(VERIFIKASI EKSISTENSI ABDULLAH BIN SABA)
Oleh : AB HIKAM

Saya pastikan anda mengenal tokoh yang satu ini, dalam hampir semua referensi history klasik namanya selalu dikaitkan dengan kerusuhan politik (sejujurnya saya lebih senang menyebutnya dikambinghitamkan). Digambarkan Abdullah bin Saba adalah actor intelektual rentetan kejadian fitnah antara enam tahun terakhir khilafah Utsman bin Afan sampai rentang terakhir khilafah Aly bin Abi Thalib. Para Sejarawan menyebutnya Ahdatsul Fitan, silakan membaca kitab-kitab sejarah primary semisal : Tarikh Tobary, Al Kamil Ibnu Atsir, Bidayah Wa Nihayah Ibnu Katsir, Tarikh Dimasyq Ibnu Asakir Tarikh Islam Dzahaby dan Mubtada Wal Khobar Ibnu Kholdun. Baca juga kitab tentang sekte-sekte dalam islam semacam : Al Milal wa Nihal Syahrastani, Maqolatul Islamiyin As’ary, Tarikhul Madzahibil Islamiyah Abu Zahroh.

Saya terarik untuk membaca ulang otobiografinya karena beberapa sebab : Kepiawaiannya memprovokasi massa. Saya yakin jika ia hidup di zaman ini ia akan banyak dimanfaatkan pihak-pihak oposisi untuk menimbulkan kekacauan dan memprovokasi massa membuat kerusuhan dalam skala besar, jika di masa lampau saja ia berhasil mengacaukan Madinah, Mesir, Kufah dan Basrah (kota metropolis islam di masa itu) mungkin di masa sekarang ia akan berhasil mengacaukan New York, Washington, Paris dan London, apalagi kalau cuma sekedar Jakarta atau Sana’a.

Perannya yang begitu dominan dalam masa-masa fitnah Dalam hidup berorganisasi tentu ada teamwork, hirarki karier juga senioritas, tapi Abdullah bin Saba benar-benar tokoh yang luar biasa (jangan salah sangka, imagine saya berdasarkan apa yang saya telaah), ia mengkampanyekan pemikirannya sendiri, ia juga membentuk organisasi bawah tanahnya (berikut juga milisinya) sendirian, bahkan sahabat dan tabi’in senior selevel : Amar bin Yasir, Abu Dzar Al Ghifari juga Muhamad bin Abi Bakar juga termakan hasutannya dan tunduk pada perintahnya. Efek perpecahan Syiah dan Sunah yang masih membekas hingga dewasa ini. Dua elemen besar umat muslimin pecah dan beradu tiada henti, lihat realita yang ada di Iraq. Perpecahan sudah membesar pasca Isytishad Husein bin Ali. Perpecahan semakin nyata setelah pendudukan Amerika di Iraq apalagi pasca matinya Saddam Husein di tiang gantungan.

PROFILE ABDULLAH BIN SABA (menurut apa yang ada dalam kitab-kitab sejarah)
Abdullah bin Saba adalah seorang Yahudi dari Sana’a Yaman yang masuk Islam pada masa pemerintahan Khalifah Utsman bin Afan. Ia pernah datang menghadap khalifah tapi khalifah tidak terlalu merespon kedatangannya, sejak itu ia menyimpan dendam pada Utsman dan berupaya merealisasikan planingnya. Ia mulai merakayasa fikroh wasiat Nabi tentang kapabelitas Aly bin Abi Thalib sebagai pemimpin, maka siapapun yang menjadi khalifah saat ini berarti telah merampas kepemimpinan dari pemiliknya yang sah, dengan cara begini ia berhasil membunuh karakter Utsman. Dari sini ia mulai berkeliling mengkampanyekan pemikirannya dengan mengunjungi sentral kota-kota di masa itu antara lain: Mesir, Syam, Kufah dan Basrah. Ia bahkan mampu memobilisasi pengikutnya dengan membentuk sebuah gerakan bawah tanah (dalam referensi sejarah dikenal dengan nama Sabaiyah) yang pada akhirnya nanti berhasil menggulingkan pemerintahan Utsman. Disebutkan dalam sejarah bahwa kampanye Abdullah bin Saba tidak berhenti sampai di situ, detik terakhir Perang Unta yang hampir saja berakhir di meja diplomasi antara faksi Aly dan faksi triumvrat Talhah, Zubair dan Aisyah digagalkan dengan provokasi busuk Abdullah bin Saba dan kroninya yang akhirnya menyebabkan pertumpahan darah antar kaum muslim sendiri hanya setelah 28 tahun wafatnya rasul.

EKSISTENSI ABDULLAH BIN SABA
Setelah menelaah biografi dan perannya, rasanya patut kita teliti ulang eksistensi tokoh kita yang satu ini, bukan karena apa, tapi karena saya menganggap peran yang tidak semestinya yang dilakoni Abdullah, benarkah realita itu memang benar-benar terjadi di masa lampau, kalau benar sudah selayaknya kita memberikan gelar tokoh kita sebagai guru besar bidang Provokasi Massa. Tapi jika tidak, maka cerita yang selama ini kita baca, kita publikasikan dan kita diskusikan tentang Ibnu Saba sama saja dengan cerita-cerita masa silam yang terkadang lebih banyak bumbu dibanding isi, serupa dengan cerita wali songo yang lebih mirip Spiderman / Superman dibanding sosok penyebar da’wah.
Dalam banyak referensi hadits Syiah dan Sunah disebut juga bahwa Abdullah bin Saba ini lah pencetus penuhanan Aly bin Abi Thalib hingga akhirnya ia tewas dibakar Imam Aly. Untuk referensi Syiah silakan telaah Alkafi Kulaini, Ma’rifatun Naqilin Kisyi (lebih popular dengan nama Rijalul Kisyi), Biharul Anwar Majlisi ,riwayat sunahnya bias dicheck dalam Musnad Ahmad, dalam Shohih Bukhory diriwayatkan bahwa Imam Aly menghukum bakar kaum murtad dan zindiq tanpa menyebut nama Abdullah bin Saba.

Ada satu ironi pada realita penuhanan Aly jika saja memang kisah ini valid, Jazirah Arab dengan segala kejahiliannya sebelum Islam tidak pernah taraf kejahilyahan mereka sampai pada taraf penuhanan terhadap sesama manusia (sesuai dengan sejarah yang kita baca), mereka memang karena kebodohannya mengubur hidup-hidup anak perempuan, mereka menyembah berhala, memakan bangkai, membudayakan mabuk dan judi tapi untuk menuhankan sesama manusia kita belum menemukannya dalam sejarah. Mungkin saja kita menemukan fenomena menuhankan manusia pada masyarakat Egypt kuno pada era Firaun, Nasroni Romawi yang sepakat menuhankan Yesus, Yahudi yang mengatakan bahwa Uzair adalah anak tuhan, bangsa Jepang dan China yang menganggap kaisar adalah anak tuhan, bangsa India dan faham Kejawen yang terkadang mendewa-dewakan seseorang yang dianggap titisan Wishnu. Tapi sejujurnya saya belum menemukan bahwa arab jahiliyah pernah menyembah manusia. Jika arab jahiliyah saja tidak ada penuhanan manusia (katakan saja demikian sampai kita menemukan dalam sejarah bahwa fenomena ini pernah ada di zaman jahilliyah) kecil sekali kemungkinan fenomena ini terjadi di era Imam Aly setelah Islam tersebar hampir ke seluruh pelosok arab.

Poin kedua yang juga patut dipertanyakan atas dasar apa Ibnu Saba menuhankan Aly, bagaimana pula ia tetap kukuh bersikeras meski hidupnya harus berakhir di api pembakaran. Jika motifnya adalah motif duniawi kenapa ia tetap bersikeras menuhankan Aly meski ia sadar Aly akan menghukumnya, kenapa ia tidak menarik ucapannya sebelum hidupnya berakhir diantara kayu bakar, jika motifnya adalah ideology sekaligus prinsipnya bisa dipastikan bahwa ia adalah orang paling idiot, ber IQ jongkok (berbeda sekali dengan cerita kepiawaiannya memprovokasi massa) , bagaimana mungkin ia menuhankan seseorang yang tidak mengakui ketuhanannya bahkan mengancamnya dengan hukuman bakar.

ABDULLAH BIN SABA HANYA SEBUAH INISIAL?
Ada banyak kesimpangsiuran mengenai Abdullah bin Saba, misalnya apakah Saba itu nama ayahnya, atau hanya julukan untuk orang yaman yang berasal dari klan Saba, juga perselisihan mengenai kabilahnya Himyar ataukah Hamdan, kesimpangsiuran ini akhirnya menjadi beberapa kaum akademis menganggapnya hanya sebagai tokoh rekaan, tokoh ciptaan yang bermuatan politis untuk memojokan rival rezim yang sedang berkuasa, seperti disumpulkan Dr Thaha Husein dalam dua kitabnya Aly Wa Banuuhu (Aly dan anak turunnya) dan Al Fitnatul Kubro serta Dr Abdul Aziz Al Hilaby dalam kitabnya Abdullah bin Saba.

Kasus-kasus tokoh rekaan atau rekayasa sebuah huru-hara memang sering terjadi dalam rezim-rezim diktator, sama seperti rezim orde baru dulu seringkali membuat buku putih tentang kasus tertentu (Gestapu,Malari,Tanjung Priok, perebutan kantor DPP PDI, de el el)yang kadang-kadang tidak sesuai dengan kenyataan di lapangan. Banyak juga yang mengatakan bahwa Abdullah bin Saba hanya sebuah inisial, tokoh rekaan yang dipinjam dari karakter tertentu, Sayid Murtadho Al Askari dalam kitabnya Abdullah bin Saba wa Asatir Ukhro menegaskan bahwa yang dimaksud Abdullah bin Saba adalah Takhrif dari Abdullah bin Wahab Ar Rosiby Al Hamdany As Sabai, pemimpin sekte Khawarij dimasa Aly, sesuai apa yang diriwayatkan dalan Ansabul Asyrof Baladziry.

Beberapa alasan yang menguatkan bahwa Ibnu Saba adalah Abdullah bin Wahab Ar Rosiby : Bernama Abdullah dan berasal dari klan Saba. Ia juga dijuluki sebagai Ibnu Sauda (anak budak hitam) Extremisme sebagai seorang Khowarij dijadikan tokoh rekaan sebagai sosok yang menuhankan Aly (Takhrif) Kaum Khowarij juga menentang kebijakan-kebijakan enam tahun terakhir pemerintahan Utsman

Jika Askari mengalamatkan inisial Abdullah bin Saba pada Abdullah bin Wahab Ar Rosiby, Dr Aly Al Wardy dalam kitabnya Wu’adzus Salatin dan Dr Kamil Mustafa As Syaibi dalam kitabnya As Shilah Baina Tashowuf wa Tasyau’ mengalamatkan inisial Ibnu Saba pada Amar bin Yasir dengan beberapa faktor : Ibu Amar bin Yasir, Sumayah adalah seorang budak hingga ia pun dijuluki Ibnu Sauda. Amar bin Yasir berasal dari kabilah Ansy pecahan dari klan Saba Fanatisme berlebihan dari Amar terhadap Aly, diriwayatkan bahwa ia memandang Aly lebih berhak menjadi Khalifah dibanding Utsman. Amar bin Yasir mengkampanyekan pemikirannya di Madinah dan Mesir.

Golongan Sabaiyah yang ditengarai bentukan milisi ekstrim Ibnu Saba tidak lain adalah kelompok muslimin yang berasal dari klan Saba yang memang setia mendukung Aly, dan seringkali bertindak oposisi di masa pemerintahan Utsman, kelompok ini diwakili Amar bin Yasir, Abu Dzar Al Ghifari dan kaum Anshar yang memang berasal dari klan Saba.

KESIMPULAN.
Sebenarnya masih ada satu poin penting dalam study kasus otobiografi Abdullah bin Saba, yaitu rowi yang menceritakan profile dan peran Ibnu
Saba , Saif bin Umar At Tamimi dalam kitabnya Al Fitnah dan Waq’atul Jamal. Isi dari kitab ini yang nantinya dipopulerkan Thobary dalam tarikhnya yang kemudian dinukil sejarawan-sejarawan setelahnya. Untuk lebih jelasnya silakan baca : Abdullah bin Saba Wa Asathir Ukhro Askary, Abdullah bin Saba Aly al Muhsin dan Nahwa Inqodzi Tarikhil Islamy Hasan Farhan Maliky.

Di akhir tulisan ini, saya hanya mengutip pendapat para pakar dalam memandang Abdullah bin Saba dan perannya dalam fitnah : Mereka yang mempercayai perannya dalam fitnah, kelompok ini diwakili oleh mayoritas Ahlus Sunah, sesuai apa yang mereka tulis dalam sejarah. Mereka yang tidak mempercayai keberadaan Abdullah bin Saba apalagi perannya yang begitu dominan dalam rentetan kejadian fitnah, baik dari Syiah atau Non Syiah, diantara mereka : Sayid Murtadho Al Askari, Dr Thoha Husein, Dr Abdul Aziz Al Hilabi, Hasan Farhan Maliky, Dr Aly Al Wardi, Dr Mustafa Kamil As Syaibi dan kaum akademis lainnya yang mempercayai keberadaan Abdullah bin Saba tanpa memepercayai keterlibatannya dalam fitnah, kelompok ini diwakili mayoritas Syiah.

Akhirnya esensi sejarah hanyalah catatan tentang peristiwa, valid dan tidaknya sebuah peristiwa memerlukan kejelian analisa generasi setelahnya, jika seorang Soeharto yang hanya mandataris MPR dalam kekuasaan yang tidak tak terbatas bisa mengubah sejarah Indonesia dalam puluhan tahun dengan orde barunya apalagi tiran-tiran masa lampau dengan dinastinya

* Penulis adalah mahasiswa Yemenia University Faculty of Islamic Studies.
* Artikel ini sempat dimuat di majalah Nadwa Edisi X (top ten) dan didiskusikan di FKAMY