majalah langitan edisi 52Majalah Langitan edisi ini mengangkat tema “Berdakwah dengan Budaya”. Sebuah kajian yang penting untuk dikonsumsi, karena melihat perkembangan akhir-akhir gaya dakwah sebagian kelompok kecil telah ‘mengusik’ atau terkadang mengonfrontasikan budaya dengan agama. Padahal, tidak semua budaya lokal itu jelek dan harus diberengus.

Ada budaya-budaya lokal yang secara substantive tidak berlawanan dengan maksud mulia ajaran agama. Meski kita tidak menafikan ada beberapa produk budaya lokal yang tidak sejalan dengan ajaran agama islam yang mulia. Tentu sikap yang bijak adalah mempertahankan ranah pertama sebagai identitas bangsa dan agama. Dan yang kedua tentu kita sepakat untuk dijauhi.

Dakwah yang dilakukan tidak mengikuti arus budaya, maka akan terasa kering dan kasar. Ada sebuah anggapan bahwa islam terlalu memaksa. Sementara dakwah melalui jalur budaya akan terasa lebih damai dan menyejukkan, seperti dakwahnya walisongo dan para ulama penerus mereka.

Selain Jejak utama di atas, redaktur juga mengajak pembaca untuk menikmati rubrik-rubrik lain seperti berjalan-jalan penuh pahala menuju makam Sayyidah Khadjidah al-Kubro, di Makkah al-Mukarramah. Menikmati sajian hubungan muslim non muslim terkait perayaan hari raya, melihat semangat aktivis dakwah dengan membangun televisi Aswaja, dan masih banyak rubrik yang lain.

Demikian, semoga bermanfaat bagi kita semua. Amin.

Sumber diambil dari :Majalah Langitan