NU harus waspada | Pondok Pesantren Langitan Tuban Jawa timur
Arsip
Kategori
Komentar terakhir
sebelumnya terima kasih atas usulan dan apresiainy...
untuk sementara ini memang belu kami upload ke dal...
boleh-boleh saja, tapi untuk lebih jelasnya anda b...
Pak Hasyim yang saya hormati.....Itu kok Liberalis...
Mau nangani kelaparan kok Khilafah loh solusinya.....
jakartanya mana...?...
orang mana...? kapan nikahnya...
aslm... afwan anam minta terjemahan shalawat farsy...
Assalamu'alaikum.... minta terjemahan ta'lim muta...
Ass. Kepada semua Santri PonPes Langitan Saya dari...
Forum
Support
Hamzah


Penanggungjawab :
Sya'roni

Hasyim

Farihin
Tags

NU harus waspada

OLEH KH A HASYIM MUZADI
Bertempat di Pondok Pesantren Langitan, Tuban, asuhan KH Abdullah Faqih, berlangsung Pertemuan PBNU, PWNU Jawa Timur, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur, Pimpinan Pondok Pesantren, beserta kurang lebih 500 Ulama se-Jawa Timur, Sabtu 25 April 2009.

Sahibul bait memberikan taushiyah dan mengingatkan, warga NU walau coraknya warna-warni jangan sampai terbelah-belah. Ini yang harus kita jaga benar keutuhannya. Menurut Kiai Abdullah Faqih, dua hal penting yang ditekankan dalam mengarungi hidup dan kehidupan ini jadilah seperti lima jari. Meskipun tercipta secara terpisah dan sendiri-sendiri, tapi bila menghadapi kepentingan bersama harus dirapatkan dalam satu tekad. Begitu juga untuk kepentingan NU, semuanya harus jadi satu.

Kiai Abdullah Faqih mengungkapkan, sekarang banyak warga NU terseret dalam berbagai aliran, seperti liberalisme dan sejenisnya. Karena itu, para kiai serta kader NU yang ada di parpol berkumpul untuk menata NU ke depan.

***

Dalam forum silaturahim tersebut, menghasilkan kesimpulan sebagai berikut:

* Seluruh pengurus Nahdlatul Ulama (NU) pada seluruh tingkatan, para ulama, pengasuh pondok pesantren, dan segenap warga NU seluruh Indonesia diserukan untuk “mawas diri” (introspeksi) terhadap kesalahan, kekhilafan serta keteledoran yang dewasa ini dilakukan sehingga mengakibatkan menurunnya martabat perjuangan serta melemahnya persaudaraan ke-NU-an (Ukhuwah Nahdliyah). Kesalahan itu utamanya pada perpecahan yang disebabkan kepentingan-kepentingan sesaat.

* Sekaligus diserukan untuk mempertinggi kewaspadaan terhadap bahaya-bahaya yang mengancam NU misalnya atheisme/komunisme, ekstremisme yang bertentangan dengan garis moderasi NU, liberalisme pemikiran keagamaan yang merusak sendi-sendi keimanan, syariat, serta budaya religi nahdliyin serta memotong “garis hidup” (life line) perjuangan NU.

* Sebagai persiapan Muktamar ke-32 NU yang diadakan pada Januari 2010 di Makassar, menjadi forum penting bagi nahdliyin. Kita harus mampu menyelamatkan NU dari faham ekstrem kanan/kiri (tatharruf tasyaddudi dan tatharrof tasahuli) serta bersih dari intervensi dari manapun.

* Bersamaan dengan itu pengurus/ulama serta warga NU untuk mewaspadai money politics yang beredar pada setiap pemilihan segala tingkatan karena money politics (politik uang) berakibat sangat buruk. Antara lain, dapat merenggangkan hubungan ulama dan umat, terjadinya fitnah, menjauhkan pemimpin dan rakyatnya, menghilangkan sifat jujur (shiddiq) dan amanat (amanah) dari pemberi money politics karena telah merasa membeli kiai dan umat sehingga pada gilirannya bangsa ini akan dipimpin oleh kesewenang-wenangan serta perselingkuhan politik yang tak bertanggungjawab.

* Kita tetap boleh menerima pemberian tapi bukan yang menghancurkan perjuangan dan merusak moral. Martabat NU bisa rusak gara-gara money politics.

* Selanjutnya pertemuan di Pesantren Langitan juga menyerukan bahwa keadaan negara masih dalam carut-marut akibat pertikaian dan saling tuduh antarpemimpin. Artinya, segala sesuatu dapat saja terjadi, yang baik dan yang terburuk. Maka seluruh jajaran NU diserukan merapatkan barisan (dengan terus beristighfar dan membaca doa Hizb Nashar) secara berjamaah serta kembali dalam bimbingan PBNU sesuai dengan prinsip imarah agar umat tidak tersesat jalan pada saat suasana memburuk. Sudah terbukti berkali-kali bahwa jalan sendiri-sendiri dan tidak disiplin telah membuahkan kegagalan dan kerusakan dimana-mana. Semoga Allah melindungi kita dan Indonesia.

Amin, Amin. Ya, Rabbal a”lamin. []

KH A Hasyim Muzadi, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU)
(duta masyarakat)


Artikel yang mungkin terkait:
  1. Kalah Menang Soal Biasa Kiai NU yang mendukung Jusuf Kalla dan Wiranto tidak mempermasalahkan...
  2. KH Hasyim Muzadi : Liberalisme bukan NU Peta politik menjelang pilpres 8 Juli mendatang semakin memanas. Dalam...
  3. Wajib ikut pemilu Adanya indikasi banyaknya golput pada Pemilu 2009 membuat KH Abdullah...
  4. Menolak Istilah Kiai Khas dan Kiai Kampung Tulisan KH. Abdulloh Faqih ini dimuat di jawapos.com dengan url...
  5. Istighotsah dan deklarasi PKNU Setelah mengalami proses yang panjang, akhirnya terlaksanalah Deklarasi Partai Kebangkitan...

Leave a Reply