Habib Alwi Assegaf

Habib Alwi Assegaf (Tuban) mengatakan, betapa besar nikmat Allah ketika Ia me-nisbah-kan hambanya dengan ilmu. Saat itu juga, ketika Allah menjadikan seseorang sebagai penuntut ilmu, maka ia telah mendapat anugerah yang luar biasa.

“Ketika kita mendapatakan kesempatan untuk menuntut ilmu, ini adalah merupakan karunia dari Allah. Bukan karena kekuatan, dan kemampuan kita, tetapi semata-mata dari alah Swt.” ungkap beliau dalam kunjungannya di Pondok Pesantren Langitan, Widang, Tuban, Jum’at (09/10).

Di hadapan ribuan santri, di musholla agung Langitan, beliau memberikan taushiyah tentang adab dalam mencari ilmu, dan apa saja yang harus dilakukan santri dalam menuntut ilmu di pesantren.

Menurut beliau, Ilmu itu adalah sesuatu yang mahal dan amatlah berharga. Karenanya, Allah tidak akan semerta-merta memberikannya pada sembarang orang.  Dan sudah barang tentu Allah akan menitipkan ilmu pada orang-orang tertentu yang dipilih-Nya.

“Ibarat kita, jika punya barang berharga, kira-kira menitipkan ke sembarang orang atau orang pilihan? Tentu ke orang yang kita kenal (percayai) kan? karena kita merasa itu adalah barang yang berharga,“ tuturnya.

Dalam mencari ilmu, ungkapnya, seorang santri seharusnya membersihkan hati dan menjauhkan diri dari maksiat. Dalam hal ini, beliau menukil qaul Imam Nawawi Ra. dalam Syarh al-Muhadzab: “Sudah sepatutnya bagi pencari ilmu untuk membersihkan hati dari semua kotoran agar dia bisa menerima ilmu, menjaga, dan mengembangkannya”.

Selain memembersihkan hati dan menjauhkan diri dari maksiat (thoharah al-Qalb, wa at-takholli ‘anil mukhollafah), dalam taushiyahnya, beliau menuturkan beberapa poin penting mengenai adab dalam mencari ilmu yakni; al-ikhlas lillah fi tholab al’ilmi (ikhlas karena Allah dalam mencari ilmu), at-tawadlu’ wa khidmah al-‘ulama’ (merendah diri dan berkhidmah pada ulama’), iltimas al-fa’idah haitsu kana (siap mencari manfa’at kapan saja, di mana saja, dan dari siapa saja), dan at-takhfif min at-tho’am wa al-manam (mengurangi makan dan tidur). Beberapa poin tersebut, di akhir taushiyah,  beliau melengkapinya dengan  ijazah beberapa amalan yang harus diilakukan oleh para santri. [Sahil]