<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>romadhon Archives - Pondok Pesantren Langitan</title>
	<atom:link href="https://langitan.net/tag/romadhon/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://langitan.net/tag/romadhon/</link>
	<description>Widang, Tuban, Jawa Timur</description>
	<lastBuildDate>Tue, 28 Nov 2017 19:27:25 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.0</generator>

<image>
	<url>https://langitan.net/wp-content/uploads/2020/03/cropped-logo-langitan-net-32x32.png</url>
	<title>romadhon Archives - Pondok Pesantren Langitan</title>
	<link>https://langitan.net/tag/romadhon/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Sejarah, Hukum dan Praktik Tarawih</title>
		<link>https://langitan.net/sejarah-hukum-dan-praktik-tarawih/</link>
					<comments>https://langitan.net/sejarah-hukum-dan-praktik-tarawih/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 18 Sep 2013 16:50:32 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Masalah Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[dalil sholat tarawih]]></category>
		<category><![CDATA[dalil sholat witir]]></category>
		<category><![CDATA[hukum sholat]]></category>
		<category><![CDATA[hukum tarawih]]></category>
		<category><![CDATA[hukumsholat witir]]></category>
		<category><![CDATA[romadhon]]></category>
		<category><![CDATA[sholat tarawih]]></category>
		<category><![CDATA[sholat witir]]></category>
		<category><![CDATA[tatacara sholat tarawih]]></category>
		<category><![CDATA[tatacara sholat witir]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langitan.net/?p=1910</guid>

					<description><![CDATA[<p>Shalat tarawih adalah bagian dari pada Qiyamu Ramadlan. Karena itu, mari kita lakukan ibadah shalat tarawih dengan sungguh-sungguh dan memperhatikannya serta mengharapkan pahala dan balasan dari Allah swt, Karena Malam Ramadlan adalah kesempatan yang terbatas bilangannya dan orang mukmin yang berakal akan memanfaatkannya dengan baik tanpa ada yang terlewatkan.Jangan sampai kalian meninggalkan shalat tarawih, jika [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://langitan.net/sejarah-hukum-dan-praktik-tarawih/">Sejarah, Hukum dan Praktik Tarawih</a> appeared first on <a href="https://langitan.net">Pondok Pesantren Langitan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Shalat tarawih adalah bagian dari pada Qiyamu Ramadlan. Karena itu, mari kita lakukan ibadah shalat tarawih dengan sungguh-sungguh dan memperhatikannya serta mengharapkan pahala dan balasan dari Allah swt, Karena Malam Ramadlan adalah kesempatan yang terbatas bilangannya dan orang mukmin yang berakal akan memanfaatkannya dengan baik tanpa ada yang terlewatkan.Jangan sampai kalian meninggalkan shalat tarawih, jika ingin memperoleh pahala shalat tarawih. Dan jangan pula kembali dari shalat tarawih sebelum imam selesai darinya dan dari shalat witir, agar mendapatkan pahala shalat semalam suntuk. Hal ini didasarkan pada sabda Nabi SAW: “Barangsiapa mendirikan shalat malam bersama imam sehingga selesai, dicatat baginya shalat semalam suntuk.&#8221; (HR. Sunan, dengan sanad shahih).</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Hukum Shalat Tarawih</strong><br />
Shalat tarawih adalah shalat yang dilakukan khusus pada malam bulan Ramadlan yang dilaksanakan setelah shalat Isya&#8217; dan sebelum sholat witir.</p>
<p style="text-align: justify;">Hukum melaksanakan shalat tarawih adalah sunnah bagi kaum laki-laki dan kaum hawa (perempuan), karena tarawih telah dianjurkan beliau Nabi Muhammad saw kepada ummatnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Shalat tarawih merupakan salah satu syi&#8217;ar dibulan Ramadlan yang penuh berkah, keagungan dan keutamaan disisi Allah swt. Sebagaimana termaktub dalam Hadist Nabi:</p>
<p style="text-align: justify;">Artinya: Dari Abi Hurairah ra: sesungguhnya Rasulullah SAW telah bersabda; “Barang siapa yang melakukan ibadah (shalat tarawih) di bulan Ramadlan hanya karena iman dan mengharapkan ridlo dari Allah, maka baginya diampuni dosa-dosanya yang telah lewat.&#8221; (HR. Bukhari dan Muslim).<br />
Dan sabda Rasulullah SAW : “Dari Abi Hurairah ra. Rasulullah SAW menggemarkan shalat pada bulan Ramadlan dengan anjuran yang tidak keras. Beliau berkata: “Barang siapa yang melakukan ibadah (shalat tarawih) di bulan Ramadlan hanya karena iman dan mengharapkan ridla dari Allah, maka baginya di ampuni dosa-dosanya yang telah lewat.&#8221; (HR: Muslim).</p>
<p style="text-align: justify;">Maksud kata “<em>Qoma Ramadlan</em> dalam hadist di atas adalah melaksanakan ibadah untuk menghidupkan malamnya bulan Ramadlan dengan cara melaksanakan shalat tarawih, dzikir, membaca al-Qur&#8217;an dan ibadah-ibadah sunnah lainnya sebagaimana yang dianjurkan beliau Nabi SAW. Dan orang-orang yang melakukannya dengan didasari iman dan mengharapkan keridlo&#8217;an Allah, maka Allah swt akan mengampuni dosa-dosa kecilnya yang telah lewat.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Sejarah Shalat Tarawih</strong><br />
Shalat tarawih adalah shalat yang dilakukan hanya pada bulan Ramadlan, dan shalat tarawih ini dikerjakan beliau Nabi pada tanggal 23 Ramadlan tahun kedua hijriyyah, namun pada masa itu beliau Nabi mengerjakan shalat tarawih tidak di masjid terus menerus, kadang di masjid, kadang mengerjakannya di rumah. Sebagaimana dalam Hadist yang diriwayatkan dari Siti &#8216;Aisyah Ummil Mu&#8217;minin ra. sesungguhnya Rasulullah SAW pada suatu malam hari sholat di masjid, lalu banyak orang sholat mengikuti beliau, beliau sholat dan pengikut bertambah ramai (banyak) pada hari ke-Tiga dan ke-empat orang-orang banyak berkumpul menunggu beliau Nabi, tetapi Nabi tidak keluar (tidak datang) ke masjid lagi. Ketika pagi-pagi, Nabi bersabda: “sesungguhnya aku lihat apa yang kalian perbuat tadi malam. Tapi aku tidak datang ke masjid karena aku takut sekali kalau sholat ini diwajibkan pada kalian. Siti &#8216;Aisyah berkata: “hal itu terjadi pada bulan Ramadlan.&#8221; (HR. Bukhari dan Muslim).</p>
<p style="text-align: justify;">Hadist ini menerangkan bahwa Nabi Muhammad SAW memang pernah melaksanakan sholat tarawih, pada malam hari yang ke-dua beliau datang lagi mengerjakan sholat dan pengikutnya tambah banyak. Pada malam yang ketiga dan ke-empat Nabi tidak datang ke masjid, dengan alasan bahwa beliau takut sholat tarawih itu akan diwajibkan Allah, karena pengikutnya sangat antusias dan bertambah banyak, sehingga hal ini ada kemungkinan beliau berfikir, Allah sewaktu-waktu akan menurunkan wahyu mewajibkan sholat tarawih kepada ummatnya, karena orang-orang Muslimin sangat suka mengerjakannya. Jika hal ini terjadi tentulah akan menjadi berat bagi ummatnya. Atau akan memberikan dugaan kepada ummatnya, bahwa sholat tarawih telah diwajibkan, karena sholat tarawih adalah perbuatan baik yang selalu dikerjakan beliau Nabi, sehingga ummatnya akan menduga sholat tarawih adalah wajib. Hal ini sebagaimana keterangan : &#8220;Sesungguhnya Nabi ketika menekuni sesuatu dari amal kebaikan dan diikuti ummatnya, maka perkara tersebut telah diwajibkan atas ummatnya.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Langkah bijaksana dan sangat sayangnya beliau Nabi saw kepada ummatnya. Pada hadist di atas dapat ditarik kesimpulan:<br />
1) Nabi melaksanakan shalat tarawih berjama&#8217;ah di Masjid hanya dua malam. Dan beliau tidak hadir melaksanakan shalat tarawih bersama-sama di masjid karena takut atau khawatir shalat tarawih akan diwajibkan kepada ummatnya.<br />
2) Shalat tarawih hukumnya adalah sunnah, karena sangat digemari oleh rasulullah dan beliau mengajak orang-orang untuk mengerjakannya.<br />
3) Dalam hadist di atas tidak ada penyebutan bilangan roka&#8217;at dan ketentuan roka&#8217;at shalat Tarawih secara rinci.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Jumlah Roka&#8217;at Shalat Tarawih Pada Masa Sahabat Abu Bakar Dan Umar Ra.</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Shalat tarawih adalah bagian dari shalat sunnah Al-Mu&#8217;akkadadah (sholat sunnah yang sangat disunnahkan). sedangkan roka&#8217;at shalat tarawih adalah 20 roka&#8217;at tanpa witir, sebagaimana yang telah dikerjakan sahabat Umar dan mayoritas sahabat lainnya yang sudah disepakati oleh umatnya, baik ulama&#8217; salaf atau ulama&#8217; kholaf mulai masa sahabat Umar sampai sekarang ini, bahkan ini sudah menjadi ijma&#8217; sahabat dan semua ulama&#8217; madzhab, Syafi&#8217;I, Hanafi, Hanbali dan mayoritas Madzhab Maliki, karena dalam Madzhab Maliki ini masih ada khilaf, seperti hadist yang diriwayatkan dari Imam Malik bin Anas ra, Imam darul Hijroh Madinah yang berpendapat bahwa shalat tarawih itu lebih dari 20 roka&#8217;at sampai 36 roka&#8217;at. Adapun hadist Malik bin Anas adalah sebagaimana berikut: Beliau berkata; &#8216;“Saya dapati orang-orang melakukan ibadah malam di bulan Ramadlan yakni shalat tarawih dengan tiga puluh sembilan rokaat yang tiga adalah sholat Witir.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan Imam Malik sendiri memilih 8 rokaat namun secara mayorits Malikiyyah yaitu sesuai dengan pendapat mayoritas Syafi&#8217;iyyah, Hanabilah dan Hanafiyyah yang telah sepakat bahwa shalat tarawih adalah 20 roka&#8217;at, hal ini merupakan pendapat yang lebih kuat dan sempurna ijma&#8217;nya.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Shalat Tarawih Pada Masa Sahabat Abu Bakar Ra.</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Shalat tarawih Pada masa Kholifah Abu Bakar ra. Umat Islam melaksanakan shalat sendiri-sendirian atau berkelompok ada 3 ada 4 dan ada yang 6 orang.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada masa kholifah Abu Bakar shalat tarawih dengan satu imam di masjid belum ada, sehingga pada masa tersebut roka&#8217;at shalat tarawihpun belum ada ketetapan yang secara jelas, karena para shahabat ada yang melaksanakan shalat 8 roka&#8217;at kemudian menyempurnakan di rumahnya seperti pada keterangan di awal.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Shalat Tarawih Pada Masa Sahabat Umar Ra.</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Setelah sayyidina Umar mengetahui umat Islam shalat tarawih dengan sendiri-sendirian, barulah muncul dalam pikirannya untuk mengumpulkan para sahabat untuk melaksanakan shalat tarawih di dalam masjid dengan satu imam, sebagaimana keterangan dibawah ini:</p>
<p style="text-align: justify;">Artinya: Dari Abi Hurairah ra, beliau berkata: “Rasulullah SAW keluar di bulan Ramadlan, beliau melihat banyak manusia yang melakukan shalat tarawih di sudut masjid, beliau bertanya, “Siapa mereka?&#8221; kemudian di jawab :“Mereka adalah orang-orang yang tidak mempunyai al-Qur&#8217;an (tidak bisa menghafal atau tidak hafal al-Qur&#8217;an), dan sahabat Ubay bin Ka&#8217;ab sholat mengimami mereka, lalu Nabi berkata: &#8216;“benar mereka itu, dan sebaik-baiknya perbuatan adalah yang mereka lakukan&#8221;. (HR: Abu Dawud).</p>
<p style="text-align: justify;">Kemudian Sahabat Umar berinisiatif mengumpulkan para sahabat shalat Tarawih dalam satu Masjid dengan satu imam. Sebagaimana keterangan:</p>
<p style="text-align: justify;">Artinya: “Dari &#8216;Abdirrohman bin &#8216;Abdil Qori&#8217; beliau berkata; “Saya keluar bersama Sayyidina Umar bin Khatthab ra ke Masjid pada bulan Ramadlan. (Didapati dalam masjid tersebut) orang yang shalat tarawih berbeda-beda. Ada yang shalat sendiri-sendiri dan ada juga yang shalat berjama&#8217;ah. Lalu Sayyidina Umar berkata: “Saya punya pendapat andai kata mereka aku kumpulkan dalam jama&#8217;ah satu imam, niscaya itu lebih bagus.&#8221; Lalu beliau mengumpulkan kepada mereka dengan seorang imam, yakni shohabat Ubay bin Ka&#8217;ab. Kemudian satu malam berikutnya, kami datang lagi ke masjid. Orang-orang sudah melaksanakan sholat tarawih dengan berjama&#8217;ah di belakang satu imam. Umar berkata: “sebaik-baiknya bid&#8217;ah adalah ini (shalat tarawih dengan berjama&#8217;ah).&#8221; (HR: Bukhari).</p>
<p style="text-align: justify;">Dari sini sudah sangat jelas bahwa pertama kali orang yang mengumpulkan para sahabat untuk melaksanakan tarawih dengan cara berjama&#8217;ah adalah sahabat Umar ra, sedangkan jama&#8217;ah shalat tarawih pada waktu itu dilakukan dengan 20 roka&#8217;at. Sebagaimana keterangan dari Yazid bin Ruman telah berkata: “Manusia senantiasa melaksanakan shalat (tarawih) pada masa Umar ra. di bulan Ramadlan sebanyak 23 rokaat.&#8221; (HR. Malik)</p>
<p style="text-align: justify;">Yang dimaksud 23 roka&#8217;at adalah, melaksanakan shalat Tarawih 20 roka&#8217;at dan witir. Dengan bukti hadist yang diriwayatkan Sa&#8217;ib bin Yazid:</p>
<p style="text-align: justify;">Artinya: “Dari Saaib bin Yazid berkata: “para sahabat melaksanakan shalat (tarawih) pada masa Umar ra di bulan Ramadlan sebanyak 20 roka&#8217;at. (HR. Al-Baihaqi).</p>
<p style="text-align: justify;">Dua dalil di atas sangat jelas sekali menjelaskan jumlah bilangan shalat tarawih 20 roka&#8217;at, dalil tersebut juga dikuatkan dengan perilaku para shahabat yang telah mengikutinya bahkan Sayyidah &#8216;Aisyah pun juga mengikuti, hal ini telah menunjukkan menjadi ijma&#8217; sahabat karena tiada satu orangpun yang mengingkari atau menentang, begitu juga para ulama&#8217; empat madzhab atau madzhab lainnya. Jadi shalat tarawih 20 roka&#8217;at ini sangat jelas dan harus kita ikuti karena ini adalah sunnah Khulafa&#8217;ur Rosyidin yang harus kita ikuti, dan Sayyidina Umar adalah juga salah satu sahabat yang telah diakui kebenarannya oleh Nabi. Sebagaimana sabda Nabi: “Sesungguhnya Allah telah menjadikan kebenaran melalui lisan dan hati umarÃ¢â‚¬Â. (HR. Turmudzi).</p>
<p style="text-align: justify;">Dan Hadist Nabi SAW: “Dan sesungguhnya Rasulullah SAW telah bersabda: “maka ikutilah sunnahku dan sunnah Khulafaur Rosyidin yang mendapatkan pentunjuk setelah aku meninggal, maka berpegang teguhlah padanya dengan erat.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan Hadist Nabi SAW: “Dari Hudzaifah ra ia berkata, Rasulullah SAW telah bersabda; “ikutilah dua orang setelahku, yakni Abu Bakar dan Umar. (HR. Turmudzi).</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Shalat Tarawih Menurut Pandangan Ulama&#8217;</strong></p>
<p style="text-align: justify;">“Maka menurut pendapat jumhur (mayoritas ulama Hanafiyyah, Syafi&#8217;iyyah, Hanabillah, Dan sebagian Malikiyyah, bahwa shalat tarawih adalah 20 roka&#8217;at, karena pada hadist yang telah diriwayatkan Malik bin Yazid bin Ruman dan Imam al-Baihaqi dari Saib bin Yazid tentang shalatnya umat Islam di masa Sayyidina Umar bin Khatthab ra dengan 20 roka&#8217;at, dan Umar mengumpulkan manusia untuk melakukan tarawih 20 roka&#8217;at dengan jama&#8217;ah (golongan) yang terus menerus sampai sekarang. Imam As-Sakakyi berkata: Umar telah mengumpulkan para sahabat Rasulullah saw pada Ubay bin Ka&#8217;ab ra, kemudian Ka&#8217;ab sholat mengimami mereka 20 roka&#8217;at, dan tidak ada satu orang pun yang mengingkarinya, maka hal itu sudah menjadi ijma&#8217; (kesepakatan) mereka. Dan Imam Ad-Dasukyi berkata: dan itu yang dilakukan shohabat dan tabi&#8217;in, dan Imam Ibnu &#8216;Abidin berkata: itu adalah yang dilakukan manusia mulai dari bumi timur sampai bumi barat, dan &#8216;Ali As-Sanhuryi berkata: itu adalah yang dilakukan manusia sejak dulu sampai masaku dan masa yang akan datang selamanya, dan berkata ulama&#8217; Hanabilah: “ini telah yaqin terkenal (mashur) di masa para sahabat, maka ini merupakan ijma&#8217; dan banyak dalil-dali Nash yang menjelaskanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Imam Ibnu Taimiyyah dan Syekh Abdullah bin Muhammad bin Abdil Wahab juga menegaskan sebagaimana berikut:<br />
Keterangan yang terdapat dalam sebuah kitab “Tashhih Hadistis Sholah At-Tarawih Isriina Roka&#8217;ah“ . Imam ibnu Taimiyyah juga sepakat dan berpendapat, bahwa roka&#8217;at shalat tarawih 20 raka&#8217;at, dan beliau menfatwakan sebagaimana berikut, Imam Ibnu Taimiyyah berkata dalam fatwanya, “Telah terbukti bahwa sahabat bin Ubay bin Ka&#8217;ab mengerjakan sholat Ramadlan bersama-sama orang pada waktu itu sebanyak 20 roka&#8217;at, lalu mengerjakan Witir 3 roka&#8217;at, kemudian mayoritas Ulama&#8217; mengatakan bahwa itu adalah sunnah. Karena pekerjaan itu dilaksanakan di tengah-tengah kaum Muhajiriin dan Anshor, dan tidak ada satupun diantara mereka yang menentang atau melanggar perbuatan itu dan di dalam kitab “Majmu&#8217; Fatawyi Al-Najdiyyah diterangakan tentang jawaban Syekh Abdullah bin Muhammad bin Abdil Wahab tentang bilangan roka&#8217;at shalat tarawih. Ia mengatakan bahwa setelah sahabat Umar mengumpulkan manusia untuk melaksanakan shalat berjama&#8217;ah kepada sahabat Ubay bin Ka&#8217;ab, maka sholat yang mereka lakukan adalah 20 roka&#8217;at&#8217;.</p>
<p style="text-align: justify;">Niat Shalat Tarawih<br />
Doa Setelah Sholat Taraweh</p>
<p>The post <a href="https://langitan.net/sejarah-hukum-dan-praktik-tarawih/">Sejarah, Hukum dan Praktik Tarawih</a> appeared first on <a href="https://langitan.net">Pondok Pesantren Langitan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://langitan.net/sejarah-hukum-dan-praktik-tarawih/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Jadwal Pengajian Bulan Ramadhan 1432 H. PP. Langitan</title>
		<link>https://langitan.net/jadwal-pengajian-bulan-ramadhan-1432-h-pp-langitan/</link>
					<comments>https://langitan.net/jadwal-pengajian-bulan-ramadhan-1432-h-pp-langitan/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 24 Jul 2011 11:05:35 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Langituna]]></category>
		<category><![CDATA[jadwal]]></category>
		<category><![CDATA[langitan]]></category>
		<category><![CDATA[pengajian]]></category>
		<category><![CDATA[pondokpesantren]]></category>
		<category><![CDATA[ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[romadhon]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langitan.net/?p=1355</guid>

					<description><![CDATA[<p>The post <a href="https://langitan.net/jadwal-pengajian-bulan-ramadhan-1432-h-pp-langitan/">Jadwal Pengajian Bulan Ramadhan 1432 H. PP. Langitan</a> appeared first on <a href="https://langitan.net">Pondok Pesantren Langitan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://langitan.net/wp-content/uploads/2011/07/jadwal-romadhon-1432-h.jpg"><img fetchpriority="high" fetchpriority="high" decoding="async" src="https://langitan.net/wp-content/uploads/2011/07/jadwal-romadhon-1432-h-192x300.jpg" alt="" title="jadwal romadhon  1432 h" width="192" height="300" class="aligncenter size-medium wp-image-1358" /></a></p>
<p>The post <a href="https://langitan.net/jadwal-pengajian-bulan-ramadhan-1432-h-pp-langitan/">Jadwal Pengajian Bulan Ramadhan 1432 H. PP. Langitan</a> appeared first on <a href="https://langitan.net">Pondok Pesantren Langitan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://langitan.net/jadwal-pengajian-bulan-ramadhan-1432-h-pp-langitan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>4</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Memahami Puasa</title>
		<link>https://langitan.net/memahami-puasa/</link>
					<comments>https://langitan.net/memahami-puasa/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 08 Aug 2010 09:51:16 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Tulisan lepas]]></category>
		<category><![CDATA[bulan]]></category>
		<category><![CDATA[bulanromadhon]]></category>
		<category><![CDATA[maknapuasa]]></category>
		<category><![CDATA[memahami]]></category>
		<category><![CDATA[memahamipuasa]]></category>
		<category><![CDATA[Puasa]]></category>
		<category><![CDATA[puasa secaraistilah]]></category>
		<category><![CDATA[puasadibulan romadhon]]></category>
		<category><![CDATA[puasasecara bahasa]]></category>
		<category><![CDATA[romadhon]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langitan.net/?p=1135</guid>

					<description><![CDATA[<p>Secara bahasa memiliki arti menahan.Dalam istilah syara&#8217; memeiliki arti menahan dari perkara yang dapat membatalkannya dimulai dari terbit fajar sampai matahari terbenam disertai niat khusus Dasar wajib puasa firman Allah dalam surat Al Baqoroh ayat 183 yang artinya: Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://langitan.net/memahami-puasa/">Memahami Puasa</a> appeared first on <a href="https://langitan.net">Pondok Pesantren Langitan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Secara bahasa memiliki arti menahan.Dalam istilah syara&#8217; memeiliki arti menahan dari perkara yang dapat membatalkannya dimulai dari terbit fajar sampai matahari terbenam disertai niat khusus<br />
Dasar wajib puasa firman Allah dalam surat Al Baqoroh ayat 183 yang artinya:<br />
Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertaqwa. (QS. Al-Baqarah : 183)</p>
<p>Awal diwajibkan puasa pada bulan sya&#8217;ban tahun kedua hijriah.<br />
Hikmah: menahan hawa nafsu, mengurangi syahwat, menjaga diri dari maksiat dan menumbuhkan rasa social dan solidaritas yang tinggi bagi orang yang memiliki kelebihan harta dengan merasakan betapa susahnya lapar dan menderitanya orang miskin.</p>
<p>Syarat sah puasa<br />
1. Islam<br />
2. Berakal<br />
3. Bersih dari haid dan nifas<br />
4. Mengetahui waktu diperbolehkan untuk berpuasa.<br />
Berarti tidak sah puasa orang kafir, orang gila walaupun sebentar, perempuan haid atau nifas dan puasa diwaktu yang diharamkan berpuasa seperti hari raya atau hari tasyriq.<span id="more-1135"></span><br />
Adapun perempuan yang terputus haid atau nifasnya sebelum fajar maka puasanya tetap sah dengan syarat telah niat, sekalipun belum mandi sampai pagi.</p>
<p>Syarat wajib puasa<br />
1. Islam<br />
Puasa tidak wajib bagi orang kafir dalam hukum dunia, namun diakhirat mereka tetap dituntut dan diadzab kerena meninggalkan puasa selain diadzab karena kekafiranya.<br />
2. Mukallaf (baligh dan berakal)<br />
Anak yang belum baligh atau orang gila tidak wajib puasa, namun orang tua wajib menyuruh anaknya berpuasa pada usia tujuh tahun dan wajib memukulnya jika meninggalkan puasa pada usia 10 tahun jika telah mampu.<br />
3. Mampu mengerjakan puasa (bukan lansia atau orang sakit)<br />
Lansia yang tidak mampu berpuasa atau orang sakit yang tidak ada harapan untuk sembuh menurut medis wajib mengganti puasanya denga membayar fidyah yaitu satu mud(7,5 ons) makanan pokok untuk setiap harinya.<br />
4. Mukim (bukan musafir sejauh Ã‚Â± 82 km dan keluar dari batas daerahnya sebelum fajar)</p>
<p>Rukun-rukun puasa<br />
1. Niat,<br />
Niat untuk puasa wajib, mulai terbenamnya matahari sampai terbitnya fajar di setiap harinya. Sedangkan untuk puasa sunnah,sampai tergelincirnya matahari (waktu dzuhur) dengan syarat :<br />
a. Diniatkan sebelum masuk waktu dzuhur<br />
b. Tidak mengerjakan hal-hal yang membatalkan puasa seperti makan, minum, dan lain-lain sebelum niat .<br />
Niat puasa Ramadlon yang sempurna:</p>
<p>Saya niat mengerjakan puasa bulan romadlon besok hari pada tahun ini karena Allah SWT.<br />
2. Menghindari perkara yang membatalkan puasa. Kecuali jika lupa atau dipaksa atau karena kebodohan yang ditolelir oleh syari&#8217;at (Jahil ma&#8217;dzur)<br />
Jahil Ma&#8217;dzur /kebodohan yang ditolelir syariat ada dua:<br />
a. Hidup jauh dari Ulama&#8217;<br />
b. Baru masuk Islam<br />
Hal-hal yang membatalkan puasa:</p>
<ul>
<li>Masuknya sesuatu kedalam rongga terbuka yang tembus ke bagian dalam tubuh seperti mulut, hidung, telinga dan lain-lain, jika ada unsur kesengajaan, mengetahui keharamanya dan atau kehendak sendiri, namun jika dalam keadaan lupa, tidak mengetahui keharamannya karena bodoh yang ditolelir atau dipaksa, maka puasanya tetap sah.</li>
<li>Murtad, sekalipun masuk Islam seketika</li>
<li>Haid, nifas sekalipun mampet seketika seketika.</li>
<li>Gila meskipun sebentar</li>
<li>Pingsan dan mabuk sehari penuh, Jika masih ada kesadaran meskipun sebentar ,tetap sah .</li>
<li>Bersetubuh dengan sengaja dan mengetahui keharamannya.</li>
<li>Mengeluarkan mani dengan sengaja, seperti dengan tangan atau dengan menyentuh istrinya tanpa penghalang</li>
<li>Muntah dengan sengaja</li>
</ul>
<p>Masalah-masalah yang berkaitan dengan puasa:</p>
<ul>
<li>Apabila seseorang berhubungan dengan istrinya pada siang hari romadlon dengan sengaja, tidak di paksa dan mengetahui keharamnnya maka puasanya batal, berdosa, tetap wajib menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa sampai maghrib dan wajib mengqodo&#8217;i puasa serta wajib membayar kafarat(denda)yaitu:</li>
<li>Membebaskan budak yang Islam</li>
<li>Jika tidak mampu, wajib berpuasa dua bulan berturut-turut.</li>
<li>Jika tidak mampu maka wajib memberi makanan pada 60 orang miskin masing-masing berupa satu mud(7,5 ons) dari makanan pokok. Denda ini wajib dikeluarkan hanya bagi laki-laki</li>
</ul>
<p>Hukum menelan dahak</p>
<ul>
<li>Jika telah mencapai batas &#8220;luar&#8221; tenggorokan maka haram menelan dan membatalkan puasa jika ditelan</li>
<li>Jika masih dibatas &#8220;dalam&#8221; tenggorokan maka boleh dan tidak membatalkan puasa.Yang dimaksud batas luar adalah makhrojnya huruf Kha(Ã˜Â­) dan dibawahnya adalah batas dalam</li>
</ul>
<p>Menelan ludah tidak membatalkan puasa dengan syarat :</p>
<ul>
<li>Murni (tidak tercampur benda lain)</li>
<li>Suci</li>
<li>Berasal dari sumbernya yaitu ludah dan mulut, sedangkan menelan ludah yang berada pada bibir luar membatalkan puasa karena sudah diluar mulut.</li>
</ul>
<p>Hukum masuknya air mandi kedalam rongga terbuka dengan tanpa sengaja:</p>
<ul>
<li>Jika sebab mandi sunnah seperti mandi sholat jum&#8217;ah atau mandi wajib seperti mandi jinabat maka tidak membatalakan puasa kecuali Jika sengaja atau menyelam.</li>
<li>Jika bukan mandi sunnah atau wajib seperti mandi untuk membersihkan badan maka puasanya batal baik disengaja atau tidak</li>
<li>Hukum air kumur yang tertelan tanpa sengaja:</li>
<li>Jika berkumur untuk kesunahan seperti dalam wudlu, maka tidak membatalkan puasa bila tidak terlalu kedalam(Mubalaghoh)</li>
<li>Jika berkumur biasa, bukan untuk kesunahan maka puasanya batal secara mutlaq, baik secara mubalaghoh(terlalu kedalam) atau tidak.</li>
<li>Orang yang muntah atau mulutnya berdarah wajib berkumur dengan mubalaghoh(membersihkan sampai ke pangkal tenggorokan) agar semua bagian mulutnya suci.</li>
</ul>
<p><!--more--><br />
Apabila ia menelan ludah tanpa mensucikan muludnya terlebih dahulu maka puasanya batal sekalipun ludahnya Nampak bersih.<br />
Orang yang sengaja membatalkan puasanya atau tidak berniat dimalam hari wajib menahan diri disiang hari romadlon dari perkara yantg membatalakan puasa(seperti orang Puasa) sampai maghrib dan setelah romadlon wajib mengqodo&#8217;i puasanya.<br />
Berbagai konsekwensi bagi orang yang tidak berpuasa atau membatalkan puasa romadlon:<br />
1. Wajib qodlo&#8217; dan membayar denda :<br />
Jika membatalkan puasa demi orang lain. Seperti perempuan mengandung dan menyusui, yang tidak puasa karena kuatir pada kesehatan anaknya saja.<br />
Mengahirkan qodlo&#8217; hingga datang romadlon lagi tanpa ada udzur<br />
2. Wajib qodlo&#8217; tanpa denda<br />
Berlaku bagi orang yang tidak berniat dimalam hari,orang yang membatalkan puasanya dengan selain jimak (bersetubuh) dan perempuan hamil atau menyusui anaknya yang tidak puasa karena kuatir pada kesehatan dirinya saja atau keehatan dirinya dan anaknya<br />
3. Wajib denda tanpa qodlo&#8217;<br />
Berlaku bagi orang yang lanjut usia dan orang sakit yang tidak punya harapan sembuh jika keduanya tidak mampu berpuasa.<br />
4. Tidak wajib qodho&#8217; dan tidak wajib denda<br />
Berlaku bagi orang yang gila tanpa disengaja.<br />
Yang dimaksud denda disini adalah satu mud (7.5 Ons) makanan pokok daerah setempat untuk setiap harinya.</p>
<p>Hal hal yang disunahkan dalam berpuasa romadlon:<br />
1. Menyegerakan berbuka puasa.<br />
2. Sahur, sekalipun dengan seteguk air.<br />
3. Mengahirkan sahur, sehingga menjelang 30-60 menit sebelum subuh.<br />
4. Berbuka dengan kurma.Disunahkan dengan bilangan ganjil, bila tak ada kurma maka air zam-zam. bila tak ada, cukup dengan air putih, bila tak ada dengan apa saja yang berasa manis alami, bila tak ada juga, berbuka dengan makanan atau minuman yang manis.<br />
5. Membaca doa berbuka</p>
<p>6. Memberi makanan berbuka kepada orang berpuasa.<br />
7. Mandi janabat sebelum terbitnya fajar bagi orang yang junub di malam hari.<br />
8. Mandi setiap malam di bulan romadlan<br />
9. Menekuni sholat tarawih dan witir.<br />
10. Memperbanyak bacaan al-Quran dan berusaha memahami artinya.<br />
11. Memperbanyak amalan sunnah dan amalan soleh<br />
12. Menghindari hal-hal sia-sia.<br />
13. Berusaha makan dari yang halal<br />
14. Bersungguh-sungguh di sepuluh hari terahir,dan lain-lain</p>
<p>Hal hal yang dimakruhklan dalam berpuasa romadlon:<br />
1. Mencicipi makanan (tidak di telan)<br />
2. Bekam(mengeluarkan darah)<br />
3. Berkumur sebelum berbuka<br />
4. Mandi dengan menyelam.<br />
5. Memakai siwak setelah masuk waktu dhuhur.<br />
6. Banyak tidur dan terlalu kenyang.</p>
<p>Hal-Hal yang membatalkan pahala puasa:<br />
1. Ghibah(gossip)<br />
2. Adu domba<br />
3. Berbohong<br />
4. Memandang dengan syahwat<br />
5. Sumpah palsu.<br />
6. Berkata<br />
Rasulullah SAW bersabda:</p>
<p>&#8220;Lima perkara yang membatalkan (pahala) puasa: Berbohong,ghibah,adu domba,sumpah palsu dan melihat dengan syahwat&#8221; (H.R.Anas)</p>
<p>***</p>
<p>Selamat menunaikan Ibadah Puasa<br />
Bulan Ramadhan 1431 H.<br />
Semoga amal kita diterima<br />
Dan Diampuni segala dosa</p>
<p>The post <a href="https://langitan.net/memahami-puasa/">Memahami Puasa</a> appeared first on <a href="https://langitan.net">Pondok Pesantren Langitan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://langitan.net/memahami-puasa/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>3</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
