Seorang filosof inggris, John Lock, pernah mengatakan, bahwa anak ibarat kertas kosong yang masih putih. Ungkapan ini mengandung maksud, bahwa anak dapat dicetak sesuai dengan keinginan pencetaknya. Ia akan mengikuti pola dan motif yang dibuat oleh pengukirnya. Namun, dalam tataran praktik dan realisasi, ungkapan itu tidak semudah yang dibayangkan, karena anak tidak serta merta akan menurut dan pasrah sebagaimana benda mati. Namun, ia akan melakukan perlawanan dan penolakan, karena dipengaruhi oleh faktor ekstern.

Sebagai orang tua, sudah seharusnya melihat berbagai potensi yang dimiliki oleh anak, baik potensi positif maupun negatif, agar yang positif dapat dieksplorasi dengan maksimal, dan yang negatif dapat dieliminir sedapat mungkin. Pun pula agar orang tua sebagai pencetak dan pengukir anak dapat melihat potensi itu dengan sudut pandang yang benar. Sebab, tidak jarang, potensi positif seorang anak dimatikan oleh orang tua karena dianggap negatif sehingga kerugian besar yang akan didapatkan, sebab anak tidak tumbuh kembang dengan normal.

Anak pada usia 2-6 tahun biasa disebut aesthetis. Tapi menurut Elizabeth Hurloch, disebut dengan Early Childhood, akan mengalami perkembangan psikis yang sangat menonjol. Dalam perkembangannya akan banyak dipengaruhi oleh faktor lingkungan. Memorinya akan menangkap dan menyimpan kejadian-kejadian yang ada di sekitarnya, karena panca inderanya sangat peka, ia akan berusaha meniru hal-hal yang ia dapat. Perkembangan psikis ini dapat dilihat dari kenakalan-kenakalan, pembangkangan terhadap perintah orang tua dan penentangan terhadap nasihatnya.

Hal ini sebenarnya wajar, sebab ia banyak mendapat “ilmu” dari lingkungan sekitarnya, bukan hanya dari orang tua saja. Ketika menentang orang tua, mungkin ia sedang “mempraktikkan” ilmu yang ia dapatkan dari lingkungan sekitarnya. Masa-masa kenakalan seperti ini disebut oleh Oswald Kroh dengan sebutan “Trotzalter” atau masa Trotz. Lengeveld menyebutnya dengan sebutan “Protest Phase”. Sedangkan orang Jawa menyebutnya “kumratu-ratu”.

Pada masa ini, ke-aku-an anak sangat terlihat. Apapun yang diminta harus dipenuhi dan dituruti, karena ia mengidentikkan dirinya sebagai ratu atau raja. Tidak jarang terlihat, anak menangis meraung-raung untuk minta dibelikan sesuatu yang diinginkannya, atau merebut mainan dari temannya karena ke-aku-an tadi. Egonya akan mencoba banyak hal yang dilihatnya. Kalau orang lain bisa, kenapa aku tidak? Hingga banyak keluhan dari ibu-ibu, karena alat kosmetiknya dipakai “berdandan” oleh putrinya. Atau alat-alat dapur berserakan dan entah kemana, karena dipakai masak oleh anak-anak. Akhirnya, yang muncul adalah ungkapan “anak itu nakal”. Padahal sebenarnya tidak. Karena yang demikian ini adalah bentuk expresi dan aktualisasi diri dari seorang anak.

Sebagai orang tua, ada beberapa hal yang dapat dilakukan ketika menghadapi Trozt atau pembangkangan dan berbagai ulah yang ditimbulkan oleh anak.

  1. Mengalihkan minat atau kemauanya, yang oleh orang tua dianggap tidak benar. Seperti ketika anak perempuan hobi dengan bermain dan aktifitas anak laki-laki, atau sebaliknya. Sebab akan berpengaruh dengan mental dan perilaku.
  2. Memberikan pengganti barang-barang yang berbahaya dengan benda yang dianggap aman. Seperti anak bermain dengan senjata tajam diganti dengan benda plastik atau kayu yang tidak berbahaya.
  3. Hindari mencela anak, karena akan berpengaruh pada perkembangan mentalnya. Jangan suka mengatakan “anak nakal, anak bodoh, dan semisalnya”. Kata-kata tersebut akan membekas dalam memorinya.
  4. Memuji disaat yang tepat. Pujian yang berlebihan membuat anak merasa jumawa. Sebaliknya, selaan keterlaluan akan membunuh karakter dan kreativitas anak.
  5. Semuan keinginannya tidak harus dipenuhi. Ada kalanya dia harus menelan “ketidak-berhasilan” dari impianya, sebagai latihan mental menerima kenyataan.
  6. Karena fase ini anak mempunyai rasa keingintahuan yang besar, maka tidak jarang, anak akan selalu bertanya tentang hal-hal yang ia lihat. Oleh sebab itu, orang tua harus menjawab pertanyaan dengan kadar pikirannya. Melarang mereka bertanya, sama halnya dengan membunuh kreativitas dan imajinasinya.
  7. Bila mencoba dan melakukan hal-hal yang berbahaya, maka hendaklah orang tua memberi pengertian dengan cara berdialog dan adanya keterbukaan. Karena itu sangat diperlukan, jangan hanya sekedar melarang yang tidak ada dan tidak memberi pengertian pada mereka.

Perlu diingat, semua anak pasti pernah nakal, seperti halnya mereka pernah manis dan baik. Dan dari kenakalan itu, secara tidak langsung akan membantu anak membentuk beberapa sifat yang baik, termasuk rasa ingin tahu dan sikap mandiri. Dengan panduan yang tepat, orang tua akan dapat membantu  seorang anak untuk tetap sopan tapi tidak menjdai tidak peka. Yang tidak kalah pentingnya lagi adalah saat menjelaskan kepada anak tentang akibat dari tindakanya,orang tua juga harus membangun kemampuannya untuk berempati. Rasa empati yang kuat akan membantu anak untuk menghentikan kenakalan yang bersifat merusak, mendorongnya berfikir dulu sebelum bertindak dan membantu anak belajar menempatkan dan menyesuaikan diri terhadap lingkungan sekitarnya.

Sumber: Majalah Langitan / Asnawi