Setiap mukmin memiliki mimpi menjadi Ashabu al-Yamin yang dapat mengarungi seluruh waktu di akhirat dengan penuh kenikmatan, menerima balasan baik sebagai buah hasil kebaikan, dan yang paling utama adalah syahadah dengan sang pencipta, sebagai obat rindu penuh cinta selama dia hidup di dunia.

Agar bisa meraih kebahagiaan semacam ini, seorang hamba dituntut untuk menyibak naluri sufiyah-nya, sehingga mata batin keimanan sebagai pemisah antara kezhaliman dan kenikmatan dapat terbuka. Seorang hamba dituntut untuk senantiasa membekali diri dengan ilmu pengetahuan agama, kesucian hati, cahaya al-Qur’an, bersyukur, serta mengambil hikmah dari proses perjalanannya menuju derajat agung di sisi Allah Swt.

 

Berburu Hikmah

Dunia tempat menanam dan akhirat tempat memanen. Maka, memperbanyak amal shalih merupakan satu-satunya pilihan. Amal shalih bukan hanya berbentuk ibadah dzahir, melainkan juga ibadah yang bersifat sirry. Antara lain tafakkur. Dengan bertafakkur seseorang akan memahami kebesaran Allah melalui ciptaan-Nya. Mencoba tarus menggali makna dan nilai pada setiap benda ciptaan Allah, seluruh yang disaksikan, didengar, dan dilakukan. Dengan demikian ia terbiasa mensyukuri seluruh anggota badan dengan mengerjakan apa yang dicintai oleh Allah Swt.

Seseorang yang setiap hari terbiasa tafakkur, akan memiliki pandangan luas dan terbuka. Ia tidak akan mudah menyalahkan orang lain sebelum mengetahui hakikatnya. Sebab, kebenaran mutlak hanya milik Allah. Mereka yang menganggap dirinya benar dan tidak mau menerima masukan dari orang lain adalah sombong. Allah tidak akan membuka hatinya, meluaskan pandangannya, menguatkan imannya, sehingga ia akan tetap terjerumus dalam lubang kesesatan.

Manusia yang bisa bersikap arif selalu mengambil hikmah dan menggali nilai yang terkandung dalam kesalahan orang lain. Ia bisa menguatkan hatinya, membesarkan jiwanya, sehingga menerima setiap ujian dalam perjalanan hidupnya. Bagaimana cara mengetahui kebenaran dan kesalahan orang lain ketika kebenaran mutlak hanya milik Allah? Ikuti nurani, karena di situlah nafsu sufiyah berbisik. Ikuti tuntunannya dan lakukan keinginannya agar seseorang mengetahui jalan terbaik menuju ridha Allah Swt.

 

Nikmatnya Ujian

Seseorang harus tetap menjaga hati dari pamrih, karena memahami posisi dirinya di hadapan Tuhan. Ia hanya makhluk yang lemah, tidak bisa bergerak tanpa pertolongan-Nya dan tidak bisa berkembang tanpa kuasa-Nya. Dalam berdo’a, ia bisa menempatkan do’a dalam takaran yang tepat. Berdo’a karena menjalankan sunnah, bukan atas dasar keinginan pribadi. Kenikmatan sejati adalah bukan indahnya apa yang kita miliki sekarang, tapi bagaimana kita bisa membuat indah apa yang kita miliki.

Setiap orang berpotensi untuk dapat menikmati ujian, karena setiap ujian dari Allah selalu bernilai positif. Selalu ada introspeksi di dalam dirinya. Tidak ada hamba shalih yang tanpa diuji. Sebab, ujian merupakan media penyatu antara nafsu dan cinta Tuhannya. Ketika seorang hamba bisa menikmati ujian, maka semua akan tetap indah. Penderitaan seakan kegembiraan yang tersamar. Jika seseorang mempunyai pemikiran demikian, maka tidak akan ada penderitaan yang menyakitkan. Segala sesuatu tergantung apa yang ter-setting dalam pikiran.

Tuhan selalu menciptakan segala sesuatu berpasang-pasangan. Jika seorang hamba berbuat baik, maka ia mendapat berkah. Jika berbuat dzalim, seseorang pasti memperoleh adzab. Oleh sebab itu, jangan mudah melakukan keburukan karena akan ada balasan dari apa yang kita perbuat.

 

Berpikir Spiral

Kehidupan ini telah diatur sedemikian rupa oleh Allah sebagai satu metabolisme kosmis, di mana manusia harus benar-benar mengetahui hakikat penciptaannya. Dari situ tidak akan ada kebenaran yang dikaburkan atau kesalahan yang dibenarkan.

Di satu sisi, semua manusia memiliki hak yang sama: mereka boleh menjadi sebagaimana apa yang dicita-citakan. Tetapi, di sisi lain, terdapat batasan-batasan syariat yang menjadikannya harus tetap menghormati batasan itu. Berpikir spiral merupakan kunci keberhasilan dan sarana menjauhkan dari penyesalan. Wallahu a’lam.

 

Sumber: Majalah Langitan