x682.jpeg" alt="" width="1024" height="682" srcset="https://langitan.net/wp-content/uploads/2023/12/WhatsApp-Image-2023-12-16-at-20.55.09-1024x682.jpeg 1024w, https://langitan.net/wp-content/uploads/2023/12/WhatsApp-Image-2023-12-16-at-20.55.09-300x200.jpeg 300w, https://langitan.net/wp-content/uploads/2023/12/WhatsApp-Image-2023-12-16-at-20.55.09-768x512.jpeg 768w, https://langitan.net/wp-content/uploads/2023/12/WhatsApp-Image-2023-12-16-at-20.55.09-1080x720.jpeg 1080w, https://langitan.net/wp-content/uploads/2023/12/WhatsApp-Image-2023-12-16-at-20.55.09.jpeg 1517w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></p>
<p>Melakukan shalat wajib secara berjamaah merupakan salah satu sunnah yang sangat dianjurkan di dalam Islam, Rasulullah saw dalam hadits yang dikeluarkan Imam Bukhari bersabda,</p>
<p style="text-align: right;">صَلاَةُ الْجَمَاعَةِ أَفْضَلُ مِنْ صَلاَةِ الْفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِينَ دَرَجَةً</p>
<p>Artinya: &#8220;Shalat jamaah lebih baik 27 derajat dibanding shalat sendirian.&#8221; (HR Bukhari)</p>
<p>Hadits di atas menunjukkan keutamaan melakukan shalat wajib secara berjamaah, bahkan disebutkan bahwa derajatnya orang yang shalat berjamaah itu lebih besar daripada orang yang shalat secara sendirian, yakni mendapatkan 27 derajat.</p>
<p>Tidak hanya keutamaan shalat berjamaah, umat Islam yang berada dalam shaf pertama dalam jamaah juga mendapatkan keutamaan tersendiri. Dalam kitab <em>Jami’us Shagir, </em>Imam Jalaluddin As-Suyuti menyebutkan beberapa hadits yang menerangkan keutamaan orang yang berada dalam shaf pertama saat berjamaah. Salah satunya adalah hadits yang dikeluarkan Imam Ibnu Hibban, bahwa Rasulullah saw bersabda,</p>
<p style="text-align: right;">إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى الصُّفُوْفِ اْلأُوَلِ</p>
<p>&#8220;Sesungguhnya para malaikat memberikan shalawat kepada orang-orang yang berada di shaf pertama.&#8221; (HR Ibnu Hibban).</p>
<p>Hadits tersebut menunjukkan keutamaan orang yang berada dalam shaf pertama saat berjamaah, yaitu para malaikat akan memberinya shalawat.</p>
<p>Ada riwayat lain yang menyebutkan bahwa seandainya keutamaan shalat berjamaah di shaf awal diketahui, maka orang-orang akan memperebutkannya. Rasulullah saw bersabda,</p>
<p style="text-align: right;">لَوْ يَعْلَمُ النَّاسُ مَا فِي النِّدَاءِ وَالصَّفِّ الأَوَّلِ ، ثُمَّ لَمْ يَجِدُوا إلاَّ أنْ يَسْتَهِمُوا عَلَيْهِ لَاسْتَهَمُوا</p>
<p>Artinya: &#8220;Seandainya manusia mengetahui keutamaan yang terdapat pada adzan dan shaf pertama, kemudian mereka tidaklah akan medapatkannya kecuali dengan diundi, niscaya pasti mereka akan mengundinya.&#8221; (HR. Muslim).</p>
<p>Karena itu, hendaknya setiap makmum dianjurkan agar senantiasa berusaha menempati shaf pertama, dan tidaklah menempati shaf-shaf lain sebelum shaf pertama terpenuhi.</p>
<p><strong>Anjuran Meluruskan dan Merapatkan Shaf</strong></p>
<p>Hal yang juga mendapat perhatian dalam mendirikan shalat berjamaah, adalah meluruskan shaf dan merapatkannya. Rasulullah saw sangat tegas dalam menekankan hal ini. Dalam riwayat yang disebutkan oleh An-Nu&#8217;am bin Basyir ra, Rasulullah saw bersabda,</p>
<p style="text-align: right;">لَتُسَوُّنَّ صُفُوْفَكُمْ أَوْ لَيُخَالِفَنَّ اللهُ بَيْنَ وُجُوْهِكُمْ</p>
<p>&#8220;Hendaklah kalian benar-benar meluruskan shaf kalian atau biarlah Allah benar-benar memperselisihkan di antara muka kalian.&#8221; (HR. Bukhari dan Muslim).</p>
<p>Oleh karena itu, para imam yang memimpin shalat berjamaah hendaknya mengontrol dan memerintahkan kepada makmunya untuk mengatur shaf agar lurus dan rapat sebelum mendirikan shalat jamaah. Wallahua’lamu.</p>
<p>Penulis: Haikal</p>
<p>Editor: Abdullah Al-Faiq</p>
<p>*Pengajian kitab <em>Jami’u As-Shagir </em>merupakan pengajian yang diselenggarakan di Musala Agung pada pagi hari usai shalat berjamaah Subuh di PP. Langitan. Pengajian ini diampu oleh KH. Abdullah Habib Faqih, Majelis Masyayikh PP. Langitan.</p>
<p>The post <a href="https://langitan.net/ngaji-jamiu-as-saghir-keutamaan-shaf-pertama-menurut-hadits/">Ngaji Jami’u As-Saghir: Keutamaan Shaf Pertama Menurut Hadits</a> appeared first on <a href="https://langitan.net">Pondok Pesantren Langitan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://langitan.net/ngaji-jamiu-as-saghir-keutamaan-shaf-pertama-menurut-hadits/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
