<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Syiah Archives - Pondok Pesantren Langitan</title>
	<atom:link href="https://langitan.net/tag/syiah/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://langitan.net/tag/syiah/</link>
	<description>Widang, Tuban, Jawa Timur</description>
	<lastBuildDate>Sat, 24 Feb 2018 12:26:37 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.0</generator>

<image>
	<url>https://langitan.net/wp-content/uploads/2020/03/cropped-logo-langitan-net-32x32.png</url>
	<title>Syiah Archives - Pondok Pesantren Langitan</title>
	<link>https://langitan.net/tag/syiah/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Mencintai Dzuriyyah Rasul</title>
		<link>https://langitan.net/mencintai-dzuriyyah-rasul/</link>
					<comments>https://langitan.net/mencintai-dzuriyyah-rasul/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 01 Feb 2016 06:18:08 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Jejak Utama]]></category>
		<category><![CDATA[Ancaman Membenci Keluarga Nabi]]></category>
		<category><![CDATA[Cinta Ahli Bait]]></category>
		<category><![CDATA[Keutamaan Dzuriyyah Rasul]]></category>
		<category><![CDATA[Syiah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langitan.net/?p=5190</guid>

					<description><![CDATA[<p>Seiring lemahnya kaum Muslimin memegang ajaran agama, juga pesatnya pertumbuhan benalu dalam pohon Islam, rasa cinta kepada keturunan Nabi (dzuriyyah) mulai pudar. Oleh sebagian aliran, mereka dicela dan disepelekan. Padahal prinsip Ahlussunah wal Jamaah menganjurkan untuk mencintai dan memuliakan mereka sejak dini. Diriwayatkan dari Imam Ad-Dailami, Rasulullah memerintahkan untuk mengajarkan anak-anak kita mencintai beliau, keluarga [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://langitan.net/mencintai-dzuriyyah-rasul/">Mencintai Dzuriyyah Rasul</a> appeared first on <a href="https://langitan.net">Pondok Pesantren Langitan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><img decoding="async" class="size-full wp-image-5191 alignleft" src="https://langitan.net/wp-content/uploads/2016/02/unduhan.jpg" /></p>
<p>Seiring lemahnya kaum Muslimin memegang ajaran agama, juga pesatnya pertumbuhan benalu dalam pohon Islam, rasa cinta kepada keturunan Nabi <em>(dzuriyyah)</em> mulai pudar. Oleh sebagian aliran, mereka dicela dan disepelekan. Padahal prinsip Ahlussunah wal Jamaah menganjurkan untuk mencintai dan memuliakan mereka sejak dini. Diriwayatkan dari Imam Ad-Dailami, Rasulullah memerintahkan untuk mengajarkan anak-anak kita mencintai beliau, keluarga beliau, dan membaca al-Qur’an.</p>
<p>Rasulullah Saw. Mengingatkan kita untuk menjaga perilaku kepada keluarganya secara dlahir dan batin. Jangan sampai kita mendzalimi atau  membenci mereka. Setelah beliau berwasiat untuk berpegang teguh pada al-Qur’an dan Sunah, beliau lantas berkata: <em>dan kepada keluargaku aku mengingatkan </em><em>kalian </em><em>kepada Allah Swt. Dan kepada keluargaku aku mengingatkan kalian kepada Allah Swt. Dan kepada keluargaku aku mengingatkan kalian kepada Allah Swt</em>.</p>
<p>Sayyidina Husain bertanya kepada sahabat Zaid,” Siapakah keluarga rasulullah wahai Zaid? Bukankah istri-istri beliau termasuk keluarga?” Zaid pun menjawab,” istri-istri beliau termasuk keluarga beliau, akan tetapi keluarga beliau adalah orang-orang yang menerima zakat.” Ia bertanya lagi, “Siapakah mereka?”. Zaid pun menjawab,  “Mereka adalah keluarga Sayyidina Ali, keluarga Sayyidina ‘Uqail, keluarga Sayyidina Ja’far, dan keluarga Sayyidina Abbas.” Ia bertanya, “Mereka haram menerima zakat”, Zaid menjawab, “Benar.”</p>
<p><strong>Keutamaan Dzuriyyah Rasul</strong></p>
<p>Selepas wafatnya Nabi, maka dzuriyyahnyalah yang paling mulia di muka bumi ini. Tidak ada hubungan nasab <em>(intisab)</em> yang lebih mulia selain kepada Rasul.  Mereka terlahir ke dunia dari darah daging yang begitu mulia.  Jika sahabat mempertemukan kulitnya dengan kulit beliau akan mendapat kemuliaan dengan jaminan masuk surga, maka bagaimanakah dengan para habib dan sayyid yang merupakan darah daging beliau sendiri?</p>
<p>Para mufasir menyepakati, keturunan Nabi terhubung dari putri beliau, Siti Fatimah. Dialah satu-satunya putri yang melahirkan cucu dan cicit-cicit beliau. <em>Intisab</em> seperti ini termasuk salah satu keistimewaan beliau, sebagaimana termaktub dalam surat al-An’am ayat 84. Ayat tersebut menyebutkan bahwa Nabi Isa tetap termasuk keturunan Nabi Nuh. Nasab beliau dengan Nabi Nuh dihubungkan melalui ibu beliau, Siti Maryam, karena memang beliau lahir tanpa lantaran seorang ayah.</p>
<p>Nasab Rasul adalah yang paling mulia di bumi ini. Diurut ke atas, beliau adalah keturunan para pemuka agama dan para Nabi pendahulu. Adapun ke bawah, terdapat keturunan beliau yaitu para ulama’ yang menjadi tokoh besar Islam, seperti Sayyidina Hasan, Sayyidina Husein, Habib Abdullah bin ‘Alawi al-Haddad, Sayyid Muhammad bin ‘Alawi al-Maliki, dan Habib Umar bin Hafidz, dan para walisongo yang membawa Islam ke Indonesia. Nabi senantiasa menuntun mereka baik dalam mimpi maupun terjaga agar senantiasa berada di jalan kebenaran.  Merekalah orang-orang yang telah disucikan oleh Allah Swt.</p>
<p style="text-align: right;">انما يريد الله ليذهب عنكم الرجس اهل البيت ويطهركم تطهيرا</p>
<p><em>Artinya : Sesungguhnya Allah bermaksud menghilangkan dosa kamu, hai Ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya. (QS.Al-Ahzab: 33).</em></p>
<p>Rasulullah mencontohkan mereka laksana bintang di langit yang menjadi pengaman penduduk langit. Namun demikian, mereka juga pengaman bagi penduduk bumi. Dalam syairnya Imam Syafi’i berkata, “Hai Ahli bait Rasulullah, Cinta kepada kalian adalah kewajiban dari Allah dalam al-Qur’an yang diturunkannya. Cukuplah ketinggihan derajatmu, siapa saja yang yang tidak membaca shalawat kepadamu, maka do’anya tidak akan diterima.</p>
<p>Kita sepatutnya memuliakan keluarga nabi sebagaimana Zaid bin Tsabit, seorang alim, hafal ribuan hadits sekaligus menjadi penulis hadits Nabi. Ketika Abdullah bin Abbas mendatanginya, ia langsung mencium tangannya. Hal itu ia lakukan sebagai bentuk penghormatan kepada sayyidina Ibnu Abbas yang termasuk keluarga Rasul. Makanya tidak mengherankan jika Imam Ibnu Hajar para habaib meskipun bodoh daripada orang alim ketika dalam satu majlis.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Ancaman Membenci Keluarga Nabi</strong></p>
<p>Alangkah celaka orang yang membenci keluarga nabi. Orang yang mencintai keluarga beliau berarti harus mencintai beliau. Sebaliknya, orang yang membenci mereka berarti membenci beliau. Sebagiamana manusia pada umumnya, mereka pasti marah apabila keluarganya dihina oleh orang lain.</p>
<p>Suatu hari, berdiri di atas mimbar, beliau berkata, “<em>A</em><em>pa keadaan kaum yang menyakiti aku dalam nasab dan kerabatku</em><em>?</em> <em>B</em><em>arang siapa yang menyakiti keturunanku dan mempunyai hubungan denganku, berarti dia menyakitiku, dan barang siapa yang menyakitiku berrati dia menyakiti Allah.</em><em>”</em></p>
<p>Tidak selayaknya orang mengaku cinta Allah, kecuali ia juga mencintai rasul. Demikian pula, tidak selayaknya orang yang mengaku cinta pada rasul kecuali cinta juga kepada keluarganya.</p>
<p style="text-align: right;">قل لا اسئلكم عليه اجرا الا المودة فى القربى</p>
<p><em>Artinya: “Katakanlah aku tidak meminta kepadamu suatu upah atas seruanku kecuali kasih sayang dalam kekeluargaan.”(QS. As-Syura : 23).</em></p>
<p>Said bin Jubair ditanya tentang ayat di atas. Beliau menjawab yang dimaksud keluarga adalah keluarga Rasulullah.</p>
<p>Maka tidak ada kata lain bagi mereka yang memerangi, mendzalimi, dan memaki-maki keluarga Nabi melainkan tempatnya di neraka. Bahkan seandainya ada orang setiap hari berhaji, mencium Hajar Aswad dan melakukan shalat di Maqam Ibrahim, setiap hari perutnya kosong untuk berpuasa, kemudian dia meninggal dalam keadaan membenci keluarga Nabi, maka tempatnya adalah di neraka. Mereka pantas memperoleh murka Allah Swt.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Syi’ah, Cinta Ahli Bait</strong></p>
<p>Mencintai Ahli Bait adalah di antara prinsip aqidah aliran Syi’ah. Mereka mengklaim diri sebagai golongan yang mencintai dan mengedepankan keluarga Nabi. Sebagaimana yang sudah masyhur dalam sejarah, mereka enggan ikut pemerintahan Abu Bakar, Umar, Utsman, Amr bin Ash dan Mu’awiyah. Mereka hanya mengakui kepemimpinan Ali bin Abi Tholib, Sayyidina Hasan dan Husain, Ali bin Husain, Zaid bin Ali dan Ja’far as-Shodiq.</p>
<p>Sebelum wafat, Rasulullah telah mengabarkan kepada sayyidina Ali kemunculan golongan Rafidlah atau Syi’ah yang akan mengkultuskannya. Mereka mengaku cinta ahli bait, padahal sebenarnya tidak.</p>
<p>Mereka kerap memaki-maki Abu Bakar dan Umar karena dianggap merebut kekhalifahan Sayyidina Ali. Padahal ijma’ sahabat telah sepakat untuk mengutamakan Abu Bakar, Umar, dan Utsman. Kesepakatan mereka tak mungkin salah. Bahkan Sayyidina Ali sendiri berbaiat pada pemerintahan Abu Bakar. Meskipun saat prosesi beliau tidak hadir, namun setelahnya beliau tetap berbaiat kepadanya.</p>
<p>Kita memang diwajibkan untuk mencintai keluarga nabi, namun rasa cinta itu tidak sampai pada taraf mengkultuskan mereka sehingga menganggap mereka sebagai Nabi. Kita juga tidak boleh terlalu mengagungkan mereka sampai-sampai mencela para sahabat lain.</p>
<p>Imam al-Baihaqi meriwayatkan sebuah hadits, “Barang siapa mencela salah satu sahabatku, maka dia mendapat kutukan dari Allah, malaikat dan seluruh manusia. Allah tidak akan menerima ibadah wajib dan ibadah sunahnya.” Ironisnya, lahir hadits-hadits palsu yang memaksa membenarkan pernyataan mereka. Mereka mengatakan bahwa selama mematuhi sayyidina Ali, mereka akan tetap masuk surga sekalipun tidak taat kepada Allah Swt. <em>Nau’d</em><em>zubillah min dzalik.</em></p>
<p style="text-align: right;"> [<em>Muslimin Sairozi/menaralangitan.com]</em></p>
<p style="text-align: right;">
<p>The post <a href="https://langitan.net/mencintai-dzuriyyah-rasul/">Mencintai Dzuriyyah Rasul</a> appeared first on <a href="https://langitan.net">Pondok Pesantren Langitan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://langitan.net/mencintai-dzuriyyah-rasul/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Seminar Kajian Aswaja Kesan Nganjuk</title>
		<link>https://langitan.net/seminar-kajian-aswaja-kesan-nganjuk/</link>
					<comments>https://langitan.net/seminar-kajian-aswaja-kesan-nganjuk/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 23 Dec 2010 15:39:13 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Langituna]]></category>
		<category><![CDATA[ahlu sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[aswaja]]></category>
		<category><![CDATA[khowarij]]></category>
		<category><![CDATA[langitan]]></category>
		<category><![CDATA[mu'tazilan. wahabiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Perumus LBM Jatim]]></category>
		<category><![CDATA[pp. gedongsari prambon]]></category>
		<category><![CDATA[Syiah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langitan.net/?p=1206</guid>

					<description><![CDATA[<p>Kamis tanggal 17 Muharram 1431 H./ 23 Desember 2010, Keluarga santri dan alumni (Kesan) Pondok Pesantren Langitan asal Nganjuk mengadakan seminar sehari mengenai aswaja, acara ini bekerja sama dengan PP. Gedongsari, Tegaron, Prambon, Nganjuk. Hadir sebagai nara sumber KH. Azizi Hasbullah (Perumus LBM Wilayah Jatim) dari Blitar. Pesertanya dari alumni Langitan asal Kab. Nganjuk, santri [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://langitan.net/seminar-kajian-aswaja-kesan-nganjuk/">Seminar Kajian Aswaja Kesan Nganjuk</a> appeared first on <a href="https://langitan.net">Pondok Pesantren Langitan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<div id="_mcePaste"><a href="https://langitan.net/wp-content/uploads/2010/12/seminar-kajian-aswaja-kesan-langitan-Nganjuk.jpg"><img decoding="async" class="alignleft size-thumbnail wp-image-1207" title="seminar-kajian-aswaja-kesan-langitan-Nganjuk" src="https://langitan.net/wp-content/uploads/2010/12/seminar-kajian-aswaja-kesan-langitan-Nganjuk-150x150.jpg" alt="seminar-kajian-aswaja-kesan-langitan-Nganjuk" width="150" height="150" /></a>Kamis tanggal 17 Muharram 1431 H./ 23 Desember 2010, Keluarga santri dan alumni (Kesan) Pondok Pesantren Langitan asal Nganjuk mengadakan seminar sehari mengenai aswaja, acara ini bekerja sama dengan <strong>PP. Gedongsari</strong>, Tegaron, Prambon, Nganjuk. Hadir sebagai nara sumber <strong>KH. Azizi Hasbullah</strong> (<strong>Perumus LBM Wilayah Jatim</strong>) dari Blitar. Pesertanya dari <strong>alumni Langitan</strong> asal Kab. Nganjuk, santri dan alumni PP. Gedongsari.</div>
<p>Tujuan dari seminar ini adalah membentengi para Alumni dan santri dari faham-faham yang sesat<span id="more-1206"></span> dan menyesatkan, seperti khowarij, syiah, Mu&#8217;tazilah, Wahabiyah dll. Dalam sambutan pembuka KH. Baghowi, Rois Syuriah MWC NU Nganjuk. menyinggung tentang banyaknya Pengurus NU yang bukan dari kalangan pesatren dan yang parah mereka tidak paham apa itu Ahlu Sunnah waljama&#8217;ah. dan ini menjadi keprihatinan yang sangat mendalam.</p>
<p>The post <a href="https://langitan.net/seminar-kajian-aswaja-kesan-nganjuk/">Seminar Kajian Aswaja Kesan Nganjuk</a> appeared first on <a href="https://langitan.net">Pondok Pesantren Langitan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://langitan.net/seminar-kajian-aswaja-kesan-nganjuk/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>7</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>PEMBUKAAN TADRIBUDDA&#8217;WAH SANTRI MUSYAWIRIN</title>
		<link>https://langitan.net/pembukaan-tadribuddawah-santri-musyawirin/</link>
					<comments>https://langitan.net/pembukaan-tadribuddawah-santri-musyawirin/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 22 Jul 2010 05:16:23 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Langituna]]></category>
		<category><![CDATA[habibbaharun]]></category>
		<category><![CDATA[kh. abdullah faqih]]></category>
		<category><![CDATA[musyawirin]]></category>
		<category><![CDATA[Syiah]]></category>
		<category><![CDATA[wahabi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langitan.net/?p=1113</guid>

					<description><![CDATA[<p>Kemeriyahan serta kehidmahan itulah yang senantiasa terpancar dari wajah musyawirin, penantian yang begitu panjang guna mendengarkan arahan arahan Beliau Habib Muhammad yahya Bin hasan baharun dalam Pembekalan tadribudda&#8217;wah santri musyawirin Disaat penantian itu oleh panitia diputarkan video sejarah berkenaan Syayidina Ali, Syayidina Mu&#8217;awiyah dan para shahabat yang lain. Dilanjutkan dengan dialog-dialog ringan oleh para musyawirin [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://langitan.net/pembukaan-tadribuddawah-santri-musyawirin/">PEMBUKAAN TADRIBUDDA&#8217;WAH SANTRI MUSYAWIRIN</a> appeared first on <a href="https://langitan.net">Pondok Pesantren Langitan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<ul>
<li>Kemeriyahan serta kehidmahan itulah yang senantiasa terpancar dari wajah musyawirin, penantian yang begitu panjang guna mendengarkan arahan arahan Beliau Habib Muhammad yahya Bin hasan baharun dalam Pembekalan tadribudda&#8217;wah santri musyawirin</li>
<li>Disaat penantian itu oleh panitia diputarkan video sejarah berkenaan Syayidina Ali, Syayidina Mu&#8217;awiyah dan para shahabat yang lain. Dilanjutkan dengan dialog-dialog ringan oleh para musyawirin yang dipandu oleh beliau Ust. Abdul Mujib dengan Nara sumber ahli sejarah beliau Ust. Abdullah Thoyyib. Dalam dialog itu disampaikan oleh nara sumber bahwa sejarah pada saat ini telah banyak mengalami problematik keauntentikan data. Selang beberapa menit kemudian hadirlah beliau Habib Muhammad yahya bin hasan Baharun dengan di dampingi langsung oleh Beliau KH. Abdullah Faqih. <span id="more-1113"></span></li>
<li>Diawali dengan pembacaan do&#8217;a oleh beliau “KH. Abdullah Faqih sebagai pembuka jalanya roda acara dan kemudian dilanjutukan dengan pituah-pituah beliau Habib Muhammad yahya Bin Hasan Baharun. Mengawali dalam pituah nya beliau mengatakan bahwa Pondok Pesantren adalah benteng dari kerusakan Aqidah, nilai nilai keaswajahan secara kaffah senantiasa harus dijaga agar tidak terjadi kerusakan pemahaman dan itu menjadi tugas bagi kita semua sebagai orang yang paham akan Ahlussunnah waljama&#8217;ah. Jangan sampai apa yang telah kita anut sebagai pemahaman kita tercampurkan dengan pemahaman pemahaman yang paradok dan bertentangan. Faham syi&#8217;ah serta wahabi pada saat ini telah masuk pada masyarakat luas dan bahkan pada kalangan nadhiyyin. Salah satu contoh beliau mengatakan bahwa di daerah Bondowoso sebanyak 60 orang telah masuk ke dalam golongan syiah secara terang-terangan, belum lagi di daerah jember dan pasuruan yang notaben penduduknya adalah dari kalangan Nahdliyin.</li>
</ul>
<p>Oleh : * Fana *</p>
<p>The post <a href="https://langitan.net/pembukaan-tadribuddawah-santri-musyawirin/">PEMBUKAAN TADRIBUDDA&#8217;WAH SANTRI MUSYAWIRIN</a> appeared first on <a href="https://langitan.net">Pondok Pesantren Langitan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://langitan.net/pembukaan-tadribuddawah-santri-musyawirin/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>1</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
