dr. As-Syayid Muhammad bin Alwy Al Maliky dalam kitab “Konsepsi Moral Islam Dalam Membina Keluarga” mengkritik secara pedas atas terjadinya proses “pembancian” terselubung anak laki-laki yang terjadi dalam model pendidikan sekuler dewasa ini. Sebagaimana para cerdik pandai muslim lain yang masih konsen dengan nilai-nilai moral dan spiritulaitas Rosulullah SAW, beliau sangat tidak setuju dengan sistem pendidikan klasikal yang mencampurkan antara murid laki-laki dan perempuan (ikhtilath bainar rijal wan nisa’). Sebab terjadinya proses penyerapan karakter di antara keduanya adalah suatu keniscayaan. Akhirnya, yang laki-laki berlagak seperti perempuan dan begitu juga sebaliknya.

Dalam tulisan ini tidak akan memperpanjang prespektif Syayid Al Maliky dalam melatih jiwa ksatria anak. Sangat sukar bagi kita untuk menerima indoktrinasi semacam itu, selama sistem pendidikan nasional kita meletakkan pengajar moral dan etika sebagaimana wacana belaka, bukan berarti disiplin dan penggemblengan moral. Itu ibarat kepedulian pemerintah akan kesehatan rakyatnya hanya dengan menghimbau: “Merokok Menyebabkan Kanker, Serangan Jantung, Impotensi dan Gangguan Kehamilan dan Janin,” pada setiap bungkus rokok, tetapi dengan tetap mengharapkan pertumbuhan para penghisap dan menarik upeti (pajak) dari perusahaannya. Ini sebuah lelucon dari penguasa dan pengendali hukum (Negara) yang tidak lucu. Dalam pendidikan nasional kita juga berlaku semacam itu.

Kalau kita sendiri sebagi orang tua tidak punya ghirroh (kecemburuan) keagamaan yang tinggi terhadap kita dan anak-anak kita. Pengajaran nilai-nilai dan moralitas Islam bisa diakses oleh siapa saja, sebagaimana secara tekstual Al-Qu’ran bisa dipelajarai oleh para orientalis yang kuffar. Tetapi Islam sebagai system prilaku, Islam sebagai Dien, Islam sebagai
Way Of Life (pandangan hidup) maka ini sangat tergantung atas kuaalitas keimanan yang terserap dalam emosi dan kesadaran seorang muslim. Suatu ketika, kalau tidak salah, sahabat Ibnu Abbas RA, mengadakan perjalanan, tiba-tiba beliau berhenti saat melintas di suatu tempat. Prilaku ini tentu menarik pertanyaan dari sahabat yang menemani beliau; mengapa berhenti? “Sewaktu bersama beliau SAW, saya melihat Rosulullah SAW berhenti ketika sampai di tempat ini. Dan saya mengikuti prilaku beliau,” jawab Ibnu Abbas RA. Pasti Rosulullah SAW secara lisan tidak memerintahkan sahabat dan misanan Nabi ini untuk melakukan apa yang telah diperbuat oleh Rosulullah SAW, tetapi konsepsi syariat Islam yang dibangun oleh Allah Ta’ala diatas pondasi qudwah dan uswah pada nabinya, memberi kepastian hukum bahwa seluruh tindakan Rosulullah secara lahiriyah adalah bagian dari syariat itu sendiri. Nah, pada tingkat implementasi semacam inilah situasi keimanan seorang muslim mengalami perbedaan; perbedaan kwantitas penerapan tentunya dimulai dari perbedaan pemahaman secara bathiniyah. Sorot keimanan, prespektif keimanan (syu’aa’un nuril imaniyah) menjadi terkejawentahkan dalam alam perpedaan dan struktur lahiriyah.

Sambil menyelesaikan makan setengah siangnya, si Muhammad yang baru memasuki anggota pra TK (Play Group) bercerita kepada kepada ibunya tentang temannya yang dimarahi oleh mbahnya gara-gara tidak sesuai dengan instruksi instrukturnya. Gejala ini hampir umum melanda di pedesaan; kekhawatiran yang berlebihan dalam mensikapi kreativitas anak. Meski anak, kelak akan tumbuh dalam bimbingan bakat dan nalurinya masing-masing, namun penciptaan suasana dan pengarahan tidak boleh terlalu ketat. Pemberontakan bawaan anak selalu muncul, itu semacam gejala proses pelatihan harga diri secara alamiyah.

“Memberikan toleransi yang luas atas kesalahan materiil dan memaafkaannya. Dan memberi tekanan yang cukup bagi perkembangan kerohaniannya dan memberi ultimatum.” Ini salah satu prinsip kerja orang tua muslim bagi anak-anaknya. Seorang ksatria, salah satu cirinya, sangat toleran dengan hal-hal yang berbau materiil, benda atau barang-barang yang dimiliki. Tetapi akan melakukan perang tanding kalau hal itu sudah menyangkut prinsip, menyangkut keyakinan dan kehormatan.

Sepanjang yang penulis baca, Rosulullah tidak memberi juklak, atau garis kerja terhadap dimensi permainan (bukankah dunia dan isinya ini adalah permainan) tetapi “suruh anak-anak kalian untuk sholat saat memasuki usia 7 tahun dan pukullah mereka bila meninggalkan sholat ketika berusia 10 tahun.” Itulah kerangka dasar membangun sistem pendidikan mentalitas; atur dan mantapkan yang pokok, maka yang lain akan mengikuti. Jangan dibalik, hanya karena anak menjatuhkan gelas dari meja, meledaklah suara amarah dari orang tua. Istilah penulis, reaksi murahan ini tidak sumbut dan tidak nyucuk dengan energi kemarahan yang keluar dan hasil ketakutan yang dirasakan anak.

Tujuh tahun dalam pertumbuhan usia, kelembutan perintah mulai diterapkan. Sampai usia sepuluh tahun, kekerasan (pukulan) mulai dapat dicadangkan sebagai bagian dari pola pendidikan. Lantas dimana usia balita (seusia anak-anak TK). Disinilah rahasia hadist Rosulullah SAW yang sangat masyhur seluruh jagad muslim:“Seorang anak lahir dalam keadaan fitrah (kesucian), maka atas kinerja kedua orang tuanya yang menjadikan anak itu nasroni, yahudi atau majusi.”

Masa kanak-kanak adalah masa tanpa akal sempurna. Sistem pembelajaran mereka didominasi oleh apa yang dilihat dan di dengarnya. Lingkungan keluarga sebagai habitat yang pertama dan utama dalam kehidupan anak-anak, sekaligus akan menentukan kebiasaan anak-anak itu sendiri. Isi dan makna-makna yang dikembangkan di rumah akan bersenyawa dan terpola dalam diri anak. Umumnya. Sekali penulis pernah mengucapkan kata-katak “goblok” dihadapan salah seorang murid di lingkungan anak saya. Tak urung, anak saya beberapa kali melakukan “permainan peran” dengan mainannya, dan berlagak marah seraya mengucapkan kata-kata goblok. Nada dan gayanya persis orang marah. Menyaksikan ini, penulis cuma mesem-mesem setelah mengkofirmasi hal ini pada anak sambil berkata: “Kapok, kamu! Makanya lihat-lihat dulu kalau hendak mengeluarkan kata-kata keras.”

Walhasil, sikap kesatria anak akan dimulai pertumbuhannya ketika berada di rumah. Yang dimaksud kesatria (rijal) dalam agama kita, adalah pribadi yang mampu memantapkan nilai-nilai penghambaan dalam kehidupan sehari-hari, memahami ralitas kebenaran dalam sikapnya dan bertanggung jawab atas tindakan yang telah diambilnya. Tak perduli, apakah ia berjenis kelamin laki-laki atau perempuan. Tetapi sayang, jaman seperti ini, sangat sukar mendapatkan laki-laki yang ksatria. Keprihatinan Syayid Muhammad Al Maliky adalah keprihatian realitas yang ada.