Peran orangtua sebagai pengasuh, pengurus, pengawas dan pemelihara anak sangatlah penting. Karena pentingnya tugas di atas, maka wajar jika kemudian Allah memerintahkan kepada sang anak untuk patuh kepada orang tua. Tidak diperkenankan menyakiti hati orang tua atau melakukan tindakan yang dapat merendahkan derajat meraka. Bahkan dengan tegas Allah melarang anak untuk berkata “uff” atau “hus” kepada orang tua.

Islam telah mengatur hubungan antara orang tua dengan anak dengan sangat baik. Ada kewajiban dan hak bagi kedua belah pihak. Salah satu kewajiban peting orang tua yang secara otomatis menjadi hak anak adalah pendidikan. Dalam sebuah hadis, Rasulullah bersabda:
Dari Abu Hurairah ra, Nabi saw bersabda, “Sesungguhnya kewajiban orang tua dalam memenuhi hak anak itu ada tiga, yakni: pertama, memberi nama yang baik ketika lahir. Kedua, mendidiknya dengan Al-Qur’an dan ketiga, mengawinkan ketika menginjak dewasa.”

Pentingnya pendidikan juga dapat dicerna dari cerita yang terjadi pada Sayyidina Umar bin Khaththab. Pada suatu kesempatan, Amirul Mukminin Umar bin Khaththab kehadiran seorang tamu lelaki yang mengadukan kenakalan anaknya, “Anakku ini sangat bandel.” tuturnya kesal. Amirul Mukminin berkata, “Hai Fulan, apakah kamu tidak takut kepada Allah karena berani melawan ayahmu dan tidak memenuhi hak ayahmu?” Anak yang pintar ini menyela. “Hai Amirul Mukminin, apakah orang tua tidak punya kewajiban memenuhi hak anak?”
Umar ra menjawab, “Ada tiga, yakni: pertama, memilihkan ibu yang baik, jangan sampai kelak terhina akibat ibunya. Kedua, memilihkan nama yang baik. Ketiga, mendidik mereka dengan Al-Qur’an.”

Mendengar uraian dari Khalifah Umar ra anak tersebut menjawab, “Demi Allah, ayahku tidak memilihkan ibu yang baik bagiku, akupun diberi nama “Kelelawar Jantan”, sedang dia juga mengabaikan pendidikan Islam padaku. Bahkan walau satu ayatpun aku tidak pernah diajari olehnya. Lalu Umar menoleh kepada ayahnya seraya berkata, “Kau telah berbuat durhaka kepada anakmu, sebelum ia berani kepadamu…”
Berangkat dari hadits dan cerita di atas, pendidikan menjadi salah satu kewajiban penting orang tua atas anak. Orang tua wajib menyediakan pendidikan bagi anak sesuai dengan tuntunan Al-Qur’an. Sebab lewat kebijakan pendidikan orangtualah anak menjadi teguh agamanya atau malah sebaliknya, menjadikan Yahudi, Nasrani, ataupun Majusi. Dalam sebuah hadis disebutkan:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ؛ أَنَّهُ كَانَ يَقُوْلُ:
قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : مَا مِنْ مَوْلُوْدٍ إِلاَّ يُوْلَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ. فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْيُنَصِّرَانِهِ أَوْيُمَجِّسَانِهِ.

Hadis riwayat Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam bersabda: “Setiap anak itu dilahirkan dalam keadaan fitrah. Kedua orang tuanyalah yang membuatnya menjadi seorang Yahudi, seorang Nasrani maupun seorang Majusi.”
Sebentar lagi, kita sebagai orang tua akan menghadapi kelulusan anak dari sekolahnya. Hendaknya kita berhati-hati dalam mengarahkan anak untuk memilih lembaga pendidikan. Harus diteliti apakah lembaga tersebut menjunjung tinggi nilai-nilai agama atau tidak.

Pilihlah pendidikan yang dapat menghantarkan anak kepada Allah dan ilmu-ilmuNya. Karena dengan keduanyalah anak akan selamat dari badai kehidupan. Seberat apapun kondisinya, jika kita membekali anak dengan mengenal Allah dan ilmu-ilmuNya maka mereka akan dapat melewati masa-masa sulit dan tidak mudah lengah dengan kondisi yang sukses.

Dan sebaliknya, sesukses apapun anak jika tidak mengetahui Tuhan dan ilmu-ilmuNya maka dia akan menjadi pribadi yang mudah terombang-ambing, seperti kapas tertiup angin Lupa pada masa kejayaan dan bingung pada masa-masa sulit. Mereka akan menjadi pribadi yang lemah.
Apabila kita ingin membahagiakan dengan kebahagiaan yang sempurna, kita bisa mengirim anak-anak ke pesantren atau lembaga pendikan yang mengajarkan ilmu-ilmu yang mengantar kepada-Nya. Sebab sebagaimana isyarat dari Rasulullah, bahwa tanda orang-orang yang diberi kebahagiaan sempurna adalah mereka yang dipahamkan tentang masalah agama.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan (yang sempurna) padanya niscaya akan dipahamkan dalam [ilmu] agama.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Mu’awiyah bin Abi Sufyan radhiyallahu’anhu)