pk mus

Rois Amm Pondok Pesantren Langitan, Ust. Mustaqim S. Pd. I mengungkapkan, status santri yang merupakan pelajar ilmu agama sebenarnya sudah ada sejak zaman Rasulullah. Hanya saja dalam peringatan ini, yang dimaksudkan adalah santri yang punya jiwa patriotisme dan nasionalisme, yang telah tercatat dalam sejarah Resolusi Jihad.

“Santri yang berjiwa nasionalisme dan patriotisme adalah santri yang hubbul wathon, punya jiwa kepedulian pada bangsanya, sehingga patut untuk diperingati,” ungkapnya.

Demi menyambut diresmikannya Hari Santri Nasional pada 22 Oktober mendatang, Rais Amm periode 2014-2016 itu mendukung sepenuhnya peringatan tersebut. Menurutnya, peringatan ini sangat berarti untuk menumbuhkan kesadaran pada masyarakat agar mengenang peristiwa sejarah. Beliau menegaskan bahwa santri tidak hanya kalangan yang dinilai oleh pihak Belanda hanya berkutat pada jamaah dan mengaji di masjid ataupun pesantren saja, tapi juga bisa angkat senjata untuk membela bangsa.

Seperti yang diketahui, tanggal 22 Oktober menjadi peristiwa bersejarah ketika para santri mengambil peran besar dalam keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pengumuman Resolusi Jihad yang telah diputuskan oleh KH. Hasyim Asyari bersama kia-kiai lain pada tanggal tersebut menjadi awal mula pergolakan berdarah 10 November di Surabaya.

Namun, meskipun demikian, ada juga sebagian kelompok masyarakat yang menolak adanya penetapan Hari Santri Nasional. Mereka menganggap peringatan ini akan berakibat pada pengkotak-kotakan umat Islam di Indonesia, sehingga akan ada pembedaan antara santri dan non-santri. Menanggapi hal tersebut, ustadz asal Bojonegoro ini menyayangkan adanya sikap demikian. Beliau menyanggah bahwa imbas tersebut tidak akan terjadi.

“Kalo kita berpresepsi yang negatif, tentu kesemuanya akan punya potensi. Dan itu masih sebuah dugaan” lanjutnya.

Ust. Mustaqim S. Pd. I melanjutkan, untuk peringatan hari nasional baru ini Pondok Pesantren Langitan masih dalam posisi mendukung. Sebab, peringatan ini terhitung baru dan berdekatan dengan peringatan tahun baru Islam, sehingga belum ada bentuk kegiatan tertentu untuk memperingatinya. Sy