Nabi SAW. pernah menyampaikan bahwa setiap masa berlalu, pastilah masa sesudahnya akan lebih buruk daripada yang sebelumnya.

Dan itu berlaku secara global, kehidupan umum maupun khusus. Kehidupan masyarakat ramai ataupun kehidupan dalam lembaga-lembaga pendidikan. Termasuk pesantren di dalamnya.

Sanad Spiritual
Suasana lebaran, even yang tepat untuk bersilaturrahim kepada beberapa ulama pimpinan pesantren di sekitar tempat tinggal di Cibiru, Bandung. Sebagaimana di Jawa Timur dan Jawa Tengah, ikatan ruhaniah almamater pesantren sangat mempengaruhi hubungan di antara ulama, ustadz, atau pun alumni pesantren. Berhubung penulis sendiri tidak punya sanad spiritual dengan pesantren di Jawa Barat, kadang terasa kagok saat bersilaturrahim dengan mereka. Mumpung ada paman istri yang mau menjadi mediator untuk mengakrabkan diri dengan mereka, kesempatan tidak penulis sia – siakan. Sebab, beliau sendiri adalah alumni sebuah pesantren besar yang sangat terkenal di tataran priangan tengah, Bandung dan sekitarnya. Banyak kawan-kawan seangkatan beliau yang menjadi pemangku pesantren..

Jadi Kaya
Rute pertama kami adalah sebuah pesantren yang didirikan dan masih dipimpin kawan beliau sendiri. Beberapa kilo meter setelah perbatasan Kota-Kabupaten Bandung, kami berhenti mencari papan nama pesantren tujuan. Tepatnya di desa Cikalang Cileunyi. “Sudah lama sich ga ke sini, jadi sampai lupa dari mana masuknya. Sepertinya bukan dari gang ini masuknya, tetapi tadi ada papan nama pesantren itu,” kata beliau saat kami membelokkan mobil ke sebuah gang ke arah pesantren. “Mobil diparkir sini sajalah, pesantrennya kecil, ga ada jalan untuk masuk mobil,” katanya sebelum turun dari mobil. “Mobil ge tiyasa ka lebet, eta jalanna,” kata seorang penduduk kampung itu memberi tahu jalan untuk masuk mobil ke pesantren. “Wah, jadi besar sekali pesantren ini. Dulu waktu engkah (pangilan untuk paman tertua) ke sini masih belum begini. Kecil, dikelilingi hutan bambu. Ini sekarang jadi luas, banyak mobil lagi. Sudah kaya rupanya pak haji ini,” kata beliau terheran-heran saat masuk ke halaman pesantren. Sambil berjalan menuju rumah tinggal kyai, beliau menceritakan bagaimana dulunya kondisi pesantren saat belum ada listrik. Gelap, rimbun tanpa tetangga, kecuali kebun bambu di sekitarnya.

Kyai Notaris
“Kumaha, damang? Ka mana wae ieu teh, lami pisan teu pependak ( bagaimana, sehat? Ke mana saja ini, lama sekali tidak bertemu),” sapa kyai sambil memeluk kawannya yang lama tidak bertemu. “Sudah dari mana saja Sep?” tanya kyai pada paman istri yang bernama (Kyai) Asep Miftahuddin ini. “Alhamdulillah, ada sekitar 100 santri putra-putri di sini. Tetapi semuanya mahasisiwa IAIN (yang sekarang menjadi UIN). Hanya ada lima yang santri betulan. Makanya masih sepi, soalnya kuliah juga belum masuk,” ujar kyai memulai cerita tentang pesantren yang dirintisnya dari nol. Sebagai pesantren mahasiswa, memang tidak mungkin pengajian kitab diprogram seperti pesantren salaf murni. Namun tetap disyukuri, di kota besar seperti ini masih ada ulama dan pesantren yang menjaga pengkajian kitab-kitab turats.“Alhamdulillah, anak saya yang laki-laki baru saja diwisuda menyelesaikan pendidikannya di Unisba,” kata beliau dengan wajah cerah. “Ambil jurusan apa Kyai?” tanya penulis iseng. “Hukum Perdata,” jawabnya singkat.

Sepanjang perjalanan menuju pesantren berikutnya, dialog terakhir inilah yang menjadi bahan pemikiran hangat kami bertiga di mobil. “Inilah masalah besar yang sekarang menimpa pesantren-pesantren di sini. Kyai-kyainya kurang serius memikirkan pengkaderan. Banyak kyai besar yang anak-anaknya tidak dipesantrenkan, sehingga tidak ada yang bisa meneruskan pengajian kitab kuning. Seperti barusan, bagaimana kalau nantinya kyai meninggal dan diteruskan anaknya yang diceritakan tadi. Apakah di depan pesantren akan di pasang papan nama Notaris/PPAT, karena dia yang menjadi kyainya,” kata kyai Asep mengungkapkan kegalauannya.

Sang Jenius

Kami melaju ke arah timur. Kurang lebih satu kilo meter kemudian, kami sampai di desa Sindang Sari. Tempat berdirinya sebuah pesantren yang namannya sempat berkibar seantero Jawa Barat. Konon pendiri pesantren ini adalah seorang ulama yang shalih lagi cerdas. Beliau berguru ilmu falak kepada K.H. Mansur seorang ahli falak di Jakarta. Para santri beliau yang secara intensif mempelajari falak setiap hari

biasanya menyelesaikan pelajaran dalam waktu tiga tahun. Sedangkan kyai kita ini bisanya belajar hanya dua minggu sekali. Itupun ternyata semua pelajaran berhasil beliau selesaikan hanya dalam waktu setengah tahun. Saat beliau masih hidup, para santri betul-betul dididik lahir batin. Perilaku keseharian mereka selalu dalam kontrol kyai. Hingga akan mandi pun, bila ketahuan tidak mengenakan peci, pasti akan dimarahi oleh kyai. Di masa itu, tidak pernah terlihat seorang wanita pun di dalam kawasan pesantren. Sehingga, tamu-tamu wanita pun merasa segan untuk datang ke sana. Kalaupun mereka datang, ada ruangan khusus untuk mereka di luar wilayah santri.

Harus Terima Uang
Beliau dikenal sangat lembut dan amat meghargai santri. Semua santri beliau panggil dengan sebutan kang. Tidak seorang pun yang beliau panggil dengan namanya saja, walaupun santri yang baru daftar. Bahkan, bila beliau terlanjur membentak salah seorang santri, pasti beliau akan segera minta maaf, khawatir kalau-kalau sakit hati santri akan terbawa hingga akhirat. Dan seberapa pun khidmat yang dilakukan santri, seperti mencangkul sawah, atau menulis surat beliau, pasti akan beliau paksa untuk menerima upah beliau. Bila ditolak, beliau pasti akan marah besar.Beliau juga termasuk ulama yang sangat berwibawa. Seringkali gubernur mengundang beliau untuk satu acara, namun dengan lembut dan tegas beliau tolak. Beliau katakan, “Kalau memang dia perlu, dia yang mestinya datang ke sini.” Hanya sekali beliau menerima undangan gubernur, yaitu saat diminta untuk menentukan arah kiblat masjid agung. Engkah bercerita,”Pernah, engkah diajak ke rumah sakit untuk menjenguk seorang ulama besar. Sebagaimana biasa, beliau mengajak mampir ke warung sate Madura. Berbagai menu dihidangkan. Lezat memang, tetapi kan ga leluasa makan disamping kyai sendiri. Apalagi saat melihat beliau makan, setiap akan memasukkan satu suap beliau baca basmalah. Setelah satu suapan beliau baca baqiyatush shalihat (subhannallah, walhamdulillah, walaa ilaaha illallah, wallahu akbar), baru mengambil suapan berikutnya.

Kampus atau Pesantren
Zaman itu telah berlalu dan tinggallah kenangan. Kyai penerus beliau mulai membuka dunia baru. Karena khawatir santri makin menyusut, beliau membuka pendidikan formal. Mulai tingkat dasar hingga perguruan tinggi. Para pendaftar baru berdatangan. Dan kekhawatiran akan habisnya santri dengan mudah telah ditepiskan.

Tapi, itu semua ternyata harus dibayar dengan biaya yang sangat mahal. Saat pertama kali penulis akan datang ke pesantren tersebut, penulis membayangkan suasana pesantren yang agung penuh wibawa. Karena sebelum bermukim di Bandung pun nama pesantren tersebut sudah pernah terdengar telinga. Namun, bayangan tinggallah sebagai bayangan. Suasana kampus lebih nampak dari pada pesantren. Kaum hawa dari keluarga kyai dengan santainya keluar rumah tanpa kerudung di kepalanya. Dan hal-hal lain yang tidak perlu diceritakan yang mestinya tidak ada di kawasan pesantren.Yang Kepalanya Gundul itu…Dan untuk kali ini pun, penulis tidak kalah prihatinnya. Kyai sedang sakit, tidak sembarang tamu bisa diterima. Karena paman adalah sekpri beliau, kita dipersilahkan masuk ke kamar istirahat beliau.

Kita masuk ke dalamnya, beliau ternyata sedang tidur. Kami hanya bisa titip salam. Sampai di teras, kami bertemu dengan seorang lelaki berpakaian necis dengan kepala gundul licin. Beberapa saat paman berbincang-bincang dengannya.Dalam perjalanan pulang , paman menjelaskan bahwa itu tadi adalah putra kelima kyai sekarang. Ia adalah pengusaha besar di Riau. Dan bukan hanya dia, keenam saudaranya adalah pengusaha-pengusaha besar, dan ada juga yang menjadi anggota dewan di pusat. Maknanya, tidak seorang pun dari putra beliau yang menapaktilasi perjuangan orang tua mereka.

Sengaja nama-nama pesantren tersebut tidak disebutkan, sebab ini adalah sesuatu yang memalukan. Berat bagi tangan untuk menuliskan, tapi bukankah ini harus menjadi bahan pemikiran?

Koyo Getun
Seorang kyai di Jawa Timur menceritakan, saat Pesantren Tebu Ireng mulai memakai meja kursi di kelas, seorang ulama besar Kediri di masa itu datang ke sana. Melihat meja kursi dipakai dalam pengajian, beliau berkata kepada Hadratusy Syaikh KH Hasyim Asy’ari,”Menawi ngeten carane pondok niki mboten saget nglahiraken wali to Yai.”

Penulis tidak akan pernah lupa pada kegalauan yang diungkapkan Hadratusy Syaikh KH Abdullah Faqih saat penulis bersama beberapa kawan santri sowan pada beliau untuk minta petunjuk sebelum mengadakan acara Istihlal konsulat sekitar tahun 1995. Beliau sampaikan, “Aku heran, akeh alumni pondok kene sing wis berhasil tapi siji wae anake ora enek sing dipondokno. Dadine koyo-koyo getun, kenek opo biyen kok mondok. Mulane anake ora enek sing dipondokno. Padahal deweke iso dadi wong gede ngono iku yo sabab ilmu sing dihasilno soko pondok”(Saya heran, banyak alumni pondok ini yang sudah berhasil tapi tak ada satupun anaknya yang dipondokkan. Sepertinya menyesal, kenapa saya dulu mondok. Makanya tidak ada satupun anaknya yang dimasukkan lembaga pesantren. Padahal dia berhasil menjadi orang besar adalah karena ilmu yang dihasilkan dari pondok).