KH.-Ubaidillah-Faqih

Taushiyah Majalah Langitan Edisi 58 (KH. Ubaidillah Faqih)

Allah menciptakan bumi ini sebagai tempat tinggal bagi seluruh makhluk. Dan apa yang terkandung dalam bumi seperti makanan, minuman dan kekayaan alam lain tersediakan bagi makhluk untuk berjalan kepada Allah. Barangsiapa di antara makhluk yang memanfaatkan semua itu menurut kemaslahatannya dan sesuai dengan yang diperintahkan Allah maka itu adalah perbuatan yang terpuji. Dan barangsiapa yang memanfaatkannya melebihi apa yang dia butuhkan karena tuntutan kerakusan dan ketamakan maka dia pantas untuk dicela.

Sungguh, jika kita sudah tahu akan hakikat dunia dan bagaimana seharusnya kita bersikap dengan dunia ini, maka akankah kita tetap menggerakkan nafsu ini untuk mengumpulkan harta dunia sebanyak-banyaknya dan kita jadikan harta tersebut sebagai tujuan hidup kita?

Ketahuilah bahwa kecintaan kita terhadap dunia adalah salah satu penyebab yang bisa mengakibatkan hidup menjadi tidak tentram. Orang-orang yang cinta dunia akan selalu terdorong untuk memburu segala keinginannya meski harus menggunakan cara yang licik, curang, dengan berbohong, korupsi, dan sebagainya. Semua itu karena meraka tidak pernah menyadari, sesungguhnya harta hanyalah ujian. Hingga ia tidak pernah merasa cukup dengan apa yang sudah dimilikinya dan masih selalu ingin menambahnya lagi, ini adalah sikap dasar manusia yang sangat jauh dari rasa syukur kepada Allah Swt. Dalam surat Ali Imran ayat 14, Allah berfirman:

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ۗ ذَٰلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآبِ

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak[186] dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).”

Ayat di atas menerangkan bahwa fitrahnya manusia mencintai harta dan apa-apa yang diingini. Dan dalam hadisnya Rasulullah  Saw juga bersabda: “Jika seorang anak Adam memiliki emas sebanyak dua lembah sekalipun maka dia akan (berusaha) mencari lembah yang ketiga. Perut anak Adam tidak akan pernah  puas sehingga dipenuhi dengan tanah.” (HR. Bukhari).

Di sinilah pentingnya kita membekali diri dengan sikap qana’ah untuk menangkal sifat dasar manusia yang tidak pernah cukup atas apa yang sudah dimiliki. Qana’ah berarti kepuasan dan keridhaan hati atas karunia dan rezeki yang diberikan Allah Swt, tidak tamak terhadap apa yang dimiliki manusia, tidak iri melihat apa yang ada di tangan orang lain dan tidak rakus mencari harta benda dengan menghalalkan semua cara, sehingga dengan semua itu akan melahirkan rasa puas dengan apa yang sekedar dibutuhkan. Rasulullah Saw bersabda:

قَدْ أفْلَحَ مَنْ أسْلَمَ وَرُزِقُ كَفَا فًا، وَ قَنَّعَهُ اللهُ بِمَا آتَاهُ

“Beruntunglah orang yang memasrahkan diri, dilimpahi rezeki yang sekedar mencukupi dan diberi kepuasan oleh Allah terhadap apa yang diberikan kepadanya.” (HR. Muslim, At-Tirmidzi, Ahmad dan Al-Baghawi)

Sikap qana’ah ini hendaklah kita lakukan dalam setiap kondisi, baik ketika kita kehilangan harta maupun ketika mendapatkan harta. Perbuatan qana’ah yang dapat kita lakukan misalnya puas dengan makanan meski dengan keterbatasan lauk pauk tapi cukup untuk menambah kekuatan dalam bekerja, beramal dan beribadah. Mencukupkan beberapa lembar pakaian untuk bisa menutup aurat. Bukankah masih banyak di sekililing kita yang untuk kebutuhan makan sehari-harinya saja mereka sangat kekurangan?

Yang perlu kita pahami bahwa qana’ah bukanlah berarti  berpangku tangan dan hilang semangat untuk berkerja lebih keras demi menambah rezeki. Malah, ia bertujuan supaya kita sentiasa bersyukur dengan rezeki yang dikurniakan Allah.  Karena sikap qana’ah tidak berarti fatalis menerima nasib begitu saja tanpa ikhtiar. Orang-orang qana’ah bisa saja memiliki harta yang sangat banyak, namun semua itu bukan untuk menumpuk kekayaan. Justru banyaknya harta akan ia gunakan untuk berdakwah, berderma, menyalurkannya kepada yang membutuhkan. Karena kekayaan bukan terukur dari banyaknya harta tapi kekayaan yang hakiki adalah kekayaan jiwa, sebagaimana sabda Nabi Saw: “Bukannya yang dinamakan kaya itu karena banyaknya harta tetapi yang dinamakan kaya (yang sebenarnya) ialah kayanya jiwa.” (Muttafaqu ‘alaih).

Dan siapapun yang ingin meraih ketenangan hati dan kedamaian jiwa, maka qana’ah adalah jalannya. Karena sesungguhnya, ketenangan hati ada dalam sedikitnya keinginan. Marilah kita qana’ah terhadap pemberian dan pengaturan-Nya.

 

[Disarikan dari pengajian kitab Hidayah al-Adzkiya’ pada bulan Ramadhan]