omar

Dalam khazanah islam, predikat Wali-Auliya’ merupakan strata tinggi kedekatan Hamba kepada Sang Malik ad-Dayyan. Mereka (hamba Allah) yang telah mencapai fase ini, dikaruniai prestise yang sangat besar oleh Allah SWT untuk menata stabilitas alam semesta. Mereka tidak pernah mengerang merasakan payah maupun lelah, untuk selalu melingkarkan kalimat tasbih dan tahmid dalam setiap kata yang teruntai sepanjang masa.

Di kala malam telah beranjak, Mereka tak ubahnya purnama yang senantiasa menerangi dan menghiasi suasana gelap pekat dengan tangisan rindu dan senandung cinta syahdu. Hanya cinta suci kepada sang ilahi, yang tergurat hitam di jidat Mereka tatkala sujud. Dan, hanya manivestasi taqwa yang begitu dalam keharibaan Sang Maula, yang mengiringi Mereka setiap bermunajat.

Secara Karakteristik, Waliyyullah bukanlah orang yang hanya semata-mata memiliki kepiawaian untuk meng-kloning tubuh menjadi banyak, atau sekedar menguasai kadigdayaan untuk dapat terbang dan kebal senjata tajam, Sementara, sehari-harinya tidak pernah beribadah dan munajat kepada Allah.

Waliyullah juga bukan tiap-tiap orang yang dapat melihat Nabi Khadlir secara sadar dan nyata atau bahkan bisa berinteraksi denganya.

Akan tetapi, Waliyullah adalah Orang-Orang yang senantiasa beriman dan bertaqwa kepada Allah. Siapapun yang melihatnya, akan langsung terbesit dalam benaknya untuk mengingat Allah. Mereka tidak pernah merasa takut atau khawatir terhadap urusan Akhirat, dan tidak sedikitpun terdera kesusahan dalam mengarungi ragam kepentingan Dunia.

Hal ini sebagaimana Firman Allah SWT dalam Surat Yunus, 62-63:

أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ  الَّذِينَ آَمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ

Artinya : “Ingatlah, Sesungguhnya Wali-Wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka susah (bersedih hati). (Mereka adalah) orang-orang yang beriman dan bertakwa.

(QS. Yunus: 62-63).

Referensi :

  • Siroj at Tholibin, Juz I, Hal: 262-263
  • Hilya Auliya, Juz I, Hal: 6
  • Tafsir Ibn Katsir, Juz, II Hal: 514