Kamis (19/12) – Tepat seminggu setelah acara haul akbar yang di gelar di pesantren Langitan, Tuban, KESAN Langitan Yaman menggelar acara serupa dengan format sederhana, namun memiliki arti yang benar-benar luar biasa. Meski diformat dengan acara khotmil Qur’an dan tahlil, tapi secara tak sadar, acara ini bernuansa peneladanan terhadap sosok-sosok yang berjasa di balik tembok bisu pesantren Langitan. Acara yang dihelat di flat Darul Aytam, Tarim ini diawali dengan khotmil Quran seusai sholat isya’, kemudian dilanjutkan dengan pembacaan tahlil yang dipimpin oleh habib Reza Al-Jufry. Setelah pembacaan tahlil, sambutan atas nama KESAN Langitan Yaman yang diwakili oleh ust. Mansur. Dalam sambutannya, beliau menyitir tentang keberkahan pesantren Langitan yang tak lain dan tak bukan disebabkan keikhlasan para pengasuhnya dalam nasrul ilmi, sehingga sampai sekarang, pesantren Langitan masih mampu tegak berdiri dalam meyebarkan dakwah yang menjadi tugas bagi setiap insan.

Sambutan yang kedua disampaikan oleh agus Zahid Munif sebagai perwakilan dari keluarga ndalem Langitan. Sambutan gus Zahid membuat acara malam itu benar-benar dipoles dengan ruh dari tujuan sebuah acara haul, yaitu dengan meneladani kehidupan suci sosok yang tengah didoakan. Gus Zahid mengisi sambutannya dengan berkisah tentang sejarah berdirinya pondok pesantren Langitan serta sedikit membuka teladan dari sikap dan sifat para pendiri Langitan. Pondok pesantren Langitan yang sekarang menjadi pesantren tertua di Indonesia, berdiri pada abad ke 18 Masehi, tepatnya pada tahun 1852 M. Pesantren Langitan berawal dari sebuah surau kecil yang didirikan oleh KH. Nur, seorang kyai dari rembang, Jawa Tengah. Sosok kyai Nur terkenal sebagai figur yang benar-benar ikhlas dan tidak sedikitpun memiliki sebuah rasa hubbub at-talamidz. Sedikit ataupun banyak santri yang hadir dalam majlis beliau, tak mengurangi niat beliau untuk menyebarkan ilmu yang dimilikinya. Sejarah menceritakan bahwa beliau memangku pesantren Langitan selama kurang lebih 19 tahun.

Periode selanjutnya, pesantren Langitan dipimpin oleh KH. Sholeh, putra KH, Nur. Pada periode ini, pesantren Langitan berkembang pesat dan berhasil menelurkan kyai-kyai besar yang masyhur di Indonesia, diantaranya: kyai Kholil Bangkalan, KH. Hasyim Asy’ari, KH. Wahab Hasbulloh, KH. Siddiq dan lain sebagainya. KH. Sholeh memimpin pesantren Langitan selama kurang lebih 32 tahun.

Periode selanjutnya, tampuk kepemimpinan pesantren Langitan dipegang oleh KH. Khozin, menantu KH. Sholeh. Dan kemudian dilanjutkan oleh KH. Abdul Hadi Zahid, menantu KH. Khozin pada periode setelahnya. KH. Abdul Hadi Zahid terkenal sebagai sosok yang istiqomah. Keistiqomahan beliau tak hanya dalam urusan ibadah saja, tapi sampai hal terkecil seperti tempat meletakkan tongkat dan sandal beliaupun selalu pada tempat yang sama. Keisiqomahan beliau juga mampu dirasakan dan dilihat oleh murid-muridnya. Bahkan, murid-murid beliau sampai berkata bahwa belajar tidak perlu melihat jam, cukup jika melihat KH. Abdul Hadi Zahid mengaji di depan rumah, maka sudah pasti saat itu tengah pukul tujuh pagi tepat. Tak hanya itu, jika di tengah malam, murid-murid beliau mendengar derit pintu dari dalam ndalem, maka bisa dipastikan saat itu tengah jam tiga malam dan saatnya KH. Abdul Hadi Zahid untuk menunaikan sholat malam. Keistiqomahan beliau benar-benar luar biasa sampai-sampai jika beliau terlambat beberapa menit saja dari kebiasaan beliau, maka beliau menangisinya terutama jika keistiqomahan itu berhubungan dengan kebiasaan ibadah yang biasa beliau jalani. KH. Abdul Hadi Zahid memangku pesantren Langitan selama kurang lebih 50 tahun. Dan sejak wafatnya beliau, haul Langitan mulai digelar, tepatnya pada tahun 1972 dan terus berlangsung hingga sekarang. Diantara murid-murid beliau adalah KH. Ihya’ Ulumuddin, Malang, KH. Masbuhin Faqih, Suci dan lain sebagainya.

Setelah KH. Abdul Hadi Zahid wafat, kepemimpinan pesantren Langitan dipegang oleh KH. Ahmad Marzuki dengan dibantu oleh KH. Abdulloh Faqih. Meski dipimpin oleh dua pemimpin, tapi hal itu tidak menjadikan Langitan terpecah menjadi dua. Justru kehadiran KH. Ahmad Marzuki dan KH. Abdulloh Faqih menjadikan pesantren Langitan semakin maju karena sikap beliau berdua yang saling membantu. KH. Ahmad Marzuki terkenal sebagai sosok yang polos hatinya, halus dan baik pekertinya, sedangkan KH. Abdulloh Faqih terkenal sebagai sosok yang bijak dalam segala hal. Setelah KH. Ahmad Marzuki wafat, kepemimpinan selanjutnya diterusan oleh KH. Abdulloh Faqih. Sikap bijaksana yang tampak dalam diri beliau menjadikan murid-murid beliau bisa mengambil banyak suri tauladan, hingga murid beliau mengatakan bahwa manhaj dakwah yang tampak dalam diri KH. Abdulloh Faqih tak keluar dari tiga hal, yaitu Istiqomah suluk, salamatul qolb dan hikmah atau bijak.

Begitu agung suri tauladan yang ditorehkan oleh sosok-sosok yang berjasa dalam perjalanan hidup pesantren Langitan, hingga tak heran jika pesantren Langitan begitu memberi efek positif bagi masyarakat. Setelah KH. Abdulloh Faqih wafat, kepemimpinan pesantren Langitan diteruskan oleh KH. Abdulloh Habib, putra KH. Abdulloh Faqih.

Rangkaian acara haul berakhir pukul 21.30 dengan ditutup doa yang dipimpin oleh habib Musawa, kemudian dilanjutkan dengan ramah tamah. Hadir dalam acara itu, Agus Muhammad Anas, agus Muhammad Ainun Naim, habib Reza Al-Jufry, habib Musawa, habib Hadi Baagil dan rekan-rekan Himpunan Alumni Mambaus Sholihin (HAMAM Yaman). Seusai acara, tampak gus Akyas Zubair dan gus Tajuddin selaku ketua panitia dan sekretaris acara mengucapkan terima kasih kepada semua yang hadir. Terlukis senyum lega mewarnai keduanya serta segenap teman-teman KESAN Langitan.

Barakallahu fiikum./Adly Al-Fadlly
Musim Dingin,
Kamis, 191213/160235 
23:44

Sumber : http://www.alfadlly.com/2013/12/haul-masyayikh-langitan-ke-43-di-kota.html