Menjadi hamba berarti menjadi diri manusia secara utuh. Kemanusian yang utuh merujuk pada asal kejadian; segumpal darah, lalu dari setetes air mani, nuthfah. Asal kejadian ini identik dengan suatu ‘kerendahan’ sejati. Tanpa harus terjebak oleh orientasi kerendahan yang tiada punya daya dan kuasa. Kerendahan di sini memiliki nilai strategis dan taktis bagi penyerapan energi langit, energi Tuhan. Filosofinya jelas, bahwa hanya pada tempat yang rendah saja, air kehidupan mengalir padanya. Itu alamiah sekali.

Dengan senantiasa mengingatkan diri dan menyadarkannya atas makna strategis kerendahan ini, maka para pendahulu dari sejarah peradaban manusia telah menemukan kenyataan, bahwa perut bagian bawah (lambung) adalah pusat energi dalam tubuh manusia. Orang china mengistilahkan dengan kata “Chi”. Imam Al-Jilly, ra, mengungkap hal ini dengan kata yang sakral sekali “Ruhul Qudus”, energi inti yang menegakkan seluruh alam kauniyah.

Seorang yang telah terbiasa dengan gaya hidup kerendahan dan selalu mengarahkan energinya pada pusat tubuh (pusar), diidentifikasikan sebagai personifiaksi TAO. Artinya dia hidup selaras dengan alam. Orang yang telah menjadikan hal ini sebagai haliyahnya (gaya hidupnya), maka penampilan kehidupanya akan kuat dan kokoh; karena ia selalu mendapatkan keseimbangan. Lebih dari itu, ditemukan oleh sistem kedokteran China kuno, orang semacam ini dapat sewaktu-waktu mengubah energi yang terkumpul di Dan Tian, (istilah lain dari tempat 1,5 inchi di bawah pusar), lambung bagian bawah, yang oleh Rosulullah Saw disebut Baitud Daa’ (Penampungan energi negatif atau sampah) untuk dikerahkan dan dikelola bagi penyembuhan dan pengejawentahan. Caranya adalah dengan mengetahui terlebih dahulu mekanisme Chi dalam tubuh, lalu memperkuatnya dengan pelatihan. Setelah itu seseorang bisa dengan leluasa mengontrol pikirannya, yang mana dalam pikiran itulah Chi mengikuti ke mana pikiran diarahkan, maka ke situlah energi Chi terkumpul.

Pada sisi lain ditemukan, bahwa konsep dzikir dan wirid sebagaimana yang dikenal oleh orang Islam, pada hakekatnya adalah pengerahan energi Chi ini yang disenyawakan dengan energi ketuhanan, dengan nafas Tuhan. Bukankah ayat-ayat Al Quran, dan apa saja yang diajarkan oleh Muhammad SAW adalah firman Tuhan juga, kalam Allah SWT. Di sini, seorang yang memiliki nilai hidup kerendahan hati, berarti memiliki asset lebih kuat dalam menyerap energi Tuhan serta mempergunakan energi itu bagi kemaslahatan hidup dan kehidupan.

Apa yang kita sebut keyakinan, pada dasarnya pengumpulan dan pengubahan energi yang tersebar, Itu saja. Kalau seorang menyakini sesuatu, maka berarti ia mengarahkan pikiran dan kesadarannya akan sesuatu tersebut. Dan ini hakekatnya telah terproses. Dengan menyadari akan kepemilikan energi Chi yang tersimpan dalam tubuh atau Dan Tian, seseorang bisa mengkonstribusikan tenaga ini saat ia membaca wirid atau dzikir. Prosedurnya adalah, dari dantian, solar plexus (rongga dada) jantung, kelenjar timus (tenggorokan), dan keluar dalam paket wirid melalui mulut. Namun dalam pengobatan china, prosedur pengeluaran engergi ini dengan nafas murni, maksudnya tidak menggunakan bacaan-bacaan. Presedurnya setelah sampai di jantung, dibelokkan ke arah bahu dan diturunkan melalui ruas lengan dan berakhir pada telapak tangan.

Keseimbangan Universal
Keseimbangan yang sejati terjadi pada tingkat tubuh dan jiwa. Pada tingkat tubuh sebagai suatu sistem struktur yang terdiri dari sekian banyak organ maka yang menjadi pusat adalah organ tengah tubuh. Dalam hal ini adalah pusar. Dengan senantiasa menyadari tarikan bumi melalui kedua telapak kaki, dan tarikan langit melalui ujung kepala (ubun-ubun), maka struktur tubuh seseorang secara alamiah akan berdiri tegak dan kokoh; tegak oleh tarikan langit, ke atas dan kokoh oleh tarikan bumi, ke bawah. Dengan sikap tubuh yang senantiasa menjaga keseimbangan kedua tarikan di atas dengan pusat (pusar) sebagai titik tengah. Lantas ditambah dengan kesadaran akan wujud energi tarikan itu, maka seseorang secara tubuh dan jiwa telah mendapatkan keseimbangan. Diperlukan latihan untuk senantiasa sadar dan merasakan kedua energi ini. Berdiri relatif lama sewaktu sholat dengan menyertakan kesadaran pada telapak kaki, tanpa kehilangan perhatian pada titik tengah sewaktu membaca surat-surat saat berdiri pada rakaat tersebut, maka menambah kuatnya kesadaran tersebut, sekaligus tingkat pengakuan keberadaannya.

Kualitas dari kejiwaan kita adalah kemampuan menyatukan aspirasi ketuhanan melalui prilaku sholeh sesuai dengan pengajaran agama, dengan pengakuan atas keberadaan energi bumi dan pengaruhnya dalam kehidupan. Kekuatan dan ketangguhan seorang mu’min, standarisasi yang prinsip adalah kuantitas dan kualitas sholatnya. Berdiri kokoh bagai tiang yang menghujam ke bumi adalah model sholat Rosulullah Saw, para sahabat, Tabi’in, dan Tabiut Tabi’in. Sholat bagi Rosulullah Saw dan para sahabat-sahabat beliau adalah sejenis “seni meditasi tertinggi” yang tidak ada tolok bandingnya dalam sejarah pengembangan spiritual dunia. Hal ini berbeda dengan gaya sholat orang-orang munafiq, yang oleh Al-Qur’an ditandai dengan sedikitnya dzikir, sholat tergesa-gesa dan bergerak-gerak tubuhnya. Orang-orang semacam ini menandakan mereka ditolak oleh bumi. Seolah bumi tidak ridlo, kalau telapak kaki mereka menginjak bumi saat sholat. Tidak ada penyatuan dengan kerendahan, dengan karakteristik bumi adalah ciri orang munafiq.

Kesatuan Tubuh, Pikiran dan Jiwa
Seseoranghanya dengan diam dan tidak beraktifitas, adalah fokus dari energi alam yang luar biasa. Kebiasaan dengan “mengerjakan apa yang dapat dijangkau oleh tubuh” sebagaimana prinsip gerakan-gerakan Tai Chi, pada dasarnya berangkat dari suatu konsep pemikiran “Aqbil ‘ala sya’nik” (Hadapilah atas situsimu). Ini, kalau tidak salah, adalah rekomendasi Rosulullah Saw, terkait dengan efektivitas gerak; baik pikiran maupun tubuh.

Seseorang, semestinya mampu menyerap energi melimpah yang datang kepadanya. Dengan cara? Tidak mengejar apa yang tidak dapat dijangkau oleh realitasnya sendiri. Banyak waktu luang, adalah kesempatan yang teramat mahal. Ini sering diabaikan dengan kenyataan banyak tamanny, terlalu banyak berangan-angan, berandai-andai, dan mencoba mengkonsentrasikan diri dengan apa yang belum tentu wujud. Sudut lain yang perlu dipertimbangkan adalah bahwa pikiran adalah di luar apa yang kita pikirkan. Untuk menjadi kuat secara pribadi, misalnya, seseorang membutuhkan pelatihan pikiran ini dengan sekolah atau kursus. Kuat pada dimensi lebih luas, terkait dengan keberadaan seseorang sebagai makhluk social, meliputi segala sesuatu yang dapat menaikkan harga dirinya. Akan tetapi kuat dalam pengertian tidak umum, adalah mencoba memberikan yang terbaik; baik waktu luang, maupun kesungguhan, bagi pertumbuhan dan perkembangan pikiran. Misalnya, orang membiasakan diri meditasi, yoga, semedi, dan lain-lain yang sejenis dengan fokus; menyehatkan pikiran. Persoalannya adalah orang lebih suka dengan pikiran pragmatis sempit, yaitu berkisar mengenai perolehan dan penghasilan belaka. Investasi yang sesungguhnya bagi masa depan kesatuan tubuh, pikiran dan jiwa, tiada lain adalah prilaku sehat. Dan kesehatan itu, ternyata sangat dipengaruhi oleh pikiran.

Sinergi Langit dan Bumi
Ada satu pembahasan yang akan memberikan kita pemahaman lain mengenai kemampuan orang-orang terdahulu dalam pencapaian atas kenikmatan dan keindahan yang dirasakan dalam sholat. Rasulullah Saw yang memberi contoh dan mengawali atas pencapaian ini. Lamanya berdiri dalam sholat adalah gabungan atau sinergi antar kekuatan langit dan kekuatan bumi, yang bertemu dalam titik tengah sedikit bawah tubuh. Ini disebut pusat energi dan keseimbangan bagi stuktur tubuh. Apa yang kita sebut khusu’, tawadlu’, tadarru’, pada pokoknya orientasinya secara fisiologi, pikiran dan mentalitas seseorang diletakkan di pusat bawah; menyadari kerendahan, kelemahan dan kepasrahan. Itu berarti identik dengan bumi, asal kejadian manusia. Sholat sendiri, dengan seluruh isi di dalamnya, adalah kesadaran mengembangkan energi langit penuh. Tetapi keterlibatan secara penuh pula struktur tubuh dengan segala gerakannya yang berpusat di bumi, menunjukkan tarikan yang kuat pula, energi bumi dalam sholat itu sendiri. Energi langit dikembangkan dan dikemas oleh nafas melalui serangkaian ayat dan doa. Sementara energi bumi langsung disalurkan ke dalam struktur tubuh melalui kedua telapak kaki. Yang pertama mudah dilakukan oleh orang yang sholat, karena paket-paket pengemasan energi itu telah dihapal. Tetapi untuk merasakan energi bumi kebanyakan tidak disadari oleh pelaku sholat. Kalau kita melihat, dan malah kita adalah pelakunya setiap kita mengerjakan sholat, seseorang tidak kuat untuk lama-lama berdiri dalam sholat, dan sering terkesan terburu-buru, salah satu sebabnya adalah tidak adanya khusu dan faktor yang sangat prinsipil dalam pekerjaan kerohanian dan disinyalir oleh Nabi Saw semakin langka di jaman akhir. Sementara ke khusu’an itu hanya bisa diperoleh kalau seseorang menyadari eksistensi kekuatan langit sekaligus menyerap energi bumi. Salah seorang ulama besar pernah menyarankan “Kalau anda ingin merasakan kenikmatan sholat, maka gunakan waktu yang agak lama saat berdiri.”

Jika anda lama berdiri dalam sholat, perlahan dan pasti tarikan energi bumi akan anda rasakan melalui kedua telapak kaki anda. Semakin anda sadar membuka 9 titik yang ada pada kedua telapak kaki anda, tubuh, di mulai dari ruas tulang belakang, akan merasakan energi itu. Dalam situasi demikian, anda benar-benar tertanahkan, tertancapkan di bumi. Anda merasakan berdiri dengan berakar dan kuat. Perpaduan antara energi langit dan bumi akan menghasilkan
keseimbangan. Rasa capek akan terasa diminimalisir dengan sendirinya karena pusat (qutub) berada di pertengahan tubuh. (Jun)