Dalam kehidupan sehari-hari tidak jarang kita mendapatkan pribadi-pribadi yang mengeluhkan berbagai kekurangan dan keterbatasannya. Ada saja alasan mereka yang dikemukaan untuk sekedar membenarkan dan mencari kepuasaan psikhologis bagi keluhan-keluhan semacam itu. Bahkan kejadian ini secara jujur juga sering menimpa kita; disadari atau tidak. Celakanya pembenaran itu dilakukan dengan mengekploitasi data dan pengalaman-pengalaman tertentu yang diakibatkan oleh kegagalan atas capaian-capaian tertentu sebagaimana yang diinginkan. Tampaknya keluhan semacam itu tidak dimulai dari tingkat esensiel situasi di mana dengan mudah ia terlibat dan merasakan di dalam suasana itu. Tetapi lebih disebabkan oleh ketidakmampuan individu tersebut untuk mengelola data dan pengamalan tadi bagi adanya kontribusi positif atas apa yang diinginkan.

Dia lupa, bahwa sesungguhnya antara situasi di mana ia saat itu terlibat di dalamnya dengan mudah dengan suatu bayangan dari keadaan-keadaan tertentu yang menjadi pendorong keinginannya, dan yang membuat ia sesak karenannya, ada perbedaan yang cukup mendasar tanpa menghilangkan kemungkinan wujudnya timbal balik di antara kedua perbedaan itu. Situasi yang pertama adalah miliknya, haknya, yang mana individu tersebut memiliki kreativitas untuk mengendalikan secara langsung; kapan dan dimana ia mau. Hal itu disebabkan lantaran otoritas mutlak terhadap situasi atau keadaan di mana ia terlibat di dalamnya, sepenuhnya teragantung pada kontrol yang dilakukannya. Berbeda dengan yang kedua, di mana rasa sesak yang dialaminya itu ditimbulkan oleh berbagai bayangan yang terbungkus oleh keinginan-keinginan sesuatu yang belum dimilikinya, ia atau situasi ini sepenuhnya berada di luar kontrol atau kendali kekuasaannya. Sebab ia berada jauh dari dirinya. Dan untuk mendapatkannya, sang individu harus memberikan toleransi waktu untuk memenuhi haknya dalam perjalanan dan pergerakan yang alami sebagaimana sebuah pertumbuhan yang membutuhkan senjang waktu. Dengan demikian keluhan-keluhan itu muncul, bukan didasarkan pada ketidakmampuan untuk meraih apa yang dikehendaki atau yang diinginkan. Akan tetapi tidak lebih dari tiadanya kearifan sang individu untuk menerima berbagai tuntutan hak bagi sebuah realitas, yaitu perjalanan waktu. Dan untuk menumbuhkan, membiasakan serta menggairahkan kearifan tersebut, maka langkah pertama yang harus ditempuh oleh seseorang, sekaligus berfungsi penghentian proses perkerdilan jiwa, adalah mengubah kenegatifan pandangan anda tentang situasi yang tengah anda rasakan ke arah yang lebih positif dengan membayangkan bahwa kondisi demikian adalah urutan tahapan alamiah yang harus dinaiki untuk mendapatkan tahapan berikutnya yang lebih baik.

Dengan kata lain, gunakan kebebasan mutlak anda untuk menjadikan segala yang anda punyai sebagai sesuatu yang dinikmati, bagaimanapun negatifnya padangan atas sesuatu itu, termasuk dari perasaan anda. Sebab dengan permulaan anda untuk menikmati situasi tersebut, berarti anda membuka peluang dalam diri anda akan datangnya hal-hal yang menyenangkan yang datang dari luar, termasuk apa yang anda harapkan? Bagaimana ini bisa terjadi? “Barangkali itulah pikiran anda yang memberi kesempatan saya untuk menjelaskan lebih lanjut mengenai apa yang saya sebutkan di atas, yakni hubungan timbal balik antara situasi di mana anda memegang kendali dengan situasi yang muncul disebabkan oleh bayangan-bayangan yang anda cita-citakan.

Hubungan timbal balik diantara dua kutub
Bila anda menyadari bahwa modal yang paling utama bagi pengembangan karir anda adalah apa yang saat ini anda miliki, anda kuasai, dan anda bebas untuk menikmatinya, maka anda saya anjurkan untuk tidak membayangkan bahwa keberhasilan anda kelak, sebagaimana yang anda impikan, itu bisa anda raih melalui modal pinjaman yang dimiliki oleh orang lain, betapapun prospeknya modal pinjaman itu menurut persangkaan anda. Sebab segala sesuatu yang berlaku pada orang lain, sepenuhnya tidak bisa dikenakan pada diri anda. Ini tidak sekedar dan sebagai kriteria-kriteria tertentu, ataupun ukuran-ukuran convencional yang berlaku di dalam kesejahteraan materi dan kejiwaan. Melainkan tiap-tiap individu memiliki keunikan dan kekhasan yang sangat rumit yang tidak bisa ditarik hitam putihnya.

Yang saya anjurkan adalah agar anda memupuk kepuasaan semaksimal mungkin kondisi kekinian anda supaya dengan demikian orang lain, tidak usah melalui kata-kata, mengakui betapa berharganya kehidupan anda itu. Pengakuan ini tidak mesti harus menyelaraskan dengan nilai-nilai atau standar-st?ndar tertentu yang dimiliki orang tersebut. Sebab pada hakekakatnya pengakuan anda akan posisi seseorang bukan hanya karena adanya kesesuaian anda dengan orang itu, tetapi bisa juga beranjak dari “keterpaksaan” anda untuk mau tidak mau bahwa orang itu memang eksis dan patut untuk diberi ruang kreativitas.

Melalui pengakuan mereka, berarti anda memndapat kredit point atas tahapan-tahapan berikutnya. Pengakuan orang lain itu bukanlah tujuan dari anda. Seperti yang saya katakan, ia adalah suatu keterpaksaan dari pihak luar atas penghargaan anda sendiri akan hal-hal yang anda punyai dan terlibat di dalamnya. Betapapun kecil nilainya hal-hal terebut menurut pandangan orang tersebut, atau bahkan dari kacamata anda sendiri. Memuaskan dengan apa yang ada pada hakekatnya membuka peluang pikiran untuk lebih kreatifitas dalam memulih dan menentukan segala sesuatu yang ada dibalik lingkaran dan pergumulan peristiwa demi peristiwa yang menyelimuti kehidupan anda. Dan termasuk creativitas pemikiran adan itu adalah memungkinkan adannya netralitas emosi anda ketika anda berhadapan dengan cita-cita atau keinginan yang anda bayangkan. Ternyata anda mampu memisahkan dengan sendirinya; mana sebenarnya modal dasar, dan mana sesunguhnya yang membutuhkan pemikiran dengan dilandasi oleh kearifan atas hak-hak realitas waktu. Disinilah dua kutub akan menemukan titik temunya ; eksistensi keduanya memang berbeda, tetapi keduanya tidak lebih dari dua kumparan yang melilit-lilit bagi energi yang utuh.

Sekali lagi saya tandaskan, kemungkinan anda untuk jatuh, itu hanya soal bagaimana anda memandang persoalan yang memenuhi hati dan pikiran anda. Bukan pada persoalan dimana anda bisa menikmatinya dengan mudah. Persoalan-persoalan yang ternyata memesakkan kehidupan anda itu adalah salah satu aspek, bukan seluruhnya, dari keutuhan dan keunikan pribadi anda, dan ingat persoalan-persoalan tesebut itu tidak meiliki otoritas yang sejati untuk mengendalikan anda. Justru andalah yang dilahirkan dan posisikan oleh hukum oleh bagi pengaturan persoalan-persoalan tersebut, sebab anda memiliki kebebasan berkreasi secara mutlak. Sementara persoalan-persoalan itu adalah obyek atau medan dimana ada yang melakukan dan bermain di dalamnya.

Hindari pemikiran akan langkah-langkah kesuksesan
Kalau kita mau jujur, maka sebenarnya hakekat gagal dan sukses itu semu belaka. Ia tidak mencerminkan dengan sungguh- sungguh siapa diri anda sebenarnya. Sebab pertanyaan “siapa saya” itu hanya ada pada perasan anda sendiri. Dunia terlalu luas dan komplek untuk memberi dirinya sendiri sebuah kesempatan bagi keterlibatan perasaan anda ini. Pada kenyataannya dunia senantiasa bersikap acuh tak acuh pada anda. Seberapa besar kesuksesan yang anda raih. Atau sebaliknya betapa hancurnya anda karena menemukan kegagalan terhadap yang anda inginkan, dunia dan segala isinya sama sekali tidakmemberi perhatian yang cukup bagi kedua keadaan ini.Dengan demikian, sukses atau gagal itu adalah soal interpretasi anda, penafsiran anda terhadap muatan-muatan penggalan waktu yang anda saat itu terlibat di dalamnya. Bila hari ini anda mengatakan gagal, maka sebenarnya pada hari yang sama anda juga mengalami kesuksesan. Kegagalan dan kesuksesan sesungguhnya tergantung pada sisi mana kita melihat dan memperhatikan dengan seksama. Kalau kaca mata atau teropong yang anda gunakan itu adalah “penerimaan sejati” atas apa yang menimpa anda, tanpa mengkaitkan dengan ketidakteraturan perasaan anda, maka sesunggguhnya anda adalah orang yang sukses.

Ketika saya tamat dari sekolah menengah atas, maka obsesi saya adalah melanjutkan ke Perguruan Tinggi dengan target; empat tahun saya harus menyelesaikan SI saya. Perlu diketahui, biaya untuk mendaftarkan di Perguruan Tinggi ini dengan persyaratan uang bangunan segala baru saya peroleh ketika ada sokongan dari saudara dan pamanku. Maklum ekonomi keluarga saya memang sangat payah sekali. Itupun diberi embel-embel warning; untuk selanjutnya kamu biayai sendiri kuliahmu. Untuk membiayai kuliah ini, saya mengabdikan diri pada almameter saya dulu ketika saya masih di tingkat dasar. Inipun terasa tidak cukup untuk membiayai hidup saya. Saya segera menerima tawaran untuk suatu pelajaran privat bagi anak-anak seorang kaya yang saya kenal. Dari honor-honor itu saya bisa membiayai kuliah saya. Tetapi nahas di tengah jalan, sistem perkuliahan swasta yang asal-asalan, ditambah kejenuhan saya bergaul dengan teman-teman yang usianya jauh di atas saya, yang rata-rata motivasi kuliah mereka sekedar menaikkan gaji di kantor, perhatian saya akan kuliah menjadi terkoyak.

Anehnya, kalau ini dikatakan begitu, konpensansi kejenuhan itu saya alihkan dengan mengikuti kegiatan teater di salah satu kota metropolis di Jawa Timur. Praktis waktu dan uang banyak yang tercurah ke situ. Ada semacam ketidak keyakinan dalam hati atas kredibilitas perguruan itu untuk dapat mengantarkan saya dalam menelusuri jenjang karir kehidupan yang saya idam-idamkan. Sementara di teater, walau tidak dapat memberi gelar SI pada saya, relatif ia sebagai wadah yang dapat menampung bakat seni peran saya. Tahukan anda di antara yang saya idam-idamkan waktu itu; sebagai bintang peran.
Ketika
biaya semester hendak dikeluarkan, kenangan saya macet total. Saya tidak tahu dari mana dan ke mana uang ini saya peroleh. Entah kenapa, begitu mudahnya saya mengambil keputusan untuk meninggalkan bangku kuliah, dan tak lama kemudian, teater yang saya ikuti saya tinggalkan pula. Untuk keduanya saya benar-benar gagal; kalau memang gelar sarjana lengkap dan bintang peran yang menjadi fokus perhatian saya. Sampai saat ini, hampir berjalan enam belas tahun, saya tampaknya tidak menemukan gelar dan predikat itu. Malah yang saya temukan adalah gelar dan predikat yang lebih prestisius dari kedua hal tersebut.

Penerimaan sejati adalah mengembalikan pribadi kita pada situasi di mana kita sebagai bagian kecil dari proses jagad raya ini. Kesuksesan yang kita rasakan sebenarnya tidak usah di peta-peta secara ketat dalam sistem hidup kita. Perhatian yang berlebihan terhadap pemetaan ini akan menimbulkan dampak kejiwaan yang sangat serius jika tingkat pengontrolan kita sangat rapuh. Biarkanlah kesuksesan kita berjalan merambat sesuai dengan tahapan-tahapan dari jenjang hidup kita dengan segala konsekwensi yang harus di dalam tahapan itu. Sebab sesungguhnya kesuksesan itu, sepanjang materi yang menjadi ukurannya, bagaikan suatu titik yang tidak memiliki dataran untuk menetap. Pun pula suatu pengorbanan yang dikeluarkan untuk merebut kesuksesan itu pada hakekatnya adalah kegagalan juga dalam memodifikasi berbagai peluang yang ada dihadapan kita dan hal itu mungkin sekali untuk kita lakukan.

Dengan demikian, di balik kesuksesan menyimpan kegagalan. Begitu juga sebaliknya, akan tetapi tidak ada kesuksesan yang sejati bagi orang-orang yang tidak mampu menghargai dan menikmati situasi atau keadaan dimana saat ini berada dan mengambil posisi. Sebab keadaan saat ini adalah modal dan capaian-capaian yang menjadi keinginan itu sangat tergantung bagaimana seseroang itu menata dan memanfaatkan peluang-peluang dari pengaturan dan penataan modal-modal tersebut.

Gerakan anda, kunci pembuka berbagai misteriKendali kehidupan anda memang sepenuhnya di tangan anda. Orang-orang bijak senantiasa menafsirkan keberhasilan hidup itu sepenuhnya terletak di tangan anda. Itu, bagi saya, adalah salah satu aspek dari berbagai aspek pandangan yang dikemukan oleh orang-orang bijak tersebut. Tetapi bagi saya persoalannya tidak semudah itu. Ketika kita berpikir, maka semua alam bergerak. Begitu kata Robert Anthony dalam buku larisnya “Resep Lanjutan Meraih Keberhasilan Total”. Kenyataannya memang demikian, lebih dari itu saya ingin menunjukkan kepada anda bahwa di manapun anda kini berada dan dalam situasi apapun anda terlibat di dalamnya, sesungguhnya ada tiga misteri yang tersimpan di dalamnya.

Pertama, bahwa keberadaan anda saat ini merupakan awal dari pelimpahan anugerah hidup anda yang sebelumnya belum anda dapatkan. Kedua, bahwa keberadaan anda saat ini merupakan akhir dari seluruh aktivitas dan karir anda. Dengan kata lain, maaf, anda akan meninggalkan dunia. Ketiga, bahwa sesungguhnya keberadaan anda saat ini menjadi kunci bagi ketetapan-ketetapan Tuhan yang dengannya akan menimpa anda; atau menyertai anda; atau bermanfaat bagi anda.

Begitulah yang pernah disampaikan oleh salah seorang tokoh spiritual Islam, Abu Hasan as-Syadzili. Ketiga perkara ini masih diselimuti oleh misteri. Dan untuk menguak kebenaran salah satu misteri tersebut, anda hanya membutuhkan kesabaran akan proses waktu. Tetapi adalah tugas anda, untuk membuat segala kemungkinan tersebut menjadi begitu baik bagi anda. Kenyataannya, hidup ini memang terasa menakutkan. Ada-ada saja yang mesti kita takutkan. (Ahmad Ali Junaidi)