Sabar adalah sifat yang harus dimiliki setiap insan karena tanpa jaln kesabaran tak mungkin jurang  ujian kesulitan dan bencana dapat terlewati, mstahil pla cita-cita dan tujuan hidup dapat tercapai.

Selama hayat masih di kandung badan, ujian dan cobaan takkan pernah jera hilir mudik di kehidupan manusia, tak peduli tua, muda, laki-laki, perempuan, miskin ataupun kaya, semuanya takkan pernah luput dari segala macam ujian sebelum ajal menjemput. Untuk itu, dibutuhkan kesabaran jiwa dalam menghadapinya seperti orang miskin yang diuji dengan sulitnya mencari rezeki, apakah dengan kesulitan tersebut dia tetap sabar menjalani hidup dan selalu mengingat Sang Kholiq, sebaliknya orang kKH. ABDULLAH FAQIHaya diuji dengan banyaknya harta, apakah dia sabar dalam membelanjakan hartanya di jalan Allah dam kebaikan lainnnya. Lalu kita sebagai santri apakah lepas dari segala macam ujian? Tentu tidak, karena tak seorangpun yang mengatakan dirinya beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kecali ujian dan cobaan menghadapinya. Hal itu tak lain untuk menguji kadar keimanan dan kesabaran manusia, semakin tinggi derajat keimanan seseorang semakin tinggi pula ujian dan cobaan yang melintang. Seperti yang kita dengar tentang para nabi, mereka adalah hamba Allah yang dipilih Allah untuk menyampaikan risalah dan berdakwah kepada umat manusia, namun tak satu pun dari dakwah mereka selalu berjalan mulus tanpa adanya ujian dan cobaan. Bahkan ujian yang mereka alami sangatlah berat, yang tak akan sanggup dihadapi siapapun kecuali para nabi. Seperti contoh ujian yang diberikan Allah kepada Nabi Muhammad SAW, dimana beliau selalu sabar dalam menghadapi berbagai tingkah kaum jahiliyyah. Ketika perintahkan Allah berdakwah secara terbuka, tak jarang beliau dihadang, diintimidasi, dilempari kotoran, dicaci maki setiap hari, bahkan sampai pernah dilempari batu sampai wajah beliau luka dan berdarah ketika berdakwah di Thoif, Namun beliau tetap sabar, sedikitpun tak ada keinginan untuk membalas, padahal beliau adalah kekasih Allah yang selalu dikawal malaikat Jibril, andaikan mau tentu tinggal meminta kepada Jibril untuk mencabut gunung Uhud dan melemparkannya kepada orang-orang yang melempari beliau. Kenyataannya Nabi Muhammad saw malah melarang Jibril yang waktu itu meminta diri untuk mencabut gunung Uhud dan melemparkannya ke penduduk Kota Thoif, Nabi saw pun mengakatan “Jangan engkau lakukan itu, mereka berbuat seperti itu karena mereka tidak tahu, kalaupun mereka tidak mengindahkan ajakanku barangkali anak cucu mereka mendapat petunjuk dan mau menerima ajakanku”. Nai saw juga berdoa kepada Allah agar mereka diampuni dan mendapat hidayah dari Allah mau memeluk ajaran Islam. Betapa mulia akhlak Nabi Muhammad SAW, beliau yang penyabar itu mendoakan orang-orang yang justru menganiayanya, tak heran kalau ketabahan dan kesabaran beliau mampu menarik simpati kaumnya untuk mengikuti ajakan beliau.

Kita sebagai santri telah dididik sejak dini untuk selalu bersabar dan qona’ah, sehingga tanpa kita sadari kita mempunyai kesabaran yang berlapis-lapis, bagaimana tidak sabar wong setiap mau makan, pipis, mandi, mencuci selalu antri, belum lagi peraturan dan larangan pondok yang sifatnya memaksa, seperti kewajiban bhalat berjama’ah di mushola dan denda bagi yang meninggalkannya, kewajiban ngaji, sekolah, musyawaroh, semuanya adalah hal yang memberatkan kita dan memaksa hawa nafsu kita untuk mengikutinya. Kalau kita sadar bahwa peraturan dan larangan tersebut manfaatnya akan kembali kepada kita untuk melatih mental religi kita supaya terbiasa disiplin, selalu istiqomah kontinyu menjalankan syari’at dan menjalankan sunnah. Maka dengan sendirinya rasa sabar menjalankan peraturan dan meninggalkan larangan akan mengalir dalam diri kita dengan tulus tanpa adanya paksaan. Seandainya kita tidak mau bersabar pastilah kita akan meninggalkan budaya antri di pondok yang penuh dengan peraturan dan larangan, kemudian memilih tinggal di rumah agar selalu bebas dan santai. Lalu apakah kesabaran kita murni ikhlas untuk wajhillah? Atau keharusan yang memaksa?, mari kita tanyakan kepada hati kita.

Perlu diketahui bahwasanya sabar karena keharusan yang memaksa hanya akan membuat kita nggrundel dan membuat hati kita semakin payah, karena kesabaran kita hanya tampak dari dhohir saja sedang hati kita berontak, bibir kita komat-kamit dengan keluh kesah seolah hati kita tidak ridho dengan apa yang di gariskan Allah kepada kita, sehingga bukan pahala yang bertambah malah dosa yang melimpah, sebaliknya, sabar liwajhillah membuat sengsara jadi nikmat dan menjadikan kita semakin matang dengan kedewasaan, karena setiap jengkal langkah kita bernilai ibadah untuk menggapai ridho Allah semata, maka tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini untuk mencapai tujuan dan cita-cita yang dimaksud. Sehingga lautan dan samudra ilmu bisa di arungi dengan mudah, bahkan ombak dan badai menjadi sebuah tantangan dan menyenangkan.

Sabar merupakan sifat-sifat yang di butuhkan di setiap aspek kehidupan bagaimana mungkin seseorang yang hidup di dunia penuh cobaan ini bisa bertahan hidup tanpa secuilpun kasabaran. Padahal setiap sisi kehidupan membutuhkan campur tangan orang lain yang dibuat melalui sebuah, bukan langsung jadi. Bayangkan saja jika hendak makan, kita membutuhkan sendok untuk yang dibuat oleh perajin atau pabrik, satu piring nasi yang dihasilkan oleh petani yang hidupnya jauh di perkotaan, sayur mayur yang ditanam di pegunungan, juga lauk pauk dari peternak atau nelayan yang di jual di pasaran, semua  itu melalui proses yang panjang dan semua proses membutuhkan rentang waktu yang lama, kalau kita berfikir betapa repotnya petani menanam padi, memupuk, mencangkul, dengan keringat bercucuran di bawah terik matahar, kita akan mengetahui hakikat kesabaran yang hanya bertempat tinggal di hati dan jiwa.

Lalu dimanakah kita memposisikan kesabaran dalam urusan kehidupan kita? Di awal, di akhir, atau di tengah-tengah? sering kali kita tidak menyadari dan lupa bahwa sabar mempunyai dua unsur pendukung yang harus selalu melekat yaitu ikhlas dan prasangka baik, jika kita membiarkan hati kita kosong dari dua unsur  tersebut, bisa jadi di tengah-tengah situasi yang rumit dan pelan-pelan memburuk kita tidak siap menjadi diri kita seperti pada awalnya, sehingga mengubah wajah kita menjadi orang lain, bahkan situasi yang kacau dan menghimpit kadang membuat kita tidak sanggup untuk sekedar mengidentifikasikan diri dan masalah kita.

Sebaiknya kesabaran kita desain sejak awal dalam urusan kehidupan kita, sehingga kesabaran menjadi senjata yang melekat erat dalam genggaman jiwa kita, itulah yang ditunjukkan oleh orang-orang yang berada di balik peran tokoh sejarah kehidupan ini, ibunda Nabi Musa misalnya. Dia tidak pernah manyangka bahwa akan melahirkan bayi laki-laki sosok yang paling dicari untuk dimusnahkan oleh Fir’aun. Tetapi ibunda Nabi Musa tahu betul bagaimana menghadapi angkara murka dengan pertama-tams bersangka baik dan berikhlas diri dengan perintah Allah untuk menghanyutkan anaknya di sungai Nil. Itu pula yang di lakukan Nabi Ibrahim ketika berkali-kali diperintah oleh Allah lewat mimpinya untuk menyembelih anak kesayangannya. Baik ibunda Nabi Musa atau Nabi Ibrahim akhirnya tahu buah apa yang mereka petik dari kesabaran yang mereka posisikan di awal kehidupan mereka.

DEVINISI SABAR

Sabar adalah usaha jiwa untuk memikul beban yang berat, memaksakan sesuatu yang tidak disukai, meninggalkan sesuatu yang disukai dan dicintai, tetapi akhirnya tidak memberi kebaikan atau dapat membawa kerusakan dan menghilangkan suatu kebaikan yang besar. Sabar dengan pengertian tersebut termasuk salah satu dari tentara akal yang dapat mengukur gerak gerik manusia dan timbangan kesadaran manusia dapat tegak, sehingga seseorang bisa meninggalkan sifat egoisnya, sifat ini termasuk sifat sempurna yang bisa membawa kepada hakikat keimanan kepada Allah dan percaya atas risalah Rasulullah SAW.

Adapun sabar itu karena dua perkara :

  1. Sabar dalam Wusul (bisa sampai) pada ibadah dan mencapai tujuan, sabar sendiri termasuk dasarnya ibadah juga sabar menahan kesengsaraan, barang siapa yang tidak mau bersabar dalam urusanya, maka segala bentuk tujuan dan cita-cita tidak akan pernah tercapai. Sesungguhnya orang yang benar-benar mengharapkan ibadah kepada Allah pastilah kesulitan, ujian dan cobaan dari tiga arah.
    1. Tidak ada satu ibadah pun kecuali di dalamnya terdapat masyaqot (kesulitan), karena melakukan ibadah bukanlah hal mudah kecuali dengan dengan memaksa hawa nafsu yang tak akan pernah rela dengan kebaikan. Merupakan perjuangan terbesar manusia adalah melawan hawa nafsu yang selalu merengek dan mengajak pada kesenangan dunia ibarat anak kecil yang selalu merengek mintak jajan, jika kita menurutinya dia akan meminta yang lebih banyak, itulah nafsu yang telah mendarah daging dalam jiwa kita dan selalu mengajak pada kejelekan.
    2. Seorang abid bila melakukan kebaikan yang disertai kesulitan maka ia harus hati-hati, sehingga kebaikan tersebut tidak merusak (membahayakan) dirinya. Karena memaksa untuk melakukan pekerjaan baik lebih berat dari pada bentuk pekerjaan itu sendiri.
    3. Sesungguhnya semua tempat di dunia ini adalah tempatnya cobaan dan ujian, barang siapa yang hidup di alam dunia pastilah dia dicoba dan diuji dengan berbagai kesulitan hidup dan bencana dunia. Adapun ujian dan cobaan dunia itu ada beberapa macam cobaan dalam rumah tangga seperti terjadi perselisihan antara suami istri, anak yang susah diatur, sulitnya mencari rezeki. Semuanya jika tidak dihadapi dengan penuh kesabaran akan mengganggu kerukunan dan keutuhan rumah tangga. Cobaan dalam kerabat yang sering terjadi, kadang kala mereka salah mengartikan sikap kita. Cobaan dalam persaudaraan atau teman, sering kali kita direpotkan dan dibuat jengkel dengan sikap seorang teman, kalaupun kita tidak sabar untuk selalu memelihara tali persahabatan dan menjaga uhuwwah islamiyyah sesuai ajaran agama, mustahil tali persahabatan bisa terjalin. Cobaan dalam menerima musibah baik kematian maupun terserang penyakit.
  2. Sabar untuk memperoleh dua kebaikan yaitu kebaikan dunia dan akhirat jika kita mengharap keberuntungan dunia dan selamat di akhirat maka sabar dan ikhlas harus selalu menghiasi jiwa kita. Terkadang seorang hamba yang bertakwa malah diuji Allah dengan berbagai cobaan yang berat, hal itu karena Allah sangat mencintai kesabaran dan ketabahan kemudian Allah menempatkan mereka dengan derajat kemuliaan disisi Allah.

Sabar sendiri merupakan obat yang pahit dan minuman yang dibenci, namun bisa mendatangkan manfaat dan menolak penyakit. Ketika kita mengetahui bahwa sabar adalah merupakan obat dari segala macam penyakit maka kita akan memaksa diri kita untuk meminumnya meskipun hal itu sangat dibenci karena kita tahu pahit sesaat akan memberi efek yang luar biasa nikmat pada kesembuhan raga kita. Adapun sabar itu ada empat macam :

  1. Sabar dalam menjalani taat kepada Allah, kalau kita berfikir tentang keagungan nikmat Allah dengan segala fasilitas yang sempurna, semua diciptakan oleh Allah untuk kemudahan hidup kita, kita diciptakan sebagai mahluk paling sempurna bentuk dan kejadiannya, dengan bekal akal, kita bisa membedakan yang hak dan yang batil, dengan mata kita bisa melihat keindahan dunia, tumbuh-tumbuhan dan hewan yang bisa diambil manfaatnya, kaki untuk berjalan, dan masih banyak lagi bentuk nikmat Allah yang dianugerahkan kepada kita sebagai rohmatallilalamin, nikmat Allah takkan pernah terhitung bilangannya, tak peduli bagi hamba yang taat atau durhaka semua mendapat nikmat dari Allah, karena Allah sama sekali tidak membutuhkan ketaatan kita, seandainya di dunia ini tidak ada hamba yang taat kepada Allah, Allah tidak akan pernah pensiun menjadi tuhan, namun kita sendiri yang membutuhkan kataatan itu sebagai rasa syukur kita atas keagungan nikmat Allah. Belum lagi surga  yang diciptakan Allah sebagai balasan bagi hamba yang syukur dan taat. Sungguh menakjubkan keindahan dan kelezatannya, semua itu tidak sebanding dengan pengorbanan kita bersabar di dalam taat kepada Allah. Kalau kita selalu mengingat hal-hal tersebut, rasa sabar menjalankan perintah Allah dan meninggalkan larangan-Nya tidak akan terasa berat bagi kita, bahkan menjadi kebutuhan dan tujuan hidup yang harus kita penuhi.
  2. Sabar dalam meninggalkan maksiat, dimana setan dan nafsu akan selalu menjerumuskan kita dalam lembah kemaksiatan dan dosa. Selamanya setan takkan membiarkan kita menjadi seorang abid yang taat. Dengan tipu muslihatnya, setan selalu mengajak kita durhaka kepada Allah agar menjadi temannya kelak di neraka, padahal kalau kita tahu. Neraka adalah tempat berbagai macam siksa yang amat sangat pedih dan menyakitkan. Bayangkan saja, satu kerikil yang terinjak oleh kaki mampu membakar ujung kaki sampai otak kita. Masyaallah betapa panasnya api neraka. Lalu, masihkah kita berani untuk durhaka dan berbuat maksiat kepada Allah?. kalau saja kita tidak membentengi diri kita untuk selalu bersabar meninggalkan maksiat dan memohon pertolongan serta perlindungan Allah dari godaan setan, tentu kita menjadi hamba yang paling merugi, sehingga menjadikan kita mudah tergelincir dalam jurang kemaksiatan, seperti berbohong dan mencuri yang kadang kita anggap remeh dosanya.
  3. Sabar atas kelebihan dunia, sehingga dengan kelebihan tersebut kita bisa mentasyarufkannya di jalan Allah tanpa pamrih. Rasa sabar yang kita tanamkan harus menjadi pondasi yang kokoh dan tidak akan membutakan mata batin kita untuk mencintai dunia sumber dari segala bencana.
  4. Sabar menerima cobaan dan bencana. Di era globalisasi ini keadaan memang serba sulit, dimana musibah dan bencana tidak mengenal waktu dan tempat, selalu menyapa bumi pertiwi dan hanya menyisakkan isak tangis dan penyesalan. Kalau kita cermati bencana dan musibah adalah kehendak Allah, kita hanyalah wayang yang berjalan menurut ketentuan dalang kehidupan. Dengan sifat sabar menerima cobaan dan bencana akan mencerahkan jiwa kita, sehingga kita bisa memberikan solusi atas bencana yang menimpa diri maupun keluarga kita, toh bencana tetap terjadi meskipun bibir kita mengucapkan sumpah serapah, mengeluh dan merintik. Jika sifat sudah mendarah daging dalam jiwa kita, maka kita akan menjadi pribadi yang tangguh, tidak mudah terombang-ambing oleh kehidupan dan selalu siap menerima setiap keadaan.

Semoga kita mampu menerapkan kesabaran yang tercermin dari jiwa yang taqwa atas dasar ketulusan dan ikhlas karna Allah dalam kehidupan sehari-hari, sehingga kita tak perlu bersusah payah dengan hati yang dongkol untuk berteriak ketika ustadz memberikan tambahan pelajaran dan ngebut ma’nani, karena kita tahu bahwa kesabaran merupakan kunci untuk meraih cita-cita, keberuntungan, kesuksesan dunia dan akhirat. Semoga Sukses. (Mas R, disarikan dari ngaji minhajnya KH. Abdullah Faqih)