Oleh : KH. Abdullah Habib Faqih

Pernahkah kamu membayangkan hidup tanpa didampingi bapak dan ibu? Saat itu tidak ada tempat mengadu, mengeluh, merengek, memohon belas kasih, tidak ada yang dimintai tolong dan juga dimintai uang. Itulah duka laranya. Tapi sekarang, kanapa saat kamu masih didampingi oleh orang tua, justru kadang-kadang ada saja masalah yang kamu keluhkan. Yang pendapatnya orang tua tidak oke, atau sarannya tidak nyambung, yang orang tua tidak pengertian, yang suka mengatur, dan lain sebagainya. Intinya menandakan kalau hubunganmu sama mereka itu kurang baik.

KH.-ABDULLAH-FAQIHSebagai seorang santri, kamu harus selalu menjaga komunikasimu dengan orang tua, agar senantiasa harmonis dan selalu kondusif. Bagaimana tidak? Lah Allah SWT telah menitipkan bahan cikal bakal kejadianmu pertama kali pada tulang rusuk bapakmu, lalu menitipkan janinmu pada rahim ibumu. Yang kemudian, kamu dipeliharanya selama sembilan bulan untuk selanjutnya dilahirkan ke dunia. Dan waktu terus berjalan, sementara kamu masih terus dalam asuhan orang tuamu hingga pada saat ini. Itulah kasih sayang orang tuamu yang abadi sepanjang masa. Pernahkah ada orang tua yang begitu membenci anaknya? Kalaupun ada, pastilah dia sedang dirasuki setan. Kasih sayang orang tuamu hanya tercurahkan padamu. Mereka senantiasa memberikan yang terbaik untukmu, semua dilakukan tanpa pamrih, basa-basi dan mengharap imbalan sedikitpun.

Hubungan kamu dengan orang tuamu bukan cuma sebatas hubungan darah dan keturunan, tapi juga hubungan hati, emosi dan segenap perasaan. Oleh karena itu, Allah senantiasa mengingatkanmu untuk selalu menjaga hak orang tuamu. Allah juga memerintahkanmu untuk selalu cinta dan menghormati mereka, dengan cara berbuat baik dan sopan santun, berbakti dan berkorban demi mereka, serta menjunjung tinggi nama baiknya. Bahkan di dalam Alquran perintah patuh kepada orang tua diletakkan sesudah perintah taat kepada Allah SWT.

Disamping itu kamu juga diperintah untuk membuktikan rasa cintamu dengan memperlihatkan sikap seriusmu dalam menuntut ilmu, tekun ibadahmu dan tawadlu’ perilakumu khususnya selama di pondok ini. Dengan demikian, berarti kamu sudah mampu memberikan yang terbaik untuk ayah bundamu. Karena kalau itu benar-benar kamu lakukan, maka sesungguhnya jerih payahmu dan amal perbuatanmu juga dicatat sebagai amal ibadah dan jerih payah orang tuamu, pada hakikatnya adalah amal ayah ibumu juga. Dan pahalanya akan dilipat gandakan sesuai dengan kadar jerih payahmu.

Oleh karena itu, perbanyaklah beraktifitas, berpayah-payah dalam ibadah dan belajar di pondok ini, agar ayah bundamu meraih sebanyak mungkin pahala Allah. Dengan demikian kamu dicatat sebagai anak yang berbakti, yang tahu diri, menghargai dan mampu balas budi pada orang tua, dan pastinya kelak anak-anakmu akan melakukan hal yang sama untukmu di masa tuamu.