1. Aspirasi duniwiyah, membelokkan kemurnian akherat
Ada hikayat tentang ketekunan ibadah seorang pemuda pada masa Bani Israel. Suatu saat ketekunan ini terusik oleh realitas prilaku suatu masyarakat yang menyembah-nyembah pohon besar. Ia tidak mungkin membiarkan hal ini, sebab menegakkan dakwah dan amar ma’ruf nahi mungkar termasuk kewajiban agama dan bagian dari ibadah. Usut punya usut dalam pikirannya, sang pemuda menemukan pangkal penyebabnya; yakni pohon besar itu. Semangat dan ghirah keagamaannya benar-benar telah menyatu dengan tekad untuk menebang pohon tersebut.

Suatu hari berangkatlah pemuda itu dengan menentang kapak besar di tangan, tujuan cuma satu, tumbangkan pohon karena jadi sumber kesesatan. Di tengah jalan, ia dihadang oleh Iblis yang menjelma manusia. Sekedar basa-basi sebentar, lantas Iblis laknat menanyakan tujuan pemuda tersebut. Dengan kekuatan aspirasi keikhlasan, pemuda itu menjawab, menumbangkan pohon. Tetapi sang Iblis tetap menghalang-halangi. Maka terjadilah duel, antara pemuda yang sholeh itu dan manusia jelmaan Iblis. Tidak disangka sang Iblis untuk kesekian kali terpukul mundur, sampai terjungkal-jungkal karena bantingan pemuda ikhlas tadi.

Duel memang benar-benar tidak seimbang. Sang Iblis merasakan ada kekuatan ekstra luar biasa yang menyelimuti diri pemuda. Sebelum terlalu dipecundangi oleh pemuda ini, Iblis sadar, bahwa untuk mengalahkan pemuda ini, maka sumber kekuatan yang luar biasa itu harus diputus.
”Okey, okey, saya menyerah. Aku kapok.” Iblis mulai memasang taktik. Pemuda sholeh dan lugu ini menghentikan serangannya. Iblis dengan lagak benar-benar telah damai mendekati pemuda.
“Persoalan masyarakat terlalu rumit. Walaupun pohon itu anda tumbangkan, toh masih ada banyak pohon. Saya melihat anda tidak pernah memikirkan diri sendiri. Tampaknya anda ini orang yang miskin butuh uang.” “Memang aku miskin, memangnya kenapa?” Pemuda ini mulai terpancing oleh logika yang dipasang oleh Iblis”. “Saya kasihan dengan keadaanmu ini. Masalah menebang pohon masih banyak waktu, silahkan ditebang. Tetapi kalau hari ini anda membatalkan penebangan dan kembali ke rumah, saya berjanji, setiap habis tidur, di bawah bantal anda akan ada uang yang cukup untuk belanja hidup anda setiap hari,” mendengar penuturan Iblis yang menyamar manusia ini, sang pemuda menjadi tertarik. Ia mulai berpikir bahwa penundaan penebangan cukup masuk akal; toh masih ada waktu. Itu pertama. Yang kedua, apa salahnya membuktikan ucapan orang ini. Yang pertama berdasarkan pertimbangan rasional, dan yang kedua dilandasi oleh tamanni (membayangkan sesuatu yang belum tentu hasilnya). “Baiklah, tawaranmu aku terima.” Jawab sang pemuda. Sang Iblis menarik nafas lega dengan sedikit menarik urat keningnya sambil berkata dalam hati: “Kena, kau pemuda!” Barang kali begitu reaksi Iblis.

Racun Iblis dipastikan telah memenuhi pikiran dan hati. Yang dinanti-nanti cuma satu; kapan datang malam dan bangun tidur. Benar, saat pemuda itu bangun tidur, langsung ia membalik bantal, uang. Sang pemuda tersenyum. Besuknya, begitu juga, uang. Dan sampai pada hari ketiga, begitu juga, Iblis telah masang uang. Tetapi saat memasuki hari berikutnya. Sang pemuda, kecewa berat. Karena di bawah bantal tidak ada uang. Ia merasa dikhianati. Maka kemarahan hatinya meluap. Tekad telah bulat untuk menumbangkan pohon besar tersebut; sebuah azam yang tertunda. Di tengah jalan, sang Iblis muncul; lebih santai, rilek dan penuh kepercayaan diri.
“Mau ke mana, wahai pemuda!”
“Kau mengingkari janji. Perjanjian telah putus. Aku akan merobohkan pohon tersebut,” sentak pemuda. Ketika hendak melangkah, sang Iblis menghalangi.
“Kalau kau bisa melangkahi tubuhku, silahkan,” Iblis menantang duel. Tak pelak, perkelahian terjadi. Tetapi kondisi sangat bertolak belakang dengan pertarungan awal. Pada pertempuran kali ini, malah sang pemuda yang menjadi bulan-bulanan Iblis, beberapa kali pemuda itu dibanting oleh Iblis. Seluruh kekuatan telah dikerahkan, tetapi sia-sia. Iblis tampak lebih unggul. Akhirnya ia menyerah kalah.
“Hari ini engkau begitu kuat, jauh di atas saya. Aku mengaku kalah. Tetapi bagaimana bisa terjadi, padahal tempo hari kau benar-benar tidak berdaya,” pemuda ini mengeluhkan keadaannya.
“Wahai pemuda, ketahuilah. Aku ini Iblis., pada pertarungan awal engkau digerakkan oleh semangat keikhlasan karena Allah. Aku tidak akan mampu menjungkalkan hamba yang dipenuhi oleh kemurnian ibadah semata-mata karena Allah. Tetapi semangat merobohkan pohon kali ini, engkau digerakkan oleh semangat kekecewaan karena tidak mendapatkan uang di bantal. Ibadahmu telah kau kotori dengan aspirasi duniawiyah. Dan itulah yang membuat agamamu melenceng dan bagai debu-debu yang berterbangan.” Begitulah Iblis, begitu pula kemampuannya memanej dunia untuk menyesatkan hamba-hamba Allah.
Alam materi diberikan Tuhan tidak dalam keadaan gratis, tanpa mengurangi jatah akhirat. Tidak pernah. Dunia dan akherat adalah satu kesatuan. Apa yang ditarik ke arah bumi, maka jatah yang di atas akan berubah dan berkurang. Rasulullah SAW dan para sahabat benar-benar memahami hukum Allah ini. Kalau seandainya dunia ini tidak mengurangi jatah akhirat; semakin banyak yang ditarik di bumi semakin banyak pula kekurangan di akherat, maka tawaran Malaikat Jibril untuk merubah gunung Uhud menjadi emas akan diterima oleh Rosulullah SAW.
Untuk membuktikkan bahwa tidak mungkin menghabungkan dua aspirasi yang berbeda; atas (akherat) dan bawah (dunia) dalam saat bersamaan. Kalau itu pun terjadi, merusaklah bagian akherat, maka inilah bukti fisika menyakinkan anda:

“Ambillah sebuah wadah air (bejana) lantas isilah dengan air sampai penuh. Setelah itu timbanglah bobotnya. Yang kedua kali, sekarang masukkan sebongkah kayu di dalam bejana tersebut, pasti sebagian ia akan tumpah dan digantikan oleh kayu tersebut. Kemudian timbanglah lagi bejana yang telah dimasuki oleh kayu tersebut. Catat, apakah ada perubahan bobot air tersebut. Berat air tidak akan berubah: Air yang meluap keluar (hilang) sama dengan berat seluruh bongkah kayu. Dalam ilmu matematika, fisika, prinsip ini dikenalkan oleh Archimedes (250 SM). “Berat benda yang terapung (katakan ini harta yang kita miliki) sama dengan berat zat cair (jatah akhirat) yang didesaknya.” Hukum ini sama dengan pondasi keagaamaan yang diberitahukan kepada orang-orang Islam bahwa dunia dan seisinya adalah bagian akherat yang disegerakan.

2. Membersihkan Niat
Hati dan pikiran dirancang oleh Tuhan; satu waktu satu sasaran; satu waktu satu masalah. Persenyawaan dua sasaran vokus dalam satu waktu secara bersamaan, akan menghasilkan kerusakan bagi yang lain. Bagi Tuhan antara yang samar dan yang tampak, itu sama; antara yang diucapkan dengan yang diniatkan akan diketahui kecocokan atau perbedaan. Melakukan suatu bentuk ibadah dengan menyertakan pula gerakan atau motivasi dunia, maka yang terjadi adalah kasus sebagaimana di bawah ini.

Duduklah di atas kursi sambil menghadap meja. Ambil secarik kertas lantas menulislah. Upayakan anda menulis dengan tulisan yang bagus. Dan secara bersamaan gerakkan salah satu kaki dengan memutar-mutar telapak kaki membentuk lingkaran. Yang bagian tangan hendak menulis yang baik, sedang yang di bawah ingin membentuk gerakan lingkaran melalui kaki. Kita dapat bertaruh bahwa anda tidak dapat menulis dengan baik dengan cara seperti itu. Yang pasti tulisan anda akan kacau, karena pikiran anda akan mengikuti gerakan kaki tersebut. Gerakan kaki itu menyusup dalam tulisan. Setiap kegiatan menuntut begitu banyak konsentrasi (pemusatan pikiran). Memurnikan niat, berarti menyelamatkan suatu bentuk ibadah dari intervensi potensi-potensi yang di bawa oleh selain ibadah. Saat anda menetapkan target-target tertentu dari suatu amal, maka pada hakekatnya target-target itu hidup, karena ia adalah makhluk, apapun bentuknya itu. Lantas makhluk-makhluk ini mencampuri essensi amaliyah yang sedang anda kerjakan. Dalam suatu diskursus ilmu fiqh ada disebutkan, bahwa niat sholat harus dipertahankan sampai rampungnya sholat. Jika di tengah-tengah sholat, niatnya berubah, membatalkan sholat misalnya, maka saat itu batal subtansi sholat orang tadi.

3. Perjalanan Mencari Cahaya
Gemerlapnya kota dengan cahaya lampu adalah sumber pertama kenapa banyak yang tertarik dengan kota. Dengan cahaya segala kenikmatan dapat diperoleh dan dirasakan. Semakin kreatif dan inovatif cahaya dimainkan, maka semakin merangsang banyak orang. Begitu berlaku bagi manusia, begitu pula bagi tumbuh-tumbuhan. Demi mencari cahaya, tumbuh-tumbuhan tak sadar, ternyata batangnya menjadi menyimpang dan bengkok-bengkok. Pemburu kenikmatan cahaya dari kalangan manusia, dipastikan kerohaniannya juga melenceng. Tidak boleh tidak. Ini hukum alam, sunnahtullah bagi alam semesta. Anda buktikan sendiri dengan percobaan yang digagas oleh ahli fisika Jerman Dr. Thomas Von Randow.
Ambil sebiji kacang tanah, kacang panjang, atau biji kentang yang sudah mulai bertunas, masukkan ke dalam pot yang sudah diberi tanah dan basah. Buatlah sebuah bentuk dua sekat di dalam kardus. Intinya sekat pertama memberi ruang sedikit dibawah, sendang sekat yang kedua lubangnya diatas, jadi membentuk jalur zig-zag. Di pojok kardus diberi luangan tanpa masuknya cahaya. Letakkan pot yang berisi tunas tersebut di pojok kardus. Lalu biarkan beberapa hari. Dan amati saat tunas itu telah memanjang. Ia akan keluar dari lubang tersebut, sedang bentuk tunas akan anda lihat melengkung. Hal itu terjadi karena mengikuti arah cahaya dimata cahaya itu masuk.

Sulit untuk memperkirakan dalam kegelapan ada kesemarakan daya hidup nabati. Tetapi dalam kegelapan cahaya, tak jarang manusia menemukan asal kemanusiaannya, sumber kekuatannya. Dalam kegelapan
indera optic (mata) jangkauannya mati. Otomatis energi pikiran untuk sementara berkembang di dalamnya, namun lama-kelamaan, ia akan redup karena tidak mendapat konsumsi dari luar. Maka muncullah ketenangan, kejernihan pikiran. Ingat! Dunia kauniyah, tidak membiarkan alam itu kosong. Kalau dominasi cahaya lahir telah sirna, maka cahaya bathin yang selama ini kalah oleh kilauan cahaya luar menjadi terang. Rosulullah SAW, Dzat tubuh beliau telah mengeluarkan nur (cahaya) yang murni. Beliau tidak membutuhkan penerang di gelapan dengan cahaya yang menjadi lalu lintas ruh-ruh bangsa jin dan syetan. Cahaya suci muncul dari jasad beliau yang agung. Seorang yang terkenal dengan bergelut di dunia mistik gelap. Ki Gendheng Pamungkas, pernah mengeluarkan statemen di salah satu tabloid Pengobatan Alternatif, bahwa orang yang terbiasa dengan kehidupan gelap, jauh lebih tahan hidup dibanding yang hanya tergantung oleh sorot lampu belaka. “Satu sisi pernyataan ini memang menunjukkan realitas yang sesungguhnya. Sementara, apa ada makna ‘kegelapan’ yang dimaksud itu dengan makna tersesat, maka itu urusan Ki Gendheng sendiri.

Al-Qur’an dengan jelasnya, memerintahkan kaum muslimin, kaum mukminin untuk “ghodul bhasor” (memejamkan mata). Selain yang kita pahami dari perintah ini, maka ada pengertian lain yang terkait dengan tata kerja alam dalam “Mendewasakan Kerohanian Insaniyah” kita.
(A. Junaidi)