[singlepic id=33 w=128 h=100 float=left]Setelah mengalami proses yang panjang, akhirnya terlaksanalah Deklarasi Partai Kebangkitan Nasional Ulama (PKNU) yang dilaksanakan pada hari Sabtu (31/3) di Lapangan Al Ghuroba’ Pondok Pesantren Langitan. Acara ini dihadiri ratusan kiai dan 30 ribu simpatisan. Karena membludaknya peserta, sempat terjadi kemacetan lalu lintas dan merayap berantai radius 15 KM. dari titik pusat acara. Karena bertepatan dengan tanggal 12 Robiul Awal deklarasi pun diawali dengan peringatan mauludin nabi Muhammad SAW. dan Istighotsah demi keselamatan bangsa Indonesia. Ini dilakukan, agar Indonesia bisa keluar dari musibah yang tak kunjung reda. Hadir dalam acara itu seluruh tim 17, kecuali KH. Idris Marzuqi (Lirboyo, Kediri, Jatim) karena sakit dan KH. Abdullah Schal (Bangkalan, Madura) karena ada udzur. Tim 17 adalah para kiai yang merumuskan berdirinya PKNU dan siap mengawal partai ini agar tidak menyimpang dari rel syar’i, mereka adalah :

KH. Abdullah Faqih (Langitan, Widang, Tuban, Jawa Timur)
KH. Ma’ruf Amin (Tanara, Banten)
KH. Abdurrochman Chudlori (Tegalrejo, Magelang, Jawa Tengah)
KH. Ahmad Sufyan Miftahul Arifin (Panji, Situbondo, Jawa Timur)
KH. M. Idris Marzuki (Lirboyo, Kediri, Jawa Timur)
KH. Ahmad Warson Munawwir (Krapyak, DI Jogjakarta)
KH. Muhaiminan Gunardo (Parakan, Temanggung, Jawa Tengah)
KH. Abdullah Schal (Bangkalan, Jawa Timur)
KH. Sholeh Qosim (Sepanjang, Sidoarjo, Jawa Timur)
KH. Nurul Huda Djazuli (Ploso, Kediri, Jawa Timur)
KH. Chasbullah Badawi (Cilacap, Jawa Tengah)
KH. Abdul Adzim Abdullah Suhaimi, MA (Mampang Prapatan, DKI Jakarta)
KH. Mas Muhammad Subadar (Pasuruan, Jawa Timur)
KH. A. Humaidi Dakhlan, Lc (Banjarmasin, Kalimantan Selatan)
KH. M. Thahir Syarkawi (Pinrang, Sulawesi Selatan)
Habib Hamid bin Hud Al-Atthos (Cililitan, DKI Jakarta)
KH. Aniq Muhammadun (Pati, Jawa Tengah)

Selain tim 17, juga hadir Kiai-Kiai sepuh lain di antaranya: KH. Abdul Hamid Baidlowi (Lasem, Rembang, Jateng), KH. Zainal Abidin Munawwir (Krapyak, Djogjakarta), KH. Anwar Iskandar (Kediri), KH. R. Cholil As’ad Syamsul Arifin (Situbondo), KH. Ahmad Basyir (Kudus), dan KH. Abdul Djalil Ma’ruf (Riau).

Partai yang memproyeksikan diri sebagai kolaborasi religi nasionalis ini memang beda dengan partai yang ada. Terutama dalam kinerja dan struktur, Dewan Musytasar mempunyai hak veto dalam pemutusan masalah. Ini sebagai penegasan peran aktif ulama dalam partai dan menghilangkasn kesan ulama sebagai ‘pemadam kebaran’, yang disowani ketika ada masalah genting serta diabaikan saat posisi normal. Hal ini sebagaimana yang disampaikan KH. Ma’ruf Amin (Rois Musytasar) dalam pidatonya, bahwa kedepan partai akan memaksimalkan peran ulama, termasuk menghilangkan image ulama sebagai tukang stempel dan pemadam kebakaran, yang dimintai pertolongan saat posisi genting dan diabaikan saat posisi stabil.