Jl. Raya widang Tuban PO BOX 02 Babat 62271 Telp/Fax.0322-451156 SMS center : 085235688999. langitan [at]langitan[ dot] net

Telah menjadi ketetapan Allah, suami diamanahi menjadi pemimpin rumah tangga. Ia berkewajiban berjuang mencari dan memenuhi kebutuhan keluarga. Namun perjuangan dan jerih payah itu haruslah diimbangi dengan kepandaian isteri dalam mentasharufkan harta yang ada. Pentasharufan yang kurang benar, efektif dan efesien akan berdampak kurang baik terhadap laju perjalanan rumah tangga. Oleh karenanya, istri sebagai pengelola (ra’iyah) di dalam rumah harus pandai-pandai mengatur keuangan agar terjadi keseimbangan antara pendapatan dan pengeluaran, dan terhindarkan dari pemborosan yang tidak diperlukan. Sebab sebanyak dan setinggi apa pun penghasilan suami, tanpa dibarengi dengan menejemen keuangan yang baik dari pihak isteri, tidak akan nencukupi. Dan bila keadaan seperti itu dipertahankan dan tiada usaha untuk memperbaikinya bukan mustahil dapat memperkeruh suasana, menimbulkan percekcokan, bahkan mengantarkan kepada perceraian, na’udzu billah.

Di antara suami isteri harus terjadi kerja sama yang kompak dan menguntungkan kedua belak pihak. Jika suami sudah rela mengerahkan usaha dan tenaga mencari nafkah dengan benar, maka isteri juga harus menghargainya dengan pengaturan sedemikian rupa agar usaha tersebut tidak sia-sia dan dapat menumbuh-kembangkan tanaman mawaddah wa rahmah di antara mereka. Harta yang banyak bukanlah jaminan bagi teraihnya impian suatu keluarga. Justru jika tidak dikelola dengan baik malah akan menjadi sumber permasalahan dan malapetaka. Sebaliknya rizki pas-pasan yang disertai pengaturan dan pengelolaan yang benar, insya Allah dapat mencukupi kebutuhan dan mendatangkan kebahagiaan. Namun Jika penghasilan suami jauh dari mencukupi, maka isteri di samping boleh membantu suami dengan mengerjakan pekerjaan yang layak dan dibenarkan syara’, iajuga harus bersabar dan berdoa kepada Allah Swt.

Takhtith (Perencanaan)
Mungkin dalam pemahaman sebagian kita dirasakan adanya semacam kontradiksi antara keimanan dan perencanaan. Bukankah menurut kaca mata keimanan, kita musti bertawakkal kepada Allah karena Dia-lah yang mengelola diri dan kehidupan kita? Adalah sama-sama dinilai salah antara orang yang berke-yakinan bahwa dirinya cukup untuk mengelola dan mengen-dalikan dirinya dan orang yang menyerahkan semua persolannya kepada Allah tanpa ada usaha dan langkah-langkah dalam lembaran hidupnya. Ibn Athoillah dalam Hikam-nya mengatakan: “Sesungguhnya berusaha atau mengikuti sebab-sebab itu tidak bertentangan dengan keimanan kepada Allah”. Yakni jika seseorang melakukakan usaha dengan mengikuti sebab-sebab -yang mengakibatkan keberhasilan dan kadang-kadang juga kegagalan- tidaklah menafikan kemestiannya untuk bertawakkal kepada Allah.
Sebagai sebuah keluarga, di samping adanya keharusan bertawakkal kepada Allah, Juga tidak ada salahnya -bahkan sangat baik- merencanakan langkah-langkah yang akan diambil berkenaan dengan kondisi keua-ngan. Mulailah dengan kebutuhan-kebutuhan pokok. Jika keuangan kebutuhan tersebut teratasi, barulah beranjak memikirkan kebutuhan penting lainnya.

Yang selama ini terjadi, banyak orang yang salah kaprah dalam memandang sesuatu sebagai kebutuhan hidup. Padahal sesuatu itu hanyalah keinginan-keinginan-nya belaka yang seandainya tidak terpenuhi tidak bakal mengancam kebahagian hidupnya. Artinya yang ada dalam otaknya hanyalah daftar keinginan bukan kebutuhan. Misalnya, hand phone bukanlah kebutuhan bagi seorang anak yang masih duduk di bangku sekolah, tetapi nyatanya banyak di antara siswa-siswi yang memilikinya. Seringkali suami, istri atau anak-anak lepas kendali membeli barang-barang yang kurang berguna dan melupakan sesuatu yang lebih penting. Akhirnya banyak kebu-tuhan pokok yang terbengkalai gara-gara menuruti keinginan yang tiada batas. Apalagi yang dipakai ukuran adalah gaya hidup kerabat, tetangga, teman atau orang lain tanpa mempertimbangkan kondisi dirinya. Akibatnya angan-angan-nya membumbung tinggi hingga tidak lagi menyadari posisi dirinya. Bahkan berbagai nikmat dan kurnia Allah luput dari perha-tiannya. Ia senantiasa merasa kurang dan kurang. Tidak pernah merasa cukup apalagi bersyukur kepada-Nya. Rasulullah saw. memberi saran seraya bersabda:“Lihatlah kondisi orang yang lebih rendah dari pada kalian, dan jangan melihat kondisi orang yang lebih tinggi dari pada kalian, agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah yang telah diberikan kepada kalian.” (Hr. Ahmad dari Abu Hurairah)

Iqtishad (Hidup Sederhana)
Untuk membantu kesuksesan perencanaan di atas perlu diterapkan pola hidup sederhana kepada segenap anggota keluarga. Tidak ada manfaatnya bergaya hidup mewah. Bahkan banyak sekali dampak buruk darinya, seperti pemborosan, kurang bersyukur, sombong dan angkuh. Yang paling berbahaya ia menilai segala sesuatu dari penampilan lahir dan cenderung hubbud dunya. Sebaliknya pola hidup sederhana akan mengantarkan pemiliknya berlaku rendah hati, bersahaja, qana’ah dan mensyukuri berbagai nikmat-Nya.

Marilah segenap anggota keluarga kita berlatih menerapkan pola hidup sederhana ini, mulai dari hal-hal kecil hingga hal-hal besar. Seorang bijak berkata: “Uruslah perkara yang kecil niscaya perkara besar akan terbereskan.” Uruslah menit demi menit niscaya waktu satu jam anda akan terselesaikan dengan sendirinya. Uruslah jam demi jam, niscaya siang-malam anda terisi dengan kebaikan, demikian seterusnya. Orang yang hidup sederhana tidak akan terjatuh dalam kehinaan dan kemiskinan. Rasulullah saw bersabda:“Tidak akan jatuh miskin orang yang berpola hidup hemat.” (Hr. Ahmad).

Orang tua jangan ikut-ikutan silau dalam memandang dan menyikapi gebyar hidup jaman sekarang, sehingga terkesan tidak dapat solektif dan arif dalam menyikapinya. Sebaiknya orang tua dengan penuh kasih sayang mengajarkan dan menjelaskan gaya hidup yang benar dan yang salah menurut sunnah Rasulullah saw. Jangan sampai mereka tercemari dan terkontaminasi oleh gencarnya arus budaya yang tidak islami yang sekarang ini begitu bebas memasuki rumah-rumah kita melalui berbagai media masa dan elektronika. Yang paling efektif ialah orang tua menjadi uswah bagi mereka dalam berbagai hal termasuk dalam mererapkan pola hidup sederhana ini. Wallahu A ‘lam. (Abu Kafa)

Pin It on Pinterest