<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Ngaji Ihya Archives - Pondok Pesantren Langitan</title>
	<atom:link href="https://langitan.net/category/ngaji-ihya/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://langitan.net/category/ngaji-ihya/</link>
	<description>Widang, Tuban, Jawa Timur</description>
	<lastBuildDate>Wed, 28 Aug 2024 07:38:09 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.0.2</generator>

<image>
	<url>https://langitan.net/wp-content/uploads/2020/03/cropped-logo-langitan-net-32x32.png</url>
	<title>Ngaji Ihya Archives - Pondok Pesantren Langitan</title>
	<link>https://langitan.net/category/ngaji-ihya/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Sepuluh Perkara yang Merusak Hati Menurut Imam Ghozali</title>
		<link>https://langitan.net/sepuluh-perkara-yang-merusak-hati-menurut-imam-ghozali/</link>
					<comments>https://langitan.net/sepuluh-perkara-yang-merusak-hati-menurut-imam-ghozali/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 27 Aug 2024 06:58:08 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Ngaji Ihya]]></category>
		<category><![CDATA[hati]]></category>
		<category><![CDATA[ihya ulumiddin]]></category>
		<category><![CDATA[imam ghozali]]></category>
		<category><![CDATA[perusak hati]]></category>
		<category><![CDATA[sepuluh perkara]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langitan.net/?p=225023</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sebagai makhluk sosial yang tak bisa lepas dari sesama, tentu dalam berinteraksi akan ditemukan beragam watak manusia yang bemacam-macam. Baik itu terpuji maupun tercela. Dan tolak ukur akan buruk atau baiknya karakter setiap orang terdapat pada hati mereka. Rasulullah Saw pernah bersabda:  أَلاَ وَإِنَّ فِى الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ ، وَإِذَا فَسَدَتْ [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://langitan.net/sepuluh-perkara-yang-merusak-hati-menurut-imam-ghozali/">Sepuluh Perkara yang Merusak Hati Menurut Imam Ghozali</a> appeared first on <a href="https://langitan.net">Pondok Pesantren Langitan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_225024" style="width: 1034px" class="wp-caption alignnone"><img fetchpriority="high" fetchpriority="high" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-225024" class="wp-image-225024 size-large" src="https://langitan.net/wp-content/uploads/2024/08/ed-robertson-C8LoWxIqTSs-unsplash-1-1024x683.jpg" alt="Sepuluh Perkara yang Merusak Hati" width="1024" height="683" srcset="https://langitan.net/wp-content/uploads/2024/08/ed-robertson-C8LoWxIqTSs-unsplash-1-1024x683.jpg 1024w, https://langitan.net/wp-content/uploads/2024/08/ed-robertson-C8LoWxIqTSs-unsplash-1-300x200.jpg 300w, https://langitan.net/wp-content/uploads/2024/08/ed-robertson-C8LoWxIqTSs-unsplash-1-768x512.jpg 768w, https://langitan.net/wp-content/uploads/2024/08/ed-robertson-C8LoWxIqTSs-unsplash-1-1536x1024.jpg 1536w, https://langitan.net/wp-content/uploads/2024/08/ed-robertson-C8LoWxIqTSs-unsplash-1-2048x1365.jpg 2048w, https://langitan.net/wp-content/uploads/2024/08/ed-robertson-C8LoWxIqTSs-unsplash-1-1080x720.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><p id="caption-attachment-225024" class="wp-caption-text">Ilustrasi Sepuluh Perkara yang Merusak Hati. (Source: Unsplash)</p></div>
<p><span style="font-weight: 400;">Sebagai makhluk sosial yang tak bisa lepas dari sesama, tentu dalam berinteraksi akan ditemukan beragam watak manusia yang bemacam-macam. Baik itu terpuji maupun tercela. Dan tolak ukur akan buruk atau baiknya karakter setiap orang terdapat pada hati mereka.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Rasulullah Saw pernah bersabda: </span></p>
<p style="text-align: right;">أَلاَ وَإِنَّ فِى الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ. أَلاَ وَهِىَ الْقَلْبُ</p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Ingatlah bahwa di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah hati” (HR. Imam Bukhari no. 52 dan Muslim no. 1599).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dengan bertendensi pada hadits diatas, patutlah kita meningkatkan kewaspadaan akan kesehatan hati kita. Kesehatan hati sendiri itu dapat ditinjau dari sifat-sifat yang bersemayam dalam hati seseorang. Jika sifat tersebut merupakan sifat yang baik, maka harus tetap dipelihara. Namun apabila, sifat yang tidak terpuji, maka bersegeralah untuk membersihkannya.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam kitab </span><em><span style="font-weight: 400;">Ihya’ Ulumuddin</span></em><span style="font-weight: 400;">, Imam Ghozali menyebutkan sepuluh sifat tercela yang sudah sepatutnya hati kita terbebas dari kesemuanya itu. Dalam kitab tersebut beliau menulis:</span></p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-weight: 400;">وَيَكْفِيهِ مِنَ الْمَهْلِكَاتِ النَّظَرُ فِي عَشَرَةٍ &#8211; فَإِنَّهُ إِنْ سَلِمَ مِنْهَا سَلِمَ مِنْ غَيْرِهَا &#8211; وَهِيَ: الْبُخْلُ، وَالْكِبْرُ، وَالْعُجْبُ، وَالرِّيَاءُ، وَالْحَسَدُ، وَشِدَّةُ الْغَضَبِ، وَشَرُّ الطَّعَامِ، وَشَرُّ الْوِقَاعِ، وَحُبُّ الْمَالِ، وَحُبُّ الْجَاهِ.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Di antara hal-hal yang merusak, cukup baginya untuk memperhatikan sepuluh hal ini, -karena jika ia aman dari hal-hal tersebut, maka ia aman dari hal-hal yang lain-, yaitu: kikir, kesombongan, kemunafikan, iri hati, amarah yang hebat, rakus akan makanan, tamak akan hubungan badan (nafsu birahi), cinta uang, dan gila jabatan.”</span></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Kikir</strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kikir atau pelit adalah sikap perhitungan terhadap harta benda. Ciri utama orang yang mempunyai sifat ini  adalah cinta harta dan begitu egois. Di samping itu, kikir juga ditandai dengan menahan hak orang lain, baik dalam bentuk uang, makanan, dan sebagainya.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sebagai gambaran adalah orang yang enggan mengeluarkan zakat. Keengganan ini masuk sifat kikir sebab menahan hak orang lain berupa harta yang seharusnya menjadi bagian mereka yang berhak menerimanya.</span></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Sombong</strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam literatur Arab, sifat yang satu ini lebih populer dengan kata takabur. Sifat ini umumnya lebih melekat kepada orang yang mempunyai kelebihan. Entah itu berupa harta, jabatan, keelokan  paras ataupun lainnya. Sifat ini begitu tercela, karena sifat sombong hanya pantas dimiliki oleh Allah SWT, sebab Allah adalah Sang Pencipta sedangkan manusia hanyalah salah satu ciptaan-Nya. Lantas apakah pantas seorang makhluk bersikap seperti Kholiq?</span></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Munafik</strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Munafik dahulu kala identik dengan mereka yang berpura-pura mengikuti ajaran agama Islam, namun hati mereka sesungguhnya memungkirinya. Jika mengacu kepada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), munafik adalah suatu upaya berpura-pura percaya ataupun setia kepada agama dan lainnya, tetapi nyatanya dalam hatinya tidak demikian. Mereka kemudian selalu mengatakan sesuatu yang tak sesuai dengan perbuatannya serta bermuka dua. Dalam hadits Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari disebutkan:</span></p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-weight: 400;">آيَة الْمُنَافِق ثَلَاثٌ إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ وَإِذَا اُؤْتُمِنَ خَانَ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Tanda-tanda orang munafik ada tiga, yaitu (1) ketika berbicara ia dusta, (2) ketika berjanji ia mengingkari, dan (3) ketika ia diberi amanat ia berkhianat).</span></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Iri Hati</strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Iri, Dengki, atau Hasud  adalah emosi yang terjadi ketika seseorang tidak memiliki kualitas superior, prestasi, atau kepemilikan. Mudahnya sifat ini disingkat SMS, Senang Melihat orang lain Susah dan Susah Melihat orang lain Senang. Analoginya adalah ketika ada seorang teman anda misalnya, mendapat sebuah nikmat, tiba-tiba hati anda merasa tidak suka dan berharap nikmat yang didapat teman anda segera sirna, atau tatkala teman anda tertimpa musibah dan hati anda merasa gembira akan hal itu, maka berhati-hatilah!, mungkin hati anda telah terjangkit penyakit iri.</span></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Pemarah</strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam terminologi Arab marah disebut </span><i><span style="font-weight: 400;">ghadab</span></i><span style="font-weight: 400;">. </span><i><span style="font-weight: 400;">Ghadab </span></i><span style="font-weight: 400;">adalah istilah yang sering  diartikan sebagai benci kepada seseorang. Secara teknis, marah atau </span><i><span style="font-weight: 400;">ghadab </span></i><span style="font-weight: 400;">adalah emosi yang terjadi akibat ketidaksenangan terhadap suatu keadaan atau perilaku benci, dendam, dan iri terhadap seseorang yang diwujudkan dengan cara menyakiti atau melampiaskan emosi. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Menurut Imam al-Qurthubi dalam kitab </span><em><span style="font-weight: 400;">Tafsir al Jami li Ahkami al-Quran</span></em><span style="font-weight: 400;">, </span><em><span style="font-weight: 400;">ghadab </span></em><span style="font-weight: 400;">adalah marah yang diwujudkan dengan anggota tubuh seseorang. Orang yang berada dalam fase ini akan mengeluarkan kata-kata yang keji. Sifat ini dapat diartikan sebagai sikap lanjutan atas iri ataupun dengki dengan melampiaskan lewat emosi, baik itu berupa perkataan yang kasar ataupun perbuatan fisik lainnya.</span></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Rakus </strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Rakus bermakna ketamakan dan keinginan yang berlebihan terhadap sesuatu. Dalam agama Islam, rakus merupakan sikap yang tidak pernah puas dengan apa yang dimiliki. Penyakit ini  begitu berbahaya sebab dapat menjerumuskan seseorang pada perilaku yang tidak terpuji dan melalaikan urusan akhirat. Apalagi rakus akan makanan akan membuat orang malas dalam menjalankan ketaatan. Dalam sudut bermasyarakat yang notabene dituntut untuk mudah berbagi kepada sesama, adanya sifat ini tentu akan merugikan, karena bila semua orang sudah terjangkit penyakit ini, maka seseorang akan menjadi egois yang berakibat melemahnya rasa persaudaraan sesama muslim. Dan jika hal ini sampai terjadi, maka tidak lama umat muslim akan dapat dihancurkan.</span></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Nafsu Birahi</strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Menurut Wikipedia, frasa “hawa nafsu” tersusun dari kata “hawa” dan “nafsu” yang keduanya merupakan serapan dari bahasa Arab. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), secara etimologi kata “nafsu” memiliki beberapa makna, di antaranya: keinginan, kecenderungan, atau dorongan hati yang kuat; gairah; atau meradang. Bila ditambah dengan kata “hawa” menjadi “hawa nafsu”, maka bermakna dorongan hati yang kuat untuk berbuat kurang baik. Idiom “hawa nafsu” dibedakan dari istilah “syahwat” yang secara spesifik dikaitkan dengan nafsu atau keinginan untuk bersetubuh.</span></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Cinta Harta dan Gila Jabatan</strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Pada dasarnya dua hal ini cukup berkaitan. Hubungan keduanya terdapat pada  orang yang gila jabatan itu pasti cinta harta. Namun kata-kata ini tidak dapat dibalik, sebab tidak semua yang cinta harta itu gila jabatan. Hal ini dapat dibuktikan dengan banyaknya konglomerat, miliarder ataupun jutawan yang hanya sibuk berkutat di dunia bisnisnya tanpa memilih ikut dalam perebutan kursi kepemimpinan. Sementara, orang yang gila jabatan pasti cinta harta itu begitu relevan di negeri kita, sebab orang-orang yang berhasil dalam percaturan politik biasanya akan menggunakan tangan besi demi meraup harta sebanyak-banyaknya.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Pada akhirnya, gajah dipelupuk mata tak tampak sedangkan semut diseberang samudera tampak, menjadi begitu relevan dengan situasi saat ini. Maka, daripada kita saling menunjukkan telunjuk kita kearah orang lain, lebih baik kita koreksi diri kita sendiri dan secara bertahap mulai memperbaikinya. </span><em><span style="font-weight: 400;">Wallahu A’lam.</span></em></p>
<p><strong>Penulis:</strong> <span style="font-weight: 400;">Ubaid Ar-Rahman</span></p>
<p><strong>Editor:</strong> <span style="font-weight: 400;">Mahirur Riyadl</span></p>
<p>The post <a href="https://langitan.net/sepuluh-perkara-yang-merusak-hati-menurut-imam-ghozali/">Sepuluh Perkara yang Merusak Hati Menurut Imam Ghozali</a> appeared first on <a href="https://langitan.net">Pondok Pesantren Langitan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://langitan.net/sepuluh-perkara-yang-merusak-hati-menurut-imam-ghozali/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kekuatan Tafakur: Lebih Berharga dari Ibadah Setahun!</title>
		<link>https://langitan.net/kekuatan-tafakur-lebih-berharga-dari-ibadah-setahun/</link>
					<comments>https://langitan.net/kekuatan-tafakur-lebih-berharga-dari-ibadah-setahun/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 29 Jul 2024 22:28:07 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Ngaji Ihya]]></category>
		<category><![CDATA[Akal Pikiran]]></category>
		<category><![CDATA[Ayat Al-Qur'an]]></category>
		<category><![CDATA[Filsafat Islam]]></category>
		<category><![CDATA[hadits rasulullah]]></category>
		<category><![CDATA[ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Kelebihan Berpikir]]></category>
		<category><![CDATA[Keutamaan Tafakur]]></category>
		<category><![CDATA[Pahala Tafakur]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan Islami]]></category>
		<category><![CDATA[Tafakur]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langitan.net/?p=224775</guid>

					<description><![CDATA[<p>Tafakur atau berpikir dalam konteks Islam merupakan aktivitas yang sangat dihargai dan memiliki keutamaan tinggi. Dalam artikel ini, kita membahas bagaimana tafakur dapat mengungguli ibadah selama setahun dan pentingnya berpikir dalam kehidupan seorang Muslim menurut ajaran Al-Qur'an dan Hadits Rasulullah.</p>
<p>The post <a href="https://langitan.net/kekuatan-tafakur-lebih-berharga-dari-ibadah-setahun/">Kekuatan Tafakur: Lebih Berharga dari Ibadah Setahun!</a> appeared first on <a href="https://langitan.net">Pondok Pesantren Langitan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_224776" style="width: 1034px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-224776" class="wp-image-224776 size-large" src="https://langitan.net/wp-content/uploads/2024/07/masjid-maba-nvRmBdBDHyE-unsplash-1-1024x769.jpg" alt="" width="1024" height="769" srcset="https://langitan.net/wp-content/uploads/2024/07/masjid-maba-nvRmBdBDHyE-unsplash-1-1024x769.jpg 1024w, https://langitan.net/wp-content/uploads/2024/07/masjid-maba-nvRmBdBDHyE-unsplash-1-300x225.jpg 300w, https://langitan.net/wp-content/uploads/2024/07/masjid-maba-nvRmBdBDHyE-unsplash-1-768x577.jpg 768w, https://langitan.net/wp-content/uploads/2024/07/masjid-maba-nvRmBdBDHyE-unsplash-1-1536x1153.jpg 1536w, https://langitan.net/wp-content/uploads/2024/07/masjid-maba-nvRmBdBDHyE-unsplash-1-2048x1538.jpg 2048w, https://langitan.net/wp-content/uploads/2024/07/masjid-maba-nvRmBdBDHyE-unsplash-1-1080x811.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><p id="caption-attachment-224776" class="wp-caption-text">Ilustrasi Tafakur (Photo by Masjid MABA on Unsplash)</p></div>
<p>Sebagai makhluk yang diberi keistimewaan oleh Allah Swt, manusia memiliki akal pikiran yang membedakannya dari makhluk lainnya. Dalam Islam, penggunaan akal pikiran ini dikenal dengan istilah &#8220;tafakur&#8221;, atau renungan mendalam. Tafakur bukan hanya tentang berpikir, tetapi juga tentang mendalami kebesaran Allah melalui segala ciptaan-Nya.</p>
<p>Menurut pepatah Arab, manusia adalah &#8220;hewan yang berpikir,&#8221; yang menunjukkan pentingnya memanfaatkan akal untuk tujuan yang lebih tinggi daripada hanya memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dengan tafakur, manusia diharapkan dapat menjauh dari sifat-sifat negatif dan mendekatkan diri kepada Allah.</p>
<h4><strong>Tafakur dalam Perspektif Islam</strong></h4>
<p>Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), tafakur berarti renungan, memikirkan, dan menimbang dengan sungguh-sungguh. Dalam Islam, tafakur adalah bentuk ibadah yang sangat dianjurkan. Allah berfirman dalam surat Ali Imran ayat 190-191:</p>
<p style="text-align: right;">إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ</p>
<p>Artinya: &#8220;Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, serta pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), &#8216;Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Maha Suci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka.'&#8221;</p>
<p>Rasulullah saw juga menegaskan keutamaan tafakur melalui sabda beliau:</p>
<p style="text-align: right;">فكر ساعة خير من عبادة سنة</p>
<p>“Berfikir (akan keagungan Allah) itu lebih baik daripada ibadah selama setahun.”</p>
<p>Tafakur, yang merupakan bentuk pemikiran mendalam tentang kebesaran Allah, memberikan dampak yang lebih besar pada kualitas iman dibandingkan dengan ibadah rutin. Hal ini karena tafakur mendekatkan hati kepada Allah dan meningkatkan kualitas ibadah.</p>
<h4><strong>Penerapan Tafakur dalam Kehidupan Sehari-hari</strong></h4>
<p>Dalam kitab <em>Ihya’ Ulumuddin</em>, Al-Hasan berkata:</p>
<p style="text-align: right;">وَقَالَ الحَسَنُ: مَنْ لَمْ يَكُنْ كَلَامُهُ حِكْمَةً فَهُوَ لَغْوٌ، وَمَنْ لَمْ يَكُنْ سُكُوتُهُ تَفَكُّرًا فَهُوَ سَهْوٌ، وَمَنْ لَمْ يَكُنْ نَظَرُهُ اعتِبَارًا فَهُوَ لَهْوٌ</p>
<p>“Barang siapa yang perkataannya tiada mengandung kebijaksanaan, maka itu adalah omong kosong belaka; barang siapa yang berdiam diri tanpa bertafakur, itu adalah kelalaian; dan barang siapa yang pandangannya tidak untuk mengambil pelajaran dari alam semesta, maka ia hanya bermalas-malasan.”</p>
<p>Pentingnya tafakur tidak hanya terletak pada melakukan renungan secara aktif tetapi juga dalam menjadikan setiap momen refleksi sebagai bagian dari ibadah. Diam dalam konteks ini seharusnya bukan untuk berkhayal atau melamun, tetapi untuk merenung dan mengambil pelajaran dari segala sesuatu di sekitar kita.</p>
<h4><strong>Relevansi Tafakur di Era Modern</strong></h4>
<p>Tafakur dapat dilakukan dengan mengamati dan merenungi berbagai objek alam, mulai dari gunung, laut, hingga interaksi dengan sesama manusia. Dengan demikian, kita lebih mampu menyadari kelemahan manusia dan kebesaran Allah. Penerapan tafakur dalam kehidupan sehari-hari, seperti dalam pekerjaan, hubungan sosial, dan bahkan dalam waktu luang, dapat membantu kita menghindari sifat-sifat negatif seperti kesombongan dan kecintaan duniawi yang berlebihan.</p>
<h4><strong>Penutup</strong></h4>
<p>Dengan memahami dan menerapkan tafakur, kita tidak hanya meningkatkan iman kita tetapi juga memperbaiki kualitas ibadah. Tafakur membuka ruang dalam hati untuk kedekatan dengan Allah dan membersihkan diri dari kecintaan dunia yang dapat menyebabkan kehancuran. Mari kita manfaatkan keistimewaan akal pikiran kita dengan bertafakur secara konsisten dalam kehidupan sehari-hari. <em>Wallahu A&#8217;lam.</em></p>
<p><strong>Penulis: Ubaid Ar-Rahman</strong><br />
<strong>Editor: Mahirur Riyadl</strong></p>
<p>The post <a href="https://langitan.net/kekuatan-tafakur-lebih-berharga-dari-ibadah-setahun/">Kekuatan Tafakur: Lebih Berharga dari Ibadah Setahun!</a> appeared first on <a href="https://langitan.net">Pondok Pesantren Langitan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://langitan.net/kekuatan-tafakur-lebih-berharga-dari-ibadah-setahun/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Penting Diketahui! Inilah Tiga Perkara Yang Disembunyikan Allah</title>
		<link>https://langitan.net/penting-diketahui-inilah-tiga-perkara-yang-disembunyikan-allah/</link>
					<comments>https://langitan.net/penting-diketahui-inilah-tiga-perkara-yang-disembunyikan-allah/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 22 Jul 2024 22:37:16 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Ngaji Ihya]]></category>
		<category><![CDATA[Amal Ketaatan kepada Allah]]></category>
		<category><![CDATA[Hikmah dari Kisah Barseso]]></category>
		<category><![CDATA[ihya' ulumuddin]]></category>
		<category><![CDATA[Imam Ghazali]]></category>
		<category><![CDATA[Kebijaksanaan Allah dalam Penyembunyian]]></category>
		<category><![CDATA[Makna Ketaatan dan Maksiat dalam Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Murka Allah terhadap Maksiat]]></category>
		<category><![CDATA[Tiga Perkara yang Disembunyikan Allah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langitan.net/?p=224698</guid>

					<description><![CDATA[<p>Dalam kitab magnum opusnya, Ihya Ulumuddin, Imam Ghazali menjelaskan tentang tiga perkara yang Allah SWT sembunyikan dalam tiga hal yang berbeda. Pertama, ridha-Nya terletak dalam amal ketaatan kepada-Nya; kedua, murka-Nya tersembunyi dalam perbuatan maksiat; ketiga, para wali-Nya di antara makhluk-Nya. Tulisan ini menguraikan makna mendalam dari konsep-konsep ini, menawarkan wawasan tentang pentingnya ketaatan, peringatan atas maksiat, dan penghormatan terhadap kedudukan para wali Allah. Kisah Barseso yang menggugah juga disajikan sebagai pelajaran tentang bahaya meremehkan dosa. Pelajari lebih lanjut dalam pemahaman mendalam ini tentang kebijaksanaan Allah dalam menyembunyikan dan mengungkapkan kehendak-Nya.</p>
<p>The post <a href="https://langitan.net/penting-diketahui-inilah-tiga-perkara-yang-disembunyikan-allah/">Penting Diketahui! Inilah Tiga Perkara Yang Disembunyikan Allah</a> appeared first on <a href="https://langitan.net">Pondok Pesantren Langitan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_224699" style="width: 1034px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-224699" class="wp-image-224699 size-large" src="https://langitan.net/wp-content/uploads/2024/07/aldrin-rachman-pradana-OoL74pcXehE-unsplash-1-1024x683.jpg" alt="" width="1024" height="683" srcset="https://langitan.net/wp-content/uploads/2024/07/aldrin-rachman-pradana-OoL74pcXehE-unsplash-1-1024x683.jpg 1024w, https://langitan.net/wp-content/uploads/2024/07/aldrin-rachman-pradana-OoL74pcXehE-unsplash-1-300x200.jpg 300w, https://langitan.net/wp-content/uploads/2024/07/aldrin-rachman-pradana-OoL74pcXehE-unsplash-1-768x512.jpg 768w, https://langitan.net/wp-content/uploads/2024/07/aldrin-rachman-pradana-OoL74pcXehE-unsplash-1-1536x1024.jpg 1536w, https://langitan.net/wp-content/uploads/2024/07/aldrin-rachman-pradana-OoL74pcXehE-unsplash-1-2048x1365.jpg 2048w, https://langitan.net/wp-content/uploads/2024/07/aldrin-rachman-pradana-OoL74pcXehE-unsplash-1-1080x720.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><p id="caption-attachment-224699" class="wp-caption-text"><strong>Ilustrasi:</strong> Penting Diketahui! Inilah Tiga Perkara Yang Disembunyikan Allah (Foto: Aldrin Rachman Pradana. Sumber: unsplash.com)</p></div>
<p><span style="font-weight: 400;">Ada tiga perkara yang disembunyikan Allah Swt, yang sangat penting kita ketahui, tiga perkara tersebut dijelaskan oleh Imam Ghazali dalam Magnum Opusnya, </span><em><span style="font-weight: 400;">Ihya Ulumuddin</span></em><span style="font-weight: 400;">, simak lengkapnya</span> <span style="font-weight: 400;">di bawah ini:</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400;">وَقَالَ زَيْنُ اْلعَابِدِيْن عَلِيُّ ابْنُ اْلحُسَيْنِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا: إنَّ اللهَ خَبَّأَ ثَلَاثًا فِى ثَلَاثٍ : خَبَّأَ رِضَاهُ فِيْ طَاعَتِهِ فَلَاتَحْقِرُوا مِنْ طَاعَتِهِ شَيْئاً فَلَعَلَّ رِضَاهُ فِيْهِ، وَخَبَّأَ سُخْطَهُ فِيْ مَعْصِيَتِهِ فَلَا تَحْقِرُوْا مِنْ مَعْصِيَتِهِ شَيْئًا فَلَعَلَّ سُخْطَهَ فِيْهِ، وَخَبّأَ وِلَايَتَه فِي خَلْقِه فَلَا تَحقِرُوْا مِن عِبَادِهِ اَحدًا فَلَعَلهُ وَلِيُّ اللهِ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Artinya: “Ali Zainal Abidin bin Husein ra. berkata: Allah Swt menyembunyikan tiga perkara dalam tiga perkara.</span><em><span style="font-weight: 400;"> Pertama,</span></em><span style="font-weight: 400;"> Allah menyembunyikan ridha-Nya dalam amal ketaatan kepada-Nya, maka jangan remehkan sesuatu pun dari ketaatan kepada Allah, mungkin di situlah letak ridha-Nya.</span></p>
<p><em><span style="font-weight: 400;">Kedua</span></em><span style="font-weight: 400;"><em>,</em> Allah menyembunyikan murka-Nya dalam perbuatan maksiat, maka jangan meremehkan sesuatu dari maksiat kepada Allah, mungkin di situlah letak murka-Nya. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;"><em>Ketiga,</em> </span><span style="font-weight: 400;">Allah menyembunyikan para wali-Nya di antara makhluk-Nya, maka jangan meremehkan seorangpun dari hamba-hamba-Nya, mungkin ia adalah wali Allah.” </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dari kutipan yang terdapat dalam kitab</span><span style="font-weight: 400;"><em> Ihya’ Ulumuddin</em> </span><span style="font-weight: 400;">di atas dapat diuraikan sebagai berikut: </span></p>
<p><em><span style="font-weight: 400;">Pertama</span></em><span style="font-weight: 400;"><em>,</em> Allah menyembunyikan ridha-Nya dalam amal ketaatan kepada-Nya. Hakikat kita melaksanakan suatu perintah adalah mendapatkan ridha Allah. Walaupun ketaatan yang telah kita laksanakan tidak menjamin diterimanya amal tersebut, kita tetap tidak boleh menyepelekan suatu amal kebaikan, baik yang besar maupun yang kecil. Bisa jadi Allah justru memberikan ridha-Nya pada amal yang dipandang sebelah mata hal tersebut. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sebagaimana yang kerap kita dengar, mengenai kisah seorang wanita pelacur yang hidupnya dipenuhi dengan perbuatan maksiat, namun siapa sangka satu amal yang menurut kita remeh dapat membalik takdirnya. Wanita itu pun masuk surga dengan amal yang dilakukan. Yaitu memberi minum anjing yang tengah kehausan. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sepintas, amal tersebut terlihat begitu biasa saja, bahkan tak berarti, tapi Allah tidak melihat dari besar atau kecil suatu amal, melainkan seberapa ikhlas hamba tersebut mengerjakannya.</span></p>
<p><em><span style="font-weight: 400;">Kedua</span></em><span style="font-weight: 400;"><em>,</em> Allah menyembunyikan murka-Nya atas perbuatan maksiat yang dilakukan hamba-Nya. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Setiap kemaksiatan memicu murka Allah kepada pelakunya, namun Allah tiada memperlihatkan murka-Nya secara seketika. Oleh karena itu, hendaknya kita tidak menganggap enteng atas kemaksiatan yang telah kita perbuat, lebih-lebih pada maksiat yang dianggap kecil, sebab bisa jadi Allah menampakkan murka-Nya terhadap maksiat kecil yang diperbuat tadi. Hal ini dimaksudkan agar kita tidak meremehkan maksiat kepada Allah. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam pembahasan ini, penulis teringat cerita tentang Barseso. Konon, Barseso adalah hamba yang begitu taat kepada Allah SWT. Bahkan, seluruh murid-muridnya dapat melayang di angkasa sehingga mengundang decak kagum para malaikat. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Akan tetapi, pada suatu ketika dalam mihrabnya ada sesosok iblis yang menjelma menjadi manusia. Iblis tersebut beribadah di samping Barseso. Bahkan, iblis tersebut mampu mengalahkan ibadah yang dilakukannya. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">karena didorong kekaguman yang amat besar, Barseso pun bertanya rahasia agar dapat beribadah sebanyak yang dilakukan oleh Iblis itu. Iblis yang menjelma tadi lalu menjawab, “Kamu akan mampu melakukan hal tersebut bila melakukan kemaksiatan sebagaimana yang kulakukan”</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Singkat cerita, Barseso ingin berbuat satu maksiat agar dapat menjadi penyemangat ibadah. Setelah melewati pergolakan batin, akhirnya dipilihlah minum khamar, sebab menurutnya dosa minum khamar tidak begitu besar. Namun tanpa diduga, dalam keadaan mabuk sebab khamar, Barseso melakukan dosa-dosa besar yang lain, yaitu berzina, membunuh hingga akhirnya mati dalam keadaan tunduk pada iblis tadi. </span><i><span style="font-weight: 400;">Wal iyadzu billah</span></i></p>
<p><em><span style="font-weight: 400;">Ketiga</span></em><span style="font-weight: 400;"><em>,</em> Allah menyembunyikan para wali-Nya di antara para makhluk-Nya. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Hal ini dimaksudkan agar kita tidak merendahkan siapa pun dari hamba-hamba-Nya, karena ada kemungkinan ia adalah kekasih Allah. </span><span style="font-weight: 400;">Dalam suatu masalah, apabila kita meneliti seseorang dan yakin bahwa ia bukan wali, maka tidak boleh juga meremehkannya, ini adalah tindakan yang harus dihindari, karena poin utama dari </span><em><span style="font-weight: 400;">maqalah</span></em><span style="font-weight: 400;"> ini adalah larangan untuk meremehkan siapa pun. </span><em><span style="font-weight: 400;">Wallahu A’lam.</span></em></p>
<p><strong>Penulis: Ubaid Ar-Rahman</strong></p>
<p><strong>Editor: Mahir Riyadl</strong></p>
<p>The post <a href="https://langitan.net/penting-diketahui-inilah-tiga-perkara-yang-disembunyikan-allah/">Penting Diketahui! Inilah Tiga Perkara Yang Disembunyikan Allah</a> appeared first on <a href="https://langitan.net">Pondok Pesantren Langitan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://langitan.net/penting-diketahui-inilah-tiga-perkara-yang-disembunyikan-allah/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Tiga Keadaan Umat Muslim di Akhirat</title>
		<link>https://langitan.net/tiga-keadaan-umat-muslim-di-akhirat/</link>
					<comments>https://langitan.net/tiga-keadaan-umat-muslim-di-akhirat/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 17 Jul 2024 03:04:28 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Ngaji Ihya]]></category>
		<category><![CDATA[Akhirat]]></category>
		<category><![CDATA[keadaan umat muslim]]></category>
		<category><![CDATA[langitan]]></category>
		<category><![CDATA[ngaji ihya ulumuddin]]></category>
		<category><![CDATA[umat muslim]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langitan.net/?p=224652</guid>

					<description><![CDATA[<p>وقال جابر بن عبدالله :من زادت حسناته على سيئاته يوم القيامة فذلك الذي يدخل الجنة بغير حساب، ومن استوت حسناته وسيئاته فذلك الذي يحاسب حساباً يسيراً ثم يدخل الجنة. وإنما شفاعة رسول الله ﷺ لمن أوبق نفسه وأثقل ظهره. &#8220;Jabir bin Abdullah berkata, &#8220;Barangsiapa (orang Islam) yang amal shalehnya lebih banyak daripada keburukannya pada hari [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://langitan.net/tiga-keadaan-umat-muslim-di-akhirat/">Tiga Keadaan Umat Muslim di Akhirat</a> appeared first on <a href="https://langitan.net">Pondok Pesantren Langitan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_224653" style="width: 1034px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-224653" class="wp-image-224653 size-large" src="https://langitan.net/wp-content/uploads/2024/07/cami-2079740_1280-1024x576.jpg" alt="" width="1024" height="576" srcset="https://langitan.net/wp-content/uploads/2024/07/cami-2079740_1280-1024x576.jpg 1024w, https://langitan.net/wp-content/uploads/2024/07/cami-2079740_1280-300x169.jpg 300w, https://langitan.net/wp-content/uploads/2024/07/cami-2079740_1280-768x432.jpg 768w, https://langitan.net/wp-content/uploads/2024/07/cami-2079740_1280-1080x608.jpg 1080w, https://langitan.net/wp-content/uploads/2024/07/cami-2079740_1280.jpg 1280w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><p id="caption-attachment-224653" class="wp-caption-text">Ilustrasi Umat Muslim (Foto: Enes Acikgoz. Source: pixabay)</p></div>
<p style="text-align: right;">وقال جابر بن عبدالله :من زادت حسناته على سيئاته يوم القيامة فذلك الذي يدخل الجنة بغير حساب، ومن استوت حسناته وسيئاته فذلك الذي يحاسب حساباً يسيراً ثم يدخل الجنة. وإنما شفاعة رسول الله ﷺ لمن أوبق نفسه وأثقل ظهره.</p>
<p style="text-align: left;">&#8220;Jabir bin Abdullah berkata, &#8220;Barangsiapa (orang Islam) yang amal shalehnya lebih banyak daripada keburukannya pada hari kiamat, maka dialah yang masuk surga tanpa hisab, dan barangsiapa yang sederajat amal baik dan amal buruknya akan diberi hisab yang mudah dan kemudian masuk surga. Dan sesungguhnya syafaat Rasulullah SAW hanya diperuntukkan bagi orang-orang yang menindas dirinya sendiri serta membebani punggungnya.&#8221;</p>
<p>Hadits di atas adalah satu penggalan dari banyak hadits yang terdapat dalam kitab <em>Ihya&#8217; Ulumuddin.</em> Hadits tersebut menawarkan sesuatu yang menarik untuk dikaji dan digali lebih dalam.</p>
<p>Dari kategori pertama, yaitu orang Islam yang memiliki lebih banyak kebaikan daripada kejelekannya akan masuk surga tanpa hisab. Hisab adalah proses di akhirat yang akan dialami semua umat manusia. Pada saat itu, manusia akan dihitung amal baik dan buruknya. Apabila amal baik lebih banyak, maka surgalah tempatnya. Namun, bila buruk yang lebih berat, akan berakhir di dalam neraka. Jika seorang Muslim mampu mencari kebaikan sebanyak mungkin hingga kebaikan tersebut mengungguli keburukan yang ia punya, maka ia akan melompati proses hisab dan langsung masuk ke dalam surga Allah. Kemuliaan ini hanya dimiliki oleh umat Islam.</p>
<p>Menuju poin kedua, orang yang memiliki jumlah kebaikan dan kejelekan yang setara akan dihisab dengan ringan. Sejatinya, semua umat Islam akan masuk surga. Namun, karena surga adalah tempat yang steril dari keburukan, dosa-dosa yang melekat pada manusia haruslah dibersihkan terlebih dahulu. Tempat pembersihan dosa-dosa ini adalah neraka.</p>
<p>Walaupun demikian, hadits di atas menunjukkan bahwa kebaikan yang besar mampu menghilangkan sistem penyucian atas keburukan pada orang Islam.</p>
<p>Pada poin terakhir, sesungguhnya syafaat Rasulullah hanya diperuntukkan bagi orang Islam yang menindas dirinya sendiri. Syafaat, yang berarti pertolongan, sangatlah berharga terutama pada hari kiamat, saat anak dan orang tua tidak dapat saling membantu. Pada hari itu, semua orang bertanggung jawab atas dirinya sendiri.</p>
<p>Pertolongan sekecil apapun sangatlah berarti pada saat yang begitu berat tersebut. Terlebih lagi syafaat agung dari Nabi Muhammad SAW, yang dinanti-nantikan oleh semua makhluk. Ada banyak jalan untuk mendapatkan syafaat Rasulullah, salah satunya adalah dengan memperbanyak membaca shalawat.</p>
<p>Walaupun hanya orang-orang tertentu yang akan menerima syafaat, ini tidak menjadikan kita untuk tidak bershalawat pada Beliau. Tidak ada jaminan bahwa amal baik kita dapat mengalahkan amal buruk yang kita lakukan. Oleh karena itu, amalan shalawat tetap menjadi amalan umum tanpa membedakan siapa pelakunya.</p>
<p>Penulis: Ubaid Ar-Rahman<br />
Editor: Mahir Riyadl</p>
<p>The post <a href="https://langitan.net/tiga-keadaan-umat-muslim-di-akhirat/">Tiga Keadaan Umat Muslim di Akhirat</a> appeared first on <a href="https://langitan.net">Pondok Pesantren Langitan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://langitan.net/tiga-keadaan-umat-muslim-di-akhirat/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Privilege Status Islam</title>
		<link>https://langitan.net/privilege-status-islam/</link>
					<comments>https://langitan.net/privilege-status-islam/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tim Admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 02 Jul 2024 02:55:42 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Ngaji Ihya]]></category>
		<category><![CDATA[ihya' ulumuddin]]></category>
		<category><![CDATA[nikmat islam]]></category>
		<category><![CDATA[privilege status islam]]></category>
		<category><![CDATA[syukur]]></category>
		<category><![CDATA[tasawuf]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langitan.net/?p=224595</guid>

					<description><![CDATA[<p>Kerap kita dengar baik itu dalam acara formal maupun non-formal, ajakan syukur yang diucapkan oleh master of ceremony (MC), pengisi sambutan ataupun penceramah terhadap berbagai karunia yang telah Allah berikan. Di antara berbagai ajakan syukur tersebut, biasanya mereka akan mengajak kita untuk mensyukuri nikmat Islam. Mungkin kita hanya menganggap hal tersebut sebagai angin lalu belaka, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://langitan.net/privilege-status-islam/">Privilege Status Islam</a> appeared first on <a href="https://langitan.net">Pondok Pesantren Langitan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_224596" style="width: 1034px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-224596" class="wp-image-224596 size-large" src="https://langitan.net/wp-content/uploads/2024/07/pexels-chattrapalsingh-2989625-1-1024x667.jpg" alt="" width="1024" height="667" srcset="https://langitan.net/wp-content/uploads/2024/07/pexels-chattrapalsingh-2989625-1-1024x667.jpg 1024w, https://langitan.net/wp-content/uploads/2024/07/pexels-chattrapalsingh-2989625-1-300x196.jpg 300w, https://langitan.net/wp-content/uploads/2024/07/pexels-chattrapalsingh-2989625-1-768x501.jpg 768w, https://langitan.net/wp-content/uploads/2024/07/pexels-chattrapalsingh-2989625-1-1536x1001.jpg 1536w, https://langitan.net/wp-content/uploads/2024/07/pexels-chattrapalsingh-2989625-1-2048x1335.jpg 2048w, https://langitan.net/wp-content/uploads/2024/07/pexels-chattrapalsingh-2989625-1-1080x704.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><p id="caption-attachment-224596" class="wp-caption-text">Ilustrasi umat Islam .(Foto: Chattrapal (Shitij) Singh, pexels.com)</p></div>
<p>Kerap kita dengar baik itu dalam acara formal maupun non-formal, ajakan syukur yang diucapkan oleh <em>master of ceremony</em> (MC), pengisi sambutan ataupun penceramah terhadap berbagai karunia yang telah Allah berikan. Di antara berbagai ajakan syukur tersebut, biasanya mereka akan mengajak kita untuk mensyukuri nikmat Islam.</p>
<p>Mungkin kita hanya menganggap hal tersebut sebagai angin lalu belaka, namun bila kita selami lagi, maka akan ditemukan pemahaman yang dahsyat. Pemahaman yang menyadarkan kita, bahwa nikmat yang patut disyukuri bukanlah nikmat mempunyai harta yang melimpah, pekerjaan yang mapan ataupun keluarga yang harmonis, namun nikmat tersebut adalah nikmat Islam.</p>
<p>Dalam magnum opus-nya <em>Ihya&#8217; Ulumuddin</em>, Imam Ghazali menyitir sebuah hadits akan <em>privilege</em> (keistimewaan) menyandang status islam.</p>
<p style="text-align: right;">وقال رسول الله ﷺ : «إذا اجْتَمَعَ أَهْلُ النارِ فِي النَّارِ وَمَنْ شَاءَ اللهُ مَعَهُمْ مِنْ أَهْلِ القِبْلَةِ قال الكُفَّارُ لِلْمُسْلِمِينَ: أَلَمْ تَكُونُوا مُسْلِمِينَ؟ قالوا: بَلَى فيقولونَ ما أَغْنَى عنكم إسلامُكُمْ إذ أنتم مَعَنَا فِي النَّارِ فيقولونَ: كَانَتْ لنا ذنوب فأخذنا بها، فيسمعُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ ما قالوا فيأمُرُ بإخْرَاج مَن كان فِي النَّارِ مِنْ أَهْلِ القِبْلَةِ فَيُخْرَجُونَ فَإِذا رَأى ذلك الكفارُ قالوا يا لَيْتَنا كُنَّا مُسْلِمِينَ فَنُخْرَجَ كَمَا أُخْرِجُوا</p>
<p>Rasulullah saw bersabda: “Ketika penghuni Neraka berkumpul didalam Neraka, dan siapa saja yang dikehendaki Allah bersama mereka dari ahli kiblat (orang islam). Orang-orang kafir itu berkata kepada kaum muslimin: Bukankah kamu orang islam?</p>
<p>Mereka berkata: Ya, dan mereka (orang kafir) berkata: Apa gunanya agama Islam bagimu, sedangkan kamu bersama kami di Neraka?</p>
<p>Kemudian orang Islam menjawab: Kami melakukan banyak dosa yang berakibat kami masuk Neraka, Kemudian Allah Swt mendengar apa yang mereka ucapkan dan memerintahkan untuk dikeluarkan siapa saja dari golongan orang-orang kiblat (orang islam) yang berada di Neraka.</p>
<p>Kemudian mereka dikeluarkan dari Neraka, dan ketika orang-orang kafir melihatnya, mereka berkata, “Seandainya kami menjadi Muslim, maka kami akan keluar seperti mereka.”</p>
<p>Dalam konteks diatas telah jelas betapa agungnya nikmat menjadi seorang muslim. Tatkala nanti ramai orang non-muslim yang berteriak kesakitan ketika disiksa di Neraka, umat Islam akan dikeluarkan sebab agama Islam yang mereka anut.</p>
<p>Lebih lanjut, masih dalam kitab yang sama, Imam Ghazali memaparkan satu hadits yang menceritakan bahwa Allah memenuhi Neraka dengan orang-orang Yahudi dan Nasrani. Beliau mengutip hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim:</p>
<p style="text-align: right;">وقال رسول الله ﷺ: يَتَجَلَى اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ لنا يومَ القِيامَةِ ضاحِكاً فيقولُ : أَبْشِرُوا مَعَشَرَ المسلمين فإنه ليس منكم أحَدٌ إلا وَقَدْ جَعلتُ مكانَهُ فِي النَّارِ يَهُودِيَاً أوْ نَصْرَانِياً</p>
<p>Rasulullah saw bersabda: “Allah akan menampakkan diri kepada kita pada hari kiamat dalam keadaan rida dan berkata: Bergembiralah wahai umat Islam, karena tidak ada seorang pun di antara kamu, kecuali Aku (Allah) menjadikan Neraka sebagai seorang Yahudi atau Nasrani.&#8221;</p>
<p>Jadi sudah jelaslah, selama agama Islam ini kita peluk dengan erat sampai akhirat, niscaya raga kita akan selamat dari siksaan neraka yang dahsyat. Dan dari dua hadits yang telah dicantumkan diatas semoga dapat membuat kita menyadari akan agungnya nikmat islam yang sudah sepantasnya kita syukuri setiap saat.</p>
<p>Memang kekhususan tersebut nampaknya hanya bisa kita rasakan kelak di akhirat, jika begitu? Lantas mengapa kita masih banyak berharap pada dunia yang fana ini. Semoga dengan membaca tulisan pendek ini menjadikan kita lebih giat lagi dalam menghamba kepada Allah, sebab memang hanya itulah tujuan kita diciptakan. <em>Wallahu a&#8217;lam.</em></p>
<p>Penulis: Arianto</p>
<p>Editor: Mahir Riyadl</p>
<p>The post <a href="https://langitan.net/privilege-status-islam/">Privilege Status Islam</a> appeared first on <a href="https://langitan.net">Pondok Pesantren Langitan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://langitan.net/privilege-status-islam/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Taubat dari Dosa?</title>
		<link>https://langitan.net/taubat-dari-dosa/</link>
					<comments>https://langitan.net/taubat-dari-dosa/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 18 Mar 2018 10:07:27 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Ngaji Ihya]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langitan.net/?p=7232</guid>

					<description><![CDATA[<p>Ketahuilah, taubat adalah “meninggalkan”. Tidak mungkin seseorang meninggalkan dosa tanpa mengetahuinya. Jika taubat wajib maka perkara tidak sampai kepadanya kecuali dengannya adalah wajib. Jadi, mengetahui dosa-dosa adalah wajib. Dosa adalah semua hal yang bertentangan dengan perintah Allah  yang wajib dikerjakan. Perlu di ketahui bahwa manusia mempunyai sifat dan akhlak, sebagaimana dijelaskan dalam kitab Keajaiban-keajaiban Hati [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://langitan.net/taubat-dari-dosa/">Taubat dari Dosa?</a> appeared first on <a href="https://langitan.net">Pondok Pesantren Langitan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><img loading="lazy" loading="lazy" decoding="async" class="aligncenter wp-image-7233 size-medium" src="https://langitan.net/wp-content/uploads/2018/03/2-Jenis-Taubat-yang-Terlambat-300x200.jpg" alt="" width="300" height="200" srcset="https://langitan.net/wp-content/uploads/2018/03/2-Jenis-Taubat-yang-Terlambat-300x200.jpg 300w, https://langitan.net/wp-content/uploads/2018/03/2-Jenis-Taubat-yang-Terlambat.jpg 700w" sizes="(max-width: 300px) 100vw, 300px" /></p>
<p>Ketahuilah, taubat adalah “meninggalkan”. Tidak mungkin seseorang meninggalkan dosa tanpa mengetahuinya. Jika taubat wajib maka perkara tidak sampai kepadanya kecuali dengannya adalah wajib. Jadi, mengetahui dosa-dosa adalah wajib. Dosa adalah semua hal yang bertentangan dengan perintah Allah  yang wajib dikerjakan.</p>
<p>Perlu di ketahui bahwa manusia mempunyai sifat dan akhlak, sebagaimana dijelaskan dalam kitab <em>Keajaiban-keajaiban Hati dan Bahaya-bahaya</em>. Akan tetapi, perkembangan dosa terletak pada empat sifat:</p>
<p>&#8211; <em>R</em><em>ububiyah</em> (sifat ketuhanan)</p>
<p>&#8211; <em>Syaithoniyah</em> (sifat kesetanan)</p>
<p>&#8211; <em>B</em><em>ahimiyah</em> (sifat kebinatangan)</p>
<p>&#8211; <em>Sabu’iyah</em> (sifat kebinatangbuasan)</p>
<p>Yang menyerupai sifat-sifat ketuhanan seperti kesombongan, kebanggaan, kesewenang-wenangan, suka pujian dan sanjungan, kemuliaan, kekayaan, suka mencari kekuasaan atas seluruh manusia sehingga seolah-olah seseorang bermaksud berkata, “Saya Tuhanmu Yang Maha Tinggi.”</p>
<p>Kedua adalah sifat <em>syaithoniyah</em>, seperti kedengkian, tipu muslihat, tipuan dan berbuat kebinasaan dan kemungkaran. Termasuk di dalamnya adalah khianat, bermuka dua, serta ajakan kepada bid’ah dan kesesatan.</p>
<p>Ketiga adalah <em>bahimiyah</em> (sifat kebinatangan), seperti kerakusan dan ingin memenuhi nafsu perut dan alat kelamin. Dari sifat ini bercabang pula perbuatan zina, <em>liwath</em> (homo seksual), mencuri, memakan harta anak-anak yatim, serta mengumpulkan barang-barang dunia untuk memenuhi hawa nafsu.</p>
<p>Keempat adalah <em>sabu’iyah</em> (sifat kebinatangbuasan). Dari sifat ini, bercabang kemarahan, kedengkian, memerangi manusia dengan pukulan, caci-maki, pembunuhan, dan pemborosan harta. Dari sifat ini bercabang pula sejumlah dosa.</p>
<p>Sifat-sifat di atas mempunyai tahap-tahap pada <em>fitrah</em> (asal kejadian manusia). Sifat <em>bahimiyah</em> menang pertama-tama kemudian apabila kedua ini berkumpul maka menguasai akal, tipu muslihat, dan daya upaya. Ini merupakan sifat <em>syaithoniyah</em>. Kemudian sifat yang terakhir mengalahkan sifat ketuhanan yaitu sombong, maha tinggi, serta ingin menguasai semua makhluk.</p>
<p>Hal di atas merupakan sumber dosa yang terpancar atas anggota-anggota badan dan terutama hati, semisal kufur, bid’ah, bermuka dua, menyembunyikan kejahatan dan sebagainya atas mata, pendengaran dan sebagainya pada lisan, dan sebagainya pada perut dan alat kelamin dan sebagian atas kedua tangan dan kedua kaki dan sebagianya atas semua badan.</p>
<p>Selayaknya kita sebagai hamba yang paling lemah harus selalu melanggengkan taubat kepada Allah karena tidak dapat dipungkiri bahwa banyak salah dan khilaf yang kita lakukan. Termasuk cara mendekatkan diri kepada sang pencipta adalah mengakui kesalahan dan selalu menyebut nama-Nya.</p>
<p><em>Imam Mahmudi/Majalah Langitan</em></p>
<p>The post <a href="https://langitan.net/taubat-dari-dosa/">Taubat dari Dosa?</a> appeared first on <a href="https://langitan.net">Pondok Pesantren Langitan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://langitan.net/taubat-dari-dosa/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Membedakan Apa yang Dibenci dan Dicintai Allah</title>
		<link>https://langitan.net/membedakan-apa-yang-dibenci-dan-dicintai-allah/</link>
					<comments>https://langitan.net/membedakan-apa-yang-dibenci-dan-dicintai-allah/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 17 Sep 2017 04:10:41 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Ngaji Ihya]]></category>
		<category><![CDATA[kh. abdullah faqih]]></category>
		<category><![CDATA[langitan]]></category>
		<category><![CDATA[Langituna]]></category>
		<category><![CDATA[Masalah Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[Pesantren]]></category>
		<category><![CDATA[pondok pesantren]]></category>
		<category><![CDATA[Pondok Pesantren Langitan.]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langitan.net/?p=6170</guid>

					<description><![CDATA[<p>Orang yang cinta, tentu akan melakukan segala hal demi yang ia cintai dan takut jika ketahuan melakukan apa yang dibenci. Allah adalah Dzat yang Maha Melihat, Mengawasi dan Mengetahui. Dia tahu segala gerak dan semua yang terucap dari hambanya. Seorang saalik yang ingin mendekatkan dirinya pada yang ia cintai (Allah Swt.), tentu ingin segala gerak yang ia [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://langitan.net/membedakan-apa-yang-dibenci-dan-dicintai-allah/">Membedakan Apa yang Dibenci dan Dicintai Allah</a> appeared first on <a href="https://langitan.net">Pondok Pesantren Langitan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><img decoding="async" class="size-medium wp-image-6172 aligncenter" src="https://langitan.net/wp-content/uploads/2017/09/8-golongan-yang-dicintai-allah1.jpg" /></p>
<p>Orang yang cinta, tentu akan melakukan segala hal demi yang ia cintai dan takut jika ketahuan melakukan apa yang dibenci. Allah adalah Dzat yang Maha Melihat, Mengawasi dan Mengetahui. Dia tahu segala gerak dan semua yang terucap dari hambanya.</p>
<p>Seorang <em>saalik</em> yang ingin mendekatkan dirinya pada yang ia cintai (Allah Swt.), tentu ingin segala gerak yang ia kerjakan, dan segala kata yang terucap, selalu mendapat restu dari Allah Swt. Dalam konteks melakukan apa yang ia cintai dan menjauhi hal yang ia benci. Nah, bagaimanakah cara mengetahui hal tersebut? Ada beberapa cara, yaitu:</p>
<ol>
<li><strong>Mendengar</strong></li>
</ol>
<p>Yaitu mendengar al-Qur’an dan hadis, serta mengaplikasikannya ke dalam setiap gerak kehidupan. Tentu saja hal ini bias terelalisasikan jika <em>saalik </em>mau mempelajarinya, mengetahui maksudnya, hingga mempraktikkannya.</p>
<ol start="2">
<li><strong>Melihat</strong></li>
</ol>
<p>Yang dimaksud di sini adalah melihat dengan mata hati (<em>bashirah al-qalbi</em>), yaitu berangan-angan terhadap segala hal yang terjadi, dengan pemikiran mengambil dan memahami segala sesuatu, sebagai bentuk <em>‘ibrah</em>(pelajaran). Hal ini sangatlah sulit dan langka. Karena itu, Allah Swt. Kemudian mengutus Rasul ke muka bumi, guna memudahkan jalan bagi makhlukNya, untuk menemukan hal tersebut.</p>
<p><em>Saalik </em>akan mengetahui hal ini jika ia sudah mengetahui semua hukum syara’ dalam setiap apa yang ia lakukan. Bagian kedua ini adalah mengetahui hikmah pada setiap yang diciptakan oleh Allah Swt. Karena Dia tidak akan Menciptakan sesuatu kecuali bernilai hikmah. Di bagian yang lebih dalam dari hikmah, terdapat tujuan. Dan tujuan inilah yang disebut dengan <em>al-Mahbub</em>, Allah Swt.</p>
<p>Dalam pengambilan hikmah yang bias mengantarkan <em>saalik</em> pada apa yang ia tuju, terbagi menjadi dua bagian, yaitu:</p>
<ol>
<li><strong>Hikmah</strong> <strong><em>Jaliyyah</em></strong><strong> (</strong><strong>J</strong><strong>elas)</strong></li>
</ol>
<p>Hikmah <em>jaliyyah</em> adalah seperti mengetahui bahwa penciptaan matahari adalah untuk mengetahui perbedaan antara siang dan malam. Ketika siang, mata bisa melihat dengan mudah hingga bisa digunakan untuk bekerja. Sedang di waktu malam, mata seolah tertutup hingga sangat tepat untuk digunakan istirahat. Ini adalah sebagian dari hikmah matahari padahal, masih banyak hikmah lainnya yang sangat banyak dan sulit terdeteksi.</p>
<p>Dan al-Qur’an telah memuat hal tersebut dalam sebagian hal dari hikmah yang sesuai dengan pemahaman makhluk. Bahkan, hal yang sangat rumit yang otak manusia kadang tidak akan bisa menjangkaunya. Allah SWT. Berfirman: “<em>Sesungguhnya kami benar-benar</em><em> t</em><em>elah</em> <em>mencurahkan air (dari</em> <em>langit),</em><em> k</em><em>emudian kami belah</em><em>bumi</em> <em>dengan</em> <em>sebaik-baiknya,</em><em> l</em><em>alu kami tumbuhkan</em> <em>biji-bijian di bumi</em> <em>itu,</em><em> a</em><em>nggur</em> <em>dan</em> <em>sayur-sayuran”</em> (Q.S. ‘Abasa: 25-28).</p>
<ol start="2">
<li><strong>Hikmah</strong> <strong><em>Kh</em></strong><strong><em>a</em></strong><strong><em>fiyyah </em></strong><strong>(</strong><strong>S</strong><strong>amar)</strong></li>
</ol>
<p>Adalah seperti hikmah penciptaan bintang yang beredar dan berhenti. Tidak semua makhluk bisa mengetahui hikmah penciptaannya. Adapun kadar dari kepahaman mereka adalah bintang sebagai perhiasan langit agar mata bisa merasakan kelezatan untuk memandangnya. Sebagaimana firman Allah<em>: “Sesungguhnya kami </em><em>t</em><em>elah</em> <em>menghias</em> <em>langit yang terdekat</em> <em>dengan</em> <em>hiasan, yaitu</em> <em>bintang-bintang”</em> (Q.S. as-Saffaat: 06).</p>
<p>Segala hal dari alam baik itu langit, bintang, angin, samudera, gunung, mata air, tumbuhan dan hewan, tidak terkecuali semut paling kecil sekalipun, semuanya memuat banyak sekali hikmah yang tak terhingga. Banyak manusia yang tidak mengetahuinya, atau jika tahupun, mereka hanya bisa mengetahui sebagian kecil, bukan keseluruhannya.</p>
<p><strong>Saatnya</strong> <strong>Dicinta</strong></p>
<p>Allah Swt. telah memberi hikmah dalam kehidupan bahwa seseorang yang dicintai, tentu akan senang jika yang mencintainya semaksud dengan yang ia cintai dan yang ia benci. Maka, pasti Allah Swt.pun akan mencintai hambaNya yang cinta padaNya, jika hambaNya mau menjauhi larangan dan melakukan hal yang Allah cintai. Dan Allah pun pasti akan membalasnya dengan cinta pula.</p>
<p>Adapun, karena kita bukan Rasul yang mendapat petunjuk langsung hingga bias mengetahui secara langsung apa yang di cintai oleh Allah, maka tentu saja yang harus kita lakukan adalah meniru segala tingkah, gerak, dan ucap yang dilakukan oleh Rasul. Dengan melihat firman Allah, sabda Rasul, dan melihat hikmah kehidupan sebagai pembuka tabir jalan yang lurus. Dengan semua itu, semoga kita bisa sesuai dengan apa yang di maksud dan apa yang dicintai oleh Allah Swt. Bukannya tersesat dengan merasa dicinta, padahal mendapat murka.</p>
<p><strong>Sumber: <a href="http://menaralangitan.com">Majalah Langitan</a> / Muhammad Ichsan</strong></p>
<p>The post <a href="https://langitan.net/membedakan-apa-yang-dibenci-dan-dicintai-allah/">Membedakan Apa yang Dibenci dan Dicintai Allah</a> appeared first on <a href="https://langitan.net">Pondok Pesantren Langitan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://langitan.net/membedakan-apa-yang-dibenci-dan-dicintai-allah/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Menggali Makna Cobaan</title>
		<link>https://langitan.net/menggali-makna-cobaan/</link>
					<comments>https://langitan.net/menggali-makna-cobaan/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 12 Feb 2017 18:22:04 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Ngaji Ihya]]></category>
		<category><![CDATA[Berburu Hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[Berpikir Spiral]]></category>
		<category><![CDATA[hikmah cobaan]]></category>
		<category><![CDATA[hikmah ujian]]></category>
		<category><![CDATA[makna ujian]]></category>
		<category><![CDATA[Nikmatnya Ujian]]></category>
		<category><![CDATA[rahasia cobaan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langitan.net/?p=6062</guid>

					<description><![CDATA[<p>&#160; Setiap mukmin memiliki mimpi menjadi Ashabu al-Yamin yang dapat mengarungi seluruh waktu di akhirat dengan penuh kenikmatan, menerima balasan baik sebagai buah hasil kebaikan, dan yang paling utama adalah syahadah dengan sang pencipta, sebagai obat rindu penuh cinta selama dia hidup di dunia. Agar bisa meraih kebahagiaan semacam ini, seorang hamba dituntut untuk menyibak [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://langitan.net/menggali-makna-cobaan/">Menggali Makna Cobaan</a> appeared first on <a href="https://langitan.net">Pondok Pesantren Langitan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>&nbsp;</p>
<p><a href="https://langitan.net/wp-content/uploads/2017/02/images.jpg"><img loading="lazy" loading="lazy" decoding="async" class="size-medium wp-image-6063 aligncenter" src="https://langitan.net/wp-content/uploads/2017/02/images-300x154.jpg" alt="" width="300" height="154" /></a></p>
<p>Setiap mukmin memiliki mimpi menjadi <em>Ashabu al-Yamin</em> yang dapat mengarungi seluruh waktu di akhirat dengan penuh kenikmatan, menerima balasan baik sebagai buah hasil kebaikan, dan yang paling utama adalah <em>syahadah</em> dengan sang pencipta, sebagai obat rindu penuh cinta selama dia hidup di dunia.</p>
<p>Agar bisa meraih kebahagiaan semacam ini, seorang hamba dituntut untuk menyibak naluri <em>sufiyah-</em>nya, sehingga mata batin keimanan sebagai pemisah antara kezhaliman dan kenikmatan dapat terbuka. Seorang hamba dituntut untuk senantiasa membekali diri dengan ilmu pengetahuan agama, kesucian hati, cahaya al-Qur’an, bersyukur, serta mengambil hikmah dari proses perjalanannya menuju derajat agung di sisi Allah Swt.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Berburu</strong><strong> Hikmah</strong></p>
<p>Dunia tempat menanam dan akhirat tempat memanen. Maka, memperbanyak amal shalih merupakan satu-satunya pilihan. Amal shalih bukan hanya berbentuk ibadah <em>d</em><em>za</em><em>hir</em>, melainkan juga ibadah yang bersifat <em>sirry</em>. Antara lain <em>tafakkur</em><em>. </em>Dengan <em>bertafakkur</em> seseorang akan memahami kebesaran Allah melalui ciptaan-Nya. Mencoba tarus menggali makna dan nilai pada setiap benda ciptaan Allah, seluruh yang disaksikan, didengar, dan dilakukan. Dengan demikian ia terbiasa mensyukuri seluruh anggota badan dengan mengerjakan apa yang dicintai oleh Allah Swt.</p>
<p>Seseorang yang setiap hari terbiasa <em>tafakkur</em>, akan memiliki pandangan luas dan terbuka. Ia tidak akan mudah menyalahkan orang lain sebelum mengetahui hakikatnya. Sebab, kebenaran mutlak hanya milik Allah. Mereka yang menganggap dirinya benar dan tidak mau menerima masukan dari orang lain adalah sombong. Allah tidak akan membuka hatinya, meluaskan pandangannya, menguatkan imannya, sehingga ia akan tetap terjerumus dalam lubang kesesatan.</p>
<p>Manusia yang bisa bersikap arif selalu mengambil hikmah dan menggali nilai yang terkandung dalam kesalahan orang lain. Ia bisa menguatkan hatinya, membesarkan jiwanya, sehingga menerima setiap ujian dalam perjalanan hidupnya. Bagaimana cara mengetahui kebenaran dan kesalahan orang lain ketika kebenaran mutlak hanya milik Allah? Ikuti nurani, karena di situlah nafsu <em>sufiyah </em>berbisik. Ikuti tuntunannya dan lakukan keinginannya agar seseorang mengetahui jalan terbaik menuju ridha Allah Swt.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Nikmatnya Ujian</strong></p>
<p>Seseorang harus tetap menjaga hati dari pamrih, karena memahami posisi dirinya di hadapan Tuhan. Ia hanya makhluk yang lemah, tidak bisa bergerak tanpa pertolongan-Nya dan tidak bisa berkembang tanpa kuasa-Nya. Dalam berdo’a, ia bisa menempatkan do’a dalam takaran yang tepat. Berdo’a karena menjalankan sunnah, bukan atas dasar keinginan pribadi. Kenikmatan sejati adalah bukan indahnya apa yang kita miliki sekarang, tapi bagaimana kita bisa membuat indah apa yang kita miliki.</p>
<p>Setiap orang berpotensi untuk dapat menikmati ujian, karena setiap ujian dari Allah selalu bernilai positif. Selalu ada introspeksi di dalam dirinya. Tidak ada hamba shalih yang tanpa diuji. Sebab, ujian merupakan media penyatu antara nafsu dan cinta Tuhannya. Ketika seorang hamba bisa menikmati ujian, maka semua akan tetap indah. Penderitaan seakan kegembiraan yang tersamar. Jika seseorang mempunyai pemikiran demikian, maka tidak akan ada penderitaan yang menyakitkan. Segala sesuatu tergantung apa yang ter-<em>setting</em> dalam pikiran.</p>
<p>Tuhan selalu menciptakan segala sesuatu berpasang-pasangan. Jika seorang hamba berbuat baik, maka ia mendapat berkah. Jika berbuat dzalim, seseorang pasti memperoleh adzab. Oleh sebab itu, jangan mudah melakukan keburukan karena akan ada balasan dari apa yang kita perbuat.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Ber</strong><strong>p</strong><strong>ikir Spiral</strong></p>
<p>Kehidupan ini telah diatur sedemikian rupa oleh Allah sebagai satu metabolisme kosmis, di mana manusia harus benar-benar mengetahui hakikat penciptaannya. Dari situ tidak akan ada kebenaran yang dikaburkan atau kesalahan yang dibenarkan.</p>
<p>Di satu sisi, semua manusia memiliki hak yang sama: mereka boleh menjadi sebagaimana apa yang dicita-citakan. Tetapi, di sisi lain, terdapat batasan-batasan syariat yang menjadikannya harus tetap menghormati batasan itu. Berpikir spiral merupakan kunci keberhasilan dan sarana menjauhkan dari penyesalan. <em>Wallahu a’lam</em><em>.</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p style="text-align: right;">Sumber: <a href="http://menaralangitan.com">Majalah Langitan</a></p>
<p>The post <a href="https://langitan.net/menggali-makna-cobaan/">Menggali Makna Cobaan</a> appeared first on <a href="https://langitan.net">Pondok Pesantren Langitan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://langitan.net/menggali-makna-cobaan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>1</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Menyelami Keagungan Nikmat Allah dalam Tafakkur</title>
		<link>https://langitan.net/menyelami-keagungan-nikmat-allah-dalam-tafakkur-2/</link>
					<comments>https://langitan.net/menyelami-keagungan-nikmat-allah-dalam-tafakkur-2/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 18 Jan 2017 02:17:14 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Ngaji Ihya]]></category>
		<category><![CDATA[kh. abdullah faqih]]></category>
		<category><![CDATA[langitan]]></category>
		<category><![CDATA[Masalah Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[Pesantren]]></category>
		<category><![CDATA[pondok]]></category>
		<category><![CDATA[Tafakkur atas Ciptaan Allah]]></category>
		<category><![CDATA[Tafakkur dalam Maksiat]]></category>
		<category><![CDATA[Tafakkur dalam Tho’at]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langitan.net/?p=6018</guid>

					<description><![CDATA[<p>&#160; &#160; Segala pujian taruntuk Dzat yang tak pernah bosan membagi nikmat bagi hambanya. Memberikan kebahagiaan bagi semuanya, menciptakan setiap keindahan dalam bayang-bayang dunia, bahkan setiap ciptaannya tidak luput dari guna dan manfaat untuk hambanya. Dia adalah Dzat yang tak pernah lalai dengan janji-janjinya, dzat yang paling tepat untuk curahan hati dalam duka maupun suka, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://langitan.net/menyelami-keagungan-nikmat-allah-dalam-tafakkur-2/">Menyelami Keagungan Nikmat Allah dalam Tafakkur</a> appeared first on <a href="https://langitan.net">Pondok Pesantren Langitan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>&nbsp;</p>
<p><a href="https://langitan.net/wp-content/uploads/2017/01/wpid-19.jpg"><img loading="lazy" loading="lazy" decoding="async" class="size-medium wp-image-6019 aligncenter" src="https://langitan.net/wp-content/uploads/2017/01/wpid-19-300x250.jpg" alt="" width="300" height="250" /></a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Segala pujian taruntuk Dzat yang tak pernah bosan membagi nikmat bagi hambanya. Memberikan kebahagiaan bagi semuanya, menciptakan setiap keindahan dalam bayang-bayang dunia, bahkan setiap ciptaannya tidak luput dari guna dan manfaat untuk hambanya. Dia adalah Dzat yang tak pernah lalai dengan janji-janjinya, dzat yang paling tepat untuk curahan hati dalam duka maupun suka, yang mengetahui bisikan dan kehendak hati manusia, pengabul do’a, serta pemberi kebahagiaan abadi kelak ketika tiada berguna lagi keluarga dan harta.</p>
<p>Banyak sekali keterangan dalam Al-Qur’an ataupun hadits yang menjelaskan tentang fadhilah tafakkur. Allah pun memuji setiap hambanya yang bertafakkur seperti dalam firmannya, <em>“(yaitu) Orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “ Ya Tuhan kami, tidaklah engkau menciptakan semua ini sia-sia, maha suci engkau, lindungilah kami dari adzab neraka</em>”.</p>
<p>Dalam sebuah hadits disebutkan, “Tafakkur sesaat itu lebih baik dari pada ibadah satu tahun”.</p>
<p>Diceritakan dari Ibnu Abbas r.a. bahwa ada suatu kaum yang sedang bertafakkur tentang Dzat Allah Swt., kemudian Nabi berkata : “Bertafakkurlah tentang ciptaan Allah dan jangan bertafakkur pada dzat Allah, karena kalian tidak akan mampu menyelaminya.”</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Tafakkur atas Ciptaan Allah</strong></p>
<p>Seorang hamba akan bisa merasakan betapa agungnya Allah ketika mau mengorek lebih dalam atas manfaat, guna, maupun keajaiban-keajaibannya. Seseorang akan bisa mengetahui akan kebesaran Allah, sehingga karenanya hati orang tersebut akan lebih condong dan bersyukur pada nikmat-nikmat yang telah dimiliki, juga bisa lebih berbesar hati dengan menerima setiap nikmat itu tanpa harus mengharap nikmat lain yang semua itu hanya bersumber dari nafsunya. Keadaan demikian akan menambah keimanan dan ketaqwaan kita kepada Allah hingga berimbas akan lahir benih-benih keta’atan, juga akan terlantun bacaan tahmid dan tasbih dalam hati seorang hamba ketika ia menyaksikan setiap keagungan ciptaan Allah dalam seluruh langkahnya. Sungguh betapa besar maha karya Allah, betapa indah racikan kehidupan yang ia suguhkan, betapa menakjubkan setiap goresan yang ia berikan, maha besar dan agung Allah tuhan semesta alam.</p>
<p>Selain itu, tafakkur pada anggota badan secara terperinci juga penting, selain untuk menambah kualitas ibadah kita kepada Allah juga untuk evaluasi diri, <em>muhasabah</em> tentang amal-amal buruk yang kita lakukan yang bertujuan agar manusia menjadi lebih baik dan dalam rangka memepertebal keimanan kepada Allah dengan cara memikirkan maksiat yang telah kita kerjakan ataupun keta’atan-keta’atan yang belum kita lakukan dan memohon keselamatan pada Tuhan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Tafakkur dalam <em>Tho’at</em></strong></p>
<p>Maka yang pertama kali harus di evaluasi adalah tentang ibadah sholat maktubah. Tentang bagaimana kita menjalankannya, bagaimana menjaganya dari kekurangan dan keteledoran atau mengganti kekurangan itu dengan memperbanyak sholat sunnah.</p>
<p>Kemudian dalam anggota badan tentang bagaimana pekerjaan yang kita lakukan akan mampu mendekatkan kita pada sesuatu yang dicintai oleh Allah. Seumpama berkata kepada matanya : “Mata itu diciptakan untuk bisa melihat keindahan langit dan bumi sebagai bukti kebesaran Allah, supaya lebih bertaqwa kepada Allah, dan merenungi Al-Qur’an seta hadits. Saya mampu menyibukkan mata ini agar selalu <em>memuthola</em><em>’</em><em>ah</em> Al-Qur’an dan hadits tapi saya tidak melakukannya. Dan saya juga mampu melihat pada seseorang yang tho’at dengan pandangan mengagungkannya dan memberikan kebahagiaan pada hatinya. Juga melihat pada orang fasiq dengan pandangan ingkar kemudian menjauhkan dari maksiatnya tapi saya tidak melakukannya”.</p>
<p>Juga berkata pada telinga: “aku mampu mendengarkan kalam hikmah dan ilmu atau mendengarkan bacaan Al-Qur’an dan dzikir, tapi aku tidak menghiraukannya padahal Allah telah memberikan nikmat kepadaku tapi aku mengingkari nikmat itu dengan tidak mensyukurinya”.</p>
<p>Begitu juga tafakkur pada lisan dengan berkata: “Sesungguhnya aku mampu mendekatkan diriku kepada Allah dengan mengajar, member nasihat yang baik, memberikan kabar kebahagiaan bagi orang-orang yang berbuat baik, dan dengan bertanya tentang bagaimana keadaan orang-orang faqir dan memberikan kebahagiaan pada orang yang sholih dan alim dengan kata-kata yang indah. Karena segala bentuk kata-kata yang indah atau baik itu terhitung shodaqoh”.</p>
<p>Begitu juga dengan tafakkur pada hartanya dengan berkata: “Aku bisa men<em>shodaqoh</em>kan harta yang tidak kubutuhkan pada orang-orang itu, dan ketika aku membutuhkannya, Allah akan mengganti dengan yang menyamainya apabila aku butuh sekarang.</p>
<p>Begitu juga dengan anggota-anggota yang lain termasuk harta bahkan kendaraan. Karena semua itu adalah sebab-sebab tafakkur, sehingga akan menjadikan kita lebih <em>tho’at</em> kepada Allah, juga akan muncul kethoatan-kethoatan yang lebih sebab tafakkur yang lebih dalam. Juga tafakkur pada keadaan yang menjadikan kita lebih suka pada tho’at, tafakkur pada ihlasnya niat, dan mencari hakikat sesungguhnya dalam suatu ibadah, sehingga seseorang akan mampu membersihkan amal-amalnya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Tafakkur dalam Maksiat</strong></p>
<p>Bertafakkur dalam maksiat adalah dengan cara mengingatkan pada lisan dan berkata “Aku menggunakannya untuk ghibah, bohong, mengagungkan diri sendiri, menghina orang lain, mencela, berdebat yang tidak perlu dan bercanda yang tidak perlu, dan yang lainnya dalam perbuatan tercela. Kemudian pertama adalah mengakui pada dirinya bahwa semua adalah perkara yang dibenci oleh Allah.</p>
<p>Tafakkur pada telinga dengan berkata “Aku menggunakannya untuk menggunakan ghibah, kebohongan,, kata-kata yang tidak penting, canda gurau dan bid’ah dan semua itu kudengar dari mereka, padahal aku harus menjauhinya dan berbuat nahi munkar”.</p>
<p>Juga pada perut yang adakalnya berbuat maksiat kepada Allah dalam makan dan minum, dengan memperbanyak makan halal padahal itu dibenci oleh Allah dan memperbesar syahwat, yang syahwat tersebut adalah senjatanya syaitan sang musuh Allah. Dan adakalanya makan barang haram atau syubhat. maka renungilah dari mana semua itu berasal baik makanan, pakaian, tempat tinggal, pekerjaan dan apa yang dikerjakan. Juga mengakui pada dirinya bahwa seluruh ibadah itu akan sia-sia jika makanan yang kita makan adalah haram. Dan makanan halal adalah pondasi seluruh ibadah, dan sesungghunya Allah tidak akan menerima sholatnya seseorang yang pakaiannya di beli dengan campuran harta haram. Sebagaimana yang diterangkan oleh hadist.</p>
<p>Dan ini adalah sebagian dari tafakkur pada anggota badan. Ketika dengan tafakkur ini bisa menghasilkan <em>ma’rifat billah</em> maka sepanjang hari orang itu akan tersibukkan dengan <em>muroqobah</em> sehingga dia bisa menjaga anggota tubuhnya dari maksiat.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p style="text-align: right;">[<em>Wildan Shofa Nur</em>]</p>
<p style="text-align: right;">Sumber: menaralangitan.com</p>
<p>The post <a href="https://langitan.net/menyelami-keagungan-nikmat-allah-dalam-tafakkur-2/">Menyelami Keagungan Nikmat Allah dalam Tafakkur</a> appeared first on <a href="https://langitan.net">Pondok Pesantren Langitan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://langitan.net/menyelami-keagungan-nikmat-allah-dalam-tafakkur-2/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Harta Hanya di Tangan Bukan di Hati</title>
		<link>https://langitan.net/harta-hanya-di-tangan-bukan-di-hati-2/</link>
					<comments>https://langitan.net/harta-hanya-di-tangan-bukan-di-hati-2/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 15 May 2016 05:10:13 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Ngaji Ihya]]></category>
		<category><![CDATA[Dunia]]></category>
		<category><![CDATA[harta]]></category>
		<category><![CDATA[jelajah pesantren]]></category>
		<category><![CDATA[kajian kitab ihya' ulumuddin]]></category>
		<category><![CDATA[kh. abdullah faqih]]></category>
		<category><![CDATA[KH. abdurrohman Faqih]]></category>
		<category><![CDATA[kh. ubaidillah faqih]]></category>
		<category><![CDATA[langitan]]></category>
		<category><![CDATA[NGAJI]]></category>
		<category><![CDATA[pangkat]]></category>
		<category><![CDATA[Pesantren]]></category>
		<category><![CDATA[pondok]]></category>
		<category><![CDATA[Pondok Pesantren Langitan.]]></category>
		<category><![CDATA[yai faqih]]></category>
		<category><![CDATA[zuhud]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langitan.net/?p=5773</guid>

					<description><![CDATA[<p>Hidup memang sebuah ujian, hanya orang-orang yang benar-benar teguh iman saja yang dapat melewati ujian ini dengan baik. Mereka adalah orang-orang yang tidak tertipu oleh kilauan nikmat dunia yang begitu menggoda. Jika bisa di ibaratkan, dunia itu ibarat seorang wanita tua renta yang memakai perhiasan yang begitu indah. Saat orang-orang melihat dzohir wanita tersebut bisa [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://langitan.net/harta-hanya-di-tangan-bukan-di-hati-2/">Harta Hanya di Tangan Bukan di Hati</a> appeared first on <a href="https://langitan.net">Pondok Pesantren Langitan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://langitan.net/wp-content/uploads/2016/05/harta-warisan.jpg"><img loading="lazy" loading="lazy" decoding="async" class="size-medium wp-image-5774 aligncenter" src="https://langitan.net/wp-content/uploads/2016/05/harta-warisan-300x238.jpg" alt="harta-warisan" width="300" height="238" /></a></p>
<p>Hidup memang sebuah ujian, hanya orang-orang yang benar-benar teguh iman saja yang dapat melewati ujian ini dengan baik. Mereka adalah orang-orang yang tidak tertipu oleh kilauan nikmat dunia yang begitu menggoda. Jika bisa di ibaratkan, dunia itu ibarat seorang wanita tua renta yang memakai perhiasan yang begitu indah. Saat orang-orang melihat dzohir wanita tersebut bisa di pastikan mereka akan terpesona dan mengira bahwa wanita tersebut memang benar-benar cantik. Namun ketika wujud asli wanita tua itu terbuka dan kejelekannya telah tampak, maka para lelaki akan sengat menyesal dan malu karena merasa telah tertipu oleh kecantikan dzahir yang palsu.</p>
<p>Begitulah dunia. Dia memang di ciptakan untuk menguji seberapa kuatkah iman seseorang. Ketika seseorang di tuntut untuk melakukan ibadah kepada sang kholiq, dunia yang telah di modifikasi sedemikian rupa oleh iblis la’natullah datang dengan berbagai macam nikmat dan kesenangan yang sifatnya hanya sementara. Iblis akan terus berusaha hingga akhirnya manusia terperangkap dalam jurang kenikmatan duniawi dan lupa bahwa tugas awal di ciptakannya seorang hamba adalah beribadah kepada sang kholiq.</p>
<p>Adalah Orang-orang yang memahami hakikat kehidupan dunia ini sesuai dengan apa yang telah allah dan rasul-nya ajarkan yang bisa selamat dari tipu daya syetan. Mereka memandang dunia dan isinya tak lebih dari sebuah permainan yang seringkali melalaikan, mereka tidak berbangga hati dan sombong dengan harta kekayaan yang di miliki. Jika dalam diri mereka telah tertanam sifat tersebut, maka mereka bisa di sebut dengan zuhud. Zuhud merupakan sifat yang seharusnya di miliki oleh setiap orang yang mengaku  dirinya sebagai mu’min. zuhud juga hendaknya menjadi gaya hidup umat muslim kapanpun dan di manapun ia berada. Zuhud bukan berarti meninggalkan kenikmatan dunia sama sekali, bukan pula mengenakan pakaian-pakaian yang lusuh dan bukan berarti miskin. Bahwa sebenarnya, zuhud adalah kemampuan kita dalam menjaga hati dari godaan serta tipu daya kemewahan dunia tanpa meninggalkanya. Lebih spesifiknya  zuhud merupakan hikmah pemahaman yang membuat seseorang memiliki pandangan khusus terhadap kehidupan duniawi. Mereka tetap berusaha dan bekerja, namun kehidupan duniawi itu tidak menguasai kecenderungan hatinya dan tidak membuatnya meninggalkan Allah sedetikpun. Kita beramal shalih, memakmurkan bumi dan bermuamalah, namun di saat yang sama hati kita tidak tertipu. Kita meyakini sepenuhnya bahwa kehidupan akhiratlah yang menjadi tujuan utama.</p>
<p>Di zaman yang seperti ini, zaman yang penuh dengan hal yang serba modern dan tersedianya  suguhan berbagai macam nikmat duniawi, mencari seorang zahid sejati sangatlah sulit. ibarat mencari sebuah jarum di tumpukan jerami. Karena jarang sekali orang yang dapat menahan dirinya dari dasyatnya godaan dunia. Namun jika seseorang mempunyai  kemauan yang kuat dan berusaha mengikuti semua aturan sebagaimana yang telah di jelaskan ulama terdahulu, maka bukanlah hal yang mustahil bila dia akan berhasil mencapai maqom seorang zahid sejati. Selain itu yang terpenting lagi adalah urusan hati. Sebagaimana keterangan di atas, walaupun seseorang mempunyai harta yang melimpah namun dalam hatinya tak pernah  sedikitpun terbesit rasa senang terhadap harta tersebut itulah yang di namakan zuhud yang sebenarnya. Sebaliknya ketika seorang tidak mempunyai harta sama sekali namun hatinya selalu berangan dan bermimpi bisa memilikinya. Hal tersebut tidaklah bisa dikatakan sebagai zuhud, sebab inti dari sifat tersebut adalah hati yang bersih dari kecondongan terhadap kesenangan duniawi. Seorang ulama di zaman tabi’in pernah berkata bahwa ma’na meninggalkan dunia yang sebenarnya adalah dari hati dan fikiran. Suatu pekerjaan bisa bernilai amal duniawi atau ukrowi tinggal bagaimana niat seseorang. Jika seseorang makan dengan niat agar badanya kuat menjalani ibadah maka pekerjaan tersebut akan benilai ibadah. Begitu juga sebaliknya.</p>
<p>Oleh karenanya merupakan hal yang sangat penting bagi kita untuk sadar dan menyadarkan kembali diri sendiri beserta saudara-saudara kita tentang hakikat dunia dan akhirat. Iman terhadap hari akhir merupakan prinsip yang harus terus menerus di ingatkan dan di tanamkan dalam hati kita, sehingga motivasi dan tujuan hidup kita sesuai dengan nilai-nilai islam dan dapat memupuk sikap zuhud kita terhadap kehidupan duniawi. Semakin kuat keimanan seseorang terhadap hari akhir, maka semakin tenaglah ia memandng kehidupan. Sebaliknya, semakin lemah iman seseorang terhadap hari pembalasan, otomatis akan menjadikan ia manusia yang rakus dan mudah tertipu oleh gemerlap keindahan yang di tawarkan oleh dunia.</p>
<p><em>wallahu a’lam bishawab.</em></p>
<p style="text-align: right;">Sumber : Majalah Langitan</p>
<p>The post <a href="https://langitan.net/harta-hanya-di-tangan-bukan-di-hati-2/">Harta Hanya di Tangan Bukan di Hati</a> appeared first on <a href="https://langitan.net">Pondok Pesantren Langitan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://langitan.net/harta-hanya-di-tangan-bukan-di-hati-2/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
